Cari Blog Ini

Rabu, 31 Desember 2025

35+ Aplikasi buat Nambah Cuan di 2026

 

35+ Aplikasi buat Nambah Cuan di 2026


1. Modal Menulis

·         Estimasi Bayaran: $5–$8/jam (± Rp83.775–Rp134.040/jam)

·         Tempat buat dan jual tulisan: Kindle Publishing, Scribble, Wattpad Paid Stories, Substack, Medium Partner Program.

2. Modal Rekam Suara

·         Estimasi Bayaran: $6–$10/jam (± Rp100.530–Rp167.550/jam)

·         Tempat belajar skill & apply: Voices.com, Bunny Studio, Voice123, Voquent, Snap Recordings.

3. Modal Ngonten

·         Estimasi Bayaran: $5–$8/jam (± Rp83.775–Rp134.040/jam)

·         Tempat cari project konten: Upwork, Fiverr, Freelancer, Sribulancer, Projects.co.id.

4. Modal Desain

·         Estimasi Bayaran: $6–$10/jam (± Rp100.530–Rp167.550/jam)

·         Tempat desain & jual karya digital: Etsy, Society6, Redbubble, Creative Market, Creative Fabrica, Folsky.

5. Online Survey

·         Estimasi Bayaran: $1–$5/jam (± Rp16.755–Rp83.775/jam)

·         Tempat isi survei berbayar online: JakPat (Jejak Pendapat), Milieu Surveys, MyPoints, Toluna, Rakuten Insight, YouGov.

6. Proofreading & Editing

·         Estimasi Bayaran: $6–$9/jam (± Rp100.530–Rp150.795/jam)

·         Tempat apply kerja editing & proofreading: Scribendi, Gramlee, ProofreadingPal, Wordvice, Editage.

Sumber gambar:
https://cdn.rri.co.id/berita/Bengkalis/o/1765522852423-Investasi_Terbaik/z74iv2cwth9hdqi.jpeg


7. Modal Nonton Ads

·         Estimasi Bayaran: $1–$3/jam (± Rp16.755–Rp50.265/jam)

·         Tempat dapet penghasilan dari nonton iklan: Swagbucks, PrizeRebel, Freecash, FeaturePoints, TimeBucks, InboxPays.

Referensi:  Akun Instragram @sgb_va

The Power of Reading

Membaca adalah salah satu kekuatan paling murni yang dimiliki manusia. Dalam dunia yang penuh gangguan dan kecepatan, membaca memberi kita ruang untuk diam, merenung, dan mengembangkan pemikiran yang dalam. Bukan hanya membaca kata-kata, tetapi benar-benar memasuki dunia yang dijelaskan oleh kata-kata itu. Setiap halaman yang dibaca adalah langkah menuju dunia yang lebih luas, lebih kaya, dan lebih bermakna.

Neuroscience menunjukkan bahwa membaca benar-benar merubah struktur otak kita. Saat kita membaca, area otak yang bertanggung jawab atas fokus, empati, dan imajinasi menjadi aktif. Otak kita tidak hanya menyerap informasi, tetapi juga membentuk jaringan saraf baru yang memperkuat konsentrasi, daya ingat, dan kemampuan berpikir kritis. Membaca yang rutin bukan hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga melatih otak untuk berpikir secara logis, kreatif, dan empatik.

Sumber gambar:
https://acemaximainstitute.com/uploads/custom-images/wsus-img-2025-03-27-01-48-42-2399.png


Membaca membantu kita membangun mental model—kerangka berpikir yang membantu kita memahami dunia dengan lebih baik. Melalui buku, kita bisa mengalami perjuangan orang lain, menikmati keindahan alam yang belum pernah kita lihat, atau memahami sistem sosial yang kompleks. Kita belajar dari pengalaman orang lain tanpa harus mengalaminya sendiri. Ini adalah cara paling efisien untuk mendapatkan pengalaman hidup dalam waktu singkat.

Untuk mendapatkan manfaat maksimal, coba lakukan eksperimen 30 hari membaca. Mulailah dengan 20 menit sehari, pilih buku yang menarik perhatian Anda—entah fiksi, non-fiksi, atau biografi. Fokus pada kualitas, bukan kuantitas. Baca dengan perhatian penuh, catat ide-ide menarik, dan renungkan bagaimana pengetahuan itu bisa diterapkan dalam kehidupan nyata. Dalam 30 hari, Anda akan merasa fokus Anda meningkat, pikiran Anda lebih jernih, dan empati Anda lebih tajam.

Buku bukan hanya sumber informasi—buku adalah teman yang setia, guru yang sabar, dan pintu gerbang ke dunia yang tak terbatas. Dalam era digital yang penuh dengan distraksi, membaca adalah bentuk pemberontakan terhadap kekacauan. Ini adalah tindakan kecil yang besar: menghentikan, membuka buku, dan membiarkan pikiran bepergian.

Jadi, ambil buku hari ini—bukan untuk mengejar hasil, tapi untuk menemukan diri Anda sendiri. Baca perlahan, baca dengan hati, dan alami perubahan yang terjadi secara perlahan, namun pasti. Karena setiap halaman yang Anda baca adalah langkah menuju diri Anda yang lebih cerdas, lebih bijak, dan lebih penuh makna.

Kini, saatnya Anda bertindak. Buka buku. Buka pikiran. Baca—dan biarkan dunia berubah perlahan, satu kata pada satu waktu.

Referensi:

Channel YouTube “The Logic Room”

Selasa, 30 Desember 2025

Belajar Berpikir dalam Bahasa Inggris Selama 8 Menit

Belajar berpikir dalam bahasa Inggris adalah cara tercepat untuk meningkatkan kemampuan bahasa Anda. Banyak orang belajar kosakata dan tata bahasa, tetapi belum bisa berpikir dalam bahasa Inggris. Kunci sebenarnya adalah berpikir secara langsung, bukan menerjemahkan dari bahasa ibu Anda. Saat Anda berpikir dalam bahasa Inggris, bahasa tersebut menjadi lebih alami dan cepat. Anda akan merasa lebih percaya diri saat berbicara dan menulis.

Mulailah dengan menggunakan kata-kata sederhana. Anda tidak perlu menggunakan kalimat kompleks di awal. Gunakan kata-kata dasar seperti “This is” atau “I see” untuk menggambarkan hal-hal yang Anda lihat sekitar Anda. Katakan pada diri sendiri apa yang Anda lihat saat duduk di kursi, meminum air, atau melihat jendela. Misalnya, “This is a chair. It is brown. I am sitting on it.” Hal ini membantu otak Anda terbiasa berpikir langsung dalam bahasa Inggris.

Selain itu, cobalah berbicara dengan diri sendiri dalam bahasa Inggris. Di dalam pikiran, Anda bisa mengomentari kegiatan harian Anda. Saat bangun tidur, pikirkan: “Good morning. I feel tired. I need coffee.” Saat menyiapkan sarapan, ucapkan: “I am making toast. It is getting warm.” Menjaga obrolan dalam pikiran dengan bahasa Inggris secara konsisten akan membentuk kebiasaan berpikir yang kuat.

Gunakan bahasa Inggris dalam pengambilan keputusan sehari-hari. Ketika memilih makanan, tidak perlu memikirkan dalam bahasa Indonesia dulu. Langsung pilih, misalnya: “I will eat an apple. It is healthy.” Saat memutuskan pergi ke tempat tertentu, pikirkan dalam bahasa Inggris: “I want to go to the park. It is sunny today.” Semakin banyak Anda menggunakan bahasa Inggris dalam pikiran, semakin cepat Anda akan terbiasa.

Jangan takut membuat kesalahan. Kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Bahasa Inggris bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang berani mencoba. Jika Anda merasa bingung, coba gunakan kalimat pendek dan langsung. Fokus pada makna, bukan pada tata bahasa yang sempurna. Semakin sering Anda melakukannya, semakin otomatis dan lancar pikiran Anda akan berpikir dalam bahasa Inggris.

Bersabarlah pada prosesnya. Dalam 8 menit, mungkin Anda belum bisa berpikir seperti orang asli. Tetapi jika Anda latihan setiap hari dengan konsistensi, dalam beberapa minggu, Anda akan melihat perbedaan yang nyata. Pikiran Anda akan lebih cepat merespons dalam bahasa Inggris. Anda akan merasa lebih ringan, lebih percaya diri, dan lebih terhubung dengan dunia internasional.

Jadi, mulai sekarang. Pilih satu kebiasaan kecil, seperti menyapa diri sendiri dalam bahasa Inggris saat melihat cermin. Atau sampaikan satu pernyataan sederhana saat minum air. Latihan kecil ini bisa mengubah cara Anda berpikir. Dalam seminggu, Anda mungkin sudah merasa lebih nyaman. Dalam sebulan, Anda akan terkejut melihat betapa cepatnya kemajuan Anda.

Ingat, berpikir dalam bahasa Inggris bukan tentang kecepatan. Ini tentang kebiasaan. Setiap hari, satu kalimat, satu ide, satu momen. Konsistensi adalah kunci. Dengan waktu, bahasa Inggris akan tidak hanya menjadi alat komunikasi, tapi menjadi cara Anda memahami dunia.

