Cari Blog Ini

Selasa, 23 Desember 2025

Natal yang Terlarang, Kisah Saat Perayaan Ini Dianggap Ilegal

 

NATAL YANG TERLARANG: KISAH SAAT PERAYAAN INI DIANGGAP ILEGAL

 oleh: Trimanto B. Ngaderi


Natal. Kata itu sendiri terasa hangat. Kata itu mengingatkan kita pada cahaya lampu, tawa anak-anak, aroma pinus, dan sukacita tenang yang memenuhi rumah kita setiap bulan Desember. Kita menghias pohon. Kita menggantung kaus kaki. Kita memberi hadiah. Dan, tanpa banyak berpikir, kita ikut serta dalam tradisi yang dibagikan oleh jutaan orang di seluruh dunia. Tetapi teman-teman… pernahkah Anda berhenti dan bertanya-tanya mengapa? Mengapa kita menaruh pohon di dalam rumah? Mengapa kita menggantung kaus kaki di dekat perapian? Mengapa ada seorang pria tua berjas merah yang entah bagaimana tahu nama semua orang? Ini mungkin terdengar seperti pertanyaan sederhana—tetapi jawabannya sama sekali tidak sederhana. Karena kisah Natal bukan hanya tentang satu malam di Betlehem. Ini adalah kisah berabad-abad—tentang iman dan mitos, tentang sukacita dan kesulitan, tentang kebiasaan lama yang terlahir kembali dengan cara baru.

Sumber gambar https://wiki.ambisius.com


Setiap tradisi yang kita ketahui menyembunyikan sebuah kenangan—sepotong sejarah yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Beberapa kuno, lahir di tengah dinginnya musim dingin utara. Yang lain dibentuk oleh kebaikan seorang santo atau imajinasi seorang penulis. Namun semuanya bermuara pada satu tempat: hati manusia dan kebutuhan mendalamnya akan cahaya di tengah kegelapan. Jadi hari ini, mari kita memulai perjalanan. Mari kita uraikan sejarah liburan yang indah ini bersama-sama. Mari kita cari tahu mengapa, selama ribuan tahun, manusia berkumpul pada waktu ini setiap tahun untuk merayakan harapan. Ini bukan hanya kisah satu hari. Ini adalah kisah Natal.

Untuk memahami Natal, kita harus terlebih dahulu memahami musim dingin. Jauh sebelum ada gereja atau pusat perbelanjaan, orang-orang hidup di dunia yang dikuasai oleh alam. Di bagian utara dunia, musim dingin adalah waktu yang menakutkan. Matahari menghilang lebih awal. Udara menjadi sangat dingin. Tanah menjadi keras dan sunyi. Hidup terasa seperti sedang sekarat. Tetapi tepat di tengah kegelapan yang dingin itu datanglah Titik Balik Musim Dingin—hari terpendek dalam setahun. Bagi orang-orang kuno, ini adalah momen yang sangat bermakna. Itu adalah malam ketika kegelapan berada pada puncaknya, tetapi juga merupakan titik balik. Setelah titik balik, hari-hari perlahan akan mulai menjadi lebih panjang. Matahari akan kembali.

Bangsa Romawi memiliki festival untuk ini yang disebut Saturnalia. Itu adalah waktu yang meriah dan penuh sukacita di bulan Desember di mana orang-orang berhenti bekerja, berbagi makanan, dan saling memberi hadiah. Mereka menghiasi rumah mereka dengan tanaman hijau untuk mengingatkan diri mereka sendiri bahwa kehidupan akan kembali di musim semi. Jauh di utara, orang-orang Jermanik dan Norse merayakan Yule. Mereka menyalakan api unggun besar untuk mengusir kegelapan dan membawa pohon cemara ke rumah mereka. Pohon-pohon ini tetap hijau sementara yang lain mati, sehingga mereka dipandang sebagai simbol kehidupan yang tidak pernah berakhir. Bahkan saat itu, ribuan tahun yang lalu, manusia melakukan apa yang masih kita lakukan hingga hari ini: kita berkumpul, kita menyalakan api, dan kita saling mengingatkan bahwa cahaya akan selalu kembali.

