Obat Ampuh dari Kecanduan Media Sosial
Nicole Newport adalah seorang profesor ilmu
komputer di Georgetown University Amerika Serikat. Di tahun 2017, beliau
melihat sebuah fenomena aneh yang menyerah orang-orang di sekitarnya. Ada wabah
kecanduan medsos yang melanda.
Di jalannya selalu sama. Orang-orang yang
ngaku kecanduan medsos ini merasakan rasa lelah yang aneh. Mereka lelah menatap
layar, tapi nggak bisa lepas.
Berbagai keluhan yang ia sering dengar adalah
saya nggak bisa berhenti liat HP, saya merasa jadi budak notifikasi, dan waktu
saya habis cuma untuk main Facebook atau Instagram. Newport sadar kalau
penyebab kecanduan ini bukan sekedar karena kurang disiplin atau mental yang
lemah. Masalahnya, musuh kita adalah algoritma triliunan rupiah yang memang
udah dirancang khusus buat nyuri perhatian kita.
Untuk ngelawan, kita butuh lebih dari sekedar
solusi klise yang kaya puasa medsos. Sebagai alternatif yang lebih efektif,
Proof Newport ngawarin sebuah obat dalam bentuk filosofi bernama minimalisme
digital. Ia bukan bermaksud ngajak kamu buat buang HP dan hidup di goa.
Bukan. Newport justru mau ngasih tau strategi
konkret gimana caranya buat ngambil balik hidup kita. Gimana caranya menikmati
canggihnya internet tanpa harus kehilangan jiwa kita di dalamnya.
Selamat datang di layar kertas dan video ini
bakal kupas tuntas Filosofi Minimalisme Digital dari buku Digital Minimalism,
Choosing a Focus Life in Noisy World, karya Carl Newport. Ini dia, obat ampuh
buat kamu yang mau sembuh dari kecanduan medsos. Bab 1, Filosofi Minimalisme
Digital Kalau denger kata minimalis, mungkin yang langsung kebayang di kepalamu
adalah ruangan kosong yang isinya cuma satu kursi dan satu meja.
Itu memang minimalis, tapi dalam konteks yang
umum. Nah, kalau minimalisme digital ini agak beda karena fokusnya spesifik,
yaitu soal filosofi penggunaan teknologi. Intinya sebenarnya cukup sederhana.
Kita cuma fokus ke segelintir kegiatan digital
yang benar-benar ngasih nilai besar buat hidup kita dan dengan senang hati membuang
sisanya. Carl Newport dapat inspirasi buat ngembangin filosofi ini dari
kelompok yang sering disalahpahami, yaitu kaum Amish. Buat yang belum tahu,
kaum Amish adalah sebuah komunitas Kristen di Amerika Utara yang masih
pertahanin gaya hidup sederhana ala tahun 1800-an.
Mereka banyak menolak teknologi modern seperti
handphone, mobil, hingga listrik. Kaum Amish lebih memilih hidup selaras dengan
tradisi dan ajaran agama mereka yang fokusnya adalah pertanian dan keluarga.
Banyak orang mikir orang Amish itu anti-teknologi karena mereka menolak buat
pakai mobil atau listrik di rumahnya.
Padahal sebenarnya nggak gitu. Mereka tetap
terbuka sama teknologi baru. Tapi mereka sangat selektif.
Sebelum mengadopsi teknologi baru, mereka
nanya dulu, apakah alat ini bakal memperkuat komunitas kita atau malah cuma
merusak? Kalau alat itu adalah smartphone yang bikin sebuah keluarga jadi
jarang ngobrol langsung di ruang tamu, maka mereka bakal tolak. Tapi kalau alat
yang memberikan manfaat kayak generator diesel yang membantu proses mereka
bertani, kaum Amish nggak ragu untuk pakai itu. Mereka memilih buat nggak pakai
smartphone bukan karena alat itu jahat, tapi karena alat itu nggak cocok dengan
cara hidup mereka.
Disinilah poin pentingnya. Kalau kamu mau jadi
seorang minimalis digital, kamu harus tahu mana gadget atau aplikasi yang
penting untuk bantu hidupmu. Misal kamu adalah seorang influencer yang punya
banyak mengikut di TikTok, maka nggak masuk akal buat hapus akunmu karena bakal
buat kamu kehilangan pekerjaan.
