Cari Blog Ini

Minggu, 19 Juli 2026

Bermula Susah Nyari Tiket Pesawat, Akhirnya Mendirikan TRAVELOKA

Titik Balik Ferry Unardi - Rahasia Terbesar di Balik Traveloka

 

Titik balik Ferry Unardi, Traveloka adalah kesalahan terbesar dalam hidup. Setiap detik di suatu tempat di Asia Tenggara, ada orang yang membuka aplikasi ini untuk memesan tiket pesawat, hotel, atau kereta api. Aplikasi ini tak lain adalah traveloka, valuasinya pernah menembus lebih dari 1 miliar dolar Amerika, status unicorn yang hanya diraih segelintir startup di Indonesia.

 

`sumber: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images? 

Aplikasinya sudah diunduh puluhan juta kali, dipakai di 6 negara, Indonesia, Thailand, Malaysia, Vietnam, Filipina, dan Singapura. Raksasa global seperti Expedia, rela mengucurkan 350 juta dolar hanya untuk ikut memiliki sepotong sahamnya. Di atas kertas ini ada kisah sukses yang sempurna, tapi hampir tidak ada yang tahu bahwa perusahaan raksasa ini lahir dari keputusan seorang pemuda berusia 23 tahun, yang oleh banyak orang di sekitarnya dianggap sebagai kesalahan terbesar dalam hidupnya.

 

Namanya Ferry Unardi, dan sebelum dunia mengenalnya sebagai pendiri traveloka, ia adalah mahasiswa yang berhenti kuliah di Harvard Business School, meninggalkan salah satu gelar paling bergensi di dunia, yang pada awalnya ditolak oleh hampir setiap maskapai penerbangan yang ia datangi. Ia pernah duduk di sebuah apartemen sempit di Jakarta bersama dua sahabatnya, menetap layar laptop yang menunjukkan angka 0 berulang-ulang, 0 kerjasama, 0 kepastian, sambil bertanya pada dirinya sendiri, apakah saya baru saja menghancurkan masa depan saya sendiri? Bagaimana mungkin dari titik seputus asa itu lahir sebuah perusahaan yang kini bernilai miliaran dolar, dan menjadi bagian dari kehidupan jutaan orang? Dan yang lebih penting, keputusan apa yang diambil di tengah rasa takut dan rasa malu yang luar biasa yang menjadi pembeda antara kegagalan total dan kesuksesan yang kita kenal hari ini? Untuk menjawabnya, kita harus pergi jauh ke belakang, bukan ke Jakarta yang gemerlap, tapi ke sebuah kota kecil di pesisir barat Sumatera, tempat semuanya dimulai. Mari kita mulai kisahnya.

 

Masa kecil dan latar belakang keluarga Ferry Unardi lahir di Padang, Sumatera Barat pada tanggal 16 Januari 1988. Ia tumbuh besar di kota yang dikenal dengan jam gadangnya, dengan budaya menangkabau yang sangat menjunjung tinggi semangat merantau. Sebuah tradisi di mana anak muda didorong untuk pergi jauh dari kampung halaman, menuntut ilmu, mencari pengalaman, dan kembali membawa keberhasilan.

 

Semangat merantau itu tertanam dalam diri Ferry sejak kecil. Ia bersekolah di SMA Don Bosco, Padang, dan sejak masa sekolah menengah itu, ia sudah menunjukkan ketertarikan yang tidak biasa terhadap dunia komputer dan pemprograman. Saat teman-teman sebayanya sibuk dengan hal-hal khas remaja, Ferry justru menghabiskan waktu mengutak atik logika dibalik layar komputer, sebuah dunia yang baginya terasa seperti tegak-tegi tanpa batas.

 

Bayangkan seorang remaja di sebuah kota di Sumatera Barat pada awal tahun 2000an, ketika akses internet belum secepat dan semudah sekarang. Untuk bisa mendalami komputer bukanlah hal yang sederhana, tapi rasa penasaran itu justru tumbuh semakin besar. Ia tidak hanya melihat komputer sebagai alat, tapi sebagai jendela menuju dunia yang jauh lebih luas dari kota pelahirannya.

 

Ketika lulus SMA, semangat merantau khas Minang itu membawanya melangkah jauh lebih dari sekedar pindah kota. Ia terbang melintasi samudera menuju Purdue University di negara bankian Indiana, Amerika Serikat, untuk mengambil jurusan Computer Science and Engineering. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya, seorang anak muda dari Padang jauh dari keluarga, jauh dari makanan rumah, jauh dari bahasa ibunya, tiba-tiba harus beradaptasi dengan musim dingin Midwest Amerika dengan sistem pelidikan yang jauh lebih kompetitif dan dengan kesepian yang datang setiap kali ia merindukan rumah.

