Makna Rahasia Dibalik Dahsyatnya Isra Miraj
Oleh: Dr. Fahruddin Faiz
Pendahuluan
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah
teman-teman. Kita lanjutkan lagi ngaji filsafat kita. Semoga teman-teman semua
masih siap dan mau untuk istikamah, nambah ilmu, nambah wawasan.
Saya tidak pakai pembukaan apa-apa untuk Isra Miraj ini.
Langsung kita masuk ke pemaknaan. Bagi yang ingin mendalam—ini kan teman-teman
orang-orang berkualitas semua dari wajahnya kelihatan—yang ingin mendalami
kajian Isra Miraj boleh. Saya punya empat kitab yang berhubungan dengan Isra
Miraj.
https://ahmadiyah.org/wp-content/uploads/2019/03/isra-miraj.jpg
Yang nomor satu itu yang paling populer. Teman-teman yang
dari pesantren kemungkinan besar pernah mengaji kitab ini, kitab Dardir. Penulisnya
Syekh Najmuddin Alghaiti Adardir, berjudul Bainama Qisatul Mikraj. Ini
zaman saya dulu di pesantren senang kalau ngaji kitab ini karena banyak
cerita-cerita, banyak dongeng-dongeng luar biasa yang menginspirasi.
Yang kedua ini karya ulama kita, ulama Nusantara, Syekh
Abdul Somad Alfalimbani, Risalah Latifah fi Bayanil Isra Wal Mikraj.
Yang ketiga juga dari ulama Nusantara, Syekh Daud Alpattan, Kifayatul Muhtaj
fi Bayanil Isra Wal Mikraj. Jadi ulama-ulama Nusantara kita juga banyak
karya tentang Isra Miraj ini.
Kalau yang terakhir ini penulisnya Syaikhul Akbar Ibnu
Arabi. Teman-teman insyaallah pernah dengar nama ini. Judulnya Alisra ilal
Maqomil Asro. Ini bagus kalau ada yang ingin mendalami makna sebenarnya
salat. Kan ada hadis bahwa salat itu mikrajul mukmin. Nah, ini analisis dari
tasawuf yang filosofis dari Syekhul Akbar Ibnu Arabi tentang bagaimana kita
naik menuju Allah antara lain melalui salat.
Saya tidak akan bahas empat kitab ini sore hari ini. Ini
cuma memberi informasi saja. Siapa tahu ada yang pengin mendalami kajian Isra
Miraj. Tidak mungkin sore ini saya ngaji sebanyak ini. Yang penting teman-teman
yang tertarik silakan masuk ke situ, siapa tahu bisa disambungkan dengan ilmu
teman-teman.
Menjawab Keraguan
tentang Isra Miraj
Saya awali dari ayat ini. Ayat ini insyaallah teman-teman
juga sudah paham bahkan mungkin sudah hafal. Ada bagian yang saya warnai. Saya
ingin menjelaskan yang saya warnai itu saja untuk menjawab, karena
kemarin-kemarin saya lihat banyak sekali postingan-postingan yang menggugat
Isra Miraj.
Sebenarnya jawabannya ada di kata-kata yang saya tandai
dengan warna itu. Ini kalau kita beriman sama Al-Qur'an. Saya lihat kemarin ada
beberapa bahkan intelektual yang mempertanyakan validitas peristiwa Isra Miraj.
Kata pertama: Subhana
Subhana itu menunjukkan ketakjuban, berarti ada sesuatu
yang aneh dan luar biasa. Makanya diawali subhana, maha suci. Karena
memang Isra Miraj ini peristiwa yang luar biasa. Kalau ada peristiwa yang luar
biasa yang mengalami Nabi, itu biasanya kita sebut sebagai mukjizat. Kalau itu
mukjizat, tidak aneh kalau dia tidak masuk akal. Semua mukjizat itu memang kharqul
'adah, tidak masuk akal. Kalau masuk akal biasa, tidak ada orang tertarik.
Justru fungsi—di antara fungsinya mukjizat—itu menunjukkan
kekuasaan Allah bahwa ini bukan manusia yang bikin-bikin. Makanya subhana.
Jadi jawaban mudahnya kalau teman-teman malas debat, kalau ada yang tanya apa
mungkin ada Isra Miraj, apa mungkin Kanjeng Nabi dari Masjidil Haram ke
Masjidil Aqsa sekejap, jawabannya simpel: itu mukjizat. Kalau mukjizat tidak
ada yang tidak mungkin. Nabi Isa bisa menghidupkan orang mati, Nabi Ibrahim
bisa dibakar tidak mempan, Nabi Musa bisa menyeberang laut hanya dengan
memukulkan tongkat. Itu semua tidak masuk akal. Ya memang mukjizat. Jadi bagi
yang ingin sederhana jawabnya, cukup: itu mukjizat. Tidak bisa dikalkulasi
dengan rasio apapun, tidak akan nyambung.
