Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Mei 2026

Retakan di Jantung Sejarah: Refleksi atas Darah yang Tertumpah di Awal Islam

 Retakan di Jantung Sejarah: Refleksi atas Darah yang Tertumpah di Awal Islam


Sejarah awal Islam sering digambarkan sebagai masa keemasan: masa para sahabat berjalan bersama cahaya wahyu, masa di mana nilai-nilai keadilan, persaudaraan, dan keteladanan hidup dalam keseharian. Namun di balik cahaya itu, ada bayangan panjang yang jarang direnungkan dengan jernih—sebuah babak getir tentang konflik, kekuasaan, dan darah yang tumpah di antara orang-orang terbaik.

sumber: https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/03/13/empat-khalifah-empat-krisis-ujian-berat-di-awal-sejarah-islam-1773404114684_169.jpeg?w=900&q=80

Tragedi terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, serta cucu Nabi Muhammad SAW—Hasan dan Husain—bukan sekadar peristiwa sejarah. Ia adalah luka kolektif yang terus berdenyut dalam kesadaran umat, mengajarkan bahwa bahkan generasi terbaik pun tidak sepenuhnya kebal dari konflik politik dan perebutan kekuasaan.

 

Awal Retakan: Terbunuhnya Utsman bin Affan

Khalifah ketiga, Utsman bin Affan, memimpin dalam masa ekspansi besar Islam. Namun justru di tengah kemajuan itu, muncul benih ketidakpuasan. Tuduhan nepotisme, ketimpangan distribusi kekayaan, serta kebijakan politiknya memicu kritik keras dari berbagai wilayah.

Gelombang ketidakpuasan itu berubah menjadi pemberontakan. Sekelompok orang mengepung rumahnya di Madinah, dan pada tahun 656 M, ia dibunuh secara tragis di dalam rumahnya sendiri.

Di titik inilah sejarah Islam memasuki fase yang dikenal sebagai Fitnah Pertama—perang saudara pertama dalam dunia Islam.

Pembunuhan Utsman bukan hanya kematian seorang khalifah. Ia adalah runtuhnya simbol persatuan. Seperti kaca yang retak, umat tidak lagi memantulkan satu wajah yang sama.

 

Kepemimpinan yang Terbelah: Ali bin Abi Thalib

Setelah wafatnya Utsman, Ali bin Abi Thalib diangkat sebagai khalifah. Namun ia tidak mewarisi stabilitas—ia mewarisi konflik.

Sebagian kelompok menuntut keadilan segera atas kematian Utsman. Sebagian lain mempertanyakan legitimasi kepemimpinannya. Perbedaan ini memicu perang internal seperti Perang Jamal dan Perang Shiffin.

Ali berusaha menavigasi situasi dengan kebijakan dan diplomasi. Namun sejarah menunjukkan: ketika politik telah dipenuhi emosi dan dendam, rasionalitas sering kali kehilangan pijakan.

Pada akhirnya, konflik melahirkan kelompok ekstrem: Khawarij. Dari kelompok inilah muncul sosok yang mengakhiri hidup Ali. Ia dibunuh saat sedang melaksanakan salat subuh pada tahun 661 M.

Betapa tragis: seorang pemimpin gugur bukan di medan perang, tetapi di tempat ibadah.

Seolah sejarah ingin berkata—bahwa konflik yang tidak terselesaikan akan selalu menemukan jalannya, bahkan hingga ke ruang paling suci.

 

Hasan: Perdamaian yang Sepi

Setelah wafatnya Ali, kepemimpinan sempat dipegang oleh putranya, Hasan bin Ali. Namun ia memilih jalan yang berbeda: ia menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah demi menghindari pertumpahan darah yang lebih besar.

Keputusan ini sering dipandang sebagai bentuk kelemahan oleh sebagian pihak. Namun jika dilihat lebih dalam, itu adalah bentuk keberanian moral yang langka: keberanian untuk mengalah demi menyelamatkan nyawa.

Dalam dunia yang haus kemenangan, Hasan memilih menjadi jembatan, bukan pedang.

Namun sejarah sering kejam pada mereka yang memilih damai. Namanya tidak selalu diagungkan seperti para penakluk, padahal mungkin dialah yang paling memahami harga sebuah konflik.

 

Husain: Darah di Padang Karbala

Jika Hasan adalah simbol perdamaian, maka Husain adalah simbol perlawanan.

Beberapa tahun setelah wafatnya Muawiyah, kekuasaan berpindah kepada Yazid. Husain menolak berbaiat karena melihat adanya penyimpangan dalam kepemimpinan. Penolakannya membawanya pada perjalanan menuju Karbala.

Di sana, pada tahun 680 M, Husain dan pengikutnya yang sedikit menghadapi pasukan besar. Ia gugur bersama keluarga dan sahabatnya.

Peristiwa ini bukan sekadar tragedi militer—ia adalah simbol pengorbanan moral. Husain tidak melawan untuk menang. Ia melawan untuk menjaga prinsip.

Karbala mengajarkan bahwa terkadang, kebenaran tidak diukur dari kemenangan, tetapi dari keberanian untuk tetap berdiri meski kalah.

 

Refleksi: Ketika Kekuasaan Mengalahkan Nilai

Jika dirangkai, keempat peristiwa ini bukan kejadian terpisah. Ia adalah satu alur besar:

  • Dari ketidakpuasan → menjadi pemberontakan
  • Dari pemberontakan → menjadi perang saudara
  • Dari perang → menjadi radikalisme
  • Dari radikalisme → menjadi tragedi kemanusiaan

Sejarah ini menunjukkan satu hal penting:
bahwa konflik politik, jika tidak dikelola dengan keadilan dan kebijaksanaan, akan berubah menjadi lingkaran kekerasan yang sulit dihentikan.

Yang lebih menyakitkan, semua ini terjadi bukan di antara orang asing—tetapi di antara orang-orang yang pernah hidup bersama dalam satu iman, satu kiblat, satu Nabi.

 

Pelajaran untuk Masa Kini

Ada beberapa pelajaran mendalam yang bisa direnungkan:

1. Kekuasaan adalah ujian, bukan tujuan

Ketika kekuasaan menjadi tujuan utama, nilai-nilai akan dikorbankan. Sejarah awal Islam menunjukkan bagaimana ambisi politik dapat mengaburkan idealisme spiritual.

2. Keadilan yang tertunda bisa menjadi konflik berkepanjangan

Tuntutan untuk menghukum pembunuh Utsman yang tidak segera terselesaikan menjadi pemicu konflik besar.

Ketidakadilan yang dibiarkan akan selalu mencari jalannya sendiri.

3. Perbedaan bisa menjadi rahmat—atau bencana

Perbedaan pendapat adalah hal wajar. Namun tanpa pengelolaan yang bijak, ia berubah menjadi perpecahan.

4. Ekstremisme lahir dari kekecewaan

Kelompok Khawarij muncul dari ketidakpuasan terhadap hasil arbitrase

Ini mengajarkan bahwa radikalisme sering lahir dari rasa dikhianati, bukan semata kebodohan.

5. Pengorbanan moral tidak selalu menang, tapi selalu bermakna

Husain kalah secara militer, tetapi menang dalam makna sejarah.

 

Penutup: Luka yang Menjadi Cermin

Sejarah ini bukan untuk dihakimi, tetapi untuk direnungi. Para tokoh dalam peristiwa ini adalah manusia-manusia besar dengan kompleksitas zamannya.

Namun justru di situlah pelajarannya:
bahwa bahkan generasi terbaik pun tidak luput dari konflik.

Maka pertanyaannya bukan lagi:
“Siapa yang benar dan siapa yang salah?”

Tetapi:
“Apa yang bisa kita pelajari agar luka yang sama tidak terulang?”

Karena jika sejarah adalah cermin,
maka darah yang pernah tumpah itu bukan hanya milik masa lalu—
ia adalah peringatan bagi masa depan.

(Dirangkum dari berbagai sumber)

 

Runtuhnya Raja Bimbel: Primagama

 RUNTUHNYA PRIMAGAMA: Raja Bimbel yang Dulu Menguasai Indonesia

 

Bayangkan kalian berdiri di depan sebuah ruko tua yang catnya sudah mengelupas. Di atasnya, masih ada sisa papanama bertuliskan primagama yang warnanya sudah pudar. Mungkin bagi anak zaman sekarang, itu cuma ruko kosong biasa.

 

sumber: https://static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/bimbingan-belajar-primagama-ilustrasi-_140108100642-621.jpg

Tapi buat generasi 90-an dan 2000-an, itu adalah gerbang menuju masa depan. Itu adalah sisa-sisa dari sebuah imperium pendidikan yang pernah menguasai hampir setiap cengkal tanah di Indonesia. Pertanyaannya, gimana bisa sebuah bisnis yang punya lebih dari 800 cabang, ribuan pengajar, dan jutaan alumni tiba-tiba limbung? Kita nggak cuma bicara soal kalah saing sama aplikasi belajar online.

 

Kehancuran primagama itu jauh lebih kompleks, lebih berdarah, dan penuh dengan drama di balik meja akuntansi yang jarang diketahui publik. Hari ini, kita nggak cuma bakal bahas sejarah, kita bakal bedah isi jerawan finansial mereka. Kita bakal lihat gimana filosofi cara gila yang legendaris itu berubah jadi bumerang yang menghantam balik sang penciptanya.

 

Ini adalah cerita tentang ambisi yang terlalu tinggi, manajemen yang kehilangan kendali, dan utang yang perlahan mencekik sang Raja Bimbel sampai tak berdaya. Siapkan kopi kalian, karena ini akan jadi perjalanan panjang menyusuri lorong waktu. Dari kejayaan di sudut kota Yogyakarta, sampai meja hijau yang menyatakan sang Nakhoda Pailit.

 

Inilah logika di balik keruntuhnya sang legenda, primagama. Kita mundur ke tahun 1982. Waktu itu, Yogyakarta belum sepadat sekarang, dan bisnis pendidikan masih dianggap sebagai pengabdian, bukan industri.

 

Di sebuah ruangan kecil ukulan 2x3 meter, Purdi Echandra memulai semuanya dengan modal 100 ribu rupiah. Angka yang kecil, tapi visinya raksasa. Dia melihat ada celah besar.

 

Anak sekolah butuh hasil instan untuk menembus ujian yang membingungkan. Di masa awal, itu primagama bukan sekedar tempat les. Primagama adalah representasi dari semangat anak muda yang ingin mendobrak pakem.