Yang bener adalah fokus ke TikTok dan hapus
medsos lain kayak Instagram atau Snapchat yang cuma jadi distraksi. Pakai
TikTok pun kamu harus fokus jadi kreator, bukannya kebebelasan scrolling
hal-hal nggak penting. Kunci dari filosofi minimalisme digital adalah tahu
tentang biaya, dan ini bukan melulu soal uang.
Newport mengutip Henry David Thoreau, seorang
filsuf Amerika yang bilang kalau biaya dari sebuah barang adalah seberapa
banyak hidup yang harus kamu tukar untuk itu. Coba pikirin, aplikasi media
sosial itu sekilas kedayaan gratis, kita nggak bayar pakai uang, tapi apakah
semudah itu? Oh tentu tidak, kita tetap bayar, malah pakai hal yang lebih
mahal, yaitu waktu dan atensi kita. Kita nuker jam tidur kita, waktu main sama
anak, atau momen tenang cuma buat lihat update status orang yang bahkan kita
nggak kenal.
Seorang minimalis digital ngerti kalau clutter
atau kekacauan digital itu mahal harganya. Punya 10 aplikasi chat mungkin bikin
kamu gampang dihubungi, tapi itu bikin kamu kehilangan ketenangan pikiran. Dan
bagi seorang minimalis, ketenangan itu jauh lebih berharga daripada sekedar
kemudahan.
Jadi langkah pertamanya bukan langsung
buru-buru hapus akun mesos atau berhenti pakai smartphone, tapi tentukan tujuan
hidupmu, kemudian pilih teknologi yang bakal membawamu mencapainya. Setelah
dapat esensi filosofinya, sekarang ayo kita mulai. Bab 2. Bersih-bersih digital
Untuk mulai jadi seorang minimalis digital, kamu harus bersih-bersih dulu.
Kedengerannya emang gampang, tapi masih banyak
yang salah. Kebanyakan orang nyoba ngurangin main HP pakai tips-tips kecil. Ah,
gue mau puasa sosmed tiap weekend, atau gue mau matiin notifikasi WA.
Menurut Prof Newport, cara setengah hati kayak
gitu nggak bakal berhasil jangka panjang karena daya tarik aplikasi-aplikasi di
smartphonemu terlalu kuat. Kalau cuma kurangin dikit-dikit, kamu bakal balik
lagi ke kebiasaan lama dalam hitungan minggu. Cara yang tepat adalah dengan
riset total.
Inilah yang Prof Newport maksud sebagai
bersih-bersih digital. Dalam buku Digital Minimalism, ia merumuskan tiga
langkah radikal untuk riset. Ini bukan sekadar istirahat dari medsos, tapi
sebuah proses untuk membangun ulang hubunganmu dengan teknologi dari nol.
Langkah pertama adalah tentukan aturan
teknologi opsional. Selama 30 hari ke depan, kamu harus berhenti menggunakan
semua teknologi opsional. Hah? Apa itu teknologi opsional? Semua aplikasi,
situs web, atau alat digital yang sebenarnya nggak penting-penting amat di
hidupmu.
Itulah teknologi opsional. Hal-hal yang pas
kamu berhenti pakai selama 30 hari pun nggak akan hancurin hidup atau kerjaanmu.
Kalau kamu kerja kantoran, email kerja tentunya tetap boleh.
Tapi Instagram, Twitter, dan game online, kamu
harus hapus semua. Kemudian, langkah kedua adalah istirahat 30 hari. Ini adalah
fase detox.
Disklaimer, seminggu pertama bakal kerasa kayak
neraka. Kamu bakal gelisah, tangan gatel mau ambil HP, dan ngerasa ada yang
hilang. Tapi, fase ini bukan cuma buat menderita.
Tujuannya adalah buat nemuin lagi apa yang
kamu suka di dunia nyata. Gunakan waktu kosong yang biasanya kamu pakai buat
scrolling untuk melakukan hal-hal nyata. Baca buku, olahraga, ngobrol sama
tetangga, atau belajar masak.
Kamu harus ngasih makan jiwamu dengan kegiatan
berkualitas tinggi supaya kamu lupa sama junk food digital. Langkah ketiga
adalah reintroduksi atau masukin kembali beberapa aplikasi ke dalam hidupmu.
Setelah 30 hari selesai, jangan langsung install ulang semua aplikasi.
Ini kesalahan fatal. Ibarat orang habis diet
ketat, jangan langsung makan gorengan sebakul. Kamu harus selektif.
