SEJARAH COKELAT
YANG GELAP DAN MANIS
Halo, teman-teman. Selamat datang kembali.
Saya ingin kalian menutup mata sejenak. Bayangkan kalian
memegang sesuatu yang manis di tangan kalian. Mungkin itu adalah kotak kecil
berwarna gelap. Mungkin dibungkus dengan kertas emas mengkilap. Kalian
menggigitnya. Meleleh di lidah kalian. Rasanya kaya, lembut, dan manis. Itu
membuat kalian tersenyum. Kita semua tahu perasaan ini, bukan?
Cokelat adalah suguhan yang kita sukai. Kita memakannya saat
kita bahagia. Kita memakannya saat kita sedih. Kita memberikannya kepada orang
yang kita cintai di hari-hari istimewa. Tampaknya begitu sederhana. Itu hanya
permen, bukan?
Tapi, teman-teman, bukalah mata kalian. Kisah tentang kotak
kecil cokelat itu tidak sederhana. Bahkan, itu adalah kisah yang sangat panjang
dan sangat rumit. Itu adalah kisah yang menempuh ribuan mil dan ribuan tahun
untuk sampai ke tangan kalian hari ini.
Dan inilah kejutannya: selama sebagian besar sejarah,
cokelat tidak manis. Itu pahit. Itu bukan batangan padat. Itu adalah minuman.
Dan itu bukan untuk semua orang.
Hari ini, kita akan melakukan perjalanan bersama. Kita akan
melakukan perjalanan kembali ke masa lalu. Kita akan pergi ke hutan lebat di
Amerika Tengah. Kita akan berlayar dengan kapal kayu melintasi Samudra
Atlantik. Kita akan mengunjungi istana-istana mewah raja dan ratu di Eropa. Dan
kita akan berjalan melalui pabrik-pabrik yang berisik di masa Revolusi
Industri.
Tapi saya harus mengatakan sesuatu yang jujur sebelum kita
mulai. Kisah ini tidak selalu bahagia. Seperti rasa cokelat hitam, sejarah bisa
pahit. Ada bayangan dalam kisah ini. Ada kisah tentang kekuasaan, keserakahan,
dan kesedihan.
Mengapa kita perlu mengetahui ini? Karena memahami sejarah
membuat kita menghargai apa yang kita miliki hari ini. Ketika kita mengetahui
harga sebenarnya dari sesuatu, kita lebih menghargainya.
Jadi, apakah Anda siap? Apakah Anda siap untuk menemukan
rahasia yang tersembunyi di dalam camilan favorit Anda? Mari kita tarik napas
dalam-dalam. Mari kita masuk ke mesin waktu. Mari kita kembali ke awal, ke
bisikan masa lalu.
Kita tiba di tempat yang panas dan hijau. Udaranya lembap dan
berbau tanah basah dan hujan. Kita berada di Mesoamerika, tanah yang sekarang
kita sebut Meksiko dan Amerika Tengah. Tahun itu adalah 1900 SM, hampir empat
ribu tahun yang lalu.
Di sini, jauh di dalam hutan hujan, orang-orang Olmec dan
Maya menemukan pohon istimewa. Mereka menyebutnya pohon Theobroma. Dalam bahasa
Yunani, nama ini berarti "Makanan Para Dewa," dan bagi orang-orang
kuno ini, memang itulah adanya.
Mereka menemukan polong besar berwarna kuning tumbuh di
batang pohon. Di dalam polong ini terdapat biji, atau kacang. Ini adalah biji
kakao. Tetapi biji-biji ini awalnya tidak enak. Rasanya sangat pahit.
Namun, orang-orang Maya cerdas. Mereka belajar cara
mengeringkan biji, memanggangnya di atas api, dan menggilingnya menjadi pasta.
Mereka mencampur pasta ini dengan air, cabai, tepung jagung, dan rempah-rempah.
Mereka menuangkan cairan dari satu cangkir ke cangkir lainnya, berulang kali,
sampai berbusa tebal di atasnya.
Ini adalah cokelat panas pertama. Tetapi rasanya tidak
manis. Rasanya pedas, pahit, dan kuat. Bagi orang Maya, minuman ini sakral.
Cokelat digunakan dalam upacara pernikahan dan ritual keagamaan. Mereka percaya
biji kakao adalah hadiah dari dewa-dewa mereka.
Kemudian, peradaban Aztec bangkit berkuasa. Mereka lebih
mencintai kakao daripada peradaban Maya. Tetapi suku Aztec tidak dapat menanam
kakao di ibu kota mereka karena iklimnya terlalu dingin dan kering. Mereka
harus menukarnya, yang membuat biji kakao menjadi sangat langka.
