Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2026

Walid II, Khalifah Dinasti Umayyah Penyuka Sesama Jenis

 WALID II, KHALIFAH DINASTI UMAYYAH PENYUKA SESAMA JENIS

 

Subuh dini hari 744 Masehri di Istana Kekhilafan Islam. Pintu istana diobrak bukan oleh musuh. Bukan oleh Romawi ataupun Persia.

 

sumber: FB ILUSTRATOR INDONESIA

Pendobrak itu masuk membawa pedang yang ternyata adalah sepupunya sendiri dari karangan Bani Umayyah itu sendiri. Sang halifah berdiri di pojokan ruangan mencoba untuk bersembunyi. Gerlas anggur yang masih di tangannya tumpah membasahi jubah sutranya.

 

Barangkali ia telah mencoba berkata-kata kepada penyerangnya. Untuk merayu mereka. Demi Allah aku ini amirul mu'minin loh.

 

Tenang dulu, kita bicarakan baik-baik. Atau dia mungkin akan berkata, apapun yang kamu minta setelah ini akan aku penuhi. Tapi jangan bunuh aku.

 

Tapi ternyata pedang sudah lebih cepat datang daripada kalimatnya. Assalamualaikum Wr. Wb.

 

Rakyat Jilat dan semuanya, terima kasih sudah klik video ini. Izinkan kami menceritakan kisah seorang halifah yang dibunuh bukan oleh tentara romawi, bukan oleh tentara salib, bukan oleh musuh dari luar. Ia dibunuh oleh keluarganya sendiri karena sebuah dosa.

 

Dosa yang ia tampakkan tanpa malu-malu di hadapan istananya sendiri. Dosa yang memamerkan perjinahan. Tapi yang lebih ironi lagi, perjinahan itu bukan dengan lawan jenisnya.

 

Sebab halifah ini lebih suka beristirahat dengan laki-laki gemulai ketimbang dengan istrinya sendiri. Astagfirullahaladzim. Bayangkan sebuah istana di tengah gurun Palestina.

 

Khirbat al-Mafjar yang sampai hari ini reruntuhannya masih berdiri. Masih ada. Bisa kalian googling, cari di Google Maps.

 

Masih bisa dikunjungi sebagai situs arkeologi. Ibu kota Kekilafan atau Damascus, jaraknya jauh dari sana. Istana itu adalah tempat pelarian dari halifah yang akan kita ceritakan nanti.

 

Ini menjadi tempat dia pergi ketika ia ingin menjauh dari urusan umat. Dan Azhabi dalam syiar A'lam An-Nubala mencatat dengan kalimat yang dingin. Dan nongkrongnya, kumpul-kumpulnya dia di dalam sana adalah dengan para Muhannadzim.

 

Ini istana sekilas ngingetin kita sama Pulau Little St. James milik Epstein. Dan apa itu Muhannadzim? Dalam tradisi klasik, Muhannadzim itu posisi yang ambigu. Antara Mu'annadz, cewek dalam bahasa Arab, dengan Muzakar, cowok dalam bahasa Arab.

 

Muhannadz adalah laki-laki yang sengaja meniru gaya suara dan gerak-geri atau gestur perempuan. Botilah kalau disebutan bahasa sekarang. Rasulullah jelas melaknat praktek ini.

 

Tak peduli antum khilafah, antum imam, antum hafiz Quran, kayak apapun itu, nggak peduli Rasulullah sudah menetapkan hukumnya. Tapi di istana walid kedua ini, mereka bukan dilaknat. Mereka bayangkan ya, bayangkan.

 

Digaji, pakai uang negara, dan diambil dari khas Baitul Mal. Bayangin coba, kelakuan sesepulah Epstein yang kali ini yang berkedok agama ini. Kalau Epstein di Amerika, ini bayangin, di negara Islam.

 

Nah, di dalam ruangan itu, dalam istana itu, ngapain bang? Jadi apa bang? Apa jobnya kok digaji? Di sana mereka ada yang jadi penyanyi, ada yang jadi penari, ada yang jadi sekertalis paling pribadi bagi kholifah. Bukan sekertaris kabinet ya. Nggak usah bawa-bawa urusan pribadi negara kalian masing-masing ke sini.

 

Di sana, mereka diposisikan sebagai teman duduk yang paling akrab seorang kholifah yang setiap Jumat, masih dipanggil di dalam doa para khotib dengan sebutan Amirul Mu'minin. Beuh, gila nggak tuh? Dan di dalam istananya, kholifah ini kerap main game tusbol. Padahal di luar gerbang istananya, gerbang pengaduan dari para kodi, para hakim di seluruh penjuru negeri, menumpuk nggak diurus-urus, nggak peduli sama dia.

 

Bayangin aja adegannya. Salah seorang kodi yang sudah tua, sepuh duduk di pelatarannya, menggenggam surat yang sudah dikirim untuk ketiga kalinya. Ia berkata lirik kepada juru tulisnya, Udah enam bulan, surat tentang janda di kufah, yang anaknya hilang, yang kalau kholifah sebelumnya hisyam, akan menjawabnya dalam tiga hari maksimal.

 

Yang ini, aku tidak tahu apakah suratku ini sudah masuk ke meja ruangannya atau nyangkut di balik gerbang doang. Juru tulisnya kemudian menjawab, Sudahlah, saya pulang aja. Kholifah sedang sibuk.

 

Tahu nggak kalian sibuk apa? Sibuk apa? Sibuk mendendangkan syair, sibuk nyanyi, sibuk ngedan. Eh lu itu kholifah, bukan anggota boy band Bapak Walid. Teman-teman tahu nggak? Para ulama siroh mencatat satu hal yang sangat menyakitkan tentang Walid kedua ini.

 

Bukan bahwa dia memang melakukan dosa besar dan itu memang sudah cukup menyakitkan, tapi ada yang lebih menyakitkan. Apa dia melakukan dosa itu tanpa malu-malu. Ibnu Khasir dalam Al-Bidayah wa-Nihaya menulis dengan kalimat yang sangat keras.

 

Ia menampakkan kefasikannya. Dan kefasikan itu adalah perbuatan kaum mudud. Menampakkan, bukan menyembunyikan, bukan sembunyi-sembunyi atau diam-diam melakukan.

 

Bukan menyesali apalagi. Menampakkan. Kalau punya sosmed, wah itu mungkin udah di-upload tuh mah.

 

Dia kontenin itu mah. Dia banggain. Atau malah bikin kompetisi boti pilihan kholifah.

 

Astagfirullah. Sekarang coba renungkan. Walid II ini tidak bodoh.

 

Ia tahu rakyatnya berbisik di belakangnya. Ia tahu bahwa para ulama tidak menyukainya. Intelnya tersebar di mana-mana.

 

Dia tahu semua informasi itu. Ia bahkan tahu bahwa pamannya sendiri yang sekarang jadi kholifah, itu pernah mencoba mencaput haknya sebagai pewaris takhta karena perilakunya ini. Tapi Walid berhasil mendapatkannya dan menjadi amirul mu'minin yang sangat tidak layak secara moralin.

 

Hisyam itu sudah mencoba menghentikannya loh. Coba bayangin Hisyam berkata kayak gini. Walid sini, aku sudah dengar tentang majelismu.

 

Tentang anggurmu, tentang penyanyi-penyanyi dan penari-penarimu dan tentang bota-boti kesayanganmu di sekelilingmu itu. Lah Paman, itu kan cuma hiburan. Hiburan apa? Hisyam berdiri, wajahnya merah mungkin.

 

Kau akan jadi amirul mu'minin Walid. Kholifah dari umatnya Muhammad, umat Nabi Muhammad SAW. Dan kau menyebut ini sebagai hiburan.

 

Walid menunduk dan Az-Zahabi kemudian mencatat bahwa setelah Walid keluar dari ruangan itu, dia tertawa. Dia tertawa bersama dengan teman-temannya dan berkata bahwa Pamannya sudah terlalu tua. Ini orang tua harus segera diganti aja lah.

 

Ini nggak ngerti kemajuan zaman ini si Hisyam ini ya. Seperti itulah kurang lebih gambaran Walid. Ada banyak ulama di sekeliling istana itu.

 

Tapi apakah Walid meminta nasihat mereka? Yo tentu saja tidak. Dia bahkan membangun lingkaran di dalam istananya yang membuat dosa dia merasa baik-baik saja dilihat sebagai normal-normal aja. Yang ia tempatkan di sisinya bukan ulama-ulama yang suka memberikan nasihat secara ludus atau panglima yang senantiasa mengingatkan dia atau polisi yang bisa mengkritisi dia secara fair dan objektif.

 

Melainkan penyair-penyair pemuji, penyanyi-penyanyi penjelakawan, kemudian penjilat-penjilat yang senantiasa memberikan validasi terhadap dosa atasannya dan mukhannasin, yang menghibur. Dan juga kalaupun ada orang-orang profesional yang ahli, mereka itu lebih takut kehilangan jabatannya daripada takut pada dosa. Yang kalau ada seorang ulama datang berani mencoba menegur, ulama itu akan dituding dengan tuduhan macam-macam, irilah, dengkilah, fitnahlah, caperlah, dan lain-lainnya.

 

Lalu dia bisa diusir. Sistem yang harusnya hanya diperuntukkan untuk Allah dan Rasulnya, kini diperuntukkan untuk hawa nafsunya. Sefatal itu, teman-teman, jika kepemimpinan jatuh di tangan yang salah.

 

Di tahun 735 Masehi, Walid masih putra mahkota. Kita flashback mundur dulu ya. Belum jadi khalifah.

 

Pamannya khalifah Hisham. Sudah lama mendengar perilaku daripada ponakannya yang tidak pantas ini. Hisham berpikir keras.

 

Mungkin pikir Hisham, kalau Walid dikasih tanggung jawab agama ke rumah Allah, dia akan berubah kali ya. Ngelihat Ka'bah nangis seharusnya, kayak orang pada umumnya. Maka Hisham mengangkat si Walid II ini menjadi Amir Hajj, pemimpin rombongan jamaah haji.

 

Bayangkan kehormatan ini, memimpin ribuan jamaah haji ke bayi Tuhan, mewakili khalifah dalam ibadah yang paling suci bagi umat Islam ditunggu setiap tahunnya oleh seluruh umat Islam. Posisi yang biasanya diberikan kepada orang-orang yang paling salih ini loh. Walid, sini.

 

Kata Hisham. Walid, sini. Ini kesempatan terakhir kamu ya.