Kata kedua: Asro
Coba perhatikan kalimat asro itu. Kenapa bukan saro?
Kalau Nabi yang berjalan, asro itu artinya memperjalankan. Berarti bukan
Kanjeng Nabi yang berjalan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, tapi Allah
yang memperjalankan Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Jadi
pelakunya Isra Miraj itu—kalau dari kata-kata asro ini—itu sebenarnya
Allah. Kalau itu Allah, tidak ada yang tidak masuk akal, semuanya serba
mungkin.
Jadi apa bisa Nabi jalan sejauh itu dalam waktu semalam?
Kalau Nabi sendiri sebagai manusia tidak akan mampu. Tapi ini pelakunya—kalau
ada peristiwa kan tanya pelakunya, agennya—itu Allah. Makanya Al-Qur'an pakai
kalimat asro, memperjalankan. Maka kalau pelakunya Allah, apa yang tidak
mungkin?
Kata ketiga: Bi'abdihi
Bi'abdihi itu abdun,
hamba. Ini sebenarnya untuk jawab karena ada yang punya tesis bahwa Rasulullah
itu Isra Miraj hanya rohnya saja, seperti orang mimpi atau seperti orang
melakukan perjalanan astral. Jadi fisiknya tidak ikut, fisiknya tidur di
Masjidil Haram. Ada pandangan seperti ini, tapi ini terbantahkan dengan
kata-kata Al-Qur'an: abdun.
Abdun itu hambanya. Kalau dalam
Al-Qur'an kata-kata abdun itu yang ditunjuk adalah fisik dan rohani,
bukan hanya fisiknya atau rohani saja. Ada banyak kata-kata abdun dalam
Al-Qur'an yang dimaksud adalah manusia secara jasmani dan rohani. Ini untuk
jawab kalau ada yang mengkritik jangan-jangan itu seperti mimpi.
Padahal kalau hanya mimpi, kalau hanya rohnya saja Kanjeng
Nabi yang Miraj dan Isra, pasti bukan sesuatu yang luar biasa. Kalau hanya
seperti mimpi, kita dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, dari Indonesia ke
Amerika dalam waktu tidur selama setengah jam bisa. Kalau hanya mimpi, maka
tidak luar biasa kalau hanya rohnya saja. Makanya peristiwa Isra Miraj itu
disebut luar biasa, disebut mukjizat karena abdihi lahir dan batin,
tidak hanya batinnya saja, rohnya saja. Mengapa bisa begitu? Ya karena itu
Allah yang melakukan asro.
Sisanya nanti teman-teman bisa lihat di kitab tafsir. Cuma
itu saya angkat dari tiga kata-kata pertama ayat yang populer sekali di saat
kita membahas Isra dan Miraj, sekaligus menjawab—kemarin saya lihat di beberapa
media sosial itu banyak sindiran-sindiran terhadap Isra dan Miraj.
Lima Makna Isra
Miraj untuk Anak Muda
Sore hari ini saya akan masuk ke makna-makna. Saya cari
makna-makna yang cocok untuk teman-teman yang masih muda, apalagi yang
mahasiswa. Maknanya bisa luas dari banyak kitab yang saya sebut di depan tadi.
Isra Miraj itu maknanya luar biasa macam-macam, mulai tentang kelemahan
manusia, kekuasaan Allah, salat, dan macam-macam. Maka sore ini coba kita pilih
beberapa makna yang menurut saya cocok untuk teman-teman yang masih muda yang memulai
perjuangan membangun generasi Indonesia yang akan datang. Jadi ini makna versi
anak muda.
Makna Pertama:
Keterbatasan Manusia dan Kekuasaan Allah
Makna pertama menurut saya untuk teman-teman yang muda-muda
dari peristiwa Isra Miraj adalah tentang keterbatasan manusia dan kekuasaan
Allah. Ini menurut saya yang paling urgen, makna yang pertama ini. Karena
kenapa saya arahkan ke anak-anak muda? Karena biasanya yang muda ini masih
meluap-luap, masih belum bisa mengkalkulasi kapasitas kekuatan dirinya, kadang-kadang
lupa keterbatasannya—baik keterbatasan fisik, keterbatasan mental, keterbatasan
rohaninya.