Sumber gambar:
https://www.espressoenglish.net/wp-content/uploads/2020/12/bubble-19329_640.jpg


Kini, saatnya Anda mulai—tanpa menunggu sempurna, tanpa takut salah. Pikirkan dalam bahasa Inggris, dan berbarislah bersama dunia yang lebih luas.

 

Referensi:

Channel YouTube “Learn English with StoriLing”

Senin, 29 Desember 2025

Sejarah Cokelat yang Gelap dan Manis

 

SEJARAH COKELAT YANG GELAP DAN MANIS

 

Halo, teman-teman. Selamat datang kembali.

Saya ingin kalian menutup mata sejenak. Bayangkan kalian memegang sesuatu yang manis di tangan kalian. Mungkin itu adalah kotak kecil berwarna gelap. Mungkin dibungkus dengan kertas emas mengkilap. Kalian menggigitnya. Meleleh di lidah kalian. Rasanya kaya, lembut, dan manis. Itu membuat kalian tersenyum. Kita semua tahu perasaan ini, bukan?

Cokelat adalah suguhan yang kita sukai. Kita memakannya saat kita bahagia. Kita memakannya saat kita sedih. Kita memberikannya kepada orang yang kita cintai di hari-hari istimewa. Tampaknya begitu sederhana. Itu hanya permen, bukan?

Tapi, teman-teman, bukalah mata kalian. Kisah tentang kotak kecil cokelat itu tidak sederhana. Bahkan, itu adalah kisah yang sangat panjang dan sangat rumit. Itu adalah kisah yang menempuh ribuan mil dan ribuan tahun untuk sampai ke tangan kalian hari ini.

Dan inilah kejutannya: selama sebagian besar sejarah, cokelat tidak manis. Itu pahit. Itu bukan batangan padat. Itu adalah minuman. Dan itu bukan untuk semua orang.

 

Sumber gambar: 

https://ditpui.ugm.ac.id/wp-content/uploads/sites/23/2020/10/Peta-Sejarah-Cokelat.jpg


Hari ini, kita akan melakukan perjalanan bersama. Kita akan melakukan perjalanan kembali ke masa lalu. Kita akan pergi ke hutan lebat di Amerika Tengah. Kita akan berlayar dengan kapal kayu melintasi Samudra Atlantik. Kita akan mengunjungi istana-istana mewah raja dan ratu di Eropa. Dan kita akan berjalan melalui pabrik-pabrik yang berisik di masa Revolusi Industri.

Tapi saya harus mengatakan sesuatu yang jujur ​​sebelum kita mulai. Kisah ini tidak selalu bahagia. Seperti rasa cokelat hitam, sejarah bisa pahit. Ada bayangan dalam kisah ini. Ada kisah tentang kekuasaan, keserakahan, dan kesedihan.

Mengapa kita perlu mengetahui ini? Karena memahami sejarah membuat kita menghargai apa yang kita miliki hari ini. Ketika kita mengetahui harga sebenarnya dari sesuatu, kita lebih menghargainya.

Jadi, apakah Anda siap? Apakah Anda siap untuk menemukan rahasia yang tersembunyi di dalam camilan favorit Anda? Mari kita tarik napas dalam-dalam. Mari kita masuk ke mesin waktu. Mari kita kembali ke awal, ke bisikan masa lalu.

Kita tiba di tempat yang panas dan hijau. Udaranya lembap dan berbau tanah basah dan hujan. Kita berada di Mesoamerika, tanah yang sekarang kita sebut Meksiko dan Amerika Tengah. Tahun itu adalah 1900 SM, hampir empat ribu tahun yang lalu.

Di sini, jauh di dalam hutan hujan, orang-orang Olmec dan Maya menemukan pohon istimewa. Mereka menyebutnya pohon Theobroma. Dalam bahasa Yunani, nama ini berarti "Makanan Para Dewa," dan bagi orang-orang kuno ini, memang itulah adanya.

Mereka menemukan polong besar berwarna kuning tumbuh di batang pohon. Di dalam polong ini terdapat biji, atau kacang. Ini adalah biji kakao. Tetapi biji-biji ini awalnya tidak enak. Rasanya sangat pahit.

Namun, orang-orang Maya cerdas. Mereka belajar cara mengeringkan biji, memanggangnya di atas api, dan menggilingnya menjadi pasta. Mereka mencampur pasta ini dengan air, cabai, tepung jagung, dan rempah-rempah. Mereka menuangkan cairan dari satu cangkir ke cangkir lainnya, berulang kali, sampai berbusa tebal di atasnya.

Ini adalah cokelat panas pertama. Tetapi rasanya tidak manis. Rasanya pedas, pahit, dan kuat. Bagi orang Maya, minuman ini sakral. Cokelat digunakan dalam upacara pernikahan dan ritual keagamaan. Mereka percaya biji kakao adalah hadiah dari dewa-dewa mereka.

Kemudian, peradaban Aztec bangkit berkuasa. Mereka lebih mencintai kakao daripada peradaban Maya. Tetapi suku Aztec tidak dapat menanam kakao di ibu kota mereka karena iklimnya terlalu dingin dan kering. Mereka harus menukarnya, yang membuat biji kakao menjadi sangat langka.

Karena sangat langka dan berharga, suku Aztec menggunakan biji kakao sebagai uang. Ya, Anda tidak salah dengar. Mereka menggunakan cokelat sebagai mata uang. Bayangkan berjalan ke pasar dan membayar makanan dengan biji kakao. Di dunia Aztec, uang benar-benar tumbuh di pohon.

Karena itu adalah uang, hanya orang yang sangat kaya yang mampu meminumnya. Kaisar Aztec Montezuma terkenal karena meminum lima puluh cangkir cokelat setiap hari, disajikan dalam cangkir emas yang dibuang setelah sekali pakai. Bagi suku Aztec, cokelat adalah kekuatan, energi, dan kekayaan.

Sekarang cerita kita berlanjut ke masa depan. Seorang penjelajah terkenal bernama Christopher Columbus menemukan biji kakao tetapi tidak memahami nilainya. Hernán Cortés-lah yang benar-benar menemukan pentingnya cokelat. Ia melihat bagaimana kaisar Aztec menghargai kakao dan menyadari bahwa itu adalah "emas cokelat."

Ketika Spanyol menaklukkan Aztec, mereka membawa biji kakao kembali ke Eropa. Awalnya, orang Eropa membenci minuman pahit itu. Tetapi ketika gula, kayu manis, dan vanili ditambahkan, semuanya berubah. Cokelat menjadi manis, hangat, dan menenangkan.

Selama hampir seratus tahun, Spanyol merahasiakan cokelat. Akhirnya, cokelat menyebar ke seluruh Eropa dan menjadi barang mewah bagi raja dan ratu. Toko-toko cokelat dibuka, dokter meresepkannya sebagai obat, dan cokelat menjadi simbol kekayaan dan status.

Namun, cokelat masih berupa minuman dan sangat mahal. Orang biasa tidak mampu membelinya. Seiring meningkatnya permintaan, kekuatan Eropa menciptakan perkebunan kakao di koloni tropis, yang menyebabkan kerja paksa dan perbudakan. Jutaan orang Afrika yang diperbudak dipaksa bekerja dalam kondisi brutal untuk memenuhi obsesi manis Eropa.

Kebenaran yang menyakitkan ini mengingatkan kita bahwa sejarah cokelat tidak hanya manis tetapi juga sangat pahit. Setelah perbudakan berakhir, ketidaksetaraan tetap ada. Petani tetap miskin sementara perusahaan menjadi kaya.

Revolusi Industri mengubah segalanya. Mesin-mesin baru membuat cokelat lebih halus, lebih murah, dan lebih mudah diproduksi. Pada abad kesembilan belas, batang cokelat padat pertama diciptakan. Cokelat susu menyusul, dan pabrik-pabrik mulai memproduksi cokelat secara massal untuk masyarakat.

Pada awal abad kedua puluh, cokelat terjangkau dan ada di mana-mana. Cokelat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, ransum perang, hari libur, dan perayaan. Merek-merek menyebar ke seluruh dunia, dan cokelat menjadi simbol kenyamanan dan kegembiraan global.

Saat ini, cokelat adalah industri global yang sangat besar. Namun banyak petani kakao masih hidup dalam kemiskinan, dan pekerja anak masih ada di beberapa wilayah. Hal ini menciptakan dilema moral bagi konsumen.

Ada harapan. Sertifikasi etis, praktik perdagangan yang adil, dan produsen kecil yang memproduksi cokelat dari biji kakao hingga menjadi cokelat batangan sedang berupaya untuk memperbaiki kondisi. Sebagai konsumen, pilihan kita penting.

Kita telah menempuh perjalanan panjang bersama, dari ritual suci di hutan hingga jalur produksi pabrik. Cokelat lebih dari sekadar permen. Cokelat menghubungkan kita dengan sejarah, budaya, dan orang-orang di seluruh dunia.

Jadi, lain kali Anda membuka bungkus cokelat batangan, luangkan waktu sejenak. Biarkan meleleh perlahan. Pikirkan tentang perjalanannya. Mungkin, dengan memahami kisahnya, cokelat akan terasa sedikit berbeda. Sedikit lebih dalam. Sedikit lebih bermakna.

