10 Toko Legendaris Indonesia yang Kini TINGGAL KENANGAN
Coba bayangkan sebentar,
kamu masuk ke sebuah toko yang besar. Lantainya mengkilap, musiknya mengalun
pelan, dan aroma parfum dari kaunter kosmetik menyambut begitu pintu terbuka.
Kamu tahu setiap sudutnya.
Kamu hafal di lantai
berapa pakaian anak-anak, di mana mesin kasir favorit kasir yang ramah itu,
bahkan kamu hafal bau ruangannya yang khas dan berbeda dari toko manapun. Lalu
suatu hari, kamu lewat lagi ke sana, dan tokonya sudah tidak ada, bukan tutup
sementara, tapi benar-benar pergi. Di video ini, kita akan mengenang bersama 20
toko, department store, dan supermarket legendaris Indonesia yang pernah
menjadi bagian dari kehidupan jutaan orang.
Bukan sekedar tempat
belanja, tapi tempat di mana kenangan dibuat, keluarga berkumpul, dan
mimpi-mimpi kecil ditemukan di antara rak-rak barang. Siapkan hati, karena
beberapa nama yang akan kita sebut mungkin sudah lama tidak terdengar, tapi
tidak pernah benar-benar terlupakan. 1. Sarinah, Toko Pertama, Mimpi Pertama
Bangsa Kalau kita bicara soal toko legendaris Indonesia, maka perjalanan kita
harus dimulai dari sini, Sarinah.
Berdiri di Jalan MH
Tamrin, Jakarta, Sarinah bukan sekedar department store. Ia adalah gedung
pencakar langit pertama yang pernah dibangun di Indonesia. Bayangkan itu, satu
gedung yang sekaligus menjadi pencakar langit pertama dan toko serba ada
pertama di negeri ini, diresmikan pada 15 Agustus 1966.
Dan ada yang paling
mengharukan dari semua ini, nama Sarinah diberikan oleh Presiden Soekarno
sebagai penghormatan kepada pengasuh kecilnya, seorang perempuan sederhana yang
turut membesarkannya. Jadi, setiap kali kamu menyebut nama Sarinah, kamu
sebenarnya sedang menyebut nama seorang ibu asuh dari Presiden Pertama Republik
ini. Soekarno membangun Sarinah dengan visi besar, menjadikannya simbol
modernitas nasional, sejajar dengan megaproyek lain seperti Hotel Indonesia dan
Stadion Raksasa yang dibangun di era yang sama.
Ia ingin dunia tahu bahwa
Indonesia yang baru merdeka bukan negara miskin yang bisa dipandang rendah. Sarinah
sempat terpuruk, sempat hampir dilupakan, tapi ia tidak pernah benar-benar
mati. Setelah renovasi besar, Sarinah kini berdiri kembali, lebih megah, dengan
tetap mengemban misinya sejak awal, menjadi rumah bagi produk-produk pengrajin
lokal Indonesia.
Sebelum kamu bisa
berbelanja di supermarket manapun di Indonesia hari ini, seseorang harus lebih
dulu berani nekat. Namanya Muhammad Saleh Kurnia. Ia lahir di Sukabumi, tumbuh
dalam keterbatasan, dan sejak kecil sudah terbiasa berjualan untuk membantu
keluarganya.
Ketika ia melihat
orang-orang Jakarta rela terbang ke Singapura hanya untuk belanja kebutuhan
sehari-hari, ia berpikir, kenapa harus ke sana, kalau kita bisa buat sendiri di
sini? Pada 23 Agustus 1971, hero mini supermarket pertama dibuka di Jalan
Falatehan nomor 23, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Bukan toko yang besar,
bukan toko yang mewah, tapi ia adalah yang pertama. Yang sering dilupakan
orang, di era 1970-an, hampir semua supermarket tutup di hari Minggu dan Hari
Libur.
Kurnia melihat itu
sebagai peluang. Ia tetap buka, dan antrean pelanggan langsung membuktikan
bahwa instingnya benar. Di tahun 1980-an, hero berkembang pesat.
Populasi kelas menengah
tumbuh, daya beli naik, dan hero ada di posisi yang tepat di waktu yang tepat.
Pada 1989, hero sudah memiliki 26 gerai dan melantai di Bursa Efek Jakarta.
Tapi kemudian segalanya berubah.
