Cari Blog Ini

Kamis, 19 Februari 2026

Sisi Lain Singapura: Dari Kemewahan Kota hingga Drama di Meja Check-In

SISI LAIN SINGAPURA: DARI KEMEWAHAN KOTA HINGGA DRAMA DI MEJA CHECK-IN

 

“You are late and can’t check-in. You must arrive 60 minutes before departure”

(kata seorang perempuan muda, petugas check-in berkebangsaan India)

 

Sebagaimana perjalanan saya ke Malaysia sudah dua kali, kepergian saya ke Singapura juga untuk kedua kalinya. Kalau sebelumnya bersama rombongan, transportasi dan makan sudah disediakan dan tanpa menginap, termasuk lengkap dengan seorang guide. Kali ini saya harus menentukan segalanya sendiri. Mulai dari transportasi, makan, penginapan, dll.  

Saya berangkat ke Singapura pada Sabtu, 14 Februari 2026 menggunakan pesawat Scoot dari bandara YIA. Jadwal penerbangan jam 10.20 WIB dan tiba di Bandara Changi jam 13.25 waktu setempat. Sebagaimana Malaysia, Singapura juga memiliki zona waktu satu jam lebih cepat dari Waktu Indonesia Barat. Padahal, Jakarta dan Bangkok memiliki zona waktu yang sama, entah mengapa Malaysia Barat dan Singapura berbeda sendiri.

Lalu, saya langsung menuju stasiun MRT bandara untuk membeli kartu Singapore Tourist Pass (STP).

STP ini bisa digunakan baik kereta maupun bus kota, dengan tarif sebagai berikut: 1 hari ($17), 2 hari ($24), 3 hari ($29), 4 hari ($37), dan 5 hari ($45) dengan kurs saat itu $1 = Rp 13.337,-. Kartu ini bisa digunakan baik untuk kereta maupun bus kota tanpa batas, tinggal tempel (tap) saat maasuk maupun keluar.

Setelah membeli kartu, saya naik MRT menuju hotel yang berada di Syed Alwi Rd, kawasan Little India. Hotel yang saya tempati seharga Rp 1.350.000,- per malam. Ini adalah hotel termurah, sebuah kamar hotel sempit dengan fasilitas ala kadarnya, setara dengan kamar kos murah untuk mahasiswa. Kalau mau yang agak lumayan, sebaiknya mencari yang harganya 2-jutaan per malam. Hehe…

Saya makan pertama kali di rumah makan kecil dekat hotel dengan memesan nasi goreng biasa ditambah es the gelas kecil dengan harga $11 = Rp 149.000,-. Kalau mau makan yang agak enak atau lengkap ya paling tidak harganya 200-ribuan per porsi-lah. Wkwkwk…..


Foto: Merlion Park

Kereta MRT Bawah Tanah

Di sana disebut Downtown Line. Semua jalurnya berada di bawah tanah. Kereta ini terdiri dari 6 rute yang menghubungkan seluruh negara dari ujung timur ke barat dan dari ujung utara ke selatan. Antar-rute saling terhubung satu sama lain (transit), atau disebut Interchange, sehingga bisa berpindah-pindah jalur.

MRT ini beroperasi dari jam 05.30 – 24.00 waktu setempat.  Jarak antar kereta satu dengan kereta berikutnya hanya 5 menit. Makanya di stasiun tidak ada disediakan tempat duduk untuk menunggu, karena orang cukup berdiri sebentar dan kereta berikutnya akan segera datang. Perlu diketahui, kereta ini tanpa masinis (supir) maupun petugas di dalam gerbong. 

Setelah masuk ke stasiun, saya perlu turun menggunakan eskalator sebanyak 4 kali. Bisa dibayangkan betapa dalamnya terowongan di bawah tanah sana. Belum lagi jarak antar eskalator cukup jauh dan memutar, lumayan capek juga berjalan. Termasuk ketika kita ingin transit, jalannya lebih jauh lagi. Naik beberapa eskalator dan turun lagi beberapa eskalator. Pas di jalur interchange, sepertinya stasiun itu bertingkat.

Saya ingin tahu seberapa luas negara Singapura itu. Saya mengukur dengan naik MRT dari paling ujung selatan (Harbour Front) sampai ke stasiun paling ujung utara (Woodland Noth) yang berbatasan dengan Johor Baru, Malaysia. Waktu yang ditempuh adalah ±45 menit. Negara yang sangat kecil, bukan. Total luas negara ini sekitar 734,3 km persegi, atau hanya 72%-nya luas Kabupaten Boyolali.

Kalau bepergian naik MRT, kita tidak bisa melihat pemandangan karena gelap (bawah tanah). Bagusnya sih naik bus kota, apalagi bus kotanya ukurannya besar dan panjang serta kebanyakan tingkat lagi. Cocok untuk menikmati pemandangan kota, terutama kalau duduk di tingkat atas. Cuma sayang, untuk bus kota belum menjangkau ke seluruh penjuru negara.

