Cari Blog Ini

Minggu, 28 Juni 2026

Mengapa Masyarakat Menjadi Semakin Bodoh Setiap Hari

Mengapa Masyarakat Menjadi Semakin Bodoh Setiap Hari


Bayangkan suatu hari Anda terbangun dan menyadari bahwa jalinan masyarakat diam-diam mulai terurai di depan mata Anda. Pikirkan tentang bagaimana percakapan tampak semakin dangkal, bagaimana hiburan semakin menghargai kegaduhan daripada kedalaman, dan bagaimana orang-orang tampaknya lebih tahu tentang selebriti daripada tentang kekuatan yang membentuk kehidupan mereka sendiri. Pernahkah Anda memperhatikan bahwa meskipun kita hidup di era informasi yang tak terbatas, kebijaksanaan sejati terasa lebih langka dari sebelumnya? Hari ini kita akan menjelajahi pertanyaan yang mengganggu sekaligus menarik.

sumber: https://as1.ftcdn.net/jpg/00/76/20/58/1000_F_76205896_4keQIEyXPInaOq4U1qA5ElH0f6WEVnEP.jpg


Mengapa masyarakat menjadi semakin bodoh setiap hari, dan yang terpenting, apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasinya? Tetaplah bersama saya sampai akhir karena wawasan terakhir yang akan saya bagikan adalah yang paling penting dari semuanya, dan ia memiliki kekuatan untuk sepenuhnya mengubah cara Anda memahami dunia modern. Sebelum kita melangkah lebih jauh, pastikan Anda berlangganan saluran ini, beri suka pada video ini, bagikan dengan seseorang yang Anda pedulikan, dan beri tahu saya di kolom komentar apa pendapat Anda tentang keadaan masyarakat saat ini. Suara Anda berarti, dan dengan berpartisipasi dalam diskusi ini, Anda menjadi bagian dari komunitas yang berusaha bangun dari kabut mediokritas dan merebut kembali kejernihan pemikiran sejati.


Sekarang, mari kita mulai. Untuk memahami mengapa masyarakat tampaknya tenggelam ke dalam jurang dangkal, pertama-tama kita harus menghadapi kebenaran yang tidak nyaman. Alat-alat yang menjanjikan untuk meningkatkan pengetahuan manusia—teknologi, media sosial, pendidikan massal—sering kali digunakan dengan cara yang menumpulkan pikiran kita, bukan mengasahnya.


Pikirkan tentang paradoks ini. Umat manusia memiliki di ujung jarinya perpustakaan terbesar yang pernah ada, lebih banyak pengetahuan daripada semua generasi sebelumnya digabungkan. Namun studi menunjukkan bahwa rentang perhatian menyusut, keterampilan berpikir kritis menurun, dan orang-orang semakin kesulitan membedakan antara kebenaran dan kebohongan.


Seolah-olah, dalam tergesa-gesa mengonsumsi informasi, masyarakat lupa bagaimana mencernanya. Para filsuf dan psikolog telah lama memperingatkan kita tentang bahaya ini. Filsuf Jerman Friedrich Nietzsche berbicara tentang *manusia terakhir*, individu masa depan yang menghindari kedalaman, hidup untuk kenyamanan, dan menolak segala sesuatu yang menuntut pemikiran sejati.


Bukankah itu terdengar sangat mirip dengan zaman kita, di mana kenyamanan sering kali mengalahkan kebijaksanaan? Demikian pula, Neil Postman, dalam karya pentingnya *Amusing Ourselves to Death*, meramalkan budaya di mana hiburan akan menjadi lensa yang melaluinya semua realitas disaring, mereduksi bahkan hal-hal paling serius menjadi tontonan yang dirancang untuk menarik perhatian selama beberapa detik singkat. Tetapi mengapa pergeseran ini semakin cepat secara dramatis dalam beberapa tahun terakhir? Salah satu alasannya terletak pada cara otak kita merespons rangsangan. Psikolog Daniel Kahneman, yang mempelajari proses berpikir ganda, menjelaskan bahwa manusia lebih memilih jalan yang paling sedikit hambatannya.


Kita cenderung mencari jawaban yang cepat dan mudah daripada penalaran yang lambat dan disengaja. Masalahnya adalah masyarakat modern terstruktur untuk mengeksploitasi kelemahan itu. Platform media sosial, periklanan, dan bahkan wacana politik dirancang untuk memicu reaksi emosional daripada refleksi mendalam.


Dalam lingkungan ini, kebodohan bukan sekadar kebetulan, ia diproduksi. Pikirkan tentang maraknya tren viral, meme, dan cuplikan suara yang mendominasi percakapan online. Mereka menyebar bukan karena benar, tetapi karena sederhana dan sarat muatan emosional.


Bandingkan dengan cara tradisi kebijaksanaan kuno berfungsi. Di Akademi Plato, siswa menghabiskan waktu bertahun-tahun bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan sulit, berdebat, dan menyempurnakan pemahaman mereka. Sebaliknya, ruang publik saat ini sering kali menghargai mereka yang berteriak paling keras, bukan mereka yang berpikir paling dalam.


Tanyakan pada diri Anda sendiri, kapan terakhir kali Anda melihat video atau berita utama yang sedang tren yang benar-benar menantang Anda untuk berpikir kritis tentang kehidupan, masyarakat, atau moralitas? Seberapa sering Anda menemukan konten yang dirancang untuk memperlambat Anda dan memicu refleksi, dibandingkan dengan banjir gangguan tak berujung yang dimaksudkan untuk membuat Anda terus menggulir? Inilah tragedi modern. Kelimpahan informasi dikombinasikan dengan kelaparan akan kebijaksanaan. Konsekuensinya sangat mendalam.


Ketika orang kehilangan kemampuan untuk berpikir secara mendalam, mereka menjadi lebih rentan terhadap manipulasi. Pertimbangkan bagaimana misinformasi menyebar lebih cepat daripada kebenaran di dunia maya. Studi oleh Institut Teknologi Massachusetts telah menunjukkan bahwa berita palsu bergerak secara signifikan lebih cepat dan lebih jauh di media sosial daripada fakta terverifikasi.


Mengapa? Karena kepalsuan sering kali dibuat sensasional dan menarik secara emosional, sedangkan kebenaran membutuhkan nuansa, kesabaran, dan konteks. Dan dalam masyarakat yang kecanduan kecepatan, nuansa menjadi korban pertama. Ini bukan hanya masalah ketidaktahuan pribadi, ini adalah penurunan kolektif.


Ketika wacana publik memburuk, seluruh komunitas berisiko kehilangan kapasitas mereka untuk berdebat secara rasional. Politik berubah menjadi pertarungan teriakan kesukuan. Pendidikan lebih fokus pada kinerja tes daripada pada pembinaan kebijaksanaan.


Hiburan mengagungkan kemarahan, skandal, dan tontonan. Singkatnya, masyarakat mulai lebih menyukai yang dangkal daripada yang mendalam, yang instan daripada yang abadi. Namun dalam gambaran suram ini, ada juga peluang.


Pengakuan akan kemunduran bisa menjadi langkah pertama menuju pembaruan. Dengan memahami kekuatan yang mendorong masyarakat menuju kebodohan, kita dapat mulai melawannya. Dengan merebut kembali praktik-praktik pemikiran kritis, refleksi, dan percakapan bermakna, kita dapat naik di atas kebisingan dan menemukan kembali kejernihan yang pernah membimbing kemajuan manusia.


Tapi inilah tantangannya. Perjalanan ini membutuhkan keberanian. Ini menuntut kita untuk mempertanyakan apa yang populer, untuk melawan godaan gangguan yang mudah, dan untuk mengembangkan pikiran yang mampu berdiri terpisah dari kerumunan.


Seperti yang pernah dikatakan filsuf Prancis René Descartes, pikiran terbesar mampu melakukan keburukan terbesar serta kebajikan terbesar. Alat yang sama yang membuat masyarakat menjadi bodoh juga dapat digunakan untuk meninggikannya, tetapi hanya jika kita secara sadar memilih untuk melakukannya. Dan pilihan itu dimulai dari Anda.


Pikirkan sejenak tentang bagaimana Anda mengonsumsi informasi setiap hari. Apakah Anda tanpa henti menggulir ponsel, berpindah dari satu unggahan ke unggahan lain tanpa banyak mengingat apa yang Anda lihat? Apakah Anda mengandalkan berita utama, klip pendek, dan pandangan cepat untuk membentuk opini Anda tentang isu-isu kompleks? Jika demikian, Anda tidak sendirian. Ini adalah perilaku default yang dilatihkan ke dalam masyarakat kita, dan ini adalah salah satu alasan utama mengapa kecerdasan digantikan oleh gangguan.


Psikolog Kanada Steven Pinker telah banyak menulis tentang bagaimana otak manusia beradaptasi dengan lingkungannya. Ketika kita terus-menerus dibombardir oleh ledakan konten singkat, pikiran kita beradaptasi dengan mendambakan keringkasan, bahkan dengan mengorbankan kedalaman. Ini berarti bahwa penalaran kompleks, membaca bentuk panjang, dan pembelajaran yang sabar menjadi kurang alami bagi kita.


Apa yang dulunya adalah otot, diperkuat oleh latihan, kini berisiko mengalami atrofi. Hasilnya adalah populasi yang dapat memproses informasi dangkal dalam jumlah besar, tetapi kesulitan untuk terlibat dengan apa pun yang membutuhkan perhatian berkelanjutan. Pergeseran ini tidak hanya bersifat individual, tetapi juga budaya.


Secara historis, masyarakat menghargai peran para penjaga kebijaksanaan—filsuf, guru, tetua—yang mengabdikan diri untuk memahami kondisi manusia dan mewariskan wawasan. Saat ini, tokoh-tokoh ini sering kali terbayang oleh para *influencer* yang tujuan utamanya bukanlah kebenaran, melainkan keterlibatan (*engagement*). Algoritma menghargai popularitas, bukan kedalaman, dan dengan demikian masyarakat semakin mengacaukan ketenaran dengan kebijaksanaan, melupakan bahwa yang satu tidak selalu berarti yang lain.


