Cari Blog Ini

Senin, 27 April 2026

7 Ide Bisnis yang Tidak Pernah Sepi 2026

7 Ide Bisnis yang Tidak Pernah Sepi 2026

 

 

Lu buka berita pagi isinya PHK Masal dan Daya Beli Turun. Bisnis tutup di mana-mana. Kalau lu percaya semua headline itu, lu bakal mikir sekarang bukan waktunya mulai usaha.

 

sumber: https://www.banksinarmas.com/id/public/upload/images/657c048021d5f_15.jpg

Padahal, ada tujuh ide bisnis yang orang selalu butuh, yang justru makin rame persis di saat kayak gini. Dan ini yang menarik, bisnis-bisnis ini gak butuh modal miliaran, gak butuh franchise mahal, yang mereka butuh cuma satu hal yang hampir gak pernah orang pikirkan. Setelah membaca bahasan ini, lu gak akan pernah lagi lihat lokasi biasa dengan cara yang sama.

 

Stasiun kereta, tempat cuci mobil, kompleks perumahan, semuanya berubah jadi peluang. Tapi kebanyakan orang gak pernah lihat peluang ini, karena kebanyakan orang milih bisnis dengan cara yang sama, dan cara itu hampir selalu gagal. Dua tahun lalu, temen gue buka kedai boba di Bekasi.

 

Modalnya hampir 20 juta. Interior bagus, menu lengkap. Tiga bulan pertama ramai, bulan keempat mulai sepi, bulan keenam tutup.

 

Lu tahu ada berapa kedai boba dalam radius 1 kilometer dari tempat dia? Tujuh. Dan ini bukan kasus langka. Lu jalan di ruko mana pun sekarang, polanya sama.

 

Korean food sebelahan sama Korean food. Dim sum viral di sebelah dim sum viral. Satu udah pasang sepanduk diskon 50%, yang sebelahnya udah pasang tulisan disewakan.

 

Bobanya enak? Itu bukan masalahnya. Masalahnya dia milih bisnis berdasarkan tren. Dan kalau lu milih bisnis karena lagi rame, lu otomatis masuk ke kolam yang isinya ratusan orang jualan hal yang sama.

 

Pertanyaannya gini, kalau semua orang jualan hal yang sama di tempat yang sama, kenapa pelanggan harus milih lu? Sebagian besar gak bisa jawab pertanyaan itu. Dan itu alasan mereka tutup. Tapi ada bisnis-bisnis yang gak pernah punya masalah ini, yang pelanggannya datang sendiri tanpa perlu dicari.

 

Pertanyaannya, apa bedanya? Bedanya cuma satu, posisi. Bisnis yang bertahan puluhan tahun hampir selalu punya satu kesamaan. Lokasinya menempel di tempat dimana orang udah pasti ada setiap hari.

 

Lu gak perlu cari pelanggan, mereka udah di depan pintu lu. Tapi gue harus jujur duluan, posisi itu bukan jaminan otomatis sukses. Lu tetep bisa gagal kalau eksekusinya berantakan.

 

Yang posisi berikan itu keuntungan struktural. Lu mulai dari posisi yang jauh lebih menguntungkan dibanding orang yang buka bisnis di tempat random. Dan bentuk paling sederhananya, nempel di jalur rutinitas orang.

 

Bayangin pukul 11 malam di gang kos-kosan Jogja, bau minyak goreng dan kecap manis ngambang di udara. Lima kursi plastik penuh, enam orang berdiri nunggu pesanan. Warmindo, itu kelihatan remeh.

 

Tenda, kompor, meja plastik. Tapi coba lu pikir, area kos-kosan dan kampus itu trafiknya gak pernah libur. Malam minggu ramai, malam senin ramai.

 

Mau ujian atau libur semester, mahasiswa tetep makan. Dan makanan yang paling sering mereka beli itu Indomie. Sekarang gue ajak lu lihat angkanya.

