RUNTUHNYA PRIMAGAMA: Raja Bimbel yang Dulu Menguasai Indonesia
Bayangkan kalian berdiri di depan sebuah ruko
tua yang catnya sudah mengelupas. Di atasnya, masih ada sisa papanama
bertuliskan primagama yang warnanya sudah pudar. Mungkin bagi anak zaman
sekarang, itu cuma ruko kosong biasa.
Tapi buat generasi 90-an dan 2000-an, itu
adalah gerbang menuju masa depan. Itu adalah sisa-sisa dari sebuah imperium
pendidikan yang pernah menguasai hampir setiap cengkal tanah di Indonesia.
Pertanyaannya, gimana bisa sebuah bisnis yang punya lebih dari 800 cabang,
ribuan pengajar, dan jutaan alumni tiba-tiba limbung? Kita nggak cuma bicara
soal kalah saing sama aplikasi belajar online.
Kehancuran primagama itu jauh lebih kompleks,
lebih berdarah, dan penuh dengan drama di balik meja akuntansi yang jarang
diketahui publik. Hari ini, kita nggak cuma bakal bahas sejarah, kita bakal
bedah isi jerawan finansial mereka. Kita bakal lihat gimana filosofi cara gila
yang legendaris itu berubah jadi bumerang yang menghantam balik sang
penciptanya.
Ini adalah cerita tentang ambisi yang terlalu
tinggi, manajemen yang kehilangan kendali, dan utang yang perlahan mencekik
sang Raja Bimbel sampai tak berdaya. Siapkan kopi kalian, karena ini akan jadi
perjalanan panjang menyusuri lorong waktu. Dari kejayaan di sudut kota
Yogyakarta, sampai meja hijau yang menyatakan sang Nakhoda Pailit.
Inilah logika di balik keruntuhnya sang
legenda, primagama. Kita mundur ke tahun 1982. Waktu itu, Yogyakarta belum
sepadat sekarang, dan bisnis pendidikan masih dianggap sebagai pengabdian,
bukan industri.
Di sebuah ruangan kecil ukulan 2x3 meter,
Purdi Echandra memulai semuanya dengan modal 100 ribu rupiah. Angka yang kecil,
tapi visinya raksasa. Dia melihat ada celah besar.
Anak sekolah butuh hasil instan untuk menembus
ujian yang membingungkan. Di masa awal, itu primagama bukan sekedar tempat les.
Primagama adalah representasi dari semangat anak muda yang ingin mendobrak
pakem.
Om Pur, sapa anak rapnya, gak cuma jualan
materi pelajaran, dia jualan harapan. Dia tahu betul kalau orang tua bakal
melakukan apa saja demi pendidikan anaknya. Dan dia memosisikan primagama
sebagai satu-satunya solusi paling masuk akal saat itu.
Kalian bisa bayangin betapa hype-nya suasana
waktu itu. Dari cuma punya dua murid, nama primagama mulai jadi buah bibir di
kalangan pelajar Jogja. Metodenya simpel, suasananya asik, dan pengajarnya
bukan tipe guru killer yang sering kita temuin di sekolah formal.
Mereka adalah pionir yang mengubah wajah kaku
pendidikan jadi sesuatu yang lebih manusiawi bagi murid-muridnya. Tapi,
kesuksesan awal ini sebenarnya adalah pedang bermata dua. Pertumbuhan yang
organik ini mulai membuat Om Pur berpikir, kenapa cuma di Jogja? Kenapa gak
seluruh Indonesia? Dari sinilah benih-benih ekspansi mulai tumbuh.
Sebuah ambisi yang nantinya akan membawa
primagama ke puncak dunia, sekaligus menjadi awal dari lubang hitam finansial
mereka. Masuk ke era 90-an, primagama mulai memperkenalkan senjata rahasia
mereka yang paling ikonik, smart solution. Kalau kalian pernah jadi member
primagama, kalian pasti hafal sama rumus-rumus cepat yang sering dikasih nama
unik.
Mereka gak ngajarin cara panjang yang bikin
pusing di sekolah, tapi ngasih jalan pintas buat jawab soal dalam hitungan
detik. Ini adalah revolusi dalam cara belajar. Gaya belajar ini sebenarnya
pintar banget secara logika bisnis.
Primagama mengerti kalau target market mereka,
yaitu para siswa, itu malas dengan teori yang bertele-tele. Mereka butuh hasil.
Dengan smart solution, primagama berhasil menciptakan kecanduan.
