SISI LAIN SINGAPURA: DARI KEMEWAHAN KOTA HINGGA DRAMA DI MEJA CHECK-IN
“You are late and can’t check-in. You must
arrive 60 minutes before departure”
(kata seorang perempuan muda, petugas check-in
berkebangsaan India)
Sebagaimana
perjalanan saya ke Malaysia sudah dua kali, kepergian saya ke Singapura juga
untuk kedua kalinya. Kalau sebelumnya bersama rombongan, transportasi dan makan
sudah disediakan dan tanpa menginap, termasuk lengkap dengan seorang guide.
Kali ini saya harus menentukan segalanya sendiri. Mulai dari transportasi,
makan, penginapan, dll.
Saya
berangkat ke Singapura pada Sabtu, 14 Februari 2026 menggunakan pesawat Scoot
dari bandara YIA. Jadwal penerbangan jam 10.20 WIB dan tiba di Bandara Changi
jam 13.25 waktu setempat. Sebagaimana Malaysia, Singapura juga memiliki zona
waktu satu jam lebih cepat dari Waktu Indonesia Barat. Padahal, Jakarta dan
Bangkok memiliki zona waktu yang sama, entah mengapa Malaysia Barat dan
Singapura berbeda sendiri.
Lalu, saya
langsung menuju stasiun MRT bandara untuk membeli kartu Singapore Tourist Pass
(STP).
STP ini
bisa digunakan baik kereta maupun bus kota, dengan tarif sebagai berikut: 1
hari ($17), 2 hari ($24), 3 hari ($29), 4 hari ($37), dan 5 hari ($45) dengan
kurs saat itu $1 = Rp 13.337,-. Kartu ini bisa digunakan baik untuk kereta
maupun bus kota tanpa batas, tinggal tempel (tap) saat maasuk maupun
keluar.
Setelah
membeli kartu, saya naik MRT menuju hotel yang berada di Syed Alwi Rd, kawasan Little
India. Hotel yang saya tempati seharga Rp 1.350.000,- per malam. Ini adalah
hotel termurah, sebuah kamar hotel sempit dengan fasilitas ala kadarnya, setara
dengan kamar kos murah untuk mahasiswa. Kalau mau yang agak lumayan, sebaiknya
mencari yang harganya 2-jutaan per malam. Hehe…
Saya makan
pertama kali di rumah makan kecil dekat hotel dengan memesan nasi goreng biasa
ditambah es the gelas kecil dengan harga $11 = Rp 149.000,-. Kalau mau makan
yang agak enak atau lengkap ya paling tidak harganya 200-ribuan per porsi-lah.
Wkwkwk…..
Kereta
MRT Bawah Tanah
Di sana
disebut Downtown Line. Semua jalurnya berada di bawah tanah. Kereta ini
terdiri dari 6 rute yang menghubungkan seluruh negara dari ujung timur ke barat
dan dari ujung utara ke selatan. Antar-rute saling terhubung satu sama lain
(transit), atau disebut Interchange, sehingga bisa berpindah-pindah
jalur.
MRT ini
beroperasi dari jam 05.30 – 24.00 waktu setempat. Jarak antar kereta satu dengan kereta
berikutnya hanya 5 menit. Makanya di stasiun tidak ada disediakan tempat duduk
untuk menunggu, karena orang cukup berdiri sebentar dan kereta berikutnya akan
segera datang. Perlu diketahui, kereta ini tanpa masinis (supir) maupun petugas
di dalam gerbong.
Setelah
masuk ke stasiun, saya perlu turun menggunakan eskalator sebanyak 4 kali. Bisa
dibayangkan betapa dalamnya terowongan di bawah tanah sana. Belum lagi jarak
antar eskalator cukup jauh dan memutar, lumayan capek juga berjalan. Termasuk
ketika kita ingin transit, jalannya lebih jauh lagi. Naik beberapa eskalator
dan turun lagi beberapa eskalator. Pas di jalur interchange, sepertinya
stasiun itu bertingkat.
Saya ingin
tahu seberapa luas negara Singapura itu. Saya mengukur dengan naik MRT dari
paling ujung selatan (Harbour Front) sampai ke stasiun paling ujung
utara (Woodland Noth) yang berbatasan dengan Johor Baru, Malaysia. Waktu
yang ditempuh adalah ±45 menit. Negara yang sangat kecil,
bukan. Total luas negara ini sekitar 734,3 km persegi, atau hanya 72%-nya luas
Kabupaten Boyolali.
