Titik Balik Ferry Unardi - Rahasia Terbesar di Balik Traveloka
Titik balik Ferry Unardi, Traveloka adalah
kesalahan terbesar dalam hidup. Setiap detik di suatu tempat di Asia Tenggara,
ada orang yang membuka aplikasi ini untuk memesan tiket pesawat, hotel, atau
kereta api. Aplikasi ini tak lain adalah traveloka, valuasinya pernah menembus
lebih dari 1 miliar dolar Amerika, status unicorn yang hanya diraih segelintir
startup di Indonesia.
Aplikasinya sudah diunduh puluhan juta kali,
dipakai di 6 negara, Indonesia, Thailand, Malaysia, Vietnam, Filipina, dan
Singapura. Raksasa global seperti Expedia, rela mengucurkan 350 juta dolar
hanya untuk ikut memiliki sepotong sahamnya. Di atas kertas ini ada kisah
sukses yang sempurna, tapi hampir tidak ada yang tahu bahwa perusahaan raksasa
ini lahir dari keputusan seorang pemuda berusia 23 tahun, yang oleh banyak
orang di sekitarnya dianggap sebagai kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Namanya Ferry Unardi, dan
sebelum dunia mengenalnya sebagai pendiri traveloka, ia adalah mahasiswa yang
berhenti kuliah di Harvard Business School, meninggalkan salah satu gelar
paling bergensi di dunia, yang pada awalnya ditolak oleh hampir setiap maskapai
penerbangan yang ia datangi. Ia pernah duduk di sebuah apartemen sempit di
Jakarta bersama dua sahabatnya, menetap layar laptop yang menunjukkan angka 0
berulang-ulang, 0 kerjasama, 0 kepastian, sambil bertanya pada dirinya sendiri,
apakah saya baru saja menghancurkan masa depan saya sendiri? Bagaimana mungkin
dari titik seputus asa itu lahir sebuah perusahaan yang kini bernilai miliaran
dolar, dan menjadi bagian dari kehidupan jutaan orang? Dan yang lebih penting,
keputusan apa yang diambil di tengah rasa takut dan rasa malu yang luar biasa yang
menjadi pembeda antara kegagalan total dan kesuksesan yang kita kenal hari ini?
Untuk menjawabnya, kita harus pergi jauh ke belakang, bukan ke Jakarta yang
gemerlap, tapi ke sebuah kota kecil di pesisir barat Sumatera, tempat semuanya
dimulai. Mari kita mulai kisahnya.
Masa kecil dan latar belakang keluarga Ferry
Unardi lahir di Padang, Sumatera Barat pada tanggal 16 Januari 1988. Ia
tumbuh besar di kota yang dikenal dengan jam gadangnya, dengan budaya
menangkabau yang sangat menjunjung tinggi semangat merantau. Sebuah tradisi di
mana anak muda didorong untuk pergi jauh dari kampung halaman, menuntut ilmu,
mencari pengalaman, dan kembali membawa keberhasilan.
Semangat merantau itu tertanam dalam diri
Ferry sejak kecil. Ia bersekolah di SMA Don Bosco, Padang, dan
sejak masa sekolah menengah itu, ia sudah menunjukkan ketertarikan yang tidak
biasa terhadap dunia komputer dan pemprograman. Saat teman-teman sebayanya
sibuk dengan hal-hal khas remaja, Ferry justru menghabiskan waktu mengutak atik
logika dibalik layar komputer, sebuah dunia yang baginya terasa seperti
tegak-tegi tanpa batas.
Bayangkan seorang remaja di sebuah kota di
Sumatera Barat pada awal tahun 2000an, ketika akses internet belum secepat dan
semudah sekarang. Untuk bisa mendalami komputer bukanlah hal yang sederhana,
tapi rasa penasaran itu justru tumbuh semakin besar. Ia tidak hanya melihat
komputer sebagai alat, tapi sebagai jendela menuju dunia yang jauh lebih luas
dari kota pelahirannya.
Ketika lulus SMA, semangat merantau khas
Minang itu membawanya melangkah jauh lebih dari sekedar pindah kota. Ia terbang
melintasi samudera menuju Purdue University di negara bankian Indiana, Amerika
Serikat, untuk mengambil jurusan Computer Science and Engineering. Bisa
dibayangkan bagaimana rasanya, seorang anak muda dari Padang jauh dari
keluarga, jauh dari makanan rumah, jauh dari bahasa ibunya, tiba-tiba harus
beradaptasi dengan musim dingin Midwest Amerika dengan sistem pelidikan yang
jauh lebih kompetitif dan dengan kesepian yang datang setiap kali ia merindukan
rumah.
