Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Traveling Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Traveling Story. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Februari 2026

Sisi Lain Singapura: Dari Kemewahan Kota hingga Drama di Meja Check-In

SISI LAIN SINGAPURA: DARI KEMEWAHAN KOTA HINGGA DRAMA DI MEJA CHECK-IN

 

“You are late and can’t check-in. You must arrive 60 minutes before departure”

(kata seorang perempuan muda, petugas check-in berkebangsaan India)

 

Sebagaimana perjalanan saya ke Malaysia sudah dua kali, kepergian saya ke Singapura juga untuk kedua kalinya. Kalau sebelumnya bersama rombongan, transportasi dan makan sudah disediakan dan tanpa menginap, termasuk lengkap dengan seorang guide. Kali ini saya harus menentukan segalanya sendiri. Mulai dari transportasi, makan, penginapan, dll.  

Saya berangkat ke Singapura pada Sabtu, 14 Februari 2026 menggunakan pesawat Scoot dari bandara YIA. Jadwal penerbangan jam 10.20 WIB dan tiba di Bandara Changi jam 13.25 waktu setempat. Sebagaimana Malaysia, Singapura juga memiliki zona waktu satu jam lebih cepat dari Waktu Indonesia Barat. Padahal, Jakarta dan Bangkok memiliki zona waktu yang sama, entah mengapa Malaysia Barat dan Singapura berbeda sendiri.

Lalu, saya langsung menuju stasiun MRT bandara untuk membeli kartu Singapore Tourist Pass (STP).

STP ini bisa digunakan baik kereta maupun bus kota, dengan tarif sebagai berikut: 1 hari ($17), 2 hari ($24), 3 hari ($29), 4 hari ($37), dan 5 hari ($45) dengan kurs saat itu $1 = Rp 13.337,-. Kartu ini bisa digunakan baik untuk kereta maupun bus kota tanpa batas, tinggal tempel (tap) saat maasuk maupun keluar.

Setelah membeli kartu, saya naik MRT menuju hotel yang berada di Syed Alwi Rd, kawasan Little India. Hotel yang saya tempati seharga Rp 1.350.000,- per malam. Ini adalah hotel termurah, sebuah kamar hotel sempit dengan fasilitas ala kadarnya, setara dengan kamar kos murah untuk mahasiswa. Kalau mau yang agak lumayan, sebaiknya mencari yang harganya 2-jutaan per malam. Hehe…

Saya makan pertama kali di rumah makan kecil dekat hotel dengan memesan nasi goreng biasa ditambah es the gelas kecil dengan harga $11 = Rp 149.000,-. Kalau mau makan yang agak enak atau lengkap ya paling tidak harganya 200-ribuan per porsi-lah. Wkwkwk…..


Foto: Merlion Park

Kereta MRT Bawah Tanah

Di sana disebut Downtown Line. Semua jalurnya berada di bawah tanah. Kereta ini terdiri dari 6 rute yang menghubungkan seluruh negara dari ujung timur ke barat dan dari ujung utara ke selatan. Antar-rute saling terhubung satu sama lain (transit), atau disebut Interchange, sehingga bisa berpindah-pindah jalur.

MRT ini beroperasi dari jam 05.30 – 24.00 waktu setempat.  Jarak antar kereta satu dengan kereta berikutnya hanya 5 menit. Makanya di stasiun tidak ada disediakan tempat duduk untuk menunggu, karena orang cukup berdiri sebentar dan kereta berikutnya akan segera datang. Perlu diketahui, kereta ini tanpa masinis (supir) maupun petugas di dalam gerbong. 

Setelah masuk ke stasiun, saya perlu turun menggunakan eskalator sebanyak 4 kali. Bisa dibayangkan betapa dalamnya terowongan di bawah tanah sana. Belum lagi jarak antar eskalator cukup jauh dan memutar, lumayan capek juga berjalan. Termasuk ketika kita ingin transit, jalannya lebih jauh lagi. Naik beberapa eskalator dan turun lagi beberapa eskalator. Pas di jalur interchange, sepertinya stasiun itu bertingkat.

Saya ingin tahu seberapa luas negara Singapura itu. Saya mengukur dengan naik MRT dari paling ujung selatan (Harbour Front) sampai ke stasiun paling ujung utara (Woodland Noth) yang berbatasan dengan Johor Baru, Malaysia. Waktu yang ditempuh adalah ±45 menit. Negara yang sangat kecil, bukan. Total luas negara ini sekitar 734,3 km persegi, atau hanya 72%-nya luas Kabupaten Boyolali.