 

Om Pur, sapa anak rapnya, gak cuma jualan materi pelajaran, dia jualan harapan. Dia tahu betul kalau orang tua bakal melakukan apa saja demi pendidikan anaknya. Dan dia memosisikan primagama sebagai satu-satunya solusi paling masuk akal saat itu.

 

Kalian bisa bayangin betapa hype-nya suasana waktu itu. Dari cuma punya dua murid, nama primagama mulai jadi buah bibir di kalangan pelajar Jogja. Metodenya simpel, suasananya asik, dan pengajarnya bukan tipe guru killer yang sering kita temuin di sekolah formal.

 

Mereka adalah pionir yang mengubah wajah kaku pendidikan jadi sesuatu yang lebih manusiawi bagi murid-muridnya. Tapi, kesuksesan awal ini sebenarnya adalah pedang bermata dua. Pertumbuhan yang organik ini mulai membuat Om Pur berpikir, kenapa cuma di Jogja? Kenapa gak seluruh Indonesia? Dari sinilah benih-benih ekspansi mulai tumbuh.

 

Sebuah ambisi yang nantinya akan membawa primagama ke puncak dunia, sekaligus menjadi awal dari lubang hitam finansial mereka. Masuk ke era 90-an, primagama mulai memperkenalkan senjata rahasia mereka yang paling ikonik, smart solution. Kalau kalian pernah jadi member primagama, kalian pasti hafal sama rumus-rumus cepat yang sering dikasih nama unik.

 

Mereka gak ngajarin cara panjang yang bikin pusing di sekolah, tapi ngasih jalan pintas buat jawab soal dalam hitungan detik. Ini adalah revolusi dalam cara belajar. Gaya belajar ini sebenarnya pintar banget secara logika bisnis.

 

Primagama mengerti kalau target market mereka, yaitu para siswa, itu malas dengan teori yang bertele-tele. Mereka butuh hasil. Dengan smart solution, primagama berhasil menciptakan kecanduan.

 

Murid merasa kalau gak les di sana, mereka bakal ketinggalan trik-trik sakti yang cuma ada di buku modul kuning milik primagama. Gak cuma soal rumus, cara mereka branding juga juara. Primagama mulai masuk ke sekolah-sekolah, bikin seminar motivasi, dan ngebangun citra kalau pintar itu pilihan, dan pilihannya adalah mereka.

 

Di sini, sisi emosional mulai dimainkan. Mereka bukan cuma bimbel, tapi sahabat para pejuang ujian. Efeknya, nama primagama makin besar dan mulai mengintimidasi kompetitor-kompetitor lokal.

 

Tapi, teman-teman, dibalik kemudahan rumus cepat itu, ada beban berat yang mulai dipikul manajemen pusat. Menjaga standarisasi pengajaran di banyak tempat itu susah banget. Gimana caranya memastikan pengajar di Aceh punya kualitas yang sama dengan yang di Jogja? Tantangan logistik dan sumber daya manusia ini mulai jadi kerikil dalam sepatu yang makin lama makin terasa sakit.

 

Nah, sekarang kita masuk ke bagian yang paling kontroversial, filosofi cara gila jadi pengusaha. Om Pur bukan cuma bos bimbel, dia adalah mentor bisnis yang sangat berpengaruh. Salah satu ajarannya yang paling terkenal adalah, jangan takut utang, karena utang adalah modal.

 

Dia percaya kalau mau cepat kaya dan bisnis cepat besar, kita harus berani pakai uang orang lain atau bank untuk leverage. Logikanya begini, kalau kamu punya uang 1 miliar, kamu bisa buka 1 cabang. Tapi kalau uang itu kamu jadi injaminan buat pinjam 10 miliar ke bank, kamu bisa buka 10 cabang sekaligus.

 

Pertumbuhannya eksponensial. Dan inilah yang dilakukan primagama. Mereka berlari sangat kencang menggunakan bensin yang berasal dari pinjaman bank.

 

Secara teori, strategi ini jenius kalau ekonomi lagi bagus dan arus kas, cash flow, lancar terus. Masalahnya, dunia bisnis itu nggak selalu pelangi. Pakai utang buat ekspansi, itu ibarat nyatir mobil balap dengan kecepatan penuh.

 

Kalau kamu meleng sedikit atau ada lubang di jalan, mobilnya nggak cuma berhenti, tapi bisa hancur ke keping-keping. Dan itulah resiko yang mulai diambil oleh primagama demi mengejar status raja. Banyak orang yang waktu itu terinspirasi, bahkan mengidolakan gaya ini.

 

Siapa yang nggak mau punya aset miliaran cuma dari modal keberanian? Tapi banyak yang lupa satu hal detail. Utang itu punya bunga, dan bunga itu nggak pernah tidur. Ketika biaya operasional mulai membengkak dan pendapatan nggak sesuai target, bunga utang inilah yang perlahan mulai memakan tubuh primagama dari dalam.

 

Untuk mempercepat ekspansi tanpa harus keluar modal sendiri sepenuhnya, primagama pakai sistem waralaba atau franchise. Ini adalah langkah yang bikin primagama meledak jumlah cabangnya. Bayangin, dalam waktu singkat mereka bisa punya ratusan cabang dari sabang sampai merauke.

 

Orang-orang berebut pengen buka primagama karena namanya sudah jadi jaminan uang masuk. Sistem franchise ini sebenarnya menguntungkan buat kantor pusat, karena mereka dapat franchise fee di awal dan royalti tiap bulannya. Arsitektur finansialnya kelihatan sangat cantik di atas kertas.

 

Uang tunai masuk terus tanpa pusat harus pusing mikirin biaya sewa gedung atau gaji pengajar di daerah. Tapi disinilah letak jebakannya, kontrol kualitas. Coba kalian bayangin, gimana rasanya jadi pemilik cabang kecil yang sudah bayar mahal tapi gak dapat support maksimal dari pusat? Banyak pemilik waralaba yang mulai merasa ditinggalkan.

 

Pusat terlalu sibuk jualan cabang baru daripada ngurusin cabang yang sudah ada. Hubungan antara pusat dan daerah yang tadinya harmonis pelan-pelan mulai retak karena masalah transparansi dan pembagian keuntungan. Manajemen internal primagama mulai obesitas.

 

Struktur organisasinya jadi terlalu gemuk dan birokrasinya lambat. Ketika ada masalah di lapangan, pusat gak bisa gerak cepat karena terlalu banyak urusan administrasi. Bisnis yang tadinya lincah di tangan ompur sekarang berubah jadi raksasa yang gerakannya lambat dan kaku.

 

Bayangin, kalian adalah seorang orang tua murid di tahun 2000-an. Kalian bayar mahal buat masukin anak ke primagama karena namanya besar. Tapi pas masuk kelas, AC-nya mati, kursinya goyang, dan pengajarnya kelihatan kurang semangat.

 

Nah, inilah yang mulai terjadi di banyak cabang. Ketika kuantitas dikejar habis-habisan, kualitas seringkali jadi tumbal yang paling pertama dikorbankan. Masalahnya, sistem waralaba itu ibarat pedang bermata dua.

 

Di satu sisi, pusat dapat duit cepat dari franchise fee. Tapi di sisi lain, pusat gak punya kendali penuh atas operasional harian di tiap daerah. Banyak pemilik cabang yang cuma mikirin balik modal cepat tanpa peduli sama standarisasi pelayanan.

 

Akhirnya, pengalaman belajar di primagama cabang A bisa beda jauh sama cabang B, padahal bayarnya sama mahalnya. Secara internal, manajemen pusat juga mulai kehilangan fokus. Mereka terlalu sibuk ngurusin pembukaan cabang baru daripada dengerin keluhan dari cabang yang udah ada.

 

Komunikasi mulai macet, dan birokrasi jadi berbelit-belit. Efeknya, para pemilik cabang mulai merasa dianaktirikan. Mereka merasa cuma jadi sapi perah buat nyetor royalti tiap bulan tanpa dapat inovasi kurikulum yang segar dari pusat.

 

Ini adalah awal dari hilangnya jiwa primagama. Sebuah bisnis jasa pendidikan itu, kuncinya ada di kepercayaan dan hasil. Begitu kualitasnya mulai belang-belonteng, pelan-pelan kepercayaan masyarakat mulai luntur.

 

Orang mulai melirik kesebelah, ke tempat les lain yang mungkin cabangnya gak sebanyak primagama, tapi kualitasnya lebih kejaga. Disinilah sang raja mulai kehilangan daya magisnya. Di tengah goyahnya manajemen internal, musuh bebuyutan mulai dapat momentum.

 

Kalian pasti tahu Ganesha Operation atau GO kan? Kalau primagama itu agresif dengan sistem warah laba, GO milih jalan yang lebih konservatif tapi terkontrol. Mereka lebih fokus pada kepemilikan sendiri atau manajemen yang sangat ketat. Ini adalah dua kutub logika bisnis yang berbeda, ekspansi gila-gilaan versus kualitas terpusat.

 

Dan kompetitor lain seperti Sony Sugema College mulai menjuri panggung dengan hasil kelulusan PTN yang lebih mentereng. Mereka gak cuma jualan cara cepat, tapi juga sistem belajar konsisten. Primagama yang tadinya dominan mulai ngerasa kegerahan.

 

Persaingan ini bukan cuma soal adu pintar muridnya, tapi soal adu kuat nafas finansial dan reputasi di mata para wali murid. Gini lho, dalam bisnis pendidikan, kalau kompetitor punya fitur yang lebih oke, kamu harus inovasi. Tapi primagama waktu itu kayak lagi mabuk sama keberhasilan masa lalu.

 

Mereka ngerasa namanya udah terlalu besar buat tumbang. Padahal, di lapangan, anak-anak sekolah udah mulai ngerasa kalau cara mengajar primagama mulai kedaluarsa dan gak relevan lagi sama model soal ujian yang makin kompleks. Akhirnya terjadi perang harga dan promosi yang sebenarnya ngerugiin semua pihak.

 

Tapi bagi primagama, ini lebih berat. Kenapa? Karena beban operasional mereka sangat besar akibat banyaknya cabang dan utang yang harus dibayar. Sementara kompetitor yang lebih ramping bisa lebih fleksibel mainin harga.

 

Sang Raja mulai terjepit di antara nama besarnya sendiri dan kenyataan pasar yang mulai berpaling. Nah, di tengah tekanan itu, manajemen primagama punya rencana besar. Melantai di Bursa Efek Indonesia atau IPO.

 

Tujuannya sebenarnya bagus, yaitu buat dapat modal segar dari publik biar bisa bayar utang dan ekspansi lebih gila lagi. Tapi buat bisa IPO, sebuah perusahaan harus punya laporan keuangan yang seksi dan terlihat terus tumbuh. Inilah yang bikin mereka makin terjebak dalam lingkaran setan.

