Bagaimana Pesta Termahal dalam Sejarah Justru Melahirkan Republik Islam Iran
Di pelosok Iran, tahun 1971, jutaan rakyat
hidup dalam jeritan bisu yang diabaikan. Sementara rezim sah pamer kemakmuran,
kenyataannya justru memilukan. Anak-anak mati karena penyakit yang sebenarnya
bisa disembuhkan dan keluarga-keluarga harus berebut air bersih dengan hewan
ternak.
Kemiskinan ini bukan sekedar angka, melainkan
luka nyata bagi rakyat yang harus dipaksa hidup di bawah standar kemanusiaan.
Sementara hak-hak dasar mereka dirampas oleh ketidakadilan yang sistematis. Di
balik tembok-tembok istana yang kokoh, pemerintahan Muhammad Reza Shah Pahlavi
justru menutup telinga rapat-rapat.
Mereka lebih sibuk memoles citra di mata dunia
dan para sekutu baratnya daripada memikirkan nasib rakyatnya sendiri. Kebijakan
yang mereka banggakan hanyalah topeng untuk memperkaya segelintir elit.
Sementara mayoritas rakyat dibiarkan membusuk dalam kesengsaraan.
Bagi rezim yang tunduk pada kepentingan asing
ini, penderitaan rakyat hanyalah harga murah yang harus dibayar demi menjaga
kekuasaan mereka yang rapuh, alih-alih membantu rakyat yang kelaparan. Rezim
Shah justru menghamburkan kekayaan negara demi satu agenda yang gila, yaitu
menggelar pesta perayaan 2500 tahun kekaisaran di Persepolis. Mereka menumpuk
emas dan sampahnya di atas tanah yang rakyatnya saja kesulitan untuk membeli
sesuap nasi.
Inilah cerminan rezim yang berhianat pada
umat, yang lebih memilih memuja gengsi daripada memuliakan martabat rakyatnya
sendiri. Sebuah pengingat pahit tentang bagaimana sebuah kekuasaan yang zolim
pada rakyatnya pasti akan menuai kehancurannya sendiri. Muhammad Reza Shah
Pahlavi adalah potret pemimpin yang kehilangan jiwanya di tengah kilauan
kemewahan istana dan ambisi barat.
Ia naik tahta bukan sebagai pelayan rakyat,
melainkan sebagai pion yang digerakkan oleh kepentingan asing, terutama Amerika
Serikat dan Inggris. Sejak awal kekuasaannya, Shah telah menetapkan Iran bukan
sebagai negara berdaulat yang berakar pada nilai-nilai luhur Islam, melainkan
sebagai pos terdepan bagi kepentingan barat di timur tengah. Ia memandang
negaranya hanya sebagai papan catur, dimana ia dengan sukarela membiarkan
kekayaan alam Iran dikuras habis melalui konsensi minyak yang menguntungkan
korporasi asing.
Sementara ia menikmati sisa-sisa keuntungan
sebagai penguasa yang tunduk demi menjaga kursi kekuasaannya. Sisi paling gelap
dari kepemimpinannya adalah ketergantungannya yang memuakan kepada kekuatan
luar, terutama kedekatannya yang intim dengan Zionis. Di saat negara-negara
muslim di sekitarnya berjuang menghadapi agresi dan penindasan, Shah justru
menjalin hubungan rahasia dan pragmatis dengan entitas Zionis.
Ia menjadikan Iran sebagai pemasok energi dan
mitra strategis bagi mereka, mengkhianati solidaritas sesama umat Islam demi
menjaga kursi kekuasaannya. Bagi rakyatnya yang memegang teguh iman, perilaku
Shah ini bukan sekedar kebijakan luar negeri, melainkan bentuk pengkhianatan
nyata terhadap martabat umat yang kini sedang tertindas di tanah Palestina.
Sebagai seorang pemimpin boneka, Shah membangun sistem keamanan yang brutal
yang bernama Shafak untuk membungkam siapapun yang berani menentang
kebijakannya.
