7 Ide Bisnis yang Tidak Pernah Sepi 2026
Lu buka berita pagi isinya PHK Masal dan Daya
Beli Turun. Bisnis tutup di mana-mana. Kalau lu percaya semua headline itu, lu
bakal mikir sekarang bukan waktunya mulai usaha.
Padahal, ada tujuh ide bisnis yang orang
selalu butuh, yang justru makin rame persis di saat kayak gini. Dan ini yang
menarik, bisnis-bisnis ini gak butuh modal miliaran, gak butuh franchise mahal,
yang mereka butuh cuma satu hal yang hampir gak pernah orang pikirkan. Setelah membaca bahasan ini, lu gak akan pernah lagi lihat lokasi biasa dengan cara yang sama.
Stasiun kereta, tempat cuci mobil, kompleks
perumahan, semuanya berubah jadi peluang. Tapi kebanyakan orang gak pernah lihat
peluang ini, karena kebanyakan orang milih bisnis dengan cara yang sama, dan
cara itu hampir selalu gagal. Dua tahun lalu, temen gue buka kedai boba di
Bekasi.
Modalnya hampir 20 juta. Interior bagus, menu
lengkap. Tiga bulan pertama ramai, bulan keempat mulai sepi, bulan keenam
tutup.
Lu tahu ada berapa kedai boba dalam radius 1
kilometer dari tempat dia? Tujuh. Dan ini bukan kasus langka. Lu jalan di ruko
mana pun sekarang, polanya sama.
Korean food sebelahan sama Korean food. Dim
sum viral di sebelah dim sum viral. Satu udah pasang sepanduk diskon 50%, yang
sebelahnya udah pasang tulisan disewakan.
Bobanya enak? Itu bukan masalahnya. Masalahnya
dia milih bisnis berdasarkan tren. Dan kalau lu milih bisnis karena lagi rame,
lu otomatis masuk ke kolam yang isinya ratusan orang jualan hal yang sama.
Pertanyaannya gini, kalau semua orang jualan
hal yang sama di tempat yang sama, kenapa pelanggan harus milih lu? Sebagian
besar gak bisa jawab pertanyaan itu. Dan itu alasan mereka tutup. Tapi ada
bisnis-bisnis yang gak pernah punya masalah ini, yang pelanggannya datang
sendiri tanpa perlu dicari.
Pertanyaannya, apa bedanya? Bedanya cuma satu,
posisi. Bisnis yang bertahan puluhan tahun hampir selalu punya satu kesamaan.
Lokasinya menempel di tempat dimana orang udah pasti ada setiap hari.
Lu gak perlu cari pelanggan, mereka udah di
depan pintu lu. Tapi gue harus jujur duluan, posisi itu bukan jaminan otomatis
sukses. Lu tetep bisa gagal kalau eksekusinya berantakan.
Yang posisi berikan itu keuntungan struktural.
Lu mulai dari posisi yang jauh lebih menguntungkan dibanding orang yang buka
bisnis di tempat random. Dan bentuk paling sederhananya, nempel di jalur
rutinitas orang.
Bayangin pukul 11 malam di gang kos-kosan
Jogja, bau minyak goreng dan kecap manis ngambang di udara. Lima kursi plastik
penuh, enam orang berdiri nunggu pesanan. Warmindo, itu kelihatan remeh.
Tenda, kompor, meja plastik. Tapi coba lu
pikir, area kos-kosan dan kampus itu trafiknya gak pernah libur. Malam minggu
ramai, malam senin ramai.
Mau ujian atau libur semester, mahasiswa tetep
makan. Dan makanan yang paling sering mereka beli itu Indomie. Sekarang gue
ajak lu lihat angkanya.
Satu porsi Indomie di Warmindo dijual Rp.
12.000 sampai Rp. 18.000. Tergantuk topingnya, biaya bahan baku per porsi itu
sekitar Rp.
5.000 sampai Rp. 7.000. Mie instan Rp.