 

Demi terlihat seksi di depan calon investor, primagama harus terus buka cabang baru. Meskipun secara hitung-hitungan unit ekonomisnya udah gak masuk akal. Mereka butuh angka pertumbuhan yang fantastis.

 

Tapi kalian tahu gak, pertumbuhan yang dipaksain itu rapuh banget. Ibarat bangunan, mereka nambah lantai terus, tapi fondasinya gak ditambahin semen. Cuma masalah waktu sampai semuanya ambruk.

 

Logika bisnisnya jadi kacau. Fokusnya bukan lagi gimana bikin murid pinter, tapi gimana bikin angka di laporan keuangan kelihatan ijo. Biaya pemasaran digedein, aset-aset fisik ditambahin pake utang baru.

 

Semua demi narasi growth yang bisa dijual ke bursa. Tapi pasar modal itu kejam. Mereka bisa nyium bau masalah dari jauh.

 

Rencana IPO ini berkali-kali tertunda, dan itu jadi kabar buruk buat para kreditur. Bayangin, beban mental para pengurusnya waktu itu. Di depan publik, mereka harus tampil meyakinkan sebagai pemimpin pasar.

 

Tapi di balik layar, mereka pusing tujuh keliling mikirin cara nutup lubang finansial. Rencana IPO yang tadinya diharapkan jadi dewa penyelamat, justru malah jadi beban tambahan yang bikin manajemen makin kehilangan arah. Primagama bener-bener lagi main api dengan bensin yang mereka siram sendiri.

 

Sekarang kita bedah bagian yang paling teknis, matematika utangnya. Strategi leverage atau pake utang bank buat modal itu punya satu syarat mutlak. Pendapatan operasional harus jauh lebih gede dari cicilan plus bunga.

 

Tapi faktanya, pendapatan dari royalti warah labah mulai seret, karena banyak cabang yang tutup atau gak lapor pendapatan jujur. Sementara itu, bunga bank jalan terus, gak peduli muridmu ada berapa. Gini itungannya, kalau kamu punya utang ratusan miliar dengan bunga katakanlah 10-12 persen per tahun, itu artinya tiap bulan kamu harus setor miliaran rupiah cuma buat bunga doang, belum cicilan pokoknya.

 

Kalau profit bersih kamu gak nyampe angka itu, dari mana duitnya? Ya terpaksa ambil utang baru lagi buat bayar utang lama. Inilah yang kita sebut dengan debt trap atau jebakan utang. Kondisi finansial primagama mulai darurat medis.

 

Mereka mulai kesulitan bayar kewajiban ke bank-bank besar. Arsitektur finansial yang tadinya dianggap jenius oleh banyak orang, sekarang kelihatan aslinya, terlalu spekulatif. Aset-aset yang tadinya dibanggain, mulai dari gedung sampai tanah, pelan-pelan mulai dijadikan jaminan dan terancam di sita.

 

Sang Raja gak lagi duduk di singgah sana emas, tapi di kursi panas. Efeknya ke internal gimana? Kacau. Gaji karyawan mulai telat, bonus pengajar hilang, dan perawatan gedung cabang makin gak keurus.

 

Begitu alilan darah, uang, ini tersumbat, seluruh organ perusahaan mulai gagal fungsi. Pihak perbankan pun mulai kehilangan kesabaran, dan mulai melayangkan surat peringatan. Ini adalah detik-detik sebelum bom waktu itu benar-benar meledak di depan muka semua orang.

 

Tahun 2013 adalah puncaknya. Kabar yang dulu cuma bisik-bisik di kalangan pebisnis, akhirnya meledak ke media masa. Salah satu bank besar menggugat pilot Purdy Echandra karena masalah kredit macet yang nilainya fantastis.

 

Bayangin betapa kagetnya publik waktu itu. Sosok yang selama ini ngajar cara gila jadi pengusaha dan cara kaya lewat utang justru tersandung oleh ajarannya sendiri. Secara hukum, kalau seseorang atau perusahaan dinyatakan pilot, artinya mereka dianggap gak mampu lagi bayar utang, dan seluruh asetnya bakal disita buat bayar kreditur.

 

Ini adalah pukulan telak buat brand primagama. Dalam bisnis pendidikan, reputasi adalah segaranya. Begitu nama sang pendiri kena masalah hukum finansial, orang tua murid mulai takut.

 

Nanti kalau saya bayar lunas, eh besoknya bimbelnya tutup gimana? Sidang demi sidang dilalui, dan drama ini jadi konsumsi publik. Kejatuhan Om Pur bukan cuma soal kehilangan uang, tapi soal kehilangan kredibilitas. Ribuan alumni dan orang-orang yang dulu mengidolakan beliau merasa kecewa.

 

Di momen ini, primagama bukan lagi raja, tapi lebih kaya raksasa yang lagi sekarat di tengah lapangan dan ditonton banyak orang. Keputusan pengadilan itu jadi titik nadir. Meskipun operasional bimbel masih coba dijalankan, tapi aura kesuksesannya udah hilang.

 

Pemilik waralaba di daerah makin panik. Mereka mulai ngelepas logo primagama dan ganti nama jadi bimbel lokal demi nyelamatin bisnis masing-masing. Imperium yang dibangun selama 30 tahun itu mulai rontok berkeping-keping hanya dalam hitungan bulan.

 

Suasana di kantor pusatnya mungkin sangat kontras sama era 90-an. Nggak ada lagi euforia pembukaan ratusan cabang baru. Yang ada cuma rapat-rapat tegang soal restrukturisasi utang dan gimana caranya biar besok masih bisa bayar listrik.

 

Sang Raja bener-bener udah turun takhta dan mahkotanya udah retak dimana-mana. Mereka cuma tinggal nunggu waktu, apakah bakal bener-bener hilang atau ada yang mau mungut sisa-sisa kejayaannya. Tanpa Soso Ompur, primagama kehilangan arah kompasnya.

 

Manajemen baru yang mencoba ambil alih pun kesulitan karena warisan masalah yang ditinggalkan terlalu berat. Utang yang numpuk, manajemen waralaba yang berantakan, dan citra brand yang udah rusak itu bukan hal yang gampang diberesin. Primagama masuk ke masa-masa zombie, hidup segan, mati tak mau.

 

Di segmen ini kita bisa lihat gimana pentingnya sosok founder. Tapi di sisi lain, kita juga belajar kalau bisnis yang terlalu bergantung sama satu sosok itu berisiko banget. Begitu sosok itu tumbang, seluruh sistem di bawahnya ikut goyang.

 

Primagama waktu itu bener-bener butuh keajaiban atau setidaknya seorang penyelamat yang punya modal gede dan sistem yang lebih modern. Suasana di kantor pusatnya mungkin sangat kontras sama era 90-an. Nggak ada lagi euforia pembukaan ratusan cabang baru.

 

Yang ada cuma rapat-rapat tegang soal restrukturisasi utang, dan gimana caranya biar besok masih bisa bayar listrik. Sang Raja bener-bener udah turun takhta, dan mahkotanya udah retak dimana-mana. Mereka cuma tinggal nunggu waktu, apakah bakal bener-bener hilang, atau ada yang mau mungut sisa-sisa kejayaannya.

 

Sialnya, pas Primagama lagi bonyok urusan internal, dunia luar berubah total. Masuklah era internet cepat dan smartphone. Muncul pemain-pemain baru yang nggak butuh gedung ruko, nggak butuh bayar listrik mahal, dan nggak butuh ribuan cabang fisik buat menjangkau murid.

 

Ya, kita bicara soal munculnya ruang guru, Zenius dalam versi digital, dan berbagai platform etek lainnya. Disrupsi ini kayak pukulan knockout buat Primagama. Mereka masih sibuk mikirin gimana cara bayar cicilan gedung ruko.

 

Sementara kompetitornya fokus bikin konten video yang bisa ditonton jutaan kali dengan biaya distribusi hampir nol. Primagama yang tadinya bangga sama cara cepatnya, tiba-tiba kelihatan kuno karena cara belajarnya masih harus datang ke kelas, duduk di bangku keras, dan dengerin guru jelasin di papan tulis. Logika bisnisnya berubah total dari physical presence ke digital presence.

 

Primagama telat banget buat adaptasi. Mereka terlalu lama terjebak dalam zona nyaman bisnis konvensional. Padahal anak-anak jaman sekarang lebih suka belajar sambil rebahan di kamar daripada harus macet-macetan ke tempat les.

 

Primagama kehilangan satu generasi murid yang lebih milih langganan aplikasi daripada bayar biaya les jutaan rupiah. Efeknya fatal. Pendapatan makin merosot tajam.

 

Cabang-cabang yang masih bertahan pun makin megap-megap. Di titik ini, Primagama bukan lagi bersaing sama-sesama bimbal ruko, tapi bersaing sama raksasa teknologi yang punya modal ventura triliunan rupiah. Sang raja yang udah tua dan luka-luka ini dipaksa bertarung sama robot-robot digital yang super efisien.

 

Hasilnya? Tentu kalian udah bisa tebak. Drama panjang ini akhirnya mencapai babak akhir di awal tahun 2022. Dunia pendidikan dihebohkan dengan berita kalau Zenius Education resmi mengakuisisi Primagama.

 

Ini adalah plot twist yang luar biasa. Zenius, perusahaan ed-tech yang relatif jauh lebih muda, akhirnya membeli sang legenda yang sudah berumur 40 tahun. Ini adalah simbol resmi berakhirnya era bimbal konvensional yang kaku.

 

Kenapa Zenius mau beli Primagama yang lagi bermasalah? Jawabannya adalah hybrid learning. Zenius sadar kalau meskipun masa depan itu digital, sentuhan fisik atau belajar tatap muka itu tetap punya nilai. Mereka butuh jaringan fisik buat memperkuat ekosistemnya.

 

Dan Primagama, meskipun udah gak sekuat dulu, masih punya aset berupa nama dan sisa-sisa cabang yang strategis. Bagi Primagama, ini adalah satu-satunya jalan keluar yang terhormat. Akuisisi ini bukan cuma soal duit, tapi soal keberlanjutan hidup.

 

Dengan bergabung ke Zenius, Primagama dapat suntikan teknologi dan sistem manajemen yang lebih modern. Nama Primagama pun berubah jadi New Primagama. Ini adalah transformasi dari seorang raja yang bangkrut menjadi bagian dari imperium baru yang lebih canggih.

