SEJARAH
AWAL MULA PENEMUAN KOPI
Luangkan waktu sejenak dan pikirkan tentang pagi Anda. Apa
hal pertama yang Anda lakukan saat bangun tidur? Apakah Anda memeriksa ponsel
Anda? Meregangkan tubuh Anda? Atau mungkin… membuat secangkir kopi? Bagi banyak
orang di seluruh dunia, kopi bukan hanya sekadar minuman. Kopi adalah teman
sehari-hari, awal yang hangat, dan percikan kecil yang membangunkan pikiran.
Setiap hari, orang minum lebih dari dua miliar cangkir kopi. Itu berarti,
hampir setiap saat, seseorang di suatu tempat sedang memegang secangkir kopi
hangat.
Kopi memberi kita energi. Tetapi kopi juga memberi kita
waktu—waktu untuk berpikir, berbicara, dan bermimpi. Kopi menghubungkan
orang-orang di kafe kecil, kantor yang sibuk, dan rumah yang tenang. Kopi telah
menjadi produk yang paling banyak diperdagangkan kedua di dunia, setelah
minyak. Perang terjadi karena kopi. Kekaisaran menjadi kaya karenanya. Dan
revolusi lahir di sampingnya. Tetapi inilah bagian yang aneh. Penemuan
kopi—cara kita memanggang, menggiling, dan menyeduhnya—tidak pernah
direncanakan. Kopi tidak ditemukan oleh seorang raja atau ilmuwan. Kopi dimulai
dengan sekelompok kambing yang menari dan seorang pria yang penasaran di
dataran tinggi Ethiopia. Ya, kambing! Dan kecelakaan itu akan mengubah sejarah
manusia selamanya.
Jadi hari ini, mari kita kembali ke masa lalu. Mari kita
temukan bagaimana satu buah beri merah kecil menjadi minuman favorit dunia. Ini
bukan hanya cerita tentang kopi. Ini adalah cerita tentang rasa ingin tahu,
kesalahan, dan keajaiban penemuan manusia. Jadi, duduklah, rileks, dan mungkin
minumlah sedikit dari cangkir Anda sendiri. Inilah Keagungan Kopi yang Tak
Sengaja.
Sebelum kopi hadir di dunia, kehidupan sangat berbeda.
Orang-orang bekerja dengan matahari dan beristirahat dengan bulan. Tidak ada
cara cepat untuk tetap terjaga, tidak ada cara mudah untuk merasa waspada.
Ketika malam tiba, orang-orang menjadi lelah dan berhenti bekerja. Minuman umum
pada waktu itu sederhana: air, susu, dan anggur. Air tidak selalu bersih. Susu
cepat basi. Anggur dan bir ada di mana-mana, bahkan saat sarapan. Minuman itu
membantu orang rileks, tetapi juga membuat orang mengantuk dan lambat. Tidak
ada minuman yang dapat membuat orang tetap terjaga dan fokus.
Sumber gambar https://dialeksis.com
Di gurun dan kota-kota di Arab dan Afrika Utara, kehidupan
sangat sulit. Siang hari panas, malam hari panjang, dan pekerjaan tak pernah
berakhir. Pedagang, pelancong, dan pelajar sering begadang hingga larut malam.
Bagi sebagian orang, seperti para biarawan Sufi, begadang adalah bentuk doa.
Mereka ingin berbicara dengan Tuhan di saat-saat sunyi dalam kegelapan. Tetapi
mereka membutuhkan bantuan. Mereka membutuhkan sesuatu untuk menjaga mata
mereka tetap terbuka. Pada saat itu, orang-orang sudah mengetahui tentang buah
beri merah kecil yang tumbuh di semak-semak liar. Beberapa orang memakannya
mentah untuk mendapatkan energi. Yang lain mencampurnya dengan lemak hewan
untuk membuat bola makanan untuk perjalanan panjang. Tetapi tidak ada yang
berpikir bahwa biji kecil di dalamnya—yang kita sebut biji kopi—dapat mengubah
dunia. Itu hanyalah tanaman lain di hutan, tidak ada yang istimewa, tidak ada
yang penting. Umat manusia sedang menunggu sesuatu yang baru—sesuatu yang dapat
menjaga tubuh tetap tenang tetapi pikiran tetap hidup. Mereka membutuhkan
minuman yang dapat memberikan fokus tanpa mabuk, energi tanpa kekacauan. Hanya
dibutuhkan satu orang untuk memperhatikan… satu hati yang ingin tahu untuk
melihat apa yang diabaikan orang lain.