3.000-an, telur, sayur, minyak, gas.
Artinya, marjin per porsi sekitar Rp. 5.000 sampai
Rp. 11.000. Kedengerannya kecil, tapi sekarang kaliin sama volume.
Warmindo yang posisinya pas di tengah area
kos-kosan, bisa jual Rp. 50 sampai Rp. 80 porsi per malam.
Lu kaliin Rp. 50 porsi kali marjin Rp. 7.000,
itu Rp.
350.000 per malam. Dalam sebulan, itu Rp.
10.500.000. Dan itu skenario Warmindo yang udah jalan dan punya pelanggan
tetap.
Warmindo baru di bulan-bulan pertama,
realistisnya mungkin Rp. 20 sampai Rp. 30 porsi per malam dulu.
Marjin harian lo mungkin cuma Rp. 150.000
sampai Rp. 200.000. Dan itu normal.
Semua bisnis butuh waktu buat bangun nama.
Modalnya, tenda, kompor dua tungku, peralatan masak, meja kursi plastik. Total
Rp.
3 sampai Rp. 5.000.000. Setara uang yang lo
habiskan buat GoFood selama 3 bulan. Sekarang bagian yang jarang orang bahas.
Di area kos-kosan yang padat, lo hampir pasti
bukan satu-satunya Warmindo. Mungkin udah ada dua atau tiga di gang sebelah.
Dan ini yang bikin banyak orang ragu.
Tapi justru di sini prinsip posisi bekerja.
Mahasiswa jam 11 malam gak mau jalan jauh. Mereka cari yang paling dekat dari
pintu kos mereka.
Kalau lo ada di gang A dan Warmindo lain ada
di gang C, mahasiswa dang A tetap ke tempat lo. Bukan karena indomie lo lebih
enak, tapi karena lo lebih dekat. Ibaratnya gini, lo gak bersaing lewat rasa,
lo bersaing lewat jarak.
Dan di area kos-kosan yang gang-gangnya
sempit, jarak 50 meter aja udah bikin orang males jalan. Ini yang bikin
Warmindo bisa hidup berdampingan di area yang sama tanpa saling bunuh. Warmindo
menguasai malam karena mahasiswa cari yang paling dekat.
Tapi Warmindo itu bisnis malam. Begitu
matahari terbit, trafiknya mati. Gimana kalau ada lokasi yang trafiknya justru
meledak di pagi hari, yang isinya ribuan orang yang baru turun dari kereta dan
cuma punya 5 menit sebelum masuk kantor.
Pukul 6 pagi, stasiun Bogor, gerobak nasi uduk
di depan pintu keluar. Antrian pendek tapi gak pernah berhenti. Satu orang
beli, satu orang datang.
Transaksi 30 detik. 5.000 sampai 15.000 per
porsi. Di sini yang bikin beda itu bukan hitungan marginnya.
Yang bikin beda itu kecepatannya. Satu
transaksi 30 detik. Kalau lo layani 100 orang di jam sibuk, itu cuma butuh
waktu 50 menit kerja.
Masing-masing bayar 7.000 sampai 15.000. Total
yang masuk bisa jutaan rupiah dalam hitungan jam. Tapi yang jauh lebih menarik
dari bisnis ini itu bukan omsetnya. Ini soal waktunya.
Lo buka jam 6 pagi. Jam 8, gerobak ditutup.
Dua jam, selesai.
Mau pulang tidur lagi? Silahkan. Mau jalanin
bisnis lain di sisa hari? Bisa. Mau kerja kantoran part-time? Juga bisa.
Bisnis ini gak mengikat lo 12 jam sehari kayak
kebanyakan usaha makanan lain. Sekarang bagian realistisnya. Dapat spot jualan
di depan stasiun itu gak gampang.
Persaingannya ketat. Kadang udah ada pedagang
lama yang nempatin lokasi tertentu selama bertahun-tahun. Dan di beberapa stasiun,
lo butuh izin atau setidaknya hubungan baik sama pengelola area.
