Cari Blog Ini

Jumat, 23 Januari 2026

Makna Rahasia Dibalik Dahsyatnya Isra Miraj

 

Makna Rahasia Dibalik Dahsyatnya Isra Miraj

Oleh: Dr. Fahruddin Faiz

 

Pendahuluan

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah teman-teman. Kita lanjutkan lagi ngaji filsafat kita. Semoga teman-teman semua masih siap dan mau untuk istikamah, nambah ilmu, nambah wawasan.

Saya tidak pakai pembukaan apa-apa untuk Isra Miraj ini. Langsung kita masuk ke pemaknaan. Bagi yang ingin mendalam—ini kan teman-teman orang-orang berkualitas semua dari wajahnya kelihatan—yang ingin mendalami kajian Isra Miraj boleh. Saya punya empat kitab yang berhubungan dengan Isra Miraj.


Sumber gambar:

https://ahmadiyah.org/wp-content/uploads/2019/03/isra-miraj.jpg

Yang nomor satu itu yang paling populer. Teman-teman yang dari pesantren kemungkinan besar pernah mengaji kitab ini, kitab Dardir. Penulisnya Syekh Najmuddin Alghaiti Adardir, berjudul Bainama Qisatul Mikraj. Ini zaman saya dulu di pesantren senang kalau ngaji kitab ini karena banyak cerita-cerita, banyak dongeng-dongeng luar biasa yang menginspirasi.

Yang kedua ini karya ulama kita, ulama Nusantara, Syekh Abdul Somad Alfalimbani, Risalah Latifah fi Bayanil Isra Wal Mikraj. Yang ketiga juga dari ulama Nusantara, Syekh Daud Alpattan, Kifayatul Muhtaj fi Bayanil Isra Wal Mikraj. Jadi ulama-ulama Nusantara kita juga banyak karya tentang Isra Miraj ini.

Kalau yang terakhir ini penulisnya Syaikhul Akbar Ibnu Arabi. Teman-teman insyaallah pernah dengar nama ini. Judulnya Alisra ilal Maqomil Asro. Ini bagus kalau ada yang ingin mendalami makna sebenarnya salat. Kan ada hadis bahwa salat itu mikrajul mukmin. Nah, ini analisis dari tasawuf yang filosofis dari Syekhul Akbar Ibnu Arabi tentang bagaimana kita naik menuju Allah antara lain melalui salat.

Saya tidak akan bahas empat kitab ini sore hari ini. Ini cuma memberi informasi saja. Siapa tahu ada yang pengin mendalami kajian Isra Miraj. Tidak mungkin sore ini saya ngaji sebanyak ini. Yang penting teman-teman yang tertarik silakan masuk ke situ, siapa tahu bisa disambungkan dengan ilmu teman-teman.

Menjawab Keraguan tentang Isra Miraj

Saya awali dari ayat ini. Ayat ini insyaallah teman-teman juga sudah paham bahkan mungkin sudah hafal. Ada bagian yang saya warnai. Saya ingin menjelaskan yang saya warnai itu saja untuk menjawab, karena kemarin-kemarin saya lihat banyak sekali postingan-postingan yang menggugat Isra Miraj.

Sebenarnya jawabannya ada di kata-kata yang saya tandai dengan warna itu. Ini kalau kita beriman sama Al-Qur'an. Saya lihat kemarin ada beberapa bahkan intelektual yang mempertanyakan validitas peristiwa Isra Miraj.

Kata pertama: Subhana

Subhana itu menunjukkan ketakjuban, berarti ada sesuatu yang aneh dan luar biasa. Makanya diawali subhana, maha suci. Karena memang Isra Miraj ini peristiwa yang luar biasa. Kalau ada peristiwa yang luar biasa yang mengalami Nabi, itu biasanya kita sebut sebagai mukjizat. Kalau itu mukjizat, tidak aneh kalau dia tidak masuk akal. Semua mukjizat itu memang kharqul 'adah, tidak masuk akal. Kalau masuk akal biasa, tidak ada orang tertarik.

Justru fungsi—di antara fungsinya mukjizat—itu menunjukkan kekuasaan Allah bahwa ini bukan manusia yang bikin-bikin. Makanya subhana. Jadi jawaban mudahnya kalau teman-teman malas debat, kalau ada yang tanya apa mungkin ada Isra Miraj, apa mungkin Kanjeng Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa sekejap, jawabannya simpel: itu mukjizat. Kalau mukjizat tidak ada yang tidak mungkin. Nabi Isa bisa menghidupkan orang mati, Nabi Ibrahim bisa dibakar tidak mempan, Nabi Musa bisa menyeberang laut hanya dengan memukulkan tongkat. Itu semua tidak masuk akal. Ya memang mukjizat. Jadi bagi yang ingin sederhana jawabnya, cukup: itu mukjizat. Tidak bisa dikalkulasi dengan rasio apapun, tidak akan nyambung.

