Cari Blog Ini

Minggu, 07 Juni 2026

Walid II, Khalifah Dinasti Umayyah Penyuka Sesama Jenis

 WALID II, KHALIFAH DINASTI UMAYYAH PENYUKA SESAMA JENIS

 

Subuh dini hari 744 Masehri di Istana Kekhilafan Islam. Pintu istana diobrak bukan oleh musuh. Bukan oleh Romawi ataupun Persia.

 

sumber: FB ILUSTRATOR INDONESIA

Pendobrak itu masuk membawa pedang yang ternyata adalah sepupunya sendiri dari karangan Bani Umayyah itu sendiri. Sang halifah berdiri di pojokan ruangan mencoba untuk bersembunyi. Gerlas anggur yang masih di tangannya tumpah membasahi jubah sutranya.

 

Barangkali ia telah mencoba berkata-kata kepada penyerangnya. Untuk merayu mereka. Demi Allah aku ini amirul mu'minin loh.

 

Tenang dulu, kita bicarakan baik-baik. Atau dia mungkin akan berkata, apapun yang kamu minta setelah ini akan aku penuhi. Tapi jangan bunuh aku.

 

Tapi ternyata pedang sudah lebih cepat datang daripada kalimatnya. Assalamualaikum Wr. Wb.

 

Rakyat Jilat dan semuanya, terima kasih sudah klik video ini. Izinkan kami menceritakan kisah seorang halifah yang dibunuh bukan oleh tentara romawi, bukan oleh tentara salib, bukan oleh musuh dari luar. Ia dibunuh oleh keluarganya sendiri karena sebuah dosa.

 

Dosa yang ia tampakkan tanpa malu-malu di hadapan istananya sendiri. Dosa yang memamerkan perjinahan. Tapi yang lebih ironi lagi, perjinahan itu bukan dengan lawan jenisnya.

 

Sebab halifah ini lebih suka beristirahat dengan laki-laki gemulai ketimbang dengan istrinya sendiri. Astagfirullahaladzim. Bayangkan sebuah istana di tengah gurun Palestina.

 

Khirbat al-Mafjar yang sampai hari ini reruntuhannya masih berdiri. Masih ada. Bisa kalian googling, cari di Google Maps.

 

Masih bisa dikunjungi sebagai situs arkeologi. Ibu kota Kekilafan atau Damascus, jaraknya jauh dari sana. Istana itu adalah tempat pelarian dari halifah yang akan kita ceritakan nanti.

 

Ini menjadi tempat dia pergi ketika ia ingin menjauh dari urusan umat. Dan Azhabi dalam syiar A'lam An-Nubala mencatat dengan kalimat yang dingin. Dan nongkrongnya, kumpul-kumpulnya dia di dalam sana adalah dengan para Muhannadzim.

 

Ini istana sekilas ngingetin kita sama Pulau Little St. James milik Epstein. Dan apa itu Muhannadzim? Dalam tradisi klasik, Muhannadzim itu posisi yang ambigu. Antara Mu'annadz, cewek dalam bahasa Arab, dengan Muzakar, cowok dalam bahasa Arab.

 

Muhannadz adalah laki-laki yang sengaja meniru gaya suara dan gerak-geri atau gestur perempuan. Botilah kalau disebutan bahasa sekarang. Rasulullah jelas melaknat praktek ini.

 

Tak peduli antum khilafah, antum imam, antum hafiz Quran, kayak apapun itu, nggak peduli Rasulullah sudah menetapkan hukumnya. Tapi di istana walid kedua ini, mereka bukan dilaknat. Mereka bayangkan ya, bayangkan.

 

Digaji, pakai uang negara, dan diambil dari khas Baitul Mal. Bayangin coba, kelakuan sesepulah Epstein yang kali ini yang berkedok agama ini. Kalau Epstein di Amerika, ini bayangin, di negara Islam.

 

Nah, di dalam ruangan itu, dalam istana itu, ngapain bang? Jadi apa bang? Apa jobnya kok digaji? Di sana mereka ada yang jadi penyanyi, ada yang jadi penari, ada yang jadi sekertalis paling pribadi bagi kholifah. Bukan sekertaris kabinet ya. Nggak usah bawa-bawa urusan pribadi negara kalian masing-masing ke sini.

 

Di sana, mereka diposisikan sebagai teman duduk yang paling akrab seorang kholifah yang setiap Jumat, masih dipanggil di dalam doa para khotib dengan sebutan Amirul Mu'minin. Beuh, gila nggak tuh? Dan di dalam istananya, kholifah ini kerap main game tusbol. Padahal di luar gerbang istananya, gerbang pengaduan dari para kodi, para hakim di seluruh penjuru negeri, menumpuk nggak diurus-urus, nggak peduli sama dia.

 

Bayangin aja adegannya. Salah seorang kodi yang sudah tua, sepuh duduk di pelatarannya, menggenggam surat yang sudah dikirim untuk ketiga kalinya. Ia berkata lirik kepada juru tulisnya, Udah enam bulan, surat tentang janda di kufah, yang anaknya hilang, yang kalau kholifah sebelumnya hisyam, akan menjawabnya dalam tiga hari maksimal.