Setiap kali sebelum install aplikasi, kamu
harus selalu tanya dua pertanyaan ini. Apakah aplikasi ini benar-benar
mendukung nilai hidup yang saya pegang? Kalau jawaban ya, tanya lagi. Apakah
ini cara terbaik buat pakai aplikasi ini? Mungkin kamu butuh info dari grup
Facebook komunitasmu.
Sekarang, kamu bisa mulai pakai Facebook lagi
tapi dengan syarat. Kalau sebelumnya kamu asal pakai, sekarang aturannya adalah
kamu cuma boleh buka Facebook sekali per hari, dan harus lewat laptop. Kamu
nggak boleh akses Facebook lewat smartphonemu.
Dengan proses bersih-bersih digital ini, kamu
nggak lagi jadi bodak teknologi yang nggak bisa lepas dari candu layar. Kamu
berubah jadi minimalis yang secara sadar menyaring apa saja yang boleh masuk ke
hidupmu. Dan untuk semakin mempermudah prosesnya, berikut adalah beberapa
praktik penting yang bisa kamu coba.
Setelah kamu berhasil bersih-bersih digital,
kamu bakal ngerasain satu hal yang mungkin udah lama hilang. Waktu menyendiri.
Atau kalau bahasa kerennya, me-time.
Coba ingat baik-baik kapan terakhir kamu
benar-benar sendiri. Bukan sendirian di kamar tapi sambil settingan atau
dengerin podcast. Tapi benar-benar sendiri.
Cuma kamu dan pikiranmu sendiri. Nggak ada
distraksi sama sekali dari luar. Prof Newport bilang, hampir semua manusia
modern menderita penyakit baru yang ia sebut sebagai solitude deprivation, atau
kekurangan waktu menyendiri.
Dulu, menyendiri itu hal yang wajar. Mulai
dari pas lagi nunggu bus, pas lagi jalan kaki, atau pas lagi antri di tempat
umum. Aktivitas-aktivitas ini, ngasih otak kita waktu buat diem, mikir, dan
memproses emosi.
Tapi sekarang, begitu ada waktu 0,5 detik aja
pas lagi nunggu lift atau lampu merah, tangan kita bakal refleks ngambil HP dan
buka MetSource. Kita nyumpel setiap celah kesepian dengan teknologi. Akibatnya,
otak kita nggak pernah istirahat.
Yang terjadi kemudian, adalah kita jadi cemas,
susah fokus, dan burned out. Contoh nyata kekuatan menyendiri adalah kisah
salah satu Presiden Amerika yang terkenal, Abraham Lincoln. Selama perang
saudara yang brutal, Lincoln itu stres berat.
Tapi dia punya kebiasaan unik. Dia sering
pergi ke sebuah pondok kecil di pinggiran kota buat menyendiri. Di sana, tanpa
gangguan ajudan dan telegram yang terus masuk, Lincoln bisa berpikir jernih.
Di kesenian itulah, ia merancang strategi dan
pidato-pidato yang mengubah sejarah Amerika. Lincoln butuh waktu menyendiri
untuk jadi pemimpin yang bijak. Hal ini tentu berlaku pula untuk kita semua.
Kita butuh waktu sunyi sendiri buat jadi
manusia yang waras. Terus gimana caranya? Dalam buku Digital Minimalism, Prof
Nippor nyaranin satu praktik simple tapi berat. Coba tinggalin handphone-mu di
rumah pas lagi ngelakuin aktivitas sederhana.
Coba deh, sesekali jalan kaki keliling komplek
atau pergi ke warung tanpa bawa HP. Biarin pikiranmu melayang kemana-mana.
Mungkin awalnya bakal kerasa aneh atau bosan, tapi rasa bosan itu sebenarnya
adalah tanda kalau otak kamu lagi mulai menyesuaikan dengan kebiasaan baru-mu.
Di momen-momen senyinya itulah, biasanya
ide-ide terbaik muncul dan emosi-emosi yang selama ini terkendam bisa kita
proses dengan sehat. Jadi, jangan takut sama kesepian. Justru takutlah kalau
kamu gak pernah merasa sepi.
Kita sering dengar alesan, saya main sosmed,
biar bisa tetap konek sama temen-temen. Sekilas ini adalah alasan yang masuk
akal, tapi Prof Newport punya pandangan berbeda. Menurutnya, banyak orang yang
salah paham karena menganggap koneksi di medsos bisa gantiin hubungan tatap
muka langsung.
Koneksi bukanlah percakapan. Padahal manusia
butuhnya yang kedua. Percakapan itu yang kayak kita ngobrol tetap buka.