Kisah kita dimulai di dataran tinggi hijau Ethiopia, lebih
dari seribu tahun yang lalu. Di sana hiduplah seorang penggembala kambing muda
bernama Kaldi. Dia adalah seorang pria sederhana. Setiap hari, dia membawa
kambing-kambingnya ke perbukitan untuk makan dan bermain. Dia menyayangi
hewan-hewannya dan mengenal mereka dengan baik. Tetapi suatu hari, dia
memperhatikan sesuatu yang aneh. Kambing-kambingnya melompat dan berlari liar.
Mereka tampak sangat bahagia dan penuh energi. Kaldi terkejut—mereka belum
pernah berperilaku seperti ini sebelumnya. Dia mengikuti mereka dan melihat
bahwa mereka sedang memakan buah beri merah kecil dari semak hijau tua. Karena
penasaran, Kaldi memetik beberapa buah beri dan mencicipinya sendiri. Segera,
dia merasa terjaga, bersemangat, dan penuh kehidupan. Kaldi berpikir, “Buah beri
ini istimewa. Mereka memberi kekuatan dan kegembiraan.”
Dia ingin berbagi penemuannya. Jadi dia membawa buah beri
itu ke biara terdekat. Di sana, dia bertemu dengan seorang biarawan dan
menceritakan apa yang telah terjadi. Tetapi biarawan itu takut. Dia mengatakan
buah beri itu adalah “karya setan” dan melemparkannya ke dalam api. Kemudian
sesuatu yang menakjubkan terjadi. Saat buah beri terbakar, aroma yang kaya dan
indah memenuhi ruangan. Para biarawan terkejut dengan aroma manis dan hangat
itu. Mereka mengambil biji yang telah dipanggang dari api dan menghancurkannya.
Kemudian mereka mencampur bubuk itu dengan air panas. Malam itu, para biarawan
meminum minuman gelap baru itu… dan tetap terjaga selama doa mereka. Itulah
secangkir kopi pertama. Kopi lahir bukan dari sains atau penemuan, tetapi dari
kecelakaan dan rasa ingin tahu. Kambing-kambing Kaldi memulainya. Seorang
biarawan yang ketakutan melanjutkannya. Dan sebuah kesalahan sederhana
menciptakan sesuatu yang akan mengubah dunia. Terkadang, penemuan terbesar
dimulai dengan pikiran terbuka dan hati yang kecil dan penuh rasa ingin tahu.
Kisah Kaldi dan para biarawan hanyalah permulaan. Tetapi
perjalanan kopi yang sebenarnya—yang membentuk dunia kita—dimulai ratusan tahun
kemudian. Biji-biji kecil itu menyeberangi Laut Merah, dari Ethiopia ke Yaman.
Di sana, pada tahun 1400-an, kopi menemukan rumah sejatinya. Di Yaman,
sekelompok orang suci yang disebut Sufi mulai menggunakan kopi. Mereka
membutuhkan sesuatu untuk membantu mereka tetap terjaga selama malam-malam
panjang berdoa. Mereka menemukan bahwa Ketika biji kopi dipanggang dan diseduh,
minuman itu menjadi lebih kuat dan lebih lezat. Minuman itu memberi mereka
energi, fokus, dan kedamaian.
Awalnya, mereka tidak memiliki mesin atau alat. Mereka
memanggang biji kopi dalam wajan logam kecil di atas api terbuka. Mereka
mendengarkan dengan saksama suara gemericik kecil itu. Mereka mencium aroma
udara untuk mengetahui kapan pemanggangan sudah sempurna. Itu adalah seni,
bukan sains—proses yang sabar yang dibuat dengan hati dan tangan. Terkadang
biji kopi gosong. Terkadang minumannya terlalu pahit atau terlalu encer. Tetapi
kaum Sufi tidak berhenti. Mereka terus mencoba, berulang kali. Dengan setiap
kesalahan, mereka mempelajari sesuatu yang baru. Mereka menemukan bahwa semakin
lama pemanggangan, semakin dalam rasanya. Panas itu dapat membuka inti dari
biji kopi.
