MANAJEMEN KEUANGAN ALA AL QUR’AN
Kita sekolah
12 tahun, kuliah 4 tahun, bahkan ada yang sampai ambil S2 atau S3. Tapi pernah enggak kita benar-benar diajari cara mengelola uang dengan bijak? Kita bisa hafal rumus fisika, paham sejarah dunia, tapi giliran
gajian masuk baru seminggu
udah habis. Kita tahu cara cari uang, tapi enggak tahu cara membuat uang itu bertahan dan bermanfaat.
Ironisnya,
solusi keuangan sering kita cari di buku motivasi Barat atau seminar bisnis mahal. Padahal jawabannya udah ada dalam Al-Quran sejak 1400 tahun yang lalu. Bukan cuma teori, tapi lengkap dengan logika, prinsip moral, dan panduan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Masalahnya,
ilmu keuangan dalam Al-Quran ini jarang banget diajarkan secara utuh. Padahal kalau kita gali, ajarannya bisa bantu kita keluar dari tekanan hidup, mengelola harta dengan sehat, dan
bahkan membawa
keberkahan dalam kehidupan. Langsung aja kita bahas.
Oke, kita
mulai dari dasarnya dulu. Selama ini kita anggap rezeki sama dengan uang. Padahal dalam Al-Quran, kata rezeki itu maknanya luas banget. Rezeki itu bukan cuman isi dompet
atau saldo rekening,
tapi bisa berupa waktu, kesehatan, relasi, ide, kedamaian hati, bahkan udara yang kita hirup.
Contoh nyatanya orang yang kerja keras 12
jam sehari tapi
enggak pernah tenang. Terus bandingkan dengan orang yang penghasilannya biasa saja, tapi hidupnya damai, keluarga harmonis, dan
badannya sehat. Secara angka mungkin kalah, tapi
secara rezeki bisa jadi
jauh lebih kaya.
Dalam surah Albaqarah ayat 3, Allah menyebut orang bertakwa sebagai orang yang menginfakkan sebagian dari rezeki
yang kami berikan.
Artinya, rezeki itu segala bentuk pemberian Allah yang bisa dimanfaatkan. Bukan cuman materi. Logikanya begini. Kalau kita sempitkan rezeki hanya sebagai uang, maka kita akan mudah stres, iri, atau merasa gagal saat
tidak punya banyak.
Tapi kalau kita pahami rezeki itu luas, kita bisa lebih bersyukur dan lebih stabil secara mental.
Jadi bab
pertama ini ngajarin kita cara berpikir yang sehat tentang harta supaya kita enggak selalu mengejar angka,
tapi juga sadar akan
nikmat yang sering kita lupakan. Setelah paham
apa itu rezeki, sekarang kita masuk ke prinsip pengelolaannya.
Dalam
Alquran banyak ayat yang kalau kita cermati sebenarnya mengandung logika ekonomi yang sangat praktis.
Satu, jangan boros, jangan pamer.
Dalam surah Al-Isra
ayat 26 sampai 27, Allah bilang, Jangan boros, karena pemboros adalah saudara setan; Kalimat ini keras, tapi sangat masuk akal. Karena kebiasaan boros, apalagi karena gengsi bikin kita keluar dari logika keuangan sehat. Kita belanja bukan karena butuh, tapi karena ingin kelihatan wah. Padahal salah satu prinsip keuangan dasar adalah hidup di bawah kemampuanmu, bukan di atas penghasilanmu.
Dua, harta harus bergerak dan bermanfaat. Dalam surah Alhasyr ayat 7, Allah bilang bahwa harta jangan hanya berputar di antara orang-orang kaya. Ini prinsip distribusi kekayaan. Artinya kalau
kita punya kelebihan,
kita perlu bantu menggerakkan ekonomi. Entah lewat sedekah, investasi ke UMKM, atau bantu orang lain bangkit. Jadi, bukan cuma nabung dan nyimpan, tapi mengedarkan harta secara produktif.
Tiga, jauhi riba karena itu bukan solusi. Alquran sangat tegas tentang riba. Bahkan dalam surah Albaqarah ayat 275 disebutkan bahwa orang yang terjerat riba seperti orang yang kerasukan
setan karena tekanan
pikiran. Logikanya jelas,
riba membuat si kaya semakin di atas dan si miskin makin tercekik. Sistem ekonomi jadi timpang, hutang jadi lingkaran setan, dan masyarakat makin enggak stabil. Makanya Islam lebih mendorong konsep kerja sama bagi hasil dan usaha produktif. Prinsipnya, uang harus
tumbuh lewat kerja
nyata, bukan lewat memeras orang lain.
Terakhir, kita bicara soal sikap terhadap uang dan kerja. Ini yang kadang sering dilupakan. Satu kerja itu ibadah tapi harus jujur. Dalam surah almulk ayat 15, Allah menyuruh manusia untuk berjalan di muka bumi dan mencari rezeki. Artinya kerja bukan sekedar rutinitas tapi bentuk pengabdian
kepada Allah.
Tapi
syaratnya, satu, kerja dengan cara yang halal, jujur, dan tidak merugikan orang lain. Karena gaji
besar tapi hasil dari
manipulasi bukan rezeki yang berkah. Dan ujungnya hati gak akan tenang.
Dua, jangan jadikan uang sebagai tujuan. Surah at-takatsur mengingatkan kita tentang bermegah-megahan, yaitu kecenderungan manusia untuk
terus mengejar
kekayaan sampai lupa mati. Ini real banget. Banyak orang kerja siang malam, lupa keluarga, lupa ibadah, bahkan lupa kesehatan. Semua demi
uang. Padahal uang
seharusnya jadi alat bantu hidup, bukan pusat kehidupan. Kalau uang jadi tujuan utama, hidup kita akan selalu terasa kurang.
Tiga, berbagi itu bukan mengurangi, tapi
menguatkan. Konsep zakat,
infak, dan sedekah dalam Alquran bukan cuman ritual, tapi logikanya kuat banget. Bayangin kalau semua orang mau menyisihkan sebagian hartanya buat
yang butuh, pasti
lebih sedikit konflik sosial, kriminalitas turun, dan roda ekonomi bawah ikut jalan. Dan menariknya dalam surah Albaqarah ayat 261, Allah menggambarkan sedekah itu
seperti benih yang
tumbuh jadi pohon lebat. Artinya, harta yang dibagi malah bertambah manfaat dan keberkahannya.
Itulah tadi
ilmu keuangan dari Alquran yang jarang diajarkan secara utuh. Al-Quran itu bukan cuma kitab ibadah, tapi juga buku panduan hidup yang
luar biasa lengkap,
termasuk urusan finansial. Dan semua prinsipnya bisa kita pahami dengan logika yang masuk akal, aplikatif, dan menenangkan jiwa. Jadi kalau kita mau keuangan kita
sehat, stabil, dan
penuh berkah, pelajari, pahami, dan jalankan ilmu keuangan qurani ini.
Referensi:
Channel YouTube MGX Insight