Ada ekspresi wajah, nada suara, jeda, dan
empati. Prof Newport nyebut ini sebagai interaksi high bandwidth yang bikin
kita merasa manusiawi. Sedangkan koneksi digital kayak sekedar klik like, nulis
komen wkwk, atau kirim stiker api di Instagram sorry masuk sebagai interaksi
low bandwidth.
Masalahnya, kita sering mengganti percakapan
yang kaya makna dengan koneksi yang dangkal. Newport bilang, tombol like adalah
salah satu penemuan yang paling merusak dalam sejarah interaksi sosial manusia
karena bikin kamu merasa sudah berinteraksi, padahal belum. Habis like, kamu
jadi males nelpon atau ketemuan karena mikir, kan udah liat post sama
story-nya.
Ini ibarat kamu lapar, tapi cuma dikasih makan
kerupuk. Kenyang enggak, tapi nafsu makan ilang sebelum dapat nutrisi.
Interaksi digital itu kayak junk food sosial.
Enak, cepet, tapi nggak bergizi. Salah satu
ide radikal Prof Newport adalah coba berhenti klik like. Serius.
Cobain deh. Kalau kamu lihat temenmu posting
foto anaknya yang baru lahir atau pencapaian kerjanya, jangan cuma like. Kalau
kamu beneran peduli, telepon dia.
Atau minimal, kirim pesan pribadi yang
panjang. Atau lebih baik lagi, kamu bisa ajak ketemuan. Kalau sebuah hubungan
nggak layak buat diperjuangin lewat telepon atau pertemuan, mungkin hubungan
itu emang nggak sepenting itu buat dipertahanin lewat like dan komen.
Jadi, mari kita kembalikan percakapan yang
nyata. Karena satu jam kopi bareng sahabat jauh lebih berharga daripada seribu
like di dunia maya. Kita masuk ke studi kasus.
Kenalin, Joe. Seorang software engineer yang
kecanduan teknologi. Pertama, kerjaan yang nggak bisa lepas dari teknologi.
Yang kedua, setelah kerja, dia langsung cari
hiburan dengan main medsos, baca berita online, sampai maraton serial Netflix.
Setelah bertahun-tahun ngejalanin hidup dengan cara ini, Joe ngerasa mumet
banget. Dia susah fokus dan nggak merasa bahagia lagi.
Akhirnya, dia pun mutusin mau berubah. Langkah
awalnya adalah ngurangin interaksi sama dunia digital. Karena nggak mungkin
buat Joe lakuin hal itu pas kerja, jadinya dia milih buat ganti hiburannya.
Joe mutusin buat berhenti nonton Netflix,
refresh timeline X tiap menit, dan nungguin breaking news CNN. Sebagai
gantinya, dia ngulik lagi hobi masa kecilnya, yaitu buat barang-barang dari
kayu. Jadi, tiap sore setelah pulang kerja, Joe langsung pergi ke gudang di
belakang rumahnya.
Dia mulai ngulik lagi cara buat berbagai macam
kerajinan kayu. Setelah dua bulan, hidup Joe berubah drastis. Dia jadi lebih
menikmati waktunya dan sekarang ada meja buatannya sendiri di ruang tamu.
Cerita Joe ini adalah contoh kalau waktu yang
habis buat menetap layar handphone ternyata bisa menghasilkan sesuatu kalau
kamu pakai dengan baik. Banyak dari kita ngerasa sama kayak Joe di awal. Hidup
di era digital buat kita ngerasa mumat banget.
Hal ini bukannya kebetulan. Newport bilang ini
adalah efek kebanyakan interaksi sama teknologi. Konsumsi pasif kayak ngecek
update temen di Facebook atau nonton konten TikTok bakal ngasih kita rasa
senang sesaat.
Datangnya cepet, tapi hilangnya juga nggak
kalah instan. Makanya kita selalu mau lebih. Kalau keinginan ini terus kamu
turutin, ya nggak bakal ada habisnya.
Newport bilang cara ngelawak terbaik adalah
ngelakuin hobi positif dan produktif. Pas kamu berhenti cari hiburan gampang
dari HP, awalnya pasti bakal muncul rasa hampa. Kehampaan ini bukan berarti
hiburan receh itu penting, tapi tanda kalau kamu butuh kegiatan aktif buat
ngisi waktu yang kosong itu.
