Cari Blog Ini

Senin, 29 Juni 2026

Menuju Indonesia L(Emas): Berkembangnya Spesies BOTI

 Menuju INDONESIA L(EMAS) Berkembangnya SPESIES BOTI

 

Pesta lelaki sesama jenis atau gay berkedok family gathering di sebuah villa di daerah Puncak Bogor. Sebanyak 34 pria jadi tersangka kasus pesta seks sesama jenis yang digerebak di sebuah hotel kawasan Ngagel, Surabaya, Jawa Timur. Viral sebuah video yang menunjukkan aksi pesta gay di tempat hiburan malam atau THM di Karawang, Jawa Barat.

 

sumber: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR1CHV8K8VJuFI5xVYGNq4BhKu2wp3hw62JETlX6bfUoR3HdDU7Z7Wqf5yq&s=10

Kalau saya bilang perilaku boti itu bisa menular, mungkin nggak semua orang akan setuju. Khususnya ya pelakunya sendiri. Tapi kalau emang nggak menular, bisa nggak jelasin kenapa orang-orang yang nongkrong di circle mereka lama-lama bisa menyerupai mereka juga? Saya bayangin kalau ini dinormalisasi, dalam 10 tahun ke depan, konsep pria sejati versi kita yang, you know, maskulin, cool, strong, itu akan punah.

 

Nggak akan ada lagi pemimpin keluarga yang kokoh, yang ada tinggal apa yang banyak orang bilang generasi tulang lunak. Apakah ini sebuah kebebasan berekspresi atau penurunan kualitas generasi? Fenomena pria yang berpenampilan atau berperilaku feminin itu, kalau kamu sadar, itu sebenarnya bukan hal baru. Bukan tren yang mendadak muncul gitu aja.

 

Kalau kamu ingat atau buat kamu yang belum tahu juga, sekitar tahun 1980-1990-an, hampir seluruh masyarakat Indonesia itu tiap minggu duduk di depan TV cuma buat nontonin satu sosok melambai yang kita sebut boti sekarang ini. Namanya Om Tesi. Dia dari grup lawak simulat, cirikasnya pakai sanggul, kebaya, pakai cincin akik segede gaban.

 

Terus tingkahnya ngondek kemayu gitu. Tapi jangan salah, Om Tesi ini sebenarnya normal. Pria tulen, punya istri, punya keturunan.

 

Bahkan beliau ini mantan prajurit marinir angkatan laut. Apa yang beliau tunjukkan di layar kaca itu pure semata-mata cuma akting, sebatas hiburan aja. Nah, disinilah letak perbedaan besarnya dengan apa yang terjadi pada generasi sekarang, teman-teman sekalian.

 

Dulu, kultur melambai itu dikunci ketat di atas panggung hiburan. Cuma sekedar badut komedi aja. Batasannya jelas.

 

Begitu kamera mati, Om Tesi balik jadi pria sejati. Dan masyarakat tetap memegang tuguh pada nilai bahwa laki-laki di dunia nyata harus tangguh dan jadi pemimpin yang kokoh. Benteng budaya kita masih sangat kuat untuk menjaga nilai maskulinitas tersebut.

 

Tapi sekarang, benteng itu roboh karena proses normalisasi kultur. Perlilaku melambai bukan lagi sekedar hiburan di panggung komedi. Dia menembus masuk ke ruang publik dan dijadikan sebagai identitas diri dalam kehidupan sehari-hari.

 

Generasi muda kita hari ini berpotensi kehilangan role model pria sejati yang tegas. Kenapa normalisasi kultur ini bisa terjadi begitu cepat dan masif? Jawabannya ada di pergeseran panggung dari rating televisi ke algoritma media sosial yang ada di tanganmu sekarang. Kalau dulu Om Tesi harus melewati audisi ketat dan kontrak televisi untuk bisa tampil melambai, sekarang pintunya terbuka lebar bagi siapa aja.

 

Para influencer bot ini gak butuh TV. Mereka bikin panggung mereka sendiri. Mereka tampil ekspresif, penuh energi, dan boom, viral.