Foto: Masjid Sultan, Kampong Gelam

Ketertiban Jalan di Singapura

Meskipun sebagai kota terbesar di Asia Tenggara, namun secara umum jalanan di Singapura cukup lengang. Selama tinggal 4 hari di sini, saya belum menemui ada kemacetan di jalan raya. Saya juga nyaris tidak melihat ada sepeda motor yang lewat. Sebenarnya sepeda motor ada juga yang melintas terutama di jalan-jalan kecil, cuma bisa dihitung dengan jari.

Jalanan juga terlihat sangat bersih dari rumput liar maupun sampah. Bersih juga dari kabel listrik dan kabel internet, karena kabel-kabel itu semuanya ditanam di dalam tanah. termasuk bersih dari reklame, papan iklan, atau hal-hal lainnya yang dapat mengganggu pemandangan dan keindahan kota.

Berkendara di jalan tol juga GRATIS. Bahkan, sepeda motor juga diperbolehkan masuk jalan tol. Ini sama dengan yang berlaku di Malaysia.

Saat naik taksi ke bandara dan melalui jalan tol, saya tidak menemui ada gerbang tol masuk maupun gerbang tol keluar. Sebagaimana Malaysia, Singapura memperbolehkan sepeda motor masuk jalan tol. Meskipun diizinkan, faktanya baik di kedua negara itu, amat sangat sedikit sepeda motor yang melewati jalan tol. 

Semua jalan tol dipantau dengan CCTV. Kecepatan maksimal 90 km. jika melebihi itu akan dikenakan denda, poin penalti, penuntutan pengadilan, atau pencabutan SIM.


Foto: East Coast Beach, Tanjung Katong

Tempat Wisata

Cukup banyak tempat wisata di sana. Hari pertama saya mengunjuni Merlion Park di kawasan Marina Bay, lanjut ke Masjid Sultan di kawasan Kampong Gelam. Malamnya mengunjungi Chinatown. Hari kedua mengunjungi Pantai East Coast di kawasan Tanjung Katong, kemudian lanjut ke Woodland North yang berbatasan langsung dengan Johor Baru, Malaysia. Malamnya belanja oleh-oleh di Mustafa Center Mall di kawasan Little India, persis di depan hotel tempat kami menginap.

Saya sengaja tidak pergi ke Pulau Sentosa, Kebun Binatang, atau tempat-tempat lainnya yang masuknya harus menggunakan tiket dan harganya selangit lagi. Maklum, untuk biaya hotel dan makan saja sudah mahal. Jadi harus bisa berhemat (pintar memanajemen uang).

Untuk gambaran tempat wisata, tidak perlu saya uraikan di sini. Anda bisa googling, atau melihat di media sosial (YouTube, TikTok, Instagram, dll).

Catatan untuk Wisatawan

1.       Denda merokok

Peraturan tentang larangan merokok di tempat umum diterapkan dengan sangat ketat, sehingga saya tidak menemukan orang merokok di tempat umum. Para perokok hanya bisa merokok di kamar mereka, atau di ruangan khusus untuk merokok (smoking area). Smoking area sendiri hanya ada di tempat-tempat tertentu saja dan jumlahnya sangat terbatas. Denda merokok di tempat umum sebesar $2,000 = Rp 26.716.000,-.

Beruntung sekali para perokok di Indonesia. Meskipun di beberapa tempat ada larangan merokok, kebanyakan itu hanya sekedar tulisan doang. Jarang yang diterapkan secara ketat. Orang yang kedapatan merokok di tempat umum paling banter hanya ditegur, belum sampai dikenakan sanksi berupa denda atau kurungan penjara.  


Dokumentasi pribadi

2.       Kemampuan berbahasa Inggris

Singapura memiliki 4 bahasa resmi, yaitu Inggris, Mandarin, Melayu, dan Tamil. Komposisi etnis di Singapura meliputi: Tionghoa (74-77%), diikuti Melayu (13-15%) sebagai penduduk asli, India (7-9%), dan kelompok lainnya (3%).

Oleh karena itu, kemampuan berbahasa Inggris cukup signifikan.

3.       Fasilitas tempat ibadah

Di Singapura, cukup sulit menemukan fasilitas tempat ibadah (mushalla) di tempat-tempat umum seperti di stasiun, pusat perbelanjaan, tempat wisata, dll. Masjid pun jumlahnya amat sedikit, hanya ada di lokasi-lokasi tertentu saja, terutama di perkampungan Melayu dan India. Selain tempat ibadah, fasilitas toilet di tempat umum pun minim/susah ditemukan. Sering kejadian, apabila sedang kebelet BAK/BAB nyaris tidak menemukan toilet, atau terpaksa menahan cukup lama sampai menemukan lokasi toilet. (Makanya di sini usahakan jangan gampang kebelet, hehe…).

Drama Menuju Kepulangan

Tulisan ini saya akhiri cerita saya yang nyaris tertinggal pesawat. Jadwal pesawat Scoot ke YIA jam 07.58 waktu setempat. Jam 06.10 saya memesan Grab. Sudah memesan berkali-kali, tidak satu pun yang menerima pesanan saya, hingga waktu menunjukkan jam 06.30. Saya menjadi panik karena takut ketinggalan pesawat.