Terima kasih telah bergabung dengan saya dalam perjalanan ini melalui sejarah cokelat yang gelap dan manis.


Referensi: 

Channel YouTube "English Mindcast"

Rabu, 24 Desember 2025

Mengapa Para Nabi Diturunkan di Timur Tengah?

 

Mengapa Para Nabi Diturunkan di Timur Tengah?


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sahabat seiman yang dirahmati Allah, pernahkah kita berpikir kenapa banyak dari para nabi semuanya berasal dari kawasan yang sama? Apakah ini hanya kebetulan sejarah atau justru ada rahasia besar di balik keputusan Allah? Jazirah Arab adalah suatu wilayah dengan tanah yang gersang, panasnya menyengat, penuh konflik, dan sarat akan peradaban kuno. Tapi justru di sinilah risalah langit diturunkan dan cahaya ilahi bersinar paling terang. Apakah bumi ini punya poros spiritual yang tidak terlihat? Kenapa bukan Cina, Indonesia atau Eropa yang menjadi pusat kenabian? Mari kita telusuri jejak spiritual sejarah manusia, menyelami misteri langit yang turun di tengah gurun dan mengungkap mengapa Allah memilih Timur Tengah sebagai panggung utama untuk menurunkan wahyu-Nya.


Sumber gambar:

https://hajiassets.hajinews.co.id/wp-content/uploads/2024/08/14164537/ilustrasi-Nabi-Muhammad-SAW.jpg

Sepanjang sejarah umat manusia, Allah telah mengutus lebih dari 124.000 Nabi. Namun dari sekian banyak nabi yang telah diutus, hanya 25 nama yang disebutkan di dalam Al-Qur'an. Jika kita melihat ke peta dunia, hampir semua nabi yang disebutkan namanya di dalam Al-Qur'an lahir, hidup, dan berdakwah di wilayah yang sama, yaitu Timur Tengah dan Jazirah Arab. Mulai dari Nabi Ibrahim di Irak dan Palestina, Nabi Musa di Mesir dan Sinai, Nabi Isa di Yerusalem, hingga Nabi Muhammad di Mekah dan Madinah. Pertanyaannya, kenapa di wilayah itu? Kenapa bukan di Indonesia yang subur, atau Cina dan Eropa yang memiliki peradaban maju? Tentu saja Allah Maha Adil; setiap ketetapan-Nya pasti memiliki hikmah besar tentang misi dan momentum.

Timur Tengah saat itu adalah titik simpul dunia yang berada di tengah-tengah tiga benua besar: Asia, Afrika, dan Eropa. Posisi strategis ini merupakan pusat jalur perdagangan internasional yang dilewati pedagang dari berbagai belahan dunia. Dengan menurunkan wahyu di sana, petunjuk tersebut dapat menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. Selain itu, kawasan ini adalah panggung utama dunia kuno yang menjadi rumah bagi kerajaan besar seperti Babilonia, Persia, Romawi Timur, hingga kekuasaan Firaun di Mesir. Di tanah inilah sejarah manusia diukir dan risalah-risalah Allah diturunkan.

Kondisi alam Timur Tengah yang tandus dan keras juga menempa karakter manusianya menjadi kuat dan tangguh. Bangsa Arab, misalnya, memiliki gaya hidup nomaden yang membuat mereka memiliki hafalan kuat, kepekaan bahasa tinggi, serta ketangguhan fisik luar biasa. Gurun yang sunyi juga memaksa manusia untuk merenung dan mendengarkan kebenaran di tengah keheningan. Selain faktor geografis, bahasa Arab dipilih karena merupakan bahasa yang paling padat, indah, dan fleksibel, mampu menampung kedalaman makna wahyu. Budaya lisan dan tradisi hafalan masyarakat Arab saat itu pun menjadi fondasi kuat dalam menjaga keaslian Al-Qur'an hingga hari ini.

Secara moral, para nabi sering diutus di tengah kekacauan sosial dan sistem yang bobrok untuk menjadi agen perubahan. Meskipun masyarakat Arab saat itu hidup dalam masa jahiliah, mereka memiliki fitrah yang jujur dan belum tertutupi oleh ideologi rumit. Ketika cahaya iman masuk, seluruh hidup mereka berubah total, seperti yang terjadi pada Umar bin Khattab dan Khalid bin Walid. Melalui sistem kabilah, berita kebenaran menyebar dengan kecepatan luar biasa. Kini, cahaya tersebut telah sampai kepada kita di seluruh dunia. Kita adalah pewaris risalah yang telah dijaga dengan pengorbanan para nabi. Semoga kita bisa menjaga amanah ini dan bertemu dengan Nabi di akhirat nanti. Amin ya rabbal alamin.

 Referensi:

Channel YouTube "Manhaj Islami"


Nilai Waktu (The Value of Time)

 NILAI WAKTU (THE VALUE OF TIME)


Pernahkah Anda berkata, "Nanti saja," atau "Besok saja"? Kita semua pernah. Awalnya tampak tidak berbahaya. Tapi inilah yang tidak kita sadari. Setiap "nanti" itu seperti pencuri kecil. Ia mencuri sedikit waktu kita. Dan ketika banyak "nanti" berkumpul, mereka dapat mencuri seluruh masa depan kita. Jam-jam berlalu saat kita menggulir layar dan menonton. Hari-hari berlalu saat kita merencanakan untuk memulai. Tahun-tahun berlalu saat kita menunggu momen yang sempurna.


Sumber gambar: 

https://wqa.co.id/wp-content/uploads/2021/04/manajemen-waktu.png

Setiap orang akan mendapatkan jumlah waktu yang sama dalam sehari. Orang yang menghargai waktu akan mencapai puncak kesuksesan dan orang yang menyia-nyiakannya akan terbakar dalam api penyesalan. Siswa yang menjadi juara kelas dan siswa yang gagal sama-sama mendapatkan jumlah waktu yang sama. Perbedaannya, yang satu menggunakannya, yang lain menyia-nyiakannya. Kisah ini tentang seorang anak laki-laki yang mempelajari kebenaran ini.

Mungkin kisahnya akan membantu Anda memahami sesuatu yang penting. Waktu tidak menunggu. Dengarkan kisah ini dengan saksama sampai akhir karena ini bukan hanya sebuah cerita. Ini adalah cermin. Anda mungkin melihat diri Anda di dalamnya.

Di sebuah kota kecil yang tenang, hiduplah seorang anak laki-laki yang memiliki segala yang dibutuhkannya. Orang tua yang penyayang, guru yang baik, dan rumah yang nyaman. Ia sangat cerdas, pintar, dan baik hati. Tetapi ia memiliki satu masalah besar, yaitu kemalasan.

Ia selalu menunda pekerjaannya. Ia mulai berkata, "Nanti saja," untuk segala jenis pekerjaan. Ketika ibunya memintanya membersihkan kamarnya, ia akan berkata, "Nanti saja, Bu." Ketika guru memberikan pekerjaan rumah, ia berpikir, "Aku punya banyak waktu." Ketika teman-temannya mengajaknya belajar keterampilan baru, ia menjawab, "Mungkin besok."

Hari-hari berganti menjadi minggu. Minggu menjadi bulan. Sementara teman-teman sekelasnya maju, anak laki-laki itu tetap di tempat yang sama. Teman-temannya belajar memainkan alat musik, mendapat nilai bagus dalam ujian, dan mengembangkan bakat baru. Tetapi anak laki-laki itu, ia masih berpikir dan menunggu untuk memulai. Orang tuanya khawatir. Guru-gurunya memarahinya. Mereka semua mengatakan hal yang sama. Waktu itu berharga. Jangan sia-siakan. Tetapi kata-kata mereka tidak memengaruhinya, seperti tetesan hujan di jendela. Ia pikir mereka hanya bersikap dramatis.

Suatu hari, merasa frustrasi setelah gagal ujian lagi, anak laki-laki itu memutuskan untuk mengunjungi seorang bijak yang tinggal di pinggir kota. Orang-orang mengatakan bahwa orang bijak ini memiliki jawaban atas masalah-masalah terbesar dalam hidup. Orang bijak itu duduk dengan tenang di bawah pohon beringin besar.

Melihat anak laki-laki itu, ia tersenyum dan bertanya, "Apa yang membawamu kemari, Nak? Mengapa kau tampak begitu khawatir? Aku kesal dan frustrasi. Semua orang mengatakan aku membuang-buang waktu, tetapi aku tidak mengerti mengapa itu menjadi masalah besar. Aku masih muda. Aku masih memiliki seluruh hidupku di depanku."

Orang bijak itu mengangguk sambil berpikir dan berkata, "Aku tahu kau sangat pintar, cerdas, dan anak yang baik, tetapi kau memiliki satu masalah besar." Anak laki-laki itu bertanya dengan terkejut. "Masalah? Masalah apa yang kumiliki? Aku memiliki semua yang kubutuhkan dalam hidupku." Orang bijak itu tersenyum lembut dan berkata, "Izinkan aku menceritakan kisah tentang orang miskin dan malas yang mungkin dapat membantumu memahami."