Tapi justru ini yang sering bikin orang nyerah
sebelum mulai. Mereka lihat hambatannya dan langsung mundur. Padahal kalau lo
survei dulu, banyak stasiun, terminal, dan haltebus yang area sekelilingnya
masih belum dipenuhi pedagang sarapan.
Bukan stasiun besarnya, tapi stasiun-stasiun
kecil yang volume penumpangnya tetap ribuan per hari. Modal? Gerobak dan bahan
baku hari pertama. Satu sampai tiga juta.
Lebih murah dari sepatu olahraga yang lo pakai
sekarang. Kiosk sarapan menguasai pagi karena kecepatannya. Tapi pagi itu
berlangsung singkat.
Jam 6 sampai jam 8. Setelah itu, trafiknya
mati. Gimana kalau ada momen di mana ratusan orang keluar dari satu gedung di
jam yang persis sama dan semuanya butuh hal yang persis sama? Pukul 12 siang,
kawasan industri Cikarang. Bel istirahat bunyi.
Ratusan karyawan berseragam keluar serentak
dari pabrik dan langsung menuju satu arah, deretan warung prasmanan. Nasi,
ayam, sayur, sambal. 15 ribu per porsi.
Harga yang sama kayak lo beli satu kopi di
minimarket. Karyawan pabrik itu nggak bawa bekal dan nggak pesan ojol. Mereka
butuh makan cepat, murah, dan kenyang.
Dan mereka butuhnya setiap hari kerja. Satu
pabrik bisa punya 300 sampai 1000 karyawan dan jam makan siang mereka serentak.
Kalau kantin lo melayani 150 sampai 300 porsi per hari, margin harian lo bisa
700 ribu sampai 2 juta 400 ribu.
Tapi yang bikin kantin kawasan industri beda
dari semua bisnis yang udah kita bahas, itu bukan angkanya. Itu ritmenya.
Setiap hari kerja ada pemasukan.
Setiap minggu ada cashflow. Lo bisa prediksi
penghasilan bulan depan karena pelanggannya itu-itu aja dan jadwalnya nggak pernah
berubah. Selasa kayak senin.
Kamis kayak Rabu. Ritmenya stabil. Tapi stabil
juga berarti rentan terhadap satu hal.
Kalau pabriknya tutup atau karyawannya di PHK
Masal, pelanggan lo hilang dalam semalam. Ini pernah terjadi di beberapa
kawasan industri selama pandemi. Kantin yang tadinya ramai tiba-tiba sepi
total.
Makanya, prinsip posisi di sini punya satu
aturan tambahan. Jangan cuma nempel di satu pabrik. Kalau bisa, pilih lokasi
yang bisa melayani dua atau tiga pabrik sekaligus.
Kawasan industri yang padat biasanya punya
banyak pabrik berdekatan. Kalau satu tutup, yang lain masih jalan. Ini kayak
mesin yang udah dihidupin sama orang lain.
Pabrik yang nyalain mesinnya. Lo cuma perlu
berdiri di samping mesin itu dan sediain apa yang operatornya butuh. Tapi
pastiin, lo nggak bergantung sama satu mesin doang.
Warmindo ngasih lo hitungan margin yang
fantastis. Kios harapan ngasih lo kebebasan wartu. Kantin Prasmanan ngasih lo
sesuatu yang lebih jarang dimiliki bisnis kecil.
Prediktabilitas. Dan kalau posisinya tepat,
ritme itu bisa jalan bertahun-tahun. Kos-kosan malam, stasiun pagi, pabrik
siang.
Tiga lokasi dengan satu hukum yang sama. Lo
hadir di jalur rutinitas orang, pelanggan datang sendiri. Tapi ada satu jenis
lokasi yang bahkan lebih kuat dari ini.