Kata kedua: Asro

Coba perhatikan kalimat asro itu. Kenapa bukan saro? Kalau Nabi yang berjalan, asro itu artinya memperjalankan. Berarti bukan Kanjeng Nabi yang berjalan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, tapi Allah yang memperjalankan Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Jadi pelakunya Isra Miraj itu—kalau dari kata-kata asro ini—itu sebenarnya Allah. Kalau itu Allah, tidak ada yang tidak masuk akal, semuanya serba mungkin.

Jadi apa bisa Nabi jalan sejauh itu dalam waktu semalam? Kalau Nabi sendiri sebagai manusia tidak akan mampu. Tapi ini pelakunya—kalau ada peristiwa kan tanya pelakunya, agennya—itu Allah. Makanya Al-Qur'an pakai kalimat asro, memperjalankan. Maka kalau pelakunya Allah, apa yang tidak mungkin?

Kata ketiga: Bi'abdihi

Bi'abdihi itu abdun, hamba. Ini sebenarnya untuk jawab karena ada yang punya tesis bahwa Rasulullah itu Isra Miraj hanya rohnya saja, seperti orang mimpi atau seperti orang melakukan perjalanan astral. Jadi fisiknya tidak ikut, fisiknya tidur di Masjidil Haram. Ada pandangan seperti ini, tapi ini terbantahkan dengan kata-kata Al-Qur'an: abdun.

Abdun itu hambanya. Kalau dalam Al-Qur'an kata-kata abdun itu yang ditunjuk adalah fisik dan rohani, bukan hanya fisiknya atau rohani saja. Ada banyak kata-kata abdun dalam Al-Qur'an yang dimaksud adalah manusia secara jasmani dan rohani. Ini untuk jawab kalau ada yang mengkritik jangan-jangan itu seperti mimpi.

Padahal kalau hanya mimpi, kalau hanya rohnya saja Kanjeng Nabi yang Miraj dan Isra, pasti bukan sesuatu yang luar biasa. Kalau hanya seperti mimpi, kita dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, dari Indonesia ke Amerika dalam waktu tidur selama setengah jam bisa. Kalau hanya mimpi, maka tidak luar biasa kalau hanya rohnya saja. Makanya peristiwa Isra Miraj itu disebut luar biasa, disebut mukjizat karena abdihi lahir dan batin, tidak hanya batinnya saja, rohnya saja. Mengapa bisa begitu? Ya karena itu Allah yang melakukan asro.

Sisanya nanti teman-teman bisa lihat di kitab tafsir. Cuma itu saya angkat dari tiga kata-kata pertama ayat yang populer sekali di saat kita membahas Isra dan Miraj, sekaligus menjawab—kemarin saya lihat di beberapa media sosial itu banyak sindiran-sindiran terhadap Isra dan Miraj.

Lima Makna Isra Miraj untuk Anak Muda

Sore hari ini saya akan masuk ke makna-makna. Saya cari makna-makna yang cocok untuk teman-teman yang masih muda, apalagi yang mahasiswa. Maknanya bisa luas dari banyak kitab yang saya sebut di depan tadi. Isra Miraj itu maknanya luar biasa macam-macam, mulai tentang kelemahan manusia, kekuasaan Allah, salat, dan macam-macam. Maka sore ini coba kita pilih beberapa makna yang menurut saya cocok untuk teman-teman yang masih muda yang memulai perjuangan membangun generasi Indonesia yang akan datang. Jadi ini makna versi anak muda.

Makna Pertama: Keterbatasan Manusia dan Kekuasaan Allah

Makna pertama menurut saya untuk teman-teman yang muda-muda dari peristiwa Isra Miraj adalah tentang keterbatasan manusia dan kekuasaan Allah. Ini menurut saya yang paling urgen, makna yang pertama ini. Karena kenapa saya arahkan ke anak-anak muda? Karena biasanya yang muda ini masih meluap-luap, masih belum bisa mengkalkulasi kapasitas kekuatan dirinya, kadang-kadang lupa keterbatasannya—baik keterbatasan fisik, keterbatasan mental, keterbatasan rohaninya.