Mungkin ada banyak kisah orang yang memforsir rohaninya,
atau orang yang fokus pada dunia saja, pada tenaganya, atau yang belajar ilmu
agak overestimate dengan kemampuan berpikirnya. Ini orang-orang yang lupa
batasnya. Banyak konflik, banyak tragedi dalam hidup ini karena orang lupa
batasnya. Bahkan beragama juga banyak orang yang lupa batas-batasnya. Ketika
ada istilah ekstrem, ketika ada istilah radikal, itu kan sebenarnya orang-orang
yang lupa dengan batas—mana yang boleh saya tabrak, mana yang jangan, sampai di
titik mana saya harus masuk, sampai di titik mana saya harus menahan diri. Ini
pengetahuan tentang keterbatasan.
Isra Miraj menyadarkan kita bahwa kita ini lemah dan
terbatas. Memahami peristiwa Isra sebagaimana yang dialami Rasulullah—yang
teman-teman pahami—itu rasanya agak berat. Jadi ketika itu berat, jangan
dilempar keluar tapi diintrospeksi ke dalam bahwa ternyata aku ini lemah,
memahami yang seperti itu saja tidak mampu. Padahal sudah yakin tadi Allah itu
maha kuasa, tapi memasukkan peristiwa ini kok susah, berarti kita ini terbatas.
Orang yang bisa bahagia itu orang yang ngerti batasnya.
Orang yang tidak tahu batas itu susah untuk bahagia karena dia akan
dikejar-kejar terus, tidak ngerti kapan harus stop, kapan harus berhenti.
Makanya saya arahkan ke teman-teman yang muda karena biasanya yang muda ini
baru menggebu-gebu, ambisius—tidak masalah, bagus—tapi harus punya rem. Jadi
kapan harus direm, kapan harus digas?
Karena hidup ini kombinasi dua itu: jangan lupa, jangan
putus asa karena Allah itu kuasa apapun, termasuk yang paling tidak masuk akal
sekalipun. Jadi ini dua kendali utama dalam hidup kita. Sadarilah bahwa manusia
itu terbatas, maka jangan sombong. Kenali batasmu, ngerti kapan berhenti, kapan
harus maju. Dan jangan putus asa juga karena Allah maha kuasa.
Rasulullah itu dimikrajkan, diisrakkan oleh Allah di
momen-momen paling rendah kehidupan beliau. Ditinggal mati Abu Thalib, ditinggal
mati istri tercinta, kemudian dakwah ke Thaif di sana ditolak, dilempari batu
berdarah-darah. Rasulullah sampai ada munajatnya yang populer sekali itu
berkata betapa Rasulullah sangat sedih: "Ya Allah, aku ini diberi amanah
yang seperti ini saja tidak bisa memenuhi. Aku ini memang lemah." Tapi
terus ada kalimat yang populer sekali di bagian akhir munajat itu: "In
lam yakun bika ghadabun 'alayya fala ubali"—Ya Allah asal Engkau tidak
murka padaku, aku tidak peduli. Sudah yang penting Engkau jangan murka ya
Allah.
Ini momen-momen titik ketika Kanjeng Nabi merasa sangat
berat dalam berdakwah. Setelah itu beliau dihibur dengan Isra dan Miraj,
menegaskan bahwa tidak usah sedih, tidak usah putus asa, tidak usah kecewa
karena betapa maha kuasanya Allah—termasuk memperjalankan beliau dari Masjidil
Haram ke Masjidil Aqsa bahkan sampai Miraj.
Ini makna pertama, pelajaran untuk teman-teman yang
muda-muda mungkin penting: ngerti rem, ngerti batas, tapi juga jangan pesimis.
Jadi intinya jangan over, jangan overestimate, jangan underestimate. Manusia
terbatas tapi tidak masalah kalau kita bersandar kepada Allah, kekuasaan Allah
tidak terbatas.
Makna Kedua:
Kemanusiaan dan Kehambaan
Makna yang kedua bisa juga kita ambil dari peristiwa Isra
dan Miraj. Ini seakan-akan pelajaran dari Allah. Kenapa tidak langsung saja
Kanjeng Nabi naik ke langit ketujuh? Karena manusia itu tugasnya tidak hanya
kehambaan mengabdi pada Allah, tapi juga ada kemanusiaan. Tugas manusia untuk
mengelola bumi karena kita ini khalifahnya.
Ini amanah kemanusiaan dan amanah kehambaan. Makanya
diperjalankan dulu dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa—ini gerakan yang
horizontal. Kita bereskan dunia. Setelah beres, kita naik menuju Allah—ini
gerakan vertikalnya. Ini tanggung jawab kemanusiaan juga tanggung jawab
kehambaan.