 

Yang ini, aku tidak tahu apakah suratku ini sudah masuk ke meja ruangannya atau nyangkut di balik gerbang doang. Juru tulisnya kemudian menjawab, Sudahlah, saya pulang aja. Kholifah sedang sibuk.

 

Tahu nggak kalian sibuk apa? Sibuk apa? Sibuk mendendangkan syair, sibuk nyanyi, sibuk ngedan. Eh lu itu kholifah, bukan anggota boy band Bapak Walid. Teman-teman tahu nggak? Para ulama siroh mencatat satu hal yang sangat menyakitkan tentang Walid kedua ini.

 

Bukan bahwa dia memang melakukan dosa besar dan itu memang sudah cukup menyakitkan, tapi ada yang lebih menyakitkan. Apa dia melakukan dosa itu tanpa malu-malu. Ibnu Khasir dalam Al-Bidayah wa-Nihaya menulis dengan kalimat yang sangat keras.

 

Ia menampakkan kefasikannya. Dan kefasikan itu adalah perbuatan kaum mudud. Menampakkan, bukan menyembunyikan, bukan sembunyi-sembunyi atau diam-diam melakukan.

 

Bukan menyesali apalagi. Menampakkan. Kalau punya sosmed, wah itu mungkin udah di-upload tuh mah.

 

Dia kontenin itu mah. Dia banggain. Atau malah bikin kompetisi boti pilihan kholifah.

 

Astagfirullah. Sekarang coba renungkan. Walid II ini tidak bodoh.

 

Ia tahu rakyatnya berbisik di belakangnya. Ia tahu bahwa para ulama tidak menyukainya. Intelnya tersebar di mana-mana.

 

Dia tahu semua informasi itu. Ia bahkan tahu bahwa pamannya sendiri yang sekarang jadi kholifah, itu pernah mencoba mencaput haknya sebagai pewaris takhta karena perilakunya ini. Tapi Walid berhasil mendapatkannya dan menjadi amirul mu'minin yang sangat tidak layak secara moralin.

 

Hisyam itu sudah mencoba menghentikannya loh. Coba bayangin Hisyam berkata kayak gini. Walid sini, aku sudah dengar tentang majelismu.

 

Tentang anggurmu, tentang penyanyi-penyanyi dan penari-penarimu dan tentang bota-boti kesayanganmu di sekelilingmu itu. Lah Paman, itu kan cuma hiburan. Hiburan apa? Hisyam berdiri, wajahnya merah mungkin.

 

Kau akan jadi amirul mu'minin Walid. Kholifah dari umatnya Muhammad, umat Nabi Muhammad SAW. Dan kau menyebut ini sebagai hiburan.

 

Walid menunduk dan Az-Zahabi kemudian mencatat bahwa setelah Walid keluar dari ruangan itu, dia tertawa. Dia tertawa bersama dengan teman-temannya dan berkata bahwa Pamannya sudah terlalu tua. Ini orang tua harus segera diganti aja lah.

 

Ini nggak ngerti kemajuan zaman ini si Hisyam ini ya. Seperti itulah kurang lebih gambaran Walid. Ada banyak ulama di sekeliling istana itu.

 

Tapi apakah Walid meminta nasihat mereka? Yo tentu saja tidak. Dia bahkan membangun lingkaran di dalam istananya yang membuat dosa dia merasa baik-baik saja dilihat sebagai normal-normal aja. Yang ia tempatkan di sisinya bukan ulama-ulama yang suka memberikan nasihat secara ludus atau panglima yang senantiasa mengingatkan dia atau polisi yang bisa mengkritisi dia secara fair dan objektif.

 

Melainkan penyair-penyair pemuji, penyanyi-penyanyi penjelakawan, kemudian penjilat-penjilat yang senantiasa memberikan validasi terhadap dosa atasannya dan mukhannasin, yang menghibur. Dan juga kalaupun ada orang-orang profesional yang ahli, mereka itu lebih takut kehilangan jabatannya daripada takut pada dosa. Yang kalau ada seorang ulama datang berani mencoba menegur, ulama itu akan dituding dengan tuduhan macam-macam, irilah, dengkilah, fitnahlah, caperlah, dan lain-lainnya.

 

Lalu dia bisa diusir. Sistem yang harusnya hanya diperuntukkan untuk Allah dan Rasulnya, kini diperuntukkan untuk hawa nafsunya. Sefatal itu, teman-teman, jika kepemimpinan jatuh di tangan yang salah.

 

Di tahun 735 Masehi, Walid masih putra mahkota. Kita flashback mundur dulu ya. Belum jadi khalifah.

 

Pamannya khalifah Hisham. Sudah lama mendengar perilaku daripada ponakannya yang tidak pantas ini. Hisham berpikir keras.