Dokumentasi pribadi

Di tengah kepanikan, kami mendekati kerumunan orang India di depan hotel untuk meminta tolong salah seorang dari mereka mencarikan taksi atau membantu memesankan Grab. Ia mencoba memesan Grab, juga tidak berhasil.

Orang itu sempat menawari naik mobil dan meminta untuk membayar terlebih dahulu. Sempat khawatir, jangan-jangan nanti kami ditipu. Setelah membayar ke dia, masih membayar ke supir juga. Akan tetapi, di tengah kondisi panik dan waktu semakin mepet, kami langsung mengiyakan saja.

Akhirnya orang itu mengambil mobil, meminta kami masuk, dan tidak jadi meminta bayaran di awal. Di tengah perjalanan, kami mengobrol dengannya. Dia orang India yang beragama Islam dan bernama Rahman. Ternyata orangnya cukup ramah dan lancar berbahasa Melayu. Dia pun pernah beberapa kali berkunjung ke Indonesia.

Kami pun sampai di Terminal 1 Bandara Changi jam 07.10. Bukan memukul harga sebagaimana yang sering terjadi di Indonesia, supir itu meminta kami membayar $30 saja (seharusnya $35 untuk Grab). Kami pun mengucapkan terima kasih dan mendoakannya.

Kami bergegas lari kencang masuk bandara dan mencari lokasi chek-in. Setelah  menemukan konter pesawat Scoot, seorang pria India setengah baya yang bertugas di situ membawa saya ke konter Scoot berikutnya dan menyerahkan ticket booking saya kepada seorang perempuan muda berkebangsaan India juga, ia kemudian berkata, “You are late and can’t check-in. You must arrive 60 minutes before departure” dengan tegas.

Kami yang sedari tadi panik, terburu-buru, dan napas terengah-engah kaget setengah mati. Waduh, bagaimana ini. Seandainya pesan tiket lagi, belum tentu hari ini atau hari besok ada. Kami sempat melihat ekspresi kasihan dari si bapak setengah baya itu.

Spontan saya mengatakan, “Tolonglah, kami membawa anak kecil. Kasihanilah dia!”

Petugas perempuan muda berpikir sejenak. Akhirnya dengan sedikit mengumpat dan raut muka kesal, ia pun bersedia mencetak tiket saya. Alhamdulillah, lega sekali rasanya.

Saya mengucapkan terima kasih kepada petugas itu sekaligus meminta maaf.

Secepat kilat, meskipun membawa tas yang cukup berat, kami berjalan setengah berlari agar jangan sampai tertinggal pesawat. Beruntung di pintu imigrasi tidak ada antrian panjang dan proses pemeriksaan barang juga berlangsung cepat dan lancar, sehingga kami bisa segera mencapai Gate untuk masuk ke pesawat.

Kami bersyukur berkali-kali. Kepanikan dan ketegangan berakhir dengan kelegaan dan senyuman bahagia dan penuh syukur. Detik-detik “kematian” telah berlalu.

Wahai Indonesia, kami kembali ke pangkuanmu lagi.

Selasa, 03 Februari 2026

10 Keterampilan AI yang Anda Butuhkan di Tahun 2026

 10 KETERAMPILAN AI YANG ANDA BUTUHKAN DI TAHUN 2026

 

1. Rekayasa Respons Cepat (Prompt Engineering)

Apa Itu: Perbedaan antara output rata-rata dan jawaban yang dapat Anda tindak lanjuti.

Kapan Menggunakannya: Kapan pun Anda membutuhkan AI untuk berpikir seperti seorang ahli strategi atau operator dan bukan sebagai chatbot.

Alat:


• ChatGPT

• Gemini

• Claude

• Perplexity


________________________________________

2. Agen AI (AI Agents)

Apa Itu: Agen adalah AI yang tidak hanya membalas tetapi benar-benar menyelesaikan tugas dari awal hingga akhir tanpa input Anda.

Kapan Menggunakannya: Mengotomatiskan pekerjaan yang biasanya Anda serahkan kepada seorang magang atau menghabiskan waktu Anda: pembuatan prospek, riset, penjadwalan, dll.

Alat:


• OpenAI Agents

• CrewAI

• LangGraph

• LangChain


________________________________________

3. Otomatisasi Alur Kerja (Workflow Automation)

Apa Itu: Menghubungkan alat-alat Anda sehingga pekerjaan rutin dapat dilakukan tanpa Anda.

Kapan Menggunakannya: Pelaporan, orientasi karyawan baru, entri data, dll. Jika dapat diulang, Anda dapat mengotomatisasinya dengan alat-alat ini.

Alat:


• Make

• Zapier

• N8N

• Bardeen


________________________________________

4. Agen Otomatis (Agentic Agents)

Apa Itu: AI yang dapat merencanakan, beradaptasi, dan mengoreksi diri sendiri alih-alih hanya mengikuti skrip tetap.