Mungkin ada banyak kisah orang yang memforsir rohaninya, atau orang yang fokus pada dunia saja, pada tenaganya, atau yang belajar ilmu agak overestimate dengan kemampuan berpikirnya. Ini orang-orang yang lupa batasnya. Banyak konflik, banyak tragedi dalam hidup ini karena orang lupa batasnya. Bahkan beragama juga banyak orang yang lupa batas-batasnya. Ketika ada istilah ekstrem, ketika ada istilah radikal, itu kan sebenarnya orang-orang yang lupa dengan batas—mana yang boleh saya tabrak, mana yang jangan, sampai di titik mana saya harus masuk, sampai di titik mana saya harus menahan diri. Ini pengetahuan tentang keterbatasan.

Isra Miraj menyadarkan kita bahwa kita ini lemah dan terbatas. Memahami peristiwa Isra sebagaimana yang dialami Rasulullah—yang teman-teman pahami—itu rasanya agak berat. Jadi ketika itu berat, jangan dilempar keluar tapi diintrospeksi ke dalam bahwa ternyata aku ini lemah, memahami yang seperti itu saja tidak mampu. Padahal sudah yakin tadi Allah itu maha kuasa, tapi memasukkan peristiwa ini kok susah, berarti kita ini terbatas.

Orang yang bisa bahagia itu orang yang ngerti batasnya. Orang yang tidak tahu batas itu susah untuk bahagia karena dia akan dikejar-kejar terus, tidak ngerti kapan harus stop, kapan harus berhenti. Makanya saya arahkan ke teman-teman yang muda karena biasanya yang muda ini baru menggebu-gebu, ambisius—tidak masalah, bagus—tapi harus punya rem. Jadi kapan harus direm, kapan harus digas?

Karena hidup ini kombinasi dua itu: jangan lupa, jangan putus asa karena Allah itu kuasa apapun, termasuk yang paling tidak masuk akal sekalipun. Jadi ini dua kendali utama dalam hidup kita. Sadarilah bahwa manusia itu terbatas, maka jangan sombong. Kenali batasmu, ngerti kapan berhenti, kapan harus maju. Dan jangan putus asa juga karena Allah maha kuasa.

Rasulullah itu dimikrajkan, diisrakkan oleh Allah di momen-momen paling rendah kehidupan beliau. Ditinggal mati Abu Thalib, ditinggal mati istri tercinta, kemudian dakwah ke Thaif di sana ditolak, dilempari batu berdarah-darah. Rasulullah sampai ada munajatnya yang populer sekali itu berkata betapa Rasulullah sangat sedih: "Ya Allah, aku ini diberi amanah yang seperti ini saja tidak bisa memenuhi. Aku ini memang lemah." Tapi terus ada kalimat yang populer sekali di bagian akhir munajat itu: "In lam yakun bika ghadabun 'alayya fala ubali"—Ya Allah asal Engkau tidak murka padaku, aku tidak peduli. Sudah yang penting Engkau jangan murka ya Allah.

Ini momen-momen titik ketika Kanjeng Nabi merasa sangat berat dalam berdakwah. Setelah itu beliau dihibur dengan Isra dan Miraj, menegaskan bahwa tidak usah sedih, tidak usah putus asa, tidak usah kecewa karena betapa maha kuasanya Allah—termasuk memperjalankan beliau dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa bahkan sampai Miraj.

Ini makna pertama, pelajaran untuk teman-teman yang muda-muda mungkin penting: ngerti rem, ngerti batas, tapi juga jangan pesimis. Jadi intinya jangan over, jangan overestimate, jangan underestimate. Manusia terbatas tapi tidak masalah kalau kita bersandar kepada Allah, kekuasaan Allah tidak terbatas.

Makna Kedua: Kemanusiaan dan Kehambaan

Makna yang kedua bisa juga kita ambil dari peristiwa Isra dan Miraj. Ini seakan-akan pelajaran dari Allah. Kenapa tidak langsung saja Kanjeng Nabi naik ke langit ketujuh? Karena manusia itu tugasnya tidak hanya kehambaan mengabdi pada Allah, tapi juga ada kemanusiaan. Tugas manusia untuk mengelola bumi karena kita ini khalifahnya.

Ini amanah kemanusiaan dan amanah kehambaan. Makanya diperjalankan dulu dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa—ini gerakan yang horizontal. Kita bereskan dunia. Setelah beres, kita naik menuju Allah—ini gerakan vertikalnya. Ini tanggung jawab kemanusiaan juga tanggung jawab kehambaan.