 

Mungkin pikir Hisham, kalau Walid dikasih tanggung jawab agama ke rumah Allah, dia akan berubah kali ya. Ngelihat Ka'bah nangis seharusnya, kayak orang pada umumnya. Maka Hisham mengangkat si Walid II ini menjadi Amir Hajj, pemimpin rombongan jamaah haji.

 

Bayangkan kehormatan ini, memimpin ribuan jamaah haji ke bayi Tuhan, mewakili khalifah dalam ibadah yang paling suci bagi umat Islam ditunggu setiap tahunnya oleh seluruh umat Islam. Posisi yang biasanya diberikan kepada orang-orang yang paling salih ini loh. Walid, sini.

 

Kata Hisham. Walid, sini. Ini kesempatan terakhir kamu ya.

 

Kamu pergi ke Mekah. Dekati rumah Allah di sana. Mungkin di sana hatimu bisa kembali pengen pulang.

 

Tobat sebelum jadi khalifah kamu itu. Walid menganggup. Berjanji.

 

Ya siap, oke paman. Siap, laksanakan bos. Lapan enam.

 

Pak khalifah. Tapi tahu nggak kalian? Apa yang dia lakukan? Dia kemudian mengemasi barang-barangnya sembari membawa anjing-anjing pemburu secara sembunyi-sembunyi. Dia masukkan di dalam peti-peti kayu yang dia bawa bersama rombongan.

 

Padahal dia tahu ini pasti akan ketahuan nih. Tinggal nunggu waktu aja. Padahal ini barang hidup kok.

 

Barang hidup kok dibawa segini banyak. Membawa kawanan anjing pemburu. Nggak cuma satu berarti ya.

 

Disembunyikan di dalam peti-peti kayu di atas unta yang dibawa oleh rombongan. Disamarkan supaya tidak ada yang curiga. Untuk apa? Supaya kalaupun dia berhasil sampai di tempat lokasi yang bagus dia pengen berburu di sela-sela perjalanan haji.

 

Biar kagak bosan katanya. Bayangin nggak tuh. Dah brain rot otak dia kayaknya ya.

 

Berburu saat ikhrom. Gimana nggak konsep tuh? Itu haram secara eksplisi di dalam Qur'an. Allah sudah jelasin dalam surat Al-Ma'idah ayat 95.

 

Janganlah kamu membunuh hewan buruan ketika sedang ikhrom. Jelas tuh. Dan di wilayah sekitar Mekka itu wilayah tanah haram Pak Walid.

 

Di sana berburu binatang dilarang secara permanen. Rasulullah SAW sendiri yang menetapkan hukum ini. Emang Walid ke-2 calon khalifah putra mahkota ini emang kagak tahu? Dia tahu semua hukum ini.

 

Dia diajari kok. Jadi pemimpin disiapkan kok. Ilmu-ilmu dikasih kok.

 

Sebagai amir haj, tugasnya adalah menjaga ribuan jama'ah dari pelanggaran ikhrom ini kan harusnya? Eh nggak tahunya. Dia yang ngelanggar dong. Ini nggak cuma melanggar tapi mempermainkan hukum Allah.

 

Nantangin hukum Allah. Udah tahu tapi tetap ditabrak. Lalu di tengah perjalanan salah satu peti jatuh.

 

Pecah anjingnya keluar dong dan menggonggong. Jama'ah yang sedang berikhrom. Ya para jama'ah itu kemudian terkejutlah.

 

Kok ada anjing nih? Siapa yang bawa anjing nih? Dan walid apa yang dilakukan walid? Ngaku? Ya kagak bukan walid. Bebas dong dia amirnya, dia pemimpinnya, dia bosnya. Lalu dia menunjuk si pembawa untang.

 

Lah kamu nih. Kamu kan yang bawa nggak usah cari siapa yang ditipin. Kok bisa-bisanya kamu bawa? Kok bisa-bisanya kalau tahu? Kamu tahu ini salah tapi mau tetap bawa? Kamu yang salah.

 

Akhirnya tukang si pembawa unta tadi yang membawa unta itu ditetapkan bersalah dan dipukul keras-keras di hadapan jama'ah-jama'ah haji itu. Dipukulin guys. Sambil walid duduk diam menyaksikan seorang yang dipukul untuk dosa yang walid lakukan.

 

Kurang ajar emang tulang lunak yang satu ini ya. Pas momen beristirahat bayangkan ini nggak selesai di situ. Ini kan perjalanan dari Damaskus, ibu kota Kekilafan ke Mekah.

 

Jaraknya 1300 km. Butuh waktu sekitar 1,5 sampai 2 bulan. Di satu waktu pas mau beristirahat walid memberitahkan para panitia haji ini, para bawahan-bawahannya itu yang ada di sana agar membangunkan sebuah tenda berbentuk kubah yang ukurannya segede ka'bah.

 

Biar apa? Ah nggak usah lah. Nggak usah banyak tanya. Udah lakuin aja.

 

Kira-kira gitu mungkin perintahnya. Para tukang akhirnya bekerja siang dan malam. Tenda itu mewah dihiasi kain sutra dari Damaskus, bantal-bantal tebal dari Persia, karbet dari Konstantinopel.