 

Kamu pergi ke Mekah. Dekati rumah Allah di sana. Mungkin di sana hatimu bisa kembali pengen pulang.

 

Tobat sebelum jadi khalifah kamu itu. Walid menganggup. Berjanji.

 

Ya siap, oke paman. Siap, laksanakan bos. Lapan enam.

 

Pak khalifah. Tapi tahu nggak kalian? Apa yang dia lakukan? Dia kemudian mengemasi barang-barangnya sembari membawa anjing-anjing pemburu secara sembunyi-sembunyi. Dia masukkan di dalam peti-peti kayu yang dia bawa bersama rombongan.

 

Padahal dia tahu ini pasti akan ketahuan nih. Tinggal nunggu waktu aja. Padahal ini barang hidup kok.

 

Barang hidup kok dibawa segini banyak. Membawa kawanan anjing pemburu. Nggak cuma satu berarti ya.

 

Disembunyikan di dalam peti-peti kayu di atas unta yang dibawa oleh rombongan. Disamarkan supaya tidak ada yang curiga. Untuk apa? Supaya kalaupun dia berhasil sampai di tempat lokasi yang bagus dia pengen berburu di sela-sela perjalanan haji.

 

Biar kagak bosan katanya. Bayangin nggak tuh. Dah brain rot otak dia kayaknya ya.

 

Berburu saat ikhrom. Gimana nggak konsep tuh? Itu haram secara eksplisi di dalam Qur'an. Allah sudah jelasin dalam surat Al-Ma'idah ayat 95.

 

Janganlah kamu membunuh hewan buruan ketika sedang ikhrom. Jelas tuh. Dan di wilayah sekitar Mekka itu wilayah tanah haram Pak Walid.

 

Di sana berburu binatang dilarang secara permanen. Rasulullah SAW sendiri yang menetapkan hukum ini. Emang Walid ke-2 calon khalifah putra mahkota ini emang kagak tahu? Dia tahu semua hukum ini.

 

Dia diajari kok. Jadi pemimpin disiapkan kok. Ilmu-ilmu dikasih kok.

 

Sebagai amir haj, tugasnya adalah menjaga ribuan jama'ah dari pelanggaran ikhrom ini kan harusnya? Eh nggak tahunya. Dia yang ngelanggar dong. Ini nggak cuma melanggar tapi mempermainkan hukum Allah.

 

Nantangin hukum Allah. Udah tahu tapi tetap ditabrak. Lalu di tengah perjalanan salah satu peti jatuh.

 

Pecah anjingnya keluar dong dan menggonggong. Jama'ah yang sedang berikhrom. Ya para jama'ah itu kemudian terkejutlah.

 

Kok ada anjing nih? Siapa yang bawa anjing nih? Dan walid apa yang dilakukan walid? Ngaku? Ya kagak bukan walid. Bebas dong dia amirnya, dia pemimpinnya, dia bosnya. Lalu dia menunjuk si pembawa untang.

 

Lah kamu nih. Kamu kan yang bawa nggak usah cari siapa yang ditipin. Kok bisa-bisanya kamu bawa? Kok bisa-bisanya kalau tahu? Kamu tahu ini salah tapi mau tetap bawa? Kamu yang salah.

 

Akhirnya tukang si pembawa unta tadi yang membawa unta itu ditetapkan bersalah dan dipukul keras-keras di hadapan jama'ah-jama'ah haji itu. Dipukulin guys. Sambil walid duduk diam menyaksikan seorang yang dipukul untuk dosa yang walid lakukan.

 

Kurang ajar emang tulang lunak yang satu ini ya. Pas momen beristirahat bayangkan ini nggak selesai di situ. Ini kan perjalanan dari Damaskus, ibu kota Kekilafan ke Mekah.

 

Jaraknya 1300 km. Butuh waktu sekitar 1,5 sampai 2 bulan. Di satu waktu pas mau beristirahat walid memberitahkan para panitia haji ini, para bawahan-bawahannya itu yang ada di sana agar membangunkan sebuah tenda berbentuk kubah yang ukurannya segede ka'bah.

 

Biar apa? Ah nggak usah lah. Nggak usah banyak tanya. Udah lakuin aja.

 

Kira-kira gitu mungkin perintahnya. Para tukang akhirnya bekerja siang dan malam. Tenda itu mewah dihiasi kain sutra dari Damaskus, bantal-bantal tebal dari Persia, karbet dari Konstantinopel.

 

Semua dibeli, semua disiapkan untuk kalau ini didirikan ditaruh di dalamnya. Ketika ditanya udah selesai. Sebenarnya buat apa sih walid ini semua? Tahu nggak? Jawaban si walid ini.

 

Jawabannya kurang ajar si walid ini. S**l. Dilakukan rakyat.

 

Kalaupun kita nggak percaya sama lanat, kita nggak percaya sama Allah, tapi rakyat ini jelas bisa ngelakukan sesuatu, bisa nyakitin kita ini. Mereka akan ngebunuh kita semua kalau ini dipaksakan. Termasuk anda lah.

 

Masa aku ngaku khalifahnya nanti kok. 50 juta dirham itu adalah harga yang bisa menggaji 10 ribu prajurit selama 1 tahun. Penuh.

 

10 ribu dalam 1 tahun, teman-teman. Dan walid ketika dapat uang itu dikasihkan ke Bay Tulmal, dikasihkan kepada Operasional Negara atau Istana, kagak dimasukkan ke kantong pribadinya. Tapi binasalah setiap orang sombong dan keras kepala itu.

 

Dapat surat Ibrahim ayat ke-15. Kalimat itu mengenai dia. Persis, presisi.

 

Dia tersinggung dong. Namanya juga walid. Nggak terimawah, kurang ajar nih tetap.

 

Berani ya Allah sama gue.

 

 

 

Dan di dalam istananya, Khalifa ini kerap main game tussbol. Padahal di luar gerbang istananya, gerbang pengaduan dari para kodi, para hakim di seluruh penjuru negeri, menumpuk nggak diurus-urus, nggak peduli sama dia. Digaji, pakai uang negara, dan diambil dari khas Bayi Tulmal.

 

Bayangin coba, kelakuan sesepuluh Epstein yang kali ini yang berkedok agama ini. Kalau Epstein di Amerika, ini bayangin, di negara Islam. Para tukang akhirnya bekerja siang dan malam.

 

Tenda itu mewah, dihiasi kain sutra dari Damaskus, bantal-bantal tebal dari Persia, karpet dari Konstantinovel, semua dibeli, semua disiapkan untuk kalau ini didirikan, ditaruh di dalamnya. Ketika ditanya udah selesai, sebenarnya buat apa sih Walid ini semua? Tahu nggak jawaban-jawaban si Walid ini? Jawabannya lagi kurang ajar ini si Walid ini. Aku berencana kalau sampai di Mekah, aku mau pasang tenda ini di atas kakbah, aku mau beristirahat sama teman-temanku, duduk-duduk sambil minum anggur.

 

Sambil minum Homer, sambil ngelihat orang-orang jamaah ini nih, ini ribuan orang ini, tawaf di bawahku. Seru kali ya. Ini kesempatan langka ini ya.

 

Kesempatan langka ini jarang, sayang kalau dilewatkan. Coba bayangin teman-teman, buru-buru taubat. Susah emang kalau orang sudah prefrontal cortexnya udah kena nih.

 

Ngalah-ngalahin HP yang udah kena LCD nih. Bayangkan momen itu, Putra Mahkota Umat Islam, Caron Amirul Muminin, ketika berangkat, sudah punya niat duduk di rumah Allah, sambil meminum sesuatu yang dilaknat Allah, di rumah Allah itu sendiri, di tanah yang Allah haramkan. Apakah nggak nantangin Allah nggak tuh? Ketika rombongan tiba di Mekah, ini nggak selesai ternyata.

 

Sahabat-sahabatnya yang masih punya sisa rasa takut kepada Allah, barangkali salah satu dari mereka memohon, ayo Allah, ya Allah, ya Allah. Ini nggak masuk akal, kalau dosa begini ini nggak masuk akal ini. Kami tidak merasa aman dari apa yang akan dilakukan rakyat, kalaupun kita nggak percaya sama Al-An'ad, kita nggak percaya sama Allah, tapi rakyat ini jelas bisa ngelakukan sesuatu, bisa nyakitin kita ini.

 

Mereka akan ngebunuh kita semua kalau ini dipaksakan, termasuk andalah. Masa aku ngaku khalifahnya nanti kok. Mereka bagaimana nggak terima? Gimana mereka nggak terima? Saya akan lawan! Gitu kan.

 

Saya akan lawan. Anda belum khalifah, Anda belum jadi pemimpinnya, Sayyid. Anda itu Amirhat sekarang.

 

Dan rakyat, mereka mencintai Ka'bah lebih daripada mereka mencintai Anda sebagai Putra Makota. Akhirnya, rencananya dibatalkan. Tapi, tenda itu sudah dibikin.

 

Udah siap, cuman nggak pernah dipasang aja. Udah disiapkan sama walid. Di sisi lain, para jama' haji sudah melihat, sudah menyaksikan.

 

Dan ketika mereka pulang ke desa-desa mereka, mereka membawa cerita itu. Cerita itu menyebar dari mulut ke mulut, dari pasar ke pasar. Mencapai ke telinganya Hisham Sang Khalifah di Damaskus dan Hisham menangis.

 

Disitulah dia ingin membatalkan walid menjadi suksesornya, udah bulet tekadnya. Tapi ternyata, tiba di tahun 743 Masehi, Hisham wafat. Rencana untuk membatalkan walid belum sepenuhnya usai.

 

Para tetua yang disebut ahlul halli wal akdi, para sesepuh ini, tidak mau membatalkan bayiat yang sudah ditetapkan kepada ayah Hisham sebelumnya, yaitu Abdul Malik bin Marwan, yang bilang kalau aku meninggal, pemimpinnya Hisham. Kalau Hisham meninggal, nah aku ingin walid kedua yang menjadi khalifah. Walid kedua ternyata resmi menjadi amirul mu'minin setelahnya.

 

Di Irak, kita lompat ke Irak sedikit. Ada seorang gubernur senior yang bernama Khalid al-Qasri. Khalid ini adalah seorang yang bertahun-tahun sebelumnya pernah membela walid di hadapan Hisham yang ingin menggantikan walid sebagai suksesornya.