Kapan Menggunakannya: Tugas kompleks dan multi-langkah seperti riset, operasional, atau QA di mana fleksibilitas lebih penting daripada alur kerja yang kaku.

Alat:


• OpenAI o1

• Claude

• Reflexion

• DSPy


________________________________________

5. AI Multimodal (Multimodal AI)

Apa Itu: AI yang bekerja di seluruh teks, gambar, audio, dan kode dalam alur yang sama.

Kapan Menggunakannya: Mengubah ide kasar menjadi kampanye lengkap: teks, visual, video, sulih suara.

Alat:


• Gemini

• Claude 3.5 Sonnet

• OpenAI Vision

• Stable Audio


________________________________________

6. RAG (Retrieval-Augmented Generation)

Apa Itu: Mengajari AI untuk mengambil data dari data Anda alih-alih mengarang informasi.

Kapan Digunakan: Dukungan pelanggan, pemberdayaan penjualan, pengetahuan internal - akurasi itu penting.

Alat:


• Pinecone

• LlamaIndex

• HayStack

• Elasticsearch


________________________________________

7. AEO / GEO (Answer & Generative Engine Optimisation)

Apa Itu: SEO untuk era AI. Memastikan merek Anda muncul dalam jawaban AI.

Kapan Digunakan: Ketika prospek Anda mulai bertanya kepada ChatGPT alih-alih Google untuk hal-hal spesifik tentang merek atau sektor Anda.

Alat:


• Searchable

• Trakkr

• Screaming Frog


________________________________________

8. Penggabungan Alat AI (AI Tool Stacking)

Apa Itu: Menggabungkan alat favorit Anda sehingga berjalan sebagai satu sistem.

Kapan Digunakan: Untuk membangun alur kerja yang selalu aktif yang mengurangi biaya dan membebaskan tim Anda.

Alat:


• Notion AI

• ClickUp AI

• Airtable AI

• Zapier AI


________________________________________

9. Pembuatan Konten AI (AI Content Generation)

Apa Itu: Konten dalam skala besar tanpa membangun tim pemasaran beranggotakan 10 orang.

Kapan Digunakan: Postingan harian, pengeditan video, podcast, mengubah konten panjang menjadi pendek.

Alat:


• Descript

• Saywhat

• OpusClip

• ElevenLabs


________________________________________

10. Manajemen LLM (Management LLM)

Apa Itu: Mengontrol biaya, akurasi, dan kinerja di seluruh AI yang Anda gunakan.

Kapan Digunakan: Setelah AI menjadi inti dari operasi Anda dan Anda membutuhkan visibilitas pada ROI.

Alat:


• Arize AI

• TruLens

• Helicone

• Weights & Biases


 

Sumber: IG @Cyphyr.ai

7 Free Websites to Learn Everything for Free

 7 FREE WEBSITES TO LEARN EVERYTHING FOR FREE

 

1. learnvern.com

• Courses in Hindi (Coding, Design, Marketing & more) • Made for indian students • Download certificates too!

Comment "Free" and I'll dm you the website link.


2. classcentral.com

• Aggregates courses from harvard, MIT, Coursera, edX • 100% Free + Reviews included • Learn anything from data science to history


3. openculture.com

• Ivy League courses • Downloadable audio & Video Content Learn arts, coding, philosophy & More

Comment "Free" and I'll dm you the website link.


4. digitaldefynd.com

• 1000s of free course listings • Find the best course across platforms • Free certificates included


5. theodinproject.com

• Full stack dev curriculum Open-source & beginner-friendly Great for self paced learning

Comment "Free" and I'll dm you the website link.


6. greatlearning.com

• Learn Tech, AI, Data Science, Cloud, more Courses by stanford, IIT & top companies Free certificates with each course


7. alison.com

• Over 4000 free courses Business, Tech, Soft skills Get job-ready & certified

Comment "Free" and I'll dm you the website link.


Source: IG @webstrom_tech

12 AI Tools by Google

 12 AI Tools by Google

 

1. Google AI Studio

Developers and AI enthusiasts use to understand how prompts influence output perfect for refining results before deploying an AI application or chatbot.


2. NotebookLM

Turns documents, PDFs, or even transcripts into summaries, quizzes, and mind maps making it an incredible study or productivity tool.


3. Gemini Gems

Lets users create personalized AI assistants with specific instructions, context, and even uploaded files.


4. Google Veo3

Using creative text prompts, Veo 3 can generate cinematic video clips or animate static images with realistic motion.


5. Firebase Studio

It enables to build and publish AI-powered websites and mobile apps quickly, with robust backend support.


6. Gemini Live

You can host interactive meetings, get instant suggestions, or have AI co-present with you during live sessions.


7. Nano Banana

Helps creators edit, branch, and refine AI-generated images into multiple versions.


8. Google's Imagen

Generate images or audio clips from simple prompts perfect for designers, content marketers, and video creators.