 

Semua dibeli, semua disiapkan untuk kalau ini didirikan ditaruh di dalamnya. Ketika ditanya udah selesai. Sebenarnya buat apa sih walid ini semua? Tahu nggak? Jawaban si walid ini.

 

Jawabannya kurang ajar si walid ini. S**l. Dilakukan rakyat.

 

Kalaupun kita nggak percaya sama lanat, kita nggak percaya sama Allah, tapi rakyat ini jelas bisa ngelakukan sesuatu, bisa nyakitin kita ini. Mereka akan ngebunuh kita semua kalau ini dipaksakan. Termasuk anda lah.

 

Masa aku ngaku khalifahnya nanti kok. 50 juta dirham itu adalah harga yang bisa menggaji 10 ribu prajurit selama 1 tahun. Penuh.

 

10 ribu dalam 1 tahun, teman-teman. Dan walid ketika dapat uang itu dikasihkan ke Bay Tulmal, dikasihkan kepada Operasional Negara atau Istana, kagak dimasukkan ke kantong pribadinya. Tapi binasalah setiap orang sombong dan keras kepala itu.

 

Dapat surat Ibrahim ayat ke-15. Kalimat itu mengenai dia. Persis, presisi.

 

Dia tersinggung dong. Namanya juga walid. Nggak terimawah, kurang ajar nih tetap.

 

Berani ya Allah sama gue.

 

 

 

Dan di dalam istananya, Khalifa ini kerap main game tussbol. Padahal di luar gerbang istananya, gerbang pengaduan dari para kodi, para hakim di seluruh penjuru negeri, menumpuk nggak diurus-urus, nggak peduli sama dia. Digaji, pakai uang negara, dan diambil dari khas Bayi Tulmal.

 

Bayangin coba, kelakuan sesepuluh Epstein yang kali ini yang berkedok agama ini. Kalau Epstein di Amerika, ini bayangin, di negara Islam. Para tukang akhirnya bekerja siang dan malam.

 

Tenda itu mewah, dihiasi kain sutra dari Damaskus, bantal-bantal tebal dari Persia, karpet dari Konstantinovel, semua dibeli, semua disiapkan untuk kalau ini didirikan, ditaruh di dalamnya. Ketika ditanya udah selesai, sebenarnya buat apa sih Walid ini semua? Tahu nggak jawaban-jawaban si Walid ini? Jawabannya lagi kurang ajar ini si Walid ini. Aku berencana kalau sampai di Mekah, aku mau pasang tenda ini di atas kakbah, aku mau beristirahat sama teman-temanku, duduk-duduk sambil minum anggur.

 

Sambil minum Homer, sambil ngelihat orang-orang jamaah ini nih, ini ribuan orang ini, tawaf di bawahku. Seru kali ya. Ini kesempatan langka ini ya.

 

Kesempatan langka ini jarang, sayang kalau dilewatkan. Coba bayangin teman-teman, buru-buru taubat. Susah emang kalau orang sudah prefrontal cortexnya udah kena nih.

 

Ngalah-ngalahin HP yang udah kena LCD nih. Bayangkan momen itu, Putra Mahkota Umat Islam, Caron Amirul Muminin, ketika berangkat, sudah punya niat duduk di rumah Allah, sambil meminum sesuatu yang dilaknat Allah, di rumah Allah itu sendiri, di tanah yang Allah haramkan. Apakah nggak nantangin Allah nggak tuh? Ketika rombongan tiba di Mekah, ini nggak selesai ternyata.

 

Sahabat-sahabatnya yang masih punya sisa rasa takut kepada Allah, barangkali salah satu dari mereka memohon, ayo Allah, ya Allah, ya Allah. Ini nggak masuk akal, kalau dosa begini ini nggak masuk akal ini. Kami tidak merasa aman dari apa yang akan dilakukan rakyat, kalaupun kita nggak percaya sama Al-An'ad, kita nggak percaya sama Allah, tapi rakyat ini jelas bisa ngelakukan sesuatu, bisa nyakitin kita ini.

 

Mereka akan ngebunuh kita semua kalau ini dipaksakan, termasuk andalah. Masa aku ngaku khalifahnya nanti kok. Mereka bagaimana nggak terima? Gimana mereka nggak terima? Saya akan lawan! Gitu kan.

 

Saya akan lawan. Anda belum khalifah, Anda belum jadi pemimpinnya, Sayyid. Anda itu Amirhat sekarang.

 

Dan rakyat, mereka mencintai Ka'bah lebih daripada mereka mencintai Anda sebagai Putra Makota. Akhirnya, rencananya dibatalkan. Tapi, tenda itu sudah dibikin.

 

Udah siap, cuman nggak pernah dipasang aja. Udah disiapkan sama walid. Di sisi lain, para jama' haji sudah melihat, sudah menyaksikan.

 

Dan ketika mereka pulang ke desa-desa mereka, mereka membawa cerita itu. Cerita itu menyebar dari mulut ke mulut, dari pasar ke pasar. Mencapai ke telinganya Hisham Sang Khalifah di Damaskus dan Hisham menangis.