 

Satu porsi Indomie di Warmindo dijual Rp. 12.000 sampai Rp. 18.000. Tergantuk topingnya, biaya bahan baku per porsi itu sekitar Rp.

 

5.000 sampai Rp. 7.000. Mie instan Rp. 3.000-an, telur, sayur, minyak, gas.

 

Artinya, marjin per porsi sekitar Rp. 5.000 sampai Rp. 11.000. Kedengerannya kecil, tapi sekarang kaliin sama volume.

 

Warmindo yang posisinya pas di tengah area kos-kosan, bisa jual Rp. 50 sampai Rp. 80 porsi per malam.

 

Lu kaliin Rp. 50 porsi kali marjin Rp. 7.000, itu Rp.

 

350.000 per malam. Dalam sebulan, itu Rp. 10.500.000. Dan itu skenario Warmindo yang udah jalan dan punya pelanggan tetap.

 

Warmindo baru di bulan-bulan pertama, realistisnya mungkin Rp. 20 sampai Rp. 30 porsi per malam dulu.

 

Marjin harian lo mungkin cuma Rp. 150.000 sampai Rp. 200.000. Dan itu normal.

 

Semua bisnis butuh waktu buat bangun nama. Modalnya, tenda, kompor dua tungku, peralatan masak, meja kursi plastik. Total Rp.

 

3 sampai Rp. 5.000.000. Setara uang yang lo habiskan buat GoFood selama 3 bulan. Sekarang bagian yang jarang orang bahas.

 

Di area kos-kosan yang padat, lo hampir pasti bukan satu-satunya Warmindo. Mungkin udah ada dua atau tiga di gang sebelah. Dan ini yang bikin banyak orang ragu.

 

Tapi justru di sini prinsip posisi bekerja. Mahasiswa jam 11 malam gak mau jalan jauh. Mereka cari yang paling dekat dari pintu kos mereka.

 

Kalau lo ada di gang A dan Warmindo lain ada di gang C, mahasiswa dang A tetap ke tempat lo. Bukan karena indomie lo lebih enak, tapi karena lo lebih dekat. Ibaratnya gini, lo gak bersaing lewat rasa, lo bersaing lewat jarak.

 

Dan di area kos-kosan yang gang-gangnya sempit, jarak 50 meter aja udah bikin orang males jalan. Ini yang bikin Warmindo bisa hidup berdampingan di area yang sama tanpa saling bunuh. Warmindo menguasai malam karena mahasiswa cari yang paling dekat.

 

Tapi Warmindo itu bisnis malam. Begitu matahari terbit, trafiknya mati. Gimana kalau ada lokasi yang trafiknya justru meledak di pagi hari, yang isinya ribuan orang yang baru turun dari kereta dan cuma punya 5 menit sebelum masuk kantor.

 

Pukul 6 pagi, stasiun Bogor, gerobak nasi uduk di depan pintu keluar. Antrian pendek tapi gak pernah berhenti. Satu orang beli, satu orang datang.

 

Transaksi 30 detik. 5.000 sampai 15.000 per porsi. Di sini yang bikin beda itu bukan hitungan marginnya.

 

Yang bikin beda itu kecepatannya. Satu transaksi 30 detik. Kalau lo layani 100 orang di jam sibuk, itu cuma butuh waktu 50 menit kerja.

 

Masing-masing bayar 7.000 sampai 15.000. Total yang masuk bisa jutaan rupiah dalam hitungan jam. Tapi yang jauh lebih menarik dari bisnis ini itu bukan omsetnya. Ini soal waktunya.

 

Lo buka jam 6 pagi. Jam 8, gerobak ditutup. Dua jam, selesai.

 

Mau pulang tidur lagi? Silahkan. Mau jalanin bisnis lain di sisa hari? Bisa. Mau kerja kantoran part-time? Juga bisa.

 

Bisnis ini gak mengikat lo 12 jam sehari kayak kebanyakan usaha makanan lain. Sekarang bagian realistisnya. Dapat spot jualan di depan stasiun itu gak gampang.