 

Ketika Hisham berusaha mencaput hak walid sebagai pewaris takhta, Khalid ini berjuang mati-matian memberikan argumentasi supaya banyak orang, para sesepuh itu, lebih condong kepada apa yang diargumentasikan oleh si Khalid ini. Dengan kata lain, kalau bukan karena Khalid al-Qasri, ya kemungkinan besar walid ini tidak akan pernah menjadi khalifah. Khalid adalah pelindungnya walid, pendukungnya.

 

Pembelanya. Lalu apa yang walid lakukan ketika walid jadi khalifah? Kebanyakan nggak? Apa? Oh biasanya bagi-bagi kue, naik jabatan, dapat fasilitas. Enggak, walid beda teman-teman.

 

Apa yang dilakukan walid kedua ini? Walid menjual Khalid pembela setianya. Ya kalian nggak salah dengar. Dijual gubernur senior, dijual pelindungnya sendiri, dijual kepada musuh besarnya Khalid, seorang bernama Yusuf bin Umar.

 

Seharga 50 juta dirham. Mari kita konversikan konteksnya di zaman itu. 50 juta dirham itu adalah harga yang bisa menggaji 10.000 prajurit selama 1 tahun.

 

Penuh! 10.000 dalam 1 tahun teman-teman. Dan walid ketika dapat uang itu dikasihkan ke Beytulmal, dikasihkan kepada Operasional Negara, kagak dimasukkan ke kantong pribadinya. Dan btw, Yusuf bin Umar ini, seorang pembelinya ini, yang ditawarkan langsung oleh walid ini, kenapa? Sebab walid tahu Yusuf punya dendam kepada Khalid yang akan rela membayar berapapun untuk membalaskannya.

 

Jadi dijual mahal tuh, pasti laku. Lalu si Yusuf membawa Khalid ke ruang siksaan dan Khalid al-Khasri, orang yang pernah membela walid, disiksa sampai tewas berbulan-bulan lamanya. Udah ada 2 sesi penyiksaan.

 

Sesi pertamanya aja udah 18 bulan. Lalu sesi kedua, gak lama, dia pun wafat. Seluruh harta Khalid diambil oleh Yusuf.

 

Yusuf, bukannya dihukum, dia malah dijadikan gubernur untuk menggantikan Khalid oleh walid. Coba... Gak selesai disitu perlakuan si Khalid ini. Belum cukup dengan Khalid, walid kedua ini juga memenjarakan Sulaiman bin Hisham, sepupunya sendiri anak kandung daripada Hisham, paman yang baru saja wafat, lalu menyerahkan taktanya kepada walid.

 

Tanpa alasan yang kuat, tanpa peradilan, hanya karena bisa nikahnya. Dah, masukin aja dah. Bayangin aja, Wissel Sulaiman bertanya kepada para penjaga di sel ini.

 

Tolong sampaikan kepada walid, apa salahku? Aku ini sepupunya sendiri lho. Aku ini darah dagingnya lho. Para penjaga menjawab, Nah, maaf ya pemimpin.

 

Tuhan kami, Amirul Mu'minnya sedang sibuk. Sibuk ngapain? Sibuk mabok. Sibuk kumpul-kumpul sama cowok-cowok yang dia cintai.

 

Bayangkan momen itu. Seorang halifah, bukannya menyatukan keluarganya, justru memenjarakan anak pamannya yang baru wafat. Ya mungkin Khalid ingin balas dendam, karena nggak rido taktanya mau nggak dijadikan sama pamannya.

 

Dan mungkin dia juga antisipatif, agar anak pamannya ini nggak ngelanjutin rencana daripada halifah sebelumnya itu. Padahal pamannya itulah yang membesarkan si walid, yang dulu berusaha mendidiknya, mengajarkan ilmu-ilmu tentang kepemimpinan politik, ilmu umum, dan agama kepada si walid. Yang mendoakan agar dia bertobat, yang menangis ketika mendengarkan kabar tenda di atas ka'bah.

 

Bayangkan kalau Hisham masih hidup, dan melihat anaknya di penjara oleh keponakan yang dia besarkan sendiri. Inilah yang oleh para sejarawan disebut sebagai titik balik politik. Setelah penyiksaan Khalid al-Khosri, dan memenjarakan Sulaiman bin Hisham, keluarga Bani Umayyah sendiri mulailah berbisik-bisik.

 

Ide kudeta mulai muncul. Walid II bukan lagi musuh dari rakyatnya saja, karena dia menjadi musuh dari keluarganya sendiri. Keluarga kerajaan.

 

Tapi ternyata walid tidak berubah juga. Makin kuat alasannya nanti ini. Apa yang dilakukan? Ada sebuah adegan yang paling berat untuk diceritakan.

 

Diruayatkan dalam Bidayah wa Nihaya yang ditulis oleh Ibnu Khasir. Dan juga ditulis oleh di dalam Tariq al-Tabari. Di suatu hari, si Walid ini melakukan Tafa'ul.

 

Yaitu meminta petunjuk kepada Allah dengan cara membuka mushaf secara acah. Dia buka secara acah. Dia membuka, lalu matanya jatuh kepada sebuah ayat.

 

Mungkin sebagian kita sering melakukan itu. Ngacak, baca, eh ternyata kok rilit. Nah, ini sudah jadi tradisi ternyata sejak dulu.

 

Walid melakukan itu. Dan dia kemudian mendapatkan satu ayat. وَاِسْتَفْتَهُ وَهُبَّ كُلُّ جَبَارٍ عَنِهِ Dan mereka memohon kemenangan, tapi binasalah setiap orang sombong dan keras kepala itu.

 

Dapat surat Ibrahim, ayat ke-15. Kalimat itu mengenai dia. Persis, presisi.

 

Dia tersinggung dong, namanya juga Walid. Nggak terima, wah kurang ajar nih kitab nih. Berani ya Allah sama gue.

 

Kalau itu manusia normal, apa yang kalian akan lakukan? Tunduk, menangis, merinding. Istighfar, mungkin sujud, mungkin mohon ampun. Tapi ini Walid ke-2.

 

Apa yang dia lakukan? Dia lempar Mus'hafnya ke lantai, lalu dia ambil busur dan anak panah, lalu memana Mus'haf itu. Sampai kertasnya itu robek-robek, teman-teman. Sambil kemudian dia membacakan syair yang dia karang sendiri di tempat itu juga.

 

Wahai Mus'haf, engkau acam aku dengan Jabarin Ani. Ya, akulah orangnya itu. Itu adalah aku.

 

Maka kalau kau bertemu Tuhanmu nanti di hari kiamat, dia berbicara dengan Mus'haf itu ya yang sudah dipanah. Kalau ketemu sama Tuhanmu nanti ya, kita ketemu. Katakan sama Tuhanmu, Walid yang pernah merobekku di dunia dulu.

 

Gila aja. Ini bukan lagi maasyidat, ini bukan lagi dosa biasa. Ini langsung menantang Allah, mengirim pesan kepada Allah melalui kitabnya yang dia robek dengan panah.

 

Malah nantang, bukan dapat hidayah, men. Astagfirullahaladzim. Lima adegan itu hanya aku pilih di konten ini.

 

Dipilih-pilih supaya nggak kebanyakan. Selain itu ada apa aja? Dia berenang di kolam yang diisi komer. Sambil diminum rame-rame sampai habis diisi lagi, diminum lagi.

 

Terus begitu. Selain itu dia juga pernah menyuruh budak perempuan mimpin sholat berjamak. Ah, gantiin dia.

 

Sambil dia lihat orang sholat itu dipimpin imam perempuan sambil mabok dia. Terus apa lagi? Dia pernah membayar penyair-penyair yang memuji menyanjung-nyanjung nama dia dengan 30.000 dirham per hari. Lebih dari gaji 50 prajurit selama setahun.

 

Modal nyanyi. Sambil memotong tungjangan rutin untuk keluarga sahabat Nabi dan turunan ahlul baik coba. Selain itu apa lagi? Masih banyak.

 

Menulis syair-syair khamriyah, memuja komer. Isinya melecehkan ibadah haji, ibadah puasa, dan ayat-ayat Qur'an. Sebagian syair itu masih ada sampai hari ini dikutip oleh sejarawan modern.

 

Saya pribadi kesulitan untuk membacanya karena terlalu menyakitkan untuk dibacakan di sini. Silahkan kalau mau cek sendiri, cari tahu sendiri. Dan ini, semua ini terjadi dalam masa 4 bulan kepemimpinannya.

 

4 bulan bayangkan. Kalau dia memerintah 10 tahun, 20 tahun gak kebayang tuh kayak mana itu. Kayak pamannya aja 20 tahun.

 

Gak kebayang. Apa lagi yang akan dia lakukan ini? Ada ide baru apa lagi ini? Mungkin Allah sudah nurunin laknat mungkin. Dalam psikologi sosial ada istilah moral disengajement.

 

Proses bertahan di mana seseorang melepaskan diri dari standar moralnya. Albert Bandura, psikolog dari Stanford, memetakan polanya. Sementara Ibn al-Qayyim al-Jawziya, 700 tahun sebelum Bandura, sudah menulisnya dalam Al-Jawab al-Kafi.

 

Serupa dengan yang diutarakan oleh Bandura. Awal kemaksiatan atau moral disengajement yang besar itu selalu dimulai dari meremehkan kemaksiatan yang kecil. Satu kalimat itu kalau kita uraikan untuk zaman ini dengan melihat pola kasus yang ada, kasus yang viral, bisa kita munculkan menjadi empat tahap.

 

Pola yang selalu sama ada empat tahap. Pola yang pertama, ia berhenti mendengarkan kritik. Kedua, dia mulai mengelilingi diri dia dengan para pengagum yang sesuai sefrekuensi dengan dia yang menganggap maksiat itu biasa bahkan memuja maksiat itu.

 

Para sosiolog menyebut ini sebagai pola echo chamber, ruang gemak, di mana yang terdengar hanyalah suara dia sendiri yang dia harapkan. Lalu terpantul-pantul semakin menguatkan keyakinannya. Ketiga, dia mulai merasa karena sudah hafal Qur'an, sudah haji tujuh kali, misalkan sudah punya santri ribuan, sudah tinggi jabatan keagamaannya, dipandang, dianggap soleh.