Namun disinilah karakter Ferry ditempa
kemandirian, ketakunan, dan keberanian untuk berada di tempat yang asing demi
sesuatu yang lebih besar. Selama masa kuliahnya di Purdue, dari tahun 2004
hingga 2008, Ferry bertemu dengan seorang teman yang kelak akan menjadi salah
satu pendiri traveloka bersamanya, Albert Zhang. Mereka berdua sama-sama jauh
dari rumah, sama-sama tenggelam dalam dunia teknik dan komputer.
Dan tanpa mereka sadari, persahabatan itu
sedang menanam benih untuk sesuatu yang jauh lebih besar di masa depan. Setelah
lulus dari Purdue pada tahun 2008, Ferry diterima bekerja sebagai software
engineer di Microsoft. Bagi banyak orang, ini adalah puncak pencapaian, bekerja
di salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia, dengan gaji yang mapan
dan jenjang karir yang jelas.
Di sanalah pula ia bertemu dengan Darianto
Kusuma, insinyur lain yang kelak menjadi salah satu sahabat sekaligus rekan
pendiri traveloka. Tapi di balik kemapanan itu ada sesuatu yang harus mengusik
pikiran Ferry, sesuatu yang sederhana, remeh bagi kebanyakan orang, tapi bagi
dirinya terasa seperti duri kecil yang terus menusuk. Sebuah masalah yang akan
menjadi cikal bakal dari segala yang terjadi setelahnya.
TITIK NADIR KETIKA SEMUA PINTU TERTUTUP Selama
3 tahun bekerja di Microsoft, Ferry seringkali harus pulang ke Padang untuk
mengunjungi keluarganya. Dan setiap kali itu terjadi, ia dihadapkan pada satu
masalah yang sama, berulang-ulang. Mencari tiket pesawat dari Boston atau
Seattle menuju Padang adalah mimpi buruk.
Tidak seperti mencari tiket ke Jakarta yang
relatif mudah, penerbangan menuju kampung helmanya di Sumatera Barat harus
melalui berbagai maskapai berbeda. Situs web yang membingungkan, informasi yang
tidak lengkap, dan proses pemesanan yang seringkali berujung pada telepon
panjang ke agen travel atau kunjungan langsung ke bandara. Ia harus
membandingkan harga secara manual, satu per satu, dari puluhan tab browser yang
terbuka, hanya untuk menemukan rute yang masuk akal.
Rasa jengkel itu tumbuh menjadi sebuah
pertanyaan yang terus menghantuinya. Mengapa mencari tiket pulang ke rumah
sendiri harus serumit ini? Di titik inilah keresahan pribadi mulai berubah
menjadi ide bisnis. Namun sebelum ide itu bisa terwujud, Ferry harus melalui
babak paling berat dalam hidupnya, babak yang penuh keraguan, rasa malu,
ketakutan yang nyaris membuatnya menyerah.
Setelah tiga tahun bekerja di Microsoft, Ferry
mulai merasa gelisah. Ia menyadari bahwa sebagai seorang programmer, ia
bukanlah yang terbaik di antara ribuan insinyur brilian di perusahaan sebesar
itu. Perasaan itu bukan sekedar rasa rendah diri biasa, itu adalah keresahan
eksistensial seorang anak muda yang bertanya-tanya, apakah ini benar-benar
jalan hidup saya? Untuk mencari jawaban, ia bahkan sempat terbang ke China,
mencoba memahami arah hidupnya di tengah kejenuhan yang mulai menggerogotinya.
Di titik ini, banyak orang akan memilih jalan
aman, tetap bekerja, menabung, menunggu promosi. Tapi Ferry memilih jalan yang
jauh lebih berisiko. Ia mendaftar dan diterima di program MBA Harvard Business
School, berniat melengkapi kemampuan tekniknya dengan pemahaman bisnis yang
lebih dalam.
Ia mengundurkan diri dari Microsoft, ia
meninggalkan kepastian gaji bulanan, ia terbang ke Boston, kota yang dingin dan
asing, untuk memulai babak baru sebagai mahasiswa bisnis. Namun disinilah iroli
besar dalam hidupnya dimulai. Belum genap satu semester ia menjalani
perkuliahan di Harvard, Ferry justru semakin yakin bahwa gelar MBA bukanlah
tujuan akhirnya.
