Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Transkripsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Transkripsi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Maret 2026

Ormas Islam Terkaya di Dunia, Bedah Gurita Kekayaan Muhammadiyah

 

Ormas Islam Terkaya di Dunia, Bedah Gurita Kekayaan Muhammadiyah

 

 

Coba kamu bayangin, ironis sejarah yang paling gila ini. Lebih dari 100 tahun lalu, ada seorang kiai di Jogja yang dicacimaki. Musolanya dirobohkan paksa malam-malam.

 

sumber: https://goodstats.id

Ia juga dicap sebagai kiai kafir. Tapi coba lihat hari ini. Gerakan yang ia rintis dari teras rumahnya yang sempit, menjelma menjadi organisasi Islam terkaya di dunia.

 

Kok bisa orang yang dulunya diasingkan, sekarang mewariskan kerajaan amal usaha raksasa? Pasti kamu pernah dengar selentingan kabar, entah dari artikel atau obrolan di media sosial, yang menyebutkan kalau total aset Muhammadiyah saat ini tembus di angka 400 triliun rupiah. Angka pastinya tentu sulit buat dikonfirmasi, karena saking banyaknya aset yang tersebar. Tapi jujur aja, kalau kita membedah satu persatu amal usahanya hari ini, rasa-rasanya angka 400 triliun itu sangat masuk akal.

 

Bahkan, kalau ditambah sama manuver aset-aset mereka di luar negeri, valuasinya bisa jauh melampaui itu. Di video ini, aku nggak cuma mau ngajak kamu flexing atau ngitungin daftar kekayaan Muhammadiyah. Aku bakal ngebongkar habis satu rahasia besar di balik semua aset raksasa ini.

 

Setelah nonton video ini sampai detik terakhir, kamu bakal sadar gimana rasa sakit karena diremehkan justru bisa disulap jadi pondasi kebaikan terbesar dalam peradaban modern. Kalau kamu hari ini lagi ngerasa ide-ide kamu ditertawakan sama lingkunganmu, cerita ini bakal jadi tamparan yang paling memotivasi buat kamu. Tapi sebelum ke situ, pastikan kamu sudah like dan subscribe video ini.

 

Satu klik like dan subscribe tidak akan membuatmu rugi apapun, Sob. So, like dan subscribe sekarang juga. Aku tungguin ya.

 

Oke, di video ini, aku mau ngajak kalian membedah apa yang sudah dihasilkan oleh organisasi keagamaan yang sangat maju ini. Namanya memang organisasi keagamaan, namun sebenarnya dia lebih mirip seperti yayasan atau korporasi dengan jaringan bisnis yang luar biasa besar. Kita mulai dari sektor pendidikan tinggi.

 

Muhammadiyah saat ini mengelola lebih dari 170 perguruan tinggi PTMA yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Ini bukan sekedar kampus rupo tiga lantai, teman-teman. Kamu tahu Universitas Muhammadiyah Malang, UMM? Kampus ini posisinya udah kayak perusahaan konglomerasi raksasa.

 

UMM bukan cuma punya gedung kuliah mewah, tapi mereka mengelola tiga hotel komersial sekaligus. Ada Rais UMM Hotel yang setara bintang empat, hotel kapal yang bentuknya seperti kapal, sampai UMM Inn. Belum puas main di bisnis perhotelan? Kampus ini punya taman rekreasi sendiri bernama Taman Sengkali, punya pom bensin, sampai rumah sakit besar.

 

Coba kamu bayangin, ada kampus swasta di Indonesia yang bisa menghidupi dirinya sendiri lewat gurita bisnis pariwisata. Terus kita geser sedikit ke Jogja. Ada Universitas Muhammadiyah Jogjakarta, UMY.

 

Kampus ini punya landmark super ikonik bernama Sportorium. Bentuk kubahnya itu megah banget. Udah jadi langganan event nasional, pameran, sampai konser artis ternama.

 

Tapi kalau kamu mau ngomongin venue raksasa yang gede banget, kamu wajib lihat Universitas Muhammadiyah Surakarta. Mereka ngebangun mahakarya yang dinamakan edutorium. Ini udah kayak stadion indoor, kapasitasnya tembus 12.000 orang.

 

Di Solo, konser-konser besar sekarang digelar di sini. Edutorium ini sering disebut-sebut mirip Allianz Arena di Jerman. Oke, itu kampus.

 

Gimana dengan sekolahnya? Tahan dulu napasmu. Di level pendidikan dasar dan menegah, Muhammadiyah punya puluhan ribu sekolah yang bukan sekedar ada, tapi mendominasi secara kualitas. Pernah dengar SMA Muhammadiyah Trend Science Rakyat? Ini adalah sekolah yang konsepnya benar-benar out of the box.