Makanya Kanjeng Nabi sampai di Masjidil Aqsa itu beliau
mengimami para nabi yang lain. Ini semacam pelajaran bahwa sekarang zamannya
beliau, zamannya Nabi Muhammad, beliau yang harus di depan. Kalau nabi-nabi
sebelumnya sudah selesai tugasnya, sekarang ganti yang jadi imam harus Nabi
Muhammad. Memang eranya era beliau dan beliau juga khataman nabiyyin,
nabi penutup, nabi paling utama. Ini semacam tugas kemanusiaan, masih banyak
yang harus diselesaikan. Baru setelah itu Miraj.
Makanya makna dari Isra Miraj itu menurut saya yang kedua
bisa kita ambil: perjalanan kita menuju Allah adalah kehambaan, tapi jangan
lupa kita juga punya banyak tanggung jawab kemanusiaan. Tujuan kita memang
darul akhirah, akhirat. Tapi jangan lupa "wa la tansa nasibaka minad
dunya"—jangan lupa urusan duniamu. Orang tidak akan beres akhiratnya
kalau dunianya tidak beres.
Boleh dicek. Coba kalian cermati kisah para ulama besar,
biasanya dunianya beres. Dunia beres itu segala amanah, segala tanggung jawab
yang berhubungan dengan keduniaan itu tuntas. Kalau belum tuntas, biasanya
terus kebalikannya—perbuatan-perbuatan baik yang harusnya menuju akhirat
ditunggangi untuk kepentingan dunia. Ini perjalanannya kebalik, jadi Miraj dulu
baru kemudian Isra. Ini agak sulit. Isra dulu baru Miraj—bereskan dulu dunianya
baru naik Miraj. Ini kemanusiaan dan kehambaan.
Meskipun dalam praktiknya tidak sendiri-sendiri. Tidak bisa
salat nanti kalau sudah kaya, tidak bisa kalau sudah beres urusan saya baru
saya mendekat ke Allah. Tidak bisa sufisme besok saja kalau sudah lulus, puasa
sunah, salat malam nanti saja kalau sudah lulus kuliah. Ini tidak harus begitu.
Dua-duanya harus imbang. Isra dan Miraj itu dalam satu malam. Kemanusiaan dan
kehambaan itu dua hal yang saling berkait.
Tidak mungkin kita memenuhi tugas kehambaan tanpa terpenuhi
tugas kemanusiaan. Tidak mungkin kita beres urusan kemanusiaan kalau kehambaan
kita rusak. Penjelasannya panjang tapi diyakini saja dulu: kalau agamamu kacau
balau, duniamu insyaallah sama kacaunya. Sebaliknya juga kalau duniamu rusak
tidak karuan, keagamaanmu juga nanti biasanya tidak beres juga. Maka tuntaskan
dua-duanya dengan smooth: kemanusiaan dan kehambaan. Kemanusiaan diwakili oleh
Isra, kehambaan diwakili dengan aktivitas Miraj.
Makna Ketiga: Bekal
Perjalanan Menuju Allah
Makna ketiga—ini penjelasan tentang dalam perjalanan kita
ini, inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, lewat Isra dan Miraj tadi, apa
yang harus kita miliki biar perjalanan kita sukses? Ini saya membacanya
dipahami dari ciri-ciri para nabi yang ditemui oleh Kanjeng Nabi dari langit
pertama sampai langit ketujuh.
Teman-teman kan kadang bingung, dari langit satu sampai
langit ketujuh kok komposisi nabinya tidak urut. Langit pertama Nabi Adam,
langit kedua dua orang Nabi Yahya dan Isa, langit ketiga Nabi Yusuf, langit
keempat Nabi Idris, langit kelima Nabi Harun, langit keenam Nabi Musa, langit
ketujuh Nabi Ibrahim. Ini kadang-kadang kita membacanya agak sulit, maksudnya
apa kok nabi-nabi ini yang dipertemukan dengan Rasulullah saat Miraj?
Ini membacanya versi anak muda kalau saya. Jadi di antara
maknanya urutan nabi ini, ini sebenarnya bekal kita dalam perjalanan menuju
Allah.
Langit Pertama: Nabi Adam
Bekal yang pertama apa? Kita bertemu Nabi Adam. Bertemu
Nabi Adam itu berarti kita harus tahu sebelum menempuh perjalanan menuju Allah:
kita ini siapa, dari mana, mau ke mana. Kalau orang Jawa, pelajaran tentang sangkan
paraning dumadi. Nabi Adam ini simbol nabi yang langsung diberi amanat oleh
Allah tugas sebagai khalifah di muka bumi. Berarti kita di muka bumi ini ada
tujuannya, tidak iseng.
Dulu ini pesan pertama oleh Allah diberikan pada Nabi Adam.