 

Namun disinilah karakter Ferry ditempa kemandirian, ketakunan, dan keberanian untuk berada di tempat yang asing demi sesuatu yang lebih besar. Selama masa kuliahnya di Purdue, dari tahun 2004 hingga 2008, Ferry bertemu dengan seorang teman yang kelak akan menjadi salah satu pendiri traveloka bersamanya, Albert Zhang. Mereka berdua sama-sama jauh dari rumah, sama-sama tenggelam dalam dunia teknik dan komputer.

 

Dan tanpa mereka sadari, persahabatan itu sedang menanam benih untuk sesuatu yang jauh lebih besar di masa depan. Setelah lulus dari Purdue pada tahun 2008, Ferry diterima bekerja sebagai software engineer di Microsoft. Bagi banyak orang, ini adalah puncak pencapaian, bekerja di salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia, dengan gaji yang mapan dan jenjang karir yang jelas.

 

Di sanalah pula ia bertemu dengan Darianto Kusuma, insinyur lain yang kelak menjadi salah satu sahabat sekaligus rekan pendiri traveloka. Tapi di balik kemapanan itu ada sesuatu yang harus mengusik pikiran Ferry, sesuatu yang sederhana, remeh bagi kebanyakan orang, tapi bagi dirinya terasa seperti duri kecil yang terus menusuk. Sebuah masalah yang akan menjadi cikal bakal dari segala yang terjadi setelahnya.

 

TITIK NADIR KETIKA SEMUA PINTU TERTUTUP Selama 3 tahun bekerja di Microsoft, Ferry seringkali harus pulang ke Padang untuk mengunjungi keluarganya. Dan setiap kali itu terjadi, ia dihadapkan pada satu masalah yang sama, berulang-ulang. Mencari tiket pesawat dari Boston atau Seattle menuju Padang adalah mimpi buruk.

 

Tidak seperti mencari tiket ke Jakarta yang relatif mudah, penerbangan menuju kampung helmanya di Sumatera Barat harus melalui berbagai maskapai berbeda. Situs web yang membingungkan, informasi yang tidak lengkap, dan proses pemesanan yang seringkali berujung pada telepon panjang ke agen travel atau kunjungan langsung ke bandara. Ia harus membandingkan harga secara manual, satu per satu, dari puluhan tab browser yang terbuka, hanya untuk menemukan rute yang masuk akal.

 

Rasa jengkel itu tumbuh menjadi sebuah pertanyaan yang terus menghantuinya. Mengapa mencari tiket pulang ke rumah sendiri harus serumit ini? Di titik inilah keresahan pribadi mulai berubah menjadi ide bisnis. Namun sebelum ide itu bisa terwujud, Ferry harus melalui babak paling berat dalam hidupnya, babak yang penuh keraguan, rasa malu, ketakutan yang nyaris membuatnya menyerah.

 

Setelah tiga tahun bekerja di Microsoft, Ferry mulai merasa gelisah. Ia menyadari bahwa sebagai seorang programmer, ia bukanlah yang terbaik di antara ribuan insinyur brilian di perusahaan sebesar itu. Perasaan itu bukan sekedar rasa rendah diri biasa, itu adalah keresahan eksistensial seorang anak muda yang bertanya-tanya, apakah ini benar-benar jalan hidup saya? Untuk mencari jawaban, ia bahkan sempat terbang ke China, mencoba memahami arah hidupnya di tengah kejenuhan yang mulai menggerogotinya.

 

Di titik ini, banyak orang akan memilih jalan aman, tetap bekerja, menabung, menunggu promosi. Tapi Ferry memilih jalan yang jauh lebih berisiko. Ia mendaftar dan diterima di program MBA Harvard Business School, berniat melengkapi kemampuan tekniknya dengan pemahaman bisnis yang lebih dalam.

 

Ia mengundurkan diri dari Microsoft, ia meninggalkan kepastian gaji bulanan, ia terbang ke Boston, kota yang dingin dan asing, untuk memulai babak baru sebagai mahasiswa bisnis. Namun disinilah iroli besar dalam hidupnya dimulai. Belum genap satu semester ia menjalani perkuliahan di Harvard, Ferry justru semakin yakin bahwa gelar MBA bukanlah tujuan akhirnya.