Orang bijak itu mulai menceritakan kisahnya. Dahulu kala ada seorang raja yang murah hati yang memerintah kerajaan yang makmur. Ia sangat murah hati. Ia sangat mencintai rakyatnya. Ia sangat terkenal karena sifatnya yang suka membantu dan kebaikannya. Ia membantu banyak orang miskin. Ia mengurus seluruh kerajaannya seperti seorang ayah mengurus anak-anaknya.

Suatu hari, saat berjalan-jalan di pasar, ia melihat seorang pria berteriak-teriak kepada orang-orang di sekitarnya dengan marah. Ia pergi untuk melihat apa yang terjadi pada pria itu. Namun, yang mengejutkannya, pria itu adalah teman sekelasnya sejak kecil. Ia sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan teman sekelasnya itu.

Raja melihat teman sekelasnya menjadi sangat miskin, menganggur, kehilangan semua rasa hormat di masyarakat, dan berjuang dalam hidupnya. Ia mendekatinya untuk memeriksa mengapa ia berteriak dengan marah. Raja memanggilnya lebih dekat dan menanyakan tentang kehidupannya. Teman sekelas yang miskin itu berkata, "Yang Mulia Raja, saya tidak mengerti mengapa orang-orang menganggap saya tidak berguna. Setiap kali saya melamar pekerjaan, mereka selalu menolak saya dan selalu berkata, 'Saya tidak menyelesaikan tugas tepat waktu. Saya tidak tahu harus berbuat apa sekarang, bagaimana memberi makan keluarga saya.'"

Merasa iba, raja berkata, "Temanku, aku ingin membantumu. Besok pagi, datanglah ke istanaku. Aku akan membuka perbendaharaanku untukmu. Dari matahari terbit hingga matahari terbenam, kamu dapat mengambil emas, perak, dan permata sebanyak yang kamu inginkan. Apa pun yang kamu kumpulkan, semuanya akan menjadi milikmu. Tetapi ingat, kamu hanya punya satu hari. Saat matahari terbenam, pintu akan tertutup selamanya."

Mata pria miskin itu berbinar gembira. Ia berterima kasih kepada raja dan pulang ke rumah, bermimpi tentang semua kekayaan yang akan ia kumpulkan.

Keesokan paginya, matahari terbit terang dan pagi-pagi sekali. Tetapi pria itu berpikir, "Aku punya waktu seharian penuh. Biarkan aku sarapan enak dulu." Ia makan perlahan, menikmati setiap suapan. Setelah sarapan, ia berpikir, "Masih ada banyak waktu sebelum matahari terbenam. Aku punya waktu untuk mengumpulkan harta hingga sore hari. Biarkan aku beristirahat sebentar." Ia berbaring untuk tidur siang singkat. Ketika ia bangun, matahari sudah tinggi di langit. Oh tidak, pikirnya, aku harus bergegas. Tetapi saat ia berjalan menuju istana, ia merasa lelah karena panas siang hari. Harta karun itu tidak akan hilang, pikirnya. Biarkan aku beristirahat di bawah pohon rindang ini selama beberapa menit.

Di bawah naungan yang sejuk, matanya kembali terasa berat. Ketika akhirnya ia terbangun, ia melihat matahari terbenam. Warna jingga dan merah mewarnai langit. Panik, ia berlari secepat mungkin menuju istana. Tetapi ketika ia tiba, terengah-engah dan kelelahan, para penjaga sudah menutup gerbang besar itu.

Ia memohon kepada penjaga untuk membuka gerbang sebentar, ia menangis. Raja berjanji kepadaku bahwa aku bisa mengambil harta karun. Penjaga itu menjawab, "Ya, tetapi hanya sampai matahari terbenam. Matahari telah terbenam. Kesempatan itu telah hilang." Pria itu berlutut, menyadari apa yang telah hilang darinya. Bukan karena ia tidak memiliki kesempatan, tetapi karena ia telah menyia-nyiakannya, berpikir bahwa ia memiliki lebih banyak waktu daripada yang sebenarnya.

Sang bijak menyelesaikan ceritanya dan memandang anak laki-laki yang duduk dalam keheningan yang tercengang. "Apakah kau mengerti sekarang?" tanya sang bijak dengan lembut. "Setiap hari seperti harta karun itu. Setiap matahari terbit membawa kesempatan untuk belajar, untuk tumbuh, untuk berkembang. Tetapi kesempatan-kesempatan ini tidak menunggu. Ketika hari berakhir, ia tidak akan pernah kembali."

Mata anak laki-laki itu berlinang air mata. Ia memikirkan semua hari yang telah disia-siakan, semua penundaan dan hari esok yang telah diucapkannya. Ia menyadari bahwa ia sama seperti orang miskin dalam cerita itu. "Tapi belum terlambat untukmu," lanjut orang bijak itu. "Kau masih muda. Harta karunmu masih terbuka. Tapi ingat, setiap matahari terbenam mengambil kesempatan yang tidak akan pernah kembali."

Anak laki-laki itu berdiri dengan tekad baru di matanya. Ia berterima kasih kepada orang bijak itu dan berlari pulang. Sejak hari itu, semuanya berubah. Ketika ibunya memintanya melakukan sesuatu, ia segera melakukannya. Ketika guru memberikan tugas, ia menyelesaikannya pada hari yang sama. Ketika kesempatan datang untuk mempelajari sesuatu yang baru, ia meraihnya tanpa ragu-ragu.

Nilainya meningkat. Ia belajar bermain gitar yang telah ditundanya selama berbulan-bulan. Ia membantu orang tuanya dengan pekerjaan rumah tangga. Ia bahkan mulai mengajar anak-anak yang lebih muda di lingkungannya. Dalam setahun, anak laki-laki yang dikenal selalu terlambat menjadi dikenal sebagai orang yang paling tepat waktu dan dapat diandalkan di sekolah.

Guru-gurunya memujinya. Orang tuanya bangga. Teman-temannya mengaguminya. Bertahun-tahun kemudian, ketika ia menjadi seorang pemuda yang sukses, orang-orang sering bertanya kepadanya, "Apa rahasiamu?" Ia akan tersenyum dan berkata, "Aku belajar bahwa waktu adalah satu-satunya harta yang benar-benar kita miliki. Setiap saat yang kita sia-siakan seperti membuang emas." Perbedaan antara sukses dan kegagalan tidak selalu terletak pada bakat atau keberuntungan. Itu adalah bagaimana kita menggunakan waktu kita. Jangan menunggu besok untuk melakukan apa yang bisa kamu lakukan hari ini. Karena terkadang besok tidak pernah datang.

Dan setiap kali ia bertemu seseorang yang berjuang dengan penundaan, ia akan menceritakan kisah perbendaharaan raja, seperti yang telah diceritakan oleh orang bijak kepadanya.

Kisah ini mengajarkan kita kebenaran yang mendalam. Hidup kita adalah perbendaharaan itu. Dan setiap hari, matahari terbit, pintu gerbang terbuka dengan peluang baru.

Tetapi inilah yang tidak disadari oleh sebagian besar dari kita. Kita semua hidup seperti orang miskin itu, berpikir kita memiliki waktu yang tak terbatas, berkata, "Aku akan melakukannya nanti. Aku akan mulai besok. Aku masih punya waktu." Kenyataan pahitnya adalah kemalasan adalah pencuri mimpi. Kegagalan tidak langsung diumumkan. Ia berbisik lembut, "Kamu bisa melakukannya nanti." Tetapi nanti menjadi tidak pernah.

Anak laki-laki dalam cerita kita beruntung. Ia mendapat peringatan keras saat masih muda. Tetapi banyak dari kita menjalani seluruh hidup tanpa menyadari bahwa setiap hari yang berlalu adalah harta karun tertutup yang tidak akan pernah bisa kita buka kembali. Ada pepatah terkenal, jika Anda menghargai waktu, waktu akan menghargai Anda. Tetapi jika Anda menyia-nyiakan waktu, waktu akan menghancurkan hidup Anda. Anda dapat mencapai apa pun jika Anda menggunakan waktu Anda dengan benar. Tetapi jika Anda menyia-nyiakannya, Anda akan kehilangan kesempatan dan hidup dengan penyesalan. Pikirkanlah. Berapa kali Anda melewatkan melakukan sesuatu, berapa kali Anda menunda pekerjaan Anda, setiap hari esok yang Anda janjikan pada diri sendiri adalah harta karun yang Anda pilih untuk tidak diambil hari ini.