 

Dan seperti yang kita tahu, viral sama dengan cuan. Endorsement kosmetik, banjir tawaran kerja, dan itu yang mengantarkan mereka jadi sukses secara finansial. Thanks to some of you.

 

Kok gitu Bang? Iya, karena upatan, makian, dan setiap kata boykot, musnahkan, merusak moral yang kamu ketik di kolom komentar mereka, mungkin niatmu lain. Tapi disadari atau tidak, dari jempol mula, mereka eksis dan berkembang. Media sosial itu gak punya kompas moral.

 

Dia gak peduli apakah sebuah konten itu mendidik atau justru memicu penurunan kualitas generasi. Yang dia peduli cuma engagement dan durasi tonton. Ketika kamu nontonin video mereka, meskipun mungkin kamu nontonnya sambil mual, pusing, gangguan kehamilan, dan janin, aplikasi tetap menganggap kalau kamu tertarik.

 

Itu yang bikin video itu tersebar ke ratusan ribu remaja lainnya. Bagi generasi muda yang jiwanya masih dalam masa pencarian jati diri, fenomena ini mengirimkan sebuah pesan yang sangat berbahaya. Mereka melihatnya dengan menjadi pria melambai, ternyata bisa mendatangkan jalan pintas menuju popularitas, uang, dan validasi sosial tanpa perlu kerja keras.

 

Gampangnya pernah lihat benc**ng ngamen kan? Menurutmu kenapa benc**ng itu masih jadi benc**ng dan ngamen? Ya karena masih ada yang ngasih. Coba kalau semua kompak nggak usah ngasih, pasti berhenti mereka. Cari profesi lain, jadi benc**ng silver mu deh.

 

Anyway, jadi kalau hari ini sirkel-sirkel boti makin menjamur di sekitar kita, itu bukan sekedar kebebasan berekspresi. Ada unsur pragmatisme ekonomisnya, di mana industri dan pasarnya justru dibentuk oleh rasa penasaran netizen. Apakah perilaku boti ini bisa menular? Kalau nanya bisa apa nggaknya, jawabannya bisa.

 

Kalau ditanya pasti apa nggaknya? Belum tentu. Tapi bukan nular yang kayak flu ya? Satu orang bersin terus orang lain bisa ikutan bersin? Bukan. Ini menularnya secara psikologis.

 

Pada tahun 1961, ada seorang profesor psikologi namanya Albert Bandura. Dia bikin sebuah penelitian yang disebut eksperimen Bobodol. Di situ, anak-anak kecil diminta nonton video orang dewasa yang memukuli sebuah boneka besar secara agresif.

 

Hasilnya bikin para peneliti ini kaget. Karena ketika anak-anak itu dimasukkan ke dalam ruangan yang sama dengan boneka tersebut, mereka langsung meniru persis setiap pukulan, tendangan, bahkan makian yang mereka tonton sebelumnya. Eksperimen ini jadi sangat legendaris yang kemudian disebut Social Learning Theory.

 

Ini menunjukkan bahwa manusia, terutama anak-anak dan remaja, mereka belajar tentang gimana cara berperilaku di dunia ini. Itu melalui proses observasi, imitasi, dan modeling terhadap lingkungan sekitarnya. Sederhananya, kita adalah produk dari apa yang paling sering kita lihat.

 

Kalau seorang anak laki-laki tumbuh di lingkungan yang didominasi oleh perempuan, di mana dia hanya bergaul dengan ibu dan kakak-kakak perempuannya, secara gak sadar, otaknya akan mengadopsi gerakan tubuh, nada bicara, hingga cara merespon sesuatu dari figur-figur tersebut. Apakah ini pasti terjadi? Sekali lagi, kalau nanyanya pasti apa enggak, belum tentu. Karena masih banyak faktor lain yang mempengaruhi.

 

Belum lagi di era media sosial kayak sekarang ini. Seseorang bisa ngabisin berjam-jam tiap hari nonton figur yang sama, dengerin cara bicara yang sama, melihat pola perilaku yang sama berulang-ulang. Semakin sering sebuah perilaku itu terpapar di hadapan kita, semakin familiar perilaku itu di pikiran kita.