Puncak kejayaan berlalu,
persaingan makin ketat, dan sejak 2018, hero mulai menutup gerai demi gerai.
Ratusan karyawan terdampak, sebagian turun ke jalan memprotes pahaka. Giant
Hypermarket.
Raksasa yang terlambat
belajar berubah. Kalau hero adalah perintis, maka Giant adalah penerusnya yang
datang dengan ambisi jauh lebih besar. Di masa jayanya, Giant mengoperasikan 43
gerai Giant Hypermarket dan 130 gerai supermarket yang tersebar di seluruh
Indonesia dengan lebih dari 13.700 karyawan, angka yang tidak kecil.
Tapi kemudian dunia
berubah lebih cepat dari yang Giant bisa kejar. Biaya operasional yang tinggi,
kurangnya diferensiasi brand, dan pergeseran perilaku belanja ke minimarket dan
e-commerce, membuat Giant tidak lagi punya keunggulan yang mencolok. Pada Mei
2021, Giant mengumumkan bahwa seluruh gerainya di Indonesia akan tutup permanen
per Juli 2021.
Matahari Department
Store. Dari pasar baru ke seluruh Nusantara. Kalau ada satu nama yang mungkin
paling lekat diingatan jutaan orang Indonesia ketika mendengar kata Department
Store, nama itu adalah matahari.
Di puncak kejayaannya,
matahari hadir di hampir semua kota besar Indonesia. Pergi ke mall dan tidak
menemukan matahari di sana terasa aneh karena selama puluhan tahun, matahari
selalu ada. Bagi sebagian orang, matahari bukan sekedar toko.
Matahari adalah tempat
pertama kali mereka membeli baju lebaran sendiri dengan uang tabungan. Tempat
pertama kali mereka merasakan udara Aceh yang dingin di tengah panas kota.
Tempat pertama kali dunia terasa modern dan mewah meski harganya sangat
terjangkau.
Matahari belum sepenuhnya
hilang, tapi banyak cabangnya yang sudah pergi. Dan bersama kepergian itu,
pergi juga sepotong masa kecil yang tidak bisa dibeli kembali. Ramayana,
Department Store Rakyat yang setia sampai akhir.
Beda dengan matahari yang
berusaha tampil premium, Ramayana selalu jujur tentang siapa dirinya, toko
untuk rakyat biasa. Di Ramayana, kamu tidak perlu berpakaian rapi untuk masuk,
kamu tidak perlu khawatir harganya terlalu mahal sebelum melihat label harga.
Ramayana adalah tempat dimana ibu-ibu dari berbagai penjuru kota datang dengan
tas belanjaan besar, memilih baju anak dengan teliti, dan pulang dengan kantong
penuh tanpa kantong yang kosong.
Ramayana bukan toko yang
glamor, tapi toko yang paling banyak menyimpan kenangan orang-orang biasa yang
hanya ingin berbelanja dengan layap dan dengan harga yang mereka mampu. Ada
satu nama yang perlu kita luruskan sejarahnya, karena banyak yang tidak tahu
hubungannya dengan Sarinah. Pasaraya hadir pertama kali dengan nama Sarinahjaya
pada 27 Maret 1974, didirikan oleh Abdul Latif yang sebelumnya bekerja di Sarinah.
Tujuannya sederhana,
menjadi departemen store terkemuka yang fokus pada produk seni tradisional dan
kerajinan asli Indonesia. Pada 1984, Abdul Latif membuat keputusan besar,
ekspansi besar-besaran di Blok M. Blok M di era 1980-an dan awal 1990-an adalah
pusat dunia anak muda Jakarta. Pasaraya ada di jantungnya.
Nama berganti dari Sarinahjaya
ke Pasaraya, lalu ke Pasaraya Big dan Beautiful, lalu Pasaraya Grande. Setiap
pergantian nama adalah upaya untuk tetap relevan di dunia yang terus berubah.
Tapi, Blok M perlahan kehilangan pamornya.
Para pengunjung berpindah
ke mal-mal baru yang tumbuh di tempat lain. Pasaraya Grande gagal bersaing,
menjadi sepi, dan perlahan ditinggalkan para penyewanya. Golden Trulli tidak
pernah berusaha menjadi mewah.
Ia tahu posisinya. Toko
serba ada untuk masyarakat urban yang butuh semua keperluannya dalam satu
tempat, dengan harga yang masuk akal. Di eranya, itu sudah lebih dari cukup.
