WALID II, KHALIFAH DINASTI UMAYYAH PENYUKA SESAMA JENIS
Subuh dini hari 744 Masehri di Istana
Kekhilafan Islam. Pintu istana diobrak bukan oleh musuh. Bukan oleh Romawi
ataupun Persia.
Pendobrak itu masuk membawa pedang yang
ternyata adalah sepupunya sendiri dari karangan Bani Umayyah itu sendiri. Sang
halifah berdiri di pojokan ruangan mencoba untuk bersembunyi. Gerlas anggur
yang masih di tangannya tumpah membasahi jubah sutranya.
Barangkali ia telah mencoba berkata-kata
kepada penyerangnya. Untuk merayu mereka. Demi Allah aku ini amirul mu'minin
loh.
Tenang dulu, kita bicarakan baik-baik. Atau
dia mungkin akan berkata, apapun yang kamu minta setelah ini akan aku penuhi.
Tapi jangan bunuh aku.
Tapi ternyata pedang sudah lebih cepat datang
daripada kalimatnya. Assalamualaikum Wr. Wb.
Rakyat Jilat dan semuanya, terima kasih sudah
klik video ini. Izinkan kami menceritakan kisah seorang halifah yang dibunuh
bukan oleh tentara romawi, bukan oleh tentara salib, bukan oleh musuh dari
luar. Ia dibunuh oleh keluarganya sendiri karena sebuah dosa.
Dosa yang ia tampakkan tanpa malu-malu di
hadapan istananya sendiri. Dosa yang memamerkan perjinahan. Tapi yang lebih
ironi lagi, perjinahan itu bukan dengan lawan jenisnya.
Sebab halifah ini lebih suka beristirahat
dengan laki-laki gemulai ketimbang dengan istrinya sendiri.
Astagfirullahaladzim. Bayangkan sebuah istana di tengah gurun Palestina.
Khirbat al-Mafjar yang sampai hari ini
reruntuhannya masih berdiri. Masih ada. Bisa kalian googling, cari di Google
Maps.
Masih bisa dikunjungi sebagai situs arkeologi.
Ibu kota Kekilafan atau Damascus, jaraknya jauh dari sana. Istana itu adalah
tempat pelarian dari halifah yang akan kita ceritakan nanti.
Ini menjadi tempat dia pergi ketika ia ingin
menjauh dari urusan umat. Dan Azhabi dalam syiar A'lam An-Nubala mencatat
dengan kalimat yang dingin. Dan nongkrongnya, kumpul-kumpulnya dia di dalam
sana adalah dengan para Muhannadzim.
Ini istana sekilas ngingetin kita sama Pulau
Little St. James milik Epstein. Dan apa itu Muhannadzim? Dalam tradisi klasik,
Muhannadzim itu posisi yang ambigu. Antara Mu'annadz, cewek dalam bahasa Arab,
dengan Muzakar, cowok dalam bahasa Arab.
Muhannadz adalah laki-laki yang sengaja meniru
gaya suara dan gerak-geri atau gestur perempuan. Botilah kalau disebutan bahasa
sekarang. Rasulullah jelas melaknat praktek ini.
Tak peduli antum khilafah, antum imam, antum
hafiz Quran, kayak apapun itu, nggak peduli Rasulullah sudah menetapkan
hukumnya. Tapi di istana walid kedua ini, mereka bukan dilaknat. Mereka
bayangkan ya, bayangkan.
Digaji, pakai uang negara, dan diambil dari
khas Baitul Mal. Bayangin coba, kelakuan sesepulah Epstein yang kali ini yang
berkedok agama ini. Kalau Epstein di Amerika, ini bayangin, di negara Islam.
Nah, di dalam ruangan itu, dalam istana itu,
ngapain bang? Jadi apa bang? Apa jobnya kok digaji? Di sana mereka ada yang
jadi penyanyi, ada yang jadi penari, ada yang jadi sekertalis paling pribadi
bagi kholifah. Bukan sekertaris kabinet ya. Nggak usah bawa-bawa urusan pribadi
negara kalian masing-masing ke sini.
Di sana, mereka diposisikan sebagai teman
duduk yang paling akrab seorang kholifah yang setiap Jumat, masih dipanggil di
dalam doa para khotib dengan sebutan Amirul Mu'minin. Beuh, gila nggak tuh? Dan
di dalam istananya, kholifah ini kerap main game tusbol. Padahal di luar
gerbang istananya, gerbang pengaduan dari para kodi, para hakim di seluruh
penjuru negeri, menumpuk nggak diurus-urus, nggak peduli sama dia.
Bayangin aja adegannya. Salah seorang kodi
yang sudah tua, sepuh duduk di pelatarannya, menggenggam surat yang sudah
dikirim untuk ketiga kalinya. Ia berkata lirik kepada juru tulisnya, Udah enam
bulan, surat tentang janda di kufah, yang anaknya hilang, yang kalau kholifah
sebelumnya hisyam, akan menjawabnya dalam tiga hari maksimal.