 

Dalam psikologi sosial, fenomena ini dikenal sebagai social conformity atau konformitas sosial. Manusia itu punya kecenderungan alami untuk menyesuaikan diri dengan kelompok tempat dia ingin diterima. Ketika seseorang bergabung dalam sebuah sikluar tertentu, lambat laun dia akan mulai mengadopsi bahasanya, gaya bercandanya, cara ngomongnya, bahkan gestur yang lazim digunakan kelompok tersebut.

 

Sebagian terjadi secara sadar, sebagian lagi berlangsung tanpa disadari melalui proses imitasi sosial yang oleh para psikolog sering dikaitkan dengan chameleon effect atau efek bungelan. Tentu proses ini gak terjadi dalam semalam. Perlahan, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya sesuatu yang dulu kerasa aneh jadi biasa aja.

 

Dan ketika sebuah perilaku itu udah dianggap biasa, manusia cenderung berhenti mempertanyakannya. Disitulah pengaruh lingkungan bekerja, bukan lewat paksaan, tapi lewat pembiasaan. Pergaulan dan konsumsi media itu memiliki kekuatan sosiologis yang sangat masif dalam menggeser perilaku seseorang.

 

Seorang bijak pernah bilang, kamu adalah rata-rata dari 5 orang yang paling sering bersamamu. Kalau kamu sering nongkrong sama orang-orang sukses, ya besar kemungkinan kamu jadi sukses. Kalau kamu sering nongkrong sama orang-orang belok, ya besar kemungkinan kamu jadi belok.

 

Tapi gimana dengan mereka yang ngerasa secara biologis belok sejak lahir? Bagaimana dengan mereka yang ngerasa dorongan itu udah ada di sana? Bahkan sebelum mereka tahu apa itu media sosial atau sirkel pertemanan. Apakah itu bisa dianggap wajar? Karena siapa juga yang bisa milih gimana kita lahir kan? Kebanyakan orang akan cari jawabannya dengan mengacu ke dunia sains barat. Karena mereka dianggap modern, dan kita bisa dapet jawaban yang jujur dan objektif.

 

Gitu kan ya? Tapi gini teman-teman, kalau kamu nyoba cari jawaban atas pertanyaan tadi dari literatur imiah modern, buatan barat, atau nanya ke AI, kamu gak akan dapet jawaban yang lugas. Kamu akan disuguhi jawaban yang sangat diplomatis, penuh kehati-hatian, dan muter-muter. Kenapa? Karena dunia sains barat sekarang ini penuh dengan khawatiran terhadap apa yang disebut political correctness dan ideologi humanisme.

 

Sebagian kritikus berpendapat bahwa penelitian mengenai seksualitas dan gender saat ini itu gak sepenuhnya bebas dari tekanan sosial maupun politik. Di sisi lain, banyak ilmuwan berargumen bahwa perubahan pandangan terhadap homoseksualitas itu terjadi karena akumulasi data imiah yang terus berkembang. Karena itu, perdebatan ini belum benar-benar selesai.

 

Ada unsur sains, ada unsur budaya, ada juga unsur politik yang saling berinteraksi. Sains yang harusnya objektif, tidak menutup kemungkinan, bisa jadi sangat politis dan gak jujur demi cari aman. Jadi, ada buku sains populer, judulnya Sapiens, karya Yuval Noah Harari.

 

Buku ini dikenal sangat jujur dan transparan. Di sana dijelaskan secara gamblang gimana perbedaan fisik, ras, hingga struktur genetika manusia terbentuk. Sains membuktikan bahwa secara biologis, manusia tidak dilahirkan sama dan setara.

 

Manusia dilahirkan dengan kode genetik, fisik, dan evolusi yang beda-beda. Tapi, ilmuwan barat modern selingkali berusaha menyembunyikan perbedaan-perbedaan biologis ini demi menjaga narasi bahwa semua manusia itu sama dan setara dalam segala hal. Mereka takut kalau fakta biologi diungkap secara jujur itu akan membenarkan rasisme atau diskriminasi.