 

Mereka menggabungkan pemahaman Al-Quran tingkat tinggi dengan ilmu sains alam kayak fisika, kimia, biologi, dan astronomi. Lulusannya? Jangan kaget. Anak-anak trend science ini langganan tembus ke kampus-kampus top dunia, bukan hanya di Indonesia.

 

Lalu ada SMA Muhammadiyah II Sidoarjo, atau yang terkenal dengan julukan SMAMDA. Fasilitas sekolah ini mewah abis, udah kayak sekolah internasional di luar negeri. Punya gedung eksklusif, auditorium megah, fasilitas olahraga standar atlet profesional, sampai sistem pendidikan yang bikin antrian masuk ke sana selalu berdesakan tiap tahun.

 

Dan kalau ngomongin soal antrian panjang, kita wajib bahas fenomena gila dari SD Muhammadiyah Sapen di Jogja. Kamu tahu nggak, ada urban legend yang berakar dari realitas di kalangan warga Jogja. Saking favorit dan prestisiusnya SD Muhammadiyah Sapen ini, konon banyak orang tua yang sudah inden atau mendaftarkan nama anaknya sejak si bayi baru lahir.

 

Bayangin, baru lahir bro. Udah dibuking kursi SD-nya. Prestasi akademis sekolah ini udah langganan juara level internasional.

 

SD ini menampar keras anggapan kalau sekolah Islam itu tertinggal atau kolam. Dan buat kamu yang mikir, Muhammadiyah kan modern banget, pasti anti sama yang namanya pesantren. Wah, kamu salah besar.

 

Muhammadiyah punya ratusan Muhammadiyah Boarding School, atau pesantren modern. Ini bukan pesantren tradisional yang seadanya. MBS di berbagai daerah, luasnya berhektar-hektar.

 

Fasilitas kamarnya modern, kurikulumnya canggih, menyatukan adab pesantren dengan kurikulum umum. Mereka melahirkan ribuan santri tiap tahun. Dari segi aset tanah dan bangunan, jaringan MBS dan pesantren Muhammadiyah ini nilainya luar biasa masif.

 

Tapi puncaknya, sektor yang paling menyentuh hajat hidup orang banyak dan menelan investasi tak terbayangkan, kesehatan. Awalnya, di masa penjajahan Belanda, Kiai Dahlan cuma mendirikan PKO, Penolong Kesengsaraan UMUM, yang bentuknya cuma klinik sederhana di Jogja. Niatnya cuma satu, nasi obat gratis buat rakyat pribumi yang penyakitan dan gak mampu bayar biaya dokter Belanda yang mahal.

 

Dari satu klinik kecil dari bilik kayu itu, hari ini meledak menjadi ratusan rumah sakit PKU Muhammadiyah dan Aisyiah di seluruh pelosok Indonesia. Kita gak lagi ngomongin klinik puskesmas kecil, teman-teman. Kita ngomongin rumah sakit tipe A dan B yang punya peralatan MRI canggih, ruang operasi standar internasional, sistem digitalisasi medis mutakhir, dan gedung bertingkat belasan lantai.

 

Coba kamu lihat kemegahan RS PKU Muhammadiyah Gamping di Jogja, RS PKU Solo, atau RS Muhammadiyah Lamongan yang jadi rujukan utama masyarakat sekitarnya. Aset tanah, bangunan tinggi, dan ratusan alat medis spesialis di jaringan PKU ini, kalau dihitung total, harganya sudah pasti triliunan rupiah. Mereka menjadi benteng pertahanan kesehatan masyarakat di saat negara kadang belum sanggup menjangkau semuanya.

 

Maka, kembali ke angka 400 triliun di awal tadi. Dengan ratusan kampus, puluhan ribu sekolah, ratusan pesantren elit, ratusan rumah sakit megah, belum lagi aset PCIM di luar negeri seperti sekolah di Australia atau kampus di Malaysia. Angka itu bukan cuma klaim kosong.

 

Itu adalah bukti nyata kerja keras yang terstruktur rapi selama lebih dari seabad. Kok bisa ya? Di titik ini, aku pengen kamu merenung sebentar. Tarik napas yang dalam.

 

Semua gurita aset triliunan rupiah yang kita bahas tadi, semuanya berakar dan bermula dari gagasan Kiai Sederhana di Jogja. Ia awalnya hanya ingin ajaran Al-Quran dalam surat Al-Ma'un itu Surat Al-Ma'un berisi perintah untuk menolong sesama. Menolong orang yang gak mampu.