Yang ini, aku tidak tahu apakah suratku ini
sudah masuk ke meja ruangannya atau nyangkut di balik gerbang doang. Juru
tulisnya kemudian menjawab, Sudahlah, saya pulang aja. Kholifah sedang sibuk.
Tahu nggak kalian sibuk apa? Sibuk apa? Sibuk
mendendangkan syair, sibuk nyanyi, sibuk ngedan. Eh lu itu kholifah, bukan
anggota boy band Bapak Walid. Teman-teman tahu nggak? Para ulama siroh mencatat
satu hal yang sangat menyakitkan tentang Walid kedua ini.
Bukan bahwa dia memang melakukan dosa besar
dan itu memang sudah cukup menyakitkan, tapi ada yang lebih menyakitkan. Apa
dia melakukan dosa itu tanpa malu-malu. Ibnu Khasir dalam Al-Bidayah wa-Nihaya
menulis dengan kalimat yang sangat keras.
Ia menampakkan kefasikannya. Dan kefasikan itu
adalah perbuatan kaum mudud. Menampakkan, bukan menyembunyikan, bukan
sembunyi-sembunyi atau diam-diam melakukan.
Bukan menyesali apalagi. Menampakkan. Kalau
punya sosmed, wah itu mungkin udah di-upload tuh mah.
Dia kontenin itu mah. Dia banggain. Atau malah
bikin kompetisi boti pilihan kholifah.
Astagfirullah. Sekarang coba renungkan. Walid
II ini tidak bodoh.
Ia tahu rakyatnya berbisik di belakangnya. Ia
tahu bahwa para ulama tidak menyukainya. Intelnya tersebar di mana-mana.
Dia tahu semua informasi itu. Ia bahkan tahu
bahwa pamannya sendiri yang sekarang jadi kholifah, itu pernah mencoba mencaput
haknya sebagai pewaris takhta karena perilakunya ini. Tapi Walid berhasil
mendapatkannya dan menjadi amirul mu'minin yang sangat tidak layak secara
moralin.
Hisyam itu sudah mencoba menghentikannya loh.
Coba bayangin Hisyam berkata kayak gini. Walid sini, aku sudah dengar tentang
majelismu.
Tentang anggurmu, tentang penyanyi-penyanyi
dan penari-penarimu dan tentang bota-boti kesayanganmu di sekelilingmu itu. Lah
Paman, itu kan cuma hiburan. Hiburan apa? Hisyam berdiri, wajahnya merah
mungkin.
Kau akan jadi amirul mu'minin Walid. Kholifah
dari umatnya Muhammad, umat Nabi Muhammad SAW. Dan kau menyebut ini sebagai
hiburan.
Walid menunduk dan Az-Zahabi kemudian mencatat
bahwa setelah Walid keluar dari ruangan itu, dia tertawa. Dia tertawa bersama
dengan teman-temannya dan berkata bahwa Pamannya sudah terlalu tua. Ini orang
tua harus segera diganti aja lah.
Ini nggak ngerti kemajuan zaman ini si Hisyam
ini ya. Seperti itulah kurang lebih gambaran Walid. Ada banyak ulama di
sekeliling istana itu.
Tapi apakah Walid meminta nasihat mereka? Yo
tentu saja tidak. Dia bahkan membangun lingkaran di dalam istananya yang
membuat dosa dia merasa baik-baik saja dilihat sebagai normal-normal aja. Yang
ia tempatkan di sisinya bukan ulama-ulama yang suka memberikan nasihat secara
ludus atau panglima yang senantiasa mengingatkan dia atau polisi yang bisa
mengkritisi dia secara fair dan objektif.
Melainkan penyair-penyair pemuji,
penyanyi-penyanyi penjelakawan, kemudian penjilat-penjilat yang senantiasa
memberikan validasi terhadap dosa atasannya dan mukhannasin, yang menghibur.
Dan juga kalaupun ada orang-orang profesional yang ahli, mereka itu lebih takut
kehilangan jabatannya daripada takut pada dosa. Yang kalau ada seorang ulama
datang berani mencoba menegur, ulama itu akan dituding dengan tuduhan macam-macam,
irilah, dengkilah, fitnahlah, caperlah, dan lain-lainnya.
Lalu dia bisa diusir. Sistem yang harusnya
hanya diperuntukkan untuk Allah dan Rasulnya, kini diperuntukkan untuk hawa
nafsunya. Sefatal itu, teman-teman, jika kepemimpinan jatuh di tangan yang salah.
Di tahun 735 Masehi, Walid masih putra
mahkota. Kita flashback mundur dulu ya. Belum jadi khalifah.
Pamannya khalifah Hisham. Sudah lama mendengar
perilaku daripada ponakannya yang tidak pantas ini. Hisham berpikir keras.
Mungkin pikir Hisham, kalau Walid dikasih
tanggung jawab agama ke rumah Allah, dia akan berubah kali ya. Ngelihat Ka'bah
nangis seharusnya, kayak orang pada umumnya. Maka Hisham mengangkat si Walid II
ini menjadi Amir Hajj, pemimpin rombongan jamaah haji.