 

Ia mulai merasa aturan untuk orang biasa tidak lagi sepenuhnya berlaku bagi dia yang sudah berada di level yang berbeda. Dalam fikir ini namanya ujuk, penyakit hati yang oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin disebut sebagai pintu masuk seluruh kebinasaan. Dan yang keempat yang terakhir, yang paling berbahaya, dia mulai memandang remeh dosa baik dosa kecil muambat laun kepada dosa besar.

 

Rasulullah menyebutkan dosa yang diremehkan ini dengan istilah Muhaqqarat Az-Zunum dalam riwayat Ahmad. Dosa yang dianggap remeh. Dari kecil kemudian besar lama-lama juga dicari pembenarannya, Logikanya cari nama-nama indah untuk pembenarannya sebagai tamingnya.

 

Wali dua tidak bangun di satu pagi langsung minum khomer. Blek, kagak. Dah gue naik ke atas ka'bah, mabok, kagak.

 

Ide itu nggak tiba-tiba muncul, men. Dia memulai dari satu sirkel yang seharusnya ditinggalkan. Dia mulai dari satu gelas anggur yang seharusnya dia tidak tegok.

 

Dia mulai dari satu subuh yang seharusnya dia jaga. Dan dari titik kecil itu tumbuhlah kirbat al-Mafjar yang dia salah gunakan untuk kemaksiatan layaknya Pulau Epste. Tumbuh di lingkaran Muhannasin.

 

Tumbuh niatan meminum khomer di atas ka'bah. Tumbuh kemudian kebencian selu kepada seluruh umat yang beragama. Sampai April 744.

 

Keluarga sendiri yang mencabut nyawanya. Empat belas bulan itu sudah dianggap terlalu lama. Bandingkan dengan pamannya Hisyam yang membangun selama sembilan belas tahun ke Kilafani.

 

Dan enam tahun setelah walid dibunuh, Bani Umayyah runtuh total. Sembilan belas tahun membangun, empat belas bulan menghancurkan, enam tahun untuk rata dengan tanah. Itulah harga muhaqqarat az-zunu, pembenaran terhadap dosa.

 

Setelah penyisaan Khalid al-Qasri sampai mati dan pemenjaraan Sulaiman al-Hisyam, para pangeran Bani Umayyah mulai berkumpul secara diam-diam. Bukan di istana resmi, bukan di masjid, tapi di rumah-rumah pribadi mereka di pinggiran-pinggiran Damascus di malam hari dan tidak terlihat. Sosok yang akhirnya muncul memimpin untuk melakukan pemberontakan adalah Yazid bin Walid.

 

Sepupu Walid itu sendiri. Yazid ini berbeda jauh dengan Walid, jauh banget. Dia dikenal salih, sederhana, tidak minum komer, sering sholat malam.

 

Dan yang paling penting, dia berani bicara terbuka mengkritik perilaku Walid sejak awal. Dia pemegang prinsip amar ma'ruf nahi mungkat. Ini terjadi karena ada lima pemicu.

 

Pertama pemicu yang pertama, hilangnya legitimasi agama. Setelah peristiwa Walid memanah mushaf menyebar ke seluruh kekhilafan, beberapa masjid mulai tidak menyebut nama Walid di khutbah-khutbah mereka. Para ulama Adamaskuf berkata, demi Allah kalau umat masih sholat di belakang dia, kita sebagai ulama akan bertanggung jawab dan kita tidak boleh diam.

 

Saya akan nolong! Itu sinyal pertama yang dimengerti oleh setiap politikus zaman itu. Yang kedua, hilangnya loyalitas keluarga. Setelah Walid menjual kholid al-Qasri dan memenjarakan Sulaiman bin Hisham, para sepupunya, paman dan saudaranya dari Bani Umayya mulai berbisik.

 

Kalau dia tega terhadap kholid yang membelanya dan kepada Sulaiman yang sedarah dengannya, apa yang akan dia lakukan kepada kita suatu hari nanti? Dan dari ketakutan itulah akhirnya menjadi kesepakatan. Yang ketiga, hilangnya dukungan dari suku. Bani Umayya dulu itu kuat karena keseimbangan dua suku besar, Qois dan Yaman.

 

Walid II merusak keseimbangan itu. Dia berpihak total kepada Qois. Yusuf bin Umar pembeli kholid itu orang Qois.

 

Kholid yang dijual itu orang Yaman. Suku Yaman murka karena perilaku daripada Walid. Sehingga ketika pemberontakan terjadi, mereka bergabung.

 

Dan suku Qois nggak ada urgensi yang menghalangi itu. Akhirnya terjadilah apa yang seharusnya terjadi. Keempat, hilangnya dukungan militer.

 

Kenapa kok bisa hilangnya dukungan militer? Karena tentara Bani Umayya dongkol mendengar cerita rakyat tentang Walid. Mereka melihat gaji para penyair pemujinya 50 kali lipat daripada gaji mereka sendiri dalam satu tahun. Mereka yang mempertaruhkan nyawa demi negara.

 

Mereka yang kemudian mulai mempertanyakan eksistensinya. Untuk apa aku berperang, mempertaruhkan nyawa, menjaga perbatasan supaya khalifah bisa beli anggur lagi, hah? Yang kelima yang terakhir, muncul kepemimpinan alternatif. Yazid bin Walid menjadi wajah yang bisa dipercaya.

 

Bay'at mulai muncul, permintaan mulai mengemuka. Bukan ambisius dia ini. Bukan haus kuasa.

 

Dia salih dan dia terpaksa bangkit gara-gara saudaranya sepupunya sudah terlalu maksian. Dan keputusan itu pun diambil. Pasukan Yazid bergerak menuju Al-Bakhraw, benteng kecil deket Palmira.

 

Tempat Walid bersembunyi pada saat itu. Para pengawal Walid yang dulu ribuan sekarang tinggal segelintir. Para penyair pemujanya entah kemana.

 

Kalaupun ada ya emang mereka bisa apa? Bisa menghibur para pemberontak? Kaga. Lucunya di akhir hidupnya Walid ada versi yang berbeda dari opening yang saya sebutkan. Kalau tadi ada riwayat mengatakan dia megang anggur ketika di akhir hidupnya.

 

Ini ada riwayat yang menceritakan bahwasannya dari Tarih At-Tabari. Dia itu di akhirnya meminta pengawalnya, Ambilkan aku Mus'haf. Pelayan itu terkejut.

 

Mus'haf? Anda kan tau sendiri lah. Dah pokoknya ambilkan aja. Mus'haf itu dibuka di pangkuannya Walid membaca diam.

 

Mungkin di detik-detik terakhir hidupnya entah karena takut, entah karena penyesalan, entah karena ingin terlihat salih mati keren di mata sejarah. Dan berusaha menggenggam kitabnya yang dulu pernah dia panah. Tapi pintu istana sudah didobrak.

 

Yang masuk membawa pedang adalah sepupunya sendiri beserta pemperontak-pemperontaknya yang sudah jengah dengan maksiat si Walid. Kerabat badi Umayyah sendiri. Bukan tentara Romawi, bukan tentara salib, bukan musuh dari luar.

 

Keluarganya sendiri yang dia kianati ketika dia menjual Walid al-Khasri. Keluarganya sendiri yang mereka takuti. Yang dulu dibuat takut oleh Walid dengan ponggah karena memenjarakan Salim bin Hisham.

 

Keluarganya sendiri yang akhirnya berkata kepada Allah dalam doa malam-malam mereka. Ya Allah cabutlah nyawanya sebelum dia mencabut iman umat ini. Dan menurut riwayat At-Tobari, Walid dua kemudian L sambil memegang mushaf di tangannya.

 

Mushaf yang dulu dia panah dengan musuh, mushaf yang dulu dia robek dengan kemarahan, mushaf yang dulu di detik-detik terakhir dia coba peluk untuk perlindungan tapi terlambat. Pedang sudah datang lebih cepat dari taubatnya. Kepalanya dipotong, dikirim ke Damascus sebagai bukti bahwa kesilapan telah berpindah.

 

Tubuhnya digantung beberapa hari di pintu kota supaya rakyatnya melihat. Inilah akhir seorang yang dulu mereka panggil amirul mu'minin. Dia mengamunkan nasuhnya ketimbang perintah Tuhan.

 

Astagfirullahal'adzim, la hawla wa la quwwata illa billah.

Sumber: YT @Shifrun

Minggu, 24 Mei 2026

Bagaimana Pesta Termahal dalam Sejarah Justru Melahirkan Republik Islam Iran

Bagaimana Pesta Termahal dalam Sejarah Justru Melahirkan Republik Islam Iran

 

Di pelosok Iran, tahun 1971, jutaan rakyat hidup dalam jeritan bisu yang diabaikan. Sementara rezim sah pamer kemakmuran, kenyataannya justru memilukan. Anak-anak mati karena penyakit yang sebenarnya bisa disembuhkan dan keluarga-keluarga harus berebut air bersih dengan hewan ternak.

 

sumber: https://royalwatcherblog.com/wp-content/uploads/2017/02/screen-shot-2017-02-26-at-10-50-59-pm.png

Kemiskinan ini bukan sekedar angka, melainkan luka nyata bagi rakyat yang harus dipaksa hidup di bawah standar kemanusiaan. Sementara hak-hak dasar mereka dirampas oleh ketidakadilan yang sistematis. Di balik tembok-tembok istana yang kokoh, pemerintahan Muhammad Reza Shah Pahlavi justru menutup telinga rapat-rapat.

 

Mereka lebih sibuk memoles citra di mata dunia dan para sekutu baratnya daripada memikirkan nasib rakyatnya sendiri. Kebijakan yang mereka banggakan hanyalah topeng untuk memperkaya segelintir elit. Sementara mayoritas rakyat dibiarkan membusuk dalam kesengsaraan.

 

Bagi rezim yang tunduk pada kepentingan asing ini, penderitaan rakyat hanyalah harga murah yang harus dibayar demi menjaga kekuasaan mereka yang rapuh, alih-alih membantu rakyat yang kelaparan. Rezim Shah justru menghamburkan kekayaan negara demi satu agenda yang gila, yaitu menggelar pesta perayaan 2500 tahun kekaisaran di Persepolis. Mereka menumpuk emas dan sampahnya di atas tanah yang rakyatnya saja kesulitan untuk membeli sesuap nasi.

 

Inilah cerminan rezim yang berhianat pada umat, yang lebih memilih memuja gengsi daripada memuliakan martabat rakyatnya sendiri. Sebuah pengingat pahit tentang bagaimana sebuah kekuasaan yang zolim pada rakyatnya pasti akan menuai kehancurannya sendiri. Muhammad Reza Shah Pahlavi adalah potret pemimpin yang kehilangan jiwanya di tengah kilauan kemewahan istana dan ambisi barat.