 

Dari surat tersebut, ia ajak murid-muridnya buat bikin sekolah, panti, dan lain-lain. Dan hasilnya bisa kita lihat sekarang. Kiai Dahlan pernah bilang satu kalimat magis yang sampai sekarang jadi roh pergerakan ini.

 

Hidup-hidupilah Muhammadiyah. Jangan mencari hidup di Muhammadiyah. Itu adalah mentalitas seorang manusia yang sudah selesai dengan urusan ego pribadinya.

 

Dia berjuang mendobrak status quo. Melawan kebodohan masyarakatnya tanpa harus mengangkat senjata atau menyebar kebencian. Inilah makna sejati dari memperjuangkan keyakinan.

 

Kamu gak butuh tepuk tangan orang lain. Kamu gak butuh orang satu kampung atau satu kantor setuju sama ide kamu. Selama kamu tahu persis nilai kebaikan apa yang sedang kamu rintis, tetaplah bekerja.

 

Kerja keras yang tulus dan terstruktur pada akhirnya akan membungkam semua keraguan sejarah. Nah, dari semua gurita aset luar biasa yang kita bedah hari ini, mana nih yang paling bikin kamu merinding dan mindblowing?  

Sumber: YouTube @Ahmad Dahlan

Buka Puasa Bersama Sepanjang 2 Kilometer di Belgia

 

BUKA PUASA BERSAMA SEPANJANG 2 KM DI BELGIA

 

Apakah Anda pernah melihat meja iftar terpanjang di dunia? Tidak di negara-negara kebanyakan Muslim. Tidak di Mecca. Tidak di Medina.

sumber: https://detik.com

 

Tapi di tengah-tengah Eropa. Ya, di Belgia. Negara di mana Muslim adalah minoritas.

 

Namun, satu kejadian berlaku yang mengejutkan banyak orang di seluruh dunia. Sebuah meja 2 kilometer panjang. Beribu-ribu orang yang berdiri dalam satu garis.

 

Pertikaian di tangan mereka. Antisipasi di mata mereka. Dan satu panggilan untuk doa matahari.

 

Satu momen yang membawa semua orang bersama pada waktu yang sama. Ini lebih dari hanya makan malam di matahari mati. Ini adalah peringatan bahwa Ramadan tidak terbatas oleh geografi atau perbatasan.

 

Tapi pertanyaan asli adalah ini. Bagaimana sesuatu seperti ini bisa berlaku di negara di mana Muslim adalah minoritas? Siapa yang mengaturnya? Mengapa non-Muslim memilih untuk memiliki bagian? Dan bagaimana satu malam ini mempunyai dampak bagi masyarakat Belgia? Dalam dokumentari hari ini, kami akan membawa Anda ke dalam saat itu. Atmosfer, emosi, dan realitas di belakang acara yang banyak orang tidak pernah melihat sebelumnya.

 

Tetap bersama kami sampai akhirnya. Karena ini bukan hanya sebuah cerita tentang Iftar. Ini adalah sebuah cerita tentang kepercayaan, identitas, dan komunitas di tengah-tengah Eropa.

 

Pada bulan Ramadan, sebuah scene yang luar biasa berlaku di tengah-tengah Eropa. Salah satu yang banyak orang menemukan sulit dipercaya pada mulanya. Scene tersebut berlaku di Brussels.

 

Di bawah langit terbuka, sebuah jalan bandara ditutup untuk trafik. Makanan disediakan dengan berhati-hati. Tidak untuk beberapa juta kaki, tetapi menjangkau hampir 2 kilometer penuh.

 

Ini bukan inisiatif pemerintah. Ini disediakan oleh komunitas Muslim lokal. Selama beberapa hari sebelum acara ini, beratus-ratus penonton bekerja di belakang scene.

 

Orang muda menyiapkan kerusi dan meja banquet yang panjang. Wanita mempersiapkan paket makanan dan distribusi makanan yang terkoordinasi. Anak-anak komunitas lebih tua mengurus listrik tetamu dan logistik.

 

Tapi apa tujuan yang benar? Bukan hanya untuk memusnahkan makanan, tapi untuk membuka pintu. Iftar ini tidak terbatas bagi Muslim. Teman-teman Kristian datang.

 

Student-student universitas datang. Jurnalis datang. Meskipun beberapa representasi pemerintah lokal ditemui duduk di jalan yang sama.

 

Beratus-ratus orang duduk bersama-sama dalam satu baris berterusan. Pada musim panas Eropa, matahari terlambat. Cuaca malam ringan bergerak melalui jalan.