Kalau
bepergian naik MRT, kita tidak bisa melihat pemandangan karena gelap (bawah
tanah). Bagusnya sih naik bus kota, apalagi bus kotanya ukurannya besar dan
panjang serta kebanyakan tingkat lagi. Cocok untuk menikmati pemandangan kota,
terutama kalau duduk di tingkat atas. Cuma sayang, untuk bus kota belum
menjangkau ke seluruh penjuru negara.
Ketertiban
Jalan di Singapura
Meskipun
sebagai kota terbesar di Asia Tenggara, namun secara umum jalanan di Singapura
cukup lengang. Selama tinggal 4 hari di sini, saya belum menemui ada kemacetan
di jalan raya. Saya juga nyaris tidak melihat ada sepeda motor yang lewat. Sebenarnya
sepeda motor ada juga yang melintas terutama di jalan-jalan kecil, cuma bisa
dihitung dengan jari.
Jalanan
juga terlihat sangat bersih dari rumput liar maupun sampah. Bersih juga dari
kabel listrik dan kabel internet, karena kabel-kabel itu semuanya ditanam di
dalam tanah. termasuk bersih dari reklame, papan iklan, atau hal-hal lainnya
yang dapat mengganggu pemandangan dan keindahan kota.
Berkendara
di jalan tol juga GRATIS. Bahkan, sepeda motor juga diperbolehkan masuk jalan
tol. Ini sama dengan yang berlaku di Malaysia.
Saat naik
taksi ke bandara dan melalui jalan tol, saya tidak menemui ada gerbang tol
masuk maupun gerbang tol keluar. Sebagaimana Malaysia, Singapura memperbolehkan
sepeda motor masuk jalan tol. Meskipun diizinkan, faktanya baik di kedua negara
itu, amat sangat sedikit sepeda motor yang melewati jalan tol.
Semua jalan
tol dipantau dengan CCTV. Kecepatan maksimal 90 km. jika melebihi itu akan
dikenakan denda, poin penalti, penuntutan pengadilan, atau pencabutan SIM.
Tempat
Wisata
Cukup
banyak tempat wisata di sana. Hari pertama saya mengunjuni Merlion Park di
kawasan Marina Bay, lanjut ke Masjid Sultan di kawasan Kampong Gelam. Malamnya
mengunjungi Chinatown. Hari kedua mengunjungi Pantai East Coast di kawasan
Tanjung Katong, kemudian lanjut ke Woodland North yang berbatasan langsung
dengan Johor Baru, Malaysia. Malamnya belanja oleh-oleh di Mustafa Center Mall
di kawasan Little India, persis di depan hotel tempat kami menginap.
Saya
sengaja tidak pergi ke Pulau Sentosa, Kebun Binatang, atau tempat-tempat
lainnya yang masuknya harus menggunakan tiket dan harganya selangit lagi.
Maklum, untuk biaya hotel dan makan saja sudah mahal. Jadi harus bisa berhemat
(pintar memanajemen uang).
Untuk
gambaran tempat wisata, tidak perlu saya uraikan di sini. Anda bisa googling,
atau melihat di media sosial (YouTube, TikTok, Instagram, dll).
Catatan untuk
Wisatawan
1. Denda merokok
Peraturan tentang
larangan merokok di tempat umum diterapkan dengan sangat ketat, sehingga saya
tidak menemukan orang merokok di tempat umum. Para perokok hanya bisa merokok
di kamar mereka, atau di ruangan khusus untuk merokok (smoking area).
Smoking area sendiri hanya ada di tempat-tempat tertentu saja dan jumlahnya
sangat terbatas. Denda merokok di tempat umum sebesar $2,000 = Rp 26.716.000,-.
Beruntung sekali para
perokok di Indonesia. Meskipun di beberapa tempat ada larangan merokok,
kebanyakan itu hanya sekedar tulisan doang. Jarang yang diterapkan secara
ketat. Orang yang kedapatan merokok di tempat umum paling banter hanya ditegur,
belum sampai dikenakan sanksi berupa denda atau kurungan penjara.
2. Kemampuan berbahasa Inggris
Singapura memiliki 4
bahasa resmi, yaitu Inggris, Mandarin, Melayu, dan Tamil. Komposisi etnis di
Singapura meliputi: Tionghoa (74-77%), diikuti Melayu (13-15%) sebagai
penduduk asli, India (7-9%), dan kelompok lainnya (3%).