Kalau bepergian naik MRT, kita tidak bisa melihat pemandangan karena gelap (bawah tanah). Bagusnya sih naik bus kota, apalagi bus kotanya ukurannya besar dan panjang serta kebanyakan tingkat lagi. Cocok untuk menikmati pemandangan kota, terutama kalau duduk di tingkat atas. Cuma sayang, untuk bus kota belum menjangkau ke seluruh penjuru negara.

Foto: Masjid Sultan, Kampong Gelam

Ketertiban Jalan di Singapura

Meskipun sebagai kota terbesar di Asia Tenggara, namun secara umum jalanan di Singapura cukup lengang. Selama tinggal 4 hari di sini, saya belum menemui ada kemacetan di jalan raya. Saya juga nyaris tidak melihat ada sepeda motor yang lewat. Sebenarnya sepeda motor ada juga yang melintas terutama di jalan-jalan kecil, cuma bisa dihitung dengan jari.

Jalanan juga terlihat sangat bersih dari rumput liar maupun sampah. Bersih juga dari kabel listrik dan kabel internet, karena kabel-kabel itu semuanya ditanam di dalam tanah. termasuk bersih dari reklame, papan iklan, atau hal-hal lainnya yang dapat mengganggu pemandangan dan keindahan kota.

Berkendara di jalan tol juga GRATIS. Bahkan, sepeda motor juga diperbolehkan masuk jalan tol. Ini sama dengan yang berlaku di Malaysia.

Saat naik taksi ke bandara dan melalui jalan tol, saya tidak menemui ada gerbang tol masuk maupun gerbang tol keluar. Sebagaimana Malaysia, Singapura memperbolehkan sepeda motor masuk jalan tol. Meskipun diizinkan, faktanya baik di kedua negara itu, amat sangat sedikit sepeda motor yang melewati jalan tol. 

Semua jalan tol dipantau dengan CCTV. Kecepatan maksimal 90 km. jika melebihi itu akan dikenakan denda, poin penalti, penuntutan pengadilan, atau pencabutan SIM.


Foto: East Coast Beach, Tanjung Katong

Tempat Wisata

Cukup banyak tempat wisata di sana. Hari pertama saya mengunjuni Merlion Park di kawasan Marina Bay, lanjut ke Masjid Sultan di kawasan Kampong Gelam. Malamnya mengunjungi Chinatown. Hari kedua mengunjungi Pantai East Coast di kawasan Tanjung Katong, kemudian lanjut ke Woodland North yang berbatasan langsung dengan Johor Baru, Malaysia. Malamnya belanja oleh-oleh di Mustafa Center Mall di kawasan Little India, persis di depan hotel tempat kami menginap.

Saya sengaja tidak pergi ke Pulau Sentosa, Kebun Binatang, atau tempat-tempat lainnya yang masuknya harus menggunakan tiket dan harganya selangit lagi. Maklum, untuk biaya hotel dan makan saja sudah mahal. Jadi harus bisa berhemat (pintar memanajemen uang).

Untuk gambaran tempat wisata, tidak perlu saya uraikan di sini. Anda bisa googling, atau melihat di media sosial (YouTube, TikTok, Instagram, dll).

Catatan untuk Wisatawan

1.       Denda merokok

Peraturan tentang larangan merokok di tempat umum diterapkan dengan sangat ketat, sehingga saya tidak menemukan orang merokok di tempat umum. Para perokok hanya bisa merokok di kamar mereka, atau di ruangan khusus untuk merokok (smoking area). Smoking area sendiri hanya ada di tempat-tempat tertentu saja dan jumlahnya sangat terbatas. Denda merokok di tempat umum sebesar $2,000 = Rp 26.716.000,-.

Beruntung sekali para perokok di Indonesia. Meskipun di beberapa tempat ada larangan merokok, kebanyakan itu hanya sekedar tulisan doang. Jarang yang diterapkan secara ketat. Orang yang kedapatan merokok di tempat umum paling banter hanya ditegur, belum sampai dikenakan sanksi berupa denda atau kurungan penjara.  


Dokumentasi pribadi

2.       Kemampuan berbahasa Inggris

Singapura memiliki 4 bahasa resmi, yaitu Inggris, Mandarin, Melayu, dan Tamil. Komposisi etnis di Singapura meliputi: Tionghoa (74-77%), diikuti Melayu (13-15%) sebagai penduduk asli, India (7-9%), dan kelompok lainnya (3%).