 

Suara kota semakin merendah. Kemudian ada saat ketenangan. Dan pada saat itu, beratus-ratus tangan bergerak bersama.

 

Sip air pertama. Makanan pertama. Dan pada saat itu, di sebuah jalan di Brussels, agama tidak berfungsi sebagai batas.

 

Ia menjadi sebuah jembatan. Pada hari berikutnya, berita-berita Belanda menyebutkan acaranya sebagai sebuah simbol toleransi, kewujudan, dan harmoni antaragama. Bagi banyak pengunjung non-Muslim, mungkin ini adalah pertama kali mereka mengalami Ramadhan bukan hanya sebagai bulan makan, tetapi sebagai bulan yang berpengaruh pada komunitas, refleksi, dan hubungan.

 

Terletak di bahagian barat Eropa, Belanda mendapatkan kebebasan pada tahun 1830, berpisah dari Kerajaan Negeri. Meskipun besar geografisnya kecil, Belanda memiliki signifikan politik luar biasa. Belanda merupakan negara di mana institusi-institusi besar Union Eropa berbasis, dan di mana NATO mempertahankan pemerintahannya.

 

Identitas negara Belanda, namun, tidak sederhana. Negara ini dibangun di dua komunitas kulturnya, Flemish yang berbahasa Dutch, dan Walloons yang berbahasa Perancis. Bahasa-bahasa yang berbeda, tradisi kulturnya yang berbeda, namun, satu negara yang bersatu.

 

Sejarahnya, Belanda merupakan negara yang sangat katolik. Kerajaan berusia berabad-abad masih terkenal di kota-kotanya, terutama di tempat-tempat sejarah seperti Brussel dan Bruges. Namun, sejarah tidak pernah statis.

 

Masa bergerak ke depan, dan negara-negara berkembang dengannya. Islam tidak datang ke Belanda melalui pencapaian. Belanda tidak berkembang sebagai hasil empira atau ekspansi militer.

 

Belanda datang melalui pekerjaan. Pada tahun 1960-an, semasa perkembangan industri berkembang di seluruh Belanda, negara ini menghadapi kekurangan pekerjaan. Pakaian berkembang, minyak, membutuhkan pekerja.

 

Proyek infrastruktur membutuhkan kekuatan manusia. Pemerintah menjawab dengan membuka pintu ke pekerjaan asing. Pekerja migran mulai datang, terutama dari Maroko dan Turki.

 

Mereka datang bekerja. Mereka bekerja di pabrik. Mereka bekerja di bawah tanah di minyak.

 

Mereka bertahan dalam perubahan panas dalam keadaan musim musim panas. Kehadiran mereka bukan pertama-tama tentang permanen. Banyak yang datang dengan niat menerima pendapatan dan akhirnya kembali ke rumah.

 

Namun, selama waktu, sesuatu berubah. Tahun lalu. Mereka menjemput keluarga mereka untuk bergabung.

 

Rumah kecil menjadi tempat bersembunyi. Rumah makan diatur menjadi ruang doa. Rugs ditempatkan di lantai.

 

Momen tenang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Perlahan-lahan, secara organik, tanpa kuasa atau spektakul. Islam berasal dari tanah Belgia.

 

Tahun itu adalah tahun 1974. Momen sejarah. Belgia mengetahui Islam sebagai sebuah agama yang terkenal oleh negara.

 

Ini bukan keputusan burokratis di kertas. Ini adalah pengetahuan formal bahwa Islam menjadi bagian dari pabrik sosial negara. Ketahuan itu memiliki implikasi berarti.

 

Pelajar Muslim diberi hak untuk menerima pendidikan agama Islam di sekolah rumah. Masjid menjadi terpilih untuk beberapa bentuk dukungan masyarakat. Tentara beragama diperkenalkan untuk mengatur hubungan masyarakat.

 

Proses itu, namun, tidak mudah. Komunitas Muslim harus mengembangkan sistem strukturnya untuk mengembangkan. Negara Belgia membutuhkan institusi yang bergantung untuk berserva sebagai pasangan dialog ofisial.

 

Ini membutuhkan waktu. Ini membutuhkan koordinasi, negosiasi, dan pengembangan pembangunan konstitusional. Namun akhirnya, Islam menjadi salah satu framework konstitusional di Belgium sebagai agama yang dikenali.

 

Hari ini, beratus-ratus masjid beroperasi di seluruh kota Belgium. Salah satu masjid yang paling terkenal adalah Masjid Gede di Brussels. Di dalam dindingnya, recitasi Quran dapat didengar.