Segera, kabar tentang minuman itu menyebar ke luar biara.
Para pedagang, pelancong, dan cendekiawan mulai mencobanya. Mereka menyebutnya
"qahwa," yang berarti "minuman yang memberi kekuatan."
Orang-orang meminumnya untuk belajar, berdoa, bekerja, dan sekadar merasa
hidup. Untuk pertama kalinya, ada minuman yang mempertajam pikiran alih-alih
menumpulkannya. Minuman itu menjadi bagian dari kehidupan spiritual mereka, dan
kemudian kehidupan sehari-hari mereka. Dalam pot tanah liat kecil, di atas api
terbuka, orang-orang mulai menyeduh kopi di mana-mana—di rumah, di pasar, dan
di masjid. Itu bukan lagi sekadar penemuan. Itu telah menjadi tradisi, ritual,
cara untuk berbagi waktu dan percakapan. Perjalanan kopi adalah perjalanan
kesabaran dan keyakinan. Tidak ada yang menciptakannya di laboratorium. Itu
dibentuk oleh berabad-abad eksperimen kecil dan pengabdian yang tenang. Para
biarawan dan Sufi hanya ingin tetap terjaga untuk berdoa—tetapi dengan
melakukan itu, mereka membangunkan dunia.
Selama berabad-abad, kopi adalah minuman para biarawan dan
mistikus. Tetapi suatu hari, sesuatu berubah. Kopi meninggalkan dinding biara
yang tenang dan memasuki jalan-jalan kota yang ramai. Kopi bukan lagi sekadar
minuman untuk berdoa—ia menjadi minuman bagi masyarakat. Pada tahun 1500-an,
kopi mencapai kota Mekah, salah satu pusat besar dunia Islam. Orang-orang di
sana menyukai rasa, kehangatan, dan energi yang diberikannya. Tak lama
kemudian, tempat-tempat kecil dibuka di mana orang-orang dapat berkumpul, duduk
bersama, dan minum. Inilah kedai kopi pertama di dunia. Di dalam tempat-tempat
ini, udara dipenuhi percakapan dan tawa. Aroma kopi bercampur dengan suara
musik dan perdebatan. Orang-orang membicarakan bisnis, puisi, dan politik.
Mereka bermain game, bercerita, dan berbagi mimpi. Kedai kopi menjadi ruang
jenis baru—terbuka untuk ide, terbuka untuk orang-orang. Seorang penulis pada
waktu itu berkata, “Di Mekah, orang-orang minum qahwa dan berkumpul dalam
jumlah besar. Mereka membicarakan urusan mereka dan tetap terjaga tanpa
kesulitan.” Itu benar—kopi memberi orang kekuatan untuk tetap terjaga, tetapi
juga untuk berpikir, berimajinasi, dan berkreasi. Inilah terobosan sebenarnya.
Kopi bukan lagi sekadar minuman—ia adalah sebuah gerakan. Kopi mengubah cara
orang bekerja, cara mereka bertemu, dan cara mereka berbagi ide. Di
ruangan-ruangan kecil yang dipenuhi tawa dan aroma itu, masyarakat modern mulai
terbentuk.
Setiap penemuan besar pasti menghadapi ketakutan. Dan kopi
tidak berbeda. Ketika pertama kali menyebar ke seluruh kota, tidak semua orang
senang. Beberapa pemimpin, pendeta, dan raja melihatnya sebagai sesuatu yang
berbahaya—minuman yang dapat mengubah pikiran orang. Di Mekah, sekitar tahun
1511, gubernur melarang kopi. Ia mengatakan kopi membuat orang malas dan
pemberontak. Ia percaya kedai kopi adalah tempat gosip dan masalah. Orang yang
terlalu banyak minum kopi, katanya, bisa melupakan doa mereka. Tetapi
orang-orang terlalu menyukai kopi untuk meninggalkannya. Mereka bertemu secara
rahasia di ruangan-ruangan kecil, berbagi cangkir dan bisikan. Bagi banyak
orang, kopi lebih dari sekadar minuman—itu adalah kebebasan. Kopi memberi
mereka energi untuk berpikir, bertanya, dan bermimpi.