 

Momen ini ngasih kita pelajaran penting tentang rendah hati dalam bisnis. Sebesar apapun namamu, suatu saat kamu mungkin harus tunduk pada perubahan zaman. Akuisisi ini adalah bukti kalau dalam logika bisnis, adaptasi itu bukan pilihan, tapi syarat mutlak buat bertahan hidup.

 

Sang Raja mungkin udah gak pakai mahkota yang sama, tapi setidaknya dia gak benar-benar terkubur oleh sejarah. Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari runtuhnya Sang Raja Bimbel ini? Pertama, soal arsitektur finansial. Utang itu ibarat api.

 

Kecil jadi kawan yang bikin masakan mateng, tapi kalau terlalu gede dan gak terkontrol, dia bakal ngebakar seluruh rumah. Strategi cara gila mungkin asik buat memotivasi orang, tapi dalam dunia nyata, manajemen resiko dan cashflow yang sehat itu jauh lebih penting daripada sekedar kelihatan gede. Kedua, soal konsistensi kualitas.

 

Jangan pernah ngorbanin kualitas demi kuantitas, apalagi dalam bisnis jasa seperti pendidikan. Begitu murid dan orang tua ngerasa gak dapat nilai yang sesuai sama uang yang mereka keluarin, mereka bakal pergi dan gak akan balik lagi. Nama besar itu cuma pintu masuk, tapi kualitaslah yang bikin orang tetap tinggal di dalam ruangan.

 

Ketiga, jangan telat adaptasi. Dunia berubah tiap detik, dan dalam bisnis, berhenti berinovasi itu sama aja kayak nunggu tanggal main kematianmu. Primagama telat lihat potensi digital karena terlalu asik sama kesuksesan waralaba fisiknya.

 

Pelajarannya, selalu lihat apa yang ada di depan, bukan cuma bangga sama apa yang ada di belakang atau masa lalu. Sekarang, Primagama memulai babak baru sebagai New Primagama di bawah Zenius. Meskipun perjalanannya penuh luka dan air mata, sejarah mereka tetap jadi bagian penting dari dunia pendidikan Indonesia.

 

Buat kalian yang lagi ngerintis bisnis, ingat kisah ini. Membangun itu susah, tapi menjaga itu jauh lebih menantang.  

Sumber: YT @Logika Bisnis ID

 

Sabtu, 11 April 2026

Kita Menuai dari Apa yang Kita Tabur

 We Reap What We Sow | A Powerful Life Changing Story of a Carpenter

 

Setiap hari, apakah Anda menyadarinya atau tidak, Anda sedang membangun sesuatu. Tidak dengan kayu batu dan cemen, tetapi dengan pilihan Anda, usaha Anda, dan attitude Anda. Kecutupan yang Anda ambil, pekerjaan yang Anda tinggalkan setengah selesai, janji-janji yang Anda jatuhkan kepada diri Anda, mereka tidak hanya menghilangkan diri.

 

Mereka dengan tenang membentuk kehidupan yang akan Anda bangunkan esok. Dan kejujuran yang paling sulit adalah ini, ketika Anda menipu pekerjaan Anda, Anda tidak menipu orang lain, Anda menipu diri Anda. Kisah hari ini adalah tentang seorang karpenter lama, seumur hidupnya diluangkan membangun rumah yang indah untuk orang lain.

 

Tetapi satu rumah yang dibangun untuk dirinya, menjadi kesalahan terbesarnya, dan akhirnya, keajaran terbaiknya bagi anak-anaknya. Kisah ini akan membuat Anda berhenti dan bertanya diri Anda pertanyaan sulit, bagaimana saya membangun rumah dengan cara saya hidup hari ini? Tetap dengan kisah ini hingga akhirnya, karena ia membawa kebenaran yang pernah terdengar, tidak mungkin diingat. Pada waktu yang lama, di jalan-jalan kosong sebuah desa perusahaan kecil, hidup seorang karpenter lama.

 

Rumahnya adalah sebuah rumah 2 bilik dengan lantai yang terkocok dan lantai yang terkocok, terletak di akhir jalan desanya. Dia hidup di sana bersama istrinya dan anak-anaknya. Karpenter lama bukan orang biasa.

 

Pada zaman kecilnya, dia merupakan salah satu karpenter terbaik di seluruh wilayah. Penjual, pelayan, dan bahkan beberapa pegawai pemerintah telah mencari dia untuk membangun rumah mereka. Tangannya membuat bentuk pintu pintu besar, menciptakan jendela-jendela yang indah, dan membangun lantai-lantai yang tahan selama berusia berbulan-bulan.

 

Orang-orang mengatakan bahwa sebuah rumah yang dibangun oleh karpenter ini akan membuat orang yang tinggal di dalamnya ketinggalan. Tapi jika Anda melihat rumahnya sendiri, kecil, berdegup, dan hampir tidak bertahan bersama, Anda tidak akan percaya. Anak-anaknya telah membesar menjadi pria muda dengan tangan kuat, tapi ambisi lemah.

 

Mereka bekerja di lantai pemerintah tempatan, tapi bekerja adalah kata-kata yang baik. Orang-orang yang lebih tua akan tiba lewat, bergembira sepanjang waktu pagi, dan orang-orang yang lebih muda akan pergi awal, selalu mencari alasan, sakit kepala, sakit belakang, sebuah festival yang telah dia lupakan. Bersama, mereka melakukan dalam sehari penuh apa yang seorang pekerja yang sejujurnya bisa selesaikan sebelum makan tengah hari.

 

Pemerintah itu adalah orang yang santai, namun perhatiannya juga memiliki batas. Setiap beberapa minggu, dia akan berjalan ke rumah pemerintah, duduk di atas benci kayu lama di lantai pemerintah, dan merungut. Dia akan mengatakan, menggembirakan kepala.

 

Anak-anakmu mengandalkan tanahku seperti tempat beristirahat. Kedua-duanya tidak mencapai tanah pada waktu yang sama. Mereka meninggalkan pekerjaan yang belum selesai.

 

Kadang-kadang, mereka tidak menunjukkan diri. Mereka tidak mengambil perbuatan mereka dengan serius. Mereka tidak bekerja.

 

Mereka hanya menghabiskan waktu. Jika mereka adalah anak-anak orang lain, saya akan mengirim mereka jauh dulu. Pemerintah tua itu akan dengar dengan tenang, meminta maaf, dan berjanji untuk berbicara dengan mereka.

 

Dan dia melakukannya, banyak kali. Namun, kata-katanya jatuh seperti hujan di atas batu. Anak-anak yang lebih tua akan bergerak.

 

Anak-anak yang lebih muda akan berterima kasih, dan lupa. Tidak ada yang berubah. Seperti yang dikatakan, kelazainya mungkin terlihat menarik, tapi pekerjaan memberikan kepuasan.

 

Namun, kedua-duanya belum belajar kebenaran ini. Suatu malam, semasa matahari menyedot di belakang pohon, dan kampung menjatuh ke tenang, pemerintah tua itu memanggil anak-anaknya ke dapur. Istrinya membawa teh, dan orang tua itu duduk di kot kegemarannya, menggulung tangan-tangannya.

 

Duduk, kata dia. Suara dia tenang, tapi berat. Aku ingin memberitahu sesuatu yang aku tak pernah beritahu kepada sesiapa.

 

Adik-adik itu berubah. Ayah mereka jarang berbicara tentang dirinya. Apakah kamu pernah berpikir, berulang-ulang tahun itu, mengapa kita tinggal di rumah ini, rumah yang kecil dan rusak, sementara aku menghabiskan seumur hidupku membangun rumah besar untuk orang lain? Anak-anak tua itu berlutut ke depan.

 

Anak-anak muda itu menjatuhkan tehnya. Biar aku bawa kamu kembali 30 tahun, kata ayah mereka. Aku adalah yang paling diinginkan sebagai pembangun di daerah ini.

 

Aku membangun bungalow lama penduduk, aku membangun rumah sekolah, aku membangun rumah yang masih hidup keluarga dengan bangga hari ini. Aku menyukai kerjaanku. Setiap jantung yang aku potong, setiap bimbang yang aku naik, aku melakukannya seolah-olah aku membangun sebuah kuil.

 

Dia berhenti dan melihat tangannya. Kemudian, setelah hampir 25 tahun, aku menjadi penat. Kakiku sakit, mataku tidak begitu tegas.

 

Aku memberitahu kontraktorku bahwa aku ingin berpindah. Dia mengerti. Tapi dia menanyakan satu pertolongan terakhir.

 

Bangun sebuah rumah terakhir sebelum kamu pergi. Aku setuju. Tapi ada sesuatu dalam diriku yang sudah menyerah.

 

Aku berpikir, apa yang penting? Ini yang terakhir. Tidak ada yang akan mengetahui. Jadi, aku menggunakan kayu yang lebih murah.

 

Aku meninggalkan ukuran. Aku memukul tangan dengan keras dan tidak membosankan untuk menutup pintu. Aku membangun dinding yang aku tahu akan jatuh dalam setahun.

 

Untuk pertama kali dalam hidupku, aku membangun rumah tanpa kebanggaan, tanpa peduli, tanpa kasih sayang. Seperti yang pernah dikatakan Thomas Edison, tidak ada gantian untuk kerja keras. Tapi pada hari itu, si karpenter lama telah melupakan kebenaran ini.

 

Ketika rumah selesai, dia berterus terang. Suara dia menurun. Kontraktor datang untuk menginspeksikannya.

 

Dia melihat-lihat, bertenang, lalu memberiku kunci. Dia bilang, teman lama, rumah ini adalah hadiahku bagimu. Untuk 25 tahun kerja keras, kamu memerlukan rumah sendiri.

 

Diam. Aku berdiri di sana, memegang kunci itu, dan aku merasakan hatiku jatuh ke dalam tanah. Rumah yang telah aku bina dengan kebosanan, dengan pendekatan, dengan tak berhati-hati, itu adalah rumahku.

 

Aku akan hidup di sana. Keluargaku juga akan hidup di sana. Setiap jembatan di dinding itu, setiap jembatan yang jatuh, setiap jembatan yang lemah, aku telah melakukannya sendiri.

 

Dia melihat anak-anaknya, dengan mata yang mengalami 30 tahun penyesalan. Itu adalah rumah ini. Rumah yang telah kamu hidup seumur hidupmu.

 

Rumah yang merosot setiap musim panas. Rumah dengan pintu yang tidak terkunci dengan benar. Aku yang membangunnya, dan aku yang membangunnya dengan jahat.

 

Karena aku lupa satu kebenaran yang penting. Dia berdiri ke depan. Seperti yang kamu lakukan, seperti yang akan kamu lakukan.