Tempat di mana pelanggan lo nggak cuma
kebetulan lewat, mereka terjebak di sana. Mereka nggak bisa pergi meskipun
mereka mau. Dan selama mereka terjebak, dompet mereka terbuka.
Lo pernah cuci mobil? Nunggu 15 sampai 30
menit. Nggak bisa ngapa-ngapain. Duduk, scrolling HP, sesekali lirik mobil lo
yang masih disemprot air.
Sekarang bayangin, di sebelah tempat cuci
mobil itu, ada barbershop kecil. Lo lihat kursi kosong. Harga potong 30 ribu.
Dan waktu nunggu lo pas 15 menit. Lo nggak
niat potong rambut hari itu. Tapi lo nganggur.
Mobilnya belum selesai. Dan rambut emang udah
agak gondrong. Kenapa lo akhirnya duduk di kursi barber itu? Karena otak
manusia, benci nganggur.
Kalau lo nggak ngapa-ngapain selama 15 menit,
otak lo aktif nyari sesuatu buat dilakuin. Dan kalau pilihan yang kelihatan
cuma kursi barber 30 ribu, otak lo bakal rasionalisasi alasan buat duduk di
sana. Kebetulan emang udah gondrong.
Kapan lagi bisa potong sambil nunggu? Padahal
5 menit sebelumnya, lo nggak kepikiran potong rambut sama sekali. Ini yang
bikin barbershop di cuci mobil itu menarik. Lo nggak jual potong rambut.
Lo jual solusi buat kebosanan. Dan
pelanggannya nggak perlu dicari. Karena mereka udah di situ.
Nggak bisa kemana-mana. Dan otaknya lagi nyari
sesuatu buat ngisi waktu. Tapi ini nggak sesederhana naruh kursi di samping
tempat cuci mobil dan nunggu orang datang.
Pertama, lo butuh skill. Potong rambut itu
bukan sesuatu yang bisa dipelajari dalam semalam. Kalau potongan lo jelek,
orang nggak akan balik.
Dan di bisnis kayak gini, reputasi lo menyebar
lewat mulut ke mulut. Satu pelanggan kecewa, sepuluh orang tahu. Kedua, lo
harus negosiasi sama pemilik tempat cuci mobil.
Nggak semua mau berbagi space. Ada yang minta
sewa, ada yang bagi hasil. Hubungan ini harus dikelola dengan baik.
Karena traffic lo 100% bergantung sama bisnis
dia. Tapi kalau dua hal itu lo bisa handle, struktural keuntungannya gila.
Barbershop biasa di Ruko harus bayar sewa jutaan per bulan dan harus tarik
pelanggan dari nol.
Barbershop di cuci mobil, pelanggannya diantar
gratisan sama bisnis sebelah. Biaya akuisisi pelanggan, nol. Lo cuma butuh
kursi, cermin, alat cukur.
Total mungkin dua sampai tiga juta. Ini
namanya dead time conversion. Mengubah waktu nunggu orang jadi transaksi.
Dan prinsipnya berlaku dimanapun ada orang
yang terjebak menunggu. Cuci mobil, bengkel, bahkan ruang tunggu servis motor.
Selama ada kebosanan, ada peluang.
Barbershop di cuci mobil itu dead time
conversion dalam bentuk paling kasat mata. Orang duduk nunggu, lo tawarkan
sesuatu, mereka beli karena nganggur. Tapi ada bentuk dead time lain yang lebih
halus dan pasarnya jauh lebih besar.
Waktu yang memang gak pernah ada di jadwal
siapapun. Bayangin gedung perkantoran di Jakarta. Seorang karyawan masuk pukul
delapan pagi, pulang pukul tujuh malam.
Sampai rumah udah capek. Baju kotor numpuk di
keranjang sampai meluber. Nyuci? Males.
Tapi besok butuh baju bersih. Orang ini gak
punya dead time kayak orang di cuci mobil. Dia gak duduk nganggur nunggu
sesuatu.