 

Ketakutan inilah yang akhirnya melahirkan standar ganda yang luar biasa membingungkan. Contohnya gini, ada sebuah perdebatan antara kaum feminis radikal dan kelompok pro-LGBT di barat sana. Ketika kamu nanya ke kalangan feminis tentang karakteristik gender, misalnya, kenapa perempuan lebih lembut atau emosional dan kenapa pria lebih dominan, mereka akan menjawab dengan tegas, oh, itu semua murni karena konstruksi sosial, itu hasil didikan lingkungan, bukan karena dorongan biologi.

 

Fine, kita akan pegang argumen itu, oke? Kalau karakteristik gender itu cuma konstruksi sosial yang dibentuk oleh lingkungan, berarti dengan menggunakan logika yang sama, seorang pria yang terlanjur melambai atau boti seharusnya bisa dididik ulang secara sosial agar kembali jadi kuat, tegas, dan maskulin. Betul? Tapi coba kamu tanyakan hal yang sama ke kelompok pro-LGBT. Jawaban mereka bisa berbalik arah atau bahkan menyerang pemikiran itu.

 

Mereka akan bilang bahwa nggak bisa, perilaku melambai dan orientasi seksual itu bawaan genetik sejak lahir, udah ada di dalam hormon mereka, alami, dan nggak bisa diubah oleh lingkungan. Gimana? Kerasa janggalnya nggak? Sains Barat akhirnya melahirkan jawaban standar ganda yang saling bertabrakan. Jadi perilaku melambai itu sebenarnya bisa diubah atau nggak? Konstruksi sosial atau genetik? Jawabannya tergantung kepentingan ideologi mana yang sedang mereka bilang saat itu.

 

Mereka akan menjawab A dan B di waktu yang bersamaan demi memuaskan semua pihak. Kita dipaksa untuk menerima kebingungan ini sebagai sebuah kebenaran. Padahal kalau kita cemati lagi, bukankah ini bentuk ketidakjujuran ilmiah demi menghindari konflik sosial? Dulu LGB itu dikategorikan sebagai penyakit jiwa, tapi organisasi kesehatan dunia kayak WHO, asosiasi psikiatri Amerika, itu menghapus homoseksualitas dari daftar gangguan mental sejak tahun 1970-an dan 1990-an.

 

Pertanyaannya, berdasarkan apa yang sudah kita bahas, apakah ini bisa dipercaya? Persis kalimatnya ada, ini adalah masih sebuah gangguan. Apa? Gangguan, Pak. Gangguan apa? Gangguan jiwa.

 

Terus gimana, Bang? Gimana pandangan lo pribadi soal fenomena ini? Well, kalau kita singkirin semua perdebatan kepentingan yang ada di barat itu, lalu kita kembalikan argumen ini ke dasar sains yang paling murni, jawabannya sebenarnya simpel aja. Saya akan condong ke sudut pandang biologi paling dasar, law of nature-nya kenapa manusia dijiptakan berpasangan. Secara genetika dan evolusi, setiap makhluk hidup membawa dorongan biologis yang pada akhirnya berkaitan dengan kelangsungan spesiesnya.

 

Pada manusia, hubungan heteroseksual itu pola reproduktif utama yang memungkinkan lahirnya generasi berikutnya. Karena itu, saya pribadi memandang hubungan heteroseksual sebagai pola biologis mayoritas atau norma biologis manusia. Gambangnya, kenapa manusia itu dijiptakan sebagai Adam dan Hawa, bukan Adam dan Anton? Tujuannya ya satu, reproduksi.

 

Buat apa reproduksi itu? Biar nggak punah. Itu adalah hukum alam yang mutlak. Karena itu, ketika seseorang mengalami kondisi psikologis kayak dysphoria gender, dimana ada ketidakselarasan antara identitas gender dengan jenis kelamin biologisnya sejak lahir, which is, itu yang bikin perilakunya berubah total sampai orientasinya nggak lagi mengarah pada fungsi reproduksi.

 

Ya, kita harus berani jujur mengakui kalau itu adalah sebuah penyimpangan atau kelainan sistem. Kita nggak perlu memperhalusnya dengan istilah-istilah gaul demi terlihat keren atau modern. Gender fluid, spectrum, apalah itu.

 

Kelainan ya kelainan. Homo ya homo. Lesbi ya lesbi.