Bayangkan kehormatan ini, memimpin ribuan
jamaah haji ke bayi Tuhan, mewakili khalifah dalam ibadah yang paling suci bagi
umat Islam ditunggu setiap tahunnya oleh seluruh umat Islam. Posisi yang
biasanya diberikan kepada orang-orang yang paling salih ini loh. Walid, sini.
Kata Hisham. Walid, sini. Ini kesempatan
terakhir kamu ya.
Kamu pergi ke Mekah. Dekati rumah Allah di
sana. Mungkin di sana hatimu bisa kembali pengen pulang.
Tobat sebelum jadi khalifah kamu itu. Walid
menganggup. Berjanji.
Ya siap, oke paman. Siap, laksanakan bos.
Lapan enam.
Pak khalifah. Tapi tahu nggak kalian? Apa yang
dia lakukan? Dia kemudian mengemasi barang-barangnya sembari membawa
anjing-anjing pemburu secara sembunyi-sembunyi. Dia masukkan di dalam peti-peti
kayu yang dia bawa bersama rombongan.
Padahal dia tahu ini pasti akan ketahuan nih.
Tinggal nunggu waktu aja. Padahal ini barang hidup kok.
Barang hidup kok dibawa segini banyak. Membawa
kawanan anjing pemburu. Nggak cuma satu berarti ya.
Disembunyikan di dalam peti-peti kayu di atas
unta yang dibawa oleh rombongan. Disamarkan supaya tidak ada yang curiga. Untuk
apa? Supaya kalaupun dia berhasil sampai di tempat lokasi yang bagus dia pengen
berburu di sela-sela perjalanan haji.
Biar kagak bosan katanya. Bayangin nggak tuh.
Dah brain rot otak dia kayaknya ya.
Berburu saat ikhrom. Gimana nggak konsep tuh?
Itu haram secara eksplisi di dalam Qur'an. Allah sudah jelasin dalam surat
Al-Ma'idah ayat 95.
Janganlah kamu membunuh hewan buruan ketika
sedang ikhrom. Jelas tuh. Dan di wilayah sekitar Mekka itu wilayah tanah haram
Pak Walid.
Di sana berburu binatang dilarang secara
permanen. Rasulullah SAW sendiri yang menetapkan hukum ini. Emang Walid ke-2
calon khalifah putra mahkota ini emang kagak tahu? Dia tahu semua hukum ini.
Dia diajari kok. Jadi pemimpin disiapkan kok.
Ilmu-ilmu dikasih kok.
Sebagai amir haj, tugasnya adalah menjaga
ribuan jama'ah dari pelanggaran ikhrom ini kan harusnya? Eh nggak tahunya. Dia
yang ngelanggar dong. Ini nggak cuma melanggar tapi mempermainkan hukum Allah.
Nantangin hukum Allah. Udah tahu tapi tetap
ditabrak. Lalu di tengah perjalanan salah satu peti jatuh.
Pecah anjingnya keluar dong dan menggonggong.
Jama'ah yang sedang berikhrom. Ya para jama'ah itu kemudian terkejutlah.
Kok ada anjing nih? Siapa yang bawa anjing
nih? Dan walid apa yang dilakukan walid? Ngaku? Ya kagak bukan walid. Bebas
dong dia amirnya, dia pemimpinnya, dia bosnya. Lalu dia menunjuk si pembawa
untang.
Lah kamu nih. Kamu kan yang bawa nggak usah
cari siapa yang ditipin. Kok bisa-bisanya kamu bawa? Kok bisa-bisanya kalau
tahu? Kamu tahu ini salah tapi mau tetap bawa? Kamu yang salah.
Akhirnya tukang si pembawa unta tadi yang
membawa unta itu ditetapkan bersalah dan dipukul keras-keras di hadapan
jama'ah-jama'ah haji itu. Dipukulin guys. Sambil walid duduk diam menyaksikan
seorang yang dipukul untuk dosa yang walid lakukan.
Kurang ajar emang tulang lunak yang satu ini
ya. Pas momen beristirahat bayangkan ini nggak selesai di situ. Ini kan
perjalanan dari Damaskus, ibu kota Kekilafan ke Mekah.
Jaraknya 1300 km. Butuh waktu sekitar 1,5
sampai 2 bulan. Di satu waktu pas mau beristirahat walid memberitahkan para
panitia haji ini, para bawahan-bawahannya itu yang ada di sana agar
membangunkan sebuah tenda berbentuk kubah yang ukurannya segede ka'bah.
Biar apa? Ah nggak usah lah. Nggak usah banyak
tanya. Udah lakuin aja.
Kira-kira gitu mungkin perintahnya. Para
tukang akhirnya bekerja siang dan malam. Tenda itu mewah dihiasi kain sutra
dari Damaskus, bantal-bantal tebal dari Persia, karbet dari Konstantinopel.