Masalahnya justru kebalikannya. Dia gak punya
waktu sama sekali. Dan nyuci baju selalu kalah prioritas sama tidur.
Sekarang bayangin ada laundry kilauan yang
jemput baju kotor di lodi kantor pukul sembilan pagi. Dan nganter balik baju
bersih besoknya di jam yang sama. Harganya enam ribu sampai delapan ribu per
kilo.
Hampir sepuluh kali lipat. Buat karyawan
kantoran atau tamu hotel yang long stay, pilihan ini gak perlu dipikir. Modal?
Mesin cuci dua unit.
Motor buat antar jemput. Dan peralatan
setrika. Totalnya kisaran sepuluh sampai lima belas juta.
Setara satu bulan gaji karyawan di gedung yang
lo layani. Tapi gue harus kasih peringatan soal satu hal. Bisnis laundry itu
gampang banget hancur kalau lo bikin satu kesalahan.
Baju ketuker antar pelanggan, warna luntur,
satu kemeja mahal rusak. Satu insiden kayak gitu bisa bikin lo kehilangan
pelanggan sekaligus reputasi. Dan membangun pelanggan pertama itu gak instan.
Lo harus ketuk pintu. Harus nawarin diri.
Harus buktiin dulu kalau lo bisa dipercaya.
Bulan-bulan pertama kemungkinan besar masih
sepi. Tapi yang bikin model bisnis ini menarik justru apa yang terjadi setelah
fase awal itu lo lewati. Begitu karyawan kantoran udah terbiasa baju bersihnya
muncul di lobby tiap pagi, dia gak akan pindah.
Nyari laundry baru itu repot. Harus coba-coba
lagi. Harus sesuaiin jadwal lagi.
Dan orang kantoran benci ribet. Artinya, begitu
lo masuk ke satu gedung dan pelanggan lo udah percaya sama jadwal lo,
kompetitor yang datang belakangan harus ngeyakinin orang buat ninggalin jasa
yang udah nyaman. Dan itu jauh lebih susah dari sekedar nawarin harga lebih
murah.
Posisi lo di sini bukan soal lokasi fisik.
Posisi lo itu kepercayaan. Dan sekali lo dapetin itu, itu jadi benteng yang
susah ditembus.
Barbershop mengambil waktu nunggu yang
terbuang. Laundry mengambil waktu nyuci yang gak pernah ada. Dua bisnis yang
cuan karena pelanggannya terjebak.
Tapi, ada satu layer terakhir. Bisnis yang gak
nempel di rutinitas lama dan gak eksploitasi that time. Bisnis ini jalan karena
jutaan Indonesia baru aja mengubah cara mereka hidup.
Dan perubahan ini gak akan mundur lagi.
Bayangin, kompleks perumahan di Tanggerang. Sore hari, Rina, 28 tahun, baru
pulang kerja.
Lewat toko kecil di dekat gerbang kompleks.
Berhenti 2 menit, buka freezer, ambil 3 bungkus nugget dan 1 paket bumbu
rendang instan. Pulang.
15 menit kemudian, makan malam, udah di meja.
Frozen food. Bisnis ini tumbuh karena satu perubahan perilaku yang fundamental.
Generasi sekarang mau masak, tapi males ribet.
Pesan GoFood tiap hari kemahalan. Masak dari nol terlalu lama.
Frozen food posisinya persis di tengah.
Praktis kayak GoFood, tapi harganya mendekati masak sendiri. Satu porsi frozen
food plus bumbu jadi rata-rata 10-15 ribu.
Sementara 1 kali pesan GoFood bisa 30-40 ribu
terlasuk ongkir. Selisihnya hampir 3 kali lipat. Artinya satu keluarga yang
ganti GoFood ke frozen food 3 kali seminggu bisa hemat 240 ribu per bulan.
Kebayangkan kenapa demandnya naik terus. Tapi
yang bikin toko frozen food menarik dari sisi bisnis itu bukan angka
penjualannya, tapi profil resikonya. Coba bandingin sama bisnis makanan lain.