 

Ia mulai iseng memperjualbelikan tiket penerbangan kecil-kecilan sebagai eksperimen bisnis pribadi. Dan semakin ia mendalami masalah pemesanan tiket ini, semakin ia yakin bahwa ada peluang besar yang belum tergarap di Indonesia. Bayangkan posisi Ferry saat itu.

 

Ia sudah mengorbankan pekerjaan mapan di Microsoft. Ia sudah membayar untuk biaya kuliah Harvard yang tidak murah. Keluarganya di Padang tentu bangga bahwa anaknya kuliah di salah satu universitas paling prestisius di dunia.

 

Bagi banyak keluarga Indonesia, nama Harvard adalah simbol pencapaian tertinggi, jaminan masa depan yang cerah. Dan di tengah semua itu, Ferry harus menghadapi kenyataan pahit. Apa yang ia pelajari di luang kelas terasa semakin jauh dari apa yang sesungguhnya ingin ia kerjakan.

 

Ia merasa terjebak antara dua dunia. Dunia yang dianggap aman oleh semua orang di sekitarnya dan dunia yang menurut instingnya adalah jalan yang benar. Di usianya yang baru 23 tahun, ia dihadapkan pada pertaruhan besar, melanjutkan pendidikan bergengsi yang membanggakan keluarga dan menjamin status sosial, atau meninggalkan semuanya untuk mengejar sebuah ID yang saat itu hanya berupa uji coba kecil menjual tiket pesawat.

 

Dan setelah ia benar-benar memutuskan untuk berhenti, setelah ia benar-benar terbang pulang ke Indonesia bersama dari Yanto Kusuma dan Albert Jiang untuk mendirikan Traveloka pada Februari 2012, ketakutan yang sesungguhnya baru dimulai. Bayangkan malam-malam pertama di Jakarta, tiga anak muda menyewa sebuah apartemen kecil, membawa modal awal berupa tiga unit laptop dan sebuah keyakinan yang jujur saja mulai goyah setiap hari. Mereka merilis Traveloka sebagai metasearch engine, mesin pencari yang membandingkan harga tiket dari berbagai maskapai, mirip seperti yang dilakukan kayak atau skycanner di luar negeri.

 

Tapi kenyataan di Indonesia jauh lebih pahit. Tidak ada satupun maskapai penerbangan besar yang mau bekerjasama dengan mereka. Trafik situs mereka masih kecil, belum ada nama besar yang mau mempertaruhkan datanya pada startup baru yang didirikan oleh tiga anak muda tanpa pengalaman bisnis yang nyata.

 

Coba rasakan bagaimana rasanya Ferry saat itu. Ia yang dulu duduk di ruang kelas harfat, dikelilingi calon-calon eksekutif dunia, kini harus mengetuk pintu perusahaan maskapai satu persatu dan ditolak berkali-kali. Ada rasa malu yang menyelinap, bagaimana menjelaskan kepada keluarga di Padang bahwa ia meninggalkan harfat untuk sebuah situs yang bahkan belum menghasilkan apa-apa.

 

Ada rasa takut, bagaimana jika semua tabungan habis dan mereka harus pulang dengan tangan kosong. Dan ada rasa sendirian, karena pada akhirnya keputusan ini adalah keputusannya sendiri, keputusan yang tidak bisa ia bagi bebannya dengan siapapun, kecuali dua sahabatnya yang sama-sama mempertaruhkan segalanya. Traveloka saat itu hanya berangkutakan delapan orang, ruang kerja mereka jauh dari kata mewah.

 

Tidak ada suntikan dana besar, tidak ada sorotan media, tidak ada jaminan bahwa esok hari situs mereka masih akan online. Hanya ada tiga anak muda, tiga laptop, dan sebuah keyakinan yang setiap hari diuji oleh penolakan demi penolakan. Inilah titik nadir yang sesungguhnya, bukan sekedar angka kerugian di atas kertas, tapi rasa hampa ketika membuka email dan menemukan satu lagi maskapai yang menolak bekerjasama.

 

Rasa cemas ketika melihat saldo rekening yang terus menipis. Rasa ragu yang muncul di tengah malam ketika pertanyaan muncul, apakah ini keputusan yang salah? Titik balik keputusan yang mengubah segalanya. Industri travel tech di Amerika Serikat sedang mengalami momentum besar.