 

Disitulah dia ingin membatalkan walid menjadi suksesornya, udah bulet tekadnya. Tapi ternyata, tiba di tahun 743 Masehi, Hisham wafat. Rencana untuk membatalkan walid belum sepenuhnya usai.

 

Para tetua yang disebut ahlul halli wal akdi, para sesepuh ini, tidak mau membatalkan bayiat yang sudah ditetapkan kepada ayah Hisham sebelumnya, yaitu Abdul Malik bin Marwan, yang bilang kalau aku meninggal, pemimpinnya Hisham. Kalau Hisham meninggal, nah aku ingin walid kedua yang menjadi khalifah. Walid kedua ternyata resmi menjadi amirul mu'minin setelahnya.

 

Di Irak, kita lompat ke Irak sedikit. Ada seorang gubernur senior yang bernama Khalid al-Qasri. Khalid ini adalah seorang yang bertahun-tahun sebelumnya pernah membela walid di hadapan Hisham yang ingin menggantikan walid sebagai suksesornya.

 

Ketika Hisham berusaha mencaput hak walid sebagai pewaris takhta, Khalid ini berjuang mati-matian memberikan argumentasi supaya banyak orang, para sesepuh itu, lebih condong kepada apa yang diargumentasikan oleh si Khalid ini. Dengan kata lain, kalau bukan karena Khalid al-Qasri, ya kemungkinan besar walid ini tidak akan pernah menjadi khalifah. Khalid adalah pelindungnya walid, pendukungnya.

 

Pembelanya. Lalu apa yang walid lakukan ketika walid jadi khalifah? Kebanyakan nggak? Apa? Oh biasanya bagi-bagi kue, naik jabatan, dapat fasilitas. Enggak, walid beda teman-teman.

 

Apa yang dilakukan walid kedua ini? Walid menjual Khalid pembela setianya. Ya kalian nggak salah dengar. Dijual gubernur senior, dijual pelindungnya sendiri, dijual kepada musuh besarnya Khalid, seorang bernama Yusuf bin Umar.

 

Seharga 50 juta dirham. Mari kita konversikan konteksnya di zaman itu. 50 juta dirham itu adalah harga yang bisa menggaji 10.000 prajurit selama 1 tahun.

 

Penuh! 10.000 dalam 1 tahun teman-teman. Dan walid ketika dapat uang itu dikasihkan ke Beytulmal, dikasihkan kepada Operasional Negara, kagak dimasukkan ke kantong pribadinya. Dan btw, Yusuf bin Umar ini, seorang pembelinya ini, yang ditawarkan langsung oleh walid ini, kenapa? Sebab walid tahu Yusuf punya dendam kepada Khalid yang akan rela membayar berapapun untuk membalaskannya.

 

Jadi dijual mahal tuh, pasti laku. Lalu si Yusuf membawa Khalid ke ruang siksaan dan Khalid al-Khasri, orang yang pernah membela walid, disiksa sampai tewas berbulan-bulan lamanya. Udah ada 2 sesi penyiksaan.

 

Sesi pertamanya aja udah 18 bulan. Lalu sesi kedua, gak lama, dia pun wafat. Seluruh harta Khalid diambil oleh Yusuf.

 

Yusuf, bukannya dihukum, dia malah dijadikan gubernur untuk menggantikan Khalid oleh walid. Coba... Gak selesai disitu perlakuan si Khalid ini. Belum cukup dengan Khalid, walid kedua ini juga memenjarakan Sulaiman bin Hisham, sepupunya sendiri anak kandung daripada Hisham, paman yang baru saja wafat, lalu menyerahkan taktanya kepada walid.

 

Tanpa alasan yang kuat, tanpa peradilan, hanya karena bisa nikahnya. Dah, masukin aja dah. Bayangin aja, Wissel Sulaiman bertanya kepada para penjaga di sel ini.

 

Tolong sampaikan kepada walid, apa salahku? Aku ini sepupunya sendiri lho. Aku ini darah dagingnya lho. Para penjaga menjawab, Nah, maaf ya pemimpin.

 

Tuhan kami, Amirul Mu'minnya sedang sibuk. Sibuk ngapain? Sibuk mabok. Sibuk kumpul-kumpul sama cowok-cowok yang dia cintai.

 

Bayangkan momen itu. Seorang halifah, bukannya menyatukan keluarganya, justru memenjarakan anak pamannya yang baru wafat. Ya mungkin Khalid ingin balas dendam, karena nggak rido taktanya mau nggak dijadikan sama pamannya.

 

Dan mungkin dia juga antisipatif, agar anak pamannya ini nggak ngelanjutin rencana daripada halifah sebelumnya itu. Padahal pamannya itulah yang membesarkan si walid, yang dulu berusaha mendidiknya, mengajarkan ilmu-ilmu tentang kepemimpinan politik, ilmu umum, dan agama kepada si walid. Yang mendoakan agar dia bertobat, yang menangis ketika mendengarkan kabar tenda di atas ka'bah.

