Menuju INDONESIA L(EMAS) Berkembangnya SPESIES BOTI
Pesta lelaki sesama jenis atau gay berkedok
family gathering di sebuah villa di daerah Puncak Bogor. Sebanyak 34 pria jadi
tersangka kasus pesta seks sesama jenis yang digerebak di sebuah hotel kawasan Ngagel,
Surabaya, Jawa Timur. Viral sebuah video yang menunjukkan aksi pesta gay di
tempat hiburan malam atau THM di Karawang, Jawa Barat.
Kalau saya bilang perilaku boti itu bisa
menular, mungkin nggak semua orang akan setuju. Khususnya ya pelakunya sendiri.
Tapi kalau emang nggak menular, bisa nggak jelasin kenapa orang-orang yang
nongkrong di circle mereka lama-lama bisa menyerupai mereka juga? Saya bayangin
kalau ini dinormalisasi, dalam 10 tahun ke depan, konsep pria sejati versi kita
yang, you know, maskulin, cool, strong, itu akan punah.
Nggak akan ada lagi pemimpin keluarga yang
kokoh, yang ada tinggal apa yang banyak orang bilang generasi tulang lunak.
Apakah ini sebuah kebebasan berekspresi atau penurunan kualitas generasi?
Fenomena pria yang berpenampilan atau berperilaku feminin itu, kalau kamu
sadar, itu sebenarnya bukan hal baru. Bukan tren yang mendadak muncul gitu aja.
Kalau kamu ingat atau buat kamu yang belum
tahu juga, sekitar tahun 1980-1990-an, hampir seluruh masyarakat Indonesia itu
tiap minggu duduk di depan TV cuma buat nontonin satu sosok melambai yang kita
sebut boti sekarang ini. Namanya Om Tesi. Dia dari grup lawak simulat,
cirikasnya pakai sanggul, kebaya, pakai cincin akik segede gaban.
Terus tingkahnya ngondek kemayu gitu. Tapi
jangan salah, Om Tesi ini sebenarnya normal. Pria tulen, punya istri, punya
keturunan.
Bahkan beliau ini mantan prajurit marinir
angkatan laut. Apa yang beliau tunjukkan di layar kaca itu pure semata-mata
cuma akting, sebatas hiburan aja. Nah, disinilah letak perbedaan besarnya
dengan apa yang terjadi pada generasi sekarang, teman-teman sekalian.
Dulu, kultur melambai itu dikunci ketat di
atas panggung hiburan. Cuma sekedar badut komedi aja. Batasannya jelas.
Begitu kamera mati, Om Tesi balik jadi pria
sejati. Dan masyarakat tetap memegang tuguh pada nilai bahwa laki-laki di dunia
nyata harus tangguh dan jadi pemimpin yang kokoh. Benteng budaya kita masih
sangat kuat untuk menjaga nilai maskulinitas tersebut.
Tapi sekarang, benteng itu roboh karena proses
normalisasi kultur. Perlilaku melambai bukan lagi sekedar hiburan di panggung
komedi. Dia menembus masuk ke ruang publik dan dijadikan sebagai identitas diri
dalam kehidupan sehari-hari.
Generasi muda kita hari ini berpotensi
kehilangan role model pria sejati yang tegas. Kenapa normalisasi kultur ini
bisa terjadi begitu cepat dan masif? Jawabannya ada di pergeseran panggung dari
rating televisi ke algoritma media sosial yang ada di tanganmu sekarang. Kalau
dulu Om Tesi harus melewati audisi ketat dan kontrak televisi untuk bisa tampil
melambai, sekarang pintunya terbuka lebar bagi siapa aja.
Para influencer bot ini gak butuh TV. Mereka
bikin panggung mereka sendiri. Mereka tampil ekspresif, penuh energi, dan boom,
viral.
Dan seperti yang kita tahu, viral sama dengan
cuan. Endorsement kosmetik, banjir tawaran kerja, dan itu yang mengantarkan
mereka jadi sukses secara finansial. Thanks to some of you.