 

Anak-anak belajar alfabet Arab. Orang muda bertanya pertanyaan dan mencari pengetahuan. Sebuah generasi baru dari Muslim telah dilahirkan dan dilahirkan di Belgium.

 

Mereka berbicara bahasa Fransis dan Dutis. Mereka datang ke universitas Eropa. Mereka bergerak dengan senang di dalam masyarakat Belgium moden.

 

Namun, ketika Ramadan datang banyak yang menyebutkan hubungan spiritual yang dikembangkan. Perhubungan terhadap tradisi global yang menjauh dari perbatasan negara. Bayangkan, musim panas Eropa.

 

Matahari terbang sekitar pukul 5 pagi dan tidak mati sehingga setelah pukul 10 malam. Artinya, kita beristirahat selama 16-18 jam. Pejabat tetap terbuka.

 

Sekolah terus seperti biasa. Rakan-rakan makan dan minum di dekat. Sedangkan pekerja muslim diam-diam menyaksikan makanan.

 

Tidak ada panggilan kepada doa yang dihubungkan oleh orang-orang yang berbicara. Tidak ada pasar yang penuh dengan suara persiapan Iftar. Namun, di dalam rumah ada dunia lain.

 

Sebentar sebelum matahari mati datanya ditempatkan di atas meja. Supir panas di atas api. Keluarga melihat jam.

 

Dan ketika waktunya datang panggilan kepada doa terdengar melalui aplikasi mobil. Di sini, Ramadan mungkin diperhatikan oleh minoritas. Namun, dalam hal doa dan maksudnya itu tidak dikurangkan.

 

Belgia sering memperkenalkan diri sebagai negara yang dibina pada demokrasi kebebasan dan hak-hak manusia. Namun, pertanyaan yang penting tetap adakah Islamofobia wujud di sana? Pertama, apa artinya tersebut? Islamofobia bukan saja kebencian terbuka. Ia bisa mengambil bentuk ketakutan pemahaman pengharapan. Ia muncul ketika seluruh agama terhubungkan dengan tindakan beberapa orang kecil.

 

Pada saat yang sama Belgian Muslim saat ini aktif di setiap sektor masyarakat. Mereka adalah doktor, peguam profesor, pengusaha peguam masyarakat. Beberapa terlibat dalam politik dan pertunangan sivis.

 

Banyak yang hidup dengan perasaan identitas Muslim dan Belgian. Untuk mereka identitas ini bukan secara bersama-sama. Di seluruh negara organisasi-organisasi Muslim berpartisipasi dalam inisiatif amal perkhidmatan sosial dan program dialog antaragama.

 

Pendidikan dilihat secara luas sebagai jalan kemungkinan. Konduk etis dilihat sebagai fondasi untuk membangun kepercayaan. Melalui pencapaian profesional dan partisipasi sivis banyak yang menunjukkan bahwa kepercayaan dan penduduk demokratis bisa berkomunikasi secara konstruktif.

 

Kisah Belgia sebagai peringatan bahwa Islam seperti segala agama global tidak tergantung pada geografi. Ia wujud di mana saja komunitas berasal. Jika Anda menemukan dokumentari ini menginformasikan mohon like video ini bagikan dan subscribe untuk lebih banyak dokumentari sejarah dan budaya.

Sumber: YouTube @VillageEarth

 

Sabtu, 24 Januari 2026

Buku Cetak vs Buku Digital: Mengapa Pengetahuan Semakin Mahal?

 BUKU CETAK VS BUKU DIGITAL

(Judul aslinya adalah Mengapa Pengetahuan Semakin Mahal?)

Oleh: Jeffrey Edmunds

 

Bayangkan Anda bekerja di perpustakaan dan suatu hari sebuah van berhenti di depan gedung Anda, beberapa orang keluar, mereka masuk ke perpustakaan Anda dan menunjukkan daftar kepada Anda dan berkata, "Menurut catatan kami, Anda tidak lagi memiliki akses ke 5.432 buku ini." Mereka masuk ke rak buku Anda, mengambil buku-buku itu dari rak, memuatnya ke dalam van, dan pergi. Apa yang baru saja terjadi? Kelihatannya seperti pencurian, bukan? Orang asing datang tanpa pemberitahuan ke perpustakaan Anda dan membawa kabur sebagian besar koleksi Anda.