 

Dia menangis. Rumah tempatan itu diam. Bahkan kriketnya juga berhenti.

 

Anak-anakku, pahlawan lama, berkata dengan lembut. Kamu berpikir bahwa kamu bekerja untuk penduduk. Kamu berpikir kelemahanmu hanya menipu dia.

 

Jika kamu berpikir begini, maka kamu salah. Setiap hari yang tak berhati-hati, setiap task yang sudah dibuat, setiap pendekatan yang kamu ambil, kamu tidak menipu dia. Kamu menipu dirimu sendiri.

 

Kamu membangun rumahmu sendiri. Dan suatu hari nanti, kamu harus hidup di dalamnya. Dia menempatkan tangan di setiap kaki mereka.

 

Jangan pernah melakukan sesuatu yang berhati-hati. Setiap jari yang kamu pukul, setiap kata yang kamu bicara, setiap task yang kamu selesaikan, lakukannya dengan jujur dan hati sepenuhnya. Cara terbaik untuk merasakan masa depanmu adalah untuk membuatnya, seperti yang dikatakan orang bijak.

 

Dan ingat, masa depan bergantung pada apa yang kamu lakukan di saat ini. Jangan tunggu besok untuk menjadi orang yang seharusnya. Lakukan hari ini yang diinginkan orang lain.

 

Jadi besok, kamu bisa melakukan yang tidak bisa diinginkan orang lain. Pada malam itu, tidak ada anak yang tidur dengan baik. Kata-kata ayah mereka terdengar melalui kegelapan, seperti jempol.

 

Pada pagi berikutnya, pertama kali dalam bertahun-tahun, adik-adik berdua berada di tanaman penduduk sebelum matahari. Mereka bekerja melalui panas tanpa komplainan. Mereka selesaikan setiap tugas yang diberikan dan meminta lebih banyak.

 

Penjaga melihat dari veranda, terkejut. Hari menjadi minggu, minggu menjadi bulan. Adik-adik yang tidak pernah terlibat untuk muncul pada waktu, sekarang merupakan pekerja yang paling sulit di tanaman.

 

Dan perlahan-lahan, kehidupan mereka mulai berubah. Anak-anak yang lebih tua berpercaya dengan menguruskan seluruh bagian tanaman. Anak-anak yang lebih muda diberikan tanaman yang kecil untuk dikultivasi sendiri.

 

Tanpa kerja keras, tidak ada apa-apa yang tumbuh, hanya buah. Dan adik-adik akhirnya menarik setiap buah terakhir dari kehidupan mereka. Dalam beberapa tahun, mereka telah cukup menyelamatkan untuk membangun rumah ayah mereka lagi.

 

Kali ini, dengan kayu kuat, lantai yang lurus, dan pintu yang terkunci dengan tepat. Ketika karpenter tua berjalan melalui ruangan baru, menangis melihat wajahnya, dia berkata, kerja keras tidak pernah tidak diberi hadiah. Pikirkan tentang hal ini sebentar.

 

Berapa kali kita telah melakukan sesuatu tanpa perhatian, memberitahu diri kita bahwa itu tidak benar-benar penting. Mungkin itu adalah tugas di tempat kerja yang telah kita lakukan, perhubungan yang kita tidak berinvestasi, atau perjanjian yang kita berjalan dengan tenang. Pada saat itu, itu terasa tak berpengaruh.

 

Namun, seperti dinding karpenter dan kayu yang murah, setiap pilihan yang tak terhadap secara tenang menjadi bagian dari kehidupan yang kita bangun. Bagian yang indah dari cerita ini adalah bahwa itu tidak berakhir dengan penyesalan. Itu berakhir dengan penyembuhan.

 

Anak-anak karpenter mendengar kebenaran, dan mereka memilih untuk berubah. Mereka tidak menunggu saat yang sempurna. Mereka tidak membuat janji besar.

 

Mereka hanya muncul pada pagi berikutnya, lebih awal, dengan lebih banyak usaha, dan dengan jujur dalam hati mereka. Dan satu keputusan itu berulang setiap hari, tidak hanya membangun sebuah rumah, tetapi sebuah masa depan. Teman-teman, cerita ini tentang karpenter dan anak-anaknya membawa kebenaran yang tergantung pada setiap satu dari kita.

 

Setiap hari, apakah kita menyadari atau tidak, kita membangun rumah yang akan kita tinggalkan esok. Kerja, habit, pilihan, keadilan, keintegrisan kita. Mereka merupakan batu dan bembang masa depan kita.

 

Ketika kita memotong sudut, ketika kita memberikan yang kurang daripada yang terbaik, ketika kita memberitahu diri kita, itu tidak penting. Kita memukul tepung keras ke dalam dinding kita sendiri. Dan suatu hari nanti, kita harus hidup di dalam dinding itu.

 

Tidak pernah terlambat untuk membangun dengan berhati-hati. Kamu tidak perlu mengubah semuanya malam-malam. Kamu hanya perlu mengubah bagaimana kamu mendekati hal-hal berikutnya di depanmu.

 

Tugas berikutnya, perbicaraan berikutnya, pilihan berikutnya. Bina seolah-olah itu milikmu, karena itu milikmu. Karirmu, hubunganmu, kesehatanmu, karaktermu.

 

Kamu yang akan hidup di dalam semuanya. Sebuah visi tanpa aksi adalah mimpi. Visi tanpa aksi adalah mimpi.

 

Jangan hanya berharap untuk kehidupan yang lebih baik. Buatlah. Satu hari yang sejujurnya.

 

Tidak ada sakit. Tidak ada keuntungan. Dan kejayaan datang sebelum pekerjaan, hanya di diksineri.

 

Di tempat lain, pekerjaan datang terlebih dahulu. Jadi, ini adalah pertanyaan sederhana untuk diterima denganmu. Bagaimana jenis rumah yang Anda bangun hari ini? Berikan yang terbaik, bukan karena ada yang menonton, tetapi karena kehidupan yang Anda bangun, adalah kehidupanmu.

 

Sampai kemudian, berhati-hati, berterima kasih, dan ingat, bina kehidupanmu dengan cinta, karena Anda adalah yang akan memiliki kehidupannya. Jangan lupa empat kata-kata ini dalam kehidupanmu.

 

Satu, kejujuran adalah kebijaksanaan terbaik. Dua, tanpa bekerja keras, tidak ada yang tumbuh, hanya buah-buahan. Tiga, tidak ada gantian untuk bekerja keras.

 

Dan, Empat, bekerja keras tidak pernah tidak dihargai, karena rumah yang dibina dengan kejujuran, hati, dan bekerja keras, itu adalah rumah yang akan bertahan selamanya.

 

Sumber: YT @Streams of Wisdom

Jumat, 23 Januari 2026

Makna Rahasia Dibalik Dahsyatnya Isra Miraj

 

Makna Rahasia Dibalik Dahsyatnya Isra Miraj

Oleh: Dr. Fahruddin Faiz

 

Pendahuluan

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah teman-teman. Kita lanjutkan lagi ngaji filsafat kita. Semoga teman-teman semua masih siap dan mau untuk istikamah, nambah ilmu, nambah wawasan.

Saya tidak pakai pembukaan apa-apa untuk Isra Miraj ini. Langsung kita masuk ke pemaknaan. Bagi yang ingin mendalam—ini kan teman-teman orang-orang berkualitas semua dari wajahnya kelihatan—yang ingin mendalami kajian Isra Miraj boleh. Saya punya empat kitab yang berhubungan dengan Isra Miraj.


Sumber gambar:

https://ahmadiyah.org/wp-content/uploads/2019/03/isra-miraj.jpg

Yang nomor satu itu yang paling populer. Teman-teman yang dari pesantren kemungkinan besar pernah mengaji kitab ini, kitab Dardir. Penulisnya Syekh Najmuddin Alghaiti Adardir, berjudul Bainama Qisatul Mikraj. Ini zaman saya dulu di pesantren senang kalau ngaji kitab ini karena banyak cerita-cerita, banyak dongeng-dongeng luar biasa yang menginspirasi.

Yang kedua ini karya ulama kita, ulama Nusantara, Syekh Abdul Somad Alfalimbani, Risalah Latifah fi Bayanil Isra Wal Mikraj. Yang ketiga juga dari ulama Nusantara, Syekh Daud Alpattan, Kifayatul Muhtaj fi Bayanil Isra Wal Mikraj. Jadi ulama-ulama Nusantara kita juga banyak karya tentang Isra Miraj ini.

Kalau yang terakhir ini penulisnya Syaikhul Akbar Ibnu Arabi. Teman-teman insyaallah pernah dengar nama ini. Judulnya Alisra ilal Maqomil Asro. Ini bagus kalau ada yang ingin mendalami makna sebenarnya salat. Kan ada hadis bahwa salat itu mikrajul mukmin. Nah, ini analisis dari tasawuf yang filosofis dari Syekhul Akbar Ibnu Arabi tentang bagaimana kita naik menuju Allah antara lain melalui salat.

Saya tidak akan bahas empat kitab ini sore hari ini. Ini cuma memberi informasi saja. Siapa tahu ada yang pengin mendalami kajian Isra Miraj. Tidak mungkin sore ini saya ngaji sebanyak ini. Yang penting teman-teman yang tertarik silakan masuk ke situ, siapa tahu bisa disambungkan dengan ilmu teman-teman.

Menjawab Keraguan tentang Isra Miraj

Saya awali dari ayat ini. Ayat ini insyaallah teman-teman juga sudah paham bahkan mungkin sudah hafal. Ada bagian yang saya warnai. Saya ingin menjelaskan yang saya warnai itu saja untuk menjawab, karena kemarin-kemarin saya lihat banyak sekali postingan-postingan yang menggugat Isra Miraj.

Sebenarnya jawabannya ada di kata-kata yang saya tandai dengan warna itu. Ini kalau kita beriman sama Al-Qur'an. Saya lihat kemarin ada beberapa bahkan intelektual yang mempertanyakan validitas peristiwa Isra Miraj.

Kata pertama: Subhana

Subhana itu menunjukkan ketakjuban, berarti ada sesuatu yang aneh dan luar biasa. Makanya diawali subhana, maha suci. Karena memang Isra Miraj ini peristiwa yang luar biasa. Kalau ada peristiwa yang luar biasa yang mengalami Nabi, itu biasanya kita sebut sebagai mukjizat. Kalau itu mukjizat, tidak aneh kalau dia tidak masuk akal. Semua mukjizat itu memang kharqul 'adah, tidak masuk akal. Kalau masuk akal biasa, tidak ada orang tertarik.