 

Bayangkan kalau Hisham masih hidup, dan melihat anaknya di penjara oleh keponakan yang dia besarkan sendiri. Inilah yang oleh para sejarawan disebut sebagai titik balik politik. Setelah penyiksaan Khalid al-Khosri, dan memenjarakan Sulaiman bin Hisham, keluarga Bani Umayyah sendiri mulailah berbisik-bisik.

 

Ide kudeta mulai muncul. Walid II bukan lagi musuh dari rakyatnya saja, karena dia menjadi musuh dari keluarganya sendiri. Keluarga kerajaan.

 

Tapi ternyata walid tidak berubah juga. Makin kuat alasannya nanti ini. Apa yang dilakukan? Ada sebuah adegan yang paling berat untuk diceritakan.

 

Diruayatkan dalam Bidayah wa Nihaya yang ditulis oleh Ibnu Khasir. Dan juga ditulis oleh di dalam Tariq al-Tabari. Di suatu hari, si Walid ini melakukan Tafa'ul.

 

Yaitu meminta petunjuk kepada Allah dengan cara membuka mushaf secara acah. Dia buka secara acah. Dia membuka, lalu matanya jatuh kepada sebuah ayat.

 

Mungkin sebagian kita sering melakukan itu. Ngacak, baca, eh ternyata kok rilit. Nah, ini sudah jadi tradisi ternyata sejak dulu.

 

Walid melakukan itu. Dan dia kemudian mendapatkan satu ayat. وَاِسْتَفْتَهُ وَهُبَّ كُلُّ جَبَارٍ عَنِهِ Dan mereka memohon kemenangan, tapi binasalah setiap orang sombong dan keras kepala itu.

 

Dapat surat Ibrahim, ayat ke-15. Kalimat itu mengenai dia. Persis, presisi.

 

Dia tersinggung dong, namanya juga Walid. Nggak terima, wah kurang ajar nih kitab nih. Berani ya Allah sama gue.

 

Kalau itu manusia normal, apa yang kalian akan lakukan? Tunduk, menangis, merinding. Istighfar, mungkin sujud, mungkin mohon ampun. Tapi ini Walid ke-2.

 

Apa yang dia lakukan? Dia lempar Mus'hafnya ke lantai, lalu dia ambil busur dan anak panah, lalu memana Mus'haf itu. Sampai kertasnya itu robek-robek, teman-teman. Sambil kemudian dia membacakan syair yang dia karang sendiri di tempat itu juga.

 

Wahai Mus'haf, engkau acam aku dengan Jabarin Ani. Ya, akulah orangnya itu. Itu adalah aku.

 

Maka kalau kau bertemu Tuhanmu nanti di hari kiamat, dia berbicara dengan Mus'haf itu ya yang sudah dipanah. Kalau ketemu sama Tuhanmu nanti ya, kita ketemu. Katakan sama Tuhanmu, Walid yang pernah merobekku di dunia dulu.

 

Gila aja. Ini bukan lagi maasyidat, ini bukan lagi dosa biasa. Ini langsung menantang Allah, mengirim pesan kepada Allah melalui kitabnya yang dia robek dengan panah.

 

Malah nantang, bukan dapat hidayah, men. Astagfirullahaladzim. Lima adegan itu hanya aku pilih di konten ini.

 

Dipilih-pilih supaya nggak kebanyakan. Selain itu ada apa aja? Dia berenang di kolam yang diisi komer. Sambil diminum rame-rame sampai habis diisi lagi, diminum lagi.

 

Terus begitu. Selain itu dia juga pernah menyuruh budak perempuan mimpin sholat berjamak. Ah, gantiin dia.

 

Sambil dia lihat orang sholat itu dipimpin imam perempuan sambil mabok dia. Terus apa lagi? Dia pernah membayar penyair-penyair yang memuji menyanjung-nyanjung nama dia dengan 30.000 dirham per hari. Lebih dari gaji 50 prajurit selama setahun.

 

Modal nyanyi. Sambil memotong tungjangan rutin untuk keluarga sahabat Nabi dan turunan ahlul baik coba. Selain itu apa lagi? Masih banyak.

 

Menulis syair-syair khamriyah, memuja komer. Isinya melecehkan ibadah haji, ibadah puasa, dan ayat-ayat Qur'an. Sebagian syair itu masih ada sampai hari ini dikutip oleh sejarawan modern.

 

Saya pribadi kesulitan untuk membacanya karena terlalu menyakitkan untuk dibacakan di sini. Silahkan kalau mau cek sendiri, cari tahu sendiri. Dan ini, semua ini terjadi dalam masa 4 bulan kepemimpinannya.

 

4 bulan bayangkan. Kalau dia memerintah 10 tahun, 20 tahun gak kebayang tuh kayak mana itu. Kayak pamannya aja 20 tahun.