Makanya Kanjeng Nabi sampai di Masjidil Aqsa itu beliau mengimami para nabi yang lain. Ini semacam pelajaran bahwa sekarang zamannya beliau, zamannya Nabi Muhammad, beliau yang harus di depan. Kalau nabi-nabi sebelumnya sudah selesai tugasnya, sekarang ganti yang jadi imam harus Nabi Muhammad. Memang eranya era beliau dan beliau juga khataman nabiyyin, nabi penutup, nabi paling utama. Ini semacam tugas kemanusiaan, masih banyak yang harus diselesaikan. Baru setelah itu Miraj.

Makanya makna dari Isra Miraj itu menurut saya yang kedua bisa kita ambil: perjalanan kita menuju Allah adalah kehambaan, tapi jangan lupa kita juga punya banyak tanggung jawab kemanusiaan. Tujuan kita memang darul akhirah, akhirat. Tapi jangan lupa "wa la tansa nasibaka minad dunya"—jangan lupa urusan duniamu. Orang tidak akan beres akhiratnya kalau dunianya tidak beres.

Boleh dicek. Coba kalian cermati kisah para ulama besar, biasanya dunianya beres. Dunia beres itu segala amanah, segala tanggung jawab yang berhubungan dengan keduniaan itu tuntas. Kalau belum tuntas, biasanya terus kebalikannya—perbuatan-perbuatan baik yang harusnya menuju akhirat ditunggangi untuk kepentingan dunia. Ini perjalanannya kebalik, jadi Miraj dulu baru kemudian Isra. Ini agak sulit. Isra dulu baru Miraj—bereskan dulu dunianya baru naik Miraj. Ini kemanusiaan dan kehambaan.

Meskipun dalam praktiknya tidak sendiri-sendiri. Tidak bisa salat nanti kalau sudah kaya, tidak bisa kalau sudah beres urusan saya baru saya mendekat ke Allah. Tidak bisa sufisme besok saja kalau sudah lulus, puasa sunah, salat malam nanti saja kalau sudah lulus kuliah. Ini tidak harus begitu. Dua-duanya harus imbang. Isra dan Miraj itu dalam satu malam. Kemanusiaan dan kehambaan itu dua hal yang saling berkait.

Tidak mungkin kita memenuhi tugas kehambaan tanpa terpenuhi tugas kemanusiaan. Tidak mungkin kita beres urusan kemanusiaan kalau kehambaan kita rusak. Penjelasannya panjang tapi diyakini saja dulu: kalau agamamu kacau balau, duniamu insyaallah sama kacaunya. Sebaliknya juga kalau duniamu rusak tidak karuan, keagamaanmu juga nanti biasanya tidak beres juga. Maka tuntaskan dua-duanya dengan smooth: kemanusiaan dan kehambaan. Kemanusiaan diwakili oleh Isra, kehambaan diwakili dengan aktivitas Miraj.

Makna Ketiga: Bekal Perjalanan Menuju Allah

Makna ketiga—ini penjelasan tentang dalam perjalanan kita ini, inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, lewat Isra dan Miraj tadi, apa yang harus kita miliki biar perjalanan kita sukses? Ini saya membacanya dipahami dari ciri-ciri para nabi yang ditemui oleh Kanjeng Nabi dari langit pertama sampai langit ketujuh.

Teman-teman kan kadang bingung, dari langit satu sampai langit ketujuh kok komposisi nabinya tidak urut. Langit pertama Nabi Adam, langit kedua dua orang Nabi Yahya dan Isa, langit ketiga Nabi Yusuf, langit keempat Nabi Idris, langit kelima Nabi Harun, langit keenam Nabi Musa, langit ketujuh Nabi Ibrahim. Ini kadang-kadang kita membacanya agak sulit, maksudnya apa kok nabi-nabi ini yang dipertemukan dengan Rasulullah saat Miraj?

Ini membacanya versi anak muda kalau saya. Jadi di antara maknanya urutan nabi ini, ini sebenarnya bekal kita dalam perjalanan menuju Allah.

Langit Pertama: Nabi Adam

Bekal yang pertama apa? Kita bertemu Nabi Adam. Bertemu Nabi Adam itu berarti kita harus tahu sebelum menempuh perjalanan menuju Allah: kita ini siapa, dari mana, mau ke mana. Kalau orang Jawa, pelajaran tentang sangkan paraning dumadi. Nabi Adam ini simbol nabi yang langsung diberi amanat oleh Allah tugas sebagai khalifah di muka bumi. Berarti kita di muka bumi ini ada tujuannya, tidak iseng.