9. Google Pomelli

Helps small-to-medium-sized businesses easily generate scalable, on-brand social media campaigns.


10. Google Whisk

Lets you use images as prompts to visualize your ideas and tell your story.


11. Google Opal

Simply type what you want to make with natural language and Opal builds a workflow you can edit and creates a mini-app for you in minutes.


12. Google Lumiere

A text-to-video diffusion model designed for synthesizing videos that portray realistic, diverse and coherent motion.


Source: IG @youngurbanproject

Minggu, 25 Januari 2026

Mengapa Kita Kesulitan Belajar Bahasa?

 MENGAPA KITA KESULITAN BELAJAR BAHASA?

Oleh: Gabriel Wyner  

 

Jadi, ada mitos tentang bahasa. Dan mitos itu adalah bahwa anak-anak sangat pandai belajar bahasa dan kita kehilangan bakat itu ketika kita dewasa. Dan kita punya alasan kuat untuk mempercayai mitos ini.

 

Sumber gambar:

https://www.pineslearning.com.au/wp-content/uploads/2024/09/Learn-a-new-language-blog-article-845x321.png

Banyak dari kita pernah mengalami hal ini. Kita memilih bahasa di sekolah menengah atau perguruan tinggi, belajar keras selama tiga, empat, lima tahun, lalu kita melakukan perjalanan ke Prancis. Dan kita bertemu dengan seorang anak Prancis berusia lima tahun, dan dia berbicara bahasa Prancis jauh lebih baik daripada kita.

Dan itu tidak adil. Maksud saya, kita telah berjuang sangat keras, dan dia belum pernah bekerja sehari pun dalam hidupnya, namun, di sini dia mengoreksi tata bahasa kita. Dan Anda benar.

Itu tidak adil. Itu tidak adil karena Anda membandingkan diri Anda dengan seorang anak yang telah terpapar bahasa Prancis selama 15.000 jam, sedangkan Anda hanya 100, mungkin 200, atau mungkin 50 jam. Itu tergantung pada berapa banyak waktu kelas Anda yang sebenarnya dihabiskan dalam bahasa Prancis, bukan dalam bahasa Inggris untuk membicarakan bahasa Prancis.

Jika Anda membuat perbandingan yang adil, ambil seorang anak berusia lima tahun, pindahkan mereka ke Spanyol, beri mereka 500 jam paparan di sana. Orang dewasa mendapatkan pekerjaan di Spanyol, 500 jam paparan. Yang akan Anda temukan adalah orang dewasa selalu mengalahkan anak tersebut.

Kita lebih baik dalam mempelajari bahasa daripada anak-anak. Kita lebih pintar dari mereka. Kita telah belajar bagaimana belajar.

Itu salah satu keuntungan tumbuh dewasa. Bukan berarti tidak ada keuntungan menjadi anak-anak. Ada tiga.

Antara usia enam bulan dan 12 bulan, dalam rentang waktu yang sangat singkat itu, anak-anak dapat mendengar bunyi dalam bahasa baru dengan cara yang tidak kita ketahui. Keuntungan yang signifikan di sana. Keuntungan kedua, anak-anak tidak takut.

Mereka akan masuk ke dalam percakapan apa pun, entah mereka tahu kata-katanya atau tidak, sementara kita akan menahan diri, kita akan takut. Keuntungan yang sangat besar. Namun, kedua keuntungan itu tidak lebih besar daripada kemampuan kita yang lebih unggul untuk belajar.

Keuntungan ketiga menjadi anak-anak adalah keuntungan waktu. Kita tidak punya 15.000 jam untuk belajar bahasa Prancis. Jadi, untuk berhasil dalam hal ini, kita membutuhkan sesuatu yang bekerja lebih baik daripada yang digunakan anak-anak.

Dan untuk membicarakan seperti apa itu, saya ingin menceritakan beberapa pengalaman saya sendiri. Saya memulai perjalanan belajar bahasa saya dengan bahasa Ibrani di taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Saya belajar selama tujuh tahun, dan di akhir tujuh tahun belajar itu, saya bisa membaca alfabet Ibrani.

Jadi saya mencoba lagi. Di sekolah menengah pertama dan atas, saya beruntung. Saya bersekolah di sekolah menengah atas yang menawarkan bahasa Rusia, di antara semua mata pelajaran, dengan guru-guru yang sangat baik.

Jadi, saya mengambil bahasa Rusia selama lima setengah tahun. Saya belajar keras. Saya mendapat nilai bagus dalam ujian saya.

Saya mengerjakan semua pekerjaan rumah saya. Dan di akhir lima setengah tahun itu, saya bisa membaca alfabet Rusia. Saya mungkin hanya mengingat 40 kata, dan saya sampai pada kesimpulan bahwa seluruh hal tentang bahasa ini bukanlah untuk saya.

Lalu saya membuat keputusan yang buruk. Saya selalu menjadi kutu buku sains. Saya menyukai sains dan teknik.