Ia mulai iseng memperjualbelikan tiket
penerbangan kecil-kecilan sebagai eksperimen bisnis pribadi. Dan semakin ia
mendalami masalah pemesanan tiket ini, semakin ia yakin bahwa ada peluang besar
yang belum tergarap di Indonesia. Bayangkan posisi Ferry saat itu.
Ia sudah mengorbankan pekerjaan mapan di
Microsoft. Ia sudah membayar untuk biaya kuliah Harvard yang tidak murah.
Keluarganya di Padang tentu bangga bahwa anaknya kuliah di salah satu
universitas paling prestisius di dunia.
Bagi banyak keluarga Indonesia, nama Harvard
adalah simbol pencapaian tertinggi, jaminan masa depan yang cerah. Dan di
tengah semua itu, Ferry harus menghadapi kenyataan pahit. Apa yang ia pelajari
di luang kelas terasa semakin jauh dari apa yang sesungguhnya ingin ia
kerjakan.
Ia merasa terjebak antara dua dunia. Dunia
yang dianggap aman oleh semua orang di sekitarnya dan dunia yang menurut
instingnya adalah jalan yang benar. Di usianya yang baru 23 tahun, ia
dihadapkan pada pertaruhan besar, melanjutkan pendidikan bergengsi yang
membanggakan keluarga dan menjamin status sosial, atau meninggalkan semuanya
untuk mengejar sebuah ID yang saat itu hanya berupa uji coba kecil menjual
tiket pesawat.
Dan setelah ia benar-benar memutuskan untuk
berhenti, setelah ia benar-benar terbang pulang ke Indonesia bersama dari Yanto
Kusuma dan Albert Jiang untuk mendirikan Traveloka pada Februari 2012, ketakutan
yang sesungguhnya baru dimulai. Bayangkan malam-malam pertama di Jakarta, tiga
anak muda menyewa sebuah apartemen kecil, membawa modal awal berupa tiga unit
laptop dan sebuah keyakinan yang jujur saja mulai goyah setiap hari. Mereka
merilis Traveloka sebagai metasearch engine, mesin pencari yang membandingkan
harga tiket dari berbagai maskapai, mirip seperti yang dilakukan kayak atau
skycanner di luar negeri.
Tapi kenyataan di Indonesia jauh lebih pahit.
Tidak ada satupun maskapai penerbangan besar yang mau bekerjasama dengan
mereka. Trafik situs mereka masih kecil, belum ada nama besar yang mau
mempertaruhkan datanya pada startup baru yang didirikan oleh tiga anak muda
tanpa pengalaman bisnis yang nyata.
Coba rasakan bagaimana rasanya Ferry saat itu.
Ia yang dulu duduk di ruang kelas harfat, dikelilingi calon-calon eksekutif
dunia, kini harus mengetuk pintu perusahaan maskapai satu persatu dan ditolak
berkali-kali. Ada rasa malu yang menyelinap, bagaimana menjelaskan kepada
keluarga di Padang bahwa ia meninggalkan harfat untuk sebuah situs yang bahkan
belum menghasilkan apa-apa.
Ada rasa takut, bagaimana jika semua tabungan
habis dan mereka harus pulang dengan tangan kosong. Dan ada rasa sendirian,
karena pada akhirnya keputusan ini adalah keputusannya sendiri, keputusan yang
tidak bisa ia bagi bebannya dengan siapapun, kecuali dua sahabatnya yang
sama-sama mempertaruhkan segalanya. Traveloka saat itu hanya berangkutakan
delapan orang, ruang kerja mereka jauh dari kata mewah.
Tidak ada suntikan dana besar, tidak ada
sorotan media, tidak ada jaminan bahwa esok hari situs mereka masih akan
online. Hanya ada tiga anak muda, tiga laptop, dan sebuah keyakinan yang setiap
hari diuji oleh penolakan demi penolakan. Inilah titik nadir yang sesungguhnya,
bukan sekedar angka kerugian di atas kertas, tapi rasa hampa ketika membuka
email dan menemukan satu lagi maskapai yang menolak bekerjasama.
Rasa cemas ketika melihat saldo rekening yang
terus menipis. Rasa ragu yang muncul di tengah malam ketika pertanyaan muncul,
apakah ini keputusan yang salah? Titik balik keputusan yang mengubah segalanya.
Industri travel tech di Amerika Serikat sedang mengalami momentum besar.