Murid merasa kalau gak les di sana, mereka
bakal ketinggalan trik-trik sakti yang cuma ada di buku modul kuning milik
primagama. Gak cuma soal rumus, cara mereka branding juga juara. Primagama
mulai masuk ke sekolah-sekolah, bikin seminar motivasi, dan ngebangun citra
kalau pintar itu pilihan, dan pilihannya adalah mereka.
Di sini, sisi emosional mulai dimainkan.
Mereka bukan cuma bimbel, tapi sahabat para pejuang ujian. Efeknya, nama
primagama makin besar dan mulai mengintimidasi kompetitor-kompetitor lokal.
Tapi, teman-teman, dibalik kemudahan rumus
cepat itu, ada beban berat yang mulai dipikul manajemen pusat. Menjaga
standarisasi pengajaran di banyak tempat itu susah banget. Gimana caranya
memastikan pengajar di Aceh punya kualitas yang sama dengan yang di Jogja?
Tantangan logistik dan sumber daya manusia ini mulai jadi kerikil dalam sepatu
yang makin lama makin terasa sakit.
Nah, sekarang kita masuk ke bagian yang paling
kontroversial, filosofi cara gila jadi pengusaha. Om Pur bukan cuma bos bimbel,
dia adalah mentor bisnis yang sangat berpengaruh. Salah satu ajarannya yang
paling terkenal adalah, jangan takut utang, karena utang adalah modal.
Dia percaya kalau mau cepat kaya dan bisnis
cepat besar, kita harus berani pakai uang orang lain atau bank untuk leverage.
Logikanya begini, kalau kamu punya uang 1 miliar, kamu bisa buka 1 cabang. Tapi
kalau uang itu kamu jadi injaminan buat pinjam 10 miliar ke bank, kamu bisa
buka 10 cabang sekaligus.
Pertumbuhannya eksponensial. Dan inilah yang
dilakukan primagama. Mereka berlari sangat kencang menggunakan bensin yang
berasal dari pinjaman bank.
Secara teori, strategi ini jenius kalau
ekonomi lagi bagus dan arus kas, cash flow, lancar terus. Masalahnya, dunia
bisnis itu nggak selalu pelangi. Pakai utang buat ekspansi, itu ibarat nyatir
mobil balap dengan kecepatan penuh.
Kalau kamu meleng sedikit atau ada lubang di
jalan, mobilnya nggak cuma berhenti, tapi bisa hancur ke keping-keping. Dan
itulah resiko yang mulai diambil oleh primagama demi mengejar status raja.
Banyak orang yang waktu itu terinspirasi, bahkan mengidolakan gaya ini.
Siapa yang nggak mau punya aset miliaran cuma
dari modal keberanian? Tapi banyak yang lupa satu hal detail. Utang itu punya
bunga, dan bunga itu nggak pernah tidur. Ketika biaya operasional mulai
membengkak dan pendapatan nggak sesuai target, bunga utang inilah yang perlahan
mulai memakan tubuh primagama dari dalam.
Untuk mempercepat ekspansi tanpa harus keluar
modal sendiri sepenuhnya, primagama pakai sistem waralaba atau franchise. Ini
adalah langkah yang bikin primagama meledak jumlah cabangnya. Bayangin, dalam
waktu singkat mereka bisa punya ratusan cabang dari sabang sampai merauke.
Orang-orang berebut pengen buka primagama
karena namanya sudah jadi jaminan uang masuk. Sistem franchise ini sebenarnya
menguntungkan buat kantor pusat, karena mereka dapat franchise fee di awal dan
royalti tiap bulannya. Arsitektur finansialnya kelihatan sangat cantik di atas
kertas.
Uang tunai masuk terus tanpa pusat harus
pusing mikirin biaya sewa gedung atau gaji pengajar di daerah. Tapi disinilah
letak jebakannya, kontrol kualitas. Coba kalian bayangin, gimana rasanya jadi
pemilik cabang kecil yang sudah bayar mahal tapi gak dapat support maksimal
dari pusat? Banyak pemilik waralaba yang mulai merasa ditinggalkan.
Pusat terlalu sibuk jualan cabang baru daripada
ngurusin cabang yang sudah ada. Hubungan antara pusat dan daerah yang tadinya
harmonis pelan-pelan mulai retak karena masalah transparansi dan pembagian
keuntungan. Manajemen internal primagama mulai obesitas.