Agen-agen Shafak ini, dilatih oleh CIA dan
Mossad sejak tahun 1957 untuk menebar ketakutan, menyiksa, dan melenyapkan
aktivis, ulama, serta rakyat biasa yang kritis terhadap dominasi asing. Ia
tidak segan-segan menghancurkan suara-suara perlawanan yang memperjuangkan
keadilan. Baginya, stabilitas kekuasaan lebih berharga daripada nyawa rakyatnya
sendiri, dan ketakutan adalah instrument utama yang ia gunakan untuk memaksakan
modernisasi yang sebenarnya hanyalah proses sekularisasi paksa yang hanya
mengikis nilai-nilai agama.
Rezim ini juga menjadikan Iran sebagai pelayan
setiap kepentingan militer dan ekonomi barat. Pada tahun 1954, Shah
meratifikasi kesepakatan konsorsium minyak yang memberikan kendali atas sumber
daya Iran kepada perusahaan-perusahaan barat. Selain itu, ia terlibat dalam
Pakta Militer Sentoh pada tahun 1955 yang menempatkan Iran sebagai benteng
militer anti-komunis yang menguntungkan Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Bahkan hingga tahun 1970-an, Iran menjadi
pembeli utama senjata Amerika, mengubah negara tersebut menjadi pangkalan
logistik raksasa bagi kepentingan Washington dan sekutu zionisnya, sambil terus
menindas gerakan Islam di dalam negeri yang ingin memerdekakan Iran dari
cengkeraman ideologi asing. Di tengah hamparan gurung fars yang tandus, tepat
dibawah bayang-bayang reruntuhan kuno persepolis Iran pada Oktober 1971, sebuah
tragedi kemanusiaan yang dibalut kemewahan gila-gilaan tengah dipentaskan.
Inilah pesta yang oleh dunia internasional kemudian dijuluki sebagai pesta
paling mewah dalam sejarah abad ke-20.
Di sana, Muhammad Reza Shah Pahlavi mengundang
kepala negara, raja, ratu, dan pangeran dari seluruh penjuru dunia untuk
merayakan 2.500 tahun berdirinya kekaisaran Persia. Namun dibalik gemerlap
lampu kristal dan alunan musik klasik, tersimpan sebuah pengkhianatan yang
nyata bagi rakyat Iran yang saat itu sedang merangkak di tengah kemiskinan yang
ekstrim. Persepolis, yang ribuan tahun lalu menjadi simbol kejayaan Ahmeniyah,
disulap menjadi kota tenda futuristik yang luasnya mencapai 160 hektare.
Shah membangun 50 tenda mewah yang dirancang
oleh firma dekorasi interior papan atas asal Paris, yaitu Maison Jensen.
Tenda-tenda ini bukanlah tempat berteduh biasa, melainkan apartemen
prefabrikasi dengan interior sutra, fasilitas AC, sistem telpon satelit, dan
kamar mandi marmer yang semuanya diangkut dari Eropa untuk menyempurnakan
suasana. Sebuah taman buatan yang dilengkapi dengan ribuan pohon dan bunga yang
diimpor langsung dari Perancis ditanam di tengah gurun.
Menciptakan oasis artifisial yang menelan
biaya luar biasa besar hanya untuk memuaskan mata para tamu selama tiga hari
perayaan. Segala kebutuhan perjamuan ditangani oleh Maxim de Paris, yaitu
restoran paling legendaris di dunia saat itu, yang rela menutup operasionalnya
di Perancis selama dua minggu demi melayani ego sangsah Iran. Sekitar 165 koki,
pelayan, dan staff profesional diterbangkan langsung ke Iran, membawa serta 18
ton makanan yang mencakup 7.700 pond daging, 8.000 pond mentega dan keju,
hingga ribuan botol anggur dan sampahnya yang mahal.
Menu utama yang disajikan mencakup telur puyuh
isi kaviar, ekor udang karang dengan saus nantua, hingga burung merak panggang
isi foie gras. Sebuah kemewahan gastronomi yang berada di luar jangkauan
imajinasi rakyat Iran yang saat itu harus berjuang mendapatkan akses air bersih
dan bahan pokok. Kehadiran para tamu di acara ini bukanlah sekedar undangan,
melainkan ajang diplomasi yang syarat akan kepentingan.