Maka bertemu Nabi Adam menyadarkan kita bahwa kita ini punya amanah, kita ini
punya misi, punya tujuan di muka bumi ini. Teman-teman juga begitu, perjuangan
di level apapun sebenarnya—apakah kemanusiaan, apakah kehambaan—harus sadar
tujuan. Bahkan kuliah juga harus punya tujuan. Yang masih muda-muda harusnya
sudah punya cita-cita: jangka pendek, jangka menengah, jangka panjang. Kalau
tidak punya ini, tidak mungkin orang berjalan. Kalau random itu tidak jelas,
nanti tidak terukur. Padahal tugas kita tidak random, tugas kita tegas, jelas.
Langit Kedua: Nabi Yahya dan Nabi Isa
Di langit kedua, Rasulullah bertemu Nabi Yahya dan Nabi
Isa. Ini menarik, dua orang nabi yang sama-sama masih muda karena memang
dua-duanya meninggal di usia muda. Ketemu dua orang remaja, dua orang pemuda di
langit kedua. Dua orang ini bagi saya simbol yang pertama simbol semangat,
ambisi anak-anak muda, plus simbol kesiapan untuk berkorban.
Jadi kalau teman-teman ingin menempuh cita-cita, harus
semangatnya ditingkatkan dan siap berkorban. Korban itu bisa tenaga, bisa
biaya, bisa waktu, bisa macam-macam. Kalau beliau Nabi Yahya, Nabi Isa, demi
dakwahnya yang dikorbankan nyawa. Meskipun nanti Nabi Isa detik-detik terakhir
diselamatkan oleh Allah, diangkat ke langit. Tapi sebenarnya dua-duanya adalah
simbol pengorbanan.
Berarti setelah tahu tujuan, kemudian tingkatkan semangat,
siaplah berkorban. Bagi yang tidak mau berkorban, tidak mau capek, tidak mau
lelah, pengin enaknya saja—mumpung pandemi santai-santai saja, rebahan saja,
kuliah dosennya ngomong sendiri sampai capek kita di kamar sambil ngopi,
ngerokok, main game, dosennya tidak ngerti, matiin screennya—ayo diperbarui
semangatnya. Jadi rela berkorban, capek sedikit, sulit sedikit, kehilangan
kuota tidak apa-apa. Memang kuliah ini bagian dari target masa depanmu.
Langit Ketiga: Nabi Yusuf
Langit ketiga ketemu dengan Nabi Yusuf. Kalau teman-teman
biasanya yang diingat-ingat Nabi Yusuf itu gantengnya, tampannya yang luar
biasa. Iya, dari sisi itu memang beliau paling tampan. Tapi coba perhatikan
riwayat Nabi Yusuf. Nabi Yusuf ini pekerja keras dari seorang anak yang dibuang
ke sumur sampai nanti jadi menteri besar. Ini perjuangan yang tidak
mudah—difitnah bolak-balik, difitnah perempuan sampai masuk penjara
bertahun-tahun, tapi pantang menyerah, berjuang sampai kemudian jadi menteri
besar.
Ini menurut saya teladan. Jadi setelah semangat di langit
kedua, siap berkorban, kemudian Nabi Yusuf bagi saya simbol kerja keras,
pantang menyerah, tidak putus asa. Ini penting bagi teman-teman yang muda-muda.
Jadi tidak hanya dilihat kisah cintanya, tapi coba lihat perjuangan beliau.
Langit Keempat: Nabi Idris
Yang keempat ketemu dengan Nabi Idris. Nabi Idris ini kalau
dalam sejarahnya dikenal sebagai nabi yang cerdas. Ada kalau katanya Syed
Husein Nasr, Nabi Idris ini bisa disebut filosof pertama. Nanti banyak
temuan-temuannya Nabi Idris yang hari ini kita pakai—ada cerita sandal,
kemudian model seperti peniti, itu temuannya Nabi Idris. Meskipun tidak tahu
riwayatnya dari mana, tapi yang jelas memang masyhur kalau Nabi Idris ini orang
cerdas, pintar.
Kalau di bukunya Syed Husein Nasr, Idris itu kalau pakai
bahasa Latin jadi Aramis. Nanti kalau pakai bahasa Yunani namanya jadi Hermes.
Makanya nanti ada cabang ilmu yang terinspirasi oleh nama Hermes ini sehingga
nama ilmunya adalah hermeneutik. Banyak orang anti hermeneutik karena mungkin
karena istilahnya saja tidak islami, karena Hermes itu istilah Yunani. Coba
diislamkan istilahnya pakai istilah bahasa Arabnya—Hermes itu Idris—mungkin
orang tidak protes.