Tapi era itu akhirnya
habis. Satu persatu nama-nama besar masuk, minimarket tumbuh di setiap sudut
jalan. Dan toko seperti Golden Trulli yang tidak berubah perlahan-lahan
ditinggalkan.
Ada yang bilang, toko
yang paling sedih bukan yang tutup karena bangkrut, tapi yang tutup karena
dilupakan. Golden Trulli mungkin masuk kategori kedua itu. Makro Indonesia,
toko yang mengajarkan Indonesia cara belanja.
Makro adalah pionir
format cash and carry di Indonesia. Konsep di mana pembeli, terutama pemilik
usaha kecil dan menengah, bisa membeli barang dalam jumlah besar dengan harga
grosir. Konsep ini sebelumnya tidak dikenal di pasar Indonesia.
Untuk masuk ke Makro,
kamu butuh kartu anggota. Itu saja sudah membuat Makro terasa eksklusif dengan
caranya sendiri. Bukan eksklusif karena mahal, tapi eksklusif karena tidak
semua orang tahu cara masuknya.
Makro kemudian berganti
nama menjadi Lotte Mart setelah diakuisisi. Nama Makro sendiri resmi hilang
dari peta retail Indonesia. Tapi bagi para pelaku UKM yang pernah setia
berbelanja di sana, nama Makro masih menyimpan arti yang berbeda.
Robinson, adik Ramayana
yang sering dilupakan. Robinson punya segmen yang sedikit lebih naik dari
Ramayana, tapi tetap menarget kelas menengah yang realistis. Ia adalah toko
yang ada di mal-mal kelas 2 di kota-kota yang tidak terlalu besar, menjadi
anchor tenant yang membuat mal tetap hidup.
Di kota-kota seperti
Bandung, Semarang, Surabaya, atau Medan. Robinson adalah toko yang tidak
glamor, tapi selalu ada ketika dibutuhkan. Tapi satu persatu Grey Robinson
tutup, dan nama itu pelan-pelan menghilang dari percakapan.
Alfa Retail Indo, pejuang
minimarket yang kalah di Medan Perang. Di tengah dominasi Indomaret dan
Alfamart, ada yang sering terlupakan. Bahwa perlombaan minimarket di Indonesia
pernah jauh lebih senyit.
Alfa Retail Indo adalah
salah satu pemain yang pernah serius bertarung di pasar retail berskala kecil
menengah. Dengan gerai yang tersebar di berbagai kota, Alfa mencoba mengisi
celah antara warung tradisional dan supermarket besar. Tapi persaingan di
industri minimarket adalah peran harga, lokasi, dan sistem distribusi yang
brutal.
Alfa tidak berhasil
menemukan keunggulan yang cukup kuat untuk bertahan di medan yang dikuasai dua
raksasa. Nama Alfa kini sudah tidak ditemukan lagi sebagai gerai independen.
Yang tersisa hanyalah kenangan bagi mereka yang pernah berbelanja di sana
sebelum Indomaret atau Alfamart hadir di setiap sudut jalan.
Dari semua nama yang kita
sebut tadi, ada yang tutup karena bangkrut, ada yang tutup karena diakuisisi,
ada yang tutup karena kalah bersaing dengan toko online yang bahkan tidak punya
tembok atau lantai. Tapi ada satu kesamaan dari semua kisah ini. Setiap toko
itu pernah menjadi bagian dari kehidupan seseorang.
Entah sebagai tempat
pertama kali merasakan aceh di musim panas, tempat pertama kali membeli baju
dengan uang sendiri, atau tempat di mana orang tua mengajarkan anak cara
memilih barang yang baik dengan harga yang masuk akal. Toko bisa tutup. Rak-rak
bisa dibongkar.
Gedungnya bisa berganti
fungsi. Tapi kenangan yang dibuat di dalamnya, kenangan itu tidak bisa digusur.
Dari semua toko yang kita ceritakan hari ini, mana yang paling banyak menyimpan
kenangan kamu?
Mungkin sebuah baju,
mungkin sebuah makanan, mungkin sebuah hari bersama orang yang sekarang sudah
tidak ada lagi. Masih banyak kisah Indonesia yang belum sempat kita ceritakan
bersama.
Sumber: YT
@ZamanEmas

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Ditunggu komentar Anda!