Pertimbangkan cara sistem pendidikan modern beroperasi. Di banyak negara, sekolah bergeser ke arah tes standar dan penghafalan hafalan, menyisakan sedikit ruang untuk berpikir kritis atau kreativitas. Filsuf John Dewey pernah berkata, "Pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup; pendidikan adalah kehidupan itu sendiri."


Namun sekolah modern sering mereduksi pembelajaran menjadi serangkaian kotak centang, melatih siswa bukan untuk berpikir sendiri, tetapi untuk berprestasi dalam ujian. Ini memiliki konsekuensi serius bagi cara seluruh generasi mendekati pemecahan masalah dan pemikiran independen. Ketika orang dikondisikan untuk mencari jawaban cepat, mereka menjadi kurang toleran terhadap ambiguitas.


Padahal ambiguitas adalah tempat lahirnya kebijaksanaan. Psikolog Carl Jung menekankan bahwa pertumbuhan sejati berasal dari menghadapi kontradiksi dalam diri kita sendiri, merangkul bayangan, dan menavigasi ketegangan antara hal-hal yang berlawanan. Tetapi dalam budaya yang kecanduan kesederhanaan, hanya ada sedikit kesabaran untuk kedalaman seperti itu.


Kita lebih memilih kepastian, bahkan jika itu salah, daripada kompleksitas yang menuntut usaha. Kecanduan kepastian ini telah dipersenjatai. Politisi, pengiklan, dan perusahaan media semuanya memahami bahwa rata-rata orang lebih mungkin terpengaruh oleh pernyataan percaya diri dan sederhana daripada argumen yang hati-hati dan bernuansa.


Dan masyarakat dibanjiri dengan slogan-slogan alih-alih ide, dengan cuplikan suara alih-alih filosofi. Hasilnya bukan hanya penurunan kualitas wacana, tetapi juga erosi demokrasi itu sendiri, karena populasi yang tidak dapat berpikir kritis dengan mudah dimanipulasi. Mari kita renungkan ini.


Berapa kali Anda melihat orang berdebat dengan penuh semangat di dunia maya tentang topik yang jelas-jelas tidak mereka pahami? Seberapa sering kita melihat komentar yang dipenuhi kemarahan dan kepastian, tetapi kurang bukti atau refleksi? Inilah yang terjadi ketika masyarakat menghargai kepercayaan diri lebih dari kompetensi. Ilusi pengetahuan, seperti yang diperingatkan Stephen Hawking, menjadi lebih berbahaya daripada ketidaktahuan itu sendiri.


Namun mungkin aspek yang paling mengkhawatirkan dari kemunduran ini adalah hilangnya ingatan. Di masa lalu, budaya melestarikan kebijaksanaan mereka melalui cerita, tradisi, dan teks yang terbentang selama berabad-abad. Saat ini, media digital membanjiri kita dengan konten baru setiap detik, tetapi banyak dari itu menghilang secepatnya. Apa yang sedang tren kemarin dilupakan besok.


Filsuf Spanyol George Santayana pernah menulis, "Mereka yang tidak dapat mengingat masa lalu dikutuk untuk mengulanginya." Dalam masyarakat yang kecanduan hal baru, masa lalu menjadi tidak relevan, dan pelajaran yang dapat membimbing kita hilang dalam kebisingan kebaruan yang konstan. Namun di tengah krisis ini, kita tidak boleh kehilangan pandangan akan kemungkinan.


Jika kebodohan menyebar melalui kebiasaan gangguan dan dangkal, maka kecerdasan dapat dikultivasikan melalui kebiasaan refleksi dan kedalaman. Kita dapat memilih untuk mengonsumsi konten yang menantang kita daripada membuat kita mati rasa. Kita dapat mempraktikkan seni membaca lambat, mendengarkan secara mendalam, dialog yang bermakna.


Ini bukan sekadar pilihan pribadi, ini adalah tindakan perlawanan terhadap budaya yang mendapat untung dari kepasifan kita. Satu praktik yang sederhana namun kuat adalah merebut kembali keheningan. Filsuf Denmark Søren Kierkegaard memperingatkan bahwa kesibukan dan kebisingan mencegah kita untuk benar-benar mengenal diri kita sendiri.


Di dunia saat ini, keheningan hampir revolusioner. Dalam keheningan, kita dapat merenung, menganalisis, dan terhubung kembali dengan diri kita yang lebih dalam. Dengan merangkul momen-momen ketenangan, kita melawan tekanan konstan untuk bereaksi, dan kita menemukan kembali kapasitas untuk berpikir.


Praktik lain adalah bertanya tanpa henti. Socrates, bapak filsafat Barat, membangun seluruh metodenya dengan mengajukan pertanyaan daripada memberikan jawaban. Bayangkan apa yang akan terjadi jika masyarakat kembali ke pola pikir ini, jika alih-alih terburu-buru menghakimi, kita berhenti sejenak untuk bertanya, "Mengapa saya percaya ini? Siapa yang diuntungkan jika saya percaya ini? Bukti apa yang mendukungnya?" Pertanyaan-pertanyaan seperti itu menembus kabut misinformasi dan memaksa kita untuk terlibat dengan realitas secara lebih otentik.


Tapi inilah kebenaran yang tidak nyaman. Berpikir untuk diri sendiri itu tidak mudah. Seringkali itu menyendiri, karena membutuhkan melangkah menjauh dari kerumunan.


Ini bisa menyakitkan, karena memaksa Anda untuk menghadapi ilusi yang pernah Anda pegang teguh. Namun justru kesulitan inilah yang membuatnya begitu berharga. Seperti yang dideklarasikan filsuf Jerman Immanuel Kant, "Beranilah mengetahui.


Gunakan akal budimu sendiri." Inilah esensi pencerahan, dan itu tetap sama mendesaknya hari ini seperti pada zaman Kant. Sekarang berhentilah dan tanyakan pada diri Anda, "Apakah Anda hidup dengan cara yang memperkuat pikiran Anda atau dengan cara yang melemahkannya? Apakah Anda memberi makan intelek Anda dengan kebijaksanaan dan refleksi, atau apakah Anda membiarkan diri Anda terbawa arus gangguan?" Jawaban Anda atas pertanyaan ini menentukan apakah Anda bagian dari masalah atau bagian dari solusi, dan ini membawa kita pada wahyu yang lebih dalam, yang mungkin meresahkan Anda, tetapi sangat penting untuk dipahami.


Kebodohan masyarakat tidak hanya kebetulan atau tidak terhindarkan. Ini memiliki tujuan, karena ketika orang-orang teralihkan, tidak berpikir, dan terpecah belah, mereka lebih mudah dikendalikan. Kemunduran kebijaksanaan bukan hanya tren budaya, itu juga alat kekuasaan.


Jika kemunduran kecerdasan tidak hanya kebetulan, tetapi juga nyaman bagi mereka yang berkuasa, maka kita harus bertanya, "Siapa yang diuntungkan dari masyarakat yang teralihkan, salah informasi, dan dilemahkan secara intelektual?" Jawabannya, meskipun tidak nyaman, sudah jelas. Pemimpin politik, perusahaan, dan konglomerat media semuanya mendapat keuntungan dari populasi yang tidak berpikir secara mendalam. Masyarakat yang kecanduan hiburan dan kebisingan cenderung tidak mempertanyakan otoritas, cenderung tidak menantang ketidakadilan, dan cenderung tidak menuntut perubahan.


Pikirkanlah. Ketika orang menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari terbenam dalam gangguan sepele, energi mereka untuk refleksi serius berkurang. Ketika perdebatan direduksi menjadi pertarungan teriakan, dialog nyata menghilang.


Ketika warga lebih tertarik pada kehidupan selebriti daripada pada tanggung jawab sipil mereka sendiri, demokrasi itu sendiri mulai layu. Penyair Romawi Juvenal menggambarkan ini sejak lama dengan ungkapan, "Roti dan sirkus." Para pemimpin menjaga populasi tetap tenang dengan memberi mereka makanan dan hiburan, mengalihkan perhatian mereka dari korupsi dan pembusukan.


Bukankah ini terdengar sangat mirip dengan dunia yang kita huni saat ini, di mana aliran konten yang tak berujung membuat kita patuh sementara krisis yang lebih dalam terjadi di latar belakang? Filsuf Prancis Michel Foucault berpendapat bahwa kekuasaan sering beroperasi bukan melalui kekerasan, tetapi melalui sistem kontrol halus yang membentuk cara orang berpikir dan berperilaku. Di zaman kita, salah satu sistem kontrol yang paling efektif adalah manipulasi perhatian. Platform media sosial, misalnya, direkayasa untuk menangkap dan mempertahankan fokus Anda.


Setiap notifikasi, setiap *like*, setiap guliran tanpa henti dirancang untuk membajak sistem hadiah otak Anda. Dan semakin teralihkan kita, semakin kurang mampu kita berpikir kritis. Tapi mari kita melangkah lebih jauh.


Kemunduran kecerdasan ini tidak hanya tentang gangguan, tetapi juga tentang perpecahan. Ketika orang dipecah belah satu sama lain, mereka tidak dapat bersatu melawan kekuatan yang mengeksploitasi mereka. Dan apa cara yang lebih baik untuk memecah belah masyarakat selain mendorong pemikiran dangkal dan reaksi emosional? Misinformasi berkembang subur di lingkungan ini.


Kemarahan menyebar lebih cepat daripada pemahaman. Label sederhana menggantikan analisis bernuansa. Orang-orang berpegang pada identitas kesukuan daripada terlibat dalam perdebatan rasional.


Sejarawan Amerika Christopher Lash mengamati bahwa budaya modern sering mempromosikan narsisisme, fiksasi pada diri sendiri, pada penampilan, pada kepuasan instan. Dalam budaya seperti itu, kecerdasan kolektif melemah karena orang terlalu asyik dengan kesombongan pribadi untuk terlibat dengan tantangan besar yang dihadapi umat manusia. Ketika masyarakat menjadi narsis, pengejaran kebenaran memberi jalan pada pengejaran validasi.