Justru fungsi—di antara fungsinya mukjizat—itu menunjukkan kekuasaan Allah bahwa ini bukan manusia yang bikin-bikin. Makanya subhana. Jadi jawaban mudahnya kalau teman-teman malas debat, kalau ada yang tanya apa mungkin ada Isra Miraj, apa mungkin Kanjeng Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa sekejap, jawabannya simpel: itu mukjizat. Kalau mukjizat tidak ada yang tidak mungkin. Nabi Isa bisa menghidupkan orang mati, Nabi Ibrahim bisa dibakar tidak mempan, Nabi Musa bisa menyeberang laut hanya dengan memukulkan tongkat. Itu semua tidak masuk akal. Ya memang mukjizat. Jadi bagi yang ingin sederhana jawabnya, cukup: itu mukjizat. Tidak bisa dikalkulasi dengan rasio apapun, tidak akan nyambung.

Kata kedua: Asro

Coba perhatikan kalimat asro itu. Kenapa bukan saro? Kalau Nabi yang berjalan, asro itu artinya memperjalankan. Berarti bukan Kanjeng Nabi yang berjalan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, tapi Allah yang memperjalankan Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Jadi pelakunya Isra Miraj itu—kalau dari kata-kata asro ini—itu sebenarnya Allah. Kalau itu Allah, tidak ada yang tidak masuk akal, semuanya serba mungkin.

Jadi apa bisa Nabi jalan sejauh itu dalam waktu semalam? Kalau Nabi sendiri sebagai manusia tidak akan mampu. Tapi ini pelakunya—kalau ada peristiwa kan tanya pelakunya, agennya—itu Allah. Makanya Al-Qur'an pakai kalimat asro, memperjalankan. Maka kalau pelakunya Allah, apa yang tidak mungkin?

Kata ketiga: Bi'abdihi

Bi'abdihi itu abdun, hamba. Ini sebenarnya untuk jawab karena ada yang punya tesis bahwa Rasulullah itu Isra Miraj hanya rohnya saja, seperti orang mimpi atau seperti orang melakukan perjalanan astral. Jadi fisiknya tidak ikut, fisiknya tidur di Masjidil Haram. Ada pandangan seperti ini, tapi ini terbantahkan dengan kata-kata Al-Qur'an: abdun.

Abdun itu hambanya. Kalau dalam Al-Qur'an kata-kata abdun itu yang ditunjuk adalah fisik dan rohani, bukan hanya fisiknya atau rohani saja. Ada banyak kata-kata abdun dalam Al-Qur'an yang dimaksud adalah manusia secara jasmani dan rohani. Ini untuk jawab kalau ada yang mengkritik jangan-jangan itu seperti mimpi.

Padahal kalau hanya mimpi, kalau hanya rohnya saja Kanjeng Nabi yang Miraj dan Isra, pasti bukan sesuatu yang luar biasa. Kalau hanya seperti mimpi, kita dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, dari Indonesia ke Amerika dalam waktu tidur selama setengah jam bisa. Kalau hanya mimpi, maka tidak luar biasa kalau hanya rohnya saja. Makanya peristiwa Isra Miraj itu disebut luar biasa, disebut mukjizat karena abdihi lahir dan batin, tidak hanya batinnya saja, rohnya saja. Mengapa bisa begitu? Ya karena itu Allah yang melakukan asro.

Sisanya nanti teman-teman bisa lihat di kitab tafsir. Cuma itu saya angkat dari tiga kata-kata pertama ayat yang populer sekali di saat kita membahas Isra dan Miraj, sekaligus menjawab—kemarin saya lihat di beberapa media sosial itu banyak sindiran-sindiran terhadap Isra dan Miraj.

Lima Makna Isra Miraj untuk Anak Muda

Sore hari ini saya akan masuk ke makna-makna. Saya cari makna-makna yang cocok untuk teman-teman yang masih muda, apalagi yang mahasiswa. Maknanya bisa luas dari banyak kitab yang saya sebut di depan tadi. Isra Miraj itu maknanya luar biasa macam-macam, mulai tentang kelemahan manusia, kekuasaan Allah, salat, dan macam-macam. Maka sore ini coba kita pilih beberapa makna yang menurut saya cocok untuk teman-teman yang masih muda yang memulai perjuangan membangun generasi Indonesia yang akan datang. Jadi ini makna versi anak muda.

Makna Pertama: Keterbatasan Manusia dan Kekuasaan Allah

Makna pertama menurut saya untuk teman-teman yang muda-muda dari peristiwa Isra Miraj adalah tentang keterbatasan manusia dan kekuasaan Allah. Ini menurut saya yang paling urgen, makna yang pertama ini. Karena kenapa saya arahkan ke anak-anak muda? Karena biasanya yang muda ini masih meluap-luap, masih belum bisa mengkalkulasi kapasitas kekuatan dirinya, kadang-kadang lupa keterbatasannya—baik keterbatasan fisik, keterbatasan mental, keterbatasan rohaninya.

Mungkin ada banyak kisah orang yang memforsir rohaninya, atau orang yang fokus pada dunia saja, pada tenaganya, atau yang belajar ilmu agak overestimate dengan kemampuan berpikirnya. Ini orang-orang yang lupa batasnya. Banyak konflik, banyak tragedi dalam hidup ini karena orang lupa batasnya. Bahkan beragama juga banyak orang yang lupa batas-batasnya. Ketika ada istilah ekstrem, ketika ada istilah radikal, itu kan sebenarnya orang-orang yang lupa dengan batas—mana yang boleh saya tabrak, mana yang jangan, sampai di titik mana saya harus masuk, sampai di titik mana saya harus menahan diri. Ini pengetahuan tentang keterbatasan.

Isra Miraj menyadarkan kita bahwa kita ini lemah dan terbatas. Memahami peristiwa Isra sebagaimana yang dialami Rasulullah—yang teman-teman pahami—itu rasanya agak berat. Jadi ketika itu berat, jangan dilempar keluar tapi diintrospeksi ke dalam bahwa ternyata aku ini lemah, memahami yang seperti itu saja tidak mampu. Padahal sudah yakin tadi Allah itu maha kuasa, tapi memasukkan peristiwa ini kok susah, berarti kita ini terbatas.

Orang yang bisa bahagia itu orang yang ngerti batasnya. Orang yang tidak tahu batas itu susah untuk bahagia karena dia akan dikejar-kejar terus, tidak ngerti kapan harus stop, kapan harus berhenti. Makanya saya arahkan ke teman-teman yang muda karena biasanya yang muda ini baru menggebu-gebu, ambisius—tidak masalah, bagus—tapi harus punya rem. Jadi kapan harus direm, kapan harus digas?

Karena hidup ini kombinasi dua itu: jangan lupa, jangan putus asa karena Allah itu kuasa apapun, termasuk yang paling tidak masuk akal sekalipun. Jadi ini dua kendali utama dalam hidup kita. Sadarilah bahwa manusia itu terbatas, maka jangan sombong. Kenali batasmu, ngerti kapan berhenti, kapan harus maju. Dan jangan putus asa juga karena Allah maha kuasa.

Rasulullah itu dimikrajkan, diisrakkan oleh Allah di momen-momen paling rendah kehidupan beliau. Ditinggal mati Abu Thalib, ditinggal mati istri tercinta, kemudian dakwah ke Thaif di sana ditolak, dilempari batu berdarah-darah. Rasulullah sampai ada munajatnya yang populer sekali itu berkata betapa Rasulullah sangat sedih: "Ya Allah, aku ini diberi amanah yang seperti ini saja tidak bisa memenuhi. Aku ini memang lemah." Tapi terus ada kalimat yang populer sekali di bagian akhir munajat itu: "In lam yakun bika ghadabun 'alayya fala ubali"—Ya Allah asal Engkau tidak murka padaku, aku tidak peduli. Sudah yang penting Engkau jangan murka ya Allah.

Ini momen-momen titik ketika Kanjeng Nabi merasa sangat berat dalam berdakwah. Setelah itu beliau dihibur dengan Isra dan Miraj, menegaskan bahwa tidak usah sedih, tidak usah putus asa, tidak usah kecewa karena betapa maha kuasanya Allah—termasuk memperjalankan beliau dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa bahkan sampai Miraj.

Ini makna pertama, pelajaran untuk teman-teman yang muda-muda mungkin penting: ngerti rem, ngerti batas, tapi juga jangan pesimis. Jadi intinya jangan over, jangan overestimate, jangan underestimate. Manusia terbatas tapi tidak masalah kalau kita bersandar kepada Allah, kekuasaan Allah tidak terbatas.

Makna Kedua: Kemanusiaan dan Kehambaan

Makna yang kedua bisa juga kita ambil dari peristiwa Isra dan Miraj. Ini seakan-akan pelajaran dari Allah. Kenapa tidak langsung saja Kanjeng Nabi naik ke langit ketujuh? Karena manusia itu tugasnya tidak hanya kehambaan mengabdi pada Allah, tapi juga ada kemanusiaan. Tugas manusia untuk mengelola bumi karena kita ini khalifahnya.

Ini amanah kemanusiaan dan amanah kehambaan. Makanya diperjalankan dulu dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa—ini gerakan yang horizontal. Kita bereskan dunia. Setelah beres, kita naik menuju Allah—ini gerakan vertikalnya. Ini tanggung jawab kemanusiaan juga tanggung jawab kehambaan.

Makanya Kanjeng Nabi sampai di Masjidil Aqsa itu beliau mengimami para nabi yang lain. Ini semacam pelajaran bahwa sekarang zamannya beliau, zamannya Nabi Muhammad, beliau yang harus di depan. Kalau nabi-nabi sebelumnya sudah selesai tugasnya, sekarang ganti yang jadi imam harus Nabi Muhammad. Memang eranya era beliau dan beliau juga khataman nabiyyin, nabi penutup, nabi paling utama. Ini semacam tugas kemanusiaan, masih banyak yang harus diselesaikan. Baru setelah itu Miraj.

Makanya makna dari Isra Miraj itu menurut saya yang kedua bisa kita ambil: perjalanan kita menuju Allah adalah kehambaan, tapi jangan lupa kita juga punya banyak tanggung jawab kemanusiaan. Tujuan kita memang darul akhirah, akhirat. Tapi jangan lupa "wa la tansa nasibaka minad dunya"—jangan lupa urusan duniamu. Orang tidak akan beres akhiratnya kalau dunianya tidak beres.

