7 PRINCIPLES OF POWERFUL STORYTELLING
"Orang yang paling berkuasa di dunia adalah pendongeng
(storyteller)." — Steve Jobs
Ilustrasi brand storytelling. Foto: Dok. Populix
1. START WITH
TENSION (Mulai dengan Ketegangan)
Jangan mulai dengan emosi atau fakta. Mulailah dengan konflik
batin atau luar.
- Mengapa ini berhasil: Otak langsung
terlibat ketika merasakan adanya celah antara "apa yang ada" dan
"apa yang seharusnya".
- Contoh: "Semuanya tampak sukses di atas kertas. Tapi
di dalam hati, saya tahu ada sesuatu yang hancur."
2. MAKE IT HUMAN
(Buat Menjadi Manusiawi)
Tunjukkan keraguan, ketakutan, atau kesalahan. Bukan versi
diri Anda yang dipoles atau sempurna.
- Mengapa ini berhasil: Orang-orang
memercayai pengalaman nyata, bukan performa/pencitraan.
- Contoh: "Saya tidak punya jawabannya. Dan untuk pertama kalinya, saya mengakuinya kepada tim saya."
3. SPEAK IN
IMAGES (Berbicara dalam Gambar)
Jangan menjelaskan idenya. Tunjukkan adegan yang bisa
divisualisasikan oleh audiens.
- Mengapa ini berhasil: Gambar
diproses lebih cepat daripada kata-kata dan diingat lebih lama.
- Contoh: "Ruangan menjadi sunyi. Semua orang
menghindari kontak mata. Saat itulah saya tahu keputusan itu salah."
4. MAKE IT ABOUT
THEM (Buat Ini Tentang Mereka)
Cerita tersebut harus mencerminkan dunia batin pendengar,
bukan ego Anda.
- Mengapa ini berhasil: Orang-orang
akan terlibat ketika mereka mengenali diri mereka sendiri dalam cerita
tersebut.
- Contoh: "Jika Anda pernah merasa terjebak dalam peran
yang terlihat hebat dari luar, ini akan terdengar akrab."
5. SHOW THE
STAKES (Tunjukkan Risikonya)
Tunjukkan apa yang bisa hilang, bukan hanya apa yang bisa
didapat.
- Mengapa ini berhasil: Kehilangan
sesuatu (loss aversion) lebih kuat pengaruhnya daripada janji
imbalan.
- Contoh: "Tidak melakukan apa pun terasa aman. Sampai
saya menyadari bahwa itu adalah pilihan yang paling mahal."
6. CLOSE THE
LOOP (Tutup Lingkarannya)
Kembali ke awal cerita dan tunjukkan apa yang telah
berubah.
- Mengapa ini berhasil: Lingkaran
yang tertutup meningkatkan daya ingat dan menciptakan rasa penyelesaian.
- Contoh: "Ketakutan yang saya sebutkan di awal tidak
pernah hilang. Tapi ketakutan itu berhenti mengendalikan saya."
7. LEAVE A
DECISION (Tinggalkan Keputusan)
Cerita yang bagus tidak berakhir dengan pelajaran. Ia
berakhir dengan sebuah pilihan.
- Mengapa ini berhasil: Cerita
membentuk perilaku ketika mereka mengundang tindakan.
- Contoh: "Jadi pertanyaan sebenarnya bukanlah apa yang
saya lakukan. Melainkan apa yang akan Anda lakukan selanjutnya."
Referensi: IG
@natan_mohart


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Ditunggu komentar Anda!