Referensi:

Channel YouTube "Stream of Wisdom"

Selasa, 23 Desember 2025

Natal yang Terlarang, Kisah Saat Perayaan Ini Dianggap Ilegal

 

NATAL YANG TERLARANG: KISAH SAAT PERAYAAN INI DIANGGAP ILEGAL

 oleh: Trimanto B. Ngaderi


Natal. Kata itu sendiri terasa hangat. Kata itu mengingatkan kita pada cahaya lampu, tawa anak-anak, aroma pinus, dan sukacita tenang yang memenuhi rumah kita setiap bulan Desember. Kita menghias pohon. Kita menggantung kaus kaki. Kita memberi hadiah. Dan, tanpa banyak berpikir, kita ikut serta dalam tradisi yang dibagikan oleh jutaan orang di seluruh dunia. Tetapi teman-teman… pernahkah Anda berhenti dan bertanya-tanya mengapa? Mengapa kita menaruh pohon di dalam rumah? Mengapa kita menggantung kaus kaki di dekat perapian? Mengapa ada seorang pria tua berjas merah yang entah bagaimana tahu nama semua orang? Ini mungkin terdengar seperti pertanyaan sederhana—tetapi jawabannya sama sekali tidak sederhana. Karena kisah Natal bukan hanya tentang satu malam di Betlehem. Ini adalah kisah berabad-abad—tentang iman dan mitos, tentang sukacita dan kesulitan, tentang kebiasaan lama yang terlahir kembali dengan cara baru.

Sumber gambar https://wiki.ambisius.com


Setiap tradisi yang kita ketahui menyembunyikan sebuah kenangan—sepotong sejarah yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Beberapa kuno, lahir di tengah dinginnya musim dingin utara. Yang lain dibentuk oleh kebaikan seorang santo atau imajinasi seorang penulis. Namun semuanya bermuara pada satu tempat: hati manusia dan kebutuhan mendalamnya akan cahaya di tengah kegelapan. Jadi hari ini, mari kita memulai perjalanan. Mari kita uraikan sejarah liburan yang indah ini bersama-sama. Mari kita cari tahu mengapa, selama ribuan tahun, manusia berkumpul pada waktu ini setiap tahun untuk merayakan harapan. Ini bukan hanya kisah satu hari. Ini adalah kisah Natal.

Untuk memahami Natal, kita harus terlebih dahulu memahami musim dingin. Jauh sebelum ada gereja atau pusat perbelanjaan, orang-orang hidup di dunia yang dikuasai oleh alam. Di bagian utara dunia, musim dingin adalah waktu yang menakutkan. Matahari menghilang lebih awal. Udara menjadi sangat dingin. Tanah menjadi keras dan sunyi. Hidup terasa seperti sedang sekarat. Tetapi tepat di tengah kegelapan yang dingin itu datanglah Titik Balik Musim Dingin—hari terpendek dalam setahun. Bagi orang-orang kuno, ini adalah momen yang sangat bermakna. Itu adalah malam ketika kegelapan berada pada puncaknya, tetapi juga merupakan titik balik. Setelah titik balik, hari-hari perlahan akan mulai menjadi lebih panjang. Matahari akan kembali.

Bangsa Romawi memiliki festival untuk ini yang disebut Saturnalia. Itu adalah waktu yang meriah dan penuh sukacita di bulan Desember di mana orang-orang berhenti bekerja, berbagi makanan, dan saling memberi hadiah. Mereka menghiasi rumah mereka dengan tanaman hijau untuk mengingatkan diri mereka sendiri bahwa kehidupan akan kembali di musim semi. Jauh di utara, orang-orang Jermanik dan Norse merayakan Yule. Mereka menyalakan api unggun besar untuk mengusir kegelapan dan membawa pohon cemara ke rumah mereka. Pohon-pohon ini tetap hijau sementara yang lain mati, sehingga mereka dipandang sebagai simbol kehidupan yang tidak pernah berakhir. Bahkan saat itu, ribuan tahun yang lalu, manusia melakukan apa yang masih kita lakukan hingga hari ini: kita berkumpul, kita menyalakan api, dan kita saling mengingatkan bahwa cahaya akan selalu kembali.

Kemudian, semuanya berubah dengan seorang bayi di palungan. Kisah kelahiran Yesus adalah inti dari Natal bagi miliaran orang. Tetapi ada sesuatu yang mungkin mengejutkan Anda: Alkitab sebenarnya tidak pernah mengatakan bahwa Yesus lahir pada tanggal 25 Desember. Bahkan, banyak sejarawan berpikir bahwa ia kemungkinan besar lahir di musim semi atau musim panas. Jadi, mengapa kita merayakannya di bulan Desember? Pada abad keempat, Gereja mula-mula memilih tanggal 25 Desember. Mereka melakukan ini dengan sengaja. Mereka ingin mengambil tradisi lama itu—Saturnalia Romawi dan api Yule—dan memberinya makna baru. Mereka mengambil "kembalinya matahari" dan mengubahnya menjadi "kelahiran Sang Putra." Lampu, dedaunan, dan berkumpulnya keluarga tetap ada, tetapi sekarang mereka merayakan pesan perdamaian di bumi dan niat baik terhadap sesama manusia.

Natal tidak selalu menjadi liburan keluarga yang nyaman seperti yang kita kenal sekarang. Bahkan, untuk waktu yang lama, Natal itu ramai dan berantakan! Di Abad Pertengahan, Natal seperti pesta jalanan raksasa. Orang miskin akan pergi ke rumah orang kaya dan meminta makanan dan minuman—tradisi yang akhirnya menjadi nyanyian Natal. Natal begitu liar sehingga beberapa orang, seperti kaum Puritan di Inggris dan Amerika awal, bahkan mencoba melarang Natal! Mereka berpikir Natal terlalu mirip pesta dan tidak cukup seperti doa. Untuk sementara waktu, di tempat-tempat seperti Boston, bahkan ilegal untuk merayakannya. Tetapi Anda tidak bisa menghentikan cerita yang bagus. Orang-orang masih menginginkan kehangatan itu di musim dingin.

Pada tahun 1800-an, Natal terlahir kembali. Seorang penulis terkenal bernama Charles Dickens menulis sebuah buku berjudul A Christmas Carol. Buku itu menceritakan kisah Ebenezer Scrooge dan mengingatkan semua orang bahwa Natal seharusnya tentang kebaikan, amal, dan keluarga. Sekitar waktu yang sama, Ratu Victoria dan Pangeran Albert mempopulerkan pohon Natal di Inggris, membawa tradisi kuno Jerman itu ke setiap ruang tamu. Dan kemudian, ada tokoh paling terkenal dari semuanya: Santa Claus. Ia bermula sebagai seorang pria sungguhan—Santo Nicholas—seorang uskup pada abad keempat yang dikenal karena pemberian hadiah rahasianya. Selama ratusan tahun, kisahnya bercampur dengan legenda Belanda tentang "Sinterklaas" dan puisi "A Visit from St. Nicholas." Perlahan, pria berjanggut putih dengan setelan merah itu lahir.

Saat ini, Natal adalah sebuah permadani. Ini adalah campuran api kuno dan lampu modern, dari kedalaman Iman dan keajaiban masa kanak-kanak. Tidak masalah apakah Anda merayakannya sebagai hari raya keagamaan atau waktu untuk keluarga—intinya sama. Ini adalah jeda dalam setahun. Ini adalah momen di mana kita memutuskan bahwa kebaikan lebih penting daripada pekerjaan, dan bahwa kebersamaan adalah hadiah terbesar dari semuanya. Bahkan dalam kehidupan kita yang sibuk, ketika semuanya terasa lebih keras dan lebih cepat, semangat Natal membisikkan kata-kata lembut yang sama: Perlambat. Lihatlah sekeliling. Berbuat baiklah. Karena Natal bukan hanya satu hari di kalender—itu adalah perasaan yang kita bawa, percikan yang tidak pernah pudar. Jadi malam ini, di mana pun Anda berada—jika Anda merasakan kehangatan itu di hati Anda, Anda adalah bagian dari kisah ini. Dan mungkin, temanku, itulah arti Natal yang sebenarnya.

Referensi:

Channel YouTube “English Mindcast”

Sejarah Awal Mula Penemuan Kopi

 

SEJARAH AWAL MULA PENEMUAN KOPI


Luangkan waktu sejenak dan pikirkan tentang pagi Anda. Apa hal pertama yang Anda lakukan saat bangun tidur? Apakah Anda memeriksa ponsel Anda? Meregangkan tubuh Anda? Atau mungkin… membuat secangkir kopi? Bagi banyak orang di seluruh dunia, kopi bukan hanya sekadar minuman. Kopi adalah teman sehari-hari, awal yang hangat, dan percikan kecil yang membangunkan pikiran. Setiap hari, orang minum lebih dari dua miliar cangkir kopi. Itu berarti, hampir setiap saat, seseorang di suatu tempat sedang memegang secangkir kopi hangat.

Kopi memberi kita energi. Tetapi kopi juga memberi kita waktu—waktu untuk berpikir, berbicara, dan bermimpi. Kopi menghubungkan orang-orang di kafe kecil, kantor yang sibuk, dan rumah yang tenang. Kopi telah menjadi produk yang paling banyak diperdagangkan kedua di dunia, setelah minyak. Perang terjadi karena kopi. Kekaisaran menjadi kaya karenanya. Dan revolusi lahir di sampingnya. Tetapi inilah bagian yang aneh. Penemuan kopi—cara kita memanggang, menggiling, dan menyeduhnya—tidak pernah direncanakan. Kopi tidak ditemukan oleh seorang raja atau ilmuwan. Kopi dimulai dengan sekelompok kambing yang menari dan seorang pria yang penasaran di dataran tinggi Ethiopia. Ya, kambing! Dan kecelakaan itu akan mengubah sejarah manusia selamanya.