 

Persaingannya ketat. Kadang udah ada pedagang lama yang nempatin lokasi tertentu selama bertahun-tahun. Dan di beberapa stasiun, lo butuh izin atau setidaknya hubungan baik sama pengelola area.

 

Tapi justru ini yang sering bikin orang nyerah sebelum mulai. Mereka lihat hambatannya dan langsung mundur. Padahal kalau lo survei dulu, banyak stasiun, terminal, dan haltebus yang area sekelilingnya masih belum dipenuhi pedagang sarapan.

 

Bukan stasiun besarnya, tapi stasiun-stasiun kecil yang volume penumpangnya tetap ribuan per hari. Modal? Gerobak dan bahan baku hari pertama. Satu sampai tiga juta.

 

Lebih murah dari sepatu olahraga yang lo pakai sekarang. Kiosk sarapan menguasai pagi karena kecepatannya. Tapi pagi itu berlangsung singkat.

 

Jam 6 sampai jam 8. Setelah itu, trafiknya mati. Gimana kalau ada momen di mana ratusan orang keluar dari satu gedung di jam yang persis sama dan semuanya butuh hal yang persis sama? Pukul 12 siang, kawasan industri Cikarang. Bel istirahat bunyi.

 

Ratusan karyawan berseragam keluar serentak dari pabrik dan langsung menuju satu arah, deretan warung prasmanan. Nasi, ayam, sayur, sambal. 15 ribu per porsi.

 

Harga yang sama kayak lo beli satu kopi di minimarket. Karyawan pabrik itu nggak bawa bekal dan nggak pesan ojol. Mereka butuh makan cepat, murah, dan kenyang.

 

Dan mereka butuhnya setiap hari kerja. Satu pabrik bisa punya 300 sampai 1000 karyawan dan jam makan siang mereka serentak. Kalau kantin lo melayani 150 sampai 300 porsi per hari, margin harian lo bisa 700 ribu sampai 2 juta 400 ribu.

 

Tapi yang bikin kantin kawasan industri beda dari semua bisnis yang udah kita bahas, itu bukan angkanya. Itu ritmenya. Setiap hari kerja ada pemasukan.

 

Setiap minggu ada cashflow. Lo bisa prediksi penghasilan bulan depan karena pelanggannya itu-itu aja dan jadwalnya nggak pernah berubah. Selasa kayak senin.

 

Kamis kayak Rabu. Ritmenya stabil. Tapi stabil juga berarti rentan terhadap satu hal.

 

Kalau pabriknya tutup atau karyawannya di PHK Masal, pelanggan lo hilang dalam semalam. Ini pernah terjadi di beberapa kawasan industri selama pandemi. Kantin yang tadinya ramai tiba-tiba sepi total.

 

Makanya, prinsip posisi di sini punya satu aturan tambahan. Jangan cuma nempel di satu pabrik. Kalau bisa, pilih lokasi yang bisa melayani dua atau tiga pabrik sekaligus.

 

Kawasan industri yang padat biasanya punya banyak pabrik berdekatan. Kalau satu tutup, yang lain masih jalan. Ini kayak mesin yang udah dihidupin sama orang lain.

 

Pabrik yang nyalain mesinnya. Lo cuma perlu berdiri di samping mesin itu dan sediain apa yang operatornya butuh. Tapi pastiin, lo nggak bergantung sama satu mesin doang.

 

Warmindo ngasih lo hitungan margin yang fantastis. Kios harapan ngasih lo kebebasan wartu. Kantin Prasmanan ngasih lo sesuatu yang lebih jarang dimiliki bisnis kecil.

 

Prediktabilitas. Dan kalau posisinya tepat, ritme itu bisa jalan bertahun-tahun. Kos-kosan malam, stasiun pagi, pabrik siang.

 

Tiga lokasi dengan satu hukum yang sama. Lo hadir di jalur rutinitas orang, pelanggan datang sendiri. Tapi ada satu jenis lokasi yang bahkan lebih kuat dari ini.