Lebih dari 60 kepala negara dan pemimpin
kerajaan hadir, termasuk Kaisar Haile Selassie dari Etiopia, Ratu Ingrid dari
Denmark, Suharto dari Indonesia, hingga perwakilan dari negara-negara barat
yang menjadi sekutu utama SAH. Mengapa pemimpin negara tertentu diundang dan
yang lainnya tidak? Jawabannya terletak pada posisi strategis Iran sebagai
benteng antikomunis bagi Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. SAH sengaja
memetakan siapa saja yang bisa memperkuat legitimasi internasionalnya.
Namun absennya beberapa pemimpin dunia,
termasuk Ratu Elisabeth II, yang disarankan untuk tidak hadir demi alasan keamanan,
menunjukkan adanya ketegangan laten dan ketidakpastian stabilitas dibalik
topeng kemegahan tersebut. Yang terjadi di dalam perjamuan itu adalah sebuah
parodi moral. Di saat dunia Muslim sedang berduka menghadapi berbagai tekanan
dan agresi, pesta ini justru menyuguhkan gaya hidup hedonistik yang benar-benar
asing dan bertolak belakang dengan nilai-nilai Islam.
Alkohol mengalir deras, pesta dansa diadakan
hingga larut malam, dan pakaian para tamu menunjukkan kekayaan yang memamerkan
kemewahan duniawi di atas tanah yang memiliki sejarah panjang sebagai bagian
dari peradaban Islam. Rakyat Iran, yang saat itu dipaksa menonton lewat
televisi hitam putih, melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kedaulatan
mereka dijual untuk menjamu orang-orang asing yang tidak peduli pada
penderitaan mereka. Mereka dipinggirkan, diusir dari area perayaan, dan
dianggap sebagai gangguan bagi estetika kota tenda yang ideal.
Persiapan pesta ini sendiri merupakan bentuk
pelecehan terhadap martabat rakyat. Sebelum para tamu tiba, area 30 km persegi
di sekitar persepolis dibersihkan dari ular dan serangga oleh tim herpetolog.
Sebuah upaya yang menunjukkan betapa prioritas rezim lebih mengutamakan
kenyamanan tamu asing daripada pengembangan infrastruktur desa di sekitar.
Bahkan 50 ribu burung penyanyi diimpor dari
Eropa untuk menambah suasana elegan di gurun, hanya untuk mati masal dalam
hitungan hari karena gagal beradaptasi dengan iklim yang ekstrim. Hal ini
menjadi metafora yang paling pas untuk rezim sah, yaitu sesuatu yang dipaksakan
dari luar, tidak memiliki akar pada realitas lokal, dan pada akhirnya berakhir
sebagai bangkai yang sia-sia. Dana untuk membiayai semua kegilaan ini, yang
secara resmi dilaporkan sebesar 22 juta dolar Amerika Serikat, namun oleh para
ahli diakini mencapai ratusan juta dolar, yaitu diambil dari pendapatan minyak
bumi Iran yang seharusnya menjadi hak milik rakyat.
Di tahun 1971, ketika inflasi menghantam keras
dan masyarakat dipelosok hidup dalam gubuk tanpa listrik, uang tersebut justru
digunakan untuk membuat 50 seragam pesanan khusus dari lanfin, yang
masing-masing menghabiskan 1 mil benang emas. Tidak ada satupun sen dari
pengeluaran tersebut yang mengalir untuk memperbaiki nasib para petani atau
membangun sekolah bagi rakyat miskin yang terpinggirkan. Pesta ini menjadi
saksi bisu bagaimana seorang pemimpin kehilangan sentuhan dengan bangsanya.
Setelah pesta berakhir, yang tersisa hanyalah
reruntuhan tenda di tengah gurun yang sunyi, namun kemarahan rakyat justru baru
saja dimulai. Mereka yang selama ini diam, mulai melihat bahwa rezimsah bukan
pelindung kedaulatan, melainkan boneka yang hanya bisa menari sesuai irama
kepentingan asing. Pengkhianatan terhadap nilai-nilai Islam, kedekatan dengan
pihak-pihak yang memusuhi umat, dan pemborosan harta negara yang zolim, semua
itu terakumulasi menjadi bara dalam sekam.