Jadi hari ini, mari kita kembali ke masa lalu. Mari kita temukan bagaimana satu buah beri merah kecil menjadi minuman favorit dunia. Ini bukan hanya cerita tentang kopi. Ini adalah cerita tentang rasa ingin tahu, kesalahan, dan keajaiban penemuan manusia. Jadi, duduklah, rileks, dan mungkin minumlah sedikit dari cangkir Anda sendiri. Inilah Keagungan Kopi yang Tak Sengaja.

Sebelum kopi hadir di dunia, kehidupan sangat berbeda. Orang-orang bekerja dengan matahari dan beristirahat dengan bulan. Tidak ada cara cepat untuk tetap terjaga, tidak ada cara mudah untuk merasa waspada. Ketika malam tiba, orang-orang menjadi lelah dan berhenti bekerja. Minuman umum pada waktu itu sederhana: air, susu, dan anggur. Air tidak selalu bersih. Susu cepat basi. Anggur dan bir ada di mana-mana, bahkan saat sarapan. Minuman itu membantu orang rileks, tetapi juga membuat orang mengantuk dan lambat. Tidak ada minuman yang dapat membuat orang tetap terjaga dan fokus.


Sumber gambar https://dialeksis.com


Di gurun dan kota-kota di Arab dan Afrika Utara, kehidupan sangat sulit. Siang hari panas, malam hari panjang, dan pekerjaan tak pernah berakhir. Pedagang, pelancong, dan pelajar sering begadang hingga larut malam. Bagi sebagian orang, seperti para biarawan Sufi, begadang adalah bentuk doa. Mereka ingin berbicara dengan Tuhan di saat-saat sunyi dalam kegelapan. Tetapi mereka membutuhkan bantuan. Mereka membutuhkan sesuatu untuk menjaga mata mereka tetap terbuka. Pada saat itu, orang-orang sudah mengetahui tentang buah beri merah kecil yang tumbuh di semak-semak liar. Beberapa orang memakannya mentah untuk mendapatkan energi. Yang lain mencampurnya dengan lemak hewan untuk membuat bola makanan untuk perjalanan panjang. Tetapi tidak ada yang berpikir bahwa biji kecil di dalamnya—yang kita sebut biji kopi—dapat mengubah dunia. Itu hanyalah tanaman lain di hutan, tidak ada yang istimewa, tidak ada yang penting. Umat manusia sedang menunggu sesuatu yang baru—sesuatu yang dapat menjaga tubuh tetap tenang tetapi pikiran tetap hidup. Mereka membutuhkan minuman yang dapat memberikan fokus tanpa mabuk, energi tanpa kekacauan. Hanya dibutuhkan satu orang untuk memperhatikan… satu hati yang ingin tahu untuk melihat apa yang diabaikan orang lain.

Kisah kita dimulai di dataran tinggi hijau Ethiopia, lebih dari seribu tahun yang lalu. Di sana hiduplah seorang penggembala kambing muda bernama Kaldi. Dia adalah seorang pria sederhana. Setiap hari, dia membawa kambing-kambingnya ke perbukitan untuk makan dan bermain. Dia menyayangi hewan-hewannya dan mengenal mereka dengan baik. Tetapi suatu hari, dia memperhatikan sesuatu yang aneh. Kambing-kambingnya melompat dan berlari liar. Mereka tampak sangat bahagia dan penuh energi. Kaldi terkejut—mereka belum pernah berperilaku seperti ini sebelumnya. Dia mengikuti mereka dan melihat bahwa mereka sedang memakan buah beri merah kecil dari semak hijau tua. Karena penasaran, Kaldi memetik beberapa buah beri dan mencicipinya sendiri. Segera, dia merasa terjaga, bersemangat, dan penuh kehidupan. Kaldi berpikir, “Buah beri ini istimewa. Mereka memberi kekuatan dan kegembiraan.”

Dia ingin berbagi penemuannya. Jadi dia membawa buah beri itu ke biara terdekat. Di sana, dia bertemu dengan seorang biarawan dan menceritakan apa yang telah terjadi. Tetapi biarawan itu takut. Dia mengatakan buah beri itu adalah “karya setan” dan melemparkannya ke dalam api. Kemudian sesuatu yang menakjubkan terjadi. Saat buah beri terbakar, aroma yang kaya dan indah memenuhi ruangan. Para biarawan terkejut dengan aroma manis dan hangat itu. Mereka mengambil biji yang telah dipanggang dari api dan menghancurkannya. Kemudian mereka mencampur bubuk itu dengan air panas. Malam itu, para biarawan meminum minuman gelap baru itu… dan tetap terjaga selama doa mereka. Itulah secangkir kopi pertama. Kopi lahir bukan dari sains atau penemuan, tetapi dari kecelakaan dan rasa ingin tahu. Kambing-kambing Kaldi memulainya. Seorang biarawan yang ketakutan melanjutkannya. Dan sebuah kesalahan sederhana menciptakan sesuatu yang akan mengubah dunia. Terkadang, penemuan terbesar dimulai dengan pikiran terbuka dan hati yang kecil dan penuh rasa ingin tahu.

Kisah Kaldi dan para biarawan hanyalah permulaan. Tetapi perjalanan kopi yang sebenarnya—yang membentuk dunia kita—dimulai ratusan tahun kemudian. Biji-biji kecil itu menyeberangi Laut Merah, dari Ethiopia ke Yaman. Di sana, pada tahun 1400-an, kopi menemukan rumah sejatinya. Di Yaman, sekelompok orang suci yang disebut Sufi mulai menggunakan kopi. Mereka membutuhkan sesuatu untuk membantu mereka tetap terjaga selama malam-malam panjang berdoa. Mereka menemukan bahwa Ketika biji kopi dipanggang dan diseduh, minuman itu menjadi lebih kuat dan lebih lezat. Minuman itu memberi mereka energi, fokus, dan kedamaian.

Awalnya, mereka tidak memiliki mesin atau alat. Mereka memanggang biji kopi dalam wajan logam kecil di atas api terbuka. Mereka mendengarkan dengan saksama suara gemericik kecil itu. Mereka mencium aroma udara untuk mengetahui kapan pemanggangan sudah sempurna. Itu adalah seni, bukan sains—proses yang sabar yang dibuat dengan hati dan tangan. Terkadang biji kopi gosong. Terkadang minumannya terlalu pahit atau terlalu encer. Tetapi kaum Sufi tidak berhenti. Mereka terus mencoba, berulang kali. Dengan setiap kesalahan, mereka mempelajari sesuatu yang baru. Mereka menemukan bahwa semakin lama pemanggangan, semakin dalam rasanya. Panas itu dapat membuka inti dari biji kopi.

Segera, kabar tentang minuman itu menyebar ke luar biara. Para pedagang, pelancong, dan cendekiawan mulai mencobanya. Mereka menyebutnya "qahwa," yang berarti "minuman yang memberi kekuatan." Orang-orang meminumnya untuk belajar, berdoa, bekerja, dan sekadar merasa hidup. Untuk pertama kalinya, ada minuman yang mempertajam pikiran alih-alih menumpulkannya. Minuman itu menjadi bagian dari kehidupan spiritual mereka, dan kemudian kehidupan sehari-hari mereka. Dalam pot tanah liat kecil, di atas api terbuka, orang-orang mulai menyeduh kopi di mana-mana—di rumah, di pasar, dan di masjid. Itu bukan lagi sekadar penemuan. Itu telah menjadi tradisi, ritual, cara untuk berbagi waktu dan percakapan. Perjalanan kopi adalah perjalanan kesabaran dan keyakinan. Tidak ada yang menciptakannya di laboratorium. Itu dibentuk oleh berabad-abad eksperimen kecil dan pengabdian yang tenang. Para biarawan dan Sufi hanya ingin tetap terjaga untuk berdoa—tetapi dengan melakukan itu, mereka membangunkan dunia.

Selama berabad-abad, kopi adalah minuman para biarawan dan mistikus. Tetapi suatu hari, sesuatu berubah. Kopi meninggalkan dinding biara yang tenang dan memasuki jalan-jalan kota yang ramai. Kopi bukan lagi sekadar minuman untuk berdoa—ia menjadi minuman bagi masyarakat. Pada tahun 1500-an, kopi mencapai kota Mekah, salah satu pusat besar dunia Islam. Orang-orang di sana menyukai rasa, kehangatan, dan energi yang diberikannya. Tak lama kemudian, tempat-tempat kecil dibuka di mana orang-orang dapat berkumpul, duduk bersama, dan minum. Inilah kedai kopi pertama di dunia. Di dalam tempat-tempat ini, udara dipenuhi percakapan dan tawa. Aroma kopi bercampur dengan suara musik dan perdebatan. Orang-orang membicarakan bisnis, puisi, dan politik. Mereka bermain game, bercerita, dan berbagi mimpi. Kedai kopi menjadi ruang jenis baru—terbuka untuk ide, terbuka untuk orang-orang. Seorang penulis pada waktu itu berkata, “Di Mekah, orang-orang minum qahwa dan berkumpul dalam jumlah besar. Mereka membicarakan urusan mereka dan tetap terjaga tanpa kesulitan.” Itu benar—kopi memberi orang kekuatan untuk tetap terjaga, tetapi juga untuk berpikir, berimajinasi, dan berkreasi. Inilah terobosan sebenarnya. Kopi bukan lagi sekadar minuman—ia adalah sebuah gerakan. Kopi mengubah cara orang bekerja, cara mereka bertemu, dan cara mereka berbagi ide. Di ruangan-ruangan kecil yang dipenuhi tawa dan aroma itu, masyarakat modern mulai terbentuk.