 

Gak kebayang. Apa lagi yang akan dia lakukan ini? Ada ide baru apa lagi ini? Mungkin Allah sudah nurunin laknat mungkin. Dalam psikologi sosial ada istilah moral disengajement.

 

Proses bertahan di mana seseorang melepaskan diri dari standar moralnya. Albert Bandura, psikolog dari Stanford, memetakan polanya. Sementara Ibn al-Qayyim al-Jawziya, 700 tahun sebelum Bandura, sudah menulisnya dalam Al-Jawab al-Kafi.

 

Serupa dengan yang diutarakan oleh Bandura. Awal kemaksiatan atau moral disengajement yang besar itu selalu dimulai dari meremehkan kemaksiatan yang kecil. Satu kalimat itu kalau kita uraikan untuk zaman ini dengan melihat pola kasus yang ada, kasus yang viral, bisa kita munculkan menjadi empat tahap.

 

Pola yang selalu sama ada empat tahap. Pola yang pertama, ia berhenti mendengarkan kritik. Kedua, dia mulai mengelilingi diri dia dengan para pengagum yang sesuai sefrekuensi dengan dia yang menganggap maksiat itu biasa bahkan memuja maksiat itu.

 

Para sosiolog menyebut ini sebagai pola echo chamber, ruang gemak, di mana yang terdengar hanyalah suara dia sendiri yang dia harapkan. Lalu terpantul-pantul semakin menguatkan keyakinannya. Ketiga, dia mulai merasa karena sudah hafal Qur'an, sudah haji tujuh kali, misalkan sudah punya santri ribuan, sudah tinggi jabatan keagamaannya, dipandang, dianggap soleh.

 

Ia mulai merasa aturan untuk orang biasa tidak lagi sepenuhnya berlaku bagi dia yang sudah berada di level yang berbeda. Dalam fikir ini namanya ujuk, penyakit hati yang oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin disebut sebagai pintu masuk seluruh kebinasaan. Dan yang keempat yang terakhir, yang paling berbahaya, dia mulai memandang remeh dosa baik dosa kecil muambat laun kepada dosa besar.

 

Rasulullah menyebutkan dosa yang diremehkan ini dengan istilah Muhaqqarat Az-Zunum dalam riwayat Ahmad. Dosa yang dianggap remeh. Dari kecil kemudian besar lama-lama juga dicari pembenarannya, Logikanya cari nama-nama indah untuk pembenarannya sebagai tamingnya.

 

Wali dua tidak bangun di satu pagi langsung minum khomer. Blek, kagak. Dah gue naik ke atas ka'bah, mabok, kagak.

 

Ide itu nggak tiba-tiba muncul, men. Dia memulai dari satu sirkel yang seharusnya ditinggalkan. Dia mulai dari satu gelas anggur yang seharusnya dia tidak tegok.

 

Dia mulai dari satu subuh yang seharusnya dia jaga. Dan dari titik kecil itu tumbuhlah kirbat al-Mafjar yang dia salah gunakan untuk kemaksiatan layaknya Pulau Epste. Tumbuh di lingkaran Muhannasin.

 

Tumbuh niatan meminum khomer di atas ka'bah. Tumbuh kemudian kebencian selu kepada seluruh umat yang beragama. Sampai April 744.

 

Keluarga sendiri yang mencabut nyawanya. Empat belas bulan itu sudah dianggap terlalu lama. Bandingkan dengan pamannya Hisyam yang membangun selama sembilan belas tahun ke Kilafani.

 

Dan enam tahun setelah walid dibunuh, Bani Umayyah runtuh total. Sembilan belas tahun membangun, empat belas bulan menghancurkan, enam tahun untuk rata dengan tanah. Itulah harga muhaqqarat az-zunu, pembenaran terhadap dosa.

 

Setelah penyisaan Khalid al-Qasri sampai mati dan pemenjaraan Sulaiman al-Hisyam, para pangeran Bani Umayyah mulai berkumpul secara diam-diam. Bukan di istana resmi, bukan di masjid, tapi di rumah-rumah pribadi mereka di pinggiran-pinggiran Damascus di malam hari dan tidak terlihat. Sosok yang akhirnya muncul memimpin untuk melakukan pemberontakan adalah Yazid bin Walid.

 

Sepupu Walid itu sendiri. Yazid ini berbeda jauh dengan Walid, jauh banget. Dia dikenal salih, sederhana, tidak minum komer, sering sholat malam.

 

Dan yang paling penting, dia berani bicara terbuka mengkritik perilaku Walid sejak awal. Dia pemegang prinsip amar ma'ruf nahi mungkat. Ini terjadi karena ada lima pemicu.

 

Pertama pemicu yang pertama, hilangnya legitimasi agama. Setelah peristiwa Walid memanah mushaf menyebar ke seluruh kekhilafan, beberapa masjid mulai tidak menyebut nama Walid di khutbah-khutbah mereka. Para ulama Adamaskuf berkata, demi Allah kalau umat masih sholat di belakang dia, kita sebagai ulama akan bertanggung jawab dan kita tidak boleh diam.