Kok gitu Bang? Iya, karena upatan, makian, dan
setiap kata boykot, musnahkan, merusak moral yang kamu ketik di kolom komentar
mereka, mungkin niatmu lain. Tapi disadari atau tidak, dari jempol mula, mereka
eksis dan berkembang. Media sosial itu gak punya kompas moral.
Dia gak peduli apakah sebuah konten itu
mendidik atau justru memicu penurunan kualitas generasi. Yang dia peduli cuma
engagement dan durasi tonton. Ketika kamu nontonin video mereka, meskipun
mungkin kamu nontonnya sambil mual, pusing, gangguan kehamilan, dan janin,
aplikasi tetap menganggap kalau kamu tertarik.
Itu yang bikin video itu tersebar ke ratusan
ribu remaja lainnya. Bagi generasi muda yang jiwanya masih dalam masa pencarian
jati diri, fenomena ini mengirimkan sebuah pesan yang sangat berbahaya. Mereka
melihatnya dengan menjadi pria melambai, ternyata bisa mendatangkan jalan pintas
menuju popularitas, uang, dan validasi sosial tanpa perlu kerja keras.
Gampangnya pernah lihat benc**ng ngamen kan?
Menurutmu kenapa benc**ng itu masih jadi benc**ng dan ngamen? Ya karena masih
ada yang ngasih. Coba kalau semua kompak nggak usah ngasih, pasti berhenti
mereka. Cari profesi lain, jadi benc**ng silver mu deh.
Anyway, jadi kalau hari ini sirkel-sirkel boti
makin menjamur di sekitar kita, itu bukan sekedar kebebasan berekspresi. Ada
unsur pragmatisme ekonomisnya, di mana industri dan pasarnya justru dibentuk
oleh rasa penasaran netizen. Apakah perilaku boti ini bisa menular? Kalau nanya
bisa apa nggaknya, jawabannya bisa.
Kalau ditanya pasti apa nggaknya? Belum tentu.
Tapi bukan nular yang kayak flu ya? Satu orang bersin terus orang lain bisa
ikutan bersin? Bukan. Ini menularnya secara psikologis.
Pada tahun 1961, ada seorang profesor
psikologi namanya Albert Bandura. Dia bikin sebuah penelitian yang disebut
eksperimen Bobodol. Di situ, anak-anak kecil diminta nonton video orang dewasa
yang memukuli sebuah boneka besar secara agresif.
Hasilnya bikin para peneliti ini kaget. Karena
ketika anak-anak itu dimasukkan ke dalam ruangan yang sama dengan boneka
tersebut, mereka langsung meniru persis setiap pukulan, tendangan, bahkan
makian yang mereka tonton sebelumnya. Eksperimen ini jadi sangat legendaris
yang kemudian disebut Social Learning Theory.
Ini menunjukkan bahwa manusia, terutama
anak-anak dan remaja, mereka belajar tentang gimana cara berperilaku di dunia
ini. Itu melalui proses observasi, imitasi, dan modeling terhadap lingkungan
sekitarnya. Sederhananya, kita adalah produk dari apa yang paling sering kita
lihat.
Kalau seorang anak laki-laki tumbuh di
lingkungan yang didominasi oleh perempuan, di mana dia hanya bergaul dengan ibu
dan kakak-kakak perempuannya, secara gak sadar, otaknya akan mengadopsi gerakan
tubuh, nada bicara, hingga cara merespon sesuatu dari figur-figur tersebut.
Apakah ini pasti terjadi? Sekali lagi, kalau nanyanya pasti apa enggak, belum
tentu. Karena masih banyak faktor lain yang mempengaruhi.
Belum lagi di era media sosial kayak sekarang
ini. Seseorang bisa ngabisin berjam-jam tiap hari nonton figur yang sama,
dengerin cara bicara yang sama, melihat pola perilaku yang sama berulang-ulang.
Semakin sering sebuah perilaku itu terpapar di hadapan kita, semakin familiar
perilaku itu di pikiran kita.
Dalam psikologi sosial, fenomena ini dikenal
sebagai social conformity atau konformitas sosial. Manusia itu punya
kecenderungan alami untuk menyesuaikan diri dengan kelompok tempat dia ingin
diterima. Ketika seseorang bergabung dalam sebuah sikluar tertentu, lambat laun
dia akan mulai mengadopsi bahasanya, gaya bercandanya, cara ngomongnya, bahkan
gestur yang lazim digunakan kelompok tersebut.