Dan validasi mudah didapat di dunia yang penuh dengan *like*, *share*, dan *follower*. Tanyakan pada diri Anda, seberapa sering Anda melihat tokoh publik dihargai bukan karena bijaksana tetapi karena keras? Seberapa sering *influencer* mendapatkan jutaan pengikut dengan membesar-besarkan, memprovokasi, atau mensensasionalkan daripada dengan menawarkan wawasan yang mendalam? Ini bukan sekadar keingintahuan budaya. Ini adalah gejala dari sistem yang menghargai perhatian di atas kebenaran.


Dan ketika perhatian menjadi mata uang kekuasaan, kebodohan menjadi menguntungkan. Inilah sebabnya filsuf Noam Chomsky pernah berkomentar bahwa "propaganda bagi demokrasi adalah seperti kekerasan bagi kediktatoran." Jika Anda dapat mengontrol apa yang diperhatikan orang, Anda dapat mengontrol cara mereka berpikir, apa yang mereka inginkan, dan apa yang mereka takuti.


Dan cara termudah untuk mengontrol perhatian adalah dengan mereduksi realitas kompleks menjadi narasi sederhana yang menarik emosi daripada akal. Tapi jangan kita salah mengartikan ini sebagai masalah eksternal semata. Ini juga internal.


Setiap kali kita memilih gangguan daripada kedalaman, setiap kali kita lebih memilih kepastian daripada kompleksitas, kita terlibat dalam kemunduran ini. Kebenarannya adalah, masyarakat menjadi bodoh tidak hanya karena pemimpin yang korup atau perusahaan manipulatif, tetapi karena individu menyerahkan kapasitas mereka untuk berpikir. Namun di sini terletak kebenaran yang kuat.


Kekuatan yang melemahkan masyarakat juga mengungkapkan jalan menuju pembaruannya. Jika kebodohan menyebar melalui gangguan, maka kecerdasan dapat direbut kembali melalui fokus. Jika manipulasi berkembang biak melalui perpecahan, maka kebijaksanaan dapat dibangun kembali melalui persatuan.


Jika kedangkalan mendominasi budaya, maka kedalaman sekali lagi dapat menjadi revolusioner. Tetapi ini membutuhkan keberanian, keberanian untuk melawan jalan yang mudah. Pikirkan kata-kata Viktor Frankl, psikiater dan penyintas Holocaust, yang menulis dalam *Man's Search for Meaning* bahwa "di antara stimulus dan respons ada ruang, dan dalam ruang itu terletak kekuatan kita untuk memilih."


Dalam masyarakat yang dirancang untuk memicu reaksi instan, tindakan berhenti sejenak, merenung, dan memilih dengan penuh pertimbangan adalah tindakan pembangkangan. Itu juga tindakan kebebasan. Jadi bagaimana kita mulai melawan arus kebodohan yang mengancam menelan kita? Langkah pertama adalah kesadaran.


Anda harus mengenali cara-cara di mana perhatian Anda sendiri dimanipulasi. Tanyakan pada diri sendiri, "Mengapa saya mengonsumsi informasi ini? Apakah itu mencerahkan saya atau hanya mengalihkan perhatian saya? Siapa yang diuntungkan jika saya percaya narasi ini?" Kesadaran adalah benih kebijaksanaan. Tanpanya, kita adalah orang-orang yang berjalan dalam tidur di dunia yang dirancang untuk membuat kita tidak sadar.


Langkah kedua adalah disiplin. Kecerdasan tidak berkembang secara kebetulan. Itu dibudidayakan.


Ini berarti membuat pilihan yang disengaja tentang apa yang Anda baca, tonton, dan dengarkan. Ini berarti mencari suara-suara yang menantang Anda daripada yang hanya mengonfirmasi bias Anda. Ini berarti membaca buku-buku yang menuntut usaha daripada membaca sepintas umpan konten dangkal yang tak berujung.


Disiplin tidaklah glamor, tetapi itu penting jika Anda ingin naik di atas kebisingan. Langkah ketiga adalah dialog. Manusia menjadi lebih bijaksana dalam komunitas, tetapi hanya jika komunitas itu berkomitmen pada kebenaran.


Di zaman kita, percakapan sering merosot menjadi konflik. Namun dialog sejati—mendengarkan dengan keterbukaan, bertanya dengan kerendahan hati, berbagi dengan kejujuran—memiliki kekuatan untuk menajamkan pikiran kita dan memperluas cakrawala kita. Filsuf Martin Buber berbicara tentang hubungan *Aku-Engkau* di mana kita bertemu dengan orang lain bukan sebagai objek untuk diperdebatkan atau digunakan, tetapi sebagai subjek untuk dipahami.


Bayangkan bagaimana masyarakat akan berubah jika dialog kembali ke bentuk suci ini. Pada titik ini, Anda mungkin bertanya-tanya, "Apakah mungkin untuk membalikkan kemunduran ini? Atau akankah masyarakat ditakdirkan untuk tenggelam lebih dalam ke dalam kebodohan dengan setiap generasi yang berlalu?" Ini adalah pertanyaan yang valid, dan mereka layak mendapatkan refleksi yang serius. Sejarah menunjukkan kepada kita bahwa budaya naik dan turun, bahwa kebijaksanaan sering hilang sebelum ditemukan kembali.


Namun sejarah juga menunjukkan kepada kita bahwa pembaruan selalu mungkin. Renaisans, misalnya, muncul dari apa yang disebut Zaman Kegelapan, menghidupkan kembali kebijaksanaan Yunani Kuno dan Roma, sambil mempelopori cara berpikir baru. Mungkinkah kita berada di ambang kebangkitan intelektual lainnya? Jawabannya tidak bergantung pada yang berkuasa, tetapi pada kita.


Itu tergantung pada individu yang memilih kedalaman daripada gangguan, keberanian daripada konformitas, kebijaksanaan daripada kebisingan. Karena kemunduran kecerdasan tidaklah tak terelakkan, itu adalah pilihan, yang dibuat secara kolektif, hari demi hari. Dan sama seperti kemunduran adalah pilihan, demikian pula pembaruan.


Tetaplah bersama saya, karena di bagian selanjutnya kita akan mengeksplorasi wawasan terpenting dari semuanya, yang mengikat semuanya dan mengungkapkan tidak hanya mengapa masyarakat menjadi lebih bodoh setiap hari, tetapi bagaimana Anda dapat berdiri terpisah darinya, merebut kembali pikiran Anda, dan hidup dengan kebijaksanaan sejati di dunia ilusi. Kita telah menjelajahi banyak alasan mengapa masyarakat tampaknya menjadi lebih bodoh setiap hari. Banjir informasi dangkal, manipulasi perhatian, erosi pendidikan, kemenangan hiburan atas kebijaksanaan, dan cara-cara halus di mana kekuasaan mendapat untung dari populasi yang teralihkan dan terpecah belah.


Tetapi sekarang kita sampai pada wawasan terpenting dari semuanya, yang memiliki kekuatan untuk mengubah cara Anda melihat diri sendiri dan tempat Anda di dunia ini. Bahaya terbesar bukanlah bahwa masyarakat menjadi lebih bodoh, bahaya terbesar adalah bahwa Anda mungkin menerimanya sebagai hal yang tak terelakkan. Tragedi sebenarnya bukanlah kebisingan di luar, tetapi keheningan di dalam, penyerahan kapasitas Anda sendiri untuk berpikir, mempertanyakan, dan naik di atas mediokritas yang mengelilingi Anda.


Sepanjang sejarah, kebijaksanaan tidak pernah menjadi milik mayoritas. Ia selalu dilestarikan oleh segelintir orang yang berani hidup berbeda. Socrates dijatuhi hukuman mati karena menantang asumsi masyarakatnya.


Galileo dibungkam karena mengungkap kebenaran yang mengancam otoritas. Martin Luther King Jr. dianiaya karena berani bermimpi tentang keadilan di dunia yang dibangun di atas perpecahan. Di setiap tahap sejarah, massa lebih memilih kenyamanan daripada kebenaran. Namun selalu ada segelintir orang yang tahu bahwa kebijaksanaan layak diperjuangkan, bahkan ketika itu berarti berdiri sendiri.


Itulah panggilan Anda hari ini. Untuk menjadi salah satu dari mereka yang tidak hanya menyaksikan kemunduran, tetapi secara aktif berpartisipasi dalam kebangkitan. Kebijaksanaan sejati tidak ditemukan dalam hiruk-pikuk dunia, tetapi dalam keheningan pikiran Anda sendiri.


Ini ditemukan dalam keberanian untuk mempertanyakan, dalam disiplin untuk merenung, dan dalam komitmen untuk melampaui dangkal. Perjalanan ini dimulai dengan satu langkah sederhana. Ambil jeda.


Bacalah sesuatu yang menantang Anda. Carilah kebenaran di atas kenyamanan. Dan ingatlah, setiap kali Anda memilih kedalaman daripada gangguan, Anda tidak hanya menyelamatkan diri sendiri, Anda membantu menyelamatkan peradaban dari kebodohannya sendiri.

Sumber: YT @The Psyche

Hilirisasi Tanpa Humanisasi

 Hilirisasi Tanpa Humanisasi

 

Catatan refleksi kita kali ini akan membedah sebuah istilah yang belakangan ini dikodifikasi seperti sebuah kitab suci ekonomi baru di Indonesia, hilirisasi. Kita sering mendengar narasi tentang lompatan raksasa, memutus rantai kolonial, hingga narasi Indonesia Maju.

 

sumber: https://assets-a1.kompasiana.com/items/album/2025/12/30/hilirisasi-transformasi-industri-695395b1ed64153481343712.png?t=o&v=1200

Tapi, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya di mana posisi manusia dalam semua angka-angka pertumbuhan itu? Mengapa narasi yang begitu indah di podium Jakarta terasa begitu menyesakkan bagi mereka yang tinggal di lingkar tambang? Dalam perbincangan ini, kita akan membongkar apa yang ada di balik kemilauan nikel dan juga janji-janji manis industri. Dengan menggunakan cara pandang yang radikal, kita bisa menyingkap kebenaran yang tidak tersaji di dalam siaran pers pemerintah. Mari kita mulai dengan memahami apa yang ada di kepala para pengambil kebijakan kita.