Dulu ini pesan pertama oleh Allah diberikan pada Nabi Adam. Maka bertemu Nabi Adam menyadarkan kita bahwa kita ini punya amanah, kita ini punya misi, punya tujuan di muka bumi ini. Teman-teman juga begitu, perjuangan di level apapun sebenarnya—apakah kemanusiaan, apakah kehambaan—harus sadar tujuan. Bahkan kuliah juga harus punya tujuan. Yang masih muda-muda harusnya sudah punya cita-cita: jangka pendek, jangka menengah, jangka panjang. Kalau tidak punya ini, tidak mungkin orang berjalan. Kalau random itu tidak jelas, nanti tidak terukur. Padahal tugas kita tidak random, tugas kita tegas, jelas.

Langit Kedua: Nabi Yahya dan Nabi Isa

Di langit kedua, Rasulullah bertemu Nabi Yahya dan Nabi Isa. Ini menarik, dua orang nabi yang sama-sama masih muda karena memang dua-duanya meninggal di usia muda. Ketemu dua orang remaja, dua orang pemuda di langit kedua. Dua orang ini bagi saya simbol yang pertama simbol semangat, ambisi anak-anak muda, plus simbol kesiapan untuk berkorban.

Jadi kalau teman-teman ingin menempuh cita-cita, harus semangatnya ditingkatkan dan siap berkorban. Korban itu bisa tenaga, bisa biaya, bisa waktu, bisa macam-macam. Kalau beliau Nabi Yahya, Nabi Isa, demi dakwahnya yang dikorbankan nyawa. Meskipun nanti Nabi Isa detik-detik terakhir diselamatkan oleh Allah, diangkat ke langit. Tapi sebenarnya dua-duanya adalah simbol pengorbanan.

Berarti setelah tahu tujuan, kemudian tingkatkan semangat, siaplah berkorban. Bagi yang tidak mau berkorban, tidak mau capek, tidak mau lelah, pengin enaknya saja—mumpung pandemi santai-santai saja, rebahan saja, kuliah dosennya ngomong sendiri sampai capek kita di kamar sambil ngopi, ngerokok, main game, dosennya tidak ngerti, matiin screennya—ayo diperbarui semangatnya. Jadi rela berkorban, capek sedikit, sulit sedikit, kehilangan kuota tidak apa-apa. Memang kuliah ini bagian dari target masa depanmu.

Langit Ketiga: Nabi Yusuf

Langit ketiga ketemu dengan Nabi Yusuf. Kalau teman-teman biasanya yang diingat-ingat Nabi Yusuf itu gantengnya, tampannya yang luar biasa. Iya, dari sisi itu memang beliau paling tampan. Tapi coba perhatikan riwayat Nabi Yusuf. Nabi Yusuf ini pekerja keras dari seorang anak yang dibuang ke sumur sampai nanti jadi menteri besar. Ini perjuangan yang tidak mudah—difitnah bolak-balik, difitnah perempuan sampai masuk penjara bertahun-tahun, tapi pantang menyerah, berjuang sampai kemudian jadi menteri besar.

Ini menurut saya teladan. Jadi setelah semangat di langit kedua, siap berkorban, kemudian Nabi Yusuf bagi saya simbol kerja keras, pantang menyerah, tidak putus asa. Ini penting bagi teman-teman yang muda-muda. Jadi tidak hanya dilihat kisah cintanya, tapi coba lihat perjuangan beliau.

Langit Keempat: Nabi Idris

Yang keempat ketemu dengan Nabi Idris. Nabi Idris ini kalau dalam sejarahnya dikenal sebagai nabi yang cerdas. Ada kalau katanya Syed Husein Nasr, Nabi Idris ini bisa disebut filosof pertama. Nanti banyak temuan-temuannya Nabi Idris yang hari ini kita pakai—ada cerita sandal, kemudian model seperti peniti, itu temuannya Nabi Idris. Meskipun tidak tahu riwayatnya dari mana, tapi yang jelas memang masyhur kalau Nabi Idris ini orang cerdas, pintar.

Kalau di bukunya Syed Husein Nasr, Idris itu kalau pakai bahasa Latin jadi Aramis. Nanti kalau pakai bahasa Yunani namanya jadi Hermes. Makanya nanti ada cabang ilmu yang terinspirasi oleh nama Hermes ini sehingga nama ilmunya adalah hermeneutik. Banyak orang anti hermeneutik karena mungkin karena istilahnya saja tidak islami, karena Hermes itu istilah Yunani. Coba diislamkan istilahnya pakai istilah bahasa Arabnya—Hermes itu Idris—mungkin orang tidak protes.