 

Ia naik tahta bukan sebagai pelayan rakyat, melainkan sebagai pion yang digerakkan oleh kepentingan asing, terutama Amerika Serikat dan Inggris. Sejak awal kekuasaannya, Shah telah menetapkan Iran bukan sebagai negara berdaulat yang berakar pada nilai-nilai luhur Islam, melainkan sebagai pos terdepan bagi kepentingan barat di timur tengah. Ia memandang negaranya hanya sebagai papan catur, dimana ia dengan sukarela membiarkan kekayaan alam Iran dikuras habis melalui konsensi minyak yang menguntungkan korporasi asing.

 

Sementara ia menikmati sisa-sisa keuntungan sebagai penguasa yang tunduk demi menjaga kursi kekuasaannya. Sisi paling gelap dari kepemimpinannya adalah ketergantungannya yang memuakan kepada kekuatan luar, terutama kedekatannya yang intim dengan Zionis. Di saat negara-negara muslim di sekitarnya berjuang menghadapi agresi dan penindasan, Shah justru menjalin hubungan rahasia dan pragmatis dengan entitas Zionis.

 

Ia menjadikan Iran sebagai pemasok energi dan mitra strategis bagi mereka, mengkhianati solidaritas sesama umat Islam demi menjaga kursi kekuasaannya. Bagi rakyatnya yang memegang teguh iman, perilaku Shah ini bukan sekedar kebijakan luar negeri, melainkan bentuk pengkhianatan nyata terhadap martabat umat yang kini sedang tertindas di tanah Palestina. Sebagai seorang pemimpin boneka, Shah membangun sistem keamanan yang brutal yang bernama Shafak untuk membungkam siapapun yang berani menentang kebijakannya.

 

Agen-agen Shafak ini, dilatih oleh CIA dan Mossad sejak tahun 1957 untuk menebar ketakutan, menyiksa, dan melenyapkan aktivis, ulama, serta rakyat biasa yang kritis terhadap dominasi asing. Ia tidak segan-segan menghancurkan suara-suara perlawanan yang memperjuangkan keadilan. Baginya, stabilitas kekuasaan lebih berharga daripada nyawa rakyatnya sendiri, dan ketakutan adalah instrument utama yang ia gunakan untuk memaksakan modernisasi yang sebenarnya hanyalah proses sekularisasi paksa yang hanya mengikis nilai-nilai agama.

 

Rezim ini juga menjadikan Iran sebagai pelayan setiap kepentingan militer dan ekonomi barat. Pada tahun 1954, Shah meratifikasi kesepakatan konsorsium minyak yang memberikan kendali atas sumber daya Iran kepada perusahaan-perusahaan barat. Selain itu, ia terlibat dalam Pakta Militer Sentoh pada tahun 1955 yang menempatkan Iran sebagai benteng militer anti-komunis yang menguntungkan Amerika Serikat di kawasan tersebut.

 

Bahkan hingga tahun 1970-an, Iran menjadi pembeli utama senjata Amerika, mengubah negara tersebut menjadi pangkalan logistik raksasa bagi kepentingan Washington dan sekutu zionisnya, sambil terus menindas gerakan Islam di dalam negeri yang ingin memerdekakan Iran dari cengkeraman ideologi asing. Di tengah hamparan gurung fars yang tandus, tepat dibawah bayang-bayang reruntuhan kuno persepolis Iran pada Oktober 1971, sebuah tragedi kemanusiaan yang dibalut kemewahan gila-gilaan tengah dipentaskan. Inilah pesta yang oleh dunia internasional kemudian dijuluki sebagai pesta paling mewah dalam sejarah abad ke-20.

 

Di sana, Muhammad Reza Shah Pahlavi mengundang kepala negara, raja, ratu, dan pangeran dari seluruh penjuru dunia untuk merayakan 2.500 tahun berdirinya kekaisaran Persia. Namun dibalik gemerlap lampu kristal dan alunan musik klasik, tersimpan sebuah pengkhianatan yang nyata bagi rakyat Iran yang saat itu sedang merangkak di tengah kemiskinan yang ekstrim. Persepolis, yang ribuan tahun lalu menjadi simbol kejayaan Ahmeniyah, disulap menjadi kota tenda futuristik yang luasnya mencapai 160 hektare.

 

Shah membangun 50 tenda mewah yang dirancang oleh firma dekorasi interior papan atas asal Paris, yaitu Maison Jensen. Tenda-tenda ini bukanlah tempat berteduh biasa, melainkan apartemen prefabrikasi dengan interior sutra, fasilitas AC, sistem telpon satelit, dan kamar mandi marmer yang semuanya diangkut dari Eropa untuk menyempurnakan suasana. Sebuah taman buatan yang dilengkapi dengan ribuan pohon dan bunga yang diimpor langsung dari Perancis ditanam di tengah gurun.

 

Menciptakan oasis artifisial yang menelan biaya luar biasa besar hanya untuk memuaskan mata para tamu selama tiga hari perayaan. Segala kebutuhan perjamuan ditangani oleh Maxim de Paris, yaitu restoran paling legendaris di dunia saat itu, yang rela menutup operasionalnya di Perancis selama dua minggu demi melayani ego sangsah Iran. Sekitar 165 koki, pelayan, dan staff profesional diterbangkan langsung ke Iran, membawa serta 18 ton makanan yang mencakup 7.700 pond daging, 8.000 pond mentega dan keju, hingga ribuan botol anggur dan sampahnya yang mahal.

 

Menu utama yang disajikan mencakup telur puyuh isi kaviar, ekor udang karang dengan saus nantua, hingga burung merak panggang isi foie gras. Sebuah kemewahan gastronomi yang berada di luar jangkauan imajinasi rakyat Iran yang saat itu harus berjuang mendapatkan akses air bersih dan bahan pokok. Kehadiran para tamu di acara ini bukanlah sekedar undangan, melainkan ajang diplomasi yang syarat akan kepentingan.

 

Lebih dari 60 kepala negara dan pemimpin kerajaan hadir, termasuk Kaisar Haile Selassie dari Etiopia, Ratu Ingrid dari Denmark, Suharto dari Indonesia, hingga perwakilan dari negara-negara barat yang menjadi sekutu utama SAH. Mengapa pemimpin negara tertentu diundang dan yang lainnya tidak? Jawabannya terletak pada posisi strategis Iran sebagai benteng antikomunis bagi Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. SAH sengaja memetakan siapa saja yang bisa memperkuat legitimasi internasionalnya.

 

Namun absennya beberapa pemimpin dunia, termasuk Ratu Elisabeth II, yang disarankan untuk tidak hadir demi alasan keamanan, menunjukkan adanya ketegangan laten dan ketidakpastian stabilitas dibalik topeng kemegahan tersebut. Yang terjadi di dalam perjamuan itu adalah sebuah parodi moral. Di saat dunia Muslim sedang berduka menghadapi berbagai tekanan dan agresi, pesta ini justru menyuguhkan gaya hidup hedonistik yang benar-benar asing dan bertolak belakang dengan nilai-nilai Islam.

 

Alkohol mengalir deras, pesta dansa diadakan hingga larut malam, dan pakaian para tamu menunjukkan kekayaan yang memamerkan kemewahan duniawi di atas tanah yang memiliki sejarah panjang sebagai bagian dari peradaban Islam. Rakyat Iran, yang saat itu dipaksa menonton lewat televisi hitam putih, melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kedaulatan mereka dijual untuk menjamu orang-orang asing yang tidak peduli pada penderitaan mereka. Mereka dipinggirkan, diusir dari area perayaan, dan dianggap sebagai gangguan bagi estetika kota tenda yang ideal.

 

Persiapan pesta ini sendiri merupakan bentuk pelecehan terhadap martabat rakyat. Sebelum para tamu tiba, area 30 km persegi di sekitar persepolis dibersihkan dari ular dan serangga oleh tim herpetolog. Sebuah upaya yang menunjukkan betapa prioritas rezim lebih mengutamakan kenyamanan tamu asing daripada pengembangan infrastruktur desa di sekitar.

 

Bahkan 50 ribu burung penyanyi diimpor dari Eropa untuk menambah suasana elegan di gurun, hanya untuk mati masal dalam hitungan hari karena gagal beradaptasi dengan iklim yang ekstrim. Hal ini menjadi metafora yang paling pas untuk rezim sah, yaitu sesuatu yang dipaksakan dari luar, tidak memiliki akar pada realitas lokal, dan pada akhirnya berakhir sebagai bangkai yang sia-sia. Dana untuk membiayai semua kegilaan ini, yang secara resmi dilaporkan sebesar 22 juta dolar Amerika Serikat, namun oleh para ahli diakini mencapai ratusan juta dolar, yaitu diambil dari pendapatan minyak bumi Iran yang seharusnya menjadi hak milik rakyat.

 

Di tahun 1971, ketika inflasi menghantam keras dan masyarakat dipelosok hidup dalam gubuk tanpa listrik, uang tersebut justru digunakan untuk membuat 50 seragam pesanan khusus dari lanfin, yang masing-masing menghabiskan 1 mil benang emas. Tidak ada satupun sen dari pengeluaran tersebut yang mengalir untuk memperbaiki nasib para petani atau membangun sekolah bagi rakyat miskin yang terpinggirkan. Pesta ini menjadi saksi bisu bagaimana seorang pemimpin kehilangan sentuhan dengan bangsanya.

 

Setelah pesta berakhir, yang tersisa hanyalah reruntuhan tenda di tengah gurun yang sunyi, namun kemarahan rakyat justru baru saja dimulai. Mereka yang selama ini diam, mulai melihat bahwa rezimsah bukan pelindung kedaulatan, melainkan boneka yang hanya bisa menari sesuai irama kepentingan asing. Pengkhianatan terhadap nilai-nilai Islam, kedekatan dengan pihak-pihak yang memusuhi umat, dan pemborosan harta negara yang zolim, semua itu terakumulasi menjadi bara dalam sekam.

 

Persepolis 1971 bukan sekedar pesta biasa. Itu adalah surat pemecatan bagi dinasti Pahlavi, yang telah kehilangan legitimasi moralnya di mata rakyatnya sendiri. Perayaan yang diniatkan untuk menunjukkan kejayaan, justru menjadi panggung yang menelanjangi kebusukan dan ketidakadilan yang akan segera digulingkan oleh gelombang revolusi besar beberapa tahun berselang.