 

Pemerintah Indonesia memiliki dasar fundamental yang sebenarnya terdengar sangat patriot. Mereka ingin memutus rantai ketergantungan selama puluhan tahun sebagai pengekspor bahan mentah atau rol material. Selama ini, kita seolah menjadi hamba dalam rantai pasok global.

 

Kita hanya bisa menggali tanah menjualnya murah, lalu membeli kembali produk jadinya dengan harga mahal. Kepijakan hilirisasi ini difokuskan pada kewajiban mengolah komoditas sumber daya alam di dalam negeri. Tujuannya mulia, setidaknya di atas kertas tentu saja, yaitu menciptakan lompatan ekonomi, meningkatkan nilai tambah, dan membuka lapangan kerja serta mendorong kemandirian industri nasional.

 

Pemerintah ingin kita tidak lagi sekedar mengekstraksi, tetapi juga memproduksi. Namun, ada implikasi serius ketika kebijakan ini dijalankan hanya sebagai angka-angka statistik tanpa menyertakan humanisasi atau peradaban manusia di dalamnya. Ketika hilirisasi hanya dipandang sebagai perpindahan mesin pengolah dari luar negeri ke dalam negeri tanpa memperhitungkan keadilan sosial dan ekologis, kita sebenarnya sedang membangun gedung tinggi di atas fundasi yang rapuh.

 

Kita terjebak dalam glorifikasi angka, namun buta terhadap air mata yang tumpah di atas tanah-tanah adat yang terampas. Maka agar adil, kita perlu melihat lebih dalam. Mengapa pemerintah begitu gigihnya mengharus utamakan kebijakan ini? Ada lima pilar utama yang menjadi alasannya.

 

Mari kita tilih sebentar. Pertama, tentang amanat konstitusi. Pemerintah merujuk pada Basal 33, Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa pengelolaan kekayaan alam harus memberikan kemahmuran sebesar-besarnya bagi rakyat.

 

Tentu saja ini memicu semangat untuk menolak model ekonomi kolonial yang sekedar mengekstrasi dan mengekspor bahan mentah ke negara maju. Yang kedua, peningkatan nilai tambah eksponensial. Mengekspor tanah dan batu mentah dianggap memberikan keuntungan yang sangat kecil.

 

Maka dengan mengolah mineral seperti nikel, bauksit, dan juga tembaga, atau hasil bumi seperti sawit, menjadi barang jadi, maka nilai ekonominya diklaim bisa melompat berkali-kali lipat. Ketiga, transformasi menjadi negara industri. Indonesia ingin keluar dari jebakan pendapatan menengah atau middle income trap caranya dengan beralih dari negara pengekspor komoditas menjadi produsen barang manufaktur teknologi tinggi untuk rantai pasok global.

 

Keempat, penciptaan lapangan kerja. Pembangunan smelter di daerah-daerah dianggap akan langsung membuka ratusan ribu lapangan kerja baru dan mendorong transfer teknologi bagi tenaga kerja lokal. Dan yang kelima, ketahanan ekonomi.

 

Dengan memproduksi di dalam negeri, devisa negara bisa dihemat karena impor berkurang, sekaligus melindungi ekonomi nasional dari fluktuasi harga komoditas mentah di pasar internasional. Secara teori, kelima catatan di atas adalah mimpi besar. Tapi mari kita masuk ke bagian yang lebih dalam dan lebih tajam.

 

Kita coba gunakan pisau analisis untuk melihat apakah mimpi itu adalah realitas atau sekedar halusinasi kolektif elit penguasa. Untuk membuka persoalan ini, kita tidak bisa hanya memakai data Biro Busat Statistik atau BBS. Tetapi kita butuh perspektif ekonomi politik yang lebih dalam.

 

Pertama, mari kita bicara soal nilai tambah semu. Pemerintah sering mengglorifikasi hilirisasi sebagai lompatan manufaktur, padahal kenyataannya sebagian besar investasi, terutama sektor nikel, hanya berfokus pada pengulahan awal di smelter. Sementara produknya? Hanya produk setengah jadi seperti Nickel Peak Iron atau NPI.

 

Bukan baterai atau kendaraan listrik seperti yang dibayangkan. Catatan ini selaras dengan apa yang ditulis oleh John Smith dalam bukunya Imperialism in the 21st Century. Smith membedah bagaimana rantai pasok global bekerja melalui super eksploitasi di negara-negara global source.

 

Dalam konteks Indonesia, nilai tambah yang diklaim pemerintah seringkali hanya semu. Keuntungan besarnya tetap lari ke pusat-pusat kapital di negara maju atau investor asing. Sementara kita di Indonesia hanya menjadi lokasi pembangunan limbah dan menyedia buruh murah.

 

Lompatan nilai ekonomi dan penciptaan lapangan kerja domestik pun menjadi sangat terbatas dibandingkan klaim bombastis pemerintah. Kita masuk ke catatan kedua. Kita menghadapi ketergantungan ekstrim pada asing.

 

Sektor ini sangat didominasi oleh investasi dan teknologi asing. Terutama Tiongkok. Pemilikan smelter mayoritas harus dikuasai oleh perusahaan luar negeri.

 

Bahkan, tenaga kerja terambilnya seringkali juga harus diisi oleh ekspatrian karena adanya kesenjangan kompetensi tenaga kerja lokal. Di sini, leses Tom Burgis dalam The Losing Messi menjadi sangat relevan. Kurang lebih Burgis menjelaskan bagaimana industri ekstraktif harus seringkali menjadi mesin penjara yang melanggengkan kemiskinan dan korupsi.

 

Kolusi antara korporasi global dan elit lokal membuat kekayaan alam yang seharusnya milih rakyat justru mengalir ke kantong-kantong sekelintir orang. Klirisasi kita saat ini lebih terlihat seperti perpindahan model penjajahan dari model kolonial lama ke model ekstraktifisme baru. Kebetulan ketiga, klain kemandirian ekonomi.

 

Tentu saja itu patut dipertanyakan melalui kacamata Vijay Prasad dalam The Darker Nation. Prasad mengingatkan kita bahwa proyek pembangunan di negara pasca kolonial seringkali terjebak di dalam utang dan ketergantungan pada teknologi asing. Dan inilah yang terjadi pada dominasi teknologi smelter asing saat ini.

 

Kita mengklaim berdaulat. Sayang, berdaulatan itu digadakan pada modal asing untuk membangun fasilitas kita sendiri di mana kita sendiri tidak kuasai teknologinya secara utuh. Sekarang mari kita coba kalkulasi lagi soal biaya-biaya yang tercapat dalam laporan keuangan negara.

 

Itu adalah biaya kemanusiaan dan biaya ekologis. Kebijakan hilirisasi saat ini menunjukkan kelemahan fundamental pada aspek perusahaan lingkungan yang masif dan pengabehan hak-hak masyarakat adat. Eksploitasi pertambangan dan aktivitas smelter berdampak destruktif.

 

Selain konflik agraria, terjadi deforestasi lahan yang masif. Pencemaran laut akibat sedimentasi hingga polusi udara dari PLTU Batubara yang dibangun khusus untuk menghidupkan smelter-smelter tersebut. Dalam konteks ini, Naomi Klein dalam The Change Everything secara radikal menyerang logika ini.

 

Ia menjelaskan bahwa mengejar pertumbuhan ekonomi melalui penghancuran alam adalah jalan buntu. Bagaimana mungkin kita bicara soal kemajuan jika untuk mendapatkan energi bersih seperti baterai kendaraan listrik misalnya, kita harus menghancurkan paru-paru dunia dan meracuni laut kita sendiri. Jelas, ini adalah sebuah kontradiksi yang mengerikan.

 

Dampaknya pada manusia jauh lebih pedih. Hilirisasi di daerah seperti Sulawesi dan Maluku Utara justru seringkali meminggirkan warga lokal. Alifungsi lahan menghilangkan sumber penghidupan utama petani maupun juga nelayah.

 

Memicu konflik agraria serta menurunkan kualitas kesehatan akibat pencemaran. Mari kita serima laporan dari JATAM, Jaringan Advokasi Tambang tahun 2023. Dalam kajiannya berjudul menanam nikel dan menuai bencana membongkar sisi gelap ini secara telanjang.

 

Isin tambang dan hilirisasi seringkali menjadi alat tukar politik yang meminggirkan hak-hak masyarakat adat. Masyarakat lokal bukan menjadi sobjek pembangunan, melainkan menjadi penonton. Selakannya lebih, jauh lebih buruk dari itu, dia menjadi korban di tanah mereka sendiri.

 

Risiko lainnya adalah kehabisan sadangan atau resource depletion. Nikel, bauksit dan juga tembaga adalah sumber daya alam yang jelas, tak terbarukan. Pelaju eksploitasi yang masif mengancam sadangan bijih di dalam negeri akan habis dalam hitungan dekade.

 

Maka jika itu terjadi, kita bukan saja gagal menjadi negara industri, tetapi kita juga akan menghadapi krisis pasokan bagi industri domestik di masa depan. Tajian lain dari Selyos dan juga Crea tahun 2024 bahkan dengan sangat jelas, menunjukkan dampak ekologis dan biaya kesehatan jangka panjang yang ditanggung masyarakat seringkali melampaui penerimaan negara yang dihasilkan. Secara ekonomi makro mungkin terlihat surplus, tetapi secara kemanusiaan dan kelestarian, kita sebenarnya sedang mengalami divisi besar-besaran.

 

Kawan-kawan, kita sampai di penghujung pembahasan ini. Gilirisasi tanpa humanisasi hanyalah sebuah ekstrativisme baru. Ia hanya memindahkan lokasi pengolahan, namun tetap mempertahankan pola kolonial yang lama, di mana kerusaan alam tetap tinggal di lokal, sementara keuntungan finansial terbang ke korporasi global.

 

Kita harus mulai menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi tidak ada artinya jika ia berdiri di atas penderitaan rakyat dan kehancuran lingkungan. Kita tidak boleh terpukul hanya oleh angka-angka produk domestik bruto atau nilai ekspor yang meningkat. Jika padahal saat yang sama, nelayan kita tidak bisa melaut karena airnya tercemar, dan petani kita kehilangan tanahnya karena konsesi tambah.