Ia merasa jika ia menunggu terlalu lama,
menyelesaikan gelar MBA-nya dua tahun lagi, peluang itu akan hilang. Di rembut
orang lain atau pasar Indonesia sudah keburu diisi oleh pemain lain yang lebih
dulu bergerak. Keputusan untuk berhenti kuliah di usia 23 tahun adalah
keputusan yang bagi kebanyakan orang terdengar gegabah.
Namun keputusan meninggalkan Harvard hanyalah
pintu masuk. Titik balik yang sesungguhnya menyelamatkan Traveoka dari
kehancuran total datang setahun kemudian. Saat perusahaan berada di ambang
gagalan karena tidak ada mas kapai yang mau bekerja sama.
Pada pertengahan 2013, di tengah tumpukan
penolakan dan tekanan finansial yang kian menghibit, Ferry dan kedua rekannya
duduk bersama dan melakukan sesuatu yang jarang dilakukan pendiri startup yang
sedang panik. Mereka berhenti sejenak dan benar-benar mendengarkan penggunanya.
Mereka menyadari sebuah kesalahan mendasar dalam model bisnis mereka.
Sebagai metasearch, Traveloka hanya membantu
pengguna membandingkan harga lalu mengarahkan mereka ke situs mas kapai atau
agen lain yang benar-benar membeli tiket. Tapi Ferry dan timnya menemukan
sesuatu yang jauh lebih penting. Masalah sesungguhnya bukan hanya menemukan
tiket termurah, tapi proses transaksi itu sendiri yang berpelit dan tidak
nyaman, terutama bagi pengguna Indonesia yang saat itu belum semuanya memiliki
kartu kredit.
Maka di tengah kondisi keuangan yang menipis
dan tanpa jaminan bahwa langkah ini akan berhasil, Ferry mengambil keputusan
yang mempertaruhkan segalanya sekali lagi, mengubah total model bisnis Traveloka
dari sekadar mesin pencari perbandingan harga menjadi online travel agency, di
mana pengguna bisa langsung memosan dan membayar tiket dalam satu tempat tanpa
harus berpindah ke situs lain. Ini bukan keputusan kecil. Ini berarti membangun
ulang hampir seluruh sistem, mengintegrasikan metode pembayaran lokal seperti
transfer bank dan pembayaran tunai lewat Grey, Indomaret, dan Alfamart, sesuatu
yang krusial mengingat banyak calon pengguna Traveloka saat itu belum memiliki
kartu kredit.
Alih-alih terus mengemis kerjasama dari mas Kapai
yang skeptis, Ferry mengambil pendekatan yang jauh lebih cerdas, fokus
membangun produk yang benar-benar dicintai pengguna terlebih dahulu. Ia percaya
bahwa jika basis pengguna terus tumbuh dan pengalaman pemesanan semakin mulus,
mas Kapai pada akhirnya akan datang dengan sendirinya. Strategi ini terbukti
menjadi taruhan yang tepat.
Perlahan tapi pasti, seiring bertambahnya
volume pemesanan yang berhasil di proses Traveloka secara mandiri, satu persatu
mas Kapai yang dulu menolak mulai berbalik arah, mendekati Traveloka untuk
menjalin kerjasama resmi. Kebangkitan dari ruang sembit menuju panggung Asia
Tenggara. Begitu Traveloka bertransformasi menjadi platform pemesanan langsung
pada 2013, momentum mulai berbalik.
Dukungan modal juga mulai berdatangan. Pada
November 2012, Traveloka sebenarnya sudah mendapatkan perdanaan awal dari East
Venture, modal yang jumlahnya tidak diungkapkan ke publik, namun cukup untuk
menjaga perusahaan tetap hidup di masa-masa tersulit. Kemudian, pada
pertengahan Agustus 2013, Global Founders Capital, perusahaan modal Ventura
yang didirikan oleh Somewhere Bersaudara, menyuntikkan investasi seri A ke Traveloka.
Ini menjadi investasi pertama Global Founders
Capital di kawasan Asia, sebuah pengakuan besar terhadap potensi yang mereka
lihat dalam bisnis ferry dan timnya. Dengan modal segar dan modal bisnis baru
yang jauh lebih solid, Traveloka mulai tumbuh dengan kecepatan yang
mengejutkan. Pada 2014, mereka memperluas layanan dengan menambah fitur
pemesanan hotel, sekaligus meluncurkan aplikasi mobile pertama mereka.
Strategi mobile first ini terbukti jitu. Pada
tahun 2015, aplikasi Traveloka telah diunduh sekitar 10 juta kali. Ekspansi
regional pun dimulai.