 

Saya akan nolong! Itu sinyal pertama yang dimengerti oleh setiap politikus zaman itu. Yang kedua, hilangnya loyalitas keluarga. Setelah Walid menjual kholid al-Qasri dan memenjarakan Sulaiman bin Hisham, para sepupunya, paman dan saudaranya dari Bani Umayya mulai berbisik.

 

Kalau dia tega terhadap kholid yang membelanya dan kepada Sulaiman yang sedarah dengannya, apa yang akan dia lakukan kepada kita suatu hari nanti? Dan dari ketakutan itulah akhirnya menjadi kesepakatan. Yang ketiga, hilangnya dukungan dari suku. Bani Umayya dulu itu kuat karena keseimbangan dua suku besar, Qois dan Yaman.

 

Walid II merusak keseimbangan itu. Dia berpihak total kepada Qois. Yusuf bin Umar pembeli kholid itu orang Qois.

 

Kholid yang dijual itu orang Yaman. Suku Yaman murka karena perilaku daripada Walid. Sehingga ketika pemberontakan terjadi, mereka bergabung.

 

Dan suku Qois nggak ada urgensi yang menghalangi itu. Akhirnya terjadilah apa yang seharusnya terjadi. Keempat, hilangnya dukungan militer.

 

Kenapa kok bisa hilangnya dukungan militer? Karena tentara Bani Umayya dongkol mendengar cerita rakyat tentang Walid. Mereka melihat gaji para penyair pemujinya 50 kali lipat daripada gaji mereka sendiri dalam satu tahun. Mereka yang mempertaruhkan nyawa demi negara.

 

Mereka yang kemudian mulai mempertanyakan eksistensinya. Untuk apa aku berperang, mempertaruhkan nyawa, menjaga perbatasan supaya khalifah bisa beli anggur lagi, hah? Yang kelima yang terakhir, muncul kepemimpinan alternatif. Yazid bin Walid menjadi wajah yang bisa dipercaya.

 

Bay'at mulai muncul, permintaan mulai mengemuka. Bukan ambisius dia ini. Bukan haus kuasa.

 

Dia salih dan dia terpaksa bangkit gara-gara saudaranya sepupunya sudah terlalu maksian. Dan keputusan itu pun diambil. Pasukan Yazid bergerak menuju Al-Bakhraw, benteng kecil deket Palmira.

 

Tempat Walid bersembunyi pada saat itu. Para pengawal Walid yang dulu ribuan sekarang tinggal segelintir. Para penyair pemujanya entah kemana.

 

Kalaupun ada ya emang mereka bisa apa? Bisa menghibur para pemberontak? Kaga. Lucunya di akhir hidupnya Walid ada versi yang berbeda dari opening yang saya sebutkan. Kalau tadi ada riwayat mengatakan dia megang anggur ketika di akhir hidupnya.

 

Ini ada riwayat yang menceritakan bahwasannya dari Tarih At-Tabari. Dia itu di akhirnya meminta pengawalnya, Ambilkan aku Mus'haf. Pelayan itu terkejut.

 

Mus'haf? Anda kan tau sendiri lah. Dah pokoknya ambilkan aja. Mus'haf itu dibuka di pangkuannya Walid membaca diam.

 

Mungkin di detik-detik terakhir hidupnya entah karena takut, entah karena penyesalan, entah karena ingin terlihat salih mati keren di mata sejarah. Dan berusaha menggenggam kitabnya yang dulu pernah dia panah. Tapi pintu istana sudah didobrak.

 

Yang masuk membawa pedang adalah sepupunya sendiri beserta pemperontak-pemperontaknya yang sudah jengah dengan maksiat si Walid. Kerabat badi Umayyah sendiri. Bukan tentara Romawi, bukan tentara salib, bukan musuh dari luar.

 

Keluarganya sendiri yang dia kianati ketika dia menjual Walid al-Khasri. Keluarganya sendiri yang mereka takuti. Yang dulu dibuat takut oleh Walid dengan ponggah karena memenjarakan Salim bin Hisham.

 

Keluarganya sendiri yang akhirnya berkata kepada Allah dalam doa malam-malam mereka. Ya Allah cabutlah nyawanya sebelum dia mencabut iman umat ini. Dan menurut riwayat At-Tobari, Walid dua kemudian L sambil memegang mushaf di tangannya.

 

Mushaf yang dulu dia panah dengan musuh, mushaf yang dulu dia robek dengan kemarahan, mushaf yang dulu di detik-detik terakhir dia coba peluk untuk perlindungan tapi terlambat. Pedang sudah datang lebih cepat dari taubatnya. Kepalanya dipotong, dikirim ke Damascus sebagai bukti bahwa kesilapan telah berpindah.

 

Tubuhnya digantung beberapa hari di pintu kota supaya rakyatnya melihat. Inilah akhir seorang yang dulu mereka panggil amirul mu'minin. Dia mengamunkan nasuhnya ketimbang perintah Tuhan.

 

Astagfirullahal'adzim, la hawla wa la quwwata illa billah.

Sumber: YT @Shifrun