 

Problem gilirisasi ini bukan sekedar masalah teknis industri. Ini adalah masalah keadilan. Maka penting bagi publik untuk menuntut kebijakan yang lebih manusiawi dalam konteks ini, yaitu kebijakan yang menempatkan hak masyarakat lokal, masyarakat adat, dan keberlanjutan ekologis setara dengan target-target ekonomi itu.

 

Jangan sampai kita menjadi bangsa yang mampu memproduksi teknologi canggih, namun kehilangan peradaban dan kemanusiaan kita dalam prosesnya. Oleh karena itu, mari kita kawal catatan reflektif dalam narasi ini. Bagaimanapun juga kekayaan alam ini menurut konstitusi kita adalah untuk kemakmuran rakyat, seluruh rakyat, dan bukan hanya segelintir elit investor asing.

 

Maka teruslah berpikir dan bersikap kritis, karena hanya dengan itulah kita bisa menjaga martabak kemanusiaan dan hakikat kelestarian semesta ciptaan.

Sumber: YT @Sekoci Sorec

 

Minggu, 07 Juni 2026

Walid II, Khalifah Dinasti Umayyah Penyuka Sesama Jenis

 WALID II, KHALIFAH DINASTI UMAYYAH PENYUKA SESAMA JENIS

 

Subuh dini hari 744 Masehri di Istana Kekhilafan Islam. Pintu istana diobrak bukan oleh musuh. Bukan oleh Romawi ataupun Persia.

 

sumber: FB ILUSTRATOR INDONESIA

Pendobrak itu masuk membawa pedang yang ternyata adalah sepupunya sendiri dari karangan Bani Umayyah itu sendiri. Sang halifah berdiri di pojokan ruangan mencoba untuk bersembunyi. Gerlas anggur yang masih di tangannya tumpah membasahi jubah sutranya.

 

Barangkali ia telah mencoba berkata-kata kepada penyerangnya. Untuk merayu mereka. Demi Allah aku ini amirul mu'minin loh.

 

Tenang dulu, kita bicarakan baik-baik. Atau dia mungkin akan berkata, apapun yang kamu minta setelah ini akan aku penuhi. Tapi jangan bunuh aku.

 

Tapi ternyata pedang sudah lebih cepat datang daripada kalimatnya. Assalamualaikum Wr. Wb.

 

Rakyat Jilat dan semuanya, terima kasih sudah klik video ini. Izinkan kami menceritakan kisah seorang halifah yang dibunuh bukan oleh tentara romawi, bukan oleh tentara salib, bukan oleh musuh dari luar. Ia dibunuh oleh keluarganya sendiri karena sebuah dosa.

 

Dosa yang ia tampakkan tanpa malu-malu di hadapan istananya sendiri. Dosa yang memamerkan perjinahan. Tapi yang lebih ironi lagi, perjinahan itu bukan dengan lawan jenisnya.

 

Sebab halifah ini lebih suka beristirahat dengan laki-laki gemulai ketimbang dengan istrinya sendiri. Astagfirullahaladzim. Bayangkan sebuah istana di tengah gurun Palestina.

 

Khirbat al-Mafjar yang sampai hari ini reruntuhannya masih berdiri. Masih ada. Bisa kalian googling, cari di Google Maps.

 

Masih bisa dikunjungi sebagai situs arkeologi. Ibu kota Kekilafan atau Damascus, jaraknya jauh dari sana. Istana itu adalah tempat pelarian dari halifah yang akan kita ceritakan nanti.

 

Ini menjadi tempat dia pergi ketika ia ingin menjauh dari urusan umat. Dan Azhabi dalam syiar A'lam An-Nubala mencatat dengan kalimat yang dingin. Dan nongkrongnya, kumpul-kumpulnya dia di dalam sana adalah dengan para Muhannadzim.

 

Ini istana sekilas ngingetin kita sama Pulau Little St. James milik Epstein. Dan apa itu Muhannadzim? Dalam tradisi klasik, Muhannadzim itu posisi yang ambigu. Antara Mu'annadz, cewek dalam bahasa Arab, dengan Muzakar, cowok dalam bahasa Arab.

 

Muhannadz adalah laki-laki yang sengaja meniru gaya suara dan gerak-geri atau gestur perempuan. Botilah kalau disebutan bahasa sekarang. Rasulullah jelas melaknat praktek ini.

 

Tak peduli antum khilafah, antum imam, antum hafiz Quran, kayak apapun itu, nggak peduli Rasulullah sudah menetapkan hukumnya. Tapi di istana walid kedua ini, mereka bukan dilaknat. Mereka bayangkan ya, bayangkan.

 

Digaji, pakai uang negara, dan diambil dari khas Baitul Mal. Bayangin coba, kelakuan sesepulah Epstein yang kali ini yang berkedok agama ini. Kalau Epstein di Amerika, ini bayangin, di negara Islam.

 

Nah, di dalam ruangan itu, dalam istana itu, ngapain bang? Jadi apa bang? Apa jobnya kok digaji? Di sana mereka ada yang jadi penyanyi, ada yang jadi penari, ada yang jadi sekertalis paling pribadi bagi kholifah. Bukan sekertaris kabinet ya. Nggak usah bawa-bawa urusan pribadi negara kalian masing-masing ke sini.

 

Di sana, mereka diposisikan sebagai teman duduk yang paling akrab seorang kholifah yang setiap Jumat, masih dipanggil di dalam doa para khotib dengan sebutan Amirul Mu'minin. Beuh, gila nggak tuh? Dan di dalam istananya, kholifah ini kerap main game tusbol. Padahal di luar gerbang istananya, gerbang pengaduan dari para kodi, para hakim di seluruh penjuru negeri, menumpuk nggak diurus-urus, nggak peduli sama dia.

 

Bayangin aja adegannya. Salah seorang kodi yang sudah tua, sepuh duduk di pelatarannya, menggenggam surat yang sudah dikirim untuk ketiga kalinya. Ia berkata lirik kepada juru tulisnya, Udah enam bulan, surat tentang janda di kufah, yang anaknya hilang, yang kalau kholifah sebelumnya hisyam, akan menjawabnya dalam tiga hari maksimal.

 

Yang ini, aku tidak tahu apakah suratku ini sudah masuk ke meja ruangannya atau nyangkut di balik gerbang doang. Juru tulisnya kemudian menjawab, Sudahlah, saya pulang aja. Kholifah sedang sibuk.

 

Tahu nggak kalian sibuk apa? Sibuk apa? Sibuk mendendangkan syair, sibuk nyanyi, sibuk ngedan. Eh lu itu kholifah, bukan anggota boy band Bapak Walid. Teman-teman tahu nggak? Para ulama siroh mencatat satu hal yang sangat menyakitkan tentang Walid kedua ini.

 

Bukan bahwa dia memang melakukan dosa besar dan itu memang sudah cukup menyakitkan, tapi ada yang lebih menyakitkan. Apa dia melakukan dosa itu tanpa malu-malu. Ibnu Khasir dalam Al-Bidayah wa-Nihaya menulis dengan kalimat yang sangat keras.

 

Ia menampakkan kefasikannya. Dan kefasikan itu adalah perbuatan kaum mudud. Menampakkan, bukan menyembunyikan, bukan sembunyi-sembunyi atau diam-diam melakukan.

 

Bukan menyesali apalagi. Menampakkan. Kalau punya sosmed, wah itu mungkin udah di-upload tuh mah.

 

Dia kontenin itu mah. Dia banggain. Atau malah bikin kompetisi boti pilihan kholifah.

 

Astagfirullah. Sekarang coba renungkan. Walid II ini tidak bodoh.

 

Ia tahu rakyatnya berbisik di belakangnya. Ia tahu bahwa para ulama tidak menyukainya. Intelnya tersebar di mana-mana.

 

Dia tahu semua informasi itu. Ia bahkan tahu bahwa pamannya sendiri yang sekarang jadi kholifah, itu pernah mencoba mencaput haknya sebagai pewaris takhta karena perilakunya ini. Tapi Walid berhasil mendapatkannya dan menjadi amirul mu'minin yang sangat tidak layak secara moralin.

 

Hisyam itu sudah mencoba menghentikannya loh. Coba bayangin Hisyam berkata kayak gini. Walid sini, aku sudah dengar tentang majelismu.

 

Tentang anggurmu, tentang penyanyi-penyanyi dan penari-penarimu dan tentang bota-boti kesayanganmu di sekelilingmu itu. Lah Paman, itu kan cuma hiburan. Hiburan apa? Hisyam berdiri, wajahnya merah mungkin.

 

Kau akan jadi amirul mu'minin Walid. Kholifah dari umatnya Muhammad, umat Nabi Muhammad SAW. Dan kau menyebut ini sebagai hiburan.

 

Walid menunduk dan Az-Zahabi kemudian mencatat bahwa setelah Walid keluar dari ruangan itu, dia tertawa. Dia tertawa bersama dengan teman-temannya dan berkata bahwa Pamannya sudah terlalu tua. Ini orang tua harus segera diganti aja lah.

 

Ini nggak ngerti kemajuan zaman ini si Hisyam ini ya. Seperti itulah kurang lebih gambaran Walid. Ada banyak ulama di sekeliling istana itu.

 

Tapi apakah Walid meminta nasihat mereka? Yo tentu saja tidak. Dia bahkan membangun lingkaran di dalam istananya yang membuat dosa dia merasa baik-baik saja dilihat sebagai normal-normal aja. Yang ia tempatkan di sisinya bukan ulama-ulama yang suka memberikan nasihat secara ludus atau panglima yang senantiasa mengingatkan dia atau polisi yang bisa mengkritisi dia secara fair dan objektif.

 

Melainkan penyair-penyair pemuji, penyanyi-penyanyi penjelakawan, kemudian penjilat-penjilat yang senantiasa memberikan validasi terhadap dosa atasannya dan mukhannasin, yang menghibur. Dan juga kalaupun ada orang-orang profesional yang ahli, mereka itu lebih takut kehilangan jabatannya daripada takut pada dosa. Yang kalau ada seorang ulama datang berani mencoba menegur, ulama itu akan dituding dengan tuduhan macam-macam, irilah, dengkilah, fitnahlah, caperlah, dan lain-lainnya.