Simbolnya Idris adalah kecerdasan. Jadi menuju Allah itu
harus mau mendayagunakan akalnya, tidak hanya kerja keras tapi juga kerja yang
cerdas. Ini simbol dari Nabi Idris ditemui oleh Rasulullah di langit keempat.
Makanya tadi saya bilang susunannya acak. Iya, karena ini mengikuti
kebutuhannya. Jadi setelah ngerti tujuannya, semangat dan siap berjuang, rela
berkorban, kemudian kerja keras, semuanya harus diwarnai dengan akal budi. Di
situlah masuk kecerdasan di langit yang keempat.
Langit Kelima: Nabi Harun
Di langit kelima bertemulah beliau dengan Nabi Harun. Nabi
Harun ini nabi yang memang menemani Nabi Musa, memang diminta oleh Nabi Musa
untuk menemani beliau berdakwah. Nabi Musa punya kelemahan memang dalam tata
bicara karena beliau waktu kecil oleh Allah diilhami untuk menelan bara api
ketika diuji oleh Firaun—disuruh milih antara roti atau api. Sebenarnya mau
milih roti, tapi oleh Allah ini kalau milih roti bahaya nyawanya terancam.
Akhirnya diambil bara api sehingga kalau ngomong agak cedal, agak pelat Nabi
Musa. Itu makanya beliau kurang fasikh dan beliau berdoa diberi teman Nabi
Harun. Kalau Nabi Harun ini memang pintar, pandai berkomunikasi.
Berarti apa? Bekal selanjutnya perjalanan menuju Allah
harus punya keterampilan berbagi, berkomunikasi. Mengapa di banyak momen kita
butuh orang lain? Tidak mungkin jalan sendiri. Salat jamaah butuh orang lain,
haji bareng orang lain, zakat memberikan pada orang lain. Kemampuan untuk
berbagi, berkomunikasi ini juga nanti jadi kunci. Makanya Rasulullah ketemu
juga dengan Nabi Harun. Ini tugas kita juga untuk melatih kemampuan berbagi
dengan yang lain.
Langit Keenam: Nabi Musa
Di langit keenam bertemulah kalau ini populer sekali dengan
Nabi Musa. Ini nabi yang sangat terkenal gaul kalau ngomong itu enak,
mengakerapi bahkan sama Allah juga mengakerapi. Nabi Musa ini adalah simbol
dari dua hal kalau menurut saya: keberanian dan keberpihakan.
Keberanian ini tidak perlu ditanyakan lagi. Betapa gagah
beraninya seorang Nabi Musa yang dilawan Firaun. Kemudian di banyak cerita
beliau betapa tangguhnya sampai sekali pukul ada orang yang tewas zaman beliau
muda itu sehingga beliau lari. Jadi berani untuk bicara kebenaran. Kalau dia
tidak cocok dia berani protes. Teman-teman silakan dicek di kitab-kitab tafsir
tentang kisah-kisah Nabi Musa. Di beberapa ayat itu rasanya Nabi Musa ini
komplain kepada Allah. Jadi Allah menetapkan apa, Nabi Musa nawar. Bahkan nanti
ada kisahnya Isra Miraj, salat 50 waktu itu provokasinya Nabi Musa pada Nabi
Muhammad untuk nawar—yang berani seperti ini Nabi Musa.
Tapi jangan lupa Nabi Musa ini punya ciri keberpihakan yang
kuat, berpihak pada yang lemah, yang tertindas. Nabi Musa terkenal kisah beliau
menemani Bani Israel. Bani Israel itu nakalnya, curangnya, licinya luar biasa
sejak dulu. Tapi mengapa ditemani terus saat itu oleh Nabi Musa, salah
bolak-balik sampai nyembah sapi bikinan dari emas? Tetap dimaafkan, ditemani
karena saat itu orang-orang Bani Israel ini posisinya sedang tertindas.
Jadi Nabi Musa ini sangat peduli dengan umat yang
tertindas, umat yang lemah. Ini menurut saya penting. Di antara bekal nanti
perjalanan kita menuju Allah itu kepedulian kita kepada yang lemah dan
tertindas. Ini pelajaran dari Nabi Musa. Termasuk ketika tawar-menawar jumlah
salat sampai lima, itu yang dipertimbangkan: "Umatmu itu lemah, Muhammad.
Jangan mau 50, tawar lagi." Itu berarti apa? Beliau ini memang punya hati
yang sangat peduli pada orang-orang yang lemah dan tertindas
. Ini menurut saya kita yang muda-muda harusnya punya
kualifikasi Musa ini: berani dan berpihak.