 

Tempat di mana pelanggan lo nggak cuma kebetulan lewat, mereka terjebak di sana. Mereka nggak bisa pergi meskipun mereka mau. Dan selama mereka terjebak, dompet mereka terbuka.

 

Lo pernah cuci mobil? Nunggu 15 sampai 30 menit. Nggak bisa ngapa-ngapain. Duduk, scrolling HP, sesekali lirik mobil lo yang masih disemprot air.

 

Sekarang bayangin, di sebelah tempat cuci mobil itu, ada barbershop kecil. Lo lihat kursi kosong. Harga potong 30 ribu.

 

Dan waktu nunggu lo pas 15 menit. Lo nggak niat potong rambut hari itu. Tapi lo nganggur.

 

Mobilnya belum selesai. Dan rambut emang udah agak gondrong. Kenapa lo akhirnya duduk di kursi barber itu? Karena otak manusia, benci nganggur.

 

Kalau lo nggak ngapa-ngapain selama 15 menit, otak lo aktif nyari sesuatu buat dilakuin. Dan kalau pilihan yang kelihatan cuma kursi barber 30 ribu, otak lo bakal rasionalisasi alasan buat duduk di sana. Kebetulan emang udah gondrong.

 

Kapan lagi bisa potong sambil nunggu? Padahal 5 menit sebelumnya, lo nggak kepikiran potong rambut sama sekali. Ini yang bikin barbershop di cuci mobil itu menarik. Lo nggak jual potong rambut.

 

Lo jual solusi buat kebosanan. Dan pelanggannya nggak perlu dicari. Karena mereka udah di situ.

 

Nggak bisa kemana-mana. Dan otaknya lagi nyari sesuatu buat ngisi waktu. Tapi ini nggak sesederhana naruh kursi di samping tempat cuci mobil dan nunggu orang datang.

 

Pertama, lo butuh skill. Potong rambut itu bukan sesuatu yang bisa dipelajari dalam semalam. Kalau potongan lo jelek, orang nggak akan balik.

 

Dan di bisnis kayak gini, reputasi lo menyebar lewat mulut ke mulut. Satu pelanggan kecewa, sepuluh orang tahu. Kedua, lo harus negosiasi sama pemilik tempat cuci mobil.

 

Nggak semua mau berbagi space. Ada yang minta sewa, ada yang bagi hasil. Hubungan ini harus dikelola dengan baik.

 

Karena traffic lo 100% bergantung sama bisnis dia. Tapi kalau dua hal itu lo bisa handle, struktural keuntungannya gila. Barbershop biasa di Ruko harus bayar sewa jutaan per bulan dan harus tarik pelanggan dari nol.

 

Barbershop di cuci mobil, pelanggannya diantar gratisan sama bisnis sebelah. Biaya akuisisi pelanggan, nol. Lo cuma butuh kursi, cermin, alat cukur.

 

Total mungkin dua sampai tiga juta. Ini namanya dead time conversion. Mengubah waktu nunggu orang jadi transaksi.

 

Dan prinsipnya berlaku dimanapun ada orang yang terjebak menunggu. Cuci mobil, bengkel, bahkan ruang tunggu servis motor. Selama ada kebosanan, ada peluang.

 

Barbershop di cuci mobil itu dead time conversion dalam bentuk paling kasat mata. Orang duduk nunggu, lo tawarkan sesuatu, mereka beli karena nganggur. Tapi ada bentuk dead time lain yang lebih halus dan pasarnya jauh lebih besar.

 

Waktu yang memang gak pernah ada di jadwal siapapun. Bayangin gedung perkantoran di Jakarta. Seorang karyawan masuk pukul delapan pagi, pulang pukul tujuh malam.

 

Sampai rumah udah capek. Baju kotor numpuk di keranjang sampai meluber. Nyuci? Males.

 

Tapi besok butuh baju bersih. Orang ini gak punya dead time kayak orang di cuci mobil. Dia gak duduk nganggur nunggu sesuatu.