Semua dibeli, semua disiapkan untuk kalau ini
didirikan ditaruh di dalamnya. Ketika ditanya udah selesai. Sebenarnya buat apa
sih walid ini semua? Tahu nggak? Jawaban si walid ini.
Jawabannya kurang ajar si walid ini. S**l.
Dilakukan rakyat.
Kalaupun kita nggak percaya sama lanat, kita
nggak percaya sama Allah, tapi rakyat ini jelas bisa ngelakukan sesuatu, bisa
nyakitin kita ini. Mereka akan ngebunuh kita semua kalau ini dipaksakan.
Termasuk anda lah.
Masa aku ngaku khalifahnya nanti kok. 50 juta
dirham itu adalah harga yang bisa menggaji 10 ribu prajurit selama 1 tahun.
Penuh.
10 ribu dalam 1 tahun, teman-teman. Dan walid
ketika dapat uang itu dikasihkan ke Bay Tulmal, dikasihkan kepada Operasional
Negara atau Istana, kagak dimasukkan ke kantong pribadinya. Tapi binasalah
setiap orang sombong dan keras kepala itu.
Dapat surat Ibrahim ayat ke-15. Kalimat itu
mengenai dia. Persis, presisi.
Dia tersinggung dong. Namanya juga walid.
Nggak terimawah, kurang ajar nih tetap.
Berani ya Allah sama gue.
Dan di dalam istananya, Khalifa ini kerap main
game tussbol. Padahal di luar gerbang istananya, gerbang pengaduan dari para
kodi, para hakim di seluruh penjuru negeri, menumpuk nggak diurus-urus, nggak
peduli sama dia. Digaji, pakai uang negara, dan diambil dari khas Bayi Tulmal.
Bayangin coba, kelakuan sesepuluh Epstein yang
kali ini yang berkedok agama ini. Kalau Epstein di Amerika, ini bayangin, di
negara Islam. Para tukang akhirnya bekerja siang dan malam.
Tenda itu mewah, dihiasi kain sutra dari
Damaskus, bantal-bantal tebal dari Persia, karpet dari Konstantinovel, semua
dibeli, semua disiapkan untuk kalau ini didirikan, ditaruh di dalamnya. Ketika
ditanya udah selesai, sebenarnya buat apa sih Walid ini semua? Tahu nggak
jawaban-jawaban si Walid ini? Jawabannya lagi kurang ajar ini si Walid ini. Aku
berencana kalau sampai di Mekah, aku mau pasang tenda ini di atas kakbah, aku
mau beristirahat sama teman-temanku, duduk-duduk sambil minum anggur.
Sambil minum Homer, sambil ngelihat
orang-orang jamaah ini nih, ini ribuan orang ini, tawaf di bawahku. Seru kali
ya. Ini kesempatan langka ini ya.
Kesempatan langka ini jarang, sayang kalau
dilewatkan. Coba bayangin teman-teman, buru-buru taubat. Susah emang kalau
orang sudah prefrontal cortexnya udah kena nih.
Ngalah-ngalahin HP yang udah kena LCD nih.
Bayangkan momen itu, Putra Mahkota Umat Islam, Caron Amirul Muminin, ketika
berangkat, sudah punya niat duduk di rumah Allah, sambil meminum sesuatu yang
dilaknat Allah, di rumah Allah itu sendiri, di tanah yang Allah haramkan.
Apakah nggak nantangin Allah nggak tuh? Ketika rombongan tiba di Mekah, ini
nggak selesai ternyata.
Sahabat-sahabatnya yang masih punya sisa rasa
takut kepada Allah, barangkali salah satu dari mereka memohon, ayo Allah, ya
Allah, ya Allah. Ini nggak masuk akal, kalau dosa begini ini nggak masuk akal
ini. Kami tidak merasa aman dari apa yang akan dilakukan rakyat, kalaupun kita
nggak percaya sama Al-An'ad, kita nggak percaya sama Allah, tapi rakyat ini
jelas bisa ngelakukan sesuatu, bisa nyakitin kita ini.
Mereka akan ngebunuh kita semua kalau ini
dipaksakan, termasuk andalah. Masa aku ngaku khalifahnya nanti kok. Mereka
bagaimana nggak terima? Gimana mereka nggak terima? Saya akan lawan! Gitu kan.
Saya akan lawan. Anda belum khalifah, Anda
belum jadi pemimpinnya, Sayyid. Anda itu Amirhat sekarang.
Dan rakyat, mereka mencintai Ka'bah lebih
daripada mereka mencintai Anda sebagai Putra Makota. Akhirnya, rencananya
dibatalkan. Tapi, tenda itu sudah dibikin.
Udah siap, cuman nggak pernah dipasang aja.
Udah disiapkan sama walid. Di sisi lain, para jama' haji sudah melihat, sudah
menyaksikan.
Dan ketika mereka pulang ke desa-desa mereka,
mereka membawa cerita itu. Cerita itu menyebar dari mulut ke mulut, dari pasar
ke pasar. Mencapai ke telinganya Hisham Sang Khalifah di Damaskus dan Hisham
menangis.