Ketika kopi mencapai Eropa, hal itu menyebabkan lebih banyak
perdebatan. Beberapa pemimpin gereja menyebutnya "minuman setan."
Mereka mengatakan kopi berasal dari negeri Muslim dan harus dilarang bagi orang
Kristen. Tetapi kemudian, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Paus Clement VIII
memutuskan untuk mencicipinya sendiri. Setelah menyesapnya pertama kali, ia
tersenyum dan berkata: “Minuman setan ini begitu lezat sehingga akan menjadi
dosa jika hanya orang kafir yang meminumnya.” Dengan itu, ia memberkati
kopi—dan orang-orang bersorak. Namun, tidak semua penguasa menyukai minuman
baru ini. Di Inggris, Raja Charles II mencoba menutup kedai kopi. Ia mengatakan
bahwa kedai kopi penuh dengan orang-orang yang banyak bicara dan pembuat onar.
Tetapi orang-orang memprotes, dan larangan itu segera dicabut. Kopi telah
menang. Tidak ada hukum yang dapat menghentikannya. Kopi telah menjadi simbol
kebebasan—percakapan terbuka, pemikiran terbuka, dan hati yang terbuka.
Setelah kopi diterima, dunia mulai berubah. Ke mana pun kopi
pergi, ia membawa kebiasaan baru, energi baru, dan ide-ide baru. Minuman kecil
yang dimulai di pegunungan Ethiopia kini telah mencapai jantung kota-kota
besar. Di Eropa, kedai kopi menjadi pusat kehidupan. Kedai kopi terbuka untuk
siapa saja—kaya atau miskin, pekerja atau penulis. Orang-orang hanya membayar
satu sen untuk secangkir kopi, sehingga mereka menyebutnya "universitas
sen". Karena dengan harga secangkir kopi, Anda dapat belajar lebih banyak
daripada di ruang kelas. Di dalam kedai kopi itu, orang-orang membicarakan
sains, seni, dan filsafat. Mereka berbagi buku, berdebat tentang politik, dan
membayangkan masa depan. Di tempat-tempat seperti inilah perubahan besar
dimulai—lahirnya surat kabar, penemuan-penemuan baru, dan bahkan revolusi.
Di London, sebuah kedai kopi menjadi Lloyd’s of London,
perusahaan asuransi besar pertama. Kedai kopi lainnya menjadi Bursa Saham
London. Di Prancis, para penulis dan pemikir seperti Voltaire bertemu untuk
membahas kebebasan dan akal sehat. Dan di Wina, para musisi menemukan inspirasi
sambil menikmati secangkir kopi hitam. Tetapi perubahan terbesar terjadi di
pagi hari. Sebelum kopi, orang sering minum bir atau anggur saat sarapan. Itu
membuat mereka lamban dan mengantuk. Setelah kopi hadir, pagi hari menjadi
lebih cerah, lebih cepat, dan lebih fokus. Dunia, untuk pertama kalinya,
benar-benar terjaga. Kopi memberi orang lebih dari sekadar energi— Kopi memberi
mereka koneksi. Kopi mengubah orang asing menjadi teman, dan keheningan menjadi
percakapan. Kopi menjadi bagian dari budaya, pekerjaan, dan cinta. Dan kopi
terus membentuk hari-hari kita, satu cangkir demi satu cangkir.
Saat dunia mulai mencintai kopi, sesuatu yang baru
terjadi—kopi mulai berkelana. Kopi melintasi samudra, gunung, dan kerajaan. Apa
yang dimulai sebagai minuman lokal di Ethiopia dan Yaman menjadi kisah global.
Bangsa Arab awalnya merahasiakan kopi. Mereka memanggang biji kopi sebelum
diekspor sehingga tidak ada yang bisa menanamnya di tempat lain. Tetapi segera,
negara-negara lain juga menginginkan harta karun ini. Pada tahun 1600-an,
Belanda berhasil mendapatkan beberapa tanaman hidup dari Yaman. Mereka mulai
menanamnya di koloni mereka di Jawa, Sri Lanka, dan Amerika Selatan. Prancis
mengikuti. Pada tahun 1723, seorang perwira angkatan laut muda bernama Gabriel
de Clieu membawa bibit kopi dari Paris ke pulau Martinique. Perjalanan itu
panjang dan berbahaya—badai, bajak laut, dan rasa haus.