 

Masalahnya justru kebalikannya. Dia gak punya waktu sama sekali. Dan nyuci baju selalu kalah prioritas sama tidur.

 

Sekarang bayangin ada laundry kilauan yang jemput baju kotor di lodi kantor pukul sembilan pagi. Dan nganter balik baju bersih besoknya di jam yang sama. Harganya enam ribu sampai delapan ribu per kilo.

 

Hampir sepuluh kali lipat. Buat karyawan kantoran atau tamu hotel yang long stay, pilihan ini gak perlu dipikir. Modal? Mesin cuci dua unit.

 

Motor buat antar jemput. Dan peralatan setrika. Totalnya kisaran sepuluh sampai lima belas juta.

 

Setara satu bulan gaji karyawan di gedung yang lo layani. Tapi gue harus kasih peringatan soal satu hal. Bisnis laundry itu gampang banget hancur kalau lo bikin satu kesalahan.

 

Baju ketuker antar pelanggan, warna luntur, satu kemeja mahal rusak. Satu insiden kayak gitu bisa bikin lo kehilangan pelanggan sekaligus reputasi. Dan membangun pelanggan pertama itu gak instan.

 

Lo harus ketuk pintu. Harus nawarin diri. Harus buktiin dulu kalau lo bisa dipercaya.

 

Bulan-bulan pertama kemungkinan besar masih sepi. Tapi yang bikin model bisnis ini menarik justru apa yang terjadi setelah fase awal itu lo lewati. Begitu karyawan kantoran udah terbiasa baju bersihnya muncul di lobby tiap pagi, dia gak akan pindah.

 

Nyari laundry baru itu repot. Harus coba-coba lagi. Harus sesuaiin jadwal lagi.

 

Dan orang kantoran benci ribet. Artinya, begitu lo masuk ke satu gedung dan pelanggan lo udah percaya sama jadwal lo, kompetitor yang datang belakangan harus ngeyakinin orang buat ninggalin jasa yang udah nyaman. Dan itu jauh lebih susah dari sekedar nawarin harga lebih murah.

 

Posisi lo di sini bukan soal lokasi fisik. Posisi lo itu kepercayaan. Dan sekali lo dapetin itu, itu jadi benteng yang susah ditembus.

 

Barbershop mengambil waktu nunggu yang terbuang. Laundry mengambil waktu nyuci yang gak pernah ada. Dua bisnis yang cuan karena pelanggannya terjebak.

 

Tapi, ada satu layer terakhir. Bisnis yang gak nempel di rutinitas lama dan gak eksploitasi that time. Bisnis ini jalan karena jutaan Indonesia baru aja mengubah cara mereka hidup.

 

Dan perubahan ini gak akan mundur lagi. Bayangin, kompleks perumahan di Tanggerang. Sore hari, Rina, 28 tahun, baru pulang kerja.

 

Lewat toko kecil di dekat gerbang kompleks. Berhenti 2 menit, buka freezer, ambil 3 bungkus nugget dan 1 paket bumbu rendang instan. Pulang.

 

15 menit kemudian, makan malam, udah di meja. Frozen food. Bisnis ini tumbuh karena satu perubahan perilaku yang fundamental.

 

Generasi sekarang mau masak, tapi males ribet. Pesan GoFood tiap hari kemahalan. Masak dari nol terlalu lama.

 

Frozen food posisinya persis di tengah. Praktis kayak GoFood, tapi harganya mendekati masak sendiri. Satu porsi frozen food plus bumbu jadi rata-rata 10-15 ribu.

 

Sementara 1 kali pesan GoFood bisa 30-40 ribu terlasuk ongkir. Selisihnya hampir 3 kali lipat. Artinya satu keluarga yang ganti GoFood ke frozen food 3 kali seminggu bisa hemat 240 ribu per bulan.

 

Kebayangkan kenapa demandnya naik terus. Tapi yang bikin toko frozen food menarik dari sisi bisnis itu bukan angka penjualannya, tapi profil resikonya. Coba bandingin sama bisnis makanan lain.