Boleh dicek. Coba kalian cermati kisah para ulama besar, biasanya dunianya beres. Dunia beres itu segala amanah, segala tanggung jawab yang berhubungan dengan keduniaan itu tuntas. Kalau belum tuntas, biasanya terus kebalikannya—perbuatan-perbuatan baik yang harusnya menuju akhirat ditunggangi untuk kepentingan dunia. Ini perjalanannya kebalik, jadi Miraj dulu baru kemudian Isra. Ini agak sulit. Isra dulu baru Miraj—bereskan dulu dunianya baru naik Miraj. Ini kemanusiaan dan kehambaan.

Meskipun dalam praktiknya tidak sendiri-sendiri. Tidak bisa salat nanti kalau sudah kaya, tidak bisa kalau sudah beres urusan saya baru saya mendekat ke Allah. Tidak bisa sufisme besok saja kalau sudah lulus, puasa sunah, salat malam nanti saja kalau sudah lulus kuliah. Ini tidak harus begitu. Dua-duanya harus imbang. Isra dan Miraj itu dalam satu malam. Kemanusiaan dan kehambaan itu dua hal yang saling berkait.

Tidak mungkin kita memenuhi tugas kehambaan tanpa terpenuhi tugas kemanusiaan. Tidak mungkin kita beres urusan kemanusiaan kalau kehambaan kita rusak. Penjelasannya panjang tapi diyakini saja dulu: kalau agamamu kacau balau, duniamu insyaallah sama kacaunya. Sebaliknya juga kalau duniamu rusak tidak karuan, keagamaanmu juga nanti biasanya tidak beres juga. Maka tuntaskan dua-duanya dengan smooth: kemanusiaan dan kehambaan. Kemanusiaan diwakili oleh Isra, kehambaan diwakili dengan aktivitas Miraj.

Makna Ketiga: Bekal Perjalanan Menuju Allah

Makna ketiga—ini penjelasan tentang dalam perjalanan kita ini, inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, lewat Isra dan Miraj tadi, apa yang harus kita miliki biar perjalanan kita sukses? Ini saya membacanya dipahami dari ciri-ciri para nabi yang ditemui oleh Kanjeng Nabi dari langit pertama sampai langit ketujuh.

Teman-teman kan kadang bingung, dari langit satu sampai langit ketujuh kok komposisi nabinya tidak urut. Langit pertama Nabi Adam, langit kedua dua orang Nabi Yahya dan Isa, langit ketiga Nabi Yusuf, langit keempat Nabi Idris, langit kelima Nabi Harun, langit keenam Nabi Musa, langit ketujuh Nabi Ibrahim. Ini kadang-kadang kita membacanya agak sulit, maksudnya apa kok nabi-nabi ini yang dipertemukan dengan Rasulullah saat Miraj?

Ini membacanya versi anak muda kalau saya. Jadi di antara maknanya urutan nabi ini, ini sebenarnya bekal kita dalam perjalanan menuju Allah.

Langit Pertama: Nabi Adam

Bekal yang pertama apa? Kita bertemu Nabi Adam. Bertemu Nabi Adam itu berarti kita harus tahu sebelum menempuh perjalanan menuju Allah: kita ini siapa, dari mana, mau ke mana. Kalau orang Jawa, pelajaran tentang sangkan paraning dumadi. Nabi Adam ini simbol nabi yang langsung diberi amanat oleh Allah tugas sebagai khalifah di muka bumi. Berarti kita di muka bumi ini ada tujuannya, tidak iseng.

Dulu ini pesan pertama oleh Allah diberikan pada Nabi Adam. Maka bertemu Nabi Adam menyadarkan kita bahwa kita ini punya amanah, kita ini punya misi, punya tujuan di muka bumi ini. Teman-teman juga begitu, perjuangan di level apapun sebenarnya—apakah kemanusiaan, apakah kehambaan—harus sadar tujuan. Bahkan kuliah juga harus punya tujuan. Yang masih muda-muda harusnya sudah punya cita-cita: jangka pendek, jangka menengah, jangka panjang. Kalau tidak punya ini, tidak mungkin orang berjalan. Kalau random itu tidak jelas, nanti tidak terukur. Padahal tugas kita tidak random, tugas kita tegas, jelas.

Langit Kedua: Nabi Yahya dan Nabi Isa

Di langit kedua, Rasulullah bertemu Nabi Yahya dan Nabi Isa. Ini menarik, dua orang nabi yang sama-sama masih muda karena memang dua-duanya meninggal di usia muda. Ketemu dua orang remaja, dua orang pemuda di langit kedua. Dua orang ini bagi saya simbol yang pertama simbol semangat, ambisi anak-anak muda, plus simbol kesiapan untuk berkorban.

Jadi kalau teman-teman ingin menempuh cita-cita, harus semangatnya ditingkatkan dan siap berkorban. Korban itu bisa tenaga, bisa biaya, bisa waktu, bisa macam-macam. Kalau beliau Nabi Yahya, Nabi Isa, demi dakwahnya yang dikorbankan nyawa. Meskipun nanti Nabi Isa detik-detik terakhir diselamatkan oleh Allah, diangkat ke langit. Tapi sebenarnya dua-duanya adalah simbol pengorbanan.

Berarti setelah tahu tujuan, kemudian tingkatkan semangat, siaplah berkorban. Bagi yang tidak mau berkorban, tidak mau capek, tidak mau lelah, pengin enaknya saja—mumpung pandemi santai-santai saja, rebahan saja, kuliah dosennya ngomong sendiri sampai capek kita di kamar sambil ngopi, ngerokok, main game, dosennya tidak ngerti, matiin screennya—ayo diperbarui semangatnya. Jadi rela berkorban, capek sedikit, sulit sedikit, kehilangan kuota tidak apa-apa. Memang kuliah ini bagian dari target masa depanmu.

Langit Ketiga: Nabi Yusuf

Langit ketiga ketemu dengan Nabi Yusuf. Kalau teman-teman biasanya yang diingat-ingat Nabi Yusuf itu gantengnya, tampannya yang luar biasa. Iya, dari sisi itu memang beliau paling tampan. Tapi coba perhatikan riwayat Nabi Yusuf. Nabi Yusuf ini pekerja keras dari seorang anak yang dibuang ke sumur sampai nanti jadi menteri besar. Ini perjuangan yang tidak mudah—difitnah bolak-balik, difitnah perempuan sampai masuk penjara bertahun-tahun, tapi pantang menyerah, berjuang sampai kemudian jadi menteri besar.

Ini menurut saya teladan. Jadi setelah semangat di langit kedua, siap berkorban, kemudian Nabi Yusuf bagi saya simbol kerja keras, pantang menyerah, tidak putus asa. Ini penting bagi teman-teman yang muda-muda. Jadi tidak hanya dilihat kisah cintanya, tapi coba lihat perjuangan beliau.

Langit Keempat: Nabi Idris

Yang keempat ketemu dengan Nabi Idris. Nabi Idris ini kalau dalam sejarahnya dikenal sebagai nabi yang cerdas. Ada kalau katanya Syed Husein Nasr, Nabi Idris ini bisa disebut filosof pertama. Nanti banyak temuan-temuannya Nabi Idris yang hari ini kita pakai—ada cerita sandal, kemudian model seperti peniti, itu temuannya Nabi Idris. Meskipun tidak tahu riwayatnya dari mana, tapi yang jelas memang masyhur kalau Nabi Idris ini orang cerdas, pintar.

Kalau di bukunya Syed Husein Nasr, Idris itu kalau pakai bahasa Latin jadi Aramis. Nanti kalau pakai bahasa Yunani namanya jadi Hermes. Makanya nanti ada cabang ilmu yang terinspirasi oleh nama Hermes ini sehingga nama ilmunya adalah hermeneutik. Banyak orang anti hermeneutik karena mungkin karena istilahnya saja tidak islami, karena Hermes itu istilah Yunani. Coba diislamkan istilahnya pakai istilah bahasa Arabnya—Hermes itu Idris—mungkin orang tidak protes.

Simbolnya Idris adalah kecerdasan. Jadi menuju Allah itu harus mau mendayagunakan akalnya, tidak hanya kerja keras tapi juga kerja yang cerdas. Ini simbol dari Nabi Idris ditemui oleh Rasulullah di langit keempat. Makanya tadi saya bilang susunannya acak. Iya, karena ini mengikuti kebutuhannya. Jadi setelah ngerti tujuannya, semangat dan siap berjuang, rela berkorban, kemudian kerja keras, semuanya harus diwarnai dengan akal budi. Di situlah masuk kecerdasan di langit yang keempat.

Langit Kelima: Nabi Harun

Di langit kelima bertemulah beliau dengan Nabi Harun. Nabi Harun ini nabi yang memang menemani Nabi Musa, memang diminta oleh Nabi Musa untuk menemani beliau berdakwah. Nabi Musa punya kelemahan memang dalam tata bicara karena beliau waktu kecil oleh Allah diilhami untuk menelan bara api ketika diuji oleh Firaun—disuruh milih antara roti atau api. Sebenarnya mau milih roti, tapi oleh Allah ini kalau milih roti bahaya nyawanya terancam. Akhirnya diambil bara api sehingga kalau ngomong agak cedal, agak pelat Nabi Musa. Itu makanya beliau kurang fasikh dan beliau berdoa diberi teman Nabi Harun. Kalau Nabi Harun ini memang pintar, pandai berkomunikasi.

Berarti apa? Bekal selanjutnya perjalanan menuju Allah harus punya keterampilan berbagi, berkomunikasi. Mengapa di banyak momen kita butuh orang lain? Tidak mungkin jalan sendiri. Salat jamaah butuh orang lain, haji bareng orang lain, zakat memberikan pada orang lain. Kemampuan untuk berbagi, berkomunikasi ini juga nanti jadi kunci. Makanya Rasulullah ketemu juga dengan Nabi Harun. Ini tugas kita juga untuk melatih kemampuan berbagi dengan yang lain.

Langit Keenam: Nabi Musa

Di langit keenam bertemulah kalau ini populer sekali dengan Nabi Musa. Ini nabi yang sangat terkenal gaul kalau ngomong itu enak, mengakerapi bahkan sama Allah juga mengakerapi. Nabi Musa ini adalah simbol dari dua hal kalau menurut saya: keberanian dan keberpihakan.

Keberanian ini tidak perlu ditanyakan lagi. Betapa gagah beraninya seorang Nabi Musa yang dilawan Firaun. Kemudian di banyak cerita beliau betapa tangguhnya sampai sekali pukul ada orang yang tewas zaman beliau muda itu sehingga beliau lari. Jadi berani untuk bicara kebenaran. Kalau dia tidak cocok dia berani protes. Teman-teman silakan dicek di kitab-kitab tafsir tentang kisah-kisah Nabi Musa. Di beberapa ayat itu rasanya Nabi Musa ini komplain kepada Allah. Jadi Allah menetapkan apa, Nabi Musa nawar. Bahkan nanti ada kisahnya Isra Miraj, salat 50 waktu itu provokasinya Nabi Musa pada Nabi Muhammad untuk nawar—yang berani seperti ini Nabi Musa.