Kemudian, semuanya berubah dengan seorang bayi di palungan. Kisah kelahiran Yesus adalah inti dari Natal bagi miliaran orang. Tetapi ada sesuatu yang mungkin mengejutkan Anda: Alkitab sebenarnya tidak pernah mengatakan bahwa Yesus lahir pada tanggal 25 Desember. Bahkan, banyak sejarawan berpikir bahwa ia kemungkinan besar lahir di musim semi atau musim panas. Jadi, mengapa kita merayakannya di bulan Desember? Pada abad keempat, Gereja mula-mula memilih tanggal 25 Desember. Mereka melakukan ini dengan sengaja. Mereka ingin mengambil tradisi lama itu—Saturnalia Romawi dan api Yule—dan memberinya makna baru. Mereka mengambil "kembalinya matahari" dan mengubahnya menjadi "kelahiran Sang Putra." Lampu, dedaunan, dan berkumpulnya keluarga tetap ada, tetapi sekarang mereka merayakan pesan perdamaian di bumi dan niat baik terhadap sesama manusia.

Natal tidak selalu menjadi liburan keluarga yang nyaman seperti yang kita kenal sekarang. Bahkan, untuk waktu yang lama, Natal itu ramai dan berantakan! Di Abad Pertengahan, Natal seperti pesta jalanan raksasa. Orang miskin akan pergi ke rumah orang kaya dan meminta makanan dan minuman—tradisi yang akhirnya menjadi nyanyian Natal. Natal begitu liar sehingga beberapa orang, seperti kaum Puritan di Inggris dan Amerika awal, bahkan mencoba melarang Natal! Mereka berpikir Natal terlalu mirip pesta dan tidak cukup seperti doa. Untuk sementara waktu, di tempat-tempat seperti Boston, bahkan ilegal untuk merayakannya. Tetapi Anda tidak bisa menghentikan cerita yang bagus. Orang-orang masih menginginkan kehangatan itu di musim dingin.

Pada tahun 1800-an, Natal terlahir kembali. Seorang penulis terkenal bernama Charles Dickens menulis sebuah buku berjudul A Christmas Carol. Buku itu menceritakan kisah Ebenezer Scrooge dan mengingatkan semua orang bahwa Natal seharusnya tentang kebaikan, amal, dan keluarga. Sekitar waktu yang sama, Ratu Victoria dan Pangeran Albert mempopulerkan pohon Natal di Inggris, membawa tradisi kuno Jerman itu ke setiap ruang tamu. Dan kemudian, ada tokoh paling terkenal dari semuanya: Santa Claus. Ia bermula sebagai seorang pria sungguhan—Santo Nicholas—seorang uskup pada abad keempat yang dikenal karena pemberian hadiah rahasianya. Selama ratusan tahun, kisahnya bercampur dengan legenda Belanda tentang "Sinterklaas" dan puisi "A Visit from St. Nicholas." Perlahan, pria berjanggut putih dengan setelan merah itu lahir.

Saat ini, Natal adalah sebuah permadani. Ini adalah campuran api kuno dan lampu modern, dari kedalaman Iman dan keajaiban masa kanak-kanak. Tidak masalah apakah Anda merayakannya sebagai hari raya keagamaan atau waktu untuk keluarga—intinya sama. Ini adalah jeda dalam setahun. Ini adalah momen di mana kita memutuskan bahwa kebaikan lebih penting daripada pekerjaan, dan bahwa kebersamaan adalah hadiah terbesar dari semuanya. Bahkan dalam kehidupan kita yang sibuk, ketika semuanya terasa lebih keras dan lebih cepat, semangat Natal membisikkan kata-kata lembut yang sama: Perlambat. Lihatlah sekeliling. Berbuat baiklah. Karena Natal bukan hanya satu hari di kalender—itu adalah perasaan yang kita bawa, percikan yang tidak pernah pudar. Jadi malam ini, di mana pun Anda berada—jika Anda merasakan kehangatan itu di hati Anda, Anda adalah bagian dari kisah ini. Dan mungkin, temanku, itulah arti Natal yang sebenarnya.

Referensi:

Channel YouTube “English Mindcast”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ditunggu komentar Anda!