 

Lalu dia bisa diusir. Sistem yang harusnya hanya diperuntukkan untuk Allah dan Rasulnya, kini diperuntukkan untuk hawa nafsunya. Sefatal itu, teman-teman, jika kepemimpinan jatuh di tangan yang salah.

 

Di tahun 735 Masehi, Walid masih putra mahkota. Kita flashback mundur dulu ya. Belum jadi khalifah.

 

Pamannya khalifah Hisham. Sudah lama mendengar perilaku daripada ponakannya yang tidak pantas ini. Hisham berpikir keras.

 

Mungkin pikir Hisham, kalau Walid dikasih tanggung jawab agama ke rumah Allah, dia akan berubah kali ya. Ngelihat Ka'bah nangis seharusnya, kayak orang pada umumnya. Maka Hisham mengangkat si Walid II ini menjadi Amir Hajj, pemimpin rombongan jamaah haji.

 

Bayangkan kehormatan ini, memimpin ribuan jamaah haji ke bayi Tuhan, mewakili khalifah dalam ibadah yang paling suci bagi umat Islam ditunggu setiap tahunnya oleh seluruh umat Islam. Posisi yang biasanya diberikan kepada orang-orang yang paling salih ini loh. Walid, sini.

 

Kata Hisham. Walid, sini. Ini kesempatan terakhir kamu ya.

 

Kamu pergi ke Mekah. Dekati rumah Allah di sana. Mungkin di sana hatimu bisa kembali pengen pulang.

 

Tobat sebelum jadi khalifah kamu itu. Walid menganggup. Berjanji.

 

Ya siap, oke paman. Siap, laksanakan bos. Lapan enam.

 

Pak khalifah. Tapi tahu nggak kalian? Apa yang dia lakukan? Dia kemudian mengemasi barang-barangnya sembari membawa anjing-anjing pemburu secara sembunyi-sembunyi. Dia masukkan di dalam peti-peti kayu yang dia bawa bersama rombongan.

 

Padahal dia tahu ini pasti akan ketahuan nih. Tinggal nunggu waktu aja. Padahal ini barang hidup kok.

 

Barang hidup kok dibawa segini banyak. Membawa kawanan anjing pemburu. Nggak cuma satu berarti ya.

 

Disembunyikan di dalam peti-peti kayu di atas unta yang dibawa oleh rombongan. Disamarkan supaya tidak ada yang curiga. Untuk apa? Supaya kalaupun dia berhasil sampai di tempat lokasi yang bagus dia pengen berburu di sela-sela perjalanan haji.

 

Biar kagak bosan katanya. Bayangin nggak tuh. Dah brain rot otak dia kayaknya ya.

 

Berburu saat ikhrom. Gimana nggak konsep tuh? Itu haram secara eksplisi di dalam Qur'an. Allah sudah jelasin dalam surat Al-Ma'idah ayat 95.

 

Janganlah kamu membunuh hewan buruan ketika sedang ikhrom. Jelas tuh. Dan di wilayah sekitar Mekka itu wilayah tanah haram Pak Walid.

 

Di sana berburu binatang dilarang secara permanen. Rasulullah SAW sendiri yang menetapkan hukum ini. Emang Walid ke-2 calon khalifah putra mahkota ini emang kagak tahu? Dia tahu semua hukum ini.

 

Dia diajari kok. Jadi pemimpin disiapkan kok. Ilmu-ilmu dikasih kok.

 

Sebagai amir haj, tugasnya adalah menjaga ribuan jama'ah dari pelanggaran ikhrom ini kan harusnya? Eh nggak tahunya. Dia yang ngelanggar dong. Ini nggak cuma melanggar tapi mempermainkan hukum Allah.

 

Nantangin hukum Allah. Udah tahu tapi tetap ditabrak. Lalu di tengah perjalanan salah satu peti jatuh.

 

Pecah anjingnya keluar dong dan menggonggong. Jama'ah yang sedang berikhrom. Ya para jama'ah itu kemudian terkejutlah.

 

Kok ada anjing nih? Siapa yang bawa anjing nih? Dan walid apa yang dilakukan walid? Ngaku? Ya kagak bukan walid. Bebas dong dia amirnya, dia pemimpinnya, dia bosnya. Lalu dia menunjuk si pembawa untang.

 

Lah kamu nih. Kamu kan yang bawa nggak usah cari siapa yang ditipin. Kok bisa-bisanya kamu bawa? Kok bisa-bisanya kalau tahu? Kamu tahu ini salah tapi mau tetap bawa? Kamu yang salah.

 

Akhirnya tukang si pembawa unta tadi yang membawa unta itu ditetapkan bersalah dan dipukul keras-keras di hadapan jama'ah-jama'ah haji itu. Dipukulin guys. Sambil walid duduk diam menyaksikan seorang yang dipukul untuk dosa yang walid lakukan.

 

Kurang ajar emang tulang lunak yang satu ini ya. Pas momen beristirahat bayangkan ini nggak selesai di situ. Ini kan perjalanan dari Damaskus, ibu kota Kekilafan ke Mekah.

 

Jaraknya 1300 km. Butuh waktu sekitar 1,5 sampai 2 bulan. Di satu waktu pas mau beristirahat walid memberitahkan para panitia haji ini, para bawahan-bawahannya itu yang ada di sana agar membangunkan sebuah tenda berbentuk kubah yang ukurannya segede ka'bah.

 

Biar apa? Ah nggak usah lah. Nggak usah banyak tanya. Udah lakuin aja.

 

Kira-kira gitu mungkin perintahnya. Para tukang akhirnya bekerja siang dan malam. Tenda itu mewah dihiasi kain sutra dari Damaskus, bantal-bantal tebal dari Persia, karbet dari Konstantinopel.

 

Semua dibeli, semua disiapkan untuk kalau ini didirikan ditaruh di dalamnya. Ketika ditanya udah selesai. Sebenarnya buat apa sih walid ini semua? Tahu nggak? Jawaban si walid ini.

 

Jawabannya kurang ajar si walid ini. S**l. Dilakukan rakyat.

 

Kalaupun kita nggak percaya sama lanat, kita nggak percaya sama Allah, tapi rakyat ini jelas bisa ngelakukan sesuatu, bisa nyakitin kita ini. Mereka akan ngebunuh kita semua kalau ini dipaksakan. Termasuk anda lah.

 

Masa aku ngaku khalifahnya nanti kok. 50 juta dirham itu adalah harga yang bisa menggaji 10 ribu prajurit selama 1 tahun. Penuh.

 

10 ribu dalam 1 tahun, teman-teman. Dan walid ketika dapat uang itu dikasihkan ke Bay Tulmal, dikasihkan kepada Operasional Negara atau Istana, kagak dimasukkan ke kantong pribadinya. Tapi binasalah setiap orang sombong dan keras kepala itu.

 

Dapat surat Ibrahim ayat ke-15. Kalimat itu mengenai dia. Persis, presisi.

 

Dia tersinggung dong. Namanya juga walid. Nggak terimawah, kurang ajar nih tetap.

 

Berani ya Allah sama gue.

 

 

 

Dan di dalam istananya, Khalifa ini kerap main game tussbol. Padahal di luar gerbang istananya, gerbang pengaduan dari para kodi, para hakim di seluruh penjuru negeri, menumpuk nggak diurus-urus, nggak peduli sama dia. Digaji, pakai uang negara, dan diambil dari khas Bayi Tulmal.

 

Bayangin coba, kelakuan sesepuluh Epstein yang kali ini yang berkedok agama ini. Kalau Epstein di Amerika, ini bayangin, di negara Islam. Para tukang akhirnya bekerja siang dan malam.

 

Tenda itu mewah, dihiasi kain sutra dari Damaskus, bantal-bantal tebal dari Persia, karpet dari Konstantinovel, semua dibeli, semua disiapkan untuk kalau ini didirikan, ditaruh di dalamnya. Ketika ditanya udah selesai, sebenarnya buat apa sih Walid ini semua? Tahu nggak jawaban-jawaban si Walid ini? Jawabannya lagi kurang ajar ini si Walid ini. Aku berencana kalau sampai di Mekah, aku mau pasang tenda ini di atas kakbah, aku mau beristirahat sama teman-temanku, duduk-duduk sambil minum anggur.

 

Sambil minum Homer, sambil ngelihat orang-orang jamaah ini nih, ini ribuan orang ini, tawaf di bawahku. Seru kali ya. Ini kesempatan langka ini ya.

 

Kesempatan langka ini jarang, sayang kalau dilewatkan. Coba bayangin teman-teman, buru-buru taubat. Susah emang kalau orang sudah prefrontal cortexnya udah kena nih.

 

Ngalah-ngalahin HP yang udah kena LCD nih. Bayangkan momen itu, Putra Mahkota Umat Islam, Caron Amirul Muminin, ketika berangkat, sudah punya niat duduk di rumah Allah, sambil meminum sesuatu yang dilaknat Allah, di rumah Allah itu sendiri, di tanah yang Allah haramkan. Apakah nggak nantangin Allah nggak tuh? Ketika rombongan tiba di Mekah, ini nggak selesai ternyata.

 

Sahabat-sahabatnya yang masih punya sisa rasa takut kepada Allah, barangkali salah satu dari mereka memohon, ayo Allah, ya Allah, ya Allah. Ini nggak masuk akal, kalau dosa begini ini nggak masuk akal ini. Kami tidak merasa aman dari apa yang akan dilakukan rakyat, kalaupun kita nggak percaya sama Al-An'ad, kita nggak percaya sama Allah, tapi rakyat ini jelas bisa ngelakukan sesuatu, bisa nyakitin kita ini.

 

Mereka akan ngebunuh kita semua kalau ini dipaksakan, termasuk andalah. Masa aku ngaku khalifahnya nanti kok. Mereka bagaimana nggak terima? Gimana mereka nggak terima? Saya akan lawan! Gitu kan.

 

Saya akan lawan. Anda belum khalifah, Anda belum jadi pemimpinnya, Sayyid. Anda itu Amirhat sekarang.