Setiap penemuan besar pasti menghadapi ketakutan. Dan kopi tidak berbeda. Ketika pertama kali menyebar ke seluruh kota, tidak semua orang senang. Beberapa pemimpin, pendeta, dan raja melihatnya sebagai sesuatu yang berbahaya—minuman yang dapat mengubah pikiran orang. Di Mekah, sekitar tahun 1511, gubernur melarang kopi. Ia mengatakan kopi membuat orang malas dan pemberontak. Ia percaya kedai kopi adalah tempat gosip dan masalah. Orang yang terlalu banyak minum kopi, katanya, bisa melupakan doa mereka. Tetapi orang-orang terlalu menyukai kopi untuk meninggalkannya. Mereka bertemu secara rahasia di ruangan-ruangan kecil, berbagi cangkir dan bisikan. Bagi banyak orang, kopi lebih dari sekadar minuman—itu adalah kebebasan. Kopi memberi mereka energi untuk berpikir, bertanya, dan bermimpi.

Ketika kopi mencapai Eropa, hal itu menyebabkan lebih banyak perdebatan. Beberapa pemimpin gereja menyebutnya "minuman setan." Mereka mengatakan kopi berasal dari negeri Muslim dan harus dilarang bagi orang Kristen. Tetapi kemudian, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Paus Clement VIII memutuskan untuk mencicipinya sendiri. Setelah menyesapnya pertama kali, ia tersenyum dan berkata: “Minuman setan ini begitu lezat sehingga akan menjadi dosa jika hanya orang kafir yang meminumnya.” Dengan itu, ia memberkati kopi—dan orang-orang bersorak. Namun, tidak semua penguasa menyukai minuman baru ini. Di Inggris, Raja Charles II mencoba menutup kedai kopi. Ia mengatakan bahwa kedai kopi penuh dengan orang-orang yang banyak bicara dan pembuat onar. Tetapi orang-orang memprotes, dan larangan itu segera dicabut. Kopi telah menang. Tidak ada hukum yang dapat menghentikannya. Kopi telah menjadi simbol kebebasan—percakapan terbuka, pemikiran terbuka, dan hati yang terbuka.

Setelah kopi diterima, dunia mulai berubah. Ke mana pun kopi pergi, ia membawa kebiasaan baru, energi baru, dan ide-ide baru. Minuman kecil yang dimulai di pegunungan Ethiopia kini telah mencapai jantung kota-kota besar. Di Eropa, kedai kopi menjadi pusat kehidupan. Kedai kopi terbuka untuk siapa saja—kaya atau miskin, pekerja atau penulis. Orang-orang hanya membayar satu sen untuk secangkir kopi, sehingga mereka menyebutnya "universitas sen". Karena dengan harga secangkir kopi, Anda dapat belajar lebih banyak daripada di ruang kelas. Di dalam kedai kopi itu, orang-orang membicarakan sains, seni, dan filsafat. Mereka berbagi buku, berdebat tentang politik, dan membayangkan masa depan. Di tempat-tempat seperti inilah perubahan besar dimulai—lahirnya surat kabar, penemuan-penemuan baru, dan bahkan revolusi.

Di London, sebuah kedai kopi menjadi Lloyd’s of London, perusahaan asuransi besar pertama. Kedai kopi lainnya menjadi Bursa Saham London. Di Prancis, para penulis dan pemikir seperti Voltaire bertemu untuk membahas kebebasan dan akal sehat. Dan di Wina, para musisi menemukan inspirasi sambil menikmati secangkir kopi hitam. Tetapi perubahan terbesar terjadi di pagi hari. Sebelum kopi, orang sering minum bir atau anggur saat sarapan. Itu membuat mereka lamban dan mengantuk. Setelah kopi hadir, pagi hari menjadi lebih cerah, lebih cepat, dan lebih fokus. Dunia, untuk pertama kalinya, benar-benar terjaga. Kopi memberi orang lebih dari sekadar energi— Kopi memberi mereka koneksi. Kopi mengubah orang asing menjadi teman, dan keheningan menjadi percakapan. Kopi menjadi bagian dari budaya, pekerjaan, dan cinta. Dan kopi terus membentuk hari-hari kita, satu cangkir demi satu cangkir.

Saat dunia mulai mencintai kopi, sesuatu yang baru terjadi—kopi mulai berkelana. Kopi melintasi samudra, gunung, dan kerajaan. Apa yang dimulai sebagai minuman lokal di Ethiopia dan Yaman menjadi kisah global. Bangsa Arab awalnya merahasiakan kopi. Mereka memanggang biji kopi sebelum diekspor sehingga tidak ada yang bisa menanamnya di tempat lain. Tetapi segera, negara-negara lain juga menginginkan harta karun ini. Pada tahun 1600-an, Belanda berhasil mendapatkan beberapa tanaman hidup dari Yaman. Mereka mulai menanamnya di koloni mereka di Jawa, Sri Lanka, dan Amerika Selatan. Prancis mengikuti. Pada tahun 1723, seorang perwira angkatan laut muda bernama Gabriel de Clieu membawa bibit kopi dari Paris ke pulau Martinique. Perjalanan itu panjang dan berbahaya—badai, bajak laut, dan rasa haus.

Namun ia berhasil menjaga tanaman itu tetap hidup, bahkan berbagi airnya sendiri dengannya. Dari satu biji itu, jutaan pohon kopi suatu hari akan tumbuh di seluruh Amerika Latin.

Segera, perkebunan kopi menyebar ke seluruh wilayah tropis—Brasil, Kolombia, Indonesia, dan Vietnam. Tetapi pertumbuhan ini datang dengan harga yang mahal. Sebagian besar pekerjaan dilakukan oleh orang-orang yang diperbudak dan petani miskin. Kopi membawa kekayaan bagi sebagian orang, tetapi kesulitan bagi banyak orang lainnya. Pada tahun 1800-an, Brasil menjadi produsen kopi terbesar di dunia. Kopi menggerakkan perekonomiannya. Namun, minuman itu sendiri tidak pernah berhenti tumbuh popularitasnya. Pabrik-pabrik mulai memanggang dan menggiling kopi dalam skala besar. Dunia menginginkan kopi—di rumah, di tempat kerja, di mana pun.

Pada abad ke-20, penemuan-penemuan baru mengubah segalanya lagi. Mesin espresso di Italia menciptakan kopi yang lebih cepat, lebih kuat, dan lebih kaya. Kemudian muncul kopi instan, yang membuat minuman ini tersedia bagi tentara, pekerja, dan orang-orang sibuk di mana pun. Kopi telah menjadi bukan hanya minuman, tetapi simbol kehidupan modern. Saat ini, lebih dari 70 negara menanam kopi. Kopi menghubungkan para petani di daerah tropis dengan para pekerja kantoran di kota-kota, dari São Paulo hingga Saigon. Kopi memicu percakapan, seni, bisnis, dan mimpi. Kopi telah menjadi salah satu jembatan terkuat antar budaya—secangkir sederhana yang menyatukan dunia.

Kisah kopi bukan hanya tentang minuman. Ini tentang orang-orang—mimpi mereka, pekerjaan mereka, dan rasa ingin tahu mereka yang tak terbatas. Dari seorang gembala dan kambing-kambingnya yang menari hingga para biarawan yang berdoa, hingga para pedagang, pemikir, dan pekerja—kopi telah menyentuh setiap jenis kehidupan. Awalnya terjadi secara tidak sengaja, tetapi kemudian menjadi simbol koneksi. Kopi membantu orang tetap terjaga, tetapi juga membantu mereka terbangun dari dalam—untuk berpikir, belajar, berkreasi, dan berbagi. Setiap cangkir membawa sejarah berabad-abad dan kehangatan tangan manusia. Para penulis menyebutnya "bahan bakar pikiran." Para seniman mengatakan kopi membantu ide-ide berkembang seperti cahaya pagi. Dan mungkin itu benar—kopi memberi kita lebih dari sekadar energi; kopi memberi kita fokus, harapan, dan ritme. Kopi adalah jeda antara kekacauan dan kreativitas.

*****

Hari ini, ketika Anda duduk dengan secangkir kopi di pagi yang tenang atau di kafe yang ramai, Anda adalah bagian dari kisah panjang umat manusia ini. Sebuah kisah yang lahir dari rasa ingin tahu, kesabaran, dan kemauan untuk tetap terjaga di dunia yang tertidur. Dari api dan buah beri, hingga mesin dan kafe, kopi mengingatkan kita pada apa yang paling baik dilakukan manusia: mengubah sesuatu yang kecil dan biasa menjadi sesuatu yang mengubah dunia. Jadi, lain kali Anda menyesapnya, ingatlah perjalanan ini. Sebuah perjalanan yang dimulai dengan kambing, melintasi samudra, menginspirasi revolusi, dan kini ada di tangan Anda. Karena kisah kopi juga merupakan kisah kita.