Kalau lo jualan nasi uduk dan nggak habis hari
itu, besok udah basi. Itu rugi langsung. Kalau lo jualan prasmanan dan porsi
sisa terlalu banyak, lauk lo terbuang.
Setiap hari ada resiko kerugian dari makanan
yang nggak terjual. Frozen food, dia tetap di freezer. Nggak habis hari ini, besok
masih bisa dijual.
Minggu depan juga masih bisa. Resiko kerugian
dari barang terbuang itu hampir nol. Sekarang ini yang perlu lo perhatiin.
Kompetitor terbesar toko frozen food di
kompleks permahan itu bukan toko frozen food lain. Itu minimarket. Alfamart dan
Indomaret di mana-mana sekarang.
Dan mereka juga jual frozen food. Jadi, gimana
cara lo bersaing sama minimarket? Jawabannya ada di spesialisasi. Minimarket
jual semuanya, tapi variannya terbatas.
Mereka punya 5 jenis nugget dan 2 jenis sosis.
Toko lo bisa punya 30 varian frozen food plus bumbu jadi yang nggak ada di rak
minimarket. Saus padang instan, rendang beku siap panaskan.
Lauk frozen dari UMKM lokal. Lo jadi toko yang
isinya hal-hal yang pelanggan nggak bisa dapet di Indomaret. Dan itu yang bikin
mereka datang ke lo, bukan ke minimarket.
Modalnya, freezer 1-2 unit, sekitar 2-4 juta.
Stok awal produk 3-5 juta. Total 5-9 juta.
Kurang dari biaya kos 3 bulan di Jakarta.
Frozen food menunggangi perubahan cara orang makan. Masak mau, ribet nggak mau.
Tapi ada perubahan perilaku lain yang bahkan
lebih besar dan lebih emosional. Perubahan yang bikin jutaan orang Indonesia
tiba-tiba butuh layanan yang 5 tahun lalu hampir nggak pernah ada. Pagi hari di
area dekat pintu tol Cikampek, Adi, 32 tahun, keluar dari mobil bawa karier
kucing.
Masuk ke toko kecil bertuliskan Pet Hotel.
Titip kucingnya 2 hari, sementara dia ke Bandung. Setelah COVID, jumlah orang
yang pelihara hewan naik drastis.
Pasangan muda yang belum punya anak pelihara
kucing. Orang tua yang anaknya udah gede cari temen di rumah. Anak muda yang
tinggal sendiri adopsi anjing.
Dan begitu hewan peliharaan udah jadi bagian
keluarga, kebutuhannya ikut naik. Salah satu kebutuhan terbesar itu penitipan.
Karena lo nggak bisa ninggalin kucing atau anjing sendirian di rumah selama 3
hari.
Mereka butuh makan, butuh diawasi, butuh
interaksi. Taris penitipan kucing di kisaran 50.000 sampai 100.000 per hari.
Anjing sedikit lebih mahal.
Kalau lo punya kapasitas 10 hewan dan
rata-rata terisi 6 setiap hari, pemasukan bulanan lo bisa nembus belasan juta.
Tapi gue perlu jujur soal satu hal. Bisnis penitipan hewan itu punya resiko
yang nggak dimiliki bisnis lain di daftar ini.
Hewan bisa sakit. Hewan bisa stres di
lingkungan baru. Kucing bisa berantem satu sama lain.
Dan kalau ada satu insiden di mana hewan
peliharaan orang cedera atau sakit di tempat lo, reputasi lo bisa hancur dalam
satu malam. Satu review buruk di media sosial bisa bikin calon pelanggan batal
sebelum pernah nyoba. Makanya, bisnis ini nggak bisa dijalanin asal-asalan.
Lo perlu ngerti dasar perawatan hewan. Lo
perlu punya SOP kebersihan yang ketat. Dan yang paling penting, lo perlu bisa
komunikasi sama pemilik hewan dengan transparan.