Sumber gambar: 
https://publishdrive.com/media/posts/334/responsive/what-is-an-ebook-lg.png


Nama saya Jeff Edmonds dan saya bekerja di perpustakaan. Saya telah bekerja di perpustakaan Penn State di sini selama lebih dari setengah hidup saya dan saya dapat mengatakan bahwa itu aneh. Sejauh skenario itu terdengar, pada intinya itu terjadi setiap hari, tidak hanya di Penn State tetapi di perpustakaan di seluruh negeri sebagai akibat dari pergeseran koleksi kita dari buku ke ebook. Angkat tangan cepat, berapa banyak dari Anda yang pernah membeli buku? Saya harap semua orang di hadirin sekarang, berapa banyak dari Anda yang pernah membeli ebook? Apakah Anda akan terkejut jika mengetahui bahwa Anda tidak membeli buku?

Untuk memahami mengapa ebook tidak mungkin dibeli, kita harus melihat hukum hak cipta AS, khususnya bagian hukum yang mengkodifikasi apa yang dapat dan tidak dapat Anda lakukan dengan buku yang telah Anda beli. Ketika Anda membeli buku, buku itu menjadi milik pribadi Anda, Anda memilikinya, Anda dapat melakukan apa pun yang Anda inginkan dengannya, Anda bahkan dapat menjualnya kembali, dan jika Anda menjualnya kembali, Anda mendapatkan semua uangnya.

Pemegang hak cipta, baik penulis maupun penerbit, tidak memiliki klaim atas penjualan tersebut. Sekarang bayangkan jika itu berlaku untuk ebook. Bayangkan jika Anda dapat membeli dan menjual kembali ebook dengan cara yang sama seperti Anda dapat membeli dan menjual kembali buku cetak. Kita semua tahu bahwa jauh lebih mudah untuk membuat salinan dan mendistribusikan salinan objek digital seperti ebook dibandingkan dengan objek cetak seperti buku fisik. Jadi, ketika internet menjadi hal yang umum, penerbit menyadari bahwa mereka menghadapi krisis.

Jika konsumen dapat membeli dan menjual kembali ebook dengan cara yang sama seperti kita dapat membeli dan menjual kembali buku cetak, margin keuntungan mereka akan lenyap dan industri penerbitan akan runtuh. Jadi, apa yang mereka lakukan? Mereka membuat keputusan yang sangat cerdas. Mereka memutuskan untuk tidak menjual ebook. Jadi, ketika Anda mengklik Yang Anda bayar bukanlah ebook itu, Anda tidak memiliki ebook itu, Anda hanya membeli lisensi untuk mengakses teks tersebut.

Sekarang, jika perbedaan antara membeli dan memiliki buku cetak secara langsung versus membayar lisensi untuk mengakses ebook tampak kecil bagi kita sebagai konsumen individu, bagi perpustakaan seperti yang ada di Penn State tempat saya bekerja yang mengumpulkan jutaan ebook, perbedaan ini memiliki implikasi yang mendalam dan meresahkan. Mari kita mulai dengan skalanya.

Ini adalah katalog perpustakaan. Saat ini kami memiliki sekitar 10 juta item, lebih dari 6 juta di antaranya online, yaitu digital, ebook, dan kurang dari 4 juta adalah buku fisik yang sebenarnya di rak. Jadi, sebagian besar koleksi kami sudah online, yaitu ebook. Dan karena mereka adalah ebook, mereka tidak dimiliki dengan cara yang sama seperti koleksi cetak kami, mereka tunduk pada lisensi, dan karena mereka hanya dilisensikan, mereka dapat dihapus.

Setiap bulan kami terpaksa menghapus ribuan, puluhan ribu, dan beberapa bulan bahkan ratusan ribu ebook dari katalog kami. Ini adalah van yang berhenti di depan gedung kami dan membawa pergi sebagian besar koleksi kami. Koleksi kami menimbulkan pertanyaan siapa yang mengendalikan jika perpustakaan tidak memiliki dan mengontrol koleksi buku mereka, lalu siapa yang melakukannya? Jawaban sederhananya adalah Penerbit, dan dalam ranah penerbitan ilmiah, jenis penerbitan yang menjadi perhatian kami di lingkungan seperti Penn State, ada lima Penerbit yang mengendalikan pasar, ini adalah oligopoli, dan karena mereka mengendalikan pasar, mereka memanfaatkan keuntungan mereka dalam beberapa cara berbeda.