Sebagian terjadi secara sadar, sebagian lagi
berlangsung tanpa disadari melalui proses imitasi sosial yang oleh para
psikolog sering dikaitkan dengan chameleon effect atau efek bungelan. Tentu
proses ini gak terjadi dalam semalam. Perlahan, sedikit demi sedikit, sampai
akhirnya sesuatu yang dulu kerasa aneh jadi biasa aja.
Dan ketika sebuah perilaku itu udah dianggap
biasa, manusia cenderung berhenti mempertanyakannya. Disitulah pengaruh
lingkungan bekerja, bukan lewat paksaan, tapi lewat pembiasaan. Pergaulan dan
konsumsi media itu memiliki kekuatan sosiologis yang sangat masif dalam
menggeser perilaku seseorang.
Seorang bijak pernah bilang, kamu adalah
rata-rata dari 5 orang yang paling sering bersamamu. Kalau kamu sering
nongkrong sama orang-orang sukses, ya besar kemungkinan kamu jadi sukses. Kalau
kamu sering nongkrong sama orang-orang belok, ya besar kemungkinan kamu jadi
belok.
Tapi gimana dengan mereka yang ngerasa secara
biologis belok sejak lahir? Bagaimana dengan mereka yang ngerasa dorongan itu
udah ada di sana? Bahkan sebelum mereka tahu apa itu media sosial atau sirkel
pertemanan. Apakah itu bisa dianggap wajar? Karena siapa juga yang bisa milih
gimana kita lahir kan? Kebanyakan orang akan cari jawabannya dengan mengacu ke
dunia sains barat. Karena mereka dianggap modern, dan kita bisa dapet jawaban
yang jujur dan objektif.
Gitu kan ya? Tapi gini teman-teman, kalau kamu
nyoba cari jawaban atas pertanyaan tadi dari literatur imiah modern, buatan
barat, atau nanya ke AI, kamu gak akan dapet jawaban yang lugas. Kamu akan disuguhi
jawaban yang sangat diplomatis, penuh kehati-hatian, dan muter-muter. Kenapa?
Karena dunia sains barat sekarang ini penuh dengan khawatiran terhadap apa yang
disebut political correctness dan ideologi humanisme.
Sebagian kritikus berpendapat bahwa penelitian
mengenai seksualitas dan gender saat ini itu gak sepenuhnya bebas dari tekanan
sosial maupun politik. Di sisi lain, banyak ilmuwan berargumen bahwa perubahan
pandangan terhadap homoseksualitas itu terjadi karena akumulasi data imiah yang
terus berkembang. Karena itu, perdebatan ini belum benar-benar selesai.
Ada unsur sains, ada unsur budaya, ada juga
unsur politik yang saling berinteraksi. Sains yang harusnya objektif, tidak
menutup kemungkinan, bisa jadi sangat politis dan gak jujur demi cari aman.
Jadi, ada buku sains populer, judulnya Sapiens, karya Yuval Noah Harari.
Buku ini dikenal sangat jujur dan transparan.
Di sana dijelaskan secara gamblang gimana perbedaan fisik, ras, hingga struktur
genetika manusia terbentuk. Sains membuktikan bahwa secara biologis, manusia
tidak dilahirkan sama dan setara.
Manusia dilahirkan dengan kode genetik, fisik,
dan evolusi yang beda-beda. Tapi, ilmuwan barat modern selingkali berusaha
menyembunyikan perbedaan-perbedaan biologis ini demi menjaga narasi bahwa semua
manusia itu sama dan setara dalam segala hal. Mereka takut kalau fakta biologi
diungkap secara jujur itu akan membenarkan rasisme atau diskriminasi.
Ketakutan inilah yang akhirnya melahirkan
standar ganda yang luar biasa membingungkan. Contohnya gini, ada sebuah
perdebatan antara kaum feminis radikal dan kelompok pro-LGBT di barat sana.