Namun ia berhasil menjaga tanaman itu tetap hidup, bahkan
berbagi airnya sendiri dengannya. Dari satu biji itu, jutaan pohon kopi suatu
hari akan tumbuh di seluruh Amerika Latin.
Segera, perkebunan kopi menyebar ke seluruh wilayah
tropis—Brasil, Kolombia, Indonesia, dan Vietnam. Tetapi pertumbuhan ini datang
dengan harga yang mahal. Sebagian besar pekerjaan dilakukan oleh orang-orang
yang diperbudak dan petani miskin. Kopi membawa kekayaan bagi sebagian orang,
tetapi kesulitan bagi banyak orang lainnya. Pada tahun 1800-an, Brasil menjadi
produsen kopi terbesar di dunia. Kopi menggerakkan perekonomiannya. Namun,
minuman itu sendiri tidak pernah berhenti tumbuh popularitasnya. Pabrik-pabrik
mulai memanggang dan menggiling kopi dalam skala besar. Dunia menginginkan
kopi—di rumah, di tempat kerja, di mana pun.
Pada abad ke-20, penemuan-penemuan baru mengubah segalanya
lagi. Mesin espresso di Italia menciptakan kopi yang lebih cepat, lebih kuat,
dan lebih kaya. Kemudian muncul kopi instan, yang membuat minuman ini tersedia
bagi tentara, pekerja, dan orang-orang sibuk di mana pun. Kopi telah menjadi
bukan hanya minuman, tetapi simbol kehidupan modern. Saat ini, lebih dari 70
negara menanam kopi. Kopi menghubungkan para petani di daerah tropis dengan
para pekerja kantoran di kota-kota, dari São Paulo hingga Saigon. Kopi memicu
percakapan, seni, bisnis, dan mimpi. Kopi telah menjadi salah satu jembatan
terkuat antar budaya—secangkir sederhana yang menyatukan dunia.
Kisah kopi bukan hanya tentang minuman. Ini tentang
orang-orang—mimpi mereka, pekerjaan mereka, dan rasa ingin tahu mereka yang tak
terbatas. Dari seorang gembala dan kambing-kambingnya yang menari hingga para
biarawan yang berdoa, hingga para pedagang, pemikir, dan pekerja—kopi telah
menyentuh setiap jenis kehidupan. Awalnya terjadi secara tidak sengaja, tetapi
kemudian menjadi simbol koneksi. Kopi membantu orang tetap terjaga, tetapi juga
membantu mereka terbangun dari dalam—untuk berpikir, belajar, berkreasi, dan
berbagi. Setiap cangkir membawa sejarah berabad-abad dan kehangatan tangan
manusia. Para penulis menyebutnya "bahan bakar pikiran." Para seniman
mengatakan kopi membantu ide-ide berkembang seperti cahaya pagi. Dan mungkin
itu benar—kopi memberi kita lebih dari sekadar energi; kopi memberi kita fokus,
harapan, dan ritme. Kopi adalah jeda antara kekacauan dan kreativitas.
*****
Hari ini, ketika Anda duduk dengan secangkir kopi di pagi
yang tenang atau di kafe yang ramai, Anda adalah bagian dari kisah panjang umat
manusia ini. Sebuah kisah yang lahir dari rasa ingin tahu, kesabaran, dan
kemauan untuk tetap terjaga di dunia yang tertidur. Dari api dan buah beri,
hingga mesin dan kafe, kopi mengingatkan kita pada apa yang paling baik
dilakukan manusia: mengubah sesuatu yang kecil dan biasa menjadi sesuatu yang
mengubah dunia. Jadi, lain kali Anda menyesapnya, ingatlah perjalanan ini.
Sebuah perjalanan yang dimulai dengan kambing, melintasi samudra, menginspirasi
revolusi, dan kini ada di tangan Anda. Karena kisah kopi juga merupakan kisah
kita.
Referensi:
Channel
YouTube “English Mindcast”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Ditunggu komentar Anda!