Tapi jangan lupa Nabi Musa ini punya ciri keberpihakan yang kuat, berpihak pada yang lemah, yang tertindas. Nabi Musa terkenal kisah beliau menemani Bani Israel. Bani Israel itu nakalnya, curangnya, licinya luar biasa sejak dulu. Tapi mengapa ditemani terus saat itu oleh Nabi Musa, salah bolak-balik sampai nyembah sapi bikinan dari emas? Tetap dimaafkan, ditemani karena saat itu orang-orang Bani Israel ini posisinya sedang tertindas.

Jadi Nabi Musa ini sangat peduli dengan umat yang tertindas, umat yang lemah. Ini menurut saya penting. Di antara bekal nanti perjalanan kita menuju Allah itu kepedulian kita kepada yang lemah dan tertindas. Ini pelajaran dari Nabi Musa. Termasuk ketika tawar-menawar jumlah salat sampai lima, itu yang dipertimbangkan: "Umatmu itu lemah, Muhammad. Jangan mau 50, tawar lagi." Itu berarti apa? Beliau ini memang punya hati yang sangat peduli pada orang-orang yang lemah dan tertindas

. Ini menurut saya kita yang muda-muda harusnya punya kualifikasi Musa ini: berani dan berpihak.

Langit Ketujuh: Nabi Ibrahim

Dan yang langit ketujuh ketemu dengan Nabi Ibrahim. Kalau Nabi Ibrahim ini simbol dari tawakal, istiqamah, pasrah. Ini di puncak perjalanan, apapun hasilnya lakukan seperti Nabi Ibrahim, pasrahkan semua pada Allah. Terimalah apapun keputusan Allah meskipun pahit. Nabi Ibrahim mendapat perintah bahkan untuk membunuh putra tersayang, dijalani karena itu memang ketetapan Allah.

Ini pelajaran terakhir dalam Miraj adalah pelajaran untuk tawakal, pelajaran untuk memasrahkan semuanya kepada Allah. Mental sebagaimana dimiliki oleh Nabi Ibrahim.

Jadi ini menurut saya rahasia di antara rahasia urutan para nabi, tapi ini tafsir untuk anak muda. Nanti akan beda lagi kalau tafsirnya versi para sufi akan beda lagi mungkin tafsir dari sudut pandang yang lain. Ini yang saya sampaikan perjalanannya anak-anak muda menempuh cita-citanya. Karena teman-teman yang muda-muda masih semangat, jadi jangan lupa Nabi Adam, jangan lupa Nabi Yahya dan Isa, jangan lupa Nabi Yusuf, Nabi Idris, Nabi Harun, Nabi Musa, dan Nabi Ibrahim.

Makna Keempat: Kesadaran Profetik

Makna yang keempat—ini penting. Ada pelajaran dari Rasulullah dalam perjalanan Miraj. Ini saya meminjam istilah intelektual muslim Pakistan, Muhammad Iqbal. Beliau punya istilah kesadaran: ada istilah kesadaran mistik, kesadaran profetik.

Rasulullah naik Miraj sampai langsung di posisi berhadap-hadapan dengan Allah. Posisi ini inilah yang dikejar-kejar oleh para sufi, para mistik. Teorinya macam-macam, suluknya macam-macam para sufi itu untuk mencapai makam dekat berhadap-hadapan, bahkan ada yang sampai bilang bersatu—makrifat, syuhud, kasyaf, wahdatul wujud, ittihad, macam-macam. Ini yang dikejar oleh para sufi. Kalau Kanjeng Nabi langsung dianugerahi oleh Allah dengan Miraj bisa berhadap-hadapan meskipun masih min warai hijab.

Pelajaran apa dari situ sebenarnya? Katanya Muhammad Iqbal, ada beda antara kesadarannya para sufi tertentu, kesadaran mistik dengan kesadaran profetik seperti yang dimiliki oleh Rasulullah. Kalau para sufi, puncak perjalanannya bertemu Allah itu selesai. Setelah bertemu Allah, dia asyik di sana, menikmati makamnya, menikmati keasyikannya bersama Allah saja. Beda dengan Nabi, beda dengan Rasulullah. Setelah mengalami puncak masih kembali lagi ke dunia, ke bumi karena sayang dan cinta pada umatnya.

Ini menurut saya pelajaran penting bagi teman-teman yang muda-muda. Hari ini teman-teman sedang berjuang mati-matian menempati diri sampai puncak. Kalau nanti teman-teman sampai puncak jangan berhenti di situ, menikmati kesuksesanmu sendiri, asyik sendiri dengan keberhasilanmu. Pikirkan juga, pedulikan juga orang-orang sekelilingmu, umatmu, orang lain—harus mau berbagi.

Ini kalau para sufi—kritiknya Iqbal—banyak mengkritik sufi-sufi yang pantais. Jadi dia selesai dengan wahdatul wujud, dia selesai dengan makrifat, dia selesai dengan syuhud. Tapi kalau Nabi, padahal ketemu Allah ini puncak-puncaknya nikmat. Kalau teman-teman baca kitab-kitab kuning, besok di surga setelah bermacam-macam kenikmatan kita mendapat satu kenikmatan terakhir paling puncak yaitu bertemu Allah. Dan Rasulullah ketemu langsung saat itu waktu Miraj. Harusnya kalau sudah begitu sudah di situ saja, tidak balik-balik apalagi zaman susah, zaman Nabi sedang banyak ujian.

Tapi karena Rasulullah sangat cinta pada kita, beliau tetap kembali lagi ke bumi, kembali lagi untuk peduli dengan umatnya. Ini namanya kesadaran profetik.

Saya masih ingat ada kalimat dari seorang sufi namanya Abu Yazid Bustomi. Abu Yazid Bustomi ini satu ketika berkata, "Seandainya aku adalah Muhammad, maka setelah mengalami puncak pertemuan dengan Allah, aku tidak akan kembali lagi." Pokoknya pertemuan itu sudah final, selesai. Ngapain lagi? Nyari kembali ke dunia yang semacam turun level gitu kalau bahasanya Abu Yazid Bustomi.

Tapi karena Kanjeng Nabi itu sangat sayang, sangat cinta dengan kita, melepaskan puncak kenikmatan pun tidak berat. Ini namanya kesadaran profetik. Semoga teman-teman yang muda-muda ini—orang-orang berkualitas semua—nantinya kalau sudah mengenyam puncak kualitas dirimu, jangan berhenti dan dinikmati sendiri saja. Tapi siap sedialah untuk berbagi dengan yang lain dalam bentuk apapun. Karena berbagi itu tidak cuma harta, tidak cuma uang. Bisa berbagi ilmu, bisa berbagi wawasan, bahkan sekedar berbagi kepedulian, kebersamaan, itu juga sudah berbagi.

Makna Kelima: Visioner dan Aspiratif

Yang terakhir—saya ambil makna dari upaya Nabi Musa dan Nabi Muhammad untuk nego jumlah salat. Biasanya siapa yang mau membantah perintahnya Allah? Siapa yang berani? Selain takut mungkin juga malu. Seperti Nabi Muhammad terakhir-terakhir malu mau nego lagi. Meskipun Nabi Musa masih memprovokasi—ayolah lima waktu itu masih berat—tapi Nabi Muhammad malu. Sudahlah lima itu sudah hanya sekian persennya dari 50.

Maka ini bahasa saya memahami ini: sebelum memutuskan sesuatu dalam hidup ini, kita harus hidup secara visioner. Visioner itu memandang ke depan. Yang dilakukan oleh Nabi Musa: "Mengkhawatirkan umatmu besok loh, lemah-lemah. Umatmu besok banyak yang mungkin malas-malas, sukanya rebahan saja dan macam-macam." Nabi Musa bisa memprediksi, mungkin dianalogikan dengan umatnya. Umatnya Nabi Musa itu diberi banyak keistimewaan, macam-macam saja masih ngeyel-ngeyel. Sudah dikasih beberapa mukjizat, beberapa kekhususan. Bani Israel sampai hari ini merasa dia kaum yang terpilih. Sudah diberi macam-macam begitu, masih bangkang, masih ngeyel.

Nabi Musa menganalogikan dengan umatnya ini, ini tidak akan jauh-jauh dari umatmu besok Muhammad. Ini kalau bahasa psikologi namanya visioner, melihat ke depan. Kalau dilihat zaman Nabi dan para sahabat, 50 rakaat itu kecil. Karena hanya melihat saat itu saja, sedang semangat-semangatnya beragama, apalagi ada Rasulullah yang nungguin. Tapi karena membaca ke depan, memahami ke depan—ini namanya visioner—maka Rasulullah memberanikan diri untuk nawar perintah-perintah salat itu.

Dan itu bahasa saya, ini tidak menyuarakan diri beliau sendiri. Rasulullah salat 50 waktu sehari itu kecil, simpel, tapi yang disuarakan adalah umat. Ini bahasa saya itu cara berpikir yang aspiratif, mendengarkan aspirasi, suaranya umat. Kalau Rasulullah sendiri yang begitu, simpel 50 waktu tidak berat. Bahkan salat kita yang wajib dan yang sunah kalau kita lengkapi dalam sehari bisa menyentuh 50. Kalau mahasiswa-mahasiswa yang saleh, seandainya 50 pun tidak berat. Tapi banyak saudara-saudara kita yang lima saja dia harus mati-matian.

Ini bahasa saya Rasulullah itu aspiratif, tidak hanya menerima suara-suara dari yang memang sudah jago, tapi juga mempertimbangkan umatnya mungkin yang lemah, yang kesulitan. Jadi visioner plus aspiratif. Di situ terjadi tawar-menawar perintah salat. Ini menurut saya mental yang bisa kita teladani dari Rasulullah dalam peristiwa Isra Miraj.

Penutup

Jangan putus asa karena Allah itu kuasa apapun, termasuk yang paling tidak masuk akal sekalipun. Jadi ini dua kendali utama dalam hidup kita. Sadarilah bahwa manusia itu terbatas, maka jangan sombong. Kenali batasmu, ngerti kapan berhenti, kapan harus maju. Dan jangan putus asa juga karena Allah maha kuasa, termasuk memperjalankan beliau dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa bahkan sampai Miraj.


Referensi: YouTube Channel “Ruang Sinau”