Delapan Macam Kecerdasan Howard Gardner
Kita harus akui bahwa kecerdasan alias intelegensi
sebetulnya beragam. Masing-masing dari kita tentu punya kecerdasan tersendiri.
Hanya saja, kecerdasan yang kita miliki bisa berbeda satu dengan lainnya.
Sayangnya, kebanyakan dari kita cuma bisa berfokus pada satu atau sebagian
intelegensi saja dan mengabaikan yang lain. Apakah kamu juga demikian? Mungkin
banyak dari kita yang memang belum tahu tentang beragam kecerdasan yang ada.
Seorang ahli psikologi, Howard Gardner adalah yang paling
populer dalam mengelompokkan ragam kecerdasan dari manusia. Menurutnya,
kecerdasan manusia terbagi ke dalam delapan macam. Ya, jadi bukan hanya soal
matematika saja ya! Memangnya, apa saja sih delapan kecerdasan tersebut?
Kecerdasan bahasa
(linguistic)
Kecerdasan ini melingkupi kemampuan individu yang
berhubungan dengan berbicara dan menulis. Ya, jika kamu cerdas dalam ranah
bahasa, maka kamu bisa menjadi seorang novelis, komedian, jurnalis, guru, dan
pelatih yang hebat.
Kecerdasan
logis-matematis (logical-mathematical)
Ini dia kecerdasan yang paling populer dan paling diakui di
masyarakat awam. Kecerdasan ini berhubungan dengan penalaran, berhitung, dan
berpikir secara logis. Jika kamu adalah orang yang cerdas dalam
matematika-logika, maka kamu cocok sekali berprofesi sebagai akuntan, arsitek,
programmer komputer serta profesi lain yang berkaitan dengan penalaran logis.
Kecerdasan visual
(visual-spatial)
Kecerdasan satu ini terkait dengan kemampuan individu dalam
hal melukis dan memotret. Orang-orang yang memiliki kecerdasan visual spasial
menonjol, umumnya cocok sekali berprofesi sebagai seorang fotografer, penari,
atlet, dan mekanik.
Kecerdasan musikal
(musical)
Dari namanya saja, tentu kamu sudah tahu kalau kecerdasan
ini terkait dengan kemampuan individu dalam hal musik. Ia umumnya lihai
memainkan alat musik, bernyanyi, bahkan mengubah lagu. Seseorang yang menonjol
pada kecerdasan ini umumnya pas sekali menjadi seorang musisi, cheerleader, dan
komposer.
Kecerdasan
kinestetik atau perasa (bodily-kinesthetic)
Kecerdasan yang satu ini erat sekali kaitannya dengan
kemampuan individu dalam menggunakan anggota tubuhnya untuk merasakan sesuatu.
Nah, kalau kamu tergolong individu yang menonjol pada kecerdasan ini , maka
ambillah pekerjaan sebagai artis, aktor, dan ahli bedah. Hmm, pekerjaan yang
hebat bukan?
Kecerdasan
interpersonal
Orang yang memiliki kecerdasan interpersonal ini yang baik
akan mampu membina hubungan dengan individu lain dengan sangat baik. Jadi, di
kehidupan sehari-harinya, ia akan memiliki banyak teman, mudah bergaul, atau
istilah umumnya adalah supel. Nah bagi kamu yang merasa memiliki kecerdasan
interpersonal yang baik, coba saja mengasahnya dan jadilah seorang diplomat,
aktivis, negotiator, konselor, atau pendidik dan sejenisnya.
Kecerdasan
intrapersonal
Berkebalikan dengan kecerdasan interpersonal, kecerdasan
intrapersonal ini menyangkut kemampuan individu dalam mengelola perasaan dan
kesadaran diri sendiri. Ya, sederhananya adalah bagaimana ia bisa berhubungan
dan menguasai dirinya sendiri dengan sangat baik. Untuk orang-orang yang
memiliki tingkat kecerdasan intrapersonal yang baik, mereka umumnya berprofesi
sebagai psikolog, philosopher, terapis, dan motivator.