 

Tapi gini, walaupun secara biologis itu diakui sebagai sebuah penyimpangan, apakah itu berarti kita berhak untuk memperlakukan mereka secara nggak manusiawi? Kalau menurut saya sih, kehidupan bermasyarakat nggak berjalan sesimple itu. Ada perbedaan antara aktivitas seksual dan orientasi seksual. Orientasi seksual adalah tentang kepada siapa dorongan atau ketertarikan itu muncul.

 

Dan dalam kasus ini, itu adalah kondisi psikologis internal yang ada di dalam kepala mereka. Kamu nggak bisa ngelarang seorang perjaka yang dia emang sukanya dan hanya akan tertarik sama janda anak tiga. Mau kamu jelasin untung ruginya pakai paparan powerpoint 70 slide juga nggak akan digubris.

 

Orang suka mau gimana? Itu orientasi seksual. Nggak ada yang bisa maksain. Sedangkan aktivitas seksual adalah tindakan nyatanya atau perbuatan seksual yang dilakukan secara fisik.

 

Kalau si perjaka tadi udah ngajak jalan, ngasih uang belanja dan kawin, itu aktivitasnya. Nah, balik ke perbuatan lagi. Selama mereka nggak melakukan aktivitas seksualnya, artinya mereka nggak mempertontonkan tindakan asusila di ruang publik, nggak melanggar hukum, nggak memaksakan agenda mereka ke orang lain.

 

Maka, menurut saya, mereka sama sekali nggak merugikan siapapun secara sosial. Dorongan di dalam kepala mereka itu kita nggak bisa campur tangan. Itu urusan personal mereka dengan Tuhan.

 

Kalau mereka punya Tuhan. Ini sedikit ngomongin agamanya, biar agak komprehensif. Karena sepanjang pengetahuan saya dan sekian lama mempelajari berbagai macam agama, saya belum pernah nemuin agama manapun yang membenarkan penyimpangan ini.

 

Terus gimana dengan mereka yang sengaja mempertontonkan perbuatannya? Gimana dengan mereka yang dengan bangga mengumbar aktivitas seksualnya? Dibikin konten demi pembeneran sirkel atau bahkan maksa masyarakat untuk memaklumi tindakan asusila tersebut atas nama kebebasan? Aku bangga jadi boti. Yee! Hidup boti! Nggak ada dosa, nggak ada disiksa. Nggak ada kayak gitu-gitu.

 

Nggak ada. Itu cuma dongeng. Dongeng belakang.

 

Dongengan masa kecil. Nggak ada. Nggak ada dosa, itu dongeng masa kecil.

 

Biar kita ditakut-takutin. Nah, kalau sampai kayak gini, udah beda lagi ceritanya. Ketika sesuatu yang sifatnya privat dan melanggar norma itu sengaja diseret ke ruang publik untuk dinormalisasi, maka saat itulah, menurut saya, mereka sedang menentang hukum sosiologis masyarakat kita.

 

Dan masyarakat punya hak sepenuhnya untuk menolak, mengkritik, bahkan memboykot. Kita nggak bisa menangkap norma sesuatu yang secara teologis dan biologis adalah sebuah kekeliruan hanya karena kebebasan merekspresi. Bener ya bener, salah ya salah.

 

Secara personal, saya sama sekali nggak benci manusianya. Saya nggak punya dendam, nggak ada kebencian, nggak ada keinginan untuk mendiskriminasi mereka yang memilih jalan hidup yang kayak gitu. Sebagai sesama warga negara dan sesama makhluk hidup, saya sepenuhnya menerima perbedaan sebagai bagian dari dinamika sosial yang nggak bisa kita hindari di dunia modern ini.

 

Tapi, menerima perbedaan bukan berarti kita harus mengaburkan batas kebenaran. Kita harus bisa misahin antara empati kemanusiaan dan objektifitas inmia. Kelainan tetaplah kelainan.

 

Dan jangan sampai kompromis sosial bikin kita buta terhadap sains yang paling mendasar. Saya menerima perbedaan, tapi tidak dengan penyimpangan. Semua beranfaat, ya.

 

Sumber: YT @Noe

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ditunggu komentar Anda!