Pertama, biaya ebook secara artifisial tinggi; rata-rata, biaya lisensi ebook lebih mahal daripada membeli buku cetak secara langsung. Kedua, biaya ebook selama beberapa dekade terakhir telah meningkat jauh lebih cepat daripada tingkat inflasi. Ketiga, Penerbit memaksa perpustakaan untuk menandatangani kontrak yang mencakup klausul kerahasiaan sehingga kami tidak dapat membahas harga dengan lembaga-lembaga sejenis. Penn State, misalnya, tidak dapat pergi ke Universitas Michigan, atau UCLA dan bertanya berapa harga paket ebook ini; kami tidak memiliki cara untuk menentukan harga pasar yang wajar. Keempat, Penerbit menggabungkan konten mereka sehingga kami terpaksa melisensikan ribuan, bahkan puluhan ribu buku.

Bayangkan Anda berada di toko kelontong dan Anda pergi ke lorong sereal, lalu Anda mengambil sereal favorit Anda dari rak dan memasukkannya ke dalam keranjang belanja, dan seorang petugas di ujung lorong bertanya, "Apa yang Anda lakukan?" Anda menjawab, "Saya membeli sereal ini," dan mereka berkata, "Tidak, tidak, tidak, Anda tidak bisa melakukan itu. Kebijakan toko mengharuskan Anda membeli satu dari setiap jenis." Itu absurd, bukan? Namun itulah yang dilakukan penerbit terhadap perpustakaan, memaksa kita untuk memiliki ribuan hal yang tidak kita butuhkan.

Tidak ada yang menginginkan atau membutuhkan hubungan yang sangat tidak seimbang dan tidak adil ini, dan ini menjadi semakin absurd ketika Anda mempertimbangkan dari mana pengetahuan yang mengisi ebook ini berasal, siapa yang menciptakan pengetahuan ini? Singkatnya, kitalah yang menciptakannya. Beginilah cara kerja penerbitan SC Godly: Para sarjana melakukan penelitian, mereka menulis manuskrip, manuskrip tersebut diteruskan kepada rekan-rekan yang kemudian memberikan komentar, komentar tersebut diteruskan kembali kepada penulis, yang kemudian merevisi manuskrip mereka untuk memperbaikinya, dan akhirnya seorang editor atau dewan redaksi memutuskan bahwa manuskrip ini layak untuk diterbitkan, misalnya sebagai ebook atau sebagai artikel di jurnal Scotle.

Perhatikan bahwa semua kerja intelektual yang baru saja saya jelaskan dari awal hingga akhir dilakukan di universitas. Gaji orang-orang ini dibayar oleh universitas, dan bagaimana universitas didanai? Ada tiga cara utama yang sangat penting: pertama, uang kuliah. Jadi, jika Anda seorang mahasiswa yang membayar uang kuliah, uang Anda sebagian digunakan untuk mendanai Usaha penciptaan pengetahuan ini. Kedua, uang pajak. Seperti banyak institusi, Penn State adalah universitas negeri, kami bergantung pada uang dari Persemakmuran setiap tahun untuk anggaran operasional kami. Jadi di sini Anda memiliki uang pajak yang digunakan untuk mendanai Usaha penciptaan pengetahuan ini.

Ketiga, dana hibah. Sementara beberapa hibah... Dapat berasal dari individu swasta atau perusahaan swasta, sebagian besar memiliki komponen pendanaan publik yang kuat, jadi sekali lagi dana publik digunakan untuk mendanai perusahaan penciptaan pengetahuan ini. Jadi kita telah mendanai proses ini, kita telah melakukan pekerjaan, kita telah menciptakan pengetahuan, dan kemudian apa yang kita lakukan dengan manuskrip kita? Kita menyerahkannya kepada salah satu penerbit ini yang kemudian melisensikannya kembali kepada kita dengan biaya yang sangat besar.

Perpustakaan di Penn State menghabiskan lebih dari $13 juta untuk ebook dan sumber daya elektronik lainnya tahun lalu. Mengingat kesulitan yang dihadapi pendidikan tinggi, kita tahu, misalnya, bahwa Penn State beberapa tahun yang lalu menghadapi defisit anggaran $142 juta. Ekosistem ini tidak masuk akal secara ekonomi, ini adalah sistem yang rusak. Apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaikinya?

Nah, bagaimana jika kita memikirkan pengetahuan kita, pengetahuan yang kita danai dan ciptakan secara kolektif, bukan sebagai komoditas pribadi yang diserahkan kepada pihak ketiga, tetapi sebagai barang publik? Bagaimana jika kita memikirkannya dengan cara yang sama seperti kita memikirkan jalan yang baik, jembatan yang kokoh, jaringan listrik yang andal, udara bersih, air bersih? Seperti apa wujudnya dalam praktik dalam konteks ini?