Simbolnya Idris adalah kecerdasan. Jadi menuju Allah itu harus mau mendayagunakan akalnya, tidak hanya kerja keras tapi juga kerja yang cerdas. Ini simbol dari Nabi Idris ditemui oleh Rasulullah di langit keempat. Makanya tadi saya bilang susunannya acak. Iya, karena ini mengikuti kebutuhannya. Jadi setelah ngerti tujuannya, semangat dan siap berjuang, rela berkorban, kemudian kerja keras, semuanya harus diwarnai dengan akal budi. Di situlah masuk kecerdasan di langit yang keempat.

Langit Kelima: Nabi Harun

Di langit kelima bertemulah beliau dengan Nabi Harun. Nabi Harun ini nabi yang memang menemani Nabi Musa, memang diminta oleh Nabi Musa untuk menemani beliau berdakwah. Nabi Musa punya kelemahan memang dalam tata bicara karena beliau waktu kecil oleh Allah diilhami untuk menelan bara api ketika diuji oleh Firaun—disuruh milih antara roti atau api. Sebenarnya mau milih roti, tapi oleh Allah ini kalau milih roti bahaya nyawanya terancam. Akhirnya diambil bara api sehingga kalau ngomong agak cedal, agak pelat Nabi Musa. Itu makanya beliau kurang fasikh dan beliau berdoa diberi teman Nabi Harun. Kalau Nabi Harun ini memang pintar, pandai berkomunikasi.

Berarti apa? Bekal selanjutnya perjalanan menuju Allah harus punya keterampilan berbagi, berkomunikasi. Mengapa di banyak momen kita butuh orang lain? Tidak mungkin jalan sendiri. Salat jamaah butuh orang lain, haji bareng orang lain, zakat memberikan pada orang lain. Kemampuan untuk berbagi, berkomunikasi ini juga nanti jadi kunci. Makanya Rasulullah ketemu juga dengan Nabi Harun. Ini tugas kita juga untuk melatih kemampuan berbagi dengan yang lain.

Langit Keenam: Nabi Musa

Di langit keenam bertemulah kalau ini populer sekali dengan Nabi Musa. Ini nabi yang sangat terkenal gaul kalau ngomong itu enak, mengakerapi bahkan sama Allah juga mengakerapi. Nabi Musa ini adalah simbol dari dua hal kalau menurut saya: keberanian dan keberpihakan.

Keberanian ini tidak perlu ditanyakan lagi. Betapa gagah beraninya seorang Nabi Musa yang dilawan Firaun. Kemudian di banyak cerita beliau betapa tangguhnya sampai sekali pukul ada orang yang tewas zaman beliau muda itu sehingga beliau lari. Jadi berani untuk bicara kebenaran. Kalau dia tidak cocok dia berani protes. Teman-teman silakan dicek di kitab-kitab tafsir tentang kisah-kisah Nabi Musa. Di beberapa ayat itu rasanya Nabi Musa ini komplain kepada Allah. Jadi Allah menetapkan apa, Nabi Musa nawar. Bahkan nanti ada kisahnya Isra Miraj, salat 50 waktu itu provokasinya Nabi Musa pada Nabi Muhammad untuk nawar—yang berani seperti ini Nabi Musa.

Tapi jangan lupa Nabi Musa ini punya ciri keberpihakan yang kuat, berpihak pada yang lemah, yang tertindas. Nabi Musa terkenal kisah beliau menemani Bani Israel. Bani Israel itu nakalnya, curangnya, licinya luar biasa sejak dulu. Tapi mengapa ditemani terus saat itu oleh Nabi Musa, salah bolak-balik sampai nyembah sapi bikinan dari emas? Tetap dimaafkan, ditemani karena saat itu orang-orang Bani Israel ini posisinya sedang tertindas.

Jadi Nabi Musa ini sangat peduli dengan umat yang tertindas, umat yang lemah. Ini menurut saya penting. Di antara bekal nanti perjalanan kita menuju Allah itu kepedulian kita kepada yang lemah dan tertindas. Ini pelajaran dari Nabi Musa. Termasuk ketika tawar-menawar jumlah salat sampai lima, itu yang dipertimbangkan: "Umatmu itu lemah, Muhammad. Jangan mau 50, tawar lagi." Itu berarti apa? Beliau ini memang punya hati yang sangat peduli pada orang-orang yang lemah dan tertindas

. Ini menurut saya kita yang muda-muda harusnya punya kualifikasi Musa ini: berani dan berpihak.