Struktur organisasinya jadi terlalu gemuk dan
birokrasinya lambat. Ketika ada masalah di lapangan, pusat gak bisa gerak cepat
karena terlalu banyak urusan administrasi. Bisnis yang tadinya lincah di tangan
ompur sekarang berubah jadi raksasa yang gerakannya lambat dan kaku.
Bayangin, kalian adalah seorang orang tua
murid di tahun 2000-an. Kalian bayar mahal buat masukin anak ke primagama
karena namanya besar. Tapi pas masuk kelas, AC-nya mati, kursinya goyang, dan
pengajarnya kelihatan kurang semangat.
Nah, inilah yang mulai terjadi di banyak
cabang. Ketika kuantitas dikejar habis-habisan, kualitas seringkali jadi tumbal
yang paling pertama dikorbankan. Masalahnya, sistem waralaba itu ibarat pedang
bermata dua.
Di satu sisi, pusat dapat duit cepat dari franchise
fee. Tapi di sisi lain, pusat gak punya kendali penuh atas operasional harian
di tiap daerah. Banyak pemilik cabang yang cuma mikirin balik modal cepat tanpa
peduli sama standarisasi pelayanan.
Akhirnya, pengalaman belajar di primagama
cabang A bisa beda jauh sama cabang B, padahal bayarnya sama mahalnya. Secara
internal, manajemen pusat juga mulai kehilangan fokus. Mereka terlalu sibuk
ngurusin pembukaan cabang baru daripada dengerin keluhan dari cabang yang udah
ada.
Komunikasi mulai macet, dan birokrasi jadi
berbelit-belit. Efeknya, para pemilik cabang mulai merasa dianaktirikan. Mereka
merasa cuma jadi sapi perah buat nyetor royalti tiap bulan tanpa dapat inovasi
kurikulum yang segar dari pusat.
Ini adalah awal dari hilangnya jiwa primagama.
Sebuah bisnis jasa pendidikan itu, kuncinya ada di kepercayaan dan hasil.
Begitu kualitasnya mulai belang-belonteng, pelan-pelan kepercayaan masyarakat
mulai luntur.
Orang mulai melirik kesebelah, ke tempat les
lain yang mungkin cabangnya gak sebanyak primagama, tapi kualitasnya lebih
kejaga. Disinilah sang raja mulai kehilangan daya magisnya. Di tengah goyahnya
manajemen internal, musuh bebuyutan mulai dapat momentum.
Kalian pasti tahu Ganesha Operation atau GO
kan? Kalau primagama itu agresif dengan sistem warah laba, GO milih jalan yang
lebih konservatif tapi terkontrol. Mereka lebih fokus pada kepemilikan sendiri
atau manajemen yang sangat ketat. Ini adalah dua kutub logika bisnis yang
berbeda, ekspansi gila-gilaan versus kualitas terpusat.
Dan kompetitor lain seperti Sony Sugema
College mulai menjuri panggung dengan hasil kelulusan PTN yang lebih mentereng.
Mereka gak cuma jualan cara cepat, tapi juga sistem belajar konsisten.
Primagama yang tadinya dominan mulai ngerasa kegerahan.
Persaingan ini bukan cuma soal adu pintar
muridnya, tapi soal adu kuat nafas finansial dan reputasi di mata para wali
murid. Gini lho, dalam bisnis pendidikan, kalau kompetitor punya fitur yang
lebih oke, kamu harus inovasi. Tapi primagama waktu itu kayak lagi mabuk sama keberhasilan
masa lalu.
Mereka ngerasa namanya udah terlalu besar buat
tumbang. Padahal, di lapangan, anak-anak sekolah udah mulai ngerasa kalau cara
mengajar primagama mulai kedaluarsa dan gak relevan lagi sama model soal ujian
yang makin kompleks. Akhirnya terjadi perang harga dan promosi yang sebenarnya
ngerugiin semua pihak.
Tapi bagi primagama, ini lebih berat. Kenapa?
Karena beban operasional mereka sangat besar akibat banyaknya cabang dan utang
yang harus dibayar. Sementara kompetitor yang lebih ramping bisa lebih
fleksibel mainin harga.
Sang Raja mulai terjepit di antara nama
besarnya sendiri dan kenyataan pasar yang mulai berpaling. Nah, di tengah
tekanan itu, manajemen primagama punya rencana besar. Melantai di Bursa Efek
Indonesia atau IPO.
Tujuannya sebenarnya bagus, yaitu buat dapat
modal segar dari publik biar bisa bayar utang dan ekspansi lebih gila lagi.