Saya ingin menjadi insinyur nuklir, fokus pada fisika plasma sehingga saya bisa membuat reaktor fusi. Itulah impian saya saat masih kecil. Tapi saya punya hobi, dan hobi itu adalah bernyanyi.

Saya bernyanyi di teater musikal dan opera. Dan ketika saya melamar ke sekolah teknik untuk kuliah, saya melamar ke salah satu sekolah yang memiliki konservatori musik, dan saya berpikir, bukankah aneh jika belajar opera dan teknik mesin? Bukankah itu terlalu di luar kebiasaan? Dan begitulah yang saya lakukan. Dan salah satu efek sampingnya adalah saya perlu mengambil kursus bahasa.

Untuk gelar opera itu, saya membutuhkan bahasa Jerman, Prancis, dan Italia. Dan seorang teman Prancis saya datang kepada saya dan berkata, hei, kamu bisa mendapatkan kredit dua semester dalam satu musim panas di sekolah ini di Vermont. Dan saya pikir, itu terdengar bagus.

Jadi saya langsung mendaftar untuk program ini. Dan cara kerja program ini adalah Anda menandatangani kontrak pada hari pertama. Kontrak itu menyatakan bahwa jika saya mengucapkan satu kata pun yang bukan bahasa Jerman, jika saya menulis apa pun, jika saya membaca apa pun, jika saya mendengarkan pesan suara yang bukan dalam bahasa Jerman, saya akan dikeluarkan dari sekolah tanpa pengembalian uang.

Dan saya pikir, sepertinya itu menyenangkan. Jadi saya pergi, dan saya menandatangani kontrak itu, dan saya menyadari bahwa saya sebenarnya tidak berbicara bahasa Jerman sama sekali. Jadi saya berhenti berbicara.

Dan seseorang menghampiri saya dan berkata, "Hallo, ich heisse Joshua, wie heisst du?" Dan saya berkata, "eh?" Dan dia berkata, "Hallo, ich heisse Joshua, wie heisst du?" Dan saya berkata, "ich heisse Gabriel?" Dan saya belajar bahasa Jerman dengan cara itu. Tujuh minggu kemudian, saya bisa melakukan percakapan yang lancar dalam bahasa Jerman, dan saya menjadi ketagihan dengan perasaan berpikir dengan cara yang benar-benar baru. Jadi, saya kembali pada musim panas berikutnya untuk mencapai kefasihan berbahasa Jerman.

Pada tahun 2007, saya pindah ke Wina, Austria untuk mengejar gelar di bidang opera dan menyanyi. Pada tahun 2008, saya pergi ke Berugia, Italia untuk belajar bahasa Italia. Dan pada tahun 2010, saya mencontek ujian bahasa Prancis.

Dan dari situlah semua ini berasal. Anda lihat, saya ingin kembali ke sekolah dengan kontrak di Vermont itu, karena dalam cara yang agak menegangkan dan masokis, itu sebenarnya agak menyenangkan.

Mereka punya level satu untuk orang-orang yang belum familiar dengan bahasa Prancis, yang sesuai dengan level saya, tetapi mereka juga punya level satu setengah.

Itu sedikit lebih cepat. Dan saya pikir, ini bahasa ketiga saya, bahasa Italia dekat dengan bahasa Prancis, saya mungkin bisa menguasai level satu setengah. Jadi mereka mengirimkan tes penempatan secara online, dan saya mencontek sebisa mungkin.

Saya pikir dengan tidak mengetahui bahasa Prancis dan mencontek sebisa mungkin, saya bisa masuk level satu setengah. Jadi saya menggunakan tata bahasa Prancis dari about.com untuk mencontek bagian pilihan ganda. Saya menulis esai di Google Translate dan mengirimkannya.

Saya mengirimkannya, saya tidak memikirkannya lagi, dan tiga bulan kemudian, saya mendapat email. Dan email itu mengatakan, Selamat, Anda berhasil dengan baik dalam tes penempatan Anda. Kami menempatkan Anda di level menengah.

Anda punya waktu tiga bulan. Dalam tiga bulan, kami akan menempatkanmu di sebuah ruangan bersama seorang penutur bahasa Prancis yang akan berbicara denganmu selama sekitar 15 menit untuk memastikan kamu tidak melakukan hal bodoh seperti mencontek pada tes penempatanmu. Jadi aku panik.

Dan ketika aku panik, aku mencari di internet karena jelas seseorang di sana memiliki jawaban untuk segalanya. Dan ternyata, ada beberapa jawaban yang bagus. Ada sistem yang disebut sistem pengulangan berjarak (spaced repetition).

Pada dasarnya seperti kartu flash, kamu tahu kartu-kartu dengan gambar Shah, kucing, yang kamu gunakan di sekolah. Nah, ini adalah versi terkomputerisasi dari kartu-kartu itu, tetapi mereka mengujimu tepat pada saat yang optimal, tepat sebelum kamu melupakan informasi apa pun. Jadi mereka sangat efisien.