Langit Ketujuh: Nabi Ibrahim

Dan yang langit ketujuh ketemu dengan Nabi Ibrahim. Kalau Nabi Ibrahim ini simbol dari tawakal, istiqamah, pasrah. Ini di puncak perjalanan, apapun hasilnya lakukan seperti Nabi Ibrahim, pasrahkan semua pada Allah. Terimalah apapun keputusan Allah meskipun pahit. Nabi Ibrahim mendapat perintah bahkan untuk membunuh putra tersayang, dijalani karena itu memang ketetapan Allah.

Ini pelajaran terakhir dalam Miraj adalah pelajaran untuk tawakal, pelajaran untuk memasrahkan semuanya kepada Allah. Mental sebagaimana dimiliki oleh Nabi Ibrahim.

Jadi ini menurut saya rahasia di antara rahasia urutan para nabi, tapi ini tafsir untuk anak muda. Nanti akan beda lagi kalau tafsirnya versi para sufi akan beda lagi mungkin tafsir dari sudut pandang yang lain. Ini yang saya sampaikan perjalanannya anak-anak muda menempuh cita-citanya. Karena teman-teman yang muda-muda masih semangat, jadi jangan lupa Nabi Adam, jangan lupa Nabi Yahya dan Isa, jangan lupa Nabi Yusuf, Nabi Idris, Nabi Harun, Nabi Musa, dan Nabi Ibrahim.

Makna Keempat: Kesadaran Profetik

Makna yang keempat—ini penting. Ada pelajaran dari Rasulullah dalam perjalanan Miraj. Ini saya meminjam istilah intelektual muslim Pakistan, Muhammad Iqbal. Beliau punya istilah kesadaran: ada istilah kesadaran mistik, kesadaran profetik.

Rasulullah naik Miraj sampai langsung di posisi berhadap-hadapan dengan Allah. Posisi ini inilah yang dikejar-kejar oleh para sufi, para mistik. Teorinya macam-macam, suluknya macam-macam para sufi itu untuk mencapai makam dekat berhadap-hadapan, bahkan ada yang sampai bilang bersatu—makrifat, syuhud, kasyaf, wahdatul wujud, ittihad, macam-macam. Ini yang dikejar oleh para sufi. Kalau Kanjeng Nabi langsung dianugerahi oleh Allah dengan Miraj bisa berhadap-hadapan meskipun masih min warai hijab.

Pelajaran apa dari situ sebenarnya? Katanya Muhammad Iqbal, ada beda antara kesadarannya para sufi tertentu, kesadaran mistik dengan kesadaran profetik seperti yang dimiliki oleh Rasulullah. Kalau para sufi, puncak perjalanannya bertemu Allah itu selesai. Setelah bertemu Allah, dia asyik di sana, menikmati makamnya, menikmati keasyikannya bersama Allah saja. Beda dengan Nabi, beda dengan Rasulullah. Setelah mengalami puncak masih kembali lagi ke dunia, ke bumi karena sayang dan cinta pada umatnya.

Ini menurut saya pelajaran penting bagi teman-teman yang muda-muda. Hari ini teman-teman sedang berjuang mati-matian menempati diri sampai puncak. Kalau nanti teman-teman sampai puncak jangan berhenti di situ, menikmati kesuksesanmu sendiri, asyik sendiri dengan keberhasilanmu. Pikirkan juga, pedulikan juga orang-orang sekelilingmu, umatmu, orang lain—harus mau berbagi.

Ini kalau para sufi—kritiknya Iqbal—banyak mengkritik sufi-sufi yang pantais. Jadi dia selesai dengan wahdatul wujud, dia selesai dengan makrifat, dia selesai dengan syuhud. Tapi kalau Nabi, padahal ketemu Allah ini puncak-puncaknya nikmat. Kalau teman-teman baca kitab-kitab kuning, besok di surga setelah bermacam-macam kenikmatan kita mendapat satu kenikmatan terakhir paling puncak yaitu bertemu Allah. Dan Rasulullah ketemu langsung saat itu waktu Miraj. Harusnya kalau sudah begitu sudah di situ saja, tidak balik-balik apalagi zaman susah, zaman Nabi sedang banyak ujian.

Tapi karena Rasulullah sangat cinta pada kita, beliau tetap kembali lagi ke bumi, kembali lagi untuk peduli dengan umatnya. Ini namanya kesadaran profetik.

Saya masih ingat ada kalimat dari seorang sufi namanya Abu Yazid Bustomi. Abu Yazid Bustomi ini satu ketika berkata, "Seandainya aku adalah Muhammad, maka setelah mengalami puncak pertemuan dengan Allah, aku tidak akan kembali lagi." Pokoknya pertemuan itu sudah final, selesai. Ngapain lagi? Nyari kembali ke dunia yang semacam turun level gitu kalau bahasanya Abu Yazid Bustomi.