Oleh karena
itu, kemampuan berbahasa Inggris cukup signifikan.
3. Fasilitas tempat ibadah
Di Singapura, cukup sulit menemukan
fasilitas tempat ibadah (mushalla) di tempat-tempat umum seperti di stasiun,
pusat perbelanjaan, tempat wisata, dll. Masjid pun jumlahnya amat sedikit,
hanya ada di lokasi-lokasi tertentu saja, terutama di perkampungan Melayu dan
India. Selain tempat ibadah, fasilitas toilet di tempat umum pun minim/susah
ditemukan. Sering kejadian, apabila sedang kebelet BAK/BAB nyaris tidak
menemukan toilet, atau terpaksa menahan cukup lama sampai menemukan lokasi
toilet. (Makanya di sini usahakan jangan gampang kebelet, hehe…).
Drama Menuju
Kepulangan
Tulisan ini
saya akhiri cerita saya yang nyaris tertinggal pesawat. Jadwal pesawat Scoot ke
YIA jam 07.58 waktu setempat. Jam 06.10 saya memesan Grab. Sudah memesan
berkali-kali, tidak satu pun yang menerima pesanan saya, hingga waktu
menunjukkan jam 06.30. Saya menjadi panik karena takut ketinggalan pesawat.
Di tengah
kepanikan, kami mendekati kerumunan orang India di depan hotel untuk meminta
tolong salah seorang dari mereka mencarikan taksi atau membantu memesankan
Grab. Ia mencoba memesan Grab, juga tidak berhasil.
Orang itu
sempat menawari naik mobil dan meminta untuk membayar terlebih dahulu. Sempat
khawatir, jangan-jangan nanti kami ditipu. Setelah membayar ke dia, masih
membayar ke supir juga. Akan tetapi, di tengah kondisi panik dan waktu semakin mepet,
kami langsung mengiyakan saja.
Akhirnya
orang itu mengambil mobil, meminta kami masuk, dan tidak jadi meminta bayaran
di awal. Di tengah perjalanan, kami mengobrol dengannya. Dia orang India yang
beragama Islam dan bernama Rahman. Ternyata orangnya cukup ramah dan lancar
berbahasa Melayu. Dia pun pernah beberapa kali berkunjung ke Indonesia.
Kami pun
sampai di Terminal 1 Bandara Changi jam 07.10. Bukan memukul harga sebagaimana
yang sering terjadi di Indonesia, supir itu meminta kami membayar $30 saja
(seharusnya $35 untuk Grab). Kami pun mengucapkan terima kasih dan
mendoakannya.
Kami
bergegas lari kencang masuk bandara dan mencari lokasi chek-in. Setelah menemukan konter pesawat Scoot, seorang pria
India setengah baya yang bertugas di situ membawa saya ke konter Scoot
berikutnya dan menyerahkan ticket booking saya kepada seorang perempuan muda
berkebangsaan India juga, ia kemudian berkata, “You are late and can’t
check-in. You must arrive 60 minutes before departure” dengan tegas.
Kami yang
sedari tadi panik, terburu-buru, dan napas terengah-engah kaget setengah mati.
Waduh, bagaimana ini. Seandainya pesan tiket lagi, belum tentu hari ini atau
hari besok ada. Kami sempat melihat ekspresi kasihan dari si bapak setengah
baya itu.
Spontan
saya mengatakan, “Tolonglah, kami membawa anak kecil. Kasihanilah dia!”
Petugas
perempuan muda berpikir sejenak. Akhirnya dengan sedikit mengumpat dan raut
muka kesal, ia pun bersedia mencetak tiket saya. Alhamdulillah, lega sekali
rasanya.
Saya
mengucapkan terima kasih kepada petugas itu sekaligus meminta maaf.
Secepat
kilat, meskipun membawa tas yang cukup berat, kami berjalan setengah berlari
agar jangan sampai tertinggal pesawat. Beruntung di pintu imigrasi tidak ada
antrian panjang dan proses pemeriksaan barang juga berlangsung cepat dan
lancar, sehingga kami bisa segera mencapai Gate untuk masuk ke pesawat.
Kami
bersyukur berkali-kali. Kepanikan dan ketegangan berakhir dengan kelegaan dan
senyuman bahagia dan penuh syukur. Detik-detik “kematian” telah berlalu.
Wahai Indonesia, kami kembali ke pangkuanmu lagi.