Disitulah dia ingin membatalkan walid menjadi
suksesornya, udah bulet tekadnya. Tapi ternyata, tiba di tahun 743 Masehi,
Hisham wafat. Rencana untuk membatalkan walid belum sepenuhnya usai.
Para tetua yang disebut ahlul halli wal akdi,
para sesepuh ini, tidak mau membatalkan bayiat yang sudah ditetapkan kepada
ayah Hisham sebelumnya, yaitu Abdul Malik bin Marwan, yang bilang kalau aku
meninggal, pemimpinnya Hisham. Kalau Hisham meninggal, nah aku ingin walid
kedua yang menjadi khalifah. Walid kedua ternyata resmi menjadi amirul mu'minin
setelahnya.
Di Irak, kita lompat ke Irak sedikit. Ada
seorang gubernur senior yang bernama Khalid al-Qasri. Khalid ini adalah seorang
yang bertahun-tahun sebelumnya pernah membela walid di hadapan Hisham yang
ingin menggantikan walid sebagai suksesornya.
Ketika Hisham berusaha mencaput hak walid
sebagai pewaris takhta, Khalid ini berjuang mati-matian memberikan argumentasi
supaya banyak orang, para sesepuh itu, lebih condong kepada apa yang
diargumentasikan oleh si Khalid ini. Dengan kata lain, kalau bukan karena Khalid
al-Qasri, ya kemungkinan besar walid ini tidak akan pernah menjadi khalifah.
Khalid adalah pelindungnya walid, pendukungnya.
Pembelanya. Lalu apa yang walid lakukan ketika
walid jadi khalifah? Kebanyakan nggak? Apa? Oh biasanya bagi-bagi kue, naik
jabatan, dapat fasilitas. Enggak, walid beda teman-teman.
Apa yang dilakukan walid kedua ini? Walid
menjual Khalid pembela setianya. Ya kalian nggak salah dengar. Dijual gubernur
senior, dijual pelindungnya sendiri, dijual kepada musuh besarnya Khalid,
seorang bernama Yusuf bin Umar.
Seharga 50 juta dirham. Mari kita konversikan
konteksnya di zaman itu. 50 juta dirham itu adalah harga yang bisa menggaji
10.000 prajurit selama 1 tahun.
Penuh! 10.000 dalam 1 tahun teman-teman. Dan
walid ketika dapat uang itu dikasihkan ke Beytulmal, dikasihkan kepada
Operasional Negara, kagak dimasukkan ke kantong pribadinya. Dan btw, Yusuf bin
Umar ini, seorang pembelinya ini, yang ditawarkan langsung oleh walid ini,
kenapa? Sebab walid tahu Yusuf punya dendam kepada Khalid yang akan rela
membayar berapapun untuk membalaskannya.
Jadi dijual mahal tuh, pasti laku. Lalu si
Yusuf membawa Khalid ke ruang siksaan dan Khalid al-Khasri, orang yang pernah
membela walid, disiksa sampai tewas berbulan-bulan lamanya. Udah ada 2 sesi
penyiksaan.
Sesi pertamanya aja udah 18 bulan. Lalu sesi
kedua, gak lama, dia pun wafat. Seluruh harta Khalid diambil oleh Yusuf.
Yusuf, bukannya dihukum, dia malah dijadikan
gubernur untuk menggantikan Khalid oleh walid. Coba... Gak selesai disitu
perlakuan si Khalid ini. Belum cukup dengan Khalid, walid kedua ini juga
memenjarakan Sulaiman bin Hisham, sepupunya sendiri anak kandung daripada
Hisham, paman yang baru saja wafat, lalu menyerahkan taktanya kepada walid.
Tanpa alasan yang kuat, tanpa peradilan, hanya
karena bisa nikahnya. Dah, masukin aja dah. Bayangin aja, Wissel Sulaiman
bertanya kepada para penjaga di sel ini.
Tolong sampaikan kepada walid, apa salahku?
Aku ini sepupunya sendiri lho. Aku ini darah dagingnya lho. Para penjaga
menjawab, Nah, maaf ya pemimpin.
Tuhan kami, Amirul Mu'minnya sedang sibuk.
Sibuk ngapain? Sibuk mabok. Sibuk kumpul-kumpul sama cowok-cowok yang dia
cintai.
Bayangkan momen itu. Seorang halifah, bukannya
menyatukan keluarganya, justru memenjarakan anak pamannya yang baru wafat. Ya
mungkin Khalid ingin balas dendam, karena nggak rido taktanya mau nggak
dijadikan sama pamannya.
Dan mungkin dia juga antisipatif, agar anak
pamannya ini nggak ngelanjutin rencana daripada halifah sebelumnya itu. Padahal
pamannya itulah yang membesarkan si walid, yang dulu berusaha mendidiknya,
mengajarkan ilmu-ilmu tentang kepemimpinan politik, ilmu umum, dan agama kepada
si walid. Yang mendoakan agar dia bertobat, yang menangis ketika mendengarkan
kabar tenda di atas ka'bah.