Ketika kamu nanya ke kalangan feminis tentang karakteristik gender, misalnya,
kenapa perempuan lebih lembut atau emosional dan kenapa pria lebih dominan,
mereka akan menjawab dengan tegas, oh, itu semua murni karena konstruksi
sosial, itu hasil didikan lingkungan, bukan karena dorongan biologi.
Fine, kita akan pegang argumen itu, oke? Kalau
karakteristik gender itu cuma konstruksi sosial yang dibentuk oleh lingkungan,
berarti dengan menggunakan logika yang sama, seorang pria yang terlanjur
melambai atau boti seharusnya bisa dididik ulang secara sosial agar kembali
jadi kuat, tegas, dan maskulin. Betul? Tapi coba kamu tanyakan hal yang sama ke
kelompok pro-LGBT. Jawaban mereka bisa berbalik arah atau bahkan menyerang
pemikiran itu.
Mereka akan bilang bahwa nggak bisa, perilaku
melambai dan orientasi seksual itu bawaan genetik sejak lahir, udah ada di
dalam hormon mereka, alami, dan nggak bisa diubah oleh lingkungan. Gimana?
Kerasa janggalnya nggak? Sains Barat akhirnya melahirkan jawaban standar ganda
yang saling bertabrakan. Jadi perilaku melambai itu sebenarnya bisa diubah atau
nggak? Konstruksi sosial atau genetik? Jawabannya tergantung kepentingan
ideologi mana yang sedang mereka bilang saat itu.
Mereka akan menjawab A dan B di waktu yang
bersamaan demi memuaskan semua pihak. Kita dipaksa untuk menerima kebingungan
ini sebagai sebuah kebenaran. Padahal kalau kita cemati lagi, bukankah ini
bentuk ketidakjujuran ilmiah demi menghindari konflik sosial? Dulu LGB itu
dikategorikan sebagai penyakit jiwa, tapi organisasi kesehatan dunia kayak WHO,
asosiasi psikiatri Amerika, itu menghapus homoseksualitas dari daftar gangguan
mental sejak tahun 1970-an dan 1990-an.
Pertanyaannya, berdasarkan apa yang sudah kita
bahas, apakah ini bisa dipercaya? Persis kalimatnya ada, ini adalah masih
sebuah gangguan. Apa? Gangguan, Pak. Gangguan apa? Gangguan jiwa.
Terus gimana, Bang? Gimana pandangan lo
pribadi soal fenomena ini? Well, kalau kita singkirin semua perdebatan
kepentingan yang ada di barat itu, lalu kita kembalikan argumen ini ke dasar
sains yang paling murni, jawabannya sebenarnya simpel aja. Saya akan condong ke
sudut pandang biologi paling dasar, law of nature-nya kenapa manusia dijiptakan
berpasangan. Secara genetika dan evolusi, setiap makhluk hidup membawa dorongan
biologis yang pada akhirnya berkaitan dengan kelangsungan spesiesnya.
Pada manusia, hubungan heteroseksual itu pola
reproduktif utama yang memungkinkan lahirnya generasi berikutnya. Karena itu,
saya pribadi memandang hubungan heteroseksual sebagai pola biologis mayoritas
atau norma biologis manusia. Gambangnya, kenapa manusia itu dijiptakan sebagai
Adam dan Hawa, bukan Adam dan Anton? Tujuannya ya satu, reproduksi.
Buat apa reproduksi itu? Biar nggak punah. Itu
adalah hukum alam yang mutlak. Karena itu, ketika seseorang mengalami kondisi
psikologis kayak dysphoria gender, dimana ada ketidakselarasan antara identitas
gender dengan jenis kelamin biologisnya sejak lahir, which is, itu yang bikin
perilakunya berubah total sampai orientasinya nggak lagi mengarah pada fungsi
reproduksi.
Ya, kita harus berani jujur mengakui kalau itu
adalah sebuah penyimpangan atau kelainan sistem. Kita nggak perlu
memperhalusnya dengan istilah-istilah gaul demi terlihat keren atau modern.
Gender fluid, spectrum, apalah itu.
Kelainan ya kelainan. Homo ya homo. Lesbi ya
lesbi.