 

Kalau lo jualan nasi uduk dan nggak habis hari itu, besok udah basi. Itu rugi langsung. Kalau lo jualan prasmanan dan porsi sisa terlalu banyak, lauk lo terbuang.

 

Setiap hari ada resiko kerugian dari makanan yang nggak terjual. Frozen food, dia tetap di freezer. Nggak habis hari ini, besok masih bisa dijual.

 

Minggu depan juga masih bisa. Resiko kerugian dari barang terbuang itu hampir nol. Sekarang ini yang perlu lo perhatiin.

 

Kompetitor terbesar toko frozen food di kompleks permahan itu bukan toko frozen food lain. Itu minimarket. Alfamart dan Indomaret di mana-mana sekarang.

 

Dan mereka juga jual frozen food. Jadi, gimana cara lo bersaing sama minimarket? Jawabannya ada di spesialisasi. Minimarket jual semuanya, tapi variannya terbatas.

 

Mereka punya 5 jenis nugget dan 2 jenis sosis. Toko lo bisa punya 30 varian frozen food plus bumbu jadi yang nggak ada di rak minimarket. Saus padang instan, rendang beku siap panaskan.

 

Lauk frozen dari UMKM lokal. Lo jadi toko yang isinya hal-hal yang pelanggan nggak bisa dapet di Indomaret. Dan itu yang bikin mereka datang ke lo, bukan ke minimarket.

 

Modalnya, freezer 1-2 unit, sekitar 2-4 juta. Stok awal produk 3-5 juta. Total 5-9 juta.

 

Kurang dari biaya kos 3 bulan di Jakarta. Frozen food menunggangi perubahan cara orang makan. Masak mau, ribet nggak mau.

 

Tapi ada perubahan perilaku lain yang bahkan lebih besar dan lebih emosional. Perubahan yang bikin jutaan orang Indonesia tiba-tiba butuh layanan yang 5 tahun lalu hampir nggak pernah ada. Pagi hari di area dekat pintu tol Cikampek, Adi, 32 tahun, keluar dari mobil bawa karier kucing.

 

Masuk ke toko kecil bertuliskan Pet Hotel. Titip kucingnya 2 hari, sementara dia ke Bandung. Setelah COVID, jumlah orang yang pelihara hewan naik drastis.

 

Pasangan muda yang belum punya anak pelihara kucing. Orang tua yang anaknya udah gede cari temen di rumah. Anak muda yang tinggal sendiri adopsi anjing.

 

Dan begitu hewan peliharaan udah jadi bagian keluarga, kebutuhannya ikut naik. Salah satu kebutuhan terbesar itu penitipan. Karena lo nggak bisa ninggalin kucing atau anjing sendirian di rumah selama 3 hari.

 

Mereka butuh makan, butuh diawasi, butuh interaksi. Taris penitipan kucing di kisaran 50.000 sampai 100.000 per hari. Anjing sedikit lebih mahal.

 

Kalau lo punya kapasitas 10 hewan dan rata-rata terisi 6 setiap hari, pemasukan bulanan lo bisa nembus belasan juta. Tapi gue perlu jujur soal satu hal. Bisnis penitipan hewan itu punya resiko yang nggak dimiliki bisnis lain di daftar ini.

 

Hewan bisa sakit. Hewan bisa stres di lingkungan baru. Kucing bisa berantem satu sama lain.

 

Dan kalau ada satu insiden di mana hewan peliharaan orang cedera atau sakit di tempat lo, reputasi lo bisa hancur dalam satu malam. Satu review buruk di media sosial bisa bikin calon pelanggan batal sebelum pernah nyoba. Makanya, bisnis ini nggak bisa dijalanin asal-asalan.

 

Lo perlu ngerti dasar perawatan hewan. Lo perlu punya SOP kebersihan yang ketat. Dan yang paling penting, lo perlu bisa komunikasi sama pemilik hewan dengan transparan.