 

Pasca Pesta Usai, persepolis yang tadinya disulap menjadi oasis mewah, seketika berubah menjadi kota hantu yang menyisakan tumpukan sampah menggunung, dan limbah logistik dari Paris yang membusuk di bawah terik gurun. Sisa-sisa kemewahan, mulai dari ribuan botol minuman kosong, hingga infrastruktur tenda sutra yang mulai lapuk, dibiarkan begitu saja tanpa pengelolaan, meninggalkan kerusakan lingkungan di sekitar situs sejarah kuno tersebut. Peralatan mewah dan furnitur mahal yang diimpor dengan harga selangit pun banyak yang terbengkalai, rusak, atau hilang begitu saja, karena tidak ada sistem pemeliharaan pasca acara yang jelas dari rezim.

 

Secara teknis, dampak ekonomi dari pesta ini memukul Iran dengan efek domino yang sangat destruktif. Pengeluaran yang membengkak di luar batas anggaran resmi, memicu defisit kas negara yang signifikan, memaksa pemerintah untuk menekan rakyat melalui kenaikan harga kebutuhan pokok yang memicu inflasi yang hebat. Beban hutang luar negeri yang menumpuk akibat ambisi proyek prestis ini, membuat stabilitas ekonomi Iran menjadi sangat rapuh dan bergantung pada kepentingan asing.

 

Kondisi ini menjadi bukti nyata bahwa rezim sah tidak memiliki visi pembangunan yang berkelanjutan, melainkan hanya menghabiskan kekayaan nasional demi gengsi yang meninggalkan rakyat dalam kesengsaraan ekonomi yang berkepanjangan. Setelah kemegahan semu di persepolis berakhir, Iran justru terjun bebas ke dalam jurang krisis yang tidak berkesudahan. Inflasi melonjak tidak terkendali karena pemerintah membanjiri pasar dengan uang hasil minyak demi menutupi defisit pesta dan proyek-proyek ambisius lainnya.

 

Dampaknya, harga bahan makanan pokok seperti gandum, daging, dan susu melambung tinggi, hingga sulit dijangka oleh masyarakat kelas menengah ke bawah. Rakyat yang hidup di pedesaan dan pinggiran kota besar mulai merasakan kelaparan nyata. Sementara di saat bersamaan, mereka melihat elit istana terus hidup dalam kemewahan yang dipertontonkan tanpa rasa malu.

 

Kekacauan sosial semakin diperparah oleh kebijakan pertanian yang dipaksakan oleh rezim, yang justru menghancurkan sistem suasembada pangan lokal. Tanah-tanah pertanian yang produktif disita dan dialihkan fungsinya untuk proyek-proyek industri yang tidak efisien atau diserahkan kepada perusahaan agribisnis asing yang tidak memperdulikan kebutuhan pangan rakyat. Akibatnya, Iran yang dulunya mampu mencukupi kebutuhan pangannya sendiri, terpaksa mengimpor hampir seluruh kebutuhan pokok dari luar negeri.

 

Ketergantungan pangan yang tinggi ini, membuat rakyat semakin menderita saat harga komoditas global bergejolak dan ekonomi dalam negeri semakin lumpuh. Di tengah situasi perut yang lapar, represi politik justru semakin diperketat oleh mesin intelijen safak. Setiap protes dan keluhan mengenai harga yang mahal dan sulitnya mendapatkan makanan, dianggap sebagai ancaman bagi stabilitas nasional.

 

Ribuan aktivis, pelajar, dan ulama yang berani bersuara dibungkam, disiksa, atau dipenjara tanpa pengadilan yang jelas. Ketakutan menyelimuti setiap sudut kota, menciptakan tekanan batin yang luar biasa bagi rakyat yang sudah lelah, menghadapi kelaparan sekaligus penindasan hak-hak sipil oleh rezim yang lebih memuja kekuatan barat daripada kesejahteraan bangsanya sendiri. Penderitaan rakyat ini, menjadi ladang persemayaan bagi perlawanan yang dipimpin oleh tokoh-tokoh islam, yang tetap setia membela kepentingan umat.

 

Pesan-pesan perlawanan dari para ulama yang saat itu berada di pengasingan atau dalam penjara, seperti Ayatullah Khomeini, mulai menyebar luas di kalangan akar rumput melalui rekaman kaset dan jaringan masjid. Mereka menyarukan bahwa, penderitaan rakyat bukanlah nasib, melainkan hasil dari sistem yang korup dan pengkhianatan terhadap nilai-nilai Islam. Narasi ini menemukan pendengar yang tepat, karena rakyat melihat sendiri bagaimana sah lebih mengutamakan hubungan dengan Zionis dan Amerika, daripada memperbaiki nasib rakyatnya yang kelaparan.

 

Gelombang demonstrasi mulai meletus secara sporadis di berbagai kota, sejak pertengahan tahun 1970-an. Namun rezim meresponnya dengan kekerasan brutal yang justru semakin menyalakan kemarahan publik. Setiap kali ada demonstran yang gugur, martabat mereka diangkat sebagai pahlawan yang mati syahid, melawan kezaliman.

 

Ketimpangan sosial yang brutal antara gaya hidup mewah para pejabat istana dengan kemiskinan ekstrim di jalanan, membuat legitimasi sah hancur total. Rakyat tidak lagi takut pada senapan, karena rasa lapar dan harga diri yang diinjak-injak telah mengalahkan ketakutan mereka akan maut. Memasuki tahun 1978, protes massa berubah menjadi gelombang demonstrasi kolosal yang melumpuhkan sendi-sendi kehidupan di Iran.

 

Industri minyak yang menjadi urat nadi ekonomi dan sandaran kekuasaan sah mulai lumpuh total, akibat aksi mogok kerja massal oleh para buruh yang sudah muak dengan kebijakan rezim. Amerika Serikat, yang selama ini menjadi pelindung utama, perlahan mulai melihat bahwa rezim sah sudah terlalu rapuh dan tidak lagi bisa dipertahankan. Dukungan dari Barat yang dulunya membanggakan stabilitas Iran kini memudar, meninggalkan sah sendirian dalam istananya yang semakin terkepung oleh suara-suara teriakan takbir dari jalanan.

 

Puncaknya, pada tahun 1979, ketidakmampuan rezim sah untuk membendung arus perlawanan rakyat mencapai titik nadir. Muhammad Reza Shah Pahlavi, akhirnya terpaksa melarikan diri dari negaranya sendiri, mengakhiri kekuasaan dinasti yang dibangun di atas fondasi kemewahan dan pangkhianatan selama puluhan tahun. Revolusi Islam Iran bukan sekedar pergantian kekuasaan, melainkan sebuah ledakan kesadaran kolektif dari rakyat yang lelah ditindas dan dihinakan oleh pemimpin yang lebih memilih tunduk pada kepentingan asing, daripada menjaga martabat umatnya sendiri.

 

Kisah Persepolis 1971 dan kehancuran yang menyertainya menjadi pengingat abadi bagi sejarah dunia bahwa kekuasaan yang dibangun di atas penderitaan rakyat, hanyalah bangunan di atas pasir. Megahnya pesta memang bisa memukau mata dunia untuk sesaat, namun keadilan dan keberpihakan kepada kaum yang tertindas adalah satu-satunya pilar yang mampu menjaga keberlangsungan sebuah bangsa. Pada akhirnya, sejarah telah membuktikan bahwa, tidak ada kemewahan yang mampu menutupi boroknya sebuah rezim yang zolim, karena pada waktunya, suara rakyat yang kelaparan akan berubah menjadi badai yang meruntuhkan segala keangkuhan penguasa.

 

Sumber: YT @Jazirah Ilmu

Sejarah Gelap Politik Nasab: Dari Imigran Yaman sampai Strategi Kolonial Belanda

Sejarah Gelap Politik Nasab: Dari Imigran Yaman sampai Strategi Kolonial Belanda

 

Perdebatan tenggang Ba'alawi, Nasab, dan posisi orang Arab dalam sejarah Islam Indonesia tidak berdiri sebagai urusan silsilah keluarga semata. Di baliknya, ada persoalan yang jauh lebih dalam. Bagaimana otoritas agama dibentuk, bagaimana umat diarahkan untuk patuh, bagaimana kolonialisme membaca kelemahan psikologis masyarakat, dan bagaimana rasa hormat kepada agama dapat dipakai untuk mengendalikan kesadaran sosial.

 

sumber: https://www.aswajadewata.com/wp-content/uploads/2024/07/5-1140x570-1-1024x512.jpg

Selama bertahun-tahun, sebagian masyarakat Indonesia hidup dalam struktur penghormatan yang menempatkan identitas Arab pada posisi sangat tinggi. Ketika identitas itu digabungkan dengan klaim keturunan Rasulullah, kedudukannya berubah menjadi lebih kuat. Gelar, marga, simbol keturunan dan citra kesalahan menjadi jalan cepat menuju kehormatan sosial.

 

Padahal, Islam tidak meletakkan kemuliaan manusia pada darah, marga, atau klaim jenealogis. Islam meletakkan kemuliaan pada takwa, ilmu, dan ahlak. Inilah titik yang harus ditegaskan sejak awal.

 

Jika ukuran ini hilang, umat akan mudah terjebak dalam pengkultusan manusia. Rasa cinta kepada Rasulullah berubah menjadi kepatuhan buta kepada orang yang mengaku sebagai keturunannya. Masalah menjadi serius ketika kritik dianggap penghinaan, pertanyaan dianggap pembangkangan, dan pemeriksaan sejarah dianggap kebencian.

 

Padahal, Islam tidak pernah meminta umat mematikan akal sehat. Islam tidak membangun kasta suci yang kebal dari kritik. Bahkan, Al-Quran memperlihatkan dengan sangat tegas bahwa hubungan darah dengan Nabi tidak otomatis membawa keselamatan.

 

Anak Nabi Nuh tidak selamat hanya karena ayahnya seorang Nabi. Ayah Nabi Ibrahim tidak selamat hanya karena anaknya seorang Nabi. Istri Nabi Lut tidak selamat hanya karena hidup di rumah seorang Nabi.

 

Paman Nabi Muhammad sendiri tidak selamat hanya karena hubungan keluarga. Bahkan, Rasulullah menegaskan bahwa hukum tetap berlaku meskipun pelakunya berasal dari keluarga paling dekat. Ini menunjukkan satu prinsip besar, nasab tidak boleh mengalahkan ahlak, keadilan, dan kebenaran.