Tapi buat bisa IPO, sebuah perusahaan harus punya laporan keuangan yang seksi
dan terlihat terus tumbuh. Inilah yang bikin mereka makin terjebak dalam
lingkaran setan.
Demi terlihat seksi di depan calon investor,
primagama harus terus buka cabang baru. Meskipun secara hitung-hitungan unit
ekonomisnya udah gak masuk akal. Mereka butuh angka pertumbuhan yang fantastis.
Tapi kalian tahu gak, pertumbuhan yang
dipaksain itu rapuh banget. Ibarat bangunan, mereka nambah lantai terus, tapi
fondasinya gak ditambahin semen. Cuma masalah waktu sampai semuanya ambruk.
Logika bisnisnya jadi kacau. Fokusnya bukan
lagi gimana bikin murid pinter, tapi gimana bikin angka di laporan keuangan
kelihatan ijo. Biaya pemasaran digedein, aset-aset fisik ditambahin pake utang
baru.
Semua demi narasi growth yang bisa dijual ke
bursa. Tapi pasar modal itu kejam. Mereka bisa nyium bau masalah dari jauh.
Rencana IPO ini berkali-kali tertunda, dan itu
jadi kabar buruk buat para kreditur. Bayangin, beban mental para pengurusnya
waktu itu. Di depan publik, mereka harus tampil meyakinkan sebagai pemimpin
pasar.
Tapi di balik layar, mereka pusing tujuh
keliling mikirin cara nutup lubang finansial. Rencana IPO yang tadinya
diharapkan jadi dewa penyelamat, justru malah jadi beban tambahan yang bikin
manajemen makin kehilangan arah. Primagama bener-bener lagi main api dengan
bensin yang mereka siram sendiri.
Sekarang kita bedah bagian yang paling teknis,
matematika utangnya. Strategi leverage atau pake utang bank buat modal itu
punya satu syarat mutlak. Pendapatan operasional harus jauh lebih gede dari
cicilan plus bunga.
Tapi faktanya, pendapatan dari royalti warah
labah mulai seret, karena banyak cabang yang tutup atau gak lapor pendapatan
jujur. Sementara itu, bunga bank jalan terus, gak peduli muridmu ada berapa.
Gini itungannya, kalau kamu punya utang ratusan miliar dengan bunga katakanlah
10-12 persen per tahun, itu artinya tiap bulan kamu harus setor miliaran rupiah
cuma buat bunga doang, belum cicilan pokoknya.
Kalau profit bersih kamu gak nyampe angka itu,
dari mana duitnya? Ya terpaksa ambil utang baru lagi buat bayar utang lama.
Inilah yang kita sebut dengan debt trap atau jebakan utang. Kondisi finansial
primagama mulai darurat medis.
Mereka mulai kesulitan bayar kewajiban ke
bank-bank besar. Arsitektur finansial yang tadinya dianggap jenius oleh banyak
orang, sekarang kelihatan aslinya, terlalu spekulatif. Aset-aset yang tadinya
dibanggain, mulai dari gedung sampai tanah, pelan-pelan mulai dijadikan jaminan
dan terancam di sita.
Sang Raja gak lagi duduk di singgah sana emas,
tapi di kursi panas. Efeknya ke internal gimana? Kacau. Gaji karyawan mulai
telat, bonus pengajar hilang, dan perawatan gedung cabang makin gak keurus.
Begitu alilan darah, uang, ini tersumbat,
seluruh organ perusahaan mulai gagal fungsi. Pihak perbankan pun mulai
kehilangan kesabaran, dan mulai melayangkan surat peringatan. Ini adalah
detik-detik sebelum bom waktu itu benar-benar meledak di depan muka semua
orang.
Tahun 2013 adalah puncaknya. Kabar yang dulu
cuma bisik-bisik di kalangan pebisnis, akhirnya meledak ke media masa. Salah
satu bank besar menggugat pilot Purdy Echandra karena masalah kredit macet yang
nilainya fantastis.
Bayangin betapa kagetnya publik waktu itu.
Sosok yang selama ini ngajar cara gila jadi pengusaha dan cara kaya lewat utang
justru tersandung oleh ajarannya sendiri. Secara hukum, kalau seseorang atau
perusahaan dinyatakan pilot, artinya mereka dianggap gak mampu lagi bayar
utang, dan seluruh asetnya bakal disita buat bayar kreditur.