Persepolis 1971 bukan sekedar pesta biasa. Itu
adalah surat pemecatan bagi dinasti Pahlavi, yang telah kehilangan legitimasi
moralnya di mata rakyatnya sendiri. Perayaan yang diniatkan untuk menunjukkan
kejayaan, justru menjadi panggung yang menelanjangi kebusukan dan ketidakadilan
yang akan segera digulingkan oleh gelombang revolusi besar beberapa tahun
berselang.
Pasca Pesta Usai, persepolis yang tadinya
disulap menjadi oasis mewah, seketika berubah menjadi kota hantu yang
menyisakan tumpukan sampah menggunung, dan limbah logistik dari Paris yang
membusuk di bawah terik gurun. Sisa-sisa kemewahan, mulai dari ribuan botol
minuman kosong, hingga infrastruktur tenda sutra yang mulai lapuk, dibiarkan
begitu saja tanpa pengelolaan, meninggalkan kerusakan lingkungan di sekitar
situs sejarah kuno tersebut. Peralatan mewah dan furnitur mahal yang diimpor
dengan harga selangit pun banyak yang terbengkalai, rusak, atau hilang begitu
saja, karena tidak ada sistem pemeliharaan pasca acara yang jelas dari rezim.
Secara teknis, dampak ekonomi dari pesta ini
memukul Iran dengan efek domino yang sangat destruktif. Pengeluaran yang
membengkak di luar batas anggaran resmi, memicu defisit kas negara yang
signifikan, memaksa pemerintah untuk menekan rakyat melalui kenaikan harga
kebutuhan pokok yang memicu inflasi yang hebat. Beban hutang luar negeri yang
menumpuk akibat ambisi proyek prestis ini, membuat stabilitas ekonomi Iran
menjadi sangat rapuh dan bergantung pada kepentingan asing.
Kondisi ini menjadi bukti nyata bahwa rezim
sah tidak memiliki visi pembangunan yang berkelanjutan, melainkan hanya
menghabiskan kekayaan nasional demi gengsi yang meninggalkan rakyat dalam
kesengsaraan ekonomi yang berkepanjangan. Setelah kemegahan semu di persepolis
berakhir, Iran justru terjun bebas ke dalam jurang krisis yang tidak
berkesudahan. Inflasi melonjak tidak terkendali karena pemerintah membanjiri
pasar dengan uang hasil minyak demi menutupi defisit pesta dan proyek-proyek
ambisius lainnya.
Dampaknya, harga bahan makanan pokok seperti
gandum, daging, dan susu melambung tinggi, hingga sulit dijangka oleh
masyarakat kelas menengah ke bawah. Rakyat yang hidup di pedesaan dan pinggiran
kota besar mulai merasakan kelaparan nyata. Sementara di saat bersamaan, mereka
melihat elit istana terus hidup dalam kemewahan yang dipertontonkan tanpa rasa
malu.
Kekacauan sosial semakin diperparah oleh
kebijakan pertanian yang dipaksakan oleh rezim, yang justru menghancurkan sistem
suasembada pangan lokal. Tanah-tanah pertanian yang produktif disita dan
dialihkan fungsinya untuk proyek-proyek industri yang tidak efisien atau
diserahkan kepada perusahaan agribisnis asing yang tidak memperdulikan
kebutuhan pangan rakyat. Akibatnya, Iran yang dulunya mampu mencukupi kebutuhan
pangannya sendiri, terpaksa mengimpor hampir seluruh kebutuhan pokok dari luar
negeri.
Ketergantungan pangan yang tinggi ini, membuat
rakyat semakin menderita saat harga komoditas global bergejolak dan ekonomi
dalam negeri semakin lumpuh. Di tengah situasi perut yang lapar, represi
politik justru semakin diperketat oleh mesin intelijen safak. Setiap protes dan
keluhan mengenai harga yang mahal dan sulitnya mendapatkan makanan, dianggap
sebagai ancaman bagi stabilitas nasional.
Ribuan aktivis, pelajar, dan ulama yang berani
bersuara dibungkam, disiksa, atau dipenjara tanpa pengadilan yang jelas.