Tapi gini, walaupun secara biologis itu diakui
sebagai sebuah penyimpangan, apakah itu berarti kita berhak untuk memperlakukan
mereka secara nggak manusiawi? Kalau menurut saya sih, kehidupan bermasyarakat
nggak berjalan sesimple itu. Ada perbedaan antara aktivitas seksual dan
orientasi seksual. Orientasi seksual adalah tentang kepada siapa dorongan atau
ketertarikan itu muncul.
Dan dalam kasus ini, itu adalah kondisi
psikologis internal yang ada di dalam kepala mereka. Kamu nggak bisa ngelarang
seorang perjaka yang dia emang sukanya dan hanya akan tertarik sama janda anak
tiga. Mau kamu jelasin untung ruginya pakai paparan powerpoint 70 slide juga
nggak akan digubris.
Orang suka mau gimana? Itu orientasi seksual.
Nggak ada yang bisa maksain. Sedangkan aktivitas seksual adalah tindakan
nyatanya atau perbuatan seksual yang dilakukan secara fisik.
Kalau si perjaka tadi udah ngajak jalan,
ngasih uang belanja dan kawin, itu aktivitasnya. Nah, balik ke perbuatan lagi.
Selama mereka nggak melakukan aktivitas seksualnya, artinya mereka nggak
mempertontonkan tindakan asusila di ruang publik, nggak melanggar hukum, nggak
memaksakan agenda mereka ke orang lain.
Maka, menurut saya, mereka sama sekali nggak
merugikan siapapun secara sosial. Dorongan di dalam kepala mereka itu kita
nggak bisa campur tangan. Itu urusan personal mereka dengan Tuhan.
Kalau mereka punya Tuhan. Ini sedikit
ngomongin agamanya, biar agak komprehensif. Karena sepanjang pengetahuan saya
dan sekian lama mempelajari berbagai macam agama, saya belum pernah nemuin
agama manapun yang membenarkan penyimpangan ini.
Terus gimana dengan mereka yang sengaja
mempertontonkan perbuatannya? Gimana dengan mereka yang dengan bangga mengumbar
aktivitas seksualnya? Dibikin konten demi pembeneran sirkel atau bahkan maksa
masyarakat untuk memaklumi tindakan asusila tersebut atas nama kebebasan? Aku
bangga jadi boti. Yee! Hidup boti! Nggak ada dosa, nggak ada disiksa. Nggak ada
kayak gitu-gitu.
Nggak ada. Itu cuma dongeng. Dongeng belakang.
Dongengan masa kecil. Nggak ada. Nggak ada
dosa, itu dongeng masa kecil.
Biar kita ditakut-takutin. Nah, kalau sampai
kayak gini, udah beda lagi ceritanya. Ketika sesuatu yang sifatnya privat dan
melanggar norma itu sengaja diseret ke ruang publik untuk dinormalisasi, maka
saat itulah, menurut saya, mereka sedang menentang hukum sosiologis masyarakat
kita.
Dan masyarakat punya hak sepenuhnya untuk
menolak, mengkritik, bahkan memboykot. Kita nggak bisa menangkap norma sesuatu
yang secara teologis dan biologis adalah sebuah kekeliruan hanya karena
kebebasan merekspresi. Bener ya bener, salah ya salah.
Secara personal, saya sama sekali nggak benci
manusianya. Saya nggak punya dendam, nggak ada kebencian, nggak ada keinginan
untuk mendiskriminasi mereka yang memilih jalan hidup yang kayak gitu. Sebagai
sesama warga negara dan sesama makhluk hidup, saya sepenuhnya menerima
perbedaan sebagai bagian dari dinamika sosial yang nggak bisa kita hindari di
dunia modern ini.
Tapi, menerima perbedaan bukan berarti kita
harus mengaburkan batas kebenaran. Kita harus bisa misahin antara empati
kemanusiaan dan objektifitas inmia. Kelainan tetaplah kelainan.
Dan jangan sampai kompromis sosial bikin kita
buta terhadap sains yang paling mendasar. Saya menerima perbedaan, tapi tidak
dengan penyimpangan. Semua beranfaat, ya.
Sumber: YT @Noe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Ditunggu komentar Anda!