Tapi karena Kanjeng Nabi itu sangat sayang, sangat cinta dengan kita, melepaskan puncak kenikmatan pun tidak berat. Ini namanya kesadaran profetik. Semoga teman-teman yang muda-muda ini—orang-orang berkualitas semua—nantinya kalau sudah mengenyam puncak kualitas dirimu, jangan berhenti dan dinikmati sendiri saja. Tapi siap sedialah untuk berbagi dengan yang lain dalam bentuk apapun. Karena berbagi itu tidak cuma harta, tidak cuma uang. Bisa berbagi ilmu, bisa berbagi wawasan, bahkan sekedar berbagi kepedulian, kebersamaan, itu juga sudah berbagi.

Makna Kelima: Visioner dan Aspiratif

Yang terakhir—saya ambil makna dari upaya Nabi Musa dan Nabi Muhammad untuk nego jumlah salat. Biasanya siapa yang mau membantah perintahnya Allah? Siapa yang berani? Selain takut mungkin juga malu. Seperti Nabi Muhammad terakhir-terakhir malu mau nego lagi. Meskipun Nabi Musa masih memprovokasi—ayolah lima waktu itu masih berat—tapi Nabi Muhammad malu. Sudahlah lima itu sudah hanya sekian persennya dari 50.

Maka ini bahasa saya memahami ini: sebelum memutuskan sesuatu dalam hidup ini, kita harus hidup secara visioner. Visioner itu memandang ke depan. Yang dilakukan oleh Nabi Musa: "Mengkhawatirkan umatmu besok loh, lemah-lemah. Umatmu besok banyak yang mungkin malas-malas, sukanya rebahan saja dan macam-macam." Nabi Musa bisa memprediksi, mungkin dianalogikan dengan umatnya. Umatnya Nabi Musa itu diberi banyak keistimewaan, macam-macam saja masih ngeyel-ngeyel. Sudah dikasih beberapa mukjizat, beberapa kekhususan. Bani Israel sampai hari ini merasa dia kaum yang terpilih. Sudah diberi macam-macam begitu, masih bangkang, masih ngeyel.

Nabi Musa menganalogikan dengan umatnya ini, ini tidak akan jauh-jauh dari umatmu besok Muhammad. Ini kalau bahasa psikologi namanya visioner, melihat ke depan. Kalau dilihat zaman Nabi dan para sahabat, 50 rakaat itu kecil. Karena hanya melihat saat itu saja, sedang semangat-semangatnya beragama, apalagi ada Rasulullah yang nungguin. Tapi karena membaca ke depan, memahami ke depan—ini namanya visioner—maka Rasulullah memberanikan diri untuk nawar perintah-perintah salat itu.

Dan itu bahasa saya, ini tidak menyuarakan diri beliau sendiri. Rasulullah salat 50 waktu sehari itu kecil, simpel, tapi yang disuarakan adalah umat. Ini bahasa saya itu cara berpikir yang aspiratif, mendengarkan aspirasi, suaranya umat. Kalau Rasulullah sendiri yang begitu, simpel 50 waktu tidak berat. Bahkan salat kita yang wajib dan yang sunah kalau kita lengkapi dalam sehari bisa menyentuh 50. Kalau mahasiswa-mahasiswa yang saleh, seandainya 50 pun tidak berat. Tapi banyak saudara-saudara kita yang lima saja dia harus mati-matian.

Ini bahasa saya Rasulullah itu aspiratif, tidak hanya menerima suara-suara dari yang memang sudah jago, tapi juga mempertimbangkan umatnya mungkin yang lemah, yang kesulitan. Jadi visioner plus aspiratif. Di situ terjadi tawar-menawar perintah salat. Ini menurut saya mental yang bisa kita teladani dari Rasulullah dalam peristiwa Isra Miraj.

Penutup

Jangan putus asa karena Allah itu kuasa apapun, termasuk yang paling tidak masuk akal sekalipun. Jadi ini dua kendali utama dalam hidup kita. Sadarilah bahwa manusia itu terbatas, maka jangan sombong. Kenali batasmu, ngerti kapan berhenti, kapan harus maju. Dan jangan putus asa juga karena Allah maha kuasa, termasuk memperjalankan beliau dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa bahkan sampai Miraj.


Referensi: YouTube Channel “Ruang Sinau”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ditunggu komentar Anda!