Bayangkan kalau Hisham masih hidup, dan
melihat anaknya di penjara oleh keponakan yang dia besarkan sendiri. Inilah
yang oleh para sejarawan disebut sebagai titik balik politik. Setelah
penyiksaan Khalid al-Khosri, dan memenjarakan Sulaiman bin Hisham, keluarga
Bani Umayyah sendiri mulailah berbisik-bisik.
Ide kudeta mulai muncul. Walid II bukan lagi
musuh dari rakyatnya saja, karena dia menjadi musuh dari keluarganya sendiri.
Keluarga kerajaan.
Tapi ternyata walid tidak berubah juga. Makin
kuat alasannya nanti ini. Apa yang dilakukan? Ada sebuah adegan yang paling
berat untuk diceritakan.
Diruayatkan dalam Bidayah wa Nihaya yang
ditulis oleh Ibnu Khasir. Dan juga ditulis oleh di dalam Tariq al-Tabari. Di
suatu hari, si Walid ini melakukan Tafa'ul.
Yaitu meminta petunjuk kepada Allah dengan
cara membuka mushaf secara acah. Dia buka secara acah. Dia membuka, lalu
matanya jatuh kepada sebuah ayat.
Mungkin sebagian kita sering melakukan itu.
Ngacak, baca, eh ternyata kok rilit. Nah, ini sudah jadi tradisi ternyata sejak
dulu.
Walid melakukan itu. Dan dia kemudian
mendapatkan satu ayat. وَاِسْتَفْتَهُ وَهُبَّ كُلُّ جَبَارٍ عَنِهِ Dan mereka
memohon kemenangan, tapi binasalah setiap orang sombong dan keras kepala itu.
Dapat surat Ibrahim, ayat ke-15. Kalimat itu
mengenai dia. Persis, presisi.
Dia tersinggung dong, namanya juga Walid.
Nggak terima, wah kurang ajar nih kitab nih. Berani ya Allah sama gue.
Kalau itu manusia normal, apa yang kalian akan
lakukan? Tunduk, menangis, merinding. Istighfar, mungkin sujud, mungkin mohon
ampun. Tapi ini Walid ke-2.
Apa yang dia lakukan? Dia lempar Mus'hafnya ke
lantai, lalu dia ambil busur dan anak panah, lalu memana Mus'haf itu. Sampai
kertasnya itu robek-robek, teman-teman. Sambil kemudian dia membacakan syair
yang dia karang sendiri di tempat itu juga.
Wahai Mus'haf, engkau acam aku dengan Jabarin
Ani. Ya, akulah orangnya itu. Itu adalah aku.
Maka kalau kau bertemu Tuhanmu nanti di hari
kiamat, dia berbicara dengan Mus'haf itu ya yang sudah dipanah. Kalau ketemu sama
Tuhanmu nanti ya, kita ketemu. Katakan sama Tuhanmu, Walid yang pernah
merobekku di dunia dulu.
Gila aja. Ini bukan lagi maasyidat, ini bukan
lagi dosa biasa. Ini langsung menantang Allah, mengirim pesan kepada Allah
melalui kitabnya yang dia robek dengan panah.
Malah nantang, bukan dapat hidayah, men.
Astagfirullahaladzim. Lima adegan itu hanya aku pilih di konten ini.
Dipilih-pilih supaya nggak kebanyakan. Selain
itu ada apa aja? Dia berenang di kolam yang diisi komer. Sambil diminum
rame-rame sampai habis diisi lagi, diminum lagi.
Terus begitu. Selain itu dia juga pernah
menyuruh budak perempuan mimpin sholat berjamak. Ah, gantiin dia.
Sambil dia lihat orang sholat itu dipimpin
imam perempuan sambil mabok dia. Terus apa lagi? Dia pernah membayar
penyair-penyair yang memuji menyanjung-nyanjung nama dia dengan 30.000 dirham
per hari. Lebih dari gaji 50 prajurit selama setahun.
Modal nyanyi. Sambil memotong tungjangan rutin
untuk keluarga sahabat Nabi dan turunan ahlul baik coba. Selain itu apa lagi?
Masih banyak.
Menulis syair-syair khamriyah, memuja komer.
Isinya melecehkan ibadah haji, ibadah puasa, dan ayat-ayat Qur'an. Sebagian
syair itu masih ada sampai hari ini dikutip oleh sejarawan modern.
Saya pribadi kesulitan untuk membacanya karena
terlalu menyakitkan untuk dibacakan di sini. Silahkan kalau mau cek sendiri,
cari tahu sendiri. Dan ini, semua ini terjadi dalam masa 4 bulan
kepemimpinannya.
4 bulan bayangkan. Kalau dia memerintah 10
tahun, 20 tahun gak kebayang tuh kayak mana itu. Kayak pamannya aja 20 tahun.
Gak kebayang. Apa lagi yang akan dia lakukan
ini? Ada ide baru apa lagi ini? Mungkin Allah sudah nurunin laknat mungkin.
Dalam psikologi sosial ada istilah moral disengajement.