Karena sangat langka dan berharga, suku Aztec menggunakan
biji kakao sebagai uang. Ya, Anda tidak salah dengar. Mereka menggunakan
cokelat sebagai mata uang. Bayangkan berjalan ke pasar dan membayar makanan
dengan biji kakao. Di dunia Aztec, uang benar-benar tumbuh di pohon.
Karena itu adalah uang, hanya orang yang sangat kaya yang
mampu meminumnya. Kaisar Aztec Montezuma terkenal karena meminum lima puluh
cangkir cokelat setiap hari, disajikan dalam cangkir emas yang dibuang setelah
sekali pakai. Bagi suku Aztec, cokelat adalah kekuatan, energi, dan kekayaan.
Sekarang cerita kita berlanjut ke masa depan. Seorang
penjelajah terkenal bernama Christopher Columbus menemukan biji kakao tetapi
tidak memahami nilainya. Hernán Cortés-lah yang benar-benar menemukan
pentingnya cokelat. Ia melihat bagaimana kaisar Aztec menghargai kakao dan
menyadari bahwa itu adalah "emas cokelat."
Ketika Spanyol menaklukkan Aztec, mereka membawa biji kakao
kembali ke Eropa. Awalnya, orang Eropa membenci minuman pahit itu. Tetapi
ketika gula, kayu manis, dan vanili ditambahkan, semuanya berubah. Cokelat
menjadi manis, hangat, dan menenangkan.
Selama hampir seratus tahun, Spanyol merahasiakan cokelat.
Akhirnya, cokelat menyebar ke seluruh Eropa dan menjadi barang mewah bagi raja
dan ratu. Toko-toko cokelat dibuka, dokter meresepkannya sebagai obat, dan
cokelat menjadi simbol kekayaan dan status.
Namun, cokelat masih berupa minuman dan sangat mahal. Orang
biasa tidak mampu membelinya. Seiring meningkatnya permintaan, kekuatan Eropa
menciptakan perkebunan kakao di koloni tropis, yang menyebabkan kerja paksa dan
perbudakan. Jutaan orang Afrika yang diperbudak dipaksa bekerja dalam kondisi
brutal untuk memenuhi obsesi manis Eropa.
Kebenaran yang menyakitkan ini mengingatkan kita bahwa
sejarah cokelat tidak hanya manis tetapi juga sangat pahit. Setelah perbudakan berakhir,
ketidaksetaraan tetap ada. Petani tetap miskin sementara perusahaan menjadi
kaya.
Revolusi Industri mengubah segalanya. Mesin-mesin baru
membuat cokelat lebih halus, lebih murah, dan lebih mudah diproduksi. Pada abad
kesembilan belas, batang cokelat padat pertama diciptakan. Cokelat susu
menyusul, dan pabrik-pabrik mulai memproduksi cokelat secara massal untuk
masyarakat.
Pada awal abad kedua puluh, cokelat terjangkau dan ada di
mana-mana. Cokelat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, ransum perang,
hari libur, dan perayaan. Merek-merek menyebar ke seluruh dunia, dan cokelat
menjadi simbol kenyamanan dan kegembiraan global.
Saat ini, cokelat adalah industri global yang sangat besar.
Namun banyak petani kakao masih hidup dalam kemiskinan, dan pekerja anak masih
ada di beberapa wilayah. Hal ini menciptakan dilema moral bagi konsumen.
Ada harapan. Sertifikasi etis, praktik perdagangan yang
adil, dan produsen kecil yang memproduksi cokelat dari biji kakao hingga
menjadi cokelat batangan sedang berupaya untuk memperbaiki kondisi. Sebagai
konsumen, pilihan kita penting.
Kita telah menempuh perjalanan panjang bersama, dari ritual
suci di hutan hingga jalur produksi pabrik. Cokelat lebih dari sekadar permen.
Cokelat menghubungkan kita dengan sejarah, budaya, dan orang-orang di seluruh
dunia.
Jadi, lain kali Anda membuka bungkus cokelat batangan,
luangkan waktu sejenak. Biarkan meleleh perlahan. Pikirkan tentang
perjalanannya. Mungkin, dengan memahami kisahnya, cokelat akan terasa sedikit
berbeda. Sedikit lebih dalam. Sedikit lebih bermakna.
Terima kasih telah bergabung dengan saya dalam perjalanan
ini melalui sejarah cokelat yang gelap dan manis.
Referensi:
Channel YouTube "English Mindcast"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Ditunggu komentar Anda!