Ini adalah pukulan telak buat brand primagama.
Dalam bisnis pendidikan, reputasi adalah segaranya. Begitu nama sang pendiri
kena masalah hukum finansial, orang tua murid mulai takut.
Nanti kalau saya bayar lunas, eh besoknya
bimbelnya tutup gimana? Sidang demi sidang dilalui, dan drama ini jadi konsumsi
publik. Kejatuhan Om Pur bukan cuma soal kehilangan uang, tapi soal kehilangan
kredibilitas. Ribuan alumni dan orang-orang yang dulu mengidolakan beliau
merasa kecewa.
Di momen ini, primagama bukan lagi raja, tapi
lebih kaya raksasa yang lagi sekarat di tengah lapangan dan ditonton banyak
orang. Keputusan pengadilan itu jadi titik nadir. Meskipun operasional bimbel
masih coba dijalankan, tapi aura kesuksesannya udah hilang.
Pemilik waralaba di daerah makin panik. Mereka
mulai ngelepas logo primagama dan ganti nama jadi bimbel lokal demi nyelamatin
bisnis masing-masing. Imperium yang dibangun selama 30 tahun itu mulai rontok
berkeping-keping hanya dalam hitungan bulan.
Suasana di kantor pusatnya mungkin sangat
kontras sama era 90-an. Nggak ada lagi euforia pembukaan ratusan cabang baru.
Yang ada cuma rapat-rapat tegang soal restrukturisasi utang dan gimana caranya
biar besok masih bisa bayar listrik.
Sang Raja bener-bener udah turun takhta dan
mahkotanya udah retak dimana-mana. Mereka cuma tinggal nunggu waktu, apakah
bakal bener-bener hilang atau ada yang mau mungut sisa-sisa kejayaannya. Tanpa
Soso Ompur, primagama kehilangan arah kompasnya.
Manajemen baru yang mencoba ambil alih pun
kesulitan karena warisan masalah yang ditinggalkan terlalu berat. Utang yang
numpuk, manajemen waralaba yang berantakan, dan citra brand yang udah rusak itu
bukan hal yang gampang diberesin. Primagama masuk ke masa-masa zombie, hidup
segan, mati tak mau.
Di segmen ini kita bisa lihat gimana
pentingnya sosok founder. Tapi di sisi lain, kita juga belajar kalau bisnis
yang terlalu bergantung sama satu sosok itu berisiko banget. Begitu sosok itu
tumbang, seluruh sistem di bawahnya ikut goyang.
Primagama waktu itu bener-bener butuh
keajaiban atau setidaknya seorang penyelamat yang punya modal gede dan sistem
yang lebih modern. Suasana di kantor pusatnya mungkin sangat kontras sama era
90-an. Nggak ada lagi euforia pembukaan ratusan cabang baru.
Yang ada cuma rapat-rapat tegang soal
restrukturisasi utang, dan gimana caranya biar besok masih bisa bayar listrik.
Sang Raja bener-bener udah turun takhta, dan mahkotanya udah retak dimana-mana.
Mereka cuma tinggal nunggu waktu, apakah bakal bener-bener hilang, atau ada
yang mau mungut sisa-sisa kejayaannya.
Sialnya, pas Primagama lagi bonyok urusan
internal, dunia luar berubah total. Masuklah era internet cepat dan smartphone.
Muncul pemain-pemain baru yang nggak butuh gedung ruko, nggak butuh bayar listrik
mahal, dan nggak butuh ribuan cabang fisik buat menjangkau murid.
Ya, kita bicara soal munculnya ruang guru,
Zenius dalam versi digital, dan berbagai platform etek lainnya. Disrupsi ini
kayak pukulan knockout buat Primagama. Mereka masih sibuk mikirin gimana cara
bayar cicilan gedung ruko.
Sementara kompetitornya fokus bikin konten
video yang bisa ditonton jutaan kali dengan biaya distribusi hampir nol.
Primagama yang tadinya bangga sama cara cepatnya, tiba-tiba kelihatan kuno
karena cara belajarnya masih harus datang ke kelas, duduk di bangku keras, dan
dengerin guru jelasin di papan tulis. Logika bisnisnya berubah total dari
physical presence ke digital presence.
Primagama telat banget buat adaptasi. Mereka
terlalu lama terjebak dalam zona nyaman bisnis konvensional. Padahal anak-anak
jaman sekarang lebih suka belajar sambil rebahan di kamar daripada harus
macet-macetan ke tempat les.