Kegiatan positif yang Newport maksud adalah
jalanin hobimu kayak Sijo dengan kerejinan kayunya tadi. Kamu bisa lakuin
olahraga favoritmu, belajar alat musik baru, coba resep makanan favorit, atau
bisa belajar skill-skill baru. Aktivitas-aktivitas ini bakal jadi distraksi
yang baik supaya kamu lepas dari kecanduan medsos.
Ini karena sekarang kamu punya opsi yang jauh
lebih seru ketimbang cuma liatin layar. Buat yang bingung mulai dari mana,
Newport punya beberapa trik praktis. Pertama, kamu tulis rencana kegiatan waktu
luang.
Coba kasih daftar kegiatan yang kamu suka atau
skill yang mau kamu pelajari. Habis itu, luangin waktu khusus untuk itu. Gak
harus lama.
Kamu bisa mulai dari satu jam per minggunya
dengan catatan selama satu jam kamu benar-benar fokus. Gak boleh ada distraksi.
Apalagi sambil main medsos.
Nanti pelan-pelan tambah jamnya dan tanpa
terasa, kamu bakal rasain manfaatnya. Untuk lepas dari medsos, kamu gak bisa
cuman mengandalkan kekuatan mental. Kamu perlu kegiatan alternatif lain yang
lebih asik dan jawabannya adalah hobi berkualitas.
Sampai di sini, mungkin kamu mikir, oke,
teorinya bagus, tapi prateknya susah banget. Ya, memang susah. Dan itu wajar.
Karena di seberang layar sana, ada ribuan insinyur
jenius di Silicon Valley yang digaji miliaran rupiah cuma buat satu tujuan.
Bikin kamu gak bisa lepas dari layar. Mereka pakai prinsip psikologi yang sama
kayak mesin judi slot di kasino.
Setiap kali kamu pull to refresh di Twitter
atau Instagram, itu sama kayak narik tuas mesin slot. Kamu berharap dapat
hadiah berupa notifikasi atau konten menarik. Ketidakpastian itulah yang bikin
kesanduan.
Ini bukan pertarungan yang adil. Kalau kamu
cuma modal niat kuat, kamu bakal kalah. Kamu butuh strategi.
Kamu butuh bergabung dengan apa yang Newport
sebut sebagai The Attention Resistance. Berikut adalah taktik perang yang
disarankan Newport. Pertama, hapus media sosial dari HP.
Ingat filosofi minimalis tadi. Kamu gak harus
hapus akunnya, tapi hapus aplikasinya dari HP. Kalau mau cek Facebook atau
Instagram, lakuin lewat browser di laptop atau komputer.
Ini nambah hambatan. Jadi, kamu cuma bakal
ngecek kalau beneran niat, bukan karena iseng pas lagi bosan di toilet. Kedua,
dump phone mode.
Ubah HP pintarmu jadi HP bodoh. Matikan semua
notifikasi kecuali telepon dan SMS atau WA yang penting. Jangan jadikan HP
sebagai sumber hiburan utama.
HP itu alat, bukan bos. Yang ketiga, jadwalkan
waktu penggunaan. Tentuin kapan kamu boleh pakai teknologi low quality.
Misal, boleh nonton YouTube cuma di hari
Sabtu, jam 7 sampai jam 9 malam. Di luar itu, haram. Dengan cara ini, kamu yang
megang kendali.
Kamu yang nentuin kapan mau masuk ke dunia
digital dan kapan harus keluar. Ketenangan sejenak. Seringkali kita mikir, kalau
kita nolak pakai aplikasi yang lagi viral, orang bakal ngecap kita ketinggalan
zaman.
Atau, kamu akan dianggap orang aneh. Masa hari
gini nggak punya TikTok? Masa hari gini nggak tahu berita viral tadi pagi? Tapi
coba pikir lagi. Apakah dengan tahu berita viral itu, hidupmu lebih bahagia?
Apakah scroll match sos 3 jam sehari itu bikin kamu lebih kaya atau lebih
pinter? Minimalisme digital adalah sebuah filosofi yang ngajak kita untuk
berani jadi aneh di tengah dunia yang penuh stimulasi.
Ngajak kamu untuk bisa pegang kendali atas
atensimu sendiri. Teknologi adalah alat yang luar biasa canggih. Tapi, alat
yang canggih hanya berguna kalau digunakan dengan bijak.
Kalau tidak, alat itu akan mempar alatmu. Prof
Newport ngasih kita peta jalan buat keluar dari labirin ini. Bukan dengan
membenci teknologi, tapi dengan menggunakannya secara sadar, penuh intensi, dan
secukupnya.
Sumber: YT @Layar Kertas
