NATAL YANG TERLARANG: KISAH SAAT PERAYAAN INI DIANGGAP
ILEGAL
Natal. Kata itu sendiri terasa hangat. Kata itu mengingatkan
kita pada cahaya lampu, tawa anak-anak, aroma pinus, dan sukacita tenang yang
memenuhi rumah kita setiap bulan Desember. Kita menghias pohon. Kita
menggantung kaus kaki. Kita memberi hadiah. Dan, tanpa banyak berpikir, kita
ikut serta dalam tradisi yang dibagikan oleh jutaan orang di seluruh dunia.
Tetapi teman-teman… pernahkah Anda berhenti dan bertanya-tanya mengapa? Mengapa
kita menaruh pohon di dalam rumah? Mengapa kita menggantung kaus kaki di dekat
perapian? Mengapa ada seorang pria tua berjas merah yang entah bagaimana tahu
nama semua orang? Ini mungkin terdengar seperti pertanyaan sederhana—tetapi
jawabannya sama sekali tidak sederhana. Karena kisah Natal bukan hanya tentang
satu malam di Betlehem. Ini adalah kisah berabad-abad—tentang iman dan mitos,
tentang sukacita dan kesulitan, tentang kebiasaan lama yang terlahir kembali
dengan cara baru.
Setiap tradisi yang kita ketahui menyembunyikan sebuah
kenangan—sepotong sejarah yang diturunkan dari satu generasi ke generasi
berikutnya. Beberapa kuno, lahir di tengah dinginnya musim dingin utara. Yang
lain dibentuk oleh kebaikan seorang santo atau imajinasi seorang penulis. Namun
semuanya bermuara pada satu tempat: hati manusia dan kebutuhan mendalamnya akan
cahaya di tengah kegelapan. Jadi hari ini, mari kita memulai perjalanan. Mari
kita uraikan sejarah liburan yang indah ini bersama-sama. Mari kita cari tahu
mengapa, selama ribuan tahun, manusia berkumpul pada waktu ini setiap tahun untuk
merayakan harapan. Ini bukan hanya kisah satu hari. Ini adalah kisah Natal.
Untuk memahami Natal, kita harus terlebih dahulu memahami
musim dingin. Jauh sebelum ada gereja atau pusat perbelanjaan, orang-orang
hidup di dunia yang dikuasai oleh alam. Di bagian utara dunia, musim dingin
adalah waktu yang menakutkan. Matahari menghilang lebih awal. Udara menjadi
sangat dingin. Tanah menjadi keras dan sunyi. Hidup terasa seperti sedang
sekarat. Tetapi tepat di tengah kegelapan yang dingin itu datanglah Titik Balik
Musim Dingin—hari terpendek dalam setahun. Bagi orang-orang kuno, ini adalah
momen yang sangat bermakna. Itu adalah malam ketika kegelapan berada pada
puncaknya, tetapi juga merupakan titik balik. Setelah titik balik, hari-hari
perlahan akan mulai menjadi lebih panjang. Matahari akan kembali.
Bangsa Romawi memiliki festival untuk ini yang disebut
Saturnalia. Itu adalah waktu yang meriah dan penuh sukacita di bulan Desember
di mana orang-orang berhenti bekerja, berbagi makanan, dan saling memberi hadiah.
Mereka menghiasi rumah mereka dengan tanaman hijau untuk mengingatkan diri
mereka sendiri bahwa kehidupan akan kembali di musim semi. Jauh di utara,
orang-orang Jermanik dan Norse merayakan Yule. Mereka menyalakan api unggun
besar untuk mengusir kegelapan dan membawa pohon cemara ke rumah mereka.
Pohon-pohon ini tetap hijau sementara yang lain mati, sehingga mereka dipandang
sebagai simbol kehidupan yang tidak pernah berakhir. Bahkan saat itu, ribuan
tahun yang lalu, manusia melakukan apa yang masih kita lakukan hingga hari ini:
kita berkumpul, kita menyalakan api, dan kita saling mengingatkan bahwa cahaya
akan selalu kembali.
Kemudian, semuanya berubah dengan seorang bayi di palungan.