 

Ia merasa jika ia menunggu terlalu lama, menyelesaikan gelar MBA-nya dua tahun lagi, peluang itu akan hilang. Di rembut orang lain atau pasar Indonesia sudah keburu diisi oleh pemain lain yang lebih dulu bergerak. Keputusan untuk berhenti kuliah di usia 23 tahun adalah keputusan yang bagi kebanyakan orang terdengar gegabah.

 

Namun keputusan meninggalkan Harvard hanyalah pintu masuk. Titik balik yang sesungguhnya menyelamatkan Traveoka dari kehancuran total datang setahun kemudian. Saat perusahaan berada di ambang gagalan karena tidak ada mas kapai yang mau bekerja sama.

 

Pada pertengahan 2013, di tengah tumpukan penolakan dan tekanan finansial yang kian menghibit, Ferry dan kedua rekannya duduk bersama dan melakukan sesuatu yang jarang dilakukan pendiri startup yang sedang panik. Mereka berhenti sejenak dan benar-benar mendengarkan penggunanya. Mereka menyadari sebuah kesalahan mendasar dalam model bisnis mereka.

 

Sebagai metasearch, Traveloka hanya membantu pengguna membandingkan harga lalu mengarahkan mereka ke situs mas kapai atau agen lain yang benar-benar membeli tiket. Tapi Ferry dan timnya menemukan sesuatu yang jauh lebih penting. Masalah sesungguhnya bukan hanya menemukan tiket termurah, tapi proses transaksi itu sendiri yang berpelit dan tidak nyaman, terutama bagi pengguna Indonesia yang saat itu belum semuanya memiliki kartu kredit.

 

Maka di tengah kondisi keuangan yang menipis dan tanpa jaminan bahwa langkah ini akan berhasil, Ferry mengambil keputusan yang mempertaruhkan segalanya sekali lagi, mengubah total model bisnis Traveloka dari sekadar mesin pencari perbandingan harga menjadi online travel agency, di mana pengguna bisa langsung memosan dan membayar tiket dalam satu tempat tanpa harus berpindah ke situs lain. Ini bukan keputusan kecil. Ini berarti membangun ulang hampir seluruh sistem, mengintegrasikan metode pembayaran lokal seperti transfer bank dan pembayaran tunai lewat Grey, Indomaret, dan Alfamart, sesuatu yang krusial mengingat banyak calon pengguna Traveloka saat itu belum memiliki kartu kredit.

 

Alih-alih terus mengemis kerjasama dari mas Kapai yang skeptis, Ferry mengambil pendekatan yang jauh lebih cerdas, fokus membangun produk yang benar-benar dicintai pengguna terlebih dahulu. Ia percaya bahwa jika basis pengguna terus tumbuh dan pengalaman pemesanan semakin mulus, mas Kapai pada akhirnya akan datang dengan sendirinya. Strategi ini terbukti menjadi taruhan yang tepat.

 

Perlahan tapi pasti, seiring bertambahnya volume pemesanan yang berhasil di proses Traveloka secara mandiri, satu persatu mas Kapai yang dulu menolak mulai berbalik arah, mendekati Traveloka untuk menjalin kerjasama resmi. Kebangkitan dari ruang sembit menuju panggung Asia Tenggara. Begitu Traveloka bertransformasi menjadi platform pemesanan langsung pada 2013, momentum mulai berbalik.

 

Dukungan modal juga mulai berdatangan. Pada November 2012, Traveloka sebenarnya sudah mendapatkan perdanaan awal dari East Venture, modal yang jumlahnya tidak diungkapkan ke publik, namun cukup untuk menjaga perusahaan tetap hidup di masa-masa tersulit. Kemudian, pada pertengahan Agustus 2013, Global Founders Capital, perusahaan modal Ventura yang didirikan oleh Somewhere Bersaudara, menyuntikkan investasi seri A ke Traveloka.

 

Ini menjadi investasi pertama Global Founders Capital di kawasan Asia, sebuah pengakuan besar terhadap potensi yang mereka lihat dalam bisnis ferry dan timnya. Dengan modal segar dan modal bisnis baru yang jauh lebih solid, Traveloka mulai tumbuh dengan kecepatan yang mengejutkan. Pada 2014, mereka memperluas layanan dengan menambah fitur pemesanan hotel, sekaligus meluncurkan aplikasi mobile pertama mereka.

 

Strategi mobile first ini terbukti jitu. Pada tahun 2015, aplikasi Traveloka telah diunduh sekitar 10 juta kali. Ekspansi regional pun dimulai.