Sekarang, apa yang orang gunakan untuk program pengulangan berjarak ini adalah untuk terjemahan. Dan aku tahu dari pengalamanku dengan bahasa Ibrani dan Rusia bahwa itu tidak akan berhasil untukku. Jadi aku melakukan sesuatu yang lain.

Dan untuk menjelaskannya, mari kita bicara tentang dua kata. Kata pertama yang kita pelajari di kelas. Kita sedang belajar bahasa Hongaria.

Guru kami maju ke papan tulis, dia menulis, adalah kata dalam bahasa Hongaria untuk kamera. Kemudian dia menulis 39 kata lain di papan tulis, berkata, ini akan menjadi kosakata kalian untuk minggu ini. Kalian akan mengikuti kuis di akhir minggu.

Kata kedua yang kita pelajari sangat berbeda. Kalian sedang berpetualang dengan sahabat terbaik kalian. Kalian berada di Skandinavia.

Kalian berada di sebuah bar tua. Ada sekitar enam pelanggan tua berjanggut. Kalian duduk di bar, dan penjaga bar, dia jelas seorang Viking.

Dia memiliki janggut merah yang besar. Dan dia tersenyum kepada kalian dengan cara yang sangat mengganggu saat dia mengeluarkan tiga gelas sloki dan mengeluarkan sebotol. Dan di botol itu kalian melihat tulisan M-O-K-T-O-R saat penjaga bar berkata, Moktor.

Dan mulai menuangkan sesuatu ke dalam gelas sloki. Dan itu semacam cairan hijau, tetapi bukan cairan hijau zamrud yang indah. Itu semacam cairan hijau kecokelatan, kekuningan, dan kental.

Lalu ia menyingkirkan botol itu, dan mengeluarkan sebuah toples putih. Di dalam toples putih itu, ia mulai menyendok sesuatu ke dalam setiap gelas sloki Anda. Dari baunya, Anda menyadari bahwa itu pasti ikan busuk saat ia mengulangi, "Moktor."

Dan semua pelanggan sekarang menoleh dan menatap Anda sambil tertawa. Pelayan bar kemudian mengeluarkan korek api. Ia menyalakannya.

Ia membakar ketiga gelas sloki itu. Dan ia mengulangi, "Moktor." Saat semua pelanggan mulai meneriakkan, "Moktor, Moktor, Moktor."

Dan teman Anda, teman Anda yang bodoh, mengambil gelas slokinya, dan berteriak, "Moktor." Dan ia meniupnya, lalu meminumnya. Dan pelayan bar, ia meniup gelasnya, dan berteriak, "Moktor," lalu meminumnya.

Dan sekarang semua orang menatap Anda, meneriakkan, "Moktor, Moktor." Dan Anda mengambil gelas Anda, "Moktor." Dan Anda meniupnya, "Moktor."

Dan kau berteriak, Moktor. Dan kau meminumnya. Dan itu adalah hal terburuk yang pernah kau rasakan dalam hidupmu.

Dan kau akan mengingat kata Moktor selamanya. Atau kau sudah melupakan kata dalam bahasa Hongaria untuk kamera. Mengapa? Kenangan adalah hal yang menakjubkan.

Kenangan tidak disimpan di lokasi tertentu di otakmu. Kenangan sebenarnya disimpan dalam koneksi antar wilayah otakmu. Ketika kau melihat gelas itu, kau melihat botol itu, dan tertulis M-O-K-T-O-R, dan pelayan bar berkata, Moktor, suara dan ejaan itu, saling terhubung, membentuk sebuah kenangan.

Koneksi-koneksi itu terhubung dengan suara-suara lain, suara Moktor yang dituangkan ke dalam gelas-gelas kecil itu, suara semua orang yang berteriak di ruangan itu, Moktor, Moktor, semua suara dan ejaan itu, saling terhubung, dan juga terhubung dengan gambar. Mereka terhubung dengan gambar botol hijau ini, mereka terhubung dengan gelas-gelas kecil, mereka terhubung dengan ikan yang membusuk ini, mereka terhubung dengan wajah penjaga bar itu, wajah Viking itu, yang sekarang menjadi bagian dari kata itu. Dan itu semua terhubung dengan pengalaman sensorik seperti rasa tidak enak di mulut Anda, bau ikan yang terbakar dan membusuk, panasnya api.

Itu semua terhubung dengan konten emosional, rasa jijik, kemarahan pada teman Anda, kegembiraan. Itu semua terhubung dengan perjalanan Anda. Itu semua terhubung dengan apa itu alkohol, apa itu Skandinavia, apa itu persahabatan, apa itu petualangan.

Semua hal ini. Sekarang, kata itu menjadi bagian dari kata ini, dan membuatnya melekat di ingatan Anda. Sedangkan kata dalam bahasa Hongaria untuk kamera, Anda bahkan tidak ingat bagaimana bunyinya. Ketidakmampuan mengingat ini tidak terkait dengan kamera iPhone dan kamera SLR serta suara rana, dan perasaan yang Anda dapatkan saat melihat foto-foto dari masa lalu Anda.