Langit Ketujuh: Nabi Ibrahim
Dan yang langit ketujuh ketemu dengan Nabi Ibrahim. Kalau
Nabi Ibrahim ini simbol dari tawakal, istiqamah, pasrah. Ini di puncak
perjalanan, apapun hasilnya lakukan seperti Nabi Ibrahim, pasrahkan semua pada
Allah. Terimalah apapun keputusan Allah meskipun pahit. Nabi Ibrahim mendapat
perintah bahkan untuk membunuh putra tersayang, dijalani karena itu memang
ketetapan Allah.
Ini pelajaran terakhir dalam Miraj adalah pelajaran untuk
tawakal, pelajaran untuk memasrahkan semuanya kepada Allah. Mental sebagaimana
dimiliki oleh Nabi Ibrahim.
Jadi ini menurut saya rahasia di antara rahasia urutan para
nabi, tapi ini tafsir untuk anak muda. Nanti akan beda lagi kalau tafsirnya
versi para sufi akan beda lagi mungkin tafsir dari sudut pandang yang lain. Ini
yang saya sampaikan perjalanannya anak-anak muda menempuh cita-citanya. Karena
teman-teman yang muda-muda masih semangat, jadi jangan lupa Nabi Adam, jangan
lupa Nabi Yahya dan Isa, jangan lupa Nabi Yusuf, Nabi Idris, Nabi Harun, Nabi
Musa, dan Nabi Ibrahim.
Makna Keempat:
Kesadaran Profetik
Makna yang keempat—ini penting. Ada pelajaran dari
Rasulullah dalam perjalanan Miraj. Ini saya meminjam istilah intelektual muslim
Pakistan, Muhammad Iqbal. Beliau punya istilah kesadaran: ada istilah kesadaran
mistik, kesadaran profetik.
Rasulullah naik Miraj sampai langsung di posisi
berhadap-hadapan dengan Allah. Posisi ini inilah yang dikejar-kejar oleh para
sufi, para mistik. Teorinya macam-macam, suluknya macam-macam para sufi itu
untuk mencapai makam dekat berhadap-hadapan, bahkan ada yang sampai bilang
bersatu—makrifat, syuhud, kasyaf, wahdatul wujud, ittihad, macam-macam. Ini
yang dikejar oleh para sufi. Kalau Kanjeng Nabi langsung dianugerahi oleh Allah
dengan Miraj bisa berhadap-hadapan meskipun masih min warai hijab.
Pelajaran apa dari situ sebenarnya? Katanya Muhammad Iqbal,
ada beda antara kesadarannya para sufi tertentu, kesadaran mistik dengan
kesadaran profetik seperti yang dimiliki oleh Rasulullah. Kalau para sufi,
puncak perjalanannya bertemu Allah itu selesai. Setelah bertemu Allah, dia
asyik di sana, menikmati makamnya, menikmati keasyikannya bersama Allah saja.
Beda dengan Nabi, beda dengan Rasulullah. Setelah mengalami puncak masih
kembali lagi ke dunia, ke bumi karena sayang dan cinta pada umatnya.
Ini menurut saya pelajaran penting bagi teman-teman yang
muda-muda. Hari ini teman-teman sedang berjuang mati-matian menempati diri
sampai puncak. Kalau nanti teman-teman sampai puncak jangan berhenti di situ,
menikmati kesuksesanmu sendiri, asyik sendiri dengan keberhasilanmu. Pikirkan
juga, pedulikan juga orang-orang sekelilingmu, umatmu, orang lain—harus mau
berbagi.
Ini kalau para sufi—kritiknya Iqbal—banyak mengkritik
sufi-sufi yang pantais. Jadi dia selesai dengan wahdatul wujud, dia selesai
dengan makrifat, dia selesai dengan syuhud. Tapi kalau Nabi, padahal ketemu
Allah ini puncak-puncaknya nikmat. Kalau teman-teman baca kitab-kitab kuning,
besok di surga setelah bermacam-macam kenikmatan kita mendapat satu kenikmatan
terakhir paling puncak yaitu bertemu Allah. Dan Rasulullah ketemu langsung saat
itu waktu Miraj. Harusnya kalau sudah begitu sudah di situ saja, tidak
balik-balik apalagi zaman susah, zaman Nabi sedang banyak ujian.
Tapi karena Rasulullah sangat cinta pada kita, beliau tetap
kembali lagi ke bumi, kembali lagi untuk peduli dengan umatnya. Ini namanya
kesadaran profetik.
Saya masih ingat ada kalimat dari seorang sufi namanya Abu
Yazid Bustomi. Abu Yazid Bustomi ini satu ketika berkata, "Seandainya aku
adalah Muhammad, maka setelah mengalami puncak pertemuan dengan Allah, aku
tidak akan kembali lagi." Pokoknya pertemuan itu sudah final, selesai.