Referensi:

Channel YouTube “English Mindcast”

 

Kamis, 18 Desember 2025

When The Musi River Clears Up

WHEN THE MUSI RIVER CLEARS UP

By: Trimanto B. Ngaderi

 

This was the first time my feet had set foot on the island of Sumatra. I looked around. A sea of ​​neatly lined houses appeared. The stilt houses had whitewashed wooden walls and zinc roofs. Each house was surrounded by a small moat. A bridge made of nipah palm logs provided access. Wild, lush grass, especially ferns, filled the gardens around the houses. Yes, a transmigration settlement in the tidal zone along the Musi River.

Sumber gambar:

https://4.bp.blogspot.com/-tzzq4Q9WUbk/XdLYkd4vK3I/AAAAAAAAA_s/kvJ_dFQJE-k7XPxwBDNSGZSZDuIOCk5wQCLcBGAsYHQ/s1600/sejarah-sungai-musi-palembang.jpg

Is this the country I will live in? I whispered to myself.

I walked hesitantly. A sense of uncertainty enveloped my heart. My curiosity, felt throughout the journey on the Bugis boat from Palembang, had been answered. Since childhood until the age of 15, I had never left my hometown, a village on the slopes of Mount Merapi-Merbabu, Central Java. Now, I was in a foreign land with conditions so vastly different, I had never even imagined it.

I continued walking toward the house we would be moving into. I glanced at the faces of my parents and my two younger siblings. There was shock on their faces, tired after almost a week of travel. On the other hand, I also caught a glimmer of hope for the future in their eyes.

The receding tide accompanied our steps, accompanied by the disappearance of the Bugis boat that had brought us. The air was extremely hot because there were no large trees. Perhaps this was once a dense forest, then the trees were cut down to make way for new settlements.

*****

In the 1980s, my parents decided to participate in the transmigration program. The limited agricultural land in Java and the hope of a better life compelled them to seek their fortunes on the other side of the island.

My parents actually wanted to migrate to a palm oil plantation area. However, at that time, the only options available were to tidal areas. Some even called them wetlands. We had no idea what the conditions would be like. Since childhood, we had lived in dry areas or rain-fed agriculture.

Upon arriving at the transmigration site, the ditches around the houses experienced ebb and flow throughout the day and night, following the conditions of the Musi River. Each residential area had a large canal built from the main river, called the Primary Canal, or P for short. Our residential area was named P-14.

From the Primary Canal, branches were also created, called Secondary Canals. These canals flowed through the settlements until they reached the fields. These canals also connected to the ditches surrounding the houses. There were sluice gates that could be opened and closed to prevent flooding.

Each family head was given one hectare of land and one hectare of land for the second. The trees on the first field had been cut down, while the second field was still virgin forest. I think the area here is more accurately described as a swamp. The fields were often waterlogged and overgrown with ferns. The soil was covered with a thick layer of peat. At the time, we didn't know that peat is the best natural fertilizer. It comes from the roots of ferns and other plants, as well as the decaying leaves. "Stack it over there, then burn it, okay, Le!" my father instructed as I helped him clear the field.

In the dry season, the fields also dry out. There's little standing water in the swamps. Peat burns easily. It's the perfect time to clear the field or clear a new plot of land in the second field. To plant secondary crops, we've implemented a surjan system.

"I'm going home now, sir. The sun is almost directly overhead, and it's almost time for Zuhr prayers," I said goodbye to my father.

As the eldest son, I help my father in the fields for half the day every day. After lunch and Zuhr prayers, I walk to school, about 5 kilometers away.

In the transmigration area, there's only an elementary school. As a first-grade junior high school student, I go to school during the day because the classrooms are still shared with the elementary school. The teachers are also highly educated transmigrants. For administrative matters, our school is affiliated with a private school in Palembang.

I walk along the embankment along the Primary Canal. The hot sun burns my skin. The tide is high. The water was murky and muddy. Tek…tek…tek… Bugis small boats plyed their trade, transporting goods and passengers. Several speedboats were also seen dropping off passengers at a small pier.

On the embankment across the canal, some of my school friends were also walking to school.

"Come on, hurry up, you're going to be late!" they shouted as they walked quickly.

The majority of those living across the canal were Sundanese. The P-14 canal has a diverse population. There are Javanese, Sundanese, Madurese, and Balinese. It seems the government is deliberately implementing a random system.

in the placement of trans residents to ensure cultural acculturation.

After about 30 minutes of walking, I arrived at school. Sweat poured down my body. My eyes were dizzy. My breath was a little labored. My body was also exhausted, especially since before school, I had to help work in the fields. There were no stalls or vendors. In fact, I hadn't brought water or food to school.

After waiting for over an hour, not a single teacher had arrived. This happened often, so we weren't surprised. In the six days of school, there were usually one or two days when there were no teachers. Either they were busy in the fields, or they were less enthusiastic about teaching because they only received a small salary.

We decided to bathe in the Primary Canal. Especially since it was high tide. We headed to a small pier made of ironwood planks. We stripped off our clothes and jumped into the fast-flowing river, which was more than five meters deep.

We were generally brave. None of us were afraid of drowning or being swept away by the current. Water had become an integral part of our lives. At first, we couldn't swim, and we were even afraid of water. But nature had taught us everything. Back in Java, the river in our village was small and only knee-deep.

"Danang, come on! Let's do a somersault together," Cecep called from the dock.

After a satisfying bath in the Primary Canal, we dressed and prepared to head home. Getting wet pants didn't matter; they would dry naturally in the sun on the way home. 

Senin, 15 Desember 2025

Mengirim Cerita Anak ke Penerbit Dunia

Mengirim Cerita Anak ke Penerbit Dunia


Kita tahu rasanya bingung. Kita sudah menulis dalam bahasa Inggris, tapi bingung. Ingin mengirimkan naskah ke penerbit luar negeri tapi tidak tahu harus ke mana. Apalagi kalau tanpa agen. Takut tidak akan dilirik karena bukan penulis dari negara berbahasa Inggris.

Faktanya, ada penerbit buku anak yang terbuka untuk penulis internasional. Ada yang menerima naskah langsung tanpa agen. Yang mereka cari bukan paspor penulisnya tetapi ceritanya. Kita tidak harus sempurna untuk mulai. Kita hanya perlu mulai.

Daftar Penerbit yang Menerima Naskah Tanpa Agen (Unagented Submissions):

  • Blue Dot Kids Press (USA) – menerima unagented submissions dari penulis/ilustrator dari seluruh dunia.
  • Flashlight Press (USA) – menerima naskah langsung dari penulis baru (unagented).
  • Arbordale Publishing (USA) – menerima naskah langsung dari penulis tanpa agen.
  • Eerdmans Books for Young Readers (USA) – menerima naskah unsolicited lewat email.
  • Pajama Press (Canada) – menerima naskah dari penulis internasional.
  • Wacky Bee Books (UK) – juga menerima unsolicited submissions dari penulis tanpa agen jika mengikuti pedoman mereka.
  • Lantana Publishing (UK) – terbuka menerima naskah langsung dari penulis, termasuk internasional.
  • Kane Miller Books (AS/Global) – dikenal menerima naskah dari berbagai penulis di seluruh dunia.
  • Barefoot Books (UK/AS) – penerbit global yang menerima naskah tanpa perlu agen.
  • Holiday House (AS) – menerima unsolicited manuscripts termasuk dari penulis non-agen (tidak bergantung pada kewarganegaraan) – asalkan mengikuti pedoman pengiriman manuskrip mereka.
  • Albert Whitman & Company (AS) – menerima naskah langsung tanpa agen; penulis internasional dapat mengirimkan kiriman mereka sesuai panduan.
  • Annick Press (Kanada) – menerima naskah dari penulis baru secara langsung, termasuk tanpa agen; tidak dibatasi pada penulis Kanada saja.


Sumber gambar:

https://journeytokidlit.com/wp-content/uploads/2022/09/Updated-Journey-to-KidLit-Pinterest-1-1-5.png


Catatan Penting Sebelum Kirim Naskah

  • Periksa pedoman pengiriman masing-masing penerbit secara detail di situs resmi mereka — termasuk format file yang dibutuhkan (mis. Word atau PDF), batasan jumlah kata, dan apakah mereka meminta query letter atau sinopsis.
  • Beberapa penerbit kecil mungkin meminta penilaian manuskrip berbayar dulu (mis. Wacky Bee Books menyarankan layanan appraisal sebelum submit) – tetapi tetap bisa submit tanpa agen.
  • Untuk penerbit besar seperti Penguin Random House, HarperCollins, Puffin, dan Nosy Crow, biasanya lebih sering menerima naskah melalui agen, atau hanya buka jendela submit tertentu. Jadi perlu cek apakah mereka lagi buka periode submit langsung.

Tips Penting

  • Gunakan bahasa Inggris natural.
  • Cerita universal (emosi, keluarga, persahabatan).
  • Panjang sesuai usia pembaca.
  • Riset penerbit sebelum kirim.

Referensi:

Akun Instagram Benny Rhamdani