Kisah kelahiran Yesus adalah inti dari Natal bagi miliaran orang. Tetapi ada
sesuatu yang mungkin mengejutkan Anda: Alkitab sebenarnya tidak pernah
mengatakan bahwa Yesus lahir pada tanggal 25 Desember. Bahkan, banyak sejarawan
berpikir bahwa ia kemungkinan besar lahir di musim semi atau musim panas. Jadi,
mengapa kita merayakannya di bulan Desember? Pada abad keempat, Gereja
mula-mula memilih tanggal 25 Desember. Mereka melakukan ini dengan sengaja.
Mereka ingin mengambil tradisi lama itu—Saturnalia Romawi dan api Yule—dan
memberinya makna baru. Mereka mengambil "kembalinya matahari" dan
mengubahnya menjadi "kelahiran Sang Putra." Lampu, dedaunan, dan
berkumpulnya keluarga tetap ada, tetapi sekarang mereka merayakan pesan
perdamaian di bumi dan niat baik terhadap sesama manusia.
Natal tidak selalu menjadi liburan keluarga yang nyaman
seperti yang kita kenal sekarang. Bahkan, untuk waktu yang lama, Natal itu
ramai dan berantakan! Di Abad Pertengahan, Natal seperti pesta jalanan raksasa.
Orang miskin akan pergi ke rumah orang kaya dan meminta makanan dan
minuman—tradisi yang akhirnya menjadi nyanyian Natal. Natal begitu liar
sehingga beberapa orang, seperti kaum Puritan di Inggris dan Amerika awal,
bahkan mencoba melarang Natal! Mereka berpikir Natal terlalu mirip pesta dan
tidak cukup seperti doa. Untuk sementara waktu, di tempat-tempat seperti
Boston, bahkan ilegal untuk merayakannya. Tetapi Anda tidak bisa menghentikan
cerita yang bagus. Orang-orang masih menginginkan kehangatan itu di musim
dingin.
Pada tahun 1800-an, Natal terlahir kembali. Seorang penulis
terkenal bernama Charles Dickens menulis sebuah buku berjudul A Christmas
Carol. Buku itu menceritakan kisah Ebenezer Scrooge dan mengingatkan semua
orang bahwa Natal seharusnya tentang kebaikan, amal, dan keluarga. Sekitar
waktu yang sama, Ratu Victoria dan Pangeran Albert mempopulerkan pohon Natal di
Inggris, membawa tradisi kuno Jerman itu ke setiap ruang tamu. Dan kemudian,
ada tokoh paling terkenal dari semuanya: Santa Claus. Ia bermula sebagai
seorang pria sungguhan—Santo Nicholas—seorang uskup pada abad keempat yang
dikenal karena pemberian hadiah rahasianya. Selama ratusan tahun, kisahnya
bercampur dengan legenda Belanda tentang "Sinterklaas" dan puisi
"A Visit from St. Nicholas." Perlahan, pria berjanggut putih dengan
setelan merah itu lahir.
Saat ini, Natal adalah sebuah permadani. Ini adalah campuran
api kuno dan lampu modern, dari kedalaman
Iman dan keajaiban masa kanak-kanak. Tidak masalah apakah Anda
merayakannya sebagai hari raya keagamaan atau waktu untuk keluarga—intinya
sama. Ini adalah jeda dalam setahun. Ini adalah momen di mana kita memutuskan
bahwa kebaikan lebih penting daripada pekerjaan, dan bahwa kebersamaan adalah
hadiah terbesar dari semuanya. Bahkan dalam kehidupan kita yang sibuk, ketika
semuanya terasa lebih keras dan lebih cepat, semangat Natal membisikkan
kata-kata lembut yang sama: Perlambat. Lihatlah sekeliling. Berbuat baiklah.
Karena Natal bukan hanya satu hari di kalender—itu adalah perasaan yang kita
bawa, percikan yang tidak pernah pudar. Jadi malam ini, di mana pun Anda
berada—jika Anda merasakan kehangatan itu di hati Anda, Anda adalah bagian dari
kisah ini. Dan mungkin, temanku, itulah arti Natal yang sebenarnya.
Referensi:
Channel YouTube
“English Mindcast”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Ditunggu komentar Anda!