Proses bertahan di mana seseorang melepaskan
diri dari standar moralnya. Albert Bandura, psikolog dari Stanford, memetakan
polanya. Sementara Ibn al-Qayyim al-Jawziya, 700 tahun sebelum Bandura, sudah
menulisnya dalam Al-Jawab al-Kafi.
Serupa dengan yang diutarakan oleh Bandura.
Awal kemaksiatan atau moral disengajement yang besar itu selalu dimulai dari
meremehkan kemaksiatan yang kecil. Satu kalimat itu kalau kita uraikan untuk zaman
ini dengan melihat pola kasus yang ada, kasus yang viral, bisa kita munculkan
menjadi empat tahap.
Pola yang selalu sama ada empat tahap. Pola
yang pertama, ia berhenti mendengarkan kritik. Kedua, dia mulai mengelilingi
diri dia dengan para pengagum yang sesuai sefrekuensi dengan dia yang
menganggap maksiat itu biasa bahkan memuja maksiat itu.
Para sosiolog menyebut ini sebagai pola echo
chamber, ruang gemak, di mana yang terdengar hanyalah suara dia sendiri yang
dia harapkan. Lalu terpantul-pantul semakin menguatkan keyakinannya. Ketiga,
dia mulai merasa karena sudah hafal Qur'an, sudah haji tujuh kali, misalkan
sudah punya santri ribuan, sudah tinggi jabatan keagamaannya, dipandang,
dianggap soleh.
Ia mulai merasa aturan untuk orang biasa tidak
lagi sepenuhnya berlaku bagi dia yang sudah berada di level yang berbeda. Dalam
fikir ini namanya ujuk, penyakit hati yang oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya
Ulumuddin disebut sebagai pintu masuk seluruh kebinasaan. Dan yang keempat yang
terakhir, yang paling berbahaya, dia mulai memandang remeh dosa baik dosa kecil
muambat laun kepada dosa besar.
Rasulullah menyebutkan dosa yang diremehkan
ini dengan istilah Muhaqqarat Az-Zunum dalam riwayat Ahmad. Dosa yang dianggap
remeh. Dari kecil kemudian besar lama-lama juga dicari pembenarannya, Logikanya
cari nama-nama indah untuk pembenarannya sebagai tamingnya.
Wali dua tidak bangun di satu pagi langsung
minum khomer. Blek, kagak. Dah gue naik ke atas ka'bah, mabok, kagak.
Ide itu nggak tiba-tiba muncul, men. Dia
memulai dari satu sirkel yang seharusnya ditinggalkan. Dia mulai dari satu
gelas anggur yang seharusnya dia tidak tegok.
Dia mulai dari satu subuh yang seharusnya dia
jaga. Dan dari titik kecil itu tumbuhlah kirbat al-Mafjar yang dia salah
gunakan untuk kemaksiatan layaknya Pulau Epste. Tumbuh di lingkaran Muhannasin.
Tumbuh niatan meminum khomer di atas ka'bah.
Tumbuh kemudian kebencian selu kepada seluruh umat yang beragama. Sampai April
744.
Keluarga sendiri yang mencabut nyawanya. Empat
belas bulan itu sudah dianggap terlalu lama. Bandingkan dengan pamannya Hisyam
yang membangun selama sembilan belas tahun ke Kilafani.
Dan enam tahun setelah walid dibunuh, Bani
Umayyah runtuh total. Sembilan belas tahun membangun, empat belas bulan
menghancurkan, enam tahun untuk rata dengan tanah. Itulah harga muhaqqarat
az-zunu, pembenaran terhadap dosa.
Setelah penyisaan Khalid al-Qasri sampai mati
dan pemenjaraan Sulaiman al-Hisyam, para pangeran Bani Umayyah mulai berkumpul
secara diam-diam. Bukan di istana resmi, bukan di masjid, tapi di rumah-rumah
pribadi mereka di pinggiran-pinggiran Damascus di malam hari dan tidak
terlihat. Sosok yang akhirnya muncul memimpin untuk melakukan pemberontakan
adalah Yazid bin Walid.
Sepupu Walid itu sendiri. Yazid ini berbeda
jauh dengan Walid, jauh banget. Dia dikenal salih, sederhana, tidak minum
komer, sering sholat malam.
Dan yang paling penting, dia berani bicara
terbuka mengkritik perilaku Walid sejak awal. Dia pemegang prinsip amar ma'ruf
nahi mungkat. Ini terjadi karena ada lima pemicu.
Pertama pemicu yang pertama, hilangnya
legitimasi agama. Setelah peristiwa Walid memanah mushaf menyebar ke seluruh
kekhilafan, beberapa masjid mulai tidak menyebut nama Walid di khutbah-khutbah
mereka. Para ulama Adamaskuf berkata, demi Allah kalau umat masih sholat di
belakang dia, kita sebagai ulama akan bertanggung jawab dan kita tidak boleh
diam.