 

Kirim foto secara berkala. Update kondisi. Kalau ada masalah sekecil apapun, kasih tahu langsung.

 

Tapi justru karena standarnya tinggi, yang berhasil melewatinya dapat sesuatu yang luar biasa. Loyalitas emosional. Orang nggak nitip kucing ke tempat random yang dia temuin di Google.

 

Kalau kucing mereka pernah dititipin di tempat lo dan pulang sehat, mereka bakal balik ke tempat lo setiap kali pergi. Setiap liburan, setiap perjalanan dinas, setiap mudik. Dan ini loyalitas yang beda levelnya dari pelanggan warmindo yang balik karena deket.

 

Ini loyalitas karena lo menjaga apa yang mereka anggap keluarga. Sekali kepercayaan itu terbangun, kompetitor hampir mustahil mengambilnya. Mau pet hotel sebelah lebih murah 20 ribu pun, orang nggak akan pindah kalau mereka udah percaya sama lo.

 

Sekarang soal posisi. Kalau pet hotel lo ada di tengah kota, orang harus khusus nyetir ke sana sebelum berangkat. Itu repot dan makan waktu.

 

Tapi kalau pet hotel lo ada di jalur menuju pintu tol atau bandara, orang tinggal mampir di jalan. Tiga menit berhenti, titip hewan, langsung lanjut pergi. Lo nggak bikin orang jalan memutar.

 

Lo berdiri di jalur yang mereka pasti lewati. Dan begitu satu pelanggan percaya, dia bawa temen-temennya. Karena pemilik hewan itu komunitas yang erat dan saling kasih rekomendasi.

 

Lo perhatiin polanya? Warmindo di kos-kosan, kios sarapan di stasiun, kantin di pabrik, barber di cuci mobil, laundry di perkantoran, frozen food di perumahan, pet hotel di pinggir tol. Tujuh bisnis. Tujuh lokasi yang berbeda, satu prinsip yang persis sama.

 

Semuanya berdiri di kempat dimana orang udah pasti hadir. Kita nggak pernah perlu cari pelanggan. Kita cuma perlu berdiri di tempat yang tepat.

 

Tapi berdiri di tempat yang tepat, itu baru setengah dari cerita. Setengahnya lagi, itu konsistensi, kualitas, dan kesabaran buat bertahan di bulan-bulan pertama yang belum menghasilkan sesuai harapan. Posisi nggak bikin lo kebal gagal.

 

Posisi bikin lo mulai dari tempat yang jauh lebih menguntungkan dibanding orang yang nggak mikirin ini sama sekali. Dan itu, nggak butuh miliaran. Gue nggak tahu situasi lo sekarang.

 

Mungkin lo karyawan yang lagi was-was soal PHK, mungkin lo baru lulus dan belum dapet kerja. Mungkin bisnis lo lagi drop dan lo nggak tahu harus pivot kemana. Gue nggak bisa jamin ketujuh bisnis ini pasti berhasil buat lo.

 

Jujur, nggak ada yang bisa jamin itu. Setiap bisnis punya risikonya sendiri, dan ada hal-hal yang nggak bisa diprediksi. Tapi satu hal yang bisa gue kasih, setelah video ini, lo punya kerangka pikir baru.

 

Lo lewat stasiun, tempat cuci mobil, kompleks perumahan, dan sekarang lo ngeliat sesuatu yang sebelumnya nggak kelihatan. Celah. Tempat dimana orang udah berkumpul, udah nunggu, dan udah siap ngeluarin uang.

 

Lo cuma perlu hadir di situ dengan sesuatu yang mereka butuh. Lo bisa terus scrolling berita soal resesi dan ngerasa cemas tanpa arah. Atau lo bisa mulai lihat satu lokasi di sekitar lo besok pagi, dan tanya satu pertanyaan.

 

Ada celah apa di sini?

Sumber: Transkripsi YT @Mental Cuan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ditunggu komentar Anda!