Kecerdasan
eksistensial
Kecerdasan eksistensial ini adalah jenis kecerdasan yang
berhubungan dengan kemampuan individu untuk dapat memahami dan mengejar
pertanyaan pokok tentang makna dan misteri kehidupan. Hmm, kecerdasan yang
cukup rumit bukan? Kecerdasan ini bisa juga dipahami sebagai kemampuan untuk
melakukan analisis makna.
Kecerdasan yang menonjol pada diri seseorang secara
otomatis juga akan memengaruhi cara belajar seseorang. Kita ambil contoh orang
yang menonjol kecerdasan kinestetik atau perasanya, karena lebih pandai
mengelola anggota tubuhnya, maka ia juga akan lebih mudah belajar ketika ia
memanfaatkan anggota tubuhnya untuk merasakan objek-objek yang dipelajarinya.
Jadi, semisal ia harus belajar tentang ilmu fisika, akan lebih mudah baginya
untuk memahami materi menggunakan alat peraga. Membaca buku atau mendengarkan
keterangan dari guru saja rasanya masih kurang cukup untuk membuatnya paham.
Bila merujuk pada delapan macam kecerdasan yang
dikelompokkan oleh Howard Gardner ini, kita harus setuju kalau masing-masing
orang pada dasarnya adalah orang yang cerdas. Hanya saja, kecerdasan
masing-masing orang ini pun berbeda. Ada yang cerdas dalam hal matematis, ada
yang cerdas dalam hal musik, ada yang interpersonal, dan lain sebagainya.
Kebanyakan orang hanya memiliki satu atau beberapa kecerdasan saja yang
menonjol, sementara kecerdasan lainnya tidak begitu berkembang. Ini adalah
kondisi yang wajar. Amat jarang orang yang memiliki kecerdasan tinggi di semua
jenis kecerdasan yang ada. Mengembangkan keseluruhan kecerdasan tersebut pada
satu individu pun juga terbilang hal yang teramat susah.
Jadi, berpuaslah meski kamu hanya cerdas dalam beberapa
jenis kecerdasan saja. Jangan merasa bodoh karena kamu tidak menonjol dalam
kecerdasan matematika. Kembangkan saja kecerdasan yang dominan yang sudah kamu
miliki.
Selain dari delapan kecerdasan tadi, sebetulnya masih ada
lagi kelompok kecerdasan lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan.
Kecerdasan tersebut adalah kecerdasan naturalis-intuisi dan kecerdasan
spiritual atau ESQ (Emotional Spiritual Quotient). Apa perbedaan dari keduanya?
Kecerdasan
naturalis-intuisi
Kecerdasan ini merupakan kemampuan individu yang
berhubungan dengan kepekaannya terhadap lingkungan alam. Orang yang cerdas
dalam hal ini memiliki kepekaan alami yang mendalam. Intuisinya berkembang
dengan sangat baik.
Kecerdasan
spiritual atau ESQ
Kecerdasan ini terkait dengan kecerdasan emosi dan
spiritual. Jenis kecerdasan ini terkait dengan kemampuan individu untuk
mengaktulisasikan dirinya dan juga untuk mengelola emosinya. ESQ ini juga
berhubungan dengan keyakinan atau agama yang dianut oleh seseorang.
Catatan Tambahan
·
Seseorang secara umum hanya
memiliki satu atau beberapa kecerdasan saja yang menonjol, sementara
kecerdasan lainnya tidak begitu berkembang, dan ini adalah kondisi yang wajar.
·
Kecerdasan yang
menonjol pada diri seseorang juga akan memengaruhi cara belajar
seseorang. Misalnya, orang dengan kecerdasan
kinestetik akan lebih mudah belajar menggunakan alat peraga.
Referensi:
Wijayati,
Hasna. 2017. Think Beyond the Box. Yogyakarta: Psikologi Corner

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Ditunggu komentar Anda!