Ngapain lagi? Nyari kembali ke dunia yang semacam turun level gitu kalau
bahasanya Abu Yazid Bustomi.
Tapi karena Kanjeng Nabi itu sangat sayang, sangat cinta
dengan kita, melepaskan puncak kenikmatan pun tidak berat. Ini namanya
kesadaran profetik. Semoga teman-teman yang muda-muda ini—orang-orang
berkualitas semua—nantinya kalau sudah mengenyam puncak kualitas dirimu, jangan
berhenti dan dinikmati sendiri saja. Tapi siap sedialah untuk berbagi dengan
yang lain dalam bentuk apapun. Karena berbagi itu tidak cuma harta, tidak cuma
uang. Bisa berbagi ilmu, bisa berbagi wawasan, bahkan sekedar berbagi
kepedulian, kebersamaan, itu juga sudah berbagi.
Makna Kelima:
Visioner dan Aspiratif
Yang terakhir—saya ambil makna dari upaya Nabi Musa dan
Nabi Muhammad untuk nego jumlah salat. Biasanya siapa yang mau membantah
perintahnya Allah? Siapa yang berani? Selain takut mungkin juga malu. Seperti
Nabi Muhammad terakhir-terakhir malu mau nego lagi. Meskipun Nabi Musa masih
memprovokasi—ayolah lima waktu itu masih berat—tapi Nabi Muhammad malu.
Sudahlah lima itu sudah hanya sekian persennya dari 50.
Maka ini bahasa saya memahami ini: sebelum memutuskan
sesuatu dalam hidup ini, kita harus hidup secara visioner. Visioner itu
memandang ke depan. Yang dilakukan oleh Nabi Musa: "Mengkhawatirkan umatmu
besok loh, lemah-lemah. Umatmu besok banyak yang mungkin malas-malas, sukanya
rebahan saja dan macam-macam." Nabi Musa bisa memprediksi, mungkin
dianalogikan dengan umatnya. Umatnya Nabi Musa itu diberi banyak keistimewaan,
macam-macam saja masih ngeyel-ngeyel. Sudah dikasih beberapa mukjizat, beberapa
kekhususan. Bani Israel sampai hari ini merasa dia kaum yang terpilih. Sudah
diberi macam-macam begitu, masih bangkang, masih ngeyel.
Nabi Musa menganalogikan dengan umatnya ini, ini tidak akan
jauh-jauh dari umatmu besok Muhammad. Ini kalau bahasa psikologi namanya
visioner, melihat ke depan. Kalau dilihat zaman Nabi dan para sahabat, 50
rakaat itu kecil. Karena hanya melihat saat itu saja, sedang
semangat-semangatnya beragama, apalagi ada Rasulullah yang nungguin. Tapi
karena membaca ke depan, memahami ke depan—ini namanya visioner—maka Rasulullah
memberanikan diri untuk nawar perintah-perintah salat itu.
Dan itu bahasa saya, ini tidak menyuarakan diri beliau
sendiri. Rasulullah salat 50 waktu sehari itu kecil, simpel, tapi yang
disuarakan adalah umat. Ini bahasa saya itu cara berpikir yang aspiratif,
mendengarkan aspirasi, suaranya umat. Kalau Rasulullah sendiri yang begitu,
simpel 50 waktu tidak berat. Bahkan salat kita yang wajib dan yang sunah kalau
kita lengkapi dalam sehari bisa menyentuh 50. Kalau mahasiswa-mahasiswa yang
saleh, seandainya 50 pun tidak berat. Tapi banyak saudara-saudara kita yang
lima saja dia harus mati-matian.
Ini bahasa saya Rasulullah itu aspiratif, tidak hanya
menerima suara-suara dari yang memang sudah jago, tapi juga mempertimbangkan
umatnya mungkin yang lemah, yang kesulitan. Jadi visioner plus aspiratif. Di
situ terjadi tawar-menawar perintah salat. Ini menurut saya mental yang bisa
kita teladani dari Rasulullah dalam peristiwa Isra Miraj.
Penutup
Jangan putus asa karena Allah itu kuasa apapun, termasuk
yang paling tidak masuk akal sekalipun. Jadi ini dua kendali utama dalam hidup
kita. Sadarilah bahwa manusia itu terbatas, maka jangan sombong. Kenali
batasmu, ngerti kapan berhenti, kapan harus maju. Dan jangan putus asa juga
karena Allah maha kuasa, termasuk memperjalankan beliau dari Masjidil Haram ke
Masjidil Aqsa bahkan sampai Miraj.
Referensi:
YouTube Channel “Ruang Sinau”