 

Perdebatan Ba'alawi menjadi penting karena menyentuh struktur penghormatan yang terlalu lama membuat sebagian orang sulit disentuh kritik. Ketika ahlak hilang, ketika moral rusak, ketika agama dipakai untuk menekan umat, klaim nasab tidak punya kekuatan penyelamat. Rasulullah mewariskan ahlak, bukan sistem kasta.

 

Akar persoalan ini harus dibaca dari sejarah kolonial. Cara masyarakat Indonesia memandang Arab, ulama, budaya lokal, dan otoritas agama tidak terbentuk dalam ruang kosang. Ada proses panjang yang melibatkan kekuasaan kolonial, strategi pemecah belah, dan operasi politik yang membaca psikologi umat Islam Indonesia secara tajam.

 

Salah satu nama sentral dalam sejarah ini adalah Snoek Hurgronje. Ia bukan sekedar orientalis Belanda yang mempelajari Islam, ia masuk ke dunia Islam untuk memahami titik lemah umat Islam, lalu menjadikan pengetahuan itu sebagai bahan operasi politik kolonial. Sebelum bergerak lebih jauh dalam struktur kolonial Belanda, pemikirannya banyak dipengaruhi oleh Ignace Golziher, orientalis Yahudi dari Budapest, Hongaria, yang nama aslinya disebut sebagai Yitzhak Yahuda.

 

Golziher meneliti Islam dari sudut pandang orientalis, dan menyusun kesimpulan-kesimpulan yang mengguncang, terutama tentang hadis. Ia menilai banyak hadis yang beredar dalam tradisi Islam, lahir dari konstruksi abad pertengahan, bukan langsung dari masa Nabi Muhammad. Gagasan ini memberi rangsangan besar bagi Snoek Hurgronji untuk meneliti Islam dari pusatnya, Mekah.

 

Pada tahun 1885, Snoek berhasil memasuki Mekah melalui hubungan baiknya dengan gubernur Ottoman Djedah. Ia tidak datang sebagai pejabat kolonial yang menyatakan adenda politiknya, ia datang dengan wajah seorang mu'alaf, dengan citra sebagai orang yang ingin mempelajari Islam. Di Djedah dan Mekah, ia bergaul dengan jamaah haji dari Hindia Belanda, terutama orang-orang Aceh.

 

Raden Abu Bakar Jayadiningrat memberi akses penting kepada Snoek sehingga ia dapat bergerak lebih leluasa di lingkungan Muslim dan mempelajari kehidupan umat dari dekat. Di Mekah, Snoek membaca satu kelemahan penting masyarakat Hindia Belanda. Ia melihat orang-orang nusantara memiliki rasa rendah diri di hadapan orang Arab.

 

Dalam pengamatannya, orang Indonesia tidak mudah tampil sebagai guru agama di Mekah karena merasa posisi orang Arab lebih tinggi. Ia mencatat sosok Ustadz Zainal Abidin dari Sumbawa sebagai salah satu figur Indonesia yang menonjol. Dalam saat yang sama, sejarah juga mengenal ulama besar nusantara seperti Sheikh Nawawi al-Bantani, Sheikh Junaid al-Batawi, dan ulama-ulama dari Minangkabau.

 

Namun, inti temuan Snoek bukan pada jumlah ulama. Inti temuan itu ada pada psikologi sosial. Masyarakat Indonesia mudah tunduk kepada simbol Arab.

 

Bagi kolonial Belanda, ini bukan catatan budaya biasa. Ini adalah celah politik. Dari penelitian itu, Snoek menyusun rekomendasi besar kepada pemerintah kolonial Belanda.

 

Jika Belanda ingin mematahkan perlawanan umat Islam Indonesia, mereka tidak cukup hanya memerangi raja, sultan, atau struktur politik lokal. Kekuatan perlawanan justru berada pada ulama lokal dan jaringan santri yang telah menyatu dengan budaya masyarakat. Ulama lokal tidak hanya mengajarkan agama.

 

Mereka hidup bersama rakyat, berbicara dengan bahasa rakyat, memahami budaya rakyat, dan membangun Islam yang menyatu dengan tanah tempat mereka berdiri. Islam di Nusantara tidak hadir sebagai kekuatan asing yang memutus masyarakat dari akarnya. Islam tumbuh melalui akulturasi.

 

Pesantren, masjid, langgar, gamelan, wayang, tradisi lokal dan jaringan sosial yang melekat pada kehidupan sehari-hari. Model Islam seperti ini membuat perlawanan terhadap Belanda sulit dipatahkan. Rakyat tidak hanya bergerak karena perintah politik.

 

Mereka bergerak karena ulama memberi makna agama pada perjuangan. Selama ulama lokal dan santri tetap bersatu, kolonialisme akan selalu berhadapan dengan api perlawanan dari bawah. Karena itu, strategi Belanda berubah.

 

Mereka tidak hanya mengandalkan kekuatan militer. Mereka masuk melalui rekayasa otoritas agama. Patron lama harus dilemahkan.

 

Patron baru harus diciptakan. Jika masyarakat Indonesia tunduk kepada orang Arab, figur-figur Arab harus dijadikan pusat otoritas baru. Dengan cara itu, energi umat dapat diarahkan, dibelah, dan dikendalikan dari dalam.

 

Disinilah imigran dari Timur Tengah, terutama dari Yaman dan Hadramaut, masuk ke dalam sejarah sosial politik Islam Indonesia. Tidak semua orang Arab datang karena operasi Belanda. Sebelum kolonial mempercepat arus kedatangan, perantau Arab sudah hadir di Nusantara sebagai pedagang dan pendatang.

 

Tetapi pada fase kolonial, proses kedatangan, penempatan dan penguatan figur-figur tertentu berjalan lebih masif dan lebih politis. Orang-orang dari Timur Tengah, termasuk dari Yaman, Gujarat, dan Goa, dikapalkan ke wilayah Hindia Belanda. Mereka datang ke masyarakat yang sudah memiliki kecenderungan kuat untuk menghormati simbol Arab.

 

Ketika identitas Arab digabungkan dengan klaim keturunan Rasulullah, efek sosialnya menjadi berlipat. Masyarakat yang sudah rendah diri di hadapan Arab menjadi semakin tunduk ketika figur itu disebut sebagai zuriah nabi. Kolonialisme tidak hanya mengeksploitasi tanah dan sumbah daya.

 

Kolonialisme mengeksploitasi rasa hormat umat kepada agama. Pada era Otoman, sistem sertifikasi keturunan nabi pernah berjalan melalui lembaga Nakib Al Ashraf. Pada abad ke-16, Kekaisaran Otoman mengatur pendaftaran orang-orang yang mengklaim sebagai keturunan nabi.

 

Gelar ini membawa keuntungan sosial dan politik. Ketika sebuah gelar memberi keuntungan, ruang penyalahgunaan selalu terbuka. Klaim keturunan nabi tidak lagi hanya menjadi urusan spiritual, tetapi juga menjadi jalan menuju status, akses, dan kuasa.

 

Di Hindia Belanda, struktur kehormatan berbafis identitas Arab dan klaim dasab berkembang menjadi kelas priayi baru. Figur-figur tertentu memperoleh ruang sebagai patron agama di bawah bayang-bayang kepentingan kolonial. Habib Usman bin Yahya berdiri sebagai figur penting dalam strategi ini.

 

Ia menjadi mufti Betawi dan berada dekat dengan struktur pemerintah Hindia Belanda. Perannya menjadi tajam ketika terjadi perlawanan rakyat Banten di Cilegon. Usman bin Yahya mengeluarkan fatwa bahwa memberontak kepada pemerintah Hindia Belanda hukumnya haram.

 

Fatwa ini memberi keuntungan besar bagi Belanda. Jika rakyat melawan tentara kolonial, perlawanan itu tampil sebagai perang melawan penjajah. Tetapi ketika rakyat dilawan dengan fatwa agama, semangat perjuangan dapat dipatahkan dari dalam.

 

Strategi Belanda bekerja sangat halus. Jangan hadapi umat Islam hanya dengan senjata. Pecah patron dan kliennya.

 

Pisahkan ulama dari santri. Pisahkan santri dari santri. Pecah hubungan antara ulama lokal satu dengan yang lain.

 

Buat masyarakat meragukan pemimpin agamanya sendiri. Setelah itu hadirkan figur baru yang tampak lebih suci, lebih tinggi, dan lebih dekat dengan nabi. Belanda tahu mereka tidak mungkin menjadi otoritas moral di mata umat Islam.

 

Karena itu mereka membutuhkan wajah Islam untuk menjalankan kepentingan kolonial. Wajah itu harus punya legitimasi. Legitimasi paling kuat di masyarakat yang rendah diri di hadapan Arab adalah klaim keturunan Rasulullah.

 

Sejarah ini juga bersentuhan langsung dengan Wali Songo. Wali Songo hadir lebih dulu daripada gelombang imigran Yaman yang kemudian masuk dalam dinamika kolonial. Mereka bukan produk operasi Belanda.

 

Mereka hadir melalui arus migrasi dan dakwah yang lebih tua, dengan jalur yang terhubung ke Champa, Asia Tengah, Bukhoro, kawasan Kaukasus, dan komunitas-komunitas yang terdorong keluar dari konflik politik lama di dunia Islam, termasuk ketegangan antara Bani Umayyah dan Bani Hashim. Wali Songo berhasil menyebarkan Islam karena mereka tidak datang untuk menghancurkan budaya lokal. Mereka masuk ke dalam masyarakat, memahami simbol-simbolnya, lalu mengislamkan maknanya.

 

Gamelan, wayang, tradisi pesantren, bahasa lokal dan seni rakyat menjadi medium dakwah. Islam tidak dipaksakan sebagai identitas asing, tetapi ditanam sebagai cahaya baru dalam kehidupan masyarakat. Model dakwah Wali Songo membuat Islam Indonesia berakar kuat.

 

Dan justru karena kuat, model ini menjadi ancaman bagi kolonial. Selama Islam lokal tetap menyatu dengan budaya dan rakyat, perlawanan akan selalu memiliki basis moral. Karena itu, budaya lokal harus dilemahkan, seni lokal harus dicurigai.