Kirim foto secara berkala. Update kondisi.
Kalau ada masalah sekecil apapun, kasih tahu langsung.
Tapi justru karena standarnya tinggi, yang
berhasil melewatinya dapat sesuatu yang luar biasa. Loyalitas emosional. Orang
nggak nitip kucing ke tempat random yang dia temuin di Google.
Kalau kucing mereka pernah dititipin di tempat
lo dan pulang sehat, mereka bakal balik ke tempat lo setiap kali pergi. Setiap
liburan, setiap perjalanan dinas, setiap mudik. Dan ini loyalitas yang beda
levelnya dari pelanggan warmindo yang balik karena deket.
Ini loyalitas karena lo menjaga apa yang
mereka anggap keluarga. Sekali kepercayaan itu terbangun, kompetitor hampir
mustahil mengambilnya. Mau pet hotel sebelah lebih murah 20 ribu pun, orang
nggak akan pindah kalau mereka udah percaya sama lo.
Sekarang soal posisi. Kalau pet hotel lo ada
di tengah kota, orang harus khusus nyetir ke sana sebelum berangkat. Itu repot
dan makan waktu.
Tapi kalau pet hotel lo ada di jalur menuju
pintu tol atau bandara, orang tinggal mampir di jalan. Tiga menit berhenti, titip
hewan, langsung lanjut pergi. Lo nggak bikin orang jalan memutar.
Lo berdiri di jalur yang mereka pasti lewati.
Dan begitu satu pelanggan percaya, dia bawa temen-temennya. Karena pemilik
hewan itu komunitas yang erat dan saling kasih rekomendasi.
Lo perhatiin polanya? Warmindo di kos-kosan,
kios sarapan di stasiun, kantin di pabrik, barber di cuci mobil, laundry di
perkantoran, frozen food di perumahan, pet hotel di pinggir tol. Tujuh bisnis.
Tujuh lokasi yang berbeda, satu prinsip yang persis sama.
Semuanya berdiri di kempat dimana orang udah
pasti hadir. Kita nggak pernah perlu cari pelanggan. Kita cuma perlu berdiri di
tempat yang tepat.
Tapi berdiri di tempat yang tepat, itu baru
setengah dari cerita. Setengahnya lagi, itu konsistensi, kualitas, dan
kesabaran buat bertahan di bulan-bulan pertama yang belum menghasilkan sesuai
harapan. Posisi nggak bikin lo kebal gagal.
Posisi bikin lo mulai dari tempat yang jauh
lebih menguntungkan dibanding orang yang nggak mikirin ini sama sekali. Dan
itu, nggak butuh miliaran. Gue nggak tahu situasi lo sekarang.
Mungkin lo karyawan yang lagi was-was soal
PHK, mungkin lo baru lulus dan belum dapet kerja. Mungkin bisnis lo lagi drop
dan lo nggak tahu harus pivot kemana. Gue nggak bisa jamin ketujuh bisnis ini
pasti berhasil buat lo.
Jujur, nggak ada yang bisa jamin itu. Setiap
bisnis punya risikonya sendiri, dan ada hal-hal yang nggak bisa diprediksi.
Tapi satu hal yang bisa gue kasih, setelah video ini, lo punya kerangka pikir
baru.
Lo lewat stasiun, tempat cuci mobil, kompleks
perumahan, dan sekarang lo ngeliat sesuatu yang sebelumnya nggak kelihatan.
Celah. Tempat dimana orang udah berkumpul, udah nunggu, dan udah siap ngeluarin
uang.
Lo cuma perlu hadir di situ dengan sesuatu
yang mereka butuh. Lo bisa terus scrolling berita soal resesi dan ngerasa cemas
tanpa arah. Atau lo bisa mulai lihat satu lokasi di sekitar lo besok pagi, dan
tanya satu pertanyaan.
Ada celah apa di sini?
Sumber:
Transkripsi YT @Mental Cuan