Nah, pertama-tama, kita bisa mengucapkan selamat tinggal pada... Para penerbit ini membutuhkan kita karena kita melakukan semua pekerjaan, kita tidak membutuhkan mereka. Berikut contohnya: ini adalah jurnal ilmiah yang dikenal sebagai Lingua, diterbitkan oleh Elvir. Elvir adalah penerbit terbesar dari kelima penerbit tersebut. Keuntungan mereka tahun lalu melebihi $2 miliar, dan biaya berlangganan tahunan Lingua untuk perpustakaan lebih dari $2.500.

Sekitar satu dekade lalu, para editor Lingua, dipimpin oleh editor eksekutif, seorang ahli bahasa Belgia bernama Johan Rurick, memutuskan untuk pergi. Mereka mengucapkan selamat tinggal kepada Elvir karena mereka muak dengan model penetapan harganya. Mereka pergi dan memulai jurnal mereka sendiri, Glossa. Topiknya sama, Linguistik, kualitasnya sama, editornya sama, kecuali tidak seperti Lingua, Glossa gratis. Ini yang kita sebut Akses Terbuka.

Literatur Akses Terbuka adalah literatur yang tersedia secara bebas daring dan bebas dari semua atau hampir semua batasan lisensi. Jika kita memperluas konsep akses terbuka ke sesuatu yang sangat penting bagi lingkungan seperti buku teks Penn State, kita akan mendapatkan apa yang disebut sumber daya pendidikan terbuka atau OE. Kita tahu bahwa biaya buku teks telah meningkat lebih dari 100% dalam beberapa tahun terakhir. Selama 40 tahun, harga buku teks terus meningkat dengan laju tiga kali lipat dari laju inflasi.

Penelitian yang kami lakukan secara lokal di Penn State menunjukkan bahwa lebih dari setengah mahasiswa Penn State (65%) memilih untuk tidak membeli buku teks karena terlalu mahal, dan hampir sepertiga (31%) memilih untuk tidak mengambil mata kuliah karena materinya terlalu mahal. Ini adalah perpustakaan buku teks terbuka dalam katalog perpustakaan, yaitu koleksi lebih dari 1.500 buku teks di semua disiplin ilmu yang tersedia secara gratis daring. Buku-buku ini gratis dan dapat diadaptasi secara bebas.

Maksud saya, jika seorang Profesor Penn State menemukan buku teks dalam koleksi ini yang sangat cocok untuk mata kuliah mereka, kecuali misalnya dua bab, mereka dapat menghapus bab-bab tersebut atau menulis ulang dan mengunggah versi buku teks mereka agar tersedia secara gratis bagi mahasiswa mereka. Sebagai model yang berkelanjutan, ini jauh lebih baik daripada meminta setiap mahasiswa di setiap bagian mata kuliah tersebut untuk mengeluarkan uang 75 atau 150 dolar untuk buku teks yang mungkin tidak akan pernah mereka gunakan setelah mata kuliah tersebut selesai.

 Jika kita memperluas gagasan itu ke... Penerapan seluas mungkin yang mungkin terjadi, kita akhirnya mendapatkan ini selama beberapa tahun sekarang. Perpustakaan telah bekerja keras untuk mengidentifikasi, menemukan, dan membuat sumber daya yang dapat ditemukan yang tidak dikendalikan oleh penerbit, yang tersedia secara bebas daring, gratis untuk dibaca. Ini adalah hal-hal yang tidak berada di balik tembok pembayaran, Anda tidak perlu mengautentikasi sebagai pengguna Penn State untuk melihatnya, dan itu akan tetap tersedia.

Akses ke perpustakaan akan tetap tersedia bagi Anda setelah Anda meninggalkan Penn State; bahkan, akses ke perpustakaan sekarang sudah tersedia bagi siapa pun yang memiliki akses internet. Saat ini, jumlah penggunanya mencapai lebih dari 1.200.000, dan kami memperkirakan jumlah ini akan terus meningkat seiring dengan kelanjutan pekerjaan kami. Seperti yang saya katakan di awal, saya telah bekerja di perpustakaan selama lebih dari setengah hidup saya, lebih dari 35 tahun, dan saya percaya bahwa perpustakaan adalah pilar fundamental demokrasi.

Demokrasi menuntut warga negara yang terinformasi, dan warga negara yang terinformasi harus memiliki akses yang bebas, adil, dan terbuka terhadap informasi dan pengetahuan, terutama pengetahuan yang telah kita danai dan ciptakan bersama. Pengetahuan bukanlah komoditas pribadi yang dapat diserahkan kepada pihak ketiga. Pengetahuan adalah barang publik dan harus diperlakukan seperti itu. Terima kasih.

Sumber: YT @TEDx Talks