 

Dan rakyat, mereka mencintai Ka'bah lebih daripada mereka mencintai Anda sebagai Putra Makota. Akhirnya, rencananya dibatalkan. Tapi, tenda itu sudah dibikin.

 

Udah siap, cuman nggak pernah dipasang aja. Udah disiapkan sama walid. Di sisi lain, para jama' haji sudah melihat, sudah menyaksikan.

 

Dan ketika mereka pulang ke desa-desa mereka, mereka membawa cerita itu. Cerita itu menyebar dari mulut ke mulut, dari pasar ke pasar. Mencapai ke telinganya Hisham Sang Khalifah di Damaskus dan Hisham menangis.

 

Disitulah dia ingin membatalkan walid menjadi suksesornya, udah bulet tekadnya. Tapi ternyata, tiba di tahun 743 Masehi, Hisham wafat. Rencana untuk membatalkan walid belum sepenuhnya usai.

 

Para tetua yang disebut ahlul halli wal akdi, para sesepuh ini, tidak mau membatalkan bayiat yang sudah ditetapkan kepada ayah Hisham sebelumnya, yaitu Abdul Malik bin Marwan, yang bilang kalau aku meninggal, pemimpinnya Hisham. Kalau Hisham meninggal, nah aku ingin walid kedua yang menjadi khalifah. Walid kedua ternyata resmi menjadi amirul mu'minin setelahnya.

 

Di Irak, kita lompat ke Irak sedikit. Ada seorang gubernur senior yang bernama Khalid al-Qasri. Khalid ini adalah seorang yang bertahun-tahun sebelumnya pernah membela walid di hadapan Hisham yang ingin menggantikan walid sebagai suksesornya.

 

Ketika Hisham berusaha mencaput hak walid sebagai pewaris takhta, Khalid ini berjuang mati-matian memberikan argumentasi supaya banyak orang, para sesepuh itu, lebih condong kepada apa yang diargumentasikan oleh si Khalid ini. Dengan kata lain, kalau bukan karena Khalid al-Qasri, ya kemungkinan besar walid ini tidak akan pernah menjadi khalifah. Khalid adalah pelindungnya walid, pendukungnya.

 

Pembelanya. Lalu apa yang walid lakukan ketika walid jadi khalifah? Kebanyakan nggak? Apa? Oh biasanya bagi-bagi kue, naik jabatan, dapat fasilitas. Enggak, walid beda teman-teman.

 

Apa yang dilakukan walid kedua ini? Walid menjual Khalid pembela setianya. Ya kalian nggak salah dengar. Dijual gubernur senior, dijual pelindungnya sendiri, dijual kepada musuh besarnya Khalid, seorang bernama Yusuf bin Umar.

 

Seharga 50 juta dirham. Mari kita konversikan konteksnya di zaman itu. 50 juta dirham itu adalah harga yang bisa menggaji 10.000 prajurit selama 1 tahun.

 

Penuh! 10.000 dalam 1 tahun teman-teman. Dan walid ketika dapat uang itu dikasihkan ke Beytulmal, dikasihkan kepada Operasional Negara, kagak dimasukkan ke kantong pribadinya. Dan btw, Yusuf bin Umar ini, seorang pembelinya ini, yang ditawarkan langsung oleh walid ini, kenapa? Sebab walid tahu Yusuf punya dendam kepada Khalid yang akan rela membayar berapapun untuk membalaskannya.

 

Jadi dijual mahal tuh, pasti laku. Lalu si Yusuf membawa Khalid ke ruang siksaan dan Khalid al-Khasri, orang yang pernah membela walid, disiksa sampai tewas berbulan-bulan lamanya. Udah ada 2 sesi penyiksaan.

 

Sesi pertamanya aja udah 18 bulan. Lalu sesi kedua, gak lama, dia pun wafat. Seluruh harta Khalid diambil oleh Yusuf.

 

Yusuf, bukannya dihukum, dia malah dijadikan gubernur untuk menggantikan Khalid oleh walid. Coba... Gak selesai disitu perlakuan si Khalid ini. Belum cukup dengan Khalid, walid kedua ini juga memenjarakan Sulaiman bin Hisham, sepupunya sendiri anak kandung daripada Hisham, paman yang baru saja wafat, lalu menyerahkan taktanya kepada walid.

 

Tanpa alasan yang kuat, tanpa peradilan, hanya karena bisa nikahnya. Dah, masukin aja dah. Bayangin aja, Wissel Sulaiman bertanya kepada para penjaga di sel ini.

 

Tolong sampaikan kepada walid, apa salahku? Aku ini sepupunya sendiri lho. Aku ini darah dagingnya lho. Para penjaga menjawab, Nah, maaf ya pemimpin.

 

Tuhan kami, Amirul Mu'minnya sedang sibuk. Sibuk ngapain? Sibuk mabok. Sibuk kumpul-kumpul sama cowok-cowok yang dia cintai.

 

Bayangkan momen itu. Seorang halifah, bukannya menyatukan keluarganya, justru memenjarakan anak pamannya yang baru wafat. Ya mungkin Khalid ingin balas dendam, karena nggak rido taktanya mau nggak dijadikan sama pamannya.

 

Dan mungkin dia juga antisipatif, agar anak pamannya ini nggak ngelanjutin rencana daripada halifah sebelumnya itu. Padahal pamannya itulah yang membesarkan si walid, yang dulu berusaha mendidiknya, mengajarkan ilmu-ilmu tentang kepemimpinan politik, ilmu umum, dan agama kepada si walid. Yang mendoakan agar dia bertobat, yang menangis ketika mendengarkan kabar tenda di atas ka'bah.

 

Bayangkan kalau Hisham masih hidup, dan melihat anaknya di penjara oleh keponakan yang dia besarkan sendiri. Inilah yang oleh para sejarawan disebut sebagai titik balik politik. Setelah penyiksaan Khalid al-Khosri, dan memenjarakan Sulaiman bin Hisham, keluarga Bani Umayyah sendiri mulailah berbisik-bisik.

 

Ide kudeta mulai muncul. Walid II bukan lagi musuh dari rakyatnya saja, karena dia menjadi musuh dari keluarganya sendiri. Keluarga kerajaan.

 

Tapi ternyata walid tidak berubah juga. Makin kuat alasannya nanti ini. Apa yang dilakukan? Ada sebuah adegan yang paling berat untuk diceritakan.

 

Diruayatkan dalam Bidayah wa Nihaya yang ditulis oleh Ibnu Khasir. Dan juga ditulis oleh di dalam Tariq al-Tabari. Di suatu hari, si Walid ini melakukan Tafa'ul.

 

Yaitu meminta petunjuk kepada Allah dengan cara membuka mushaf secara acah. Dia buka secara acah. Dia membuka, lalu matanya jatuh kepada sebuah ayat.

 

Mungkin sebagian kita sering melakukan itu. Ngacak, baca, eh ternyata kok rilit. Nah, ini sudah jadi tradisi ternyata sejak dulu.

 

Walid melakukan itu. Dan dia kemudian mendapatkan satu ayat. وَاِسْتَفْتَهُ وَهُبَّ كُلُّ جَبَارٍ عَنِهِ Dan mereka memohon kemenangan, tapi binasalah setiap orang sombong dan keras kepala itu.

 

Dapat surat Ibrahim, ayat ke-15. Kalimat itu mengenai dia. Persis, presisi.

 

Dia tersinggung dong, namanya juga Walid. Nggak terima, wah kurang ajar nih kitab nih. Berani ya Allah sama gue.

 

Kalau itu manusia normal, apa yang kalian akan lakukan? Tunduk, menangis, merinding. Istighfar, mungkin sujud, mungkin mohon ampun. Tapi ini Walid ke-2.

 

Apa yang dia lakukan? Dia lempar Mus'hafnya ke lantai, lalu dia ambil busur dan anak panah, lalu memana Mus'haf itu. Sampai kertasnya itu robek-robek, teman-teman. Sambil kemudian dia membacakan syair yang dia karang sendiri di tempat itu juga.

 

Wahai Mus'haf, engkau acam aku dengan Jabarin Ani. Ya, akulah orangnya itu. Itu adalah aku.

 

Maka kalau kau bertemu Tuhanmu nanti di hari kiamat, dia berbicara dengan Mus'haf itu ya yang sudah dipanah. Kalau ketemu sama Tuhanmu nanti ya, kita ketemu. Katakan sama Tuhanmu, Walid yang pernah merobekku di dunia dulu.

 

Gila aja. Ini bukan lagi maasyidat, ini bukan lagi dosa biasa. Ini langsung menantang Allah, mengirim pesan kepada Allah melalui kitabnya yang dia robek dengan panah.

 

Malah nantang, bukan dapat hidayah, men. Astagfirullahaladzim. Lima adegan itu hanya aku pilih di konten ini.

 

Dipilih-pilih supaya nggak kebanyakan. Selain itu ada apa aja? Dia berenang di kolam yang diisi komer. Sambil diminum rame-rame sampai habis diisi lagi, diminum lagi.

 

Terus begitu. Selain itu dia juga pernah menyuruh budak perempuan mimpin sholat berjamak. Ah, gantiin dia.

 

Sambil dia lihat orang sholat itu dipimpin imam perempuan sambil mabok dia. Terus apa lagi? Dia pernah membayar penyair-penyair yang memuji menyanjung-nyanjung nama dia dengan 30.000 dirham per hari. Lebih dari gaji 50 prajurit selama setahun.

 

Modal nyanyi. Sambil memotong tungjangan rutin untuk keluarga sahabat Nabi dan turunan ahlul baik coba. Selain itu apa lagi? Masih banyak.

 

Menulis syair-syair khamriyah, memuja komer. Isinya melecehkan ibadah haji, ibadah puasa, dan ayat-ayat Qur'an. Sebagian syair itu masih ada sampai hari ini dikutip oleh sejarawan modern.

 

Saya pribadi kesulitan untuk membacanya karena terlalu menyakitkan untuk dibacakan di sini. Silahkan kalau mau cek sendiri, cari tahu sendiri. Dan ini, semua ini terjadi dalam masa 4 bulan kepemimpinannya.