Oleh karena itu, kemampuan berbahasa Inggris cukup signifikan.

3.       Fasilitas tempat ibadah

Di Singapura, cukup sulit menemukan fasilitas tempat ibadah (mushalla) di tempat-tempat umum seperti di stasiun, pusat perbelanjaan, tempat wisata, dll. Masjid pun jumlahnya amat sedikit, hanya ada di lokasi-lokasi tertentu saja, terutama di perkampungan Melayu dan India. Selain tempat ibadah, fasilitas toilet di tempat umum pun minim/susah ditemukan. Sering kejadian, apabila sedang kebelet BAK/BAB nyaris tidak menemukan toilet, atau terpaksa menahan cukup lama sampai menemukan lokasi toilet. (Makanya di sini usahakan jangan gampang kebelet, hehe…).

Drama Menuju Kepulangan

Tulisan ini saya akhiri cerita saya yang nyaris tertinggal pesawat. Jadwal pesawat Scoot ke YIA jam 07.58 waktu setempat. Jam 06.10 saya memesan Grab. Sudah memesan berkali-kali, tidak satu pun yang menerima pesanan saya, hingga waktu menunjukkan jam 06.30. Saya menjadi panik karena takut ketinggalan pesawat.


Dokumentasi pribadi

Di tengah kepanikan, kami mendekati kerumunan orang India di depan hotel untuk meminta tolong salah seorang dari mereka mencarikan taksi atau membantu memesankan Grab. Ia mencoba memesan Grab, juga tidak berhasil.

Orang itu sempat menawari naik mobil dan meminta untuk membayar terlebih dahulu. Sempat khawatir, jangan-jangan nanti kami ditipu. Setelah membayar ke dia, masih membayar ke supir juga. Akan tetapi, di tengah kondisi panik dan waktu semakin mepet, kami langsung mengiyakan saja.

Akhirnya orang itu mengambil mobil, meminta kami masuk, dan tidak jadi meminta bayaran di awal. Di tengah perjalanan, kami mengobrol dengannya. Dia orang India yang beragama Islam dan bernama Rahman. Ternyata orangnya cukup ramah dan lancar berbahasa Melayu. Dia pun pernah beberapa kali berkunjung ke Indonesia.

Kami pun sampai di Terminal 1 Bandara Changi jam 07.10. Bukan memukul harga sebagaimana yang sering terjadi di Indonesia, supir itu meminta kami membayar $30 saja (seharusnya $35 untuk Grab). Kami pun mengucapkan terima kasih dan mendoakannya.

Kami bergegas lari kencang masuk bandara dan mencari lokasi chek-in. Setelah  menemukan konter pesawat Scoot, seorang pria India setengah baya yang bertugas di situ membawa saya ke konter Scoot berikutnya dan menyerahkan ticket booking saya kepada seorang perempuan muda berkebangsaan India juga, ia kemudian berkata, “You are late and can’t check-in. You must arrive 60 minutes before departure” dengan tegas.

Kami yang sedari tadi panik, terburu-buru, dan napas terengah-engah kaget setengah mati. Waduh, bagaimana ini. Seandainya pesan tiket lagi, belum tentu hari ini atau hari besok ada. Kami sempat melihat ekspresi kasihan dari si bapak setengah baya itu.

Spontan saya mengatakan, “Tolonglah, kami membawa anak kecil. Kasihanilah dia!”

Petugas perempuan muda berpikir sejenak. Akhirnya dengan sedikit mengumpat dan raut muka kesal, ia pun bersedia mencetak tiket saya. Alhamdulillah, lega sekali rasanya.

Saya mengucapkan terima kasih kepada petugas itu sekaligus meminta maaf.

Secepat kilat, meskipun membawa tas yang cukup berat, kami berjalan setengah berlari agar jangan sampai tertinggal pesawat. Beruntung di pintu imigrasi tidak ada antrian panjang dan proses pemeriksaan barang juga berlangsung cepat dan lancar, sehingga kami bisa segera mencapai Gate untuk masuk ke pesawat.

Kami bersyukur berkali-kali. Kepanikan dan ketegangan berakhir dengan kelegaan dan senyuman bahagia dan penuh syukur. Detik-detik “kematian” telah berlalu.

Wahai Indonesia, kami kembali ke pangkuanmu lagi.