Ketakutan menyelimuti setiap sudut kota, menciptakan tekanan batin yang luar
biasa bagi rakyat yang sudah lelah, menghadapi kelaparan sekaligus penindasan
hak-hak sipil oleh rezim yang lebih memuja kekuatan barat daripada
kesejahteraan bangsanya sendiri. Penderitaan rakyat ini, menjadi ladang
persemayaan bagi perlawanan yang dipimpin oleh tokoh-tokoh islam, yang tetap
setia membela kepentingan umat.
Pesan-pesan perlawanan dari para ulama yang
saat itu berada di pengasingan atau dalam penjara, seperti Ayatullah Khomeini,
mulai menyebar luas di kalangan akar rumput melalui rekaman kaset dan jaringan
masjid. Mereka menyarukan bahwa, penderitaan rakyat bukanlah nasib, melainkan
hasil dari sistem yang korup dan pengkhianatan terhadap nilai-nilai Islam. Narasi
ini menemukan pendengar yang tepat, karena rakyat melihat sendiri bagaimana sah
lebih mengutamakan hubungan dengan Zionis dan Amerika, daripada memperbaiki
nasib rakyatnya yang kelaparan.
Gelombang demonstrasi mulai meletus secara
sporadis di berbagai kota, sejak pertengahan tahun 1970-an. Namun rezim
meresponnya dengan kekerasan brutal yang justru semakin menyalakan kemarahan
publik. Setiap kali ada demonstran yang gugur, martabat mereka diangkat sebagai
pahlawan yang mati syahid, melawan kezaliman.
Ketimpangan sosial yang brutal antara gaya
hidup mewah para pejabat istana dengan kemiskinan ekstrim di jalanan, membuat
legitimasi sah hancur total. Rakyat tidak lagi takut pada senapan, karena rasa
lapar dan harga diri yang diinjak-injak telah mengalahkan ketakutan mereka akan
maut. Memasuki tahun 1978, protes massa berubah menjadi gelombang demonstrasi
kolosal yang melumpuhkan sendi-sendi kehidupan di Iran.
Industri minyak yang menjadi urat nadi ekonomi
dan sandaran kekuasaan sah mulai lumpuh total, akibat aksi mogok kerja massal
oleh para buruh yang sudah muak dengan kebijakan rezim. Amerika Serikat, yang
selama ini menjadi pelindung utama, perlahan mulai melihat bahwa rezim sah
sudah terlalu rapuh dan tidak lagi bisa dipertahankan. Dukungan dari Barat yang
dulunya membanggakan stabilitas Iran kini memudar, meninggalkan sah sendirian
dalam istananya yang semakin terkepung oleh suara-suara teriakan takbir dari
jalanan.
Puncaknya, pada tahun 1979, ketidakmampuan
rezim sah untuk membendung arus perlawanan rakyat mencapai titik nadir.
Muhammad Reza Shah Pahlavi, akhirnya terpaksa melarikan diri dari negaranya
sendiri, mengakhiri kekuasaan dinasti yang dibangun di atas fondasi kemewahan
dan pangkhianatan selama puluhan tahun. Revolusi Islam Iran bukan sekedar pergantian
kekuasaan, melainkan sebuah ledakan kesadaran kolektif dari rakyat yang lelah
ditindas dan dihinakan oleh pemimpin yang lebih memilih tunduk pada kepentingan
asing, daripada menjaga martabat umatnya sendiri.
Kisah Persepolis 1971 dan kehancuran yang
menyertainya menjadi pengingat abadi bagi sejarah dunia bahwa kekuasaan yang
dibangun di atas penderitaan rakyat, hanyalah bangunan di atas pasir. Megahnya
pesta memang bisa memukau mata dunia untuk sesaat, namun keadilan dan
keberpihakan kepada kaum yang tertindas adalah satu-satunya pilar yang mampu
menjaga keberlangsungan sebuah bangsa. Pada akhirnya, sejarah telah membuktikan
bahwa, tidak ada kemewahan yang mampu menutupi boroknya sebuah rezim yang
zolim, karena pada waktunya, suara rakyat yang kelaparan akan berubah menjadi
badai yang meruntuhkan segala keangkuhan penguasa.
Sumber: YT
@Jazirah Ilmu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Ditunggu komentar Anda!