 

4 bulan bayangkan. Kalau dia memerintah 10 tahun, 20 tahun gak kebayang tuh kayak mana itu. Kayak pamannya aja 20 tahun.

 

Gak kebayang. Apa lagi yang akan dia lakukan ini? Ada ide baru apa lagi ini? Mungkin Allah sudah nurunin laknat mungkin. Dalam psikologi sosial ada istilah moral disengajement.

 

Proses bertahan di mana seseorang melepaskan diri dari standar moralnya. Albert Bandura, psikolog dari Stanford, memetakan polanya. Sementara Ibn al-Qayyim al-Jawziya, 700 tahun sebelum Bandura, sudah menulisnya dalam Al-Jawab al-Kafi.

 

Serupa dengan yang diutarakan oleh Bandura. Awal kemaksiatan atau moral disengajement yang besar itu selalu dimulai dari meremehkan kemaksiatan yang kecil. Satu kalimat itu kalau kita uraikan untuk zaman ini dengan melihat pola kasus yang ada, kasus yang viral, bisa kita munculkan menjadi empat tahap.

 

Pola yang selalu sama ada empat tahap. Pola yang pertama, ia berhenti mendengarkan kritik. Kedua, dia mulai mengelilingi diri dia dengan para pengagum yang sesuai sefrekuensi dengan dia yang menganggap maksiat itu biasa bahkan memuja maksiat itu.

 

Para sosiolog menyebut ini sebagai pola echo chamber, ruang gemak, di mana yang terdengar hanyalah suara dia sendiri yang dia harapkan. Lalu terpantul-pantul semakin menguatkan keyakinannya. Ketiga, dia mulai merasa karena sudah hafal Qur'an, sudah haji tujuh kali, misalkan sudah punya santri ribuan, sudah tinggi jabatan keagamaannya, dipandang, dianggap soleh.

 

Ia mulai merasa aturan untuk orang biasa tidak lagi sepenuhnya berlaku bagi dia yang sudah berada di level yang berbeda. Dalam fikir ini namanya ujuk, penyakit hati yang oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin disebut sebagai pintu masuk seluruh kebinasaan. Dan yang keempat yang terakhir, yang paling berbahaya, dia mulai memandang remeh dosa baik dosa kecil muambat laun kepada dosa besar.

 

Rasulullah menyebutkan dosa yang diremehkan ini dengan istilah Muhaqqarat Az-Zunum dalam riwayat Ahmad. Dosa yang dianggap remeh. Dari kecil kemudian besar lama-lama juga dicari pembenarannya, Logikanya cari nama-nama indah untuk pembenarannya sebagai tamingnya.

 

Wali dua tidak bangun di satu pagi langsung minum khomer. Blek, kagak. Dah gue naik ke atas ka'bah, mabok, kagak.

 

Ide itu nggak tiba-tiba muncul, men. Dia memulai dari satu sirkel yang seharusnya ditinggalkan. Dia mulai dari satu gelas anggur yang seharusnya dia tidak tegok.

 

Dia mulai dari satu subuh yang seharusnya dia jaga. Dan dari titik kecil itu tumbuhlah kirbat al-Mafjar yang dia salah gunakan untuk kemaksiatan layaknya Pulau Epste. Tumbuh di lingkaran Muhannasin.

 

Tumbuh niatan meminum khomer di atas ka'bah. Tumbuh kemudian kebencian selu kepada seluruh umat yang beragama. Sampai April 744.

 

Keluarga sendiri yang mencabut nyawanya. Empat belas bulan itu sudah dianggap terlalu lama. Bandingkan dengan pamannya Hisyam yang membangun selama sembilan belas tahun ke Kilafani.

 

Dan enam tahun setelah walid dibunuh, Bani Umayyah runtuh total. Sembilan belas tahun membangun, empat belas bulan menghancurkan, enam tahun untuk rata dengan tanah. Itulah harga muhaqqarat az-zunu, pembenaran terhadap dosa.

 

Setelah penyisaan Khalid al-Qasri sampai mati dan pemenjaraan Sulaiman al-Hisyam, para pangeran Bani Umayyah mulai berkumpul secara diam-diam. Bukan di istana resmi, bukan di masjid, tapi di rumah-rumah pribadi mereka di pinggiran-pinggiran Damascus di malam hari dan tidak terlihat. Sosok yang akhirnya muncul memimpin untuk melakukan pemberontakan adalah Yazid bin Walid.

 

Sepupu Walid itu sendiri. Yazid ini berbeda jauh dengan Walid, jauh banget. Dia dikenal salih, sederhana, tidak minum komer, sering sholat malam.

 

Dan yang paling penting, dia berani bicara terbuka mengkritik perilaku Walid sejak awal. Dia pemegang prinsip amar ma'ruf nahi mungkat. Ini terjadi karena ada lima pemicu.

 

Pertama pemicu yang pertama, hilangnya legitimasi agama. Setelah peristiwa Walid memanah mushaf menyebar ke seluruh kekhilafan, beberapa masjid mulai tidak menyebut nama Walid di khutbah-khutbah mereka. Para ulama Adamaskuf berkata, demi Allah kalau umat masih sholat di belakang dia, kita sebagai ulama akan bertanggung jawab dan kita tidak boleh diam.

 

Saya akan nolong! Itu sinyal pertama yang dimengerti oleh setiap politikus zaman itu. Yang kedua, hilangnya loyalitas keluarga. Setelah Walid menjual kholid al-Qasri dan memenjarakan Sulaiman bin Hisham, para sepupunya, paman dan saudaranya dari Bani Umayya mulai berbisik.

 

Kalau dia tega terhadap kholid yang membelanya dan kepada Sulaiman yang sedarah dengannya, apa yang akan dia lakukan kepada kita suatu hari nanti? Dan dari ketakutan itulah akhirnya menjadi kesepakatan. Yang ketiga, hilangnya dukungan dari suku. Bani Umayya dulu itu kuat karena keseimbangan dua suku besar, Qois dan Yaman.

 

Walid II merusak keseimbangan itu. Dia berpihak total kepada Qois. Yusuf bin Umar pembeli kholid itu orang Qois.

 

Kholid yang dijual itu orang Yaman. Suku Yaman murka karena perilaku daripada Walid. Sehingga ketika pemberontakan terjadi, mereka bergabung.

 

Dan suku Qois nggak ada urgensi yang menghalangi itu. Akhirnya terjadilah apa yang seharusnya terjadi. Keempat, hilangnya dukungan militer.

 

Kenapa kok bisa hilangnya dukungan militer? Karena tentara Bani Umayya dongkol mendengar cerita rakyat tentang Walid. Mereka melihat gaji para penyair pemujinya 50 kali lipat daripada gaji mereka sendiri dalam satu tahun. Mereka yang mempertaruhkan nyawa demi negara.

 

Mereka yang kemudian mulai mempertanyakan eksistensinya. Untuk apa aku berperang, mempertaruhkan nyawa, menjaga perbatasan supaya khalifah bisa beli anggur lagi, hah? Yang kelima yang terakhir, muncul kepemimpinan alternatif. Yazid bin Walid menjadi wajah yang bisa dipercaya.

 

Bay'at mulai muncul, permintaan mulai mengemuka. Bukan ambisius dia ini. Bukan haus kuasa.

 

Dia salih dan dia terpaksa bangkit gara-gara saudaranya sepupunya sudah terlalu maksian. Dan keputusan itu pun diambil. Pasukan Yazid bergerak menuju Al-Bakhraw, benteng kecil deket Palmira.

 

Tempat Walid bersembunyi pada saat itu. Para pengawal Walid yang dulu ribuan sekarang tinggal segelintir. Para penyair pemujanya entah kemana.

 

Kalaupun ada ya emang mereka bisa apa? Bisa menghibur para pemberontak? Kaga. Lucunya di akhir hidupnya Walid ada versi yang berbeda dari opening yang saya sebutkan. Kalau tadi ada riwayat mengatakan dia megang anggur ketika di akhir hidupnya.

 

Ini ada riwayat yang menceritakan bahwasannya dari Tarih At-Tabari. Dia itu di akhirnya meminta pengawalnya, Ambilkan aku Mus'haf. Pelayan itu terkejut.

 

Mus'haf? Anda kan tau sendiri lah. Dah pokoknya ambilkan aja. Mus'haf itu dibuka di pangkuannya Walid membaca diam.

 

Mungkin di detik-detik terakhir hidupnya entah karena takut, entah karena penyesalan, entah karena ingin terlihat salih mati keren di mata sejarah. Dan berusaha menggenggam kitabnya yang dulu pernah dia panah. Tapi pintu istana sudah didobrak.

 

Yang masuk membawa pedang adalah sepupunya sendiri beserta pemperontak-pemperontaknya yang sudah jengah dengan maksiat si Walid. Kerabat badi Umayyah sendiri. Bukan tentara Romawi, bukan tentara salib, bukan musuh dari luar.

 

Keluarganya sendiri yang dia kianati ketika dia menjual Walid al-Khasri. Keluarganya sendiri yang mereka takuti. Yang dulu dibuat takut oleh Walid dengan ponggah karena memenjarakan Salim bin Hisham.

 

Keluarganya sendiri yang akhirnya berkata kepada Allah dalam doa malam-malam mereka. Ya Allah cabutlah nyawanya sebelum dia mencabut iman umat ini. Dan menurut riwayat At-Tobari, Walid dua kemudian L sambil memegang mushaf di tangannya.

 

Mushaf yang dulu dia panah dengan musuh, mushaf yang dulu dia robek dengan kemarahan, mushaf yang dulu di detik-detik terakhir dia coba peluk untuk perlindungan tapi terlambat. Pedang sudah datang lebih cepat dari taubatnya. Kepalanya dipotong, dikirim ke Damascus sebagai bukti bahwa kesilapan telah berpindah.

 

Tubuhnya digantung beberapa hari di pintu kota supaya rakyatnya melihat. Inilah akhir seorang yang dulu mereka panggil amirul mu'minin. Dia mengamunkan nasuhnya ketimbang perintah Tuhan.

 

Astagfirullahal'adzim, la hawla wa la quwwata illa billah.

Sumber: YT @Shifrun