 

Gamelan, wayang, sandur, dan berbagai tradisi rakyat dibuat tampak rendah, bahkan dicap maksyiat. Sementara simbol-simbol Arab ditempatkan sebagai standar kesalahan. Di Madura, misalnya, ada kesenian lokal bernama sandur, sejenis gamelan.

 

Sejak kecil, sebagian masyarakat sudah ditanamkan bahwa sandur adalah maksyiat, sedangkan rebana dianggap lebih islami. Pola ini menunjukkan proses peminggiran budaya lokal dan pengangkatan ekspresi keagamaan berwajah Arab sebagai ukuran kesalahan. Pada masa sekarang, pola ini muncul dalam bentuk berbeda.

 

Dahulu kolonial memakai strategi pemecah belah untuk melemahkan akulturasi Islam lokal. Hari ini, sebagian gerakan keagamaan keras memakai pola yang mirip, membitahkan, mengkafirkan, dan merendahkan tradisi ulama lokal. Platformnya berubah, tetapi efek sosialnya tetap sama.

 

Masyarakat dipisahkan dari akar budayanya sendiri, lalu diarahkan pada bentuk keislaman yang homogen, kaku, dan mudah memecah umat. Baal Alawi dan Wahabi bergerak dengan doktrin berbeda. Baal Alawi membangun pengaruh melalui klaim nasab dan kehormatan keturunan.

 

Wahabi membangun pengaruh melalui klaim pemurnian agama dan penolakan terhadap tradisi yang dicap bitah. Keduanya berbeda dalam ajaran, berbeda dalam metode, bahkan sering saling berseberangan. Tetapi dalam kehidupan sosial Indonesia, keduanya dapat menghasilkan dampak yang sama, melemahkan otoritas ulama lokal, merendahkan tradisi Islam Nusantara, dan memecah masyarakat dari warisan budayanya sendiri.

 

Karena itu, tuduhan bahwa kritik terhadap nasab Baal Alawi otomatis berasal dari gerakan Wahabi tidak berdiri kokoh. Banyak orang yang mengkritik kultus nasab, justru melawan Wahabisme. Kritik terhadap klaim keturunan Nabi bukan kebencian kepada Rasulullah.

 

Kritik terhadap pengkultusan Habib bukan permusuhan terhadap Ahlul Bayt. Yang ditolak adalah penggunaan nasab untuk menutup pintu kritik, menekan umat, dan membangun status sosial yang tidak sejalan dengan ahlak. Ukuran manusia tidak boleh diletakkan pada genetik.

 

Seseorang tidak otomatis mulia hanya karena mengaku berasal dari garis keturunan tertentu. Sebaliknya, orang tidak otomatis rendah hanya karena lahir dari suku, bangsa, atau keluarga biasa. Semua manusia diciptakan Tuhan yang sama.

 

Semua lahir membawa harga diri yang sama. Yang membedakan adalah takwa, ilmu, dan ahlak. Rasulullah tidak membangun agama di atas aristokrasi darah.

 

Jika beliau ingin menjadikan keturunan sebagai sistem pewarisan kekuasaan, beliau dapat menunjuk Saidina Ali secara langsung sebagai pengganti. Ali adalah sepupu, menantu, orang berilmu, dan figur besar dalam sejarah Islam. Tetapi Rasulullah tidak membangun Islam sebagai kerajaan darah.

 

Yang beliau wariskan adalah moral, rahmat, dan akhlakul karimah. Penghormatan kepada seseorang harus kembali kepada tempatnya. Jika seorang habib berilmu, bertakwa, dan berahlak, ia layak dihormati karena ilmunya, takwanya, dan ahlaknya, bukan semata-mata karena gelarnya.

 

Banyak orang yang benar-benar pantas dimuliakan karena ibadahnya, kedalaman ilmunya, dan kelembutan ahlaknya. Habib Ali Alkaf menjadi contoh guru yang dihormati karena keilmuan, ibadah, dan ahlaknya. Namun jika seseorang mengaku habib tetapi menipu umat, meminta uang dengan cara tidak pantas, membangun ketakutan spiritual, memanipulasi rasa takzim, atau melakukan kerusakan moral, klaim nasab tidak dapat menjadi pembelaan.

 

Predator tetap predator, penipu tetap penipu, orang bejat tetap bejat, gelar tidak mengubah kerusakan ahlak menjadi kemuliaan. Selama ini, sebagian umat terjebak dalam logika Muhyibin yang sempit. Tidak mencintai mereka berarti tidak mencintai Rasulullah.

 

Tidak tunduk kepada mereka berarti tidak akan mendapat syafaat. Doktrin seperti ini berbahaya karena mengalihkan cinta kepada nabi menjadi kepatuhan kepada kelompok. Cinta kepada Rasulullah harus dibuktikan dengan mengikuti ahlaknya, bukan dengan membela siapapun yang mengaku sebagai keturunannya.

 

Al-Quran memberi pelajaran yang sangat tegas. Anak nabi Nuh tidak selamat karena darahnya. Ayah nabi Ibrahim tidak selamat karena hubungan keluarganya.

 

Istri nabi Lut tidak selamat karena berada di rumah nabi. Paman nabi Muhammad tidak selamat hanya karena dekat secara keluarga. Rasulullah bahkan menegaskan bahwa jika Fatimah menjuri, hukuman tetap berlaku.

 

Hubungan darah tidak membatalkan keadilan dan tidak menghapus tanggung jawab moral. Nasab tidak boleh dijadikan benteng kekebalan. Jika seseorang mengaku keturunan Rasulullah, standar ahlaknya justru lebih berat.

 

Zuriyah Rasulullah seharusnya memantulkan kemuliaan ahlak Rasulullah. Jika yang terlihat justru kesombongan, manipulasi, penipuan, dan perendahan terhadap umat, masyarakat berhak mempertanyakan klaim itu. Analogi sederhana menjelaskan persoalan ini dengan kuat.

 

Kambing mengembik, ayam berkokok. Jika ada anak kambing menggonggong, orang akan mempertanyakan apakah ia benar-benar kambing. Jika ada anak ayam mengembik, orang akan mempertanyakan apakah ia benar-benar ayam.

 

Begitu juga dengan klaim keturunan Rasulullah. Jika ahlak Rasulullah tidak tampak, jika moral Rasulullah tidak hadir, jika rahmat Rasulullah tidak terasa, klaim itu kehilangan kekuatan moralnya. Perdebatan Nasab Ba'alawi semakin kuat setelah muncul berbagai kajian baru.

 

Filologi memeriksa manuskrip dan catatan sejarah. Asam deoksiribonuklet membuka jalur pembacaan lain. Sejarah sosial kolonial memperlihatkan bagaimana otoritas Arab bekerja dalam masyarakat Indonesia.

 

Kiai Imad dan sejumlah pihak lain membuka diskusi baru tentang klaim Nasab ini. Temuan-temuan itu mengguncang keyakinan lama, tetapi sekaligus membuka pintu bagi masyarakat untuk keluar dari hipnosis sosial yang terlalu lama menutup akal sehat umat. Namun kritik ini harus tetap berdiri di atas keadilan.

 

Kritik terhadap kultus Nasab tidak boleh berubah menjadi kebencian buta kepada semua orang yang bermarga tertentu. Tidak semua orang yang memakai gelar habib buruk. Tidak semua orang Ba'alawi salah.

 

Banyak yang berilmu, berahlak, dan layak dihormati. Tetapi penghormatan harus berdiri di atas kebenaran, bukan ketakutan. Di atas ilmu, bukan kultus.

 

Di atas ahlak, bukan klaim darah. Masyarakat juga harus berani mengakui bahwa selama ini ada pola takzim yang keliru. Banyak orang tidak berani bertanya.

 

Banyak orang berasa harus menerima apapun hanya karena yang berbicara memiliki gelar tertentu. Banyak orang rela ditipu karena berharap keberkahan atau syafaat. Itu bukan kesalahan.

 

Itu kelemahan berfikir yang dimanfaatkan oleh orang tidak bertanggung jawab. Islam tidak meminta umat menjadi bodoh demi hormat. Islam tidak menyuruh umat mematikan dan akal demi cinta kepada Nabi.

 

Cinta kepada Nabi justru menuntut umat menjaga ahlak, menjaga ilmu, menjaga keadilan, dan berani menolak manipulasi atas nama agama. Sejarah kolonial, perdebatan Ba'alawi dan kritik terhadap pengkultusan nasab bertemu pada satu titik besar. Umat Islam Indonesia harus kembali kepada ukuran yang benar.

 

Jangan menilai manusia dari darahnya. Jangan menilai ulama dari marganya. Jangan menilai kesalahan dari pakaian, bahasa atau simbol Arabnya.

 

Nilailah dari ilmu, ketakwaan, keberpihakan kepada kebenaran, dan ahlak yang nyata. Bangsa Indonesia juga harus kembali percaya diri pada akar sejarahnya sendiri. Islam Indonesia bukan Islam kelas dua.

 

Ulama lokal bukan ulama rendahan. Tradisi pesantren, dakwah wali songo, budaya lokal yang telah menyatu dengan nilai Islam dan perjuangan santri melawan kolonialisme adalah bagian penting dari sejarah besar umat. Semua itu tidak boleh direndahkan hanya karena tidak tampil dengan wajah Arab.

 

Kolonialisme pernah membaca kelemahan bangsa ini, rasa rendah diri dihadapan simbol asing. Jika kelemahan itu tidak disadari, pola yang sama akan terus berulang dalam bentuk baru. Dulu ia datang melalui strategi Belanda.

 

Hari ini ia dapat muncul melalui kultus nasab, fanatisme kelompok atau ideologi keagamaan yang merendahkan tradisi lokal. Bentuknya berubah, tetapi bahayanya sama. Umat kehilangan kemandirian berpikir.

 

Kemuliaan manusia tidak lahir dari klaim darah. Kehormatan tidak datang dari marga. Keagungan tidak diwariskan melalui gelar.

 

Allah menciptakan manusia dari laki-laki dan perempuan, menjadikan mereka berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal, bukan saling menindas dengan silsilah. Hormati orang berilmu. Hormati orang bertakwa.

 

Hormati orang yang ahlaknya baik. Tetapi jangan menyerahkan akal, martabat dan kebenaran hanya karena ia mengaku berasal dari garis keturunan tertentu. Nasab tanpa ahlak tidak menyelamatkan.

 

Gelar tanpa ilmu tidak memuliakan. Klaim suci tanpa moral hanya akan menjadi alat kuasa yang menipu umat.

 

Sumber: YT @Ngerti Geopolitik