Saya akan nolong! Itu sinyal pertama yang
dimengerti oleh setiap politikus zaman itu. Yang kedua, hilangnya loyalitas
keluarga. Setelah Walid menjual kholid al-Qasri dan memenjarakan Sulaiman bin
Hisham, para sepupunya, paman dan saudaranya dari Bani Umayya mulai berbisik.
Kalau dia tega terhadap kholid yang membelanya
dan kepada Sulaiman yang sedarah dengannya, apa yang akan dia lakukan kepada
kita suatu hari nanti? Dan dari ketakutan itulah akhirnya menjadi kesepakatan.
Yang ketiga, hilangnya dukungan dari suku. Bani Umayya dulu itu kuat karena
keseimbangan dua suku besar, Qois dan Yaman.
Walid II merusak keseimbangan itu. Dia
berpihak total kepada Qois. Yusuf bin Umar pembeli kholid itu orang Qois.
Kholid yang dijual itu orang Yaman. Suku Yaman
murka karena perilaku daripada Walid. Sehingga ketika pemberontakan terjadi,
mereka bergabung.
Dan suku Qois nggak ada urgensi yang
menghalangi itu. Akhirnya terjadilah apa yang seharusnya terjadi. Keempat,
hilangnya dukungan militer.
Kenapa kok bisa hilangnya dukungan militer?
Karena tentara Bani Umayya dongkol mendengar cerita rakyat tentang Walid.
Mereka melihat gaji para penyair pemujinya 50 kali lipat daripada gaji mereka
sendiri dalam satu tahun. Mereka yang mempertaruhkan nyawa demi negara.
Mereka yang kemudian mulai mempertanyakan
eksistensinya. Untuk apa aku berperang, mempertaruhkan nyawa, menjaga
perbatasan supaya khalifah bisa beli anggur lagi, hah? Yang kelima yang
terakhir, muncul kepemimpinan alternatif. Yazid bin Walid menjadi wajah yang
bisa dipercaya.
Bay'at mulai muncul, permintaan mulai
mengemuka. Bukan ambisius dia ini. Bukan haus kuasa.
Dia salih dan dia terpaksa bangkit gara-gara
saudaranya sepupunya sudah terlalu maksian. Dan keputusan itu pun diambil.
Pasukan Yazid bergerak menuju Al-Bakhraw, benteng kecil deket Palmira.
Tempat Walid bersembunyi pada saat itu. Para
pengawal Walid yang dulu ribuan sekarang tinggal segelintir. Para penyair
pemujanya entah kemana.
Kalaupun ada ya emang mereka bisa apa? Bisa
menghibur para pemberontak? Kaga. Lucunya di akhir hidupnya Walid ada versi
yang berbeda dari opening yang saya sebutkan. Kalau tadi ada riwayat mengatakan
dia megang anggur ketika di akhir hidupnya.
Ini ada riwayat yang menceritakan bahwasannya
dari Tarih At-Tabari. Dia itu di akhirnya meminta pengawalnya, Ambilkan aku
Mus'haf. Pelayan itu terkejut.
Mus'haf? Anda kan tau sendiri lah. Dah
pokoknya ambilkan aja. Mus'haf itu dibuka di pangkuannya Walid membaca diam.
Mungkin di detik-detik terakhir hidupnya entah
karena takut, entah karena penyesalan, entah karena ingin terlihat salih mati
keren di mata sejarah. Dan berusaha menggenggam kitabnya yang dulu pernah dia
panah. Tapi pintu istana sudah didobrak.
Yang masuk membawa pedang adalah sepupunya
sendiri beserta pemperontak-pemperontaknya yang sudah jengah dengan maksiat si
Walid. Kerabat badi Umayyah sendiri. Bukan tentara Romawi, bukan tentara salib,
bukan musuh dari luar.
Keluarganya sendiri yang dia kianati ketika
dia menjual Walid al-Khasri. Keluarganya sendiri yang mereka takuti. Yang dulu
dibuat takut oleh Walid dengan ponggah karena memenjarakan Salim bin Hisham.
Keluarganya sendiri yang akhirnya berkata
kepada Allah dalam doa malam-malam mereka. Ya Allah cabutlah nyawanya sebelum
dia mencabut iman umat ini. Dan menurut riwayat At-Tobari, Walid dua kemudian L
sambil memegang mushaf di tangannya.
Mushaf yang dulu dia panah dengan musuh,
mushaf yang dulu dia robek dengan kemarahan, mushaf yang dulu di detik-detik
terakhir dia coba peluk untuk perlindungan tapi terlambat. Pedang sudah datang
lebih cepat dari taubatnya. Kepalanya dipotong, dikirim ke Damascus sebagai
bukti bahwa kesilapan telah berpindah.
Tubuhnya digantung beberapa hari di pintu kota
supaya rakyatnya melihat. Inilah akhir seorang yang dulu mereka panggil amirul
mu'minin. Dia mengamunkan nasuhnya ketimbang perintah Tuhan.
Astagfirullahal'adzim, la hawla wa la quwwata illa billah.
Sumber: YT @Shifrun

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Ditunggu komentar Anda!