 

Pada 2015, Traveloka melangkah keluar dari Indonesia, memasuki pasar Taiwan, Malaysia, Singapura, dan Vietnam, kemudian menyusul Filipina. Puncaknya datang dari Juli 2017, Traveloka mengumumkan telah mengumpulkan sekitar 500 juta dolar Amerika Serikat dalam setahun terakhir dari sejumlah investor global, termasuk Expedia yang menyuntikkan 350 juta dolar, disusul Hillhouse Capital Group, GD.com, Sequoia Capital, dan tentu saja East Venture yang sudah bersama mereka sejak awal. Putaran investasi ini menempatkan valuasi Traveloka di atas 1 miliar dolar Amerika Serikat, secara resmi menjadikan Traveloka sebagai perusahaan unicorn, sejajar dengan nama-nama besar perusahaan di Indonesia lainnya seperti Gojek dan Tokopedia.

 

Bayangkan jarak yang telah ditempuh, dari apartemen kecil dengan 3 laptop dan 8 karyawan, menjadi perusahaan dengan ribuan karyawan yang tersebar di 6 negara Asia Tenggara. Traveloka terus berinovasi, memperkenalkan fitur-fitur pembayaran pay letter, layanan Traveloka Experion untuk pemesanan aktivitas wisata, hingga kartu kredit hasil kerjasama dengan Bank Rakyat Indonesia dan Bank Bandiri. Perusahaan yang dulu nyaris tidak dipercaya siapapun, kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari jutaan orang kawasan ini, mulai dari memesan tiket pesawat, kereta api, hotel hingga membayar tagihan listrik dan PPJS.

 

Tentu perjalanan tidak selalu mulus bahkan setelah menjadi unicorn. Ketika pandemi melanda pada 2020, Traveloka menghadapi ujian berat lainnya. Pemesanan penerbangan Angelok mendekati nol, memaksa perusahaan mengurangi sekitar 100 karyawan dan mengembalikan dana untuk sekitar 150 ribu tiket pesawat.

 

Berkat kegigihan dan pencapaiannya, nama Ferry Unardi pun mendapat sejumlah pengakuan. Ia dinombatkan sebagai salah satu pengusaha muda paling berpengaruh di Asia oleh Forbes, serta meraih penghargaan Indonesia Marketing Champion 2015 di bidang e-commerce. Pelajaran Hidup Ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari perjalanan Ferry Unardi dan Traveloka.

 

Pertama, keberanian untuk mengambil risiko besar seringkali paling masuk akal justru ketika kita masih muda. Ketika ruangan untuk gagal dan bangkit kembali masih terbentang luas. Namun keberanian ini harus dilandasi keyakinan yang telah diuji, bukan sekedar dorongan sesaat.

 

Kedua, kegagalan awal ditolak berkali-kali oleh mas Kapai, kehabisan modal, merasa malu dan sendirian bukanlah akhir dari cerita. Justru dari titik nadir itulah lahir kejujuran untuk melihat kembali apa yang sesungguhnya dibutuhkan pengguna, bukan apa yang menurut kita seharusnya mereka butuhkan. Ketiga, dan mungkin ini pelajaran paling penting, keberhasilan besar jarang lahir dari satu keputusan tunggal yang gemilang.

 

Ia lahir dari kesediaan untuk mengakui bahwa rencana awal keliru, dan keberanian itu membongkar total apa yang sudah dibangun demi membangun sesuatu yang benar-benar bekerja. Seperti keputusan Ferry dan timnya mengubah total model bisnis mereka di tengah kondisi yang paling tidak menguntungkan. Namun perlu diingat pula, perjalanan ini bukan tanpa pengorbanan besar.

 

Ferry meninggalkan kepastian karir di Microsoft. Ia meninggalkan gelar bergensi dari Harvard yang belum sempat ia selesaikan. Ia mempertaruhkan hubungan dengan keluarganya, taruhan yang belum tentu berbuah manis.

 

Kisah Ferry Unardi dan Traveloka mengingatkan kita bahwa titik paling gelap dalam hidup seseorang seringkali adalah tempat di mana keputusan paling melentukan justru diambil, bukan karena keadaan tiba-tiba membaik dengan sendirinya, tapi karena di titik itulah seseorang dipaksa untuk benar-benar jujur pada dirinya sendiri tentang apa yang salah dan apa yang harus diubah.

Sumber: YT @NAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ditunggu komentar Anda!