Pada 2015, Traveloka melangkah keluar dari
Indonesia, memasuki pasar Taiwan, Malaysia, Singapura, dan Vietnam, kemudian
menyusul Filipina. Puncaknya datang dari Juli 2017, Traveloka mengumumkan telah
mengumpulkan sekitar 500 juta dolar Amerika Serikat dalam setahun terakhir dari
sejumlah investor global, termasuk Expedia yang menyuntikkan 350 juta dolar,
disusul Hillhouse Capital Group, GD.com, Sequoia Capital, dan tentu saja East
Venture yang sudah bersama mereka sejak awal. Putaran investasi ini menempatkan
valuasi Traveloka di atas 1 miliar dolar Amerika Serikat, secara resmi
menjadikan Traveloka sebagai perusahaan unicorn, sejajar dengan nama-nama besar
perusahaan di Indonesia lainnya seperti Gojek dan Tokopedia.
Bayangkan jarak yang telah ditempuh, dari
apartemen kecil dengan 3 laptop dan 8 karyawan, menjadi perusahaan dengan
ribuan karyawan yang tersebar di 6 negara Asia Tenggara. Traveloka terus
berinovasi, memperkenalkan fitur-fitur pembayaran pay letter, layanan Traveloka
Experion untuk pemesanan aktivitas wisata, hingga kartu kredit hasil kerjasama
dengan Bank Rakyat Indonesia dan Bank Bandiri. Perusahaan yang dulu nyaris
tidak dipercaya siapapun, kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari jutaan
orang kawasan ini, mulai dari memesan tiket pesawat, kereta api, hotel hingga
membayar tagihan listrik dan PPJS.
Tentu perjalanan tidak selalu mulus bahkan
setelah menjadi unicorn. Ketika pandemi melanda pada 2020, Traveloka menghadapi
ujian berat lainnya. Pemesanan penerbangan Angelok mendekati nol, memaksa
perusahaan mengurangi sekitar 100 karyawan dan mengembalikan dana untuk sekitar
150 ribu tiket pesawat.
Berkat kegigihan dan pencapaiannya, nama Ferry
Unardi pun mendapat sejumlah pengakuan. Ia dinombatkan sebagai salah satu
pengusaha muda paling berpengaruh di Asia oleh Forbes, serta meraih penghargaan
Indonesia Marketing Champion 2015 di bidang e-commerce. Pelajaran Hidup Ada
beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari perjalanan Ferry Unardi dan Traveloka.
Pertama, keberanian untuk mengambil risiko
besar seringkali paling masuk akal justru ketika kita masih muda. Ketika
ruangan untuk gagal dan bangkit kembali masih terbentang luas. Namun keberanian
ini harus dilandasi keyakinan yang telah diuji, bukan sekedar dorongan sesaat.
Kedua, kegagalan awal ditolak berkali-kali
oleh mas Kapai, kehabisan modal, merasa malu dan sendirian bukanlah akhir dari
cerita. Justru dari titik nadir itulah lahir kejujuran untuk melihat kembali
apa yang sesungguhnya dibutuhkan pengguna, bukan apa yang menurut kita
seharusnya mereka butuhkan. Ketiga, dan mungkin ini pelajaran paling penting,
keberhasilan besar jarang lahir dari satu keputusan tunggal yang gemilang.
Ia lahir dari kesediaan untuk mengakui bahwa
rencana awal keliru, dan keberanian itu membongkar total apa yang sudah
dibangun demi membangun sesuatu yang benar-benar bekerja. Seperti keputusan
Ferry dan timnya mengubah total model bisnis mereka di tengah kondisi yang
paling tidak menguntungkan. Namun perlu diingat pula, perjalanan ini bukan
tanpa pengorbanan besar.
Ferry meninggalkan kepastian karir di
Microsoft. Ia meninggalkan gelar bergensi dari Harvard yang belum sempat ia
selesaikan. Ia mempertaruhkan hubungan dengan keluarganya, taruhan yang belum
tentu berbuah manis.
Kisah Ferry Unardi dan
Traveloka mengingatkan kita bahwa titik paling gelap dalam hidup seseorang
seringkali adalah tempat di mana keputusan paling melentukan justru diambil,
bukan karena keadaan tiba-tiba membaik dengan sendirinya, tapi karena di titik
itulah seseorang dipaksa untuk benar-benar jujur pada dirinya sendiri tentang
apa yang salah dan apa yang harus diubah.
Sumber: YT @NAT