Primagama kehilangan satu generasi murid yang
lebih milih langganan aplikasi daripada bayar biaya les jutaan rupiah. Efeknya
fatal. Pendapatan makin merosot tajam.
Cabang-cabang yang masih bertahan pun makin
megap-megap. Di titik ini, Primagama bukan lagi bersaing sama-sesama bimbal
ruko, tapi bersaing sama raksasa teknologi yang punya modal ventura triliunan
rupiah. Sang raja yang udah tua dan luka-luka ini dipaksa bertarung sama
robot-robot digital yang super efisien.
Hasilnya? Tentu kalian udah bisa tebak. Drama
panjang ini akhirnya mencapai babak akhir di awal tahun 2022. Dunia pendidikan
dihebohkan dengan berita kalau Zenius Education resmi mengakuisisi Primagama.
Ini adalah plot twist yang luar biasa. Zenius,
perusahaan ed-tech yang relatif jauh lebih muda, akhirnya membeli sang legenda
yang sudah berumur 40 tahun. Ini adalah simbol resmi berakhirnya era bimbal
konvensional yang kaku.
Kenapa Zenius mau beli Primagama yang lagi
bermasalah? Jawabannya adalah hybrid learning. Zenius sadar kalau meskipun masa
depan itu digital, sentuhan fisik atau belajar tatap muka itu tetap punya
nilai. Mereka butuh jaringan fisik buat memperkuat ekosistemnya.
Dan Primagama, meskipun udah gak sekuat dulu,
masih punya aset berupa nama dan sisa-sisa cabang yang strategis. Bagi
Primagama, ini adalah satu-satunya jalan keluar yang terhormat. Akuisisi ini
bukan cuma soal duit, tapi soal keberlanjutan hidup.
Dengan bergabung ke Zenius, Primagama dapat
suntikan teknologi dan sistem manajemen yang lebih modern. Nama Primagama pun
berubah jadi New Primagama. Ini adalah transformasi dari seorang raja yang
bangkrut menjadi bagian dari imperium baru yang lebih canggih.
Momen ini ngasih kita pelajaran penting
tentang rendah hati dalam bisnis. Sebesar apapun namamu, suatu saat kamu
mungkin harus tunduk pada perubahan zaman. Akuisisi ini adalah bukti kalau
dalam logika bisnis, adaptasi itu bukan pilihan, tapi syarat mutlak buat
bertahan hidup.
Sang Raja mungkin udah gak pakai mahkota yang
sama, tapi setidaknya dia gak benar-benar terkubur oleh sejarah. Jadi, apa yang
bisa kita pelajari dari runtuhnya Sang Raja Bimbel ini? Pertama, soal
arsitektur finansial. Utang itu ibarat api.
Kecil jadi kawan yang bikin masakan mateng,
tapi kalau terlalu gede dan gak terkontrol, dia bakal ngebakar seluruh rumah.
Strategi cara gila mungkin asik buat memotivasi orang, tapi dalam dunia nyata,
manajemen resiko dan cashflow yang sehat itu jauh lebih penting daripada
sekedar kelihatan gede. Kedua, soal konsistensi kualitas.
Jangan pernah ngorbanin kualitas demi
kuantitas, apalagi dalam bisnis jasa seperti pendidikan. Begitu murid dan orang
tua ngerasa gak dapat nilai yang sesuai sama uang yang mereka keluarin, mereka
bakal pergi dan gak akan balik lagi. Nama besar itu cuma pintu masuk, tapi
kualitaslah yang bikin orang tetap tinggal di dalam ruangan.
Ketiga, jangan telat adaptasi. Dunia berubah
tiap detik, dan dalam bisnis, berhenti berinovasi itu sama aja kayak nunggu
tanggal main kematianmu. Primagama telat lihat potensi digital karena terlalu
asik sama kesuksesan waralaba fisiknya.
Pelajarannya, selalu lihat apa yang ada di
depan, bukan cuma bangga sama apa yang ada di belakang atau masa lalu.
Sekarang, Primagama memulai babak baru sebagai New Primagama di bawah Zenius.
Meskipun perjalanannya penuh luka dan air mata, sejarah mereka tetap jadi
bagian penting dari dunia pendidikan Indonesia.
Buat kalian yang lagi ngerintis bisnis, ingat kisah
ini. Membangun itu susah, tapi menjaga itu jauh lebih menantang.
Sumber: YT @Logika
Bisnis ID

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Ditunggu komentar Anda!