Tidak, asosiasi itu ada. Asosiasi itu terhubung dengan kata lain, dengan kata kamera. Tetapi Finkepezugeb tidak memiliki semua itu saat ini, jadi Anda tidak dapat mengingatnya.

Jadi, apa yang dapat Anda lakukan dengan ini? Baiklah, mari kita kembali ke situasi saya dengan bahasa Prancis. Situasi saya adalah sebagai berikut. Saya mengambil dua gelar master, satu di bidang musik, satu di bidang opera, jadi saya memiliki enam hari kuliah dalam seminggu.

Satu-satunya waktu luang saya adalah satu jam sehari di kereta bawah tanah, hari Minggu dan hari libur nasional Austria, yang untungnya, ada banyak. Dan selama waktu itu, saya melakukan satu hal. Saya membuat dan meninjau kartu flash dalam salah satu sistem pengulangan berjarak terkomputerisasi ini.

Tetapi alih-alih menggunakan terjemahan pada kartu flash tersebut, saya mulai dengan gambar. Jika saya ingin mempelajari kata bahasa Prancis untuk anjing, chien, maka saya akan mencari di Google Images untuk chien, dan saya akan menemukan bahwa blogger Prancis tidak memilih anjing yang saya harapkan. Anjing mereka lebih kecil dan lebih lucu dan entah bagaimana lebih Prancis.

Jadi saya menggunakan anjing-anjing ini untuk mempelajari chien dan membangun kosakata dari gambar-gambar blogger Prancis ini. Dan saat saya membangun kosakata itu, saya beralih ke kalimat. Dan saya mulai mempelajari kata-kata abstrak dan tata bahasa dengan cara itu, menggunakan kalimat isian kosong.

Jika saya ingin mempelajari kata seperti went, sebagai bentuk lampau dari to go, saya akan menggunakan sebuah cerita. Kemarin, saya pergi ke sekolah dengan gambar sebuah gedung sekolah. Dan begitulah saya mempelajari tata bahasa abstrak saya dengan cara itu.

Dan kemudian tiga bulan kemudian, saya menjalani wawancara itu. Dan saya mendapati diri saya berada di ruangan ini dengan orang Prancis ini yang memulai percakapan kami dengan bonjour. Lalu hal pertama yang terlintas di pikiran saya adalah bonjour.

Dan dia mulai berbicara kepada saya dalam bahasa Prancis, dan saya menyadari bahwa saya mengerti apa yang dia katakan. Dan terlebih lagi, saya tahu apa yang harus saya balas. Dan itu tidak lancar, agak terbata-bata, tetapi ini adalah pertama kalinya saya berbicara bahasa Prancis dalam hidup saya, dan saya berbicara dalam bahasa Prancis, dan saya berpikir dalam bahasa Prancis, dan kami melakukan percakapan selama 15 menit.

Dan di akhir percakapan ini, guru itu memberi tahu saya, "Anda tahu, ada yang salah dengan tes penempatan Anda. Tes itu mengatakan Anda seharusnya berada di tingkat menengah, tetapi kami menempatkan Anda di tingkat lanjutan." Jadi selama tujuh minggu berikutnya, saya membaca sepuluh buku, saya menulis 70 halaman esai, dan pada akhir musim panas itu, saya sepenuhnya fasih berbahasa Prancis.

Dan saya menyadari bahwa saya telah menemukan sesuatu yang penting. Jadi saya mulai menulis tentang itu dan membuat alat-alat terkomputerisasi di sekitarnya, dan bereksperimen. Pada tahun 2012, saya belajar bahasa Rusia.

Aku membalas dendam pada bahasa itu. Dari tahun 2013 hingga 2015, aku belajar bahasa Hongaria. Pada tahun 2015, aku mulai belajar bahasa Jepang, lalu berhenti, belajar bahasa Spanyol, kembali dan mulai belajar bahasa Jepang lagi, karena bahasa Jepang itu tak ada habisnya.

Dalam setiap pengalaman ini, aku belajar banyak. Aku belajar cara-cara untuk menyesuaikan sistem guna menemukan peningkatan efisiensi di sana-sini. Tetapi konsep keseluruhannya selalu tetap sama.

Jika Anda ingin belajar bahasa secara efisien, maka Anda perlu memberi kehidupan pada bahasa itu. Setiap kata perlu terhubung dengan suara, gambar, aroma, rasa, dan emosi. Setiap bagian tata bahasa tidak bisa hanya berupa kode tata bahasa abstrak.

Itu harus menjadi sesuatu yang dapat membantu Anda menceritakan kisah Anda. Dan jika Anda melakukan ini, Anda akan menemukan bahwa kata-kata mulai melekat di pikiran Anda, dan tata bahasanya pun mulai melekat. Dan Anda mulai menyadari bahwa Anda tidak membutuhkan semacam gen bahasa, semacam anugerah dari Tuhan untuk mencapai hal ini.

Ini adalah sesuatu yang setiap orang memiliki waktu dan kemampuan untuk melakukannya. Terima